Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 88 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Ni Nyoman Berlian Aryadevi Meylandari Putri
"Latar Belakang: Selama beberapa dekade, cisplatin menjadi kemoterapi paling aktif yang tersedia untuk kanker ovarium. Terlepas dari keunggulan hasilnya, cisplatin juga memiliki beberapa efek samping, salah satunya adalah hepatotoksisitas. Dalam perkembangan kedokteran, curcumin ditemukan memiliki efek hepatoprotektif dalam beberapa penelitian, tetapi ternyata memiliki bioavailabilitas yang rendah. Dengan demikian, nanocurcumin dibuat dan ditemukan untuk meningkatkan bioavailabilitasnya. Meskipun demikian, efek curcumin dan nanocurcumin dalam hepatotoksisitas yang disebabkan oleh terapi cisplatin pada kanker ovarium belum diamati. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh kedua obat tersebut terhadap hepatotoksisitas yang diinduksi oleh cisplatin. Metode: Percobaan in vivo dilakukan pada tikus Wistar betina, dengan berat 150-200 gram, yang diinduksi oleh DMBA untuk mencapai model kanker ovarium. Kemudian, terapi cisplatin (4mg / kgBB / minggu) diberikan secara intraperitoneal pada tikus. Kemudian beberapa tikus juga diberi terapi kombinasi dengan curcumin (100 mg / kgBB / hari) dan nanocurcumin (100 mg / kgBB / hari). Tikus-tikus ini dibagi menjadi beberapa kelompok: tikus sehat, tidak ada pengobatan, terapi cisplatin, terapi cisplatin + curcumin, dan terapi cisplatin + nanocurcumin. Setelah sebulan, sampel darah diambil dan disentrifugasi untuk mendapatkan plasma. Tingkat AST, ALT, dan ALP diukur menggunakan spektrofotometer untuk menggambarkan fungsi hati. Hasilnya dianalisis menggunakan one-way ANOVA untuk ALT dan ALP dan Kruskall-Wallis untuk AST, menggunakan perangkat lunak SPSS24. Hasil: Tidak ada perbedaan statistik yang signifikan antara kelompok dalam AST plasma (p = 0,125), AlT (p = 0,154), dan ALP (p = 0,072). Kesimpulan: Tidak ada perbedaan yang signifikan untuk kurkumin dan nanokurkumin dalam mengurangi efek hepatotoksisitas cisplatin

Introduction: For decades, cisplatin has remained the most active chemotherapy available for ovarian cancer. Despite the excellence of the outcome, cisplatin also has severe side effects, one of which is hepatotoxicity. In the development of medicine, curcumin was found to exert a hepatoprotective effect in several studies, but it was found to have low bioavailability. Thus, nanocurcumin was established and discovered to improve its bioavailability. Nonetheless, the effect of curcumin and nanocurcumin in hepatotoxicity caused by cisplatin therapy in ovarian cancer has not been observed. This study aims to examine the effect of both drugs on the cisplatin-induced hepatotoxicity. Method: An in vivo experiment was done on female Wistar rats, weighing from 150-200 grams, which was induced by DMBA to achieve ovarian cancer models. Then, cisplatin therapy (4mg/kgBW/week) was given intraperitoneally to the rats. Then some of the rats were also given combination therapy with curcumin (100 mg/kgBW/day) and nanocurcumin (100 mg/kgBW/day). They were divided into groups of: healthy rats, no treatment, cisplatin therapy, cisplatin+curcumin therapy, and cisplatin+nanocurcumin therapy. After a month, blood sample was taken and centrifuged to obtain plasma. The AST, ALT, and ALP level was measured using spectrophotometer to depict the liver function. The result was analysed using one-way ANOVA for ALT and ALP and Kruskall-Wallis for AST using SPSS24 software. Results: Theres no significant statistical difference between groups in plasma AST (p=0.125), AlT (p=0.154), and ALP (p=0.072). Conclusion: There was no significant differences for both curcumin and nanocurcumin in reducing hepatotoxic effect of cisplatin."
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2019
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Azis Muhammad Putera
"Latar Belakang: Cisplatin, agen kemoterapi pilihan untuk kanker ovarium, bersifat hepatotoksik dengan menginduksi stres oksidatif. Kurkumin adalah agonis jalur Nrf2/Keap1 yang penting dalam respons terhadap stres oksidatif, namun bioavailabilitasnya buruk. Pemberian kurkumin dalam bentuk nanopartikel meningkatkan bioavailabilitasnya dalam tubuh dan distribusinya ke organ target. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh nanopartikel kurkumin terhadap hepatotoksisitas cisplatin melalui modulasi jalur Nrf2/Keap1 dilihat dari kadar MDA dan ekspresi gen jalur Nrf2/Keap1.
Metode: 25 ekor tikus Wistar betina dikelompokkan menjadi 5 kelompok yaitu kelompok normal, 4 kelompok model kanker ovarium yang diinduksi DMBA yang dibagi menjadi kelompok tanpa terapi, monoterapi cisplatin 4 mg/KgBB intraperitoneal, ko-kemoterapi cisplatin dan kurkumin konvensional 100 mg/KgBB per oral, serta ko-kemoterapi cisplatin dan nanopartikel kurkumin dalam kitosan 100mg/KgBB per oral selama 1 bulan. Tikus dikorbankan dan hepar disimpan beku. Pengukuran MDA dilakukan dengan metode spektrofotometri, sementara analisis gen jalur Nrf2/Keap1 dilakukan dengan prosedur qRT-PCR.
Hasil: Uji parametrik ANOVA dan post-hoc Tukey menunjukkan adanya penurunan kadar MDA hepar secara bermakna antara kelompok ko-kemoterapi kurkumin konvensional dan ko-kemoterapi nanokurkumin dengan kelompok monoterapi cisplatin (p=0,000 dan p=0,005). Tidak ada perbedaan bermakna antarkelompok pada ekspresi relatif mRNA Keap1 (p=0,190). Tidak ada perbedaan bermakna antara kelompok ko-kemoterapi kurkumin konvensional dengan nanokurkumin terkait ekspresi relatif Nrf2 (p=0,990), HO-1 (p=0,513), dan NQO-1 (p=1,000).
Kesimpulan: Pemberian kurkumin menurunkan kadar MDA jaringan hepar dibanding kelompok monoterapi cisplatin. Tidak ada perbedaan bermakna antara kurkumin konvensional dan nanokurkumin dalam melemahkan hepatotoksisitas cisplatin dilihat dari MDA dan ekspresi gen jalur Nrf2/Keap1.

