Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 8 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Brush, Don O.
New York: McGraw-Hill, 1975
624.171 BRU b
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Trahair, N.S., 1934-
London: Spon Press, 1993
624.176 TRA f
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
"The actually buried pipe crossing in the project of NPP (Nuclear Power Plant) installation to be found the self problem for installation, espicially if the crossing will be subjected to loads of vehicle traffics and weight of soil, this pipe shall be make sure is not buckling during operation with deflection calculation shall be lest then 1 % ratio between radius of pipe."
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
cover
Angga Nugraha Hafiiz
"Sistem struktur Special Moment Resisting Frame (SMRF) beton bertulang umum diterapkan karena komponennya lebih sederhana dan memiliki kapasitas disipasi energi gempa yang cukup besar melalui mekanisme pembentukan sendi plastis. Namun, karena beban lateral (beban angin dan beban gempa) ditahan dengan mengandalkan kekuatan dan kekakuan portal utama, dibutuhkan dimensi struktur yang besar sehingga kurang ekonomis. Untuk meningkatkan kekakuan lateral struktur dan memperkecil dimensi portal utama struktur, SMRF kemudian dilengkapi pengaku berupa bresing konsentris. Namun, bresing pada Concentric Braced Frame (CBF) hanya mampu mencapai kondisi plastis pada pembebanan tank dan akan mengalami kegagalan tekuk pada pembebanan tekan. Kegagalan ini menyebabkan buruknya disipasi energi gempa dan menjadi pemicu keruntuhan struktur karena menurunnya kekakuan struktur secara tiba-tiba. Buckling-Restrained Braces (BRB) yang terdiri atas baja inti yang diselimuti casing baja berisi beton mampu mencapai kondisi plastis baik akibat tarik maupun tekan. Hal ini memungkinkan struktur memiliki kapasitas disipasi energi gempa yang besar. Terpisahnya bresing -tempat terbentuknya sendi plastis- dari struktur utama memberikan fleksibilitas dalam perbaikan akibat gempa sedang/besar. Selain itu, BRB juga dapat ditambahkan pada gedung existing untuk meningkatkan kinerjanya (retrofit) terhadap beban gempa.
Studi ini bertujuan untuk mempelajari efektivitas penggunaan BRB pada struktur gedung beton bertulang dengan cara membandingkan kinerja SMRF dan BRBF yang didesain sesuai ketentuan perencanaan ketahanan gempa untuk bangunan gedung di Jakarta. Struktur yang dianalisis adalah struktur portal geser dua dimensi ekivalen dengan variasi 5,10, dan 20 tingkat. Berdasarkan hasil studi, penggunaan elemen BRB dapat dinilai efektif dalam mereduksi massa struktur, mereduksi periods alami fundamental, serta mereduksi simpangan puncak dan drift antartingkat. BRB juga efektif dalam meningkatkan ketahanan struktur terhadap gempa besar yang melampaui kekuatan gempa rencana. Namun demikian, elemen BRB kurang efektif dalam menyediakan kapasitas disipasi energi gempa yang besar akibat beban gempa rencana. Elemen ini belum dapat berperilaku plastis seperti yang diharapkan sehingga pada kondisi ini disipasi energi gempa justru lebih dominan dihasilkan oleh redaman modal. Elemen BRB baru dapat dinilai efektif dalam mendisipasi energi gempa pada kondisi gempa besar.

