Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 15 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Edwin Arga Wiranata
"Kanker paru merupakan salah satu jenis kanker mematikan dengan terjadinya kasus paling banyak di dunia. Mutasi gen yang terjadi pada sel organ paru menjadi penyebab utama terjadinya kanker paru. Salah satu gen yang berpengaruh terhadap pembelahan sel kanker, yaitu ferritin mitokondria (FTMT). Mekanisme yang diatur oleh gen FTMT yaitu dengan memodulasi metabolisme zat besi (Fe2+) didalam mitokondria yang diinduksi oleh adanya stres oksidatif. Mekanisme yang diatur oleh gen FTMT dengan jumlah ekspresi yang tinggi akibat adanya stres oksidatif berupa H2O2 didalam sel kanker. Senyawa stres oksidatif berupa H2O2 merupakan senyawa toksik yang dapat menghasilkan Reactive Oxygen Spesies (ROS) dan berperan penting dalam proses pengaturan sistem fisiologis dalam sel. Reactive Oxygen Spesies (ROS) yang dihasilkan dengan jumlah tinggi akan mengarah ke mekanisme kematian sel (ferroptosis). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ekspresi gen FTMT dan viabilitas sel pada cell line A549 (non-small cell lung carcinoma) yang diinduksi oleh senyawa H2O2 sebagai stres oksidatif dengan perlakuan berbagai konsentrasi, yaitu 50 μM, 100 μM, 150 μM, 200 μM, dan 300 μM dengan menggunakan metode qRT-PCR. Hasil penelitian ini menunjukkan peningkatan ekspresi gen FTMT dan penurunan viabilitas sel secara signifikan pada perlakuan H2O2 dengan rentang konsentrasi 50 μM sampai 100 μM. Dengan demikian, perlakuan stres oksidatif H2O2 mempunyai peran penting dalam meregulasi gen FTMT yang berkaitan dengan morfologi dan viabilitas sel A549 kanker paru.

Lung cancer is a type of deadly cancer with the most cases occurring in the world. Gene mutations that occur in lung organ cells are the main cause of lung cancer. One of the genes that influences cancer cell division is mitochondrial ferritin (FTMT). The mechanism regulated by the FTMT gene is by modulating iron (Fe2+) metabolism in mitochondria which is induced by oxidative stress. The mechanism regulated by the FTMT gene with high levels of expression is due to oxidative stress in the form of H2O2 in cancer cells. Oxidative stress compounds in the form of H2O2 are toxic compounds that can produce Reactive Oxygen Species (ROS) and play an important role in the process of regulating physiological systems in cells. Reactive Oxygen Species (ROS) produced in high amounts will lead to a cell death mechanism (ferroptosis). This study aims to determine the expression of the FTMT gene and cell viability in the A549 (non-small cell lung carcinoma) cell line which was induced by H2O2 compounds as oxidative stress with various concentrations of treatment, namely 50 μM, 100 μM, 150 μM, 200 μM, and 300 μM using the qRT-PCR method. The results of this study showed an increase in FTMT gene expression and a significant decrease in cell viability in H2O2 treatment with a concentration range of 50 μM to 100 μM. Thus, H2O2 oxidative stress treatment has an important role in regulating the FTMT gene which is related to the morphology and viability of lung cancer A549 cells."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Shierly Novitawati
" ABSTRAK
Adenokarsinoma paru merupakan keganasan epitel paru yang paling seringdijumpai baik pada perokok aktif maupun pasif. Seiring bertambah majunyateknologi, sudah ditemukan beberapa terapi untuk adenokarsinoma paru, sepertikemoterapi dan farmakogenetik terhadap gen tertentu. Akan tetapi , efek sampingterapi tersebut cukup besar dan hanya ampuh untuk gen tertentu. Oleh karena itu,diperlukan penelitian baru untuk menemukan alternatif terapi adenokarsinoma paru.Asam galat telah lama dikenal memiliki aktivitas antikanker yang baik. Namun,kadar asam galat yang diperlukan untuk menghambat pertumbuhan sel A549 adenokarsinoma paru masih terhitung besar. Untuk memperbaiki farmakokinetikdan farmakodinamik asam galat, dibuatlah derivat-derivatnya melalui modifikasistruktur, dengan menambahkan gugus alkil ester dan alkil eter pada asam galat.Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan dan menemukan IC50 asam galatbeserta derivatnya terhadap sel A549 berbasis konsentrasi. Peneliti menggunakandelapan variasi konsentrasi, berkisar antara 0,26 g/ml hingga 33,33 g/ml. Tiapsumur yang berisi sel A549 diinkubasi bersama asam galat dan derivatnya selama24 jam. Pembacaan absorbansi dilakukan menggunakan MTT assay. Hasilpengolahan data menunjukkan etil galat, isoamil galat, sekunder amil galat, heksilgalat, cis-2-heksenil galat, cis-2-oksi-heksenil galat, dan trans-heksenil galatmemiliki nilai IC50 yang lebih baik dari asam galat. Hasil tersebut menunjukkanbahwa modifikasi gugus karboksil pada asam galat dengan gugus alkil ester rantailurus, rantai bercabang, maupun alkil ester yang memiliki ikatan rangkap berisomergeomeri cis dan trans, dapat memperbaiki sitotoksisitas derivat asam galat terhadapsel adenokarsinoma paru A549.Kata kunci: Derivat asam galat, alkil galat, sel paru A549, sitotoksisitas.