Introduction: Cisplatin induces hepatotoxicity by oxidative stress-related mechanism. Curcumin activates the Nrf2/Keap1 pathway, modulating cellular response to oxidative stress, but its bioavailability is poor. The administration of curcumin in nanoparticles may increase the bioavailability and distribution of curcumin into tissues. This research aimed to assess the attenuation of cisplatin- induced hepatotoxicity through the modulation of Nrf2/Keap1 pathway by nanocurcumin.
Methods: 25 female Wistar rats were divided into a normal group and four ovarian cancer models by DMBA induction (further classified into a no treatment group, cisplatin monotherapy [4 mg/KgBW i.p.], co-administration of cisplatin and conventional curcumin [100 mg/KgBW p.o.], and co-administration of cisplatin and curcumin-loaded chitosan nanoparticles [100mg/KgBW p.o.]) for a month. The livers of the sacrificed animals were frozen. MDA level was measured by spectrophotometry, while the analysis of Nrf2/Keap1 pathway was done using qRT-PCR.
Results: The ANOVA parametric test showed significant differences between groups in hepatic MDA level ((p<0,001). MDA level was markedly reduced in groups receiving conventional (p<0,001) and nanocurcumin (p=0,005), though there were no significant differences between the administration of conventional and nanocurcumin in MDA level (p=0,277). There were no significant differences between groups in Keap1 relative mRNA expression (p=0,190). No statistically significant differences were observed between groups receiving conventional curcumin and nanocurcumin in the relative gene expression Nrf2 (p=0,990), HO-1 (p=0,513), and NQO-1 (p=1,000) mRNAs.
Conclusion: Curcumin did attenuate cisplatin-induced hepatotoxicity, but no significant differences were observed in hepatic MDA level and relative expression of genes in the Nrf2/Keap1 pathway between conventional curcumin and nanocurcumin administration.
"
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia , 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Putra Andito Ramadhan
"Latar Belakang : alfa mangostin merupakan kandidat yang bisa menyembuhkan penyakit hati yang disebabkan oleh alkohol. Kerusakan yang disebabkan oleh alkohol, akan dikompenasasi hati dengan mensekret matrix extracellular (ECM). Matrix metalloproteinase (MMP) memiliki peran untuk mendegredasi matrix extraceluler. Tujuan dari studi ini adalah menginvestigasi expresi mRNA MMP2 dan MMP9 pada model alcoholic liver disease in-vitro.
Metode : Penilitian ini merupakan experimen in-vitro, dengan galur sel stelata hepatic LX-2. Terdapat 6 kelompok perlakuan yaitu: tanpa obat, asetaldehid, acetaldehid + sorafenib 10μM, asetaldehid + 10μM alpha mangsotin, asetaldehid + 20 μM, dan alfa mangosteen 10μM. Lalu, sample diproses dan dianalisis expresi gen MMP2 dan MMP9 menggunakan qRT-PCR.
Hasil : Acetaldehide meningkatkan expresi mRNA MMP2 dan MMP9 secara signifikan. Alfa-mangostin menurunkan ekspresi mRNA MMP2 dan MMP9 pada sel stelata hepatic yg diberikan asetildehid. Sedangkan sel yang diberi alpha mangosteen tidak mempengaruhi expresi MMP2 namun menurunkan expresi MMP9.
Konklusi : Alfa mangosteen menurunkan expresi mRNA dari MMP2 dan MMP9. Pada sel stelata hepatic yang diinduksi asetildehid.