Reinforced concrete Special Moment Resisting Frame (SMRF) is commonly used because the components are simpler and it can provide big capacity of seismic energy dissipation trough plastic hinge formation. However, because the lateral loads are supported by relying on primary frame's strength and stiffness, large dimension of structure is required and it makes the structure less economical. In order to increase lateral stiffness and to reduce dimension of the primary frame, SMRF then equipped with concentric braces. But, the conventional concentric brace is only capable to achieve plastic 'condition in tension loading and it will be buckled in compression loading. This failure causes poor seismic energy dissipation and trigger structure collapse caused by sudden stiffness degradation. Buckling-Restrained Brace (BRB) which consists of steel core covered by concrete-filled steel tube is able to achieve plastic condition either in tension or in compression loading. This enables structure to have bigger capacity of seismic energy dissipation. BRB -where plastic hinge is formed- is separated from the primary structural frame, there for it gives more flexibility in repairs due to severe earthquake. Beside that, this element also can be applied in existing structure in order to gain better seismic performances.
This study evaluated the effectiveness of BRB in reinforced concrete building structure by comparing seismic performances of SMRF and BRBF which were seismically designed in Jakarta. The structures analyzed were two dimensional shear frames with 5,10, and 20 stories. Based on the results, BRB application is effective in reducing structure mass, reducing fundamental natural period, and reducing roof displacement and interstory drift. BRB is also effective in increasing structure's endurance concerning earthquake exceed seismic design. Nevertheless, BRB element is less effective in providing a great portion of seismic energy dissipation caused by designed earthquake. This element has not been able yet to have plastic behavior as expected, so in this condition modal damping precisely provides dominant seismic energy dissipation. BRB element is just able to provide greater portion of seismic energy dissipation in severe earthquake.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2005
S35190
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Widya Apriani
"ABSTRAK
Pada umumnya Bangunan yang ada di Indonesia telah dibangun dengan
acuan pedoman SNI 1726-1989-F dan SNI 03-1726-2002, telah lahir peraturan
baru SNI 03-1726-2010. Bangunan yang telah ada boleh jadi tidak memenuhi
standar baru, sehingga harus diperkuat (retrofitting). untuk mendapatkan sistem
struktur dengan respon yang paling baik terhadap gempa dilakukan studi
pengembangan analisis mengenai perilaku BRB. Bresing tipe ini diaplikasikan
pada bangunan tinggi struktur beton bertulang. Penelitian terlingkup mengenai,
mekanisme, kinerja, dan parameter-parameter aktualnya terkait dengan adanya
pengaruh gempa rencana sesuai FEMA 356. Hal-hal tersebut diteliti dengan
membandingkan antara struktur eksisting, dengan struktur hasil retrofitting-nya.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil analisa statik nonlinier (pushover
analysis) untuk struktur sistem ganda (DS) dengan BRBS sampai pada target
peralihan (performance point) yang dihitung berdasarkan FEMA 356 struktur
gedung yang didesain masih memiliki taraf kinerja Life safety.

ABSTRACT
In general, the existing building in Indonesia has been constructed with
reference to the guidelines SNI 1726-1989-F and SNI 03-1726-2002, along with
expanding knowledge of the new regulations have been born SNI 03-1726-2010.
Existing buildings may be not meeting the new standards, so the buildings are
vulnerable to safety and rigidity of the structure. To that end, should be
strengthened (retrofitting). To get the system structure with the best response to
the earthquake made the development of analytical studies on the behavior of
BRB. Bracing is applied to the type of reinforced concrete structures in tall
buildings. The study included about mechanisms, performance and actual
parameters associated with the influence of earthquake plans with FEMA 356.
Those things are investigated by comparing the existing structure with its
retrofitting the structure. The results showed that the results of nonlinear static
analysis (pushover analysis) for the structure of the dual system (DS) with BRBS
to the intermediate targets (performance point) are calculated based on FEMA
356, designed the building structure still has the Life Safety performance level.
This indicates that the building is designed according to the performance already
qualified FEMA 356 because the building is designed as an office building.

"
2012
T31210
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Widya Apriani
"ABSTRAK
Pada umumnya Bangunan yang ada di Indonesia telah dibangun dengan
acuan pedoman SNI 1726-1989-F dan SNI 03-1726-2002, telah lahir peraturan
baru SNI 03-1726-2010. Bangunan yang telah ada boleh jadi tidak memenuhi
standar baru, sehingga harus diperkuat (retrofitting). untuk mendapatkan sistem
struktur dengan respon yang paling baik terhadap gempa dilakukan studi
pengembangan analisis mengenai perilaku BRB. Bresing tipe ini diaplikasikan
pada bangunan tinggi struktur beton bertulang. Penelitian terlingkup mengenai,
mekanisme, kinerja, dan parameter-parameter aktualnya terkait dengan adanya
pengaruh gempa rencana sesuai FEMA 356. Hal-hal tersebut diteliti dengan
membandingkan antara struktur eksisting, dengan struktur hasil retrofitting-nya.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil analisa statik nonlinier (pushover
analysis) untuk struktur sistem ganda (DS) dengan BRBS sampai pada target
peralihan (performance point) yang dihitung berdasarkan FEMA 356 struktur
gedung yang didesain masih memiliki taraf kinerja Life safety.

