Ditemukan 21 dokumen yang sesuai dengan query
"Adevertising activity in practice should be conducted in full manner of social responsibility due to differentialted of perception. The appearance of advertisements expected to be executed in line with ethics, and consumerism regulatory. Negative perceptions on advertising should be taken as control tools how to make advertisements could contribute in better way to society. The difference perceptions bridge wisdom of solution."
384 WACA 7:25 (2008)
Artikel Jurnal Universitas Indonesia Library
"In this work mixing rule of sanches - lacombe equation of state (SL-Eos) was developed for estimating vapor-liquid equilibria of solvent-polymer systems or solubility of solvent in polymer solutions....."
IPTEKAB
Artikel Jurnal Universitas Indonesia Library
Resnick, Robert, 1923-2014
New York: John Wiley & Sons, 1978
530 RES s
Buku Teks SO Universitas Indonesia Library
Boca Raton: Taylor & Francis Group, 2009
541.372 ION
Buku Teks SO Universitas Indonesia Library
"Sebagai usulan guna mengatasi kegagalan di bidang etika proyek modern-pencerahan, Alasdair MacIntyre menawarkan ajakan untuk kembali ke etika keutamaan. Tulisan ini pertama-tama bermaksud menjelaskan apa yang ia maksudkan dengan proyek modern-perncerahan, khususnya di bidang etika dan mengapa proyek seperti itu, menurut MacIntyre, niscaya gagal. Kemudian akan dikaji mengapa baginya membuat langkah kembali ke etika keutamaan model Aristoteles dan Thomas Aquinas akan dapat mengatasi kegagalan tersebut. Akhirnya, sebuah evaluasi singkat terhadap usulan MacIntyre akan diberikan. Dalam artikel ini akan ditunjukkan bahwa, lepas dari kegagalan MacIntyre untuk memberikan contoh kongkret komunitas etis modern yang mengayati etika keutamaan yang ia cita-citakan, sebagaimana telah dengan tepat ditunjukkan oleh Poole, asalkan umat manusia, sampai batas tertentu, masih dapat menyepakati adanya nilai-nilai dasar kemanusiaan atas dasar mana sebuah etika keutamaan yang berisfat global dapat dibangun, usulan MacIntyre untuk kembali ke etika keutamaan, bukanlah sekedar suatu bentuk nostalgia ke masa lalu seperti dikemukakan oleh Ross Poole dalam kritiknya. Usulan itu sesungguhnya memang dapat memberi jalan keluar mengatasi bahaya nihilisme moral yang membayangi proyek etika modern-pencerahan serta dapat memberi dasar yang masuk akal untuk hidup secara etis."
297 KANZ 4:1 (2014)
Artikel Jurnal Universitas Indonesia Library
Boy Anugerah
Jakarta : Biro Humas Settama Lemhannas RI , 2019
321 JKLHN 40 (2019)
Artikel Jurnal Universitas Indonesia Library
Koryta, Jiri
Chichester: John Wiley & Sons, 1991
541.372 KOR i
Buku Teks SO Universitas Indonesia Library
Isaacs, Neil S.
New York : John Wiley & Sons, 1981
541.34 ISA l
Buku Teks SO Universitas Indonesia Library
Popovych, Orest
New York: John Wiley & Sons, 1981
541.342 3 POP n
Buku Teks SO Universitas Indonesia Library
Inayah Agustin
""Quarterlife crisis adalah sebuah fenomena yang umum terjadi pada" "u di rentang usia 18-29 tahun. Kelompok usia ini dikenal dengan istilah "individu" emerging adulthood dan pertama kali dicetuskan oleh Arnett (2001). Pada tahap perkembangan tersebut, individu mulai memperoleh banyak perubahan-perubahan dan tuntutan dari lingkungannya sebagai tanda masa transisi dari remaja menuju dewasa. Adanya kebutuhan untuk mengeksplorasi diri juga membuat tahap ini penuh dengan ketidakstabilan. Bila individu tidak mampu mengatasinya - ditandai dengan munculnya reaksi emosi seperti rasa cemas, frustrasi, dan perasaan tidak berdaya karena tidak mampu keluar dari zona nyaman kehidupannya, maka individu tersebut dapat dikatakan mengalami quarterlife crisis (Robbins & Wilner, 2001). Area permasalahannya meliputi pekerjaan, pendidikan hingga yang paling sering dialami oleh perempuan yakni masalah relasi interpersonal yang erat kaitannya dengan keinginan atau tuntutan untuk menikah.
Faktor norma sosial budaya, keluarga dan pertemanan mempengaruhi pandangan individu terhadap permasalahannya. Semakin memperoleh tekanan, individu akan mulai membangun emosi-emosi dan pandangan negatif terhadap dirinya sendiri. Padahal di sisi lain, banyak aspek positif yang sebenarnya ia miliki namun tidak disadari, akibatnya produktivitas dan fungsi sosialnya menjadi terganggu. Hal inilah yang menjadi sasaran intervensi berupa sebuah terapi dengan pendekatan solution-focused. Asumsi-asumsi dasar dari solution-focused menitikberatkan pada potensi positif individu dan orientasi pada masa depan dianggap sesuai untuk mengatasi quarterlife crisis. Terdapat 4 (empat) sesi individual dengan tujuan untuk membantu individu membangun solusi dari masalahnya sendiri. Hasil yang diperoleh menunjukkan adanya perubahan yang positif dari ketiga individu dalam upaya mengatasi quarterlife crisis yang dialaminya. Partisipan yang belum memiliki pasangan lebih mudah keluar dari krisis bila dibandingkan dengan partisipan yang sudah memiliki pasangan. Teknik-teknik yang terbukti efektif antara lain mengidentifikasi masalah dan menetapkan tujuan, miracle question, serta survei mengenai potensi positif diri.
Quarterlife crisis is a common phenomena founded in individuals age 18-rs old. This group of age is known as emerging adulthood, and Arnett 30 yea "(2001) is the first person who introduce it as the new stage of development. At this stage, individuals start to have many changes and demands from others in their society as the sign of the transition from adolescence to adulthood. People at this stage are also like to have self-exploration, that?s why their life is full of instability. If the individuals can?t handle it, which marked by having lots of negative emotions such as anxiety, frustration and helpless because they can?t move from their own comfort zone, then we can says that those individuals are having quarterlife crisis (Robbins & Wilner, 2001). The area of problems contains career problem, academic and even romance or interpersonal relationship which mostly women?s concerned because it?s related to the demands of getting married.Socio-cultural, peers and family factor have been influence people?s perspective about their problems. The more they?re getting demand from others, the more they build some negative emotions and perspective about themselves. While on the other side, there are a lot of positive things which they?re actually have but they didn?t realize it. By the result of that, they can?t perform productively and easily got troubles in social functioning. That?s the reason behind the decision to build an intervention with solution-focused approach. The basic assumptions from this approach is to believe that all individuals are having positive potensial inside them and the future-orientation might help them to build some solutions from their problem. The therapy itself contains 4 (four) individual sessions, and all of it focusing on how their work to build some goals and solution to achieve it. Some of the reluts are : there are significant changes in positive way founded in all 3 (three) participants in terms of handling quarterlife crisis related to interpersonal problem. Specifically, participant who doesn?t have a partner yet is handling the crisis easily and she successfully move on from quarterlife crisis compare to participant who already have a partner. Some of the techniqes that proven to be effective are the miracle questions, worksheet about positive personality survey and how to identify problems and setting the goals."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2012
T30360
UI - Tesis Open Universitas Indonesia Library