Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 86856 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Yanti Harjono Hadiwiardjo
"Latar Belakang: Depresi merupakan masalah kesehatan mental yang sering terjadi pada lansia dengan persentase sebesar 12%-16%. Depresi dapat menurunkan fungsi kehidupan sehari-hari dan menurunkan kualitas hidup. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui efektivitas terapi tawa dalam menurunkan depresi dan meningkatkan kualitas hidup pada lanjut usia serta evaluasi ekonominya.
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian true experimental dan times series dengan menggunakan desain crossover pada terapi tawa dan terapi puzzle. Lokasi penelitian dilakukan di Panti Werdha Jakarta Timur. Populasi lansia adalah 250 orang dengan jumlah subjek penelitian sebanyak