Background : Alpha mangosteen is a possible candidate to treat liver disease that is caused by alcohol. The liver compensate for damage done by alcohol through secreting extracellular matrix (ECM). Matrix metalloproteinase (MMP) has a role in degrading extracellular matrix. Thus, the purpose of study is to investigate MMP2 and MMP9 mRNA expression on an alcoholic liver disease model done in in-vitro.
Method : Study using In-vitro method using LX-2 Hepatic Stelate cells strain. There are 6 groups of sample and each one of the samples were treated: Without drugs, acetyldehyde, acetyldehyde + 10μM sorafenib, acetyldehyde + 10μM alpha mangosteen, acetyldehyde + 20μM alpha mangosteen, amd alfa mangosteen 10μM. And then, the expression of genes is analyze using qRT-PCR.
Results : Acetaldehyde increased MMP2 and MMP9 mRNA expression significantly. Alpha-mangosteen decrease MMP2 and MMP9 mRNA experssion in hepatic stellate cells induced by acetyldehyde. Meanwhile, cells that were given alpha mangosteen did not affect mRNA expression of MMP2 although decrease MMP9 expression.
Conclusion : Alpha mangosteen decrease mRNA expression of MMP2 and MMP9, in hepatic stelate cells induced by acetyldehyde.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia , 2019
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Averina Geffanie Suwana
"

Pendahuluan: Konsumsi alkohol dalam jangka panjang dapat berakibat pada fibrosis hati. Fibrosis hati ditandai oleh matriks ekstraseluler yang berlebihan. Alkohol akan mengaktifkasi sel stelata hepatik (HSC) yang memegang peran utama dalam fibrosis hati. Saat ini, tidak ada standar manajemen untuk fibrosis hati. Alfa mangostin telah dilaporkan memiliki aktivitas antioksidan pada steatosis hati, namun aktivitas antioksidannya pada fibrosis hati masih belum diketahui. Penelitian ini menggunakan alfa mangostin untuk mengetahui pengaruhnya terhadap ekspresi mRNA antioksidan, MnSOD dan GPx, pada HSC yang diinduksi asetaldehida.

Metode: Penelitian ini merupakan eksperimen in-vitro yang menggunakan galur sel stelata hepatik-LX2 dengan 6 kelompok perlakuan: kelompok yang tidak diobati, yang mendapat perlakuan asetaldehida, asetaldehida dan sorafenib, asetaldehida dan alfa mangostin 10 µM, asetaldehida dan alfa mangostin 20 µM, dan alfa mangostin 10 µM. Ekspresi mRNA MnSOD dan GPx dari RNA diukur dengan mesin qRT PCR.

Hasil: Alfa mangostin 10 μM meningkatkan ekspresi mRNA GPx secara signifikan (p<0,05), namun tidak mempengaruhi ekspresi mRNA MnSOD. Alfa mangostin 20 µM meningkatkan ekspresi mRNA dari MnSOD dan GPx secara signifikan (p<0,05). Peningkatan ekspresi mRNA MnSOD dan GPx sebanding dengan peningkatan dosis alfa mangostin.

Kesimpulan: Alpha mangostin meningkatkan kadar antioxidan, MnSOD dan GPx, dalam model HSC yang diinduksi asetaldehida.


Background: The chronic consumption of alcohol can eventually lead to liver fibrosis. Liver fibrosis is characterized by excessive extracellular matrix. Alcohol will activate hepatic stellate cells (HSCs) which play an important role in fibrogenesis. Currently, there are no standardized treatment for liver fibrosis. Alpha mangostin has been reported to have antioxidant activity on hepatic steatosis, however its antioxidant activity on liver fibrosis is still unknown. This research will use alpha mangostin to identify its effect on the mRNA expression of antioxidant, MnSOD and GPx, in acetaldehyde-induced HSC.

Method: The research is an in vitro experiment utilizing hepatic stellate cell line – LX2 with 6 treatment groups: the untreated group, the treated groups with acetaldehyde, acetaldehyde and sorafenib, acetaldehyde and alpha mangostin 10 µM, acetaldehyde and alpha mangostin 20 µM, and alpha mangostin 10 µM. The mRNA expression of MnSOD and GPx were obtained from the RNA that was measured by qRT PCR machine.

