Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 2 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Daniel Harsono Viery
"Respon kontemporer terhadap akomodasi interpretasi psikologistik terhadap korpus fiksi di dalam filsafat oleh Jillian Isenberg merupakan salah satu motivasi tesis ini. Usaha tersebut memperluas pemahaman yang kurang lebih bertahan hingga hampir satu abad yang dimulai dari anggapan Frege dalam misi logisismenya terhadap menganggap suatu korpus logika dan psikologi tidak dapat saling tumpang tindih, dan lantas, fiksi yang erat dengan kondisi emosional manusia niscaya mengandung bahasa yang cenderung bersifat emotif yang tidak dapat dijustifikasi kebenarannya yang di mana kebenarannya dapat dijustifikasi setidaknya dengan memiliki referensi. Di dalam tulisan ini, kekhawatiran Fregean viz logisisme hingga kaum realisme fiksi seperti David Lewis hingga kaum bahasa keseharian seperti John Searl akan dikaji dengan kilas terhadap nilai kebenaran teori glap, yang ditawarkan oleh Jenny Matthias yang di mana teori glap merupakan sintesis dari teori kebenaran glut dan gap. Tesis ini berargumen bahwa kekhawatiran terhadap fiksi dapat dirumuskan terutama dalam dua poin: (1) Inkonsistensi kebenarannya, (2) Relasinya terhadap realitas aktual qua referensinya—saya akan menganggap permasalahan ini sebagai permasalahan kekaburan. (1) akan lebih banyak mendapat perhatian melalui teori kebenaran, terutama glap, (2) akan diteliti lebih lanjut melalui pandangan fiksi tanpa pretensi seperti oleh Isenberg didukung oleh Akiba di dalam pandangan modal terhadap kekaburan. Dengan validasi yang diberikan, saya menawarkan pandangan kerangka teoritik fenomenologis sebagai titik berangkat interpretasi atau alternatif selanjutnya di dalam korpus fiksi bagaimana sebenarnya pandangan psikologis sepenuhnya tidak dapat kita pertahankan melainkan adanya afirmasi intensional yang selalu mengikuti hingga di dalam logika sekalipun.

This thesis is inspired by the contemporary academic discourse on integrating psychological interpretations within the corpus of fictional philosophy, as exemplified by Jillian Isenberg's work. It extends the debate that has evolved over nearly a century, starting with Frege's assertion in his logicism that a corpus of logic and psychology are mutually exclusive. This assertion highlights that fiction, inherently linked to human emotions, often includes emotive language whose truth cannot be simply justified by references. This paper explores a range of perspectives from Fregean logicism to David Lewis's fictional realism, and everyday language analysis by John Searle. Special emphasis is placed on evaluating the 'glap' theory's truth value, proposed by Jenny Matthias. 'Glap' theory is a synthesis of the 'glut' and 'gaps' theories. The thesis argues that the dilemma of fiction can be primarily broken down into two issues: (1) The inconsistency in its truthfulness, and (2) Its relationship to actual reality in terms of references. These issues are approached as problems of vagueness.The focus is more on (1), examined through the lens of truth theories, particularly 'glap', while (2) is explored through a non-presumptive fictional perspective as advocated by Isenberg and supported by Akiba's modal view of vagueness. This thesis proposes a phenomenological theoretical framework as a foundational or alternative approach for interpreting the corpus of fiction, emphasizing that a purely psychological viewpoint is indefensible except for intentional affirmations that persist even in logic."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2023
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Daniel Harsono Viery
"Tulisan ini bertujuan untuk rekonstruksi Gedanke Frege yang dapat diperluas pada analisis seperti sastra, humaniora, dan bahasa sehari-hari. Dalam tulisan ini, Gedanke diinterpretasikan sebagai potensialitas kebenaran dalam setiap pernyataan, di mana semua pernyataan dapat dimungkinkan benar dan dapat diserap per kalimatnya tanpa terlebih dahulu menuntut jalinan kalimat lainnya atau konteks eksternal yang memotivasi kalimat tersebut. Potensialitas tersebut mensyaratkan adanya korelasi antara Gedanke dengan `ada` sebagai penunjuk bahwa kalimat selalu merepresentasikan `ada` dalam konteks kalimat itu sendiri. Hal tersebut memerlukan sebuah interpretasi baru, karena kecenderungan komentator Frege yang cenderung mengatribusikan Gedanke dengan Being as such. Dari sana, potensialitas kebenaran berkorelasi dengan informasi yang kita miliki, sehingga ada proses saling merefleksi antara informasi dari konteks kalimat sendiri dengan kita, di mana yang benar adalah menjadi fakta. Dapat dikatakan, informasi bukan saja melebur, tetapi menjadi komparasi. Terakhir, fakta digunakan kembali untuk dikomunikasikan melalui pernyataan. Lingkaran interpretasi Gedanke tersebut saya sebut sebagai `hermeneutik analitik`. Sebuah konsep yang inheren dalam tradisi hermeneutika sekaligus analitik dalam perdebatan bahasa dan kebenaran. Hal tersebut merupakan perdebatan yang dimungkinkan dalam tulisan ini, sekaligus konsekuensi lebih luas dari aplikabilitas Gedanke dalam ranah bahasa yang lebih luas dari bahasa matematis. Metode yang dipakai adalah refutasi terhadap definisi gedanke seperti dari Dummet paralel dengan interpretasi Gedanke secara stipulatif, serta mengkonstruksi definisi stipulatif dari kalimat dan demonstratif teori John Perry dan Gareth Evans.

This paper aims to reconstruct Frege`s Gedanke which can be extended to analyzes literature, humanities, and everyday language. In this paper, Gedanke is interpreted as the potentiality of truth in each statement, in which all statements can be possibly true and can be absorbed per sentence without first demanding other interlacing sentences or the external context that motivates the sentence. This potential requires a correlation between Gedanke and being as a pointer that the sentence always represents being in the context of the sentence itself. This requires a new interpretation, because of the tendency of Frege commentators who tend to attribute Gedanke to Being as such. From there, the potentiality of truth correlates with the information we have, so that there is a process of mutual reflection between information from the context of our own sentence, where the truth is fact. It can be said, information is not only fused, but becomes a comparison. Finally, the facts are reused to be communicated through statements. I call the Gedanke circle of interpretation "herhemeutic analytic." A concept inherent in the hermeneutic tradition as well as analytic in language and truth debates. This is the debate that is possible in this paper, as well as wider consequences of the applicability of Gedanke in the wider realm of language than mathematical language. The method used is the refutation of the definition of gedanke as from Dummet parallel with the stipulative interpretation of Gedanke, as well as constructing the stipulative definition of the sentence and demonstrative theories of John Perry and Gareth Evans"
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2019
MK-Pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library