Abstract
In general, the existing building in Indonesia has been constructed with
reference to the guidelines SNI 1726-1989-F and SNI 03-1726-2002, along with
expanding knowledge of the new regulations have been born SNI 03-1726-2010.
Existing buildings may be not meeting the new standards, so the buildings are
vulnerable to safety and rigidity of the structure. To that end, should be
strengthened (retrofitting). To get the system structure with the best response to
the earthquake made the development of analytical studies on the behavior of
BRB. Bracing is applied to the type of reinforced concrete structures in tall
buildings. The study included about mechanisms, performance and actual
parameters associated with the influence of earthquake plans with FEMA 356.
Those things are investigated by comparing the existing structure with its
retrofitting the structure. The results showed that the results of nonlinear static
analysis (pushover analysis) for the structure of the dual system (DS) with BRBS
to the intermediate targets (performance point) are calculated based on FEMA
356, designed the building structure still has the Life Safety performance level.
This indicates that the building is designed according to the performance already
qualified FEMA 356 because the building is designed as an office building."
Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2012
T31210
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Rifky Netriady
"Pada tanggal 10 Mei 1990, terjadi peristiwa runtuhnya sebuah jembatan di atas Kali Krasak akibat kebakaran truk tangki bahan bakar. Sampai saat ini masih terjadi kesimpangsiuran tentang mengapa dan bagaimana sebenarnya keruntuhan tersebut dapat terjadi.
Prof. Ir. Sidharta S. Kamarwan, dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa keruntuhan disebabkan turunnya batas tegangan leleh baja menjadi 50% akibat kenaikan temperatur hingga 300 oC yang mengakibatkan struktur rangka atas tidak mampu menahan gaya tekan yang terjadi, kemudian dilanjutkan oleh Arya Perdana menyimpulkan bahwa kegagalan struktur terjadi pada temperatur rata-rata 1125°C.
Setelah membaca laporan tersebut, penulis merasa tertantang untuk meneruskan hasil penelitian beliau lebih lanjut, yaitu dengan merekonstruksi peristiwa tersebut melalui membuat prototype percobaan kemudian dari hasil percobaan tersebut dilanjutkan dengan simulasi menggunakan program ANSYS V11.0, salah satu program simulasi terbaik berbasis analisa elemen hingga.
Percobaan dengan prototype berbasis pada teori keserupaan dengan menggunakan material aluminium dapat memberikan petunjuk bahwa deformasi struktur yang terjadi dimulai akibat terjadinya kenaikan temperatur pada elemen rangka jembatan yang diikuti dengan buckling pada beberapa titik lokasi.
Kegagalan struktur mulai terjadi pada suhu 600 °C memiliki nilai modulus elastisitas sebesar ±62000 Mpa, pada deformasi maksimum, nilai modulus elastisitas dari simulasi model jembatan krasak adalah 22000 MPa (11% dari Modulus Elastisitas awal).

On May 10, 1990, events in the collapse of a bridge Krasak by fire truck fuel tank. Until now there is still confusion about exactly why and how the collapse could occur.
Prof. Ir. Sidhartha S. Kamarwan, in his study concluded that caused the collapse of the yield stress is drop limit to be 50% due to a rise in temperature to 300 ° C which resulted in a frame structure above is not able to withstand compressive force occurs, followed by Arya Prime conclude that the failure of the structure occurs at temperatures average average 1125 ° C.
After reading the report, the authors feel challenged to continue his research further, by reconstructing events through prototyping experiments and from the results of the experiment followed by simulation using ANSYS V11.0 program, one of the best simulation program based on the finite element analysis.
Experiments with a prototype based on the similarity theory using aluminum materials can provide clues that the structural deformation that occurs due to the temperature rise begins in order to bridge the element followed by buckling at some point locations.
The failure of the structure began to occur at a temperature of 600 ° C has a modulus of elasticity values of ± 62 000 MPa, the maximum deformation, modulus of elasticity of simulation models Krasak bridge is 22 000 MPa (11% from early Modulus of Elasticity).
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2012
T31895
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library