Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 33 dokumen yang sesuai dengan query
cover
New York: Interscience, 1968
547.84 COM
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
"Despite very active research activities in the field of CMA, there lacks a simple-to-read book for researchers and students interested in these new developments. In each chapter, current progress in the area of the synthesis, characterization, and self-assemblies of well-defined complex macromolecular architectures is reviewed by each contributor with relevant emphasis on their research topics. The architectural polymers include bio-conjugated hybrid polymers with poly(-amino acid)s and gluco-polymers, star-branched and dendrimer-like hyperbranched polymers, cyclic polymers, dendrigraft polymers, rod-coil and helix-coil block copolymers are introduced chapter by chapter in the book. In particular, the book also emphasizes the topic of synthetic breakthroughs by living/​controlled polymerization since 2000. Newly developed concepts and procedures, such as "Click" chemistry, chain walking, polyhomologation and ADMET are also highlighted. Furthermore, renowned authors contribute on such special topics as helical polyisocyanates, metallopolymers, stereospecific polymers, hydrogen-bonded supramolecular polymers, conjugated polymers, and polyrotaxanes, which have attracted considerable interest as novel polymer materials with potential future applications. In addition, recent advances in reactive blending achieved with well-defined end-functionalized polymers is discussed from an industrial point of view. Moreover, topics on polymer-based nanotechnologies, including self-assembled architectures and suprastructures, nano-structured materials and devices, nanofabrication, surface nanostructures, and their AFM imaging analysis of hetero-phased polymers are included"--
"In particular, the book also emphasizes the topic of synthetic breakthroughs by living/​controlled polymerization since 2000"
Hoboken, N.J: Wiley, 2011
547.7 COM
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Emil Budianto
"Ukuran partikel merupakan salah satu faktor yang menentukan sifat polimer emulsi. Untuk aplikasi coating, dibutuhkan polimer emulsi dengan ukuran partikel yang kecil agar diperoleh hasil coating yang halus, kekuatan adhesi dan ketahanan terhadap air yang baik, serta kestabilan yang cukup lama. Penelitian ini bertujuan melihat pengaruh dari surfaktan natrium dodesil benzena sulfonat (SDBS) rantai bercabang serta beberapa teknik polimerisasi emulsi terhadap ukuran partikel kopoli(stirena/butil akrilat/metil metakrilat) dengan menggunakan kombinasi surfaktan anionik dan nonionik (nonil fenol, EO|U) serta inisiator ammonium persulfat.
Hasil pengukuran DSC, solid content, dan IR menunjukkan bahwa terbentuk kopoli (stirena/butil akrilat/metil metakrilat). Dari hasil yang diperoleh, dapat dilihat bahwa terbentuk grit yang banyak. Teknik batch dapat menghasilkan solid content tertinggi yaitu 38,47%. Teknik semi kontinyu secara umum menghasilkan viskositas yang tinggi yaitu 128 mPas. Surfaktan SDBS rantai bercabang secara umum menghasilkan polimer emulsi dengan ukuran partikel yang kecil tetapi grit yang terbentuk lebih banyak. Banyaknya persen seeding monomer dan inisiator yang ditambahkan ke dalam initial charge mempengaruhi ukuran partikel polimer emulsi yang terbenluk, dan jumlah inti yang dihasilkan."
[Place of publication not identified]: [Publisher not identified], 2006
SAIN-11-3-2006-13
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
San Diego: Academic Press, 1998
547.28 POL
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
"Conducting polymer as the precusor for developing porosity carbon by hypercrosslinked resin networks represent promising material for electrochemical electrodes
."
IPTEKAB
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
New York: John Wiley & Sons, 1980
547.2 POL
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Prestika Gema Sari
"Telah dilakukan sintesis dan karakterisasi polimerisasi oksidasi kimia dari monomer pirol menggunakan oksidan amonium persulfat (APS) dalam media pelarut air, melalui teknik polimerisasi emulsi metode batch selama 4 jam dengan kecepatan agitasi 900 rpm dalam temperatur ruang. Surfaktan yang digunakan diantaranya, surfaktan anionik: Sodium dedocyl sulfate (SDS) dan surfaktan nonionik: Nonylphenol Ethoxylate (NP.EO) dengan 10 mol EO. Senyawa PPy dalam penelitian ini berbentuk padatan (serbuk) berwarna hitam. Terbentuknya PPy dapat diindentifikasi berdasarkan hasil spektra FTIR terlihat munculnya serapan puncak polimer konduktif PPy dengan intensitas yang kuat pada bilangan gelombang 3001 cm-1, 1503 cm-1, 1428 cm-1, 1175 cm-1 dan 1087 cm-1.
Berdasarkan profil perubahan temperatur dan perubahan warna selama proses polimerisasi terlihat polimerisasi emulsi relatif lebih lama kecepatan reaksinya dibandingkan dengan polimerisasi sedimentasi. Nilai pH sistem reaksi polimerisasi dengan surfaktan lebih tinggi (penambahan larutan SDS pH sistem 3.3) dibandingkan polimerisasi tanpa surfakan (1.8). Nilai konduktifitas (σ) PPy dengan surfaktan lebih tinggi (mencapai 186 kali) dibandingkan tanpa surfaktan. Polimerisasi emulsi menggunakan surfaktan anionik, SDS sangat efektif meningkatkan nilai konduktivitas PPy.

