Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 5 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Ratna Andriyati
"

Latar belakang: Ruptur plak dan pembentukan trombus merupakan karakteristik plak pada infark miokard akut dengan elevasi segmen ST (IMA-EST). Karakteristik plak tersebut rentan untuk terjadi trombosis kembali dan dapat memperlambat proses penyembuhan endotel pasca implantasi stent Durable Polymer Drug-Eluting Stents (DP-DES). Biodegradable Polymer Drug-Eluting Stents (BP-DES) memiliki biokompatibilitas yang lebih baik. Studi yang membandingkan luaran klinis kedua jenis stent tersebut pada pasien IMA-EST masih terbatas.

 

Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan luaran klinis pasien IMA-EST yang menjalani intervensi koroner perkutan primer (IKPP) menggunakan BP-DES dibandingkan dengan DP-DES generasi kedua dalam kurun waktu dua tahun.

 

Metode: Penelitian ini merupakan studi kohort retrospektif pada pasien IMA-EST yang menjalani IKPP. Luaran klinis primer berupa major adverse cardiovascular events (MACE) yang terdiri dari kejadian infark miokard berulang, total repeat revascularization dan kematian kardiovaskular. Luaran klinis sekunder berupa trombosis stent baik definit, probable maupun possible.

 

Hasil: Total terdapat 400 pasien yang dianalisis (197 kelompok BP-DES dan 203 kelompok DP-DES). BP-DES berasosiasi dengan kejadian MACE (adjusted OR 0,67, 95% IK 0,21 – 0,91, p 0,005) dan trombosis stent yang lebih rendah (adjusted OR 0,62, 95% IK 0,19 – 0,73, p<0,016) dalam waktu dua tahun. Luaran klinis infark miokard berulang dan total repeat revascularization yang merupakan bagian dari luaran klinis komposit MACE, tidak didapatkan hubungan bermakna.

 

Kesimpulan: Terdapat perbedaan kejadian MACE dan trombosis stent antara kelompok BP-DES dengan DP-DES generasi kedua dalam kurun waktu dua tahun pada pasien IMA-EST yang menjalani IKPP, dimana BP-DES berasosiasi dengan luaran klinis yang lebih rendah.



Background: Plaque rupture and thrombus formation are characteristic of plaque in patients with ST segment elevation myocardial infarction (STEMI). Characteristics of these plaques are those that are prone to recurrence of thrombosis and may aggravate delayed endothelial healing after Durable Polymer Drug-Eluting Stents (DP-DES) implantation. Biodegradable Polymer Drug-Eluting Stents (BP-DES) had better biocompatibility. Studies comparing the clinical outcomes of the these type of stents in STEMI patients are still limited.

 

Objective: This study aims to determine the comparison of clinical outcomes of STEMI patients undergoing primary percutaneous coronary intervention (PPCI) using BP-DES compared to the second generation DP-DES within two years.

 

Methods: This study is a retrospective cohort study in STEMI patients undergoing P. Primary clinical outcome was major adverse cardiovascular events (MACE) defined as recurrent myocardial infarction, total repeat revascularization and cardiovascular death. Secondary clinical outcome was stent thrombosis defined as definite, probable or possible.

 

Results: A total of 400 patients were analyzed (197 BP-DES groups and 203 DP-DES groups). BP-DES was associated with lower incidence of MACE (adjusted OR 0.67, 95% CI 0.21 - 0.91, p 0.005) and stents thrombosis (adjusted OR 0.62, 95% CI 0.19 - 0.73, p <0.016) within two years. Recurrent myocardial infarction and total repeat revascularization which is part of the MACE composite outcome, there were no significant association.

 

Conclusion: There were differences in the occurence of MACE and stent thrombosis between the BP-DES group and the second generation DP-DES within a period of two years in STEMI patients undergoing PPCI, whereas BP-DES was associated with better clinical outcomes.

"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2019
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Edwin M. Hilman
"Tujuan; membandingkan pemeriksaan trombosis vena dalam atau deep vein thrombosis (DVT) pada tungkai antara venografi 99m Tc Red Blood Cell (RBC) dengan venografi konvensional. Bahan dan Metoda: Empat belas orang diperiksa dengan venografi 99m Tc RBC dan venografi konvensional pada tungkai dengan kecurigaan DVT. Hasil : hasil pemeriksaan venografi 99m Tc RBC didapatkan 7 tungkai (38,6%) positif DVT dan yang negatif sebanyak 12 tungkai (61,4%), sedangkan hasil pemeriksaan venografi konvensional didapat 15 tungkai (78,9%) positif dan 4 tungkai (21,1 %) negatif. Dari hasil penelitian ini didapatkan bahwa venografi 99m Tc RBC mampu meningkatkan kepekaan venografi konvensional sebesar 53,3%. Kesimpulan : Venografi 99m Tc-RBC mempunyai kepekaan lebih tinggi dibandingkan venografi konvensional mendiagnosa DVT tungkai.