Results: Alpha mangostin 10 µM significantly increased GPx mRNA expression (p <0,05), however it did not affect MnSOD mRNA expression. However, alpha mangostin 20 µM significantly increased the mRNA expression of MnSOD and GPx (p <0,05). The increase of the MnSOD and GPx mRNA expression is linear to the increase of alpha mangostin dose.

Conclusion: Alpha mangostin increases antioxidant, MnSOD and GPx, levels in acetaldehydeinduced HSC models.

"
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia , 2019
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ekida Rehan Firmansyah
"Salah satu obat antikanker yang sekarang paling efektif digunakan sebagai kemoterapi kanker ovarium adalah cisplatin. Namun, cisplatin memiliki banyak efek samping pada berbagai organ, salah satunya hepar. Hepatotoksisitas akibat cisplatin menyebabkan terbatasnya dosis kemoterapi cisplatin. Salah satu faktor kunci patofisiologi kerusakan akut hepar adalah inflamasi. Kurkumin merupakan senyawa alami yang memiliki sifat antiinflamasi tetapi bioavailabilitasnya rendah. Untuk itu, diformulasikan nanokurkumin untuk meningkatkan bioavailabilitasnya. Meskipun begitu, efek kurkumin dan nanokurkumin dalam memodulasi jalur inflamasi hepatotoksisitas akibat cisplatin pada kanker ovarium belum diamati. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan pengaruh kurkumin dan nanokurkumin sebagai ko-kemoterapi terhadap hepatotoksisitas cisplatin dalam jalur inflamasi. Penelitian in vivo dilakukan pada tikus Wistar betina yang diinduksi DMBA untuk mendapatkan model kanker ovarium. Kemudian, tikus-tikus diberi perlakuan terapi dengan cisplatin secara intraperitoneal (4 mg/kgBB/minggu) dan kombinasinya dengan kurkumin (100 mg/kgBB/hari) dan nanokurkumin (100 mg/kgBB/hari) per oral. Tikus-tikus tersebut dibagi menjadi kelompok: tikus normal, model kanker ovarium saja, terapi cisplatin, terapi cisplatin + kurkumin, dan terapi cisplatin + nanokurkumin. Setelah 1 bulan, tikus di-sacrifice dan organ hepar disimpan beku. Ekspresi mRNA relatif NF-κB dan IL-1β serta kadar protein IL-6 diukur dengan metode qt RT-PCR dan ELISA secara berurutan. Data hasil pengukuran IL-6 dan data hasil transformasi logaritma NF-κB dan IL-1β dianalisis menggunakan uji one-way ANOVA, menggunakan perangkat lunak SPSS20. Tidak terdapat perbedaan signifikan secara statistik antar kelompok perlakuan dalam mRNA NF-κB (p=0,503), mRNA IL-1β (p=0,237), dan protein IL-6 (p=0,157). Tidak ada perbedaan yang signifikan antara kurkumin dan nanokurkumin dalam memodulasi jalur inflamasi hepatotoksisitas cisplatin pada model kanker ovarium tikus.

