Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 118225 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Ary Krisnanto
"Efek musiman (seasonality) dalam imbalan saham adalah salah satu topik penelitian yang penting selama kurang lebih dua dasawarsa terakhir. Penelitian mengenai efek musiman tampak belum pernah dilakukan terhadap pasar modal di Indonesia. Tujuan penelitian ini untuk menyelidiki keberadaan efek musiman ini di pasar modal Indonesia. Metode penelitian yang digunakan adalah pengujian kesamaan rata-rata imbalan saham dengan menggunakan uji t dan uji F serta uji Mann-Whitney dan Kruskal-Wallis. Pengujian dilakukan untuk menyelidiki keberadaan enam macam efek musiman yaitu: Day-of-the-Week Effect, January Effect, Holiday Effect, Monthly Effect, Turn-ofthe- Month Effect dan Turn-of-the- Year Effect. Hasil pengujian terhadap Day-of-the-Week Effect, Holiday Effect dan Turn-of-the- Year Effect menunjukkan keberadaan efek-efek musiman ini di pasar modal Indonesia untuk periode setelah tahun 1990. Day-of-the-Week Effect yang ditemukan adalah imbalan yang signifikan negatif dan lebih kecil di hari Senin dan Selasa, serta signifikan lebih besar di hari Jumat. Holiday Effect yang ditemukan adalah imbalan yang signifikan lebih besar pada hari-hari sebelum hari libur. Turn-of-the-Year Effect yang ditemukan adalah imbalan hari-hari di sekitar pergantian tahun yang signifikan lebih besar dibanding hari-hari lain. Tidak ditemukan January Effect dan Monthly Effect di pasar modal Indonesia. Pengujian terhadap Turn-of-the-Month Effect tidak memberikan hasil yang konsisten. Kesimpulan dan penelitian ini adalah bahwa Day-of-the-Week Effect, Holiday Effect dan Turn-of-the-Year Effect juga terjadi di pasar modal Indonesia dengan pola yang konsisten dengan yang ditemukan di banyak negara. January Effect tidak ditemukan di pasar modal Indonesia. Monthly Effect tampak tidak terjadi di pasar modal Indonesia. Tidak diperoleh kesimpulan tentang keberadaan Turn-of-the-Month Effect di pasar modal Indonesia. Ditemukannya efek-efek musiman di pasar modal Indonesia pada periode setelah tahun 1990 mengindikasikan bahwa efek musiman ini berhubungan dengan masuknya investor asing dan aktifnya perdagangan pada periode tersebut."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 1996
S19079
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Arietta Adrianti
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 1980
S16513
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
cover
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 1991
S18164
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
cover
Nindyo Pramono
Bandung: Citra Aditya Bakti, 2001
332.6 NIN s
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Dewi Suli Nurul Safitri
Depok: Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 2009
T26257
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Nindyo Pramono
Bandung: Citra Aditya Bakti, 1997
332.6 NIN s
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Sitorus, Otto Eduard
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 1991
S17958
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Udjian Wahjusuprapto
"Pengaktifan kembali pasar modal di Indonesia dilakukan dengan deregulasi. Di tengah masyarakat yang umumnya masih awam terhadap saham, masalah yang segera muncul adalah seberapa jauh pasar modal Indonesia mampu melakukan koreksi terhadap harga perdana saham yang ditetapkan terlalu tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan tersebut.
Koreksi pasar adalah perubahan harga perdana sampai mencapai harga ekuilibrium, yang hanya dapat memberikan imbalan normal. Maka konsep-konsep yang relevan adalah efisiensi pasar dan nilai intrinsik saham. Berdasarkan hasil penelitian terhadap emisi-emisi pertama di pasar modal Amerika Serikat oleh Ibbotson [1975] dan Ritter [1984], koreksi pasar berlangsung dalam waktu kurang dari satu bulan dan berakhir setelah pemodal tidak lagi memperoleh imbalan abnormal. Latar belakangnya adalah kesengajaan emiten dan penjamin emisi melakukan under pricing.
Di pasar modal Indonesia gejala koreksi harga perdana tidak dapat dilihat pada perkembangan imbalan abnormal, karena tidak adanya indeks pasar untuk mengukur imbalan normal. Dalam penelitian ini gejala koreksi pasar terhadap harga perdana akan dilihat pada perkembangan imbalan saham perdana, yaitu imbalan bagi pemodal yang membeli saham di pasar perdana dan menjualnya lagi di pasar sekunder dengan premi saham perdana terhadap peluang-peluang investasi yang tersedia bagi pemodal yaitu saham-saham pendahuluan valuta asing, logam mulia dan deposito berjangka.
Hasil analisis data terhadap 50 saham perdana di Bursa Efek Jakarta mulai Juni 1989 sampai Agustus 1990 menunjukkan bahwa semakin lama saham baru dimiliki pemodal semakin berkurang rata-rata imbalan dan premi saham perdana yang dapat diharapkan pemodal. Namun penurunan rata-rata imbalan dan premi saham perdana itu tidak dapat ditafsirkan sebagai gejala koreksi pasar, karena di samping tidak menimbulkan perbedaan rata-rata yang signifikan, besarnya imbalan saham perdana ternyata tidak berkaitan dengan informasi yang relevan seperti bidang usaha emiten, agio saham dan peningkatan modal saham sebelum emisi, tetapi hanya berkaitan dengan tingkat kegiatan pasar yang diukur dengan perubahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) selama jangka waktu pemilikan (holding period) saham perdana.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa masyarakat pemodal masih sangat awam terhadap saham. Diharapkan peran para pengamat, penulis, komentator, dan para pembentuk opini publik lainnya untuk ikut membina pemahaman masyarakat. Dengan deregulasi pasar modal, bentuk perlindungan terhadap pemodal yang didambakan adalah efisiensi pasar. Dan untuk mencapai efisiensi pasar modal salah satu syarat utamanya adalah kemampuan masyarakat pemodal mencernakan informasi relevan yang tersedia bagi mereka."
1990
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>