ABSTRAK
Lung adenocarcinoma is the most common lung epithelial malignancy found inboth active and passive smoker. Recently, chemotherapy and genetic therapy havebeen widely used to treat the lung cancer. Unfortunately, thechemotherapy has theside effects, and the gene therapy can be used only for certain gene involved in thepathogenesis. These facts indicated that the search for new anti lung cancer agentsis needed. Gallic acid has been known to have anticancer activities. However, ittakes a high concentration of gallic acid to inhibit lung adenocarcinoma A549 cells.Therefore, research and development of the new gallic acid derivatives that showhigher cytotoxicity in lower concentration is required. The purpose of this researchis to compare and to find the IC50 value of gallic acid and its derivatives againstlung A549 cells in eight variety of concentrations, ranging of 0,26 g ml to 33,33 g ml. Each lung A549 cells in well is incubated with gallic acid and its derivativesfor 24 hours. The absorbance was read by using MTT assay. The results showedthat ethyl gallate, isoamyl gallate, secondary amyl gallate, hexyl gallate, cis 2 hexenyl gallate, cis 2 oxy hexenyl gallate, and trans hexenyl gallate show lowerIC50 value than gallic acid. These results suggested Thar structure modification oncarboxyl group of gallic acid withalkyl ester group having linear chain andbranched chain, as well as having the double bond with cis or trans configuration,could improve the cytotoxicities of gallic acid derivatives against lung A549 cells.Keyword alkyl gallate, cytotoxicity, gallic acid derivatives, lung A549 cell."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2016
S70335
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rhea Fatma Azelia
"Latar belakang: Kanker paru merupakan salah satu jenis kanker yang sering diderita dan menyebabkan kematian pertama di Indonesia. Modalitas umum untuk tatalaksana kanker paru seperti bedah, radioterapi, dan kemoterapi tergolong mahal dan menyebabkan efek samping. Teripang (Holothuria scabra) merupakan bahan alam Indonesia yang diketahui mengandung berbagai metabolit sekunder sebagai antikanker, namun masih terbatas penelitian yang dilakukan terhadap kanker paru di Indonesia.
Metode: Holothuria scabra dibuat menjadi ekstrak menggunakan pelarut etil asetat, n-heksana, dan etanol dengan metode maserasi. Dilanjutkan dengan uji fenol dan flavonoid total untuk mengetahui kadar fenol dan flavonoid total ekstrak Holothuria scabra. Kemudian dilakukan uji MTT untuk mengetahui aktivitas sitotoksik ekstrak Holothuria scabra terhadap sel kanker paru A549 dibandingkan dengan doxorubicin. Hasil: Holothuria scabra memiliki kadar fenol total secara berturut-turut pada ekstrak etil asetat, n-heksana, dan etanol sebesar 41,310 ± 0,975; 29,684 ± 0,977; dan 12,408 ± 0,990 mgGAE/g namun tidak memiliki kadar flavonoid total. Holothuria scabra memiliki aktivitas sitotoksik terhadap sel kanker paru A549 dengan nilai IC50 pada ekstrak etanol, etil asetat, dan n-heksana secara berturut-turut sebesar 8,094 ± 5,079 μg/ml (aktif); 30,918 ± 8,455 μg/ml (sedang); dan 142,033 ± 30,180 μg/ml (sedang). Nilai IC50 doxorubicin sebesar 2,560 ± 3,239 μg/ml.