Purpose: To compare diagnosis deep vein thrombosis (DVT) of lower extremities between convemional venography with 99"'Tc RBC venography. Materials and methods : Fourteen patients with suspected DVT of their lower extremities underwent 99mTc-RBC venography followed by conventional venography. Results : There are 7 legs (38,6%) positive DVT and 12 legs (61,4%) negative by 99"'Tc RBC venography and there are 15 legs (78,9%) positive DVT and 4 legs (21,1%) negative by conventional venography. From experimental analytic found 9 9t"Tc-RBC venography could be increased 53,3% sensivity of conventional venography. Conclusion: Comparing conventional venography, 99"'Tc-RBC venography has more sensitiv to make diagnosis DVT of lower extremity."
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2003
T-pdf
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Napitupulu, Rebekka
"Latar belakang: Tromboemboli vena (TEV) dapat bermanifestasi sebagai trombosis vena dalam (TVD) ataupun emboli paru (EP). EP sebagai komplikasi TVD dapat berakibat fatal. TVD umumnya terjadi disebabkan multipel faktor risiko seperti penyakit penyerta (komorbid), faktor provokasi, gangguan hemostasis dll. Gangguan fungsi hemostasis berupa keadaan protrombotik sudah dimulai dari awal stadium penyakit ginjal kronik (PGK). Menurunnya laju filtrasi glomerulus berkolerasi dengan peningkatan TEV. Mekanisme pasti bagaimana terjadinya TVD pada penderita PGK sampai saat ini masih belum jelas.
Tujuan: Untuk mengetahui profil hemostasis dan faktor risiko yang berhubungan dengan TVD pada pasien PGK.
Metode : Penelitian potong lintang retospektif dengan memakai data sekunder pada pasien PGK stadium 3-5 yang dirawat inap selama 1.5 tahun antara Oktober 2011- April 2013. Faktor risiko TVD yang diteliti meliputi DM, CHF, stroke iskemik, faktor provokasi, usia lanjut dan penurunan LFG. Analisis bivariat dan multivariat dilakukan dengan regresi logistik untuk mendapatkan faktor risiko yang paling berhubungan dengan terjadinya TVD pada pasien PGK. Adanya perbedaan proporsi pada kedua kelompok dinilai dengan analisis bivariat.
Hasil: Proporsi TVD kasus baru yang telah dikonfirmasi dengan USG Doppler ditemukan sebesar 8% (91 dari 1115 pasien). Subyek penelitian sebanyak 160 pasien terdiri atas kelompok TVD 75 orang dan kelompok Non TVD 85 orang, subyek juga terbagi dalam kelompok Dialisis 77 orang dan Non Dialisis 83 orang. Pada pemeriksaan hemostasis ditemukan persentase rasio APTT <0.8 (1.9%), rasio PT <0.8 (0%), INR <0.8 (0%), fibrinogen >400 mg/dl (56.2%) dan D-Dimer >500 μg/l (87.5%) pada keseluruhan pasien PGK. Kadar fibrinogen lebih tinggi pada kelompok TVD daripada Non TVD. Tidak ada perbedaan hemostasis antara kelompok Dialisis dan Non Dialisis. Dari beberapa faktor risiko TVD yang diteliti, DM merupakan faktor risiko yang bermakna sesuai p <0.001, OR 4.5 (95% KI 2.3-8.8).
Kesimpulan: Sebagian besar pasien PGK cenderung mengalami hiperkoagulasi. Pasien PGK dengan DM berisiko untuk mengalami TVD. DM bersama faktor risiko lain dapat menjadi predisposisi terjadinya TVD pada PGK.