Up to now, one of the most effective anticancer drug as ovarian cancer chemotherapy is cisplatin. Nevertheless, cisplatin has many side effects on several organs, one of which is liver. Cisplatin-induced hepatotoxicity causes limited cisplatin chemotherapy dose. One of the pathophysiological key factor of acute liver injury is inflamation. Curcumin is natural compound which has antiinflamation properties but the bioavailability is low. To overcome it, nanocurcumin is made to increase its bioavailability. Nonetheless, curcumin and nanocurcumin effect on modulating inflammatory pathway toward cisplatin-induced hepatotoxicity in ovarian cancer rat model has not been observed. This study aims to compare the effect of curcumin and nanocurcumin as co-chemotherapy toward cisplatin-induced hepatotoxicity in inflammatory pathway. An in vivo study was done on female Wistar rats induced by DMBA to achieve ovarian cancer model. Then, rats was treated with cisplatin intraperitoneally (4 mg/kgBW/week) and the combination with per oral curcumin (100 mg/kgBW/day) and nanocurcumin (100 mg/kgBW/day). Those rats were divided into groups, which are normal rat, only ovarian cancer model, cisplatin therapy, cisplatin + curcumin therapy, and cisplatin + nanocurcumin therapy. After 1 month, rats are sacrificed and liver organs are stored frozen. mRNA relative expression of NF-κB and IL-1β as well as protein level of IL-6 was measured using qt RT-PCR and ELISA method, respectively. The result data from the measurement of IL-6 and the data from logarithmic transformation of NF-κB and IL-1β was analysed using one-way ANOVA test using SPSS20 software. There is no significant differences between groups in mRNA NF-κB (p=0.503), mRNA IL-1β (p=0.237), and protein IL-6 (p=0.157). There is no significant differences between curcumin and nanocurcumin in modulating inflammatory pathway of cisplatin-induced hepatotoxicity in ovarian cancer rat model.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia , 2020
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ryan Rizqi Putra
"Latar belakang: Swamedikasi merupakan penggunaan obat-obatan atas inisiatif diri sendiri salah satunya dengan menggunakan obat tradisional. Swamedikasi obat tradisional dilakukan oleh berbagai kalangan termasuk mahasiswa dan kemungkinan penggunaannya mengalami peningkatan selama masa pandemi COVID-19 . Salah satu faktor yang mempengaruhi swamedikasi obat tradisional yaitu persepsi individu mengenai kondisi kesehatannya. Oleh karena itu, penelitian ini ditujukan untuk menjelaskan mengenai hubungan persepsi sehat individu dengan perilaku swamedikasi menggunakan obat tradisional pada mahasiswa.
Metode: Penelitian dilakukan dengan metode studi potong lintang pada mahasiswa di Universitas Indonesia. Kuesioner SF-36 digunakan untuk mengukur persepsi sehat individu dan kuesioner perilaku swamedikasi obat tradisional disebarkan ke mahasiswa program pendidikan sarjana di Universitas Indonesia. Selanjutnya data diolah dan dianalisis dengan SPSS versi 25.
Hasil: Diperoleh data dari 152 responden mahasiswa di Universitas Indonesia. Secara umum mahasiswa Universitas Indonesia memiliki skor persepsi sehat yang baik. Proporsi penggunaan obat tradisional selama masa pandemi COVID-19 yaitu 62,5%. Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara persepsi sehat dengan perilaku swamedikasi di masa pandemi COVID-19 pada mahasiswa Universitas Indonesia.
Kesimpulan: Proporsi penggunaan obat tradisional pada mahasiswa Universitas Indonesia cukup tinggi, namun tidak berhubungan dengan persepsi sehat pada individu.

Introduction: Self-medication is the use of medicines on one's own initiative, one of which is using traditional medicine. Self-medication of traditional medicines is carried out by various groups including students and the possibility of their use has increased during the COVID-19 pandemic. One of the factors that influence self-medication of traditional medicine is the individual's perception of his health condition. Therefore, this study is aimed at explaining the relationship between individual health perceptions and self-medication behavior using traditional medicine in students.
Method: The research was conducted using a cross-sectional study method on students at the University of Indonesia. The SF-36 questionnaire was used to measure the individual's health perception and the traditional medicine self-medication behavior questionnaire was distributed to students of undergraduate education programs at the University of Indonesia. Furthermore, the data is processed and analyzed with SPSS version 25.
Result: Data were obtained from 152 student respondents at the University of Indonesia. In general, University of Indonesia students have a good health perception score. The proportion of traditional medicine use during the COVID-19 pandemic is 62.5%. There is no significant relationship between health perceptions and self-medication behavior during the COVID-19 pandemic in University of Indonesia students.
Conclusion: The proportion of using traditional medicine among University of Indonesia students is quite high, but it is not related to the perception of health in individuals.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2022
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Regina Puspa Utami Satyana
"

Pendahuluan. Kurkumin merupakan senyawa alami yang ditemukan pada akar tumbuhan Curcuma longa. Kurkumin memiliki sifat penyembuhan yang sangat baik, diantaranya termasuk anti-inflamasi, anti-bakteri, dan antioksidan. Telah dijelaskan pula pada beberapa studi bahwa kurkumin memiliki sifat renoprotective yang dapat membantu memperbaiki penyakit gagal ginjal kronik (CKD). Meskipun kurkumin memiliki banyak manfaat kesehatan untuk ginjal, jumlah kurkumin yang dapat mencapai jaringan ginjal sangatlah sedikit. Hal ini dikarenakan bioavailabilitas oral kurkumin hanya mencapai 1% yang disebabkan oleh buruknya absorpsi kurkumin pada saluran pencernaan. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan konsentrasi kurkumin pada organ/jaringan ginjal dengan cara memperkecil ukuran partikel kurkumin menjadi nanocurcumin.

Metode. Penelitian ini menggunakan sediaan nanokurkumin yang dibuat dengan teknik ball milling. Dosis tunggal kurkumin atau nanokurkumin sebanyak 500 mg/kg diberikan secara oral kepada tikus Sprague-Dawley betina. Tikus didekapitasi pada menit ke-180 dan -240 setelah pemberian kurkumin atau nanokurkumin untuk pengambilan organ ginjal yang nantinya setiap 100 mg jaringan ginjal akan dihomogenisasi dengan larutan Normal Saline 0.9% sebanyak 1 ml. Homogenat jaringan ginjal akan dianalisa menggunakan UPLC-MS/MS dengan sumber ionisasi electrospray (ESI) positif.