Kesimpulan: Holothuria scabra mengandung fenol sebagai senyawa antioksidan dan antikanker, tidak mengandung senyawa flavonoid, dan memiliki aktivitas sitotoksik terhadap sel kanker paru. Ekstrak n-heksana memiliki perbedaan kemampuan yang signifikan terhadap doxorubicin, sementara ekstrak etil asetat dan etanol tidak memiliki perbedaan kemampuan yang signifikan terhadap doxorubicin.
.....Introduction: Lung cancer is the first cause of cancer-related death in Indonesia. Common modalities for lung cancer treatment, such as surgery are relatively expensive and cause side effects. Sea cucumber (Holothuria scabra) is Indonesia’s natural ingredient which is known to contain various secondary metabolites as anticancer, however research conducted on lung cancer in Indonesia is still limited. Method: Holothuria scabra was made into extract using ethyl acetate, n-hexane, and ethanol solvent by maceration method. Followed by the total phenolic and flavonoid test to determine the total phenolic and flavonoid content of Holothuria scabra. Then the MTT test was performed to determine the cytotoxic activity of Holothuria scabra extract against A549 lung cancer cells.
Result: Holothuria scabra had total phenol content in ethyl acetate, n-hexane, and ethanol extracts of 41,310 ± 0,975; 29,684 ± 0,977; and 12,408 ± 0,990 mgGAE/g, respectively, but did not have total flavonoid content. Holothuria scabra had cytotoxic activity against A549 cells with IC50 in ethanol, ethyl acetate, and n- hexane extracts of 8,094 ± 5,079 μg/ml; 30,918 ± 8,455 μg/; and 142,033 ± 30,180 μg/ml, respectively. IC50 of doxorubicin was 2,560 ± 3,239 μg/ml.
Conclusion: Holothuria scabra contains phenolic as antioxidants and anticancer compounds, does not contain flavonoid compounds, and has cytotoxic activity against lung cancer cells. N-hexane extract has a significant difference in the ability to doxorubicin, while ethyl acetate and ethanol extracts does not have significant difference in their ability to doxorubicin."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2021
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rahardi Prasetia Priawan
"Kanker paru merupakan penyebab utama keganasan di dunia. Kanker paru memiliki insidensi dan angka kematian yang cukup besar pada populasi laki-laki maupun perempuan. Diperlukan metode diagnosis dan pemantauan terapi yang efektif untuk mengatasi masalah kanker paru di dunia. Penelitian ini merupakan studi eksperimental secara in vitro dengan sel A549. Kultur sel A549 ditumbuhkan dalam medium DMEM lalu diekstraksi dengan RIPA buffer. Sel A549 dengan dan tanpa pemberian doxorubicin, serta sel normal dibuat masing-masing sebanyak 4 sampel dan dianalisis menggunakan Differential Scanning Calorimetry (DSC).
Hasil analisis profil termogram DSC yang didapatkan berupa titik lebur dan entalpi lebur. Rata-rata titik lebur dan entalpi lebur dari tiap sampel dianalisis secara statistik menggunakan uji Anova satu arah dilanjutkan dengan uji post-hoc bonferroni. Penelitian ini menunjukkan adanya perbedaan bermakna rata-rata titik lebur antara sel normal dan sel A549 serta antara sel A549 dan sel A549 dengan pemberian doxorubicin. Berdasarkan hasil ini, DSC memiliki potensi untuk digunakan sebagai alat diagnosis dan pemantauan terapi kanker paru.

Lung cancer is the major cause of malignancy in the world. Lung cancer has significant incidence and mortality rate in both male and female populations. An effective method of diagnosis and monitoring therapy is needed to overcome lung cancer problems in the world. This research is an experimental in vitro study with A549 cell line. A549 cell culture was grown in DMEM medium and extracted with RIPA buffer. A549 cells with and without doxorubicin treatment, and normal cell, were prepared 4 samples each and analyzed using Differential Scanning Calorimetry (DSC).