Background: Venous thromboembolism (VTE) may manifest as deep vein thrombosis (DVT) or pulmonary embolism (PE). PE as a major complication of DVT and can lead to potentially fatal. DVT can occur as the result of multiple risk factors such as comorbidities, provoked factors, abnormal hemostasis functions and others. Chronic kidney disease (CKD) is typically associated with a prothrombotic tendency in the early stages of the disease. The declining of glomerular filtration rate (GFR) is correlated with increasing of VTE. The exact mechanism of how DVT develops in CKD patients remains unclear.
Aim: To determine the hemostasis profiles and risk factors associated with DVT in CKD patients.
Methods: Retrospective cross sectional study was hold by review the medical records from stage 3-5 CKD patients that hospitalized during 1.5 years (October 2011 - April 2013). Multiple risk factors for TVD such as CHF, stroke ischemic, provoked factors, elderly and decreasing of eGFR were examined. Bivariate and multivariate analysis with logistic regression performed to obtain the most risk factors associated with the occurrence of TVD in CKD patients. The differences of proportion between both groups were assessed by bivariate analysis.
Results: The proportion of first DVT confirmed by doppler ultrasound was 8% (91 of 1115 patients). 160 patients were divided into groups. 75 and 85 patients comprised the group with DVT-Non DVT as well as 77 and 83 patients comprised the group with Dialysis-Non Dialysis. We found the APTT ratio <0.8 (1.9 %), PT ratio <0.8 (0 %), INR <0.8 (0 %), fibrinogen level >400 mg/dl (56.2 %) and DDimer level >500 μg/l (87.5 %) in all CKD patients. The level of fibrinogen was higher when DVT group compared to Non DVT group. There was no significant differences of hemostasis functions between Dialysis and Non Dialysis group. Multivariate analysis demonstrated that diabetes mellitus (p<0.001, OR: 4.5; 95% CI: 2.3 to 8.8) was associated with DVT in CKD patients among all risk factors.
Conclusion: Most CKD patients tend to have hypercoagulation. Diabetes was associated with DVT risk in CKD patients. Diabetes with other risk factors could be as predispotition factors for DVT in CKD in this study.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2014
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nainggolan, Dessy Lina
"Udara di tulang temporal mempunyai fungsi yang bervariasi, terutama sebagai cadangan udara telinga tengah. Gangguan fungsi tuba Eusthacius akan menyebabkan udara di tulang temporal berfungsi sehingga tidak terbentuk tekanan negatif yang disebabkan penyerapan udara oleh mukosa telinga tengah. Hal ini mencegah terjadinya perubahan mukosa telinga tengah dan mencegah terjadinya otitis media.
Tujuan penelitian ini adalah untuk menilai kesesuaian klasifikasi pneumatisasi mastoid berdasarkan struktur sinus sigmoid terhadap volume akurat sel-sel udara mastoid menggunakan MSCT Scan Spiral di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo berupa 158 mastoid dari 78 pasien (40 laki-laki dan 38 perempuan) dengan rentang umur 18 sampai 60 tahun tanpa kelainan atau malformasi pada gambaran CT Scan.
Data sekunder diambil dari raw data yang telah direkonstruksi menggunakan pesawat CT scan Somatom spiral scanner (Siemens Medical Systems) dengan tebal irisan 2,0 mm, Filter Kernel H 70 very sharp, mastoid window (window width 4.000 HU, window level 600 HU), densitas antara ? 1.000HU sampai dengan +70HU di dalam Compact Disc.
Klasifikasi pneumatisasi mastoid ditentukan berdasarkan tiga garis paralel dengan kemiringan 45◦ yang diletakkan pada posisi garis melewati bagian paling anterior dari sinus sigmoid pada persimpangannya dengan tulang petrosus, bagian paling lateral di sepanjang bidang transversal sigmoid groove dan paling posterior dari sinus sigmoid.
Statistik deskriptif (SPSS 17.0) disajikan berupa analisis volume sel-sel udara mastoid berdasarkan kelompok pneumatisasi menggunakan uji Kruskal Wallis dilanjutkan analisis Post Hoc dengan hasil rerata volume sel-sel udara masingmasing kelompok pneumatisasi berbeda bermakna dengan kelompok lainnya, dengan batas kemaknaan (α) 0,05, dan ROC (Receiver operator curve) menunjukkan bahwa masing-masing kelompok pneumatisasi mempunyai sensitivitas dan spesifisitas tinggi.