A conductive Polypyrrole (PPy) has been successfully synthesized and characterized. The PPy was prepared through oxidative chemical polymerization using ammonium persulfate (APS) as an oxidizing agent in aqueous media. Anionic and non-ionic emulsifiers, sodium dodecyl sulfate (SDS), nonylphenol (NP) ethoxylate (EO) with 10 mole EO were respectively used during polymerization to increase the electrical conductivity. In this research is produced PPy which is formed as black powder. The FTIR spectrum of PPy indicates a change in the absorbance peaks of pyrrole monomer, emergence of strong absorbtion peaks specially at 3001 cm-1, 1503 cm-1, 1428 cm-1, 1175 cm-1 and 1087 cm-1 which is indicating the conductive polymer polypyrrole is formed.
Based on color changing and temperature changing during the polimerization process, the reaction rate of emulsion polymerization is shown relatively slower than sedimentation polymerization. The pH value of SDS added solution was 3.3 higher than that of SDS free solution (1.8). The final characteristic of PPy was carry out by measuring the electrical conductivity (σ) value. It is concluded that the presence of surfactant in a polymerization reaction increased the electrical conductivity of PPy (reached 186 times higher) compared with that obtained of emulsifier free solution. Anionic surfactant, SDS is more effective to enhance the electrical conductivity value of PPy.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2019
T54427
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Kiky Darmawan
"Polimerisasi suspensi merupakan salah satu teknik polimerisasi dispersi di mana monomer terdispersi dalam air sebagai fasa kontinyunya. Pada penelitian ini dilakukan sintesis kopolimer poli[stirena-ko-(butil akrilat)] dengan teknik polimerisasi suspensi melalui metode Atom Transfer Radical Polymerization (ATRP). Variasi konsentrasi stabilizer poli(vinil alkohol) (PVA), inisiator etil α-bromoisobutirat (EBIB), dan komposisi monomer dilakukan untuk mendapatkan kondisi optimum. Kondisi optimum diperoleh pada (i) konsentrasi PVA 5% dengan viskositas 1550 mPa.s, (ii) perbandingan massa total monomer dan inisiator EBIB sebesar 211:10 dengan ukuran partikel 1,832 µm serta distribusi ukuran partikel yang monomodal, dan (iii) komposisi monomer stirena dan butil akrilat sebesar 50:50 (wt/wt%) dengan temperatur transisi gelas sebesar 12,45oC. Parameter keberhasilan terjadinya kopolimerisasi dibuktikan oleh karakterisasi FTIR, DSC, dan GPC.

Suspension Polymerization is one of dispersion polymerization technique which monomers are dispersed in water as continuous phase. In this study, synthesis of copolymers poly[styrene-co-(butyl acrylate)] by using suspension polymerization technique via Atom Transfer Radical Polymerization (ATRP) was performed. Concentration of stabilizer poly(vinyl alcohol) (PVA), initiator ethyl-α-bromoisobutyrate (EBIB), and monomers composition were varied to obtain The optimum conditions. The optimum conditions were obtained at (i) PVA concentration of 5% with viscosity of 1550 mPa.s, (ii) total mass ratio of monomer and initiator EBIB of 211:10 with particle size of 1,832 µm and monomodal particle size distribution, and (iii) composition between monomers styrene and butyl acrylate of 50:50 (wt/wt%) with transition glass temperature of 12,45oC. The success of the copolymerization was evidenced by FTIR, DSC, and GPC characterization.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2014
S55312
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
"Parameter polimerisasi pada fasa aqueous yang berpengaruh pada sifat-sifat film polimer dipelajari lebih lanjut untuk memungkinkan kontrol tak langsung pembuatan film dengan cara mengontrol fasa aqueous. Di antara parameter-parameter yang dipelajari adalah konsentrasi HCl, rasio APS/o-toluidin, lama polimerisasi, dan suhu. Konsentrasi HCl optimal pada nilai berlebih 1,0M, sementara rasio APS/o-toluidin optimal pada nilai 1,25. Lama polimerisasi ternyata berpengaruh pada kestabilan dan ketebalan. Secara umum, semakin lama waktu polimerisasi, film yang dihasilkan akan semakin tebal dan stabil. Suhu juga berpengaruh pada pengaturan ketebalan film. Meski data yang diperoleh baru bersifat semi kuantitatif, terdapat indikasi yang jelas bahwa kontrol tak langsung pembuatan film o-toluidin sangat dimungkinkan.