The results of the DSC thermogram profiling obtained in the form of melting point and enthalpy. The average melting point and enthalpy of each sample were analyzed statistically using one-way ANOVA test followed by Bonferroni post-hoc test. This study showed a significant difference in the average melting point between normal cell and A549 cell, also between A549 cell and A549 cell with doxorubicin treatment. Based on these results, DSC has the potential to be used as a diagnostic and therapeutic monitoring tool for lung cancer.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2018
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Gerry Kurniawan
"ABSTRAK
Pendahuluan: Kanker paru merupakan salah satu jenis kanker dengan angka kejadian dan kematian yang tinggi baik di dunia maupun di Indonesia. Perawatan saat ini untuk kanker paru-paru adalah operasi, kemoterapi, terapi radiasi dan terapi bertarget. Namun, berbagai terapi ini dapat menyebabkan beberapa efek samping. Makroalga Eucheuma cottonii merupakan salah satu bahan alami yang potensial untuk pengobatan kanker paru. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui komposisi senyawa fitokimia, aktivitas antioksidan dan efek sitotoksik makroalga Eucheuma cottonii asal Sorong, Papua Barat pada kultur sel kanker paru A549. Metode: Penelitian ini menggunakan desain penelitian eksperimen. Sampel E. cottonii diekstraksi dalam 3 jenis pelarut, yaitu etanol, etil asetat dan n-heksana. Kemudian dilakukan uji kandungan senyawa fitokimia dan kromatografi lapis tipis (KLT). Aktivitas antioksidan ekstrak diuji pada enam konsentrasi ekstrak yang berbeda menggunakan metode DPPH. Aktivitas sitotoksik ekstrak E. cottonii terhadap sel kanker paru A549 diuji dalam delapan konsentrasi berbeda menggunakan metode MTT. Hasil: Uji fitokimia ekstrak E. cottonii menunjukkan adanya senyawa triterpenoid dan alkaloid. Analisis KLT menunjukkan bahwa ekstrak E. cottonii mengandung satu sampai tiga senyawa kimia. Uji antioksidan dengan metode DPPH ekstrak etanol dan etil asetat makroalga E. cottonii memberikan nilai IC50 masing-masing sebesar 64,2 g/ml dan 181,7 g/mL. Uji sitotoksik ekstrak etanol, ekstrak etil asetat dan ekstrak n-heksana E. cottonii terhadap sel kanker paru A549 secara in vitro memberikan nilai IC50 masing-masing sebesar 168,56 g/mL, 196,87 g/mL, dan 1485,10 g. /mL. Kesimpulan: Ekstrak E. cottonii memiliki aktivitas antioksidan sedang dan memiliki efek sitotoksik lemah terhadap sel kanker paru A549.
ABSTRACT
Introduction: Lung cancer is one type of cancer with a high incidence and mortality rate both in the world and in Indonesia. Current treatments for lung cancer are surgery, chemotherapy, radiation therapy and targeted therapy. However, these various therapies can cause some side effects. Macroalgae Eucheuma cottonii is one of the potential natural ingredients for the treatment of lung cancer. This research was conducted to determine the composition of phytochemical compounds, antioxidant activity and cytotoxic effects of macroalgae Eucheuma cottonii from Sorong, West Papua on A549 lung cancer cell culture. Methods: This study used an experimental research design. Samples of E. cottonii were extracted in 3 types of solvents, namely ethanol, ethyl acetate and n-hexane. Then, the phytochemical compound content test and thin layer chromatography (TLC) were tested. The antioxidant activity of the extracts was tested at six different extract concentrations using the DPPH method. The cytotoxic activity of E. cottonii extract against lung cancer cells A549 was tested in eight different concentrations using the MTT method. Result: Phytochemical test of E. cottonii extract showed the presence of triterpenoid and alkaloid compounds. TLC analysis showed that the extract of E. cottonii contained one to three chemical compounds. Antioxidant test using DPPH method of ethanol extract and ethyl acetate of macroalgae E. cottonii gave IC50 values ​​of 64.2 g/ml and 181.7 g/mL, respectively. Cytotoxic test of ethanol extract, ethyl acetate extract and n-hexane extract of E. cottonii against lung cancer cells A549 in vitro gave IC50 values ​​of 168.56 g/mL, 196.87 g/mL, and 1485.10 g, respectively. . /mL. Conclusion: Extract of E. cottonii has moderate antioxidant activity and has a weak cytotoxic effect against lung cancer cells A549."
Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2019
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Qotrunnada Fithrotunnisa
"Kanker paru merupakan salah satu penyebab terbanyak kematian akibat kanker di Indonesia. Namun, terapi kanker konvensional memiliki kelemahan seperti efek samping terhadap tubuh dan tingginya biaya yang dibutuhkan. Oleh karena itu, studi mengenai pengobatan alternatif kanker menggunakan tumbuhan herbal mulai banyak dilakukan. Bunga rosela merah (Hibiscus sabdariffa) sebagai salah satu tanaman herbal di Indonesia diketahui memiliki aktivitas biologis, namun penelitiannya masih terbatas. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kandungan fitokimia, aktivitas antioksidan, dan aktivitas sitotoksik bunga rosela merah secara in vitro terhadap sel kanker paru A549. Penelitian eksperimental ini diawali dengan maserasi sampel dalam pelarut etanol, etil asetat, dan n-heksana. Kemudian, dilakukan uji kromatografi lapis tipis dan uji fitokimia untuk mengetahui kandungan metabolit sekundernya. Aktivitas antioksidan dari ekstrak ditentukan dengan metode DPPH, sedangkan aktivitas sitotoksik dari ekstrak terhadap sel kanker paru A549 ditentukan dengan uji MTT assay secara invitro. Hasil uji kromatografi lapis tipis menunjukkan terdapat lima komponen senyawa, sedangkan hasil uji fitokimia memberikan hasil positif untuk flavonoid, tanin, glikosida, alkaloid, triterpenoid, dan steroid. Uji aktivitas antioksidan untuk ekstrak etanol dan etil asetat Hibiscus sabdariffa memberikan nilai IC50 lebih dari 50 g/mL. Sementara itu, uji sitotoksik in vitro ekstrak etanol, etil asetat dan n-heksana Hibiscus sabdariffa terhadap sel kanker paru A549 memberikan nilai IC50 lebih dari 200 g/mL. Kesimpulan dari penelitian ini adalah ekstrak Hibiscus sabdariffa memiliki aktivitas antioksidan yang tergolong lemah hingga moderat, dan menunjukkan aktivitas sitotoksik yang tergolong lemah terhadap sel kanker paru A549, sehingga ekstrak Hibiscus sabdariffa berpotensi untuk dikembangkan sebagai antioksidan dan agen antikanker paru.

Lung cancer is one of the leading causes of cancer death in Indonesia. Treatment for lung cancer has side effects and requires high cost. Therefore, the study concerning natural anticancer from plants has intensified, in this study focused on Hibiscus sabdariffa. The purpose of this research is to evaluate the phytochemistry composition, antioxidant activity, and cytotoxic activity of Hibiscus sabdariffa extracts against the A549 lung cancer cell line. The research was carried out by macerated the sample with ethanol, ethyl acetate, and n-hexane solvents. The extracts were analyzed using TLC and phytochemistry tests to determine secondary metabolites. The antioxidant activity of the extract was determined using the DPPH method, while the cytotoxic activity of the extract against the A549 lung cancer cells was determined in vitro using the MTT assay. As a result, the TLC analysis revealed that Hibiscus sabdariffa extracts contained five organic compounds, while the phytochemistry tests revealed positive for flavonoids, tannins, glycosides, alkaloids, triterpenes, and steroids. The antioxidant activity test of the ethanol and ethyl acetate extracts showed the IC50 value of more than 50 g/mL. Furthermore, the cytotoxic activity of the ethanol, ethyl acetate, and n-hexane extract against the A549 lung cancer cell line showed the IC50 value of more than 200 g/mL. In conclusion, Hibiscus sabdariffa extracts had the low to moderate antioxidant activity and the weak anticytotoxic activity against the A549 lung cancer cell line, so Hibiscus sabdariffa extracts are potential to be developed as antioxidant and anticancer."