The air in the temporal bone has various functions. In particular, it serves as the air reservoir of the middle ear. When the function of the Eustachian tube deteriorates, the air in the temporal bone acts to prevent negative pressure from developing due to absorption of air by the middle ear mucosa, and thus prevents changes of the middle ear mucosa, as well as progression of otitis media.
The aim of this paper is to evaluate The Conformity Classification of Mastoid Pneumatization in Normal Adult based on Sigmoid Sinus with the Mastoid Air Cells Volume using Spiral MSCT Scan in Cipto Mangunkusumo Hospital of One hundred and fifty six mastoids of 78 subjects (40 males and 38 males) ranged in age from 18 years to 60 years without impairment or malformation of temporal bone CT scan were eligible for enrolment in this study.
Secondary data drawn from raw data in Compact Disc that has been reconstructed using Somatom spiral scanner (Siemens Medical Systems) with 0,2 cm slice thickness, filter Kernel very sharp and mastoid window (window width 4.000HU and window level 600HU). We used -1.000 to + 70 HU.
Classification of mastoid pneumatization is determined based on three parallel lines angled at 45◦ in the anterolateral direction which each line crossed the most anterior point of the sigmoid sinus at the junction with the petrous bone, the most lateral aspect along the transverse plane of the sigmoid groove, and the most posterior point of the sigmoid sinus, respectively.
Descriptive statistics (SPSS 17.0) are presented in the form of air cells mastoid volume based on Classification of mastoid pneumatization using Kruskal Wallis test and followed by Post Hoc analysis with the volume of the mastoid air cells of each group differ significantly with other groups, significance limit of 0.05, and ROC (Receiver operator curve) showed that each group has a high sensitivity and specificity."
Depok: Universitas Indonesia, 2012
T31951
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Januar Rizky Adriani
"Pendahuluan: Deep Vein Thrombosis (DVT) memiliki kecenderungan terus meningkat dengan koinsidensi mortalitas jangka pendek dan morbiditas jangka panjang. COVID-19 dapat menyebabkan hypercoagulable state dan menjadi predisposisi terjadinya DVT. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan kadar fibrinogen, D-Dimer, dan dosis heparin teraupetik berdasarkan kadar APTT dengan adanya COVID-19 pada pasien DVT. Metode: Desain penelitian komparatif dan kohort prospektif digunakan untuk membandingkan kadar fibrinogen, D-Dimer, dan dosis heparin terapeutik antara pasien COVID-19 dan non COVID-19 yang menderita DVT di RSPN Cipto Mangunkusumo pada bulan Maret 2020 – Maret 2022. Penegakan diagnosis DVT dilakukan dengan pemeriksaan ultrasonografi dan/atau computed tomography angiography (CTA) fase vena. Data variabel utama dan lainnya diperoleh dari rekam medis pasien. Uji T independen atau Mann-Whitney digunakan untuk menganalisis perbedaan nilai variabel antara kedua kelompok. Hasil: Dari total 253 sampel, tidak terdapat perbedaan karakterisitik awal antara kelompok DVT COVID-19 (n=44) dan DVT non COVID-19 (n=209), kecuali pada parameter Wells Score. Kelompok DVT COVID-19 memiliki kadar Fibrinogen, D-Dimer, dan aPTT yang lebih tinggi daripada kelompok DVT non COVID-19, baik sebelum terapi maupun sesudah terapi heparanisasi (semua nilai p =0,000). Pada akhir pengamatan, didapatkan dosis heparin terapeutik pada kelompok DVT COVID-19 lebih tinggi dibanding pada kelompok DVT non COVID-19 (30,00 (20,00-40,00)x103 U vs. 25,00 (20,00-35,00)x103 U, p=0,000). Kesimpulan: Kadar fibriongen, D-Dimer, dan dosis heparin terapeutik pada pasien DVT yang menderita COVID-19 lebih tinggi dibandingkan pada pasien DVT yang tidak menderita COVID-19. Inisiasi pemberian dosis heparin terapeutik dosis tinggi dapat dipertimbangkan pada pasien DVT dengan komorbid COVID-19 dan dipandu oleh hasil pemeriksaan biomarker koagulasi darah.

Introduction: Deep Vein Thrombosis (DVT) has an increasing trend with a coincidence of short-term mortality and long-term morbidity. COVID-19 can cause a hypercoagulable state and predispose to DVT. This study aims to analyze the relationship between fibrinogen levels, D-Dimer, and therapeutic heparin doses based on APTT levels in the presence of COVID-19 in DVT patients. Methods: A comparative study design and a prospective cohort were used to compare levels of fibrinogen, D-Dimer, and therapeutic heparin doses between COVID-19 and non-COVID-19 patients suffering from DVT at Cipto Mangunkusumo Hospital in March 2020 – March 2022. Diagnosis of DVT was performed by ultrasound examination and/or computed tomography angiography (CTA) venous phase. The primary variable data and others were obtained from the patient's medical record. An Independent T-test or Mann-Whitney was used to analyze the differences in variable values between the two groups. Results: Of 253 samples, there was no difference in initial characteristics between the DVT COVID-19 (n=44) and non-COVID-19 DVT groups (n=209), except for the Wells Score parameter. The COVID-19 DVT group had higher levels of fibrinogen, D-Dimer, and aPTT than the non-COVID-19 DVT group, both before and after heparinization therapy (all p-values = 0.000). At the end of the follow-up period, the therapeutic dose of heparin in the COVID-19 DVT group was higher than in the non-COVID-19 DVT group (30.00 (20.00-40.00)x103 U vs. 25.00 (20.00-35.00)x103 U, p-value=0.000). Conclusion: The levels of fibrinogen, D-Dimer, and therapeutic doses of heparin in DVT patients who have COVID-19 are higher than in DVT patients who do not have COVID-19. Initiation of a higher therapeutic dose of heparin can be considered in DVT patients with comorbid COVID-19 and guided by the results of blood coagulation biomarkers."
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2022
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library