Hasil. Konsentrasi kurkumin cenderung lebih tinggi dibandingkan konsentrasi nanokurkumin pada jaringan ginjal tikus setelah pemberian dosis tunggal kurkumin/nanokurkumin sebanyak 500 mg/kg pada jam ke-3 dan ke-4.

Kesimpulan. Kurkumin cenderung untuk memiliki konsentrasi yang lebih tinggi dibandingkan konsentrasi sediaan nanokurkumin pada jaringan ginjal tikus.


Introduction. Curcumin is a naturally occurring compound found in Curcuma longa roots. It possesses great healing properties which mainly include anti-inflammatory, anti-bacterial, and anti-oxidative. It has also been described that curcumin has renoprotective effects and is proven to be able to ameliorate chronic kidney diseases (CKD). Despite having numerous health benefits for the kidney, the number of curcumin that can reach the kidney is very little, in respect to its low oral bioavailability which is only 1% due to poor absorption from the gastrointestinal tract. This study aims to enhance curcumin concentration in the kidney by decreasing curcumin particle size into nanocurcumin. 

Methods. This study uses nanoparticle curcumin that is produced by using ball milling technique. A single dosage of 500 mg/kg curcumin or nanocurcumin was given orally to female Sprague-Dawley rats. Rats were decapitated at minute-180 and 240 after curcumin or nanocurcumin administration for kidney collection, which then homogenized with a ratio of 100 mg kidney tissue per 1 mL normal saline 0.9%. Kidney tissue homogenates were analyzed using UPLC-MS/MS with positive electrospray ionization (ESI).

Results. Curcumin concentration in rats kidney tissue tended to be slightly higher than nanoparticle curcumin after a single dose of 500 mg/kg curcumin or nanocurcumin at both 3 and 4 hours.

Conclusion. Curcumin has the propensity to have a higher concentration than nanocurcumin in rats kidney tissue.

"
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2018
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Waworuntu, Bernardino Matthew
"Latar Belakang: Kurkumin ((1E,6E)-1,7-bis(4-hydroxy-3-methoxyphenyl)hepta- 1,6-diene-3,5-dione) adalah sebuah zat dengan efek renoprotektif. Ketika digunakan dengan cisplatin, kedua zat ini bekerja secara sinergis dengan mengurangi efek nefrotoksik dari cisplatin. Namun, kurkumin memiliki kelarutan yang rendah, metabolism yang cepat, dan farmakokinetik yang buruk. Penggunaan nanopartikel kurkumin (nanokurkumin) dapat meningkatkan ambilan obat sehingga dapat meningkatkan kedayagunaanya dalam situasi klinik. Tujuan peneliatian ini adalah untuk mengevaluasi kadar kurkumin dan nanokurkumin di jaringan ginjal tikus.
Metode: Penelitian ini adalah studi eksperimental pada tikus yang diberikan cisplatin dan kurkumin 100 mg/kgbb (Cur100) atau cisplatin dan nanokurkumin 100 mg/kgbb (Nanocur100) atau cisplatin dan nanokurkumin 50mg/kgbb (Nanocur50). Masing-masing kelompok terdiri dari 4 ekor tikus. Kurkumin dan nanokurkumin diberikan selama 7 hari. Sampling dilakukan 24 jam setelah pemberian dosis kurkumin atau nanokurkumin terakhir. Konsentrasi kurkumin dan nanokurkumin dianalisa menggunakan UPLC/MS-MS.
Hasil: Data terkumpul disajikan dalam mean ± SEM. Rata-rata konsentrasi dari kurkumin pada grup Cur100 adalah 14.773 (CI: 8.904 – 20.642) pg/mg. Rata-rata konsentrasi dari nanokurkumin pada grup Nanocur100 adalah 11.631 (CI: 0.000 – 25.009) pg/mg. Rata-rata konsentrasi dari nanokurkumin pada grup Nanocur50 adalah 12.548 (CI: 0.563 – 24.534) pg/mg. Hasil dari tes one-way ANOVA adalah 0.805 (p>0.05) sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak ditemukan signifikansi pada ketiga kelompok.
Kesimpulan: Kurkumin dalam bentuk nanopartikel (nanokurkumin) yang diberikan bersama cisplatin tidak menghasilkan kadar dalam jaringan yang berbeda dibandingkan kurkumin konvensional.