Depok: Fakultas Kedokteran Univeritas Indonesia, 2019
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Justus Thomas Obiajulu Sievers
"Zika virus (ZIKV) adalah flavivirus yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes yang biasanya hanya menyebabkan gejala demam ringan pada orang dewasa yang sehat, tetapi membawa risiko cacat lahir yang tinggi pada fetus jika terinfeksi selama kehamilan. ZIKV bisa bermutasi dan kemungkinan untuk menyebar ke area baru. Dengan belum adanya vaksin Zika yang disetujui, bahan alam seperti xanthone yang didapatkan dari ekstrak dari tanaman seperti manggis merupakan salah satu agen antivirus yang menjanjikan. Studi ini mengkarakterisasi infektifitas strain ZIKV Indonesia, kemudian meneliti efek antivirus alpha-mangostin (a-M), sejenis xanthone yang diekstraksi dari kulit buah manggis, terhadap ZIKV dalam tiga skenario perlakuan. Infeksi dan pertumbuhan ZIKV di galur sel secara signifikan berbeda antar sel dan dari waktu ke waktu (two-way ANOVA p < 0,01 di semua assay) dan bereplikasi dengan baik di galur sel A549 dan ginjal, tetapi tidak pada galur sel HepG2 atau sel darah putih. a-M secara efektif mengurangi titer virus dalam skenario full- dan post-treatment dengan selektivitas yang baik (SI = 6,14, 3,31, masing-masing), tetapi kurang efektif dalam mengurangi protein virus intraseluler (SI = 2,21, 1,78, masing-masing), dengan ribavirin (sebagai control) menunjukkan lebih sedikit efek, tetapi selektivitas yang lebih baik di semua skenario. Molecular docking menunjukkan a-M mengikat dengan baik ke kantung protein yang relevan pada protein replikasi ZIKV: NS1, NS3-helicase dan RdRp. Studi ini menyimpulkan bahwa ZIKV Indonesia mempunyai sifat yang mirip dengan strain lain di dunia dan a-M adalah antivirus ZIKV yang menjanjikan dengan toksisitas yang relatif rendah, dan bekerja dengan menghambat replikasi ZIKV, namun masih perlu dikonfirmasi dengan penelitian lebih lanjut.

Zika virus (ZIKV) is a flavivirus transmitted by the bite of Aedes mosquitoes which usually causes only mild fever symptoms in healthy adults, but carries a high risk of birth defects in fetuses if infected during pregnancy. ZIKV has a history of mutations and is likely to spread to new areas. With no approved vaccine, xanthones in extracts from plants such as mangosteen represent promising antiviral agents. This study first characterized the infection patterns of the Indonesian ZIKV strain, then investigated antiviral effects of alpha-mangostin (a-M), a xanthone extracted from mangosteen pericarp, against it in three treatment scenarios. ZIKV infection progressed significantly differently between cells and over time (two-way ANOVA p < 0.01 in all assays) and replicated well in A549 and kidney cell lines, but not HepG2 or white blood cell lines. a-M effectively reduced viral titer in A549 in full and post treatment scenarios with good selectivity (SI = 6.14, 3.31, respectively), but was less effective in reducing intracellular viral protein (SI = 2.21, 1.78, respectively), with ribavirin showing less effect, but better selectivity in all scenarios. Molecular docking showed a-M binding well to pockets of interest on the ZIKV replication proteins NS1, NS3-helicase and RdRp. This study concludes that Indonesian ZIKV is similar to other strains in terms of cell line infectivity and a-M is a promising antiviral agent with relatively low toxicity, and works by inhibiting ZIKV replication, which should be confirmed with further research."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2022
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Yasmin Verena Jerissia Murtagh
"Kanker paru menyebabkan sekitar 20% dari seluruh kematian terkait kanker. Kafein merupakan zat psikoaktif yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat. Dalam beberapa tahun terakhir, kafein ditemukan sebagai molekul aktif di daerah selain otak, yang efeknya sangat bervariasi, dan belum sepenuhnya dipahami. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa kafein dapat digunakan dalam pengobatan medis; kafein juga ditemukan meningkatkan ekspresi gen hTERT pada sel MCF-7 dan Hep-G2. hTERT adalah gen yang bertanggung jawab atas regulasi protein hTERT, yang dapat memanjangkan telomer melalui telomerase, suatu enzim yang banyak terdapat pada tumor kanker. Panjang telomer tidak hanya relevan dalam bidang kanker, tetapi juga dalam bidang anti-aging, dalam konteks penyakit degeneratif seperti Idiopathic Pulmonary Fibrosis (IPF) atau Penyakit Alzheimer (AD). Penelitian ini menyelidiki hubungan antara kafein dan gen hTERT, untuk mengetahui bagaimana kafein mempengaruhi panjang telomer untuk penyakit tersebut. Metode yang digunakan meliputi Reverse Transcriptase Quantitative Real-Time Polymerase Chain Reaction (qRT-PCR) untuk mendeteksi ekspresi gen hTERT, dan Uji Trypan Blue untuk mendeteksi viabilitas sel. Sel A549 diberi perlakuan dengan bubuk kafein yang diencerkan dalam Phosphate Buffered Saline (PBS) selama 24 jam, dengan konsentrasi antara 0,5; 1; 2; 3; & 5 mM. Hasil qRTPCR menunjukkan ekspresi hTERT meningkat setelah perlakuan sebesar 0,5; 2; dan 3 mM kafein, namun menurun setelah pengobatan dengan 1 dan 5 mM kafein. Uji Trypn Blue menunjukkan bahwa viabilitas sel A549 setelah diberi perlakuan kafein menghasilkan peningkatan kematian sel yang stabil seiring dengan peningkatan dosis (dose-dependent). Kafein menurunkan viabilitas sel kanker paru dan mempengaruhi ekspresi gen hTERT.

Lung cancer causes around 20% of all cancer-related deaths. Caffeine is a psychoactive substance widely consumed by the public. In the past years, caffeine has been found to be an active molecule in areas other than the brain, of which the effects vary widely, and are not yet fully understood. Previous research has shown that caffeine can be in medical treatment; caffeine has also been found to increase the expression of the hTERT gene in MCF-7 and Hep-G2 cells. hTERT is the gene which regulates the hTERT protein, which in turn can elongate telomeres by way of telomerase, an enzyme abundant in cancer tumours. The length of telomeres is not only relevant in the field of cancer, but also in the field of anti-aging, in the context of degenerative diseases such as Idiopathic Pulmonary Fibrosis (IPF) or Alzheimer's Disease (AD). This study investigates the connection between caffeine and the hTERT gene, so that the modification of telomeres by caffeine may be further understood. Methods used include Reverse Transcriptase Quantitative Real- Time Polymerase Chain Reaction (qRT-PCR) for detecting hTERT gene expression, and the Trypan Blue Assay for detecting cell viability. A549 cells were treated with caffeine powder for 24 hours, with concentrations between 0,5; 1; 2; 3; & 5 mM. qRT-PCR results showed that hTERT expression increased after treatment with 0,5; 2; and 3 mM of caffeine, however, decreasing after treatment with 1 and 5 mM caffeine. Caffeine lowers lung cancer cell viability and affects hTERT gene expression"
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan alam Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Vinka Valencia Liman
"Morbiditas dan mortalitas kanker paru yang tinggi serta tantangan kemoterapi (resistensi sel kanker dan efek samping serius) menimbulkan perlunya ekplorasi agen antikanker alami. Jojoba (Simmondsia chinensis (Link) Schneider) adalah salah satu tumbuhan yang menjadi sumber agen antikanker potensial. Ekstrak dan minyak biji jojoba telah dilaporkan memiliki efek sitotoksik terhadap viabilitas sel kanker kolorektal HCT-116, sel kanker payudara MCF-7, dan sel melanoma MV-3. Akan tetapi, pengaruh minyak biji jojoba terhadap viabilitas dan ultrastruktur sel kanker paru A549 belum diketahui sebelumnya. Maka dari itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi konsentrasi minyak biji jojoba (50, 100, 200, 300, 400, dan 500¼g/mL) terhadap viabilitas sel A549 dengan metode Trypan Blue serta ultrastruktur sel A549 dengan metode Scanning Electron Microscopy. Hasil uji dan analisis statistik membuktikan bahwa minyak biji jojoba dengan konsentrasi 100, 200, 300, 400, dan 500 μg/mL memiliki pengaruh yang signifikan terhadap penurunan viabilitas sel A549. Konsentrasi 300¼g/mL minyak biji jojoba mampu mengakibatkan perubahan ultrastruktur sel A549 berupa blebbing membran dan pemisahan sel dari jaringan di sekitarnya serta hilangnya sitoskeleton aktin. Analisis induksi apoptosis, potensi antikanker senyawa simmondsin murni, serta pengaruh secara in vivo perlu diuji untuk membuktikan potensi antikanker minyak biji jojoba terhadap kanker paru secara lebih lanjut.