O-toluidine Polymerization in Aqueous Phase and Its Development to Produce In Situ Poly-o-toluidine Films. Polymerization parameters of aqueous phase which have an effect to polymer film were studied in order to establish indirect control of film fabrication by means of controlling the parameters of aqueous phase. Among the parameters studied are the concentration of HCl, APS/o-toluidine ratio, polymerization duration, and temperature. HCl concentration was found to be optimum at the excess value of 1.0M, whereas ratio of APS/o-toluidine at 1.25. Polymerization duration was found of having an effect to both stability and thickness. As a rule, longer duration of polymerization leads to a thicker and more stablized polymer film. Temperature was found to be a parameter that have a defining role in the control of film thickness. Despite of the rather semi quantitative nature of the data, the results show a clear indication that indirect control is possible for in situ method of o-toluidin film fabrication."
Depok: Lembaga Penelitian Universitas Indonesia, 2006
AJ-Pdf
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Johannes Chanra
"Sintesis polimer hibrid lateks dengan teknik polimerisasi miniemulsi dengan menggunakan montmorillonite sebagai filler telah dilakukan. Montmorillonite dipilih sebagai filler karena memiliki struktur kimia yang jelas serta aspek rasio dan luas permukaan yang besar. Untuk merubah sifat montmorillonite yang hidrofilik menjadi hidrofobik, telah dilakukan proses modifikasi dengan menggunakan senyawa alkilammonium dengan rantai atom alkil yang berbeda, yakni dengan DTAB, CTAB dan OTAB. Modifikasi dilakukan dengan menggunakan proses pertukaran ion dengan rasio 2.0 CEC.
Modifikasi dengan senyawa alkilammonium dengan rantai atom yang berbeda tidak menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan terhadap perubahan pada pola difraksi XRD dan FTIR. Perbedaan hanya ditemukan pada termal dekomposisinya, dimana MMT-OTAB menunjukkan termal kestabilan yang lebih baik dibandingkan dengan yang lain, sehingga MMT-OTAB digunakan sebagai bahan pengisi untuk proses polimerisasi. Pilarisasi terjadi dengan pergeseran sudut 2Ɵ dari ke dan basal spacing d001 meningkat dari 12.1Å ke 21.0Å dan membentuk struktur pseudotrilayer. FTIR mendukung hasil XRD dengan indikasi masuknya gugus alkil ke dalam interlayer dan permukaan MMT.
Inisiator AIBN merupakan inisiator yang paling sesuai untuk digunakan pada sintesis polimer hibrid lateks karena memiliki indeks kelarutan yang paling tinggi dan pengukuran DTG menunjukkan nilai asimetrik yang tinggi yakni C, surfaktan yang paling sesuai untuk digunakan pada proses polimerisasi miniemulsi adalah surfaktan yang larut dalam air yakni SDS. Sintesis polimer hibrid lateks dengan OMMT membentuk kopolimer yang memiliki sifat barrier yang lebih baik bila dibandingkan dengan polimer murni.
OMMT dengan loading rasio 8.0 wt % menunjukkan ketahanan barrier yang sama dengan polimer sintetik LDPE, Poliester dan EVOH. OMMT dengan loading rasio 10.0 wt % akan menghasilkan ketahanan barrier yang sama dengan PET. Sintesis polimer hibrid lateks dengan OMMT level 10.0 wt % sulit dilakukan karena terjadinya ketidakstabilan dan agglomerasi sewaktu proses polimerisasi.

Sinthesis polimer hybrid latex was done by miniemulsion polymerization technique using montmorillonite as filler. Montmorilloniate was selected as filler due to its high aspect ratio and high surface area and also well known chemical structure. To change the nature of montmorillonite bhevavior from hydrophilic to organophilic, cationic exchange process was done with different alkyl chains of alkylammonium bromide surfactants (DTAB, CTAB and OTAB with ratio 2.0 CEC. To change the hydrophilic behavior of montmorillonite to organophilic, surface modification of montmorillonite was performed by alkylammonium bromide with different alkyl chains. Modification process was performed based on ionic exchange process with 2.0 CEC ratio.
Modification with different alkyl chains alkylammonium bromide (DTAB, CTAB and OTAB) did not shown an significant differences in diffraction pattern of XRD and FTIR. Thermal decomposition with TGA shown MMT-OTAB has a better thermal decomposition compare to others, as it is used a basic for selection as a filler in polymerization processs. Pilarization was happened when the 2Ɵ angle from d001 was shifting to lower position from to and basal spacing of d001 increase from 12.1Å to 21.0 Å and formed pseudotrilayer structure. FTIR supported the XRD results, indicated alyl group of surfactant has been inserted into clay interlayer or surface of MMT
Initiator AIBN was selected as inisiator for miniemulsion polymerization for synthesis polymer hibrid latex due to its high solubility index and from DTG measurement shown high asymmetric temperature C. Water soluble SDS surfactant was also selected as surfactant for miniemulsion polymerization.
Synthesis polimer hibrid latex with OMMT as filler formed a co-polymer with a better in barrier properties compare to pure polymer latex. Addition of OMMT up to 8.0% shown a barrier effect as similar to LDPE, Polyester and EVOH. Increasing the addition level to 10.0% could improve the barrier properties similar to PET but it is difficult to synthesized polimer hybrid latex with 10.0% OMMT level due to latex unstability and polymerization difficulty.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2019
D2637
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4   >>