Background: Curcumin ((1E,6E)-1,7-bis(4-hydroxy-3-methoxyphenyl)hepta-1,6- diene-3,5-dione) is a substance with renoprotective effect. When used together with cisplatin, it works synergistically by reducing the nephrotoxic effects of cisplatin. However, it has low solubility, rapid metabolism, and poor pharmacokinetics. Usage of curcumin nanoparticle (nanocurcumin) should increase the uptake of the drug thus improving its viability for clinical use. The aim of our study is to evaluate the concentration of curcumin and nanocurcumin in rat kidney tissue.
Methods: This research is an experimental study on rats that were given cisplatin and curcumin 100 mg/kgbw (Cur100) or cisplatin and nanocurcumin 100 mg/kgbw (Nanocur100) or cisplatin and nanocurcumin 50 mg/kgbw (Nanocur50). Each group consists of 4 rats. Curcumin and nanocurcumin were given for 7 days. Sampling were done 24 hours after the last dose of curcumin or nanocurcumin. Concentration of curcumin and nanocurcumin were analyzed using UPLC/MS-MS detection.
Result: Collected data was expressed in mean ± SEM. Mean concentration of curcumin in the first group (Cur100) was 14.773 (CI: 8.904 – 20.642) pg/mg. Mean concentration of nanocurcumin in the second group (Nanocur100) was 11.631 (CI: 0.000 – 25.009) pg/mg. Mean concentration of nanocurcumin in the third group (Nanocur50) was 12.548 (CI: 0.563 – 24.534) pg/mg. The result of one-way ANOVA test was 0.805 (p>0.05) thus concluded that there is no significance difference between the three groups.
Conclusion: Concentration of curcumin in nanoparticle form (nanocurcumin) that were given with cisplatin did not show distinguishable difference in kidney tissue in comparison to conventional curcumin.
"
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia , 2018
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Serlie Fatrin
"Pendahuluan: Berbagai penelitian terdahulu telah membuktikan kemampuan kurkumin untuk menghambat karsinogenesis pada kolorektal. Namun pengembangan kurkumin untuk aplikasi ini terbatas dikarenakan penyerapannya dan bioavailabilitas yang buruk, sifatnya yang kurang stabil, serta tingkat metabolisme, dan eliminasi zat yang cepat. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk membuktikan apakah modifikasi ukuran kurkumin menjadi nanopartikel dapat meningkatkan konsentrasi kurkumin di dalam kolon. Metode: Penelitian ini merupakan studi eksperimental pada tikus Sprague-Dawley betina yang diberikan kurkumin konvensional dan nano-kurkumin secara oral
500mg/kg/BB. Sampel kolon diambil 3 jam dan 4 jam setelah pemberian kurkumin. Konsentrasi kurkumin diukur dengan menggunakan UPLC-MS/MS. Hasil: Setelah 3 jam dan 4 jam pemberian sampel, ditemukan bahwa konsentrasi kurkumin konvensional cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan konsentrasi nano kurkumin, walau tidak ada perbedaan yang signifikan (p>0.05). Rata-rata konsentrasi kurkumin dan nanocurcumin pada usus tikus setelah 3 jam adalah 92,463 ± 10.836 ug/g kolon dan 60.931± 4.774 ug/g kolon masing-masing. Sementara itu, setelah 4 jam, rata-rata konsentrasi curcumin dan nanocurcumin di usus tikus adalah 113.560 ± 12.477 ug/g kolon dan 103.725 ± 12.951 ug/g kolon masing-masing. Kesimpulan/Diskusi: Modifikasi ukuran kurkumin menjadi ukuran nano tidak mempengaruhi tingkat konsentrasi kurkumin dalam jaringan kolon tikus. Beberapa penyebab potensialnya adalah agregasi nano-partikel kurkumin, kedua jenis kurkumin terperangkap di dalam mukus, penetrasi nano-partikel melalui transportasi transeluler di dalam epitelium usus, dan tingginya degradasi nanokurkumin di dalam saluran pencernaan (baik secara biologis maupun kimiawi). Hal ini menyebabkan penurunan kuantitas nanokurkumin yang dapat diserap oleh kolon.
Introduction: Various previous studies have proven the ability of curcumin to inhibit colorectal carcinogenesis. However, the development of curcumin for this application is limited due to its poor absorption and bioavailability, its unstable nature, metabolic rate, and rapid elimination of the substance. Therefore, this study was conducted to prove whether modification of the size of curcumin into nanoparticles can increase the concentration of curcumin in the colon. Methods: This study is an experimental study on female Sprague-Dawley rats given conventional curcumin and nano-curcumin orally.