The high morbidity and mortality rate of lung cancer and the challenges of chemotherapy (cancer cell resistance and serious side effects) have led to the urgency to explore natural anticancer agents. Jojoba (Simmondsia chinensis (Link) Schneider) is one of the plants that is known for its unique seed wax ester oil and has various potentials, one of which is anticancer. Jojoba seed oil and extracts has been reported to exert cytotoxic effects on the viability of HCT-116 colorectal cancer cells, MCF-7 breast cancer cells, and MV-3 melanoma cells. However, the effect of jojoba seed oil on the viability and ultrastructure of A549 lung cancer cells has not been previously determined. This study aims to determine the effect of various concentrations of jojoba seed oil (50, 100, 200, 300, 400, and 500 μg/mL) on A549 cell viability by Trypan Blue method and ultrastructure by Scanning Electron Microscopy method. The test results and statistical analysis proved that jojoba seed oil with concentrations of 100, 200, 300, 400, and 500¼g/mL had a significant effect on reducing A549 cell viability. The jojoba seed oil concentration of 300¼g/mL can cause membrane blebbing, detachment from surrounding tissue, and loss of cytoskeleton on A549 cells. Analysis of apoptosis induction, anticancer potential of pure simmondsin compound, and in vivo effects need to be evaluated to further prove the anticancer potential of jojoba seed oil towards lung cancer."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Azleen Tsabita Ashil Fauzi
"Penelitian ini mengevaluasi potensi simvastatin sebagai agen antikanker terhadap sel kanker paru-paru A549. Simvastatin, yang umumnya digunakan sebagai obat penurun kolesterol, diuji kemampuannya dalam menghambat viabilitas sel kanker dan meningkatkan spesies oksigen reaktif (ROS) dalam sel A549. Uji MTS digunakan untuk mengukur viabilitas sel dan menentukan nilai IC50, sedangkan uji DCFH-DA digunakan untuk mengukur produksi ROS. Penelitian ini menggunakan variasi konsentrasi simvastatin (25 μM, 50 μM, 100 μM) dan variasi waktu (0 hari, 2 hari, 4 hari, 6 hari). Hasil penelitian menunjukkan bahwa simvastatin
secara signifikan menurunkan viabilitas sel A549 seiring dengan peningkatan konsentrasi dan durasi pengobatan. Konsentrasi 100 μM setelah 144 jam berhasil menghilangkan seluruh viabilitas sel A549. Simvastatin juga menunjukkan aktivitas sitotoksik tertinggi pada konsentrasi 28.07 μM (11.75 μg/mL) setelah 144 jam. Selain itu, simvastatin meningkatkan kadar ROS dalam sel A549, dengan konsentrasi 50 μM selama 96 jam menghasilkan peningkatan ROS tertinggi sebesar 0.34%. Temuan ini menunjukkan bahwa simvastatin berpotensi sebagai agen antikanker yang efektif terhadap sel kanker paru-paru A549.

This study evaluates the potential of simvastatin as an anticancer agent against A549 lung cancer cells. Simvastatin, commonly used as a cholesterol-lowering drug, was tested for its ability to inhibit cancer cell viability and increase reactive oxygen species (ROS) in A549 cells. The MTS assay was utilized to measure cell viability and determine the IC50 value, while the DCFH-DA assay was employed to measure ROS production. The study used varying concentrations of simvastatin (25 μM, 50 μM, 100 μM) and different time points (0 days, 2 days, 4 days, 6 days). The results demonstrated that simvastatin significantly reduced A549 cell viability with increasing concentration and duration of treatment. A concentration of 100 μM after 144 hours eliminated A549 cell viability. Simvastatin also exhibited the highest cytotoxic activity at a concentration of 28.07 μM (11.75 μg/mL) after 144 hours. Furthermore, simvastatin increased ROS levels in A549 cells, with a concentration of 50 μM over 96 hours resulting in the highest ROS increase of 0.34%. These findings indicate that simvastatin has potential as an effective anticancer agent against A549 lung cancer cells."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2   >>