500mg/kg/BW. Colonic samples were taken 3 hours and 4 hours after curcumin administration. Curcumin concentration was measured using UPLC-MS/MS. Results: After 3 hours and 4 hours of sample administration, it was found that conventional curcumin concentrations tended to be higher than nano curcumin concentrations, although there was no significant difference (p>0.05). The mean concentrations of curcumin and nanocurcumin in the intestines of rats after 3 hours were 92.463 ± 10,836 g/g colon and 60,931± 4.774 g/g colon, respectively. Meanwhile, after 4 hours, the mean concentrations of curcumin and nanocurcumin in the rat intestine were 113,560 ± 12,477 g/g colon and 103,725 ± 12,951 g/g colon, respectively. Conclusion/Discussion: Modification of curcumin size to nano size did not affect the level of curcumin concentration in rat colon tissue. Some of the potential causes are aggregation of curcumin nano-particles, both types of curcumin trapped in mucus, penetration of nano-particles through transcellular transport within the intestinal epithelium, and high degradation of nanocurcumin in the gastrointestinal tract (both biologically and chemically). This causes a decrease in the quantity of nanocurcumin that can be absorbed by the colon."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia , 2018
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Gaviota Hartono
"Latar Belakang: Berbagai penelitian terdahulu telah membuktikan bahwa kurkumin memiliki sifat hepatoprotektif sehingga memungkinkannya untuk mengobati banyak jenis penyakit hepar. Meskipun kurkumin aman dan mempunyai banyak aktifitas biologis, penggunaan kurkumin belum dapat digunakan secara komersil sebagai obat terapeutik karena tingkat absorbsi, stabilitas, dan bioavailabilitas yang rendah serta metabolisme kurkumin yang cepat. Berhubung studi mengenai efek pengurangan ukuran partikel untuk meningkatkan distribusi jaringan belum dilakukan sepenuhnya, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apabila peningkatan konsentrasi kurkumin di jaringan hepar dapat dilakukan dengan menggunakan nanopartikel.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian in vivo pada tikus. Tikus dirandomisasi menjadi 2 kelompok, masing-masing 5 ekor yang mendapatkan kurkumin konvensional 500 mg/kgBB atau nanokurkumin 500 mg/kgBB dosis tunggal secara oral. Sampel hati diambil setelah 3 atau 4 jam setelah pemberian obat dan konsentrasi kurkuminnya dikuantifikasi menggunakan UPLC-MS/MS.Hasil: Konsentrasi nanokurkumin lebih tinggi daripada konsentrasi kurkumin konvensional di jaringan hepar setelah 3 jam dan relatif lebih tinggi setelah 4 jam. Pada 3 jam, konsentrasi rerata nanokurumin (33.1934 ng/mg) adalah lebih dari 7 kali lipat dibandingkan konsentrasi rerata kurkumin (4.5189 ng/mg) dan bermakna secara statistik (p = 0.047). Pada 4 jam, konsentrasi rerata nanokurumin (11.8725 ng/mg) hanya sedikit lebih tinggi dibandingkan konsentrasi rerata kurkumin (11.6352 ng/mg) dan tidak bermakna secara statistik (p = 0.251).Konklusi: Pemberian nanokurkumin secara oral menghasilkan konsentrasi kurkumin yang lebih tinggi di hati tikus setelah 3 dan 4 jam daripada kurkumin konvensional.
Background: Many previous researches have proven that curcumin possesses potent hepatoprotective propertiy which enables it to treat and prevent the progression of different hepatic disorders. However, despite its superior safety profile and biological activity, curcumin has not been commercially used as a therapeutic drug due to its extremely poor absorption and stability, low bioavailability and rapid metabolism. As the effect of decreasing its particle size to improve its tissue distribution have yet to be studied thoroughly, this research aims to find out if higher curcumin concentrations in liver tissue can be achieved by using nanoparticles.Method: This research is an in vivo research in rats. The rats are randomized into 2 groups, each with 5 rats which were given either single doses of 500 mg/kgBW conventional curcumin or 500 mg/kgBW nanocurcumin orally. The liver samples were obtained after 3 or 4 hours, followed by curcumin concentration measurement using the UPLC-MS/MS method. Results: Nanocurcumin concentrations were higher than curcumin concentrations in the liver tissue at 3 hours and relatively higher at 4 hours. At three hours, the mean nanocurcumin concentration (33.1934 ng/mg) is over 7 times higher than mean curcumin concentration (4.5189 ng/mg) and is statistically significant (p = 0.047). At 4 hours, the mean nanocurcumin concentration (11.8725 ng/mg) is slightly higher than mean curcumin concentration (11.6352 ng/mg) not statistically significant (p = 0.251)Conclusion: Oral administration of nanocurcumin results in higher curcumin concentrations in rat liver tissue after 3 and 4 hours compared to conventional curcumin."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2018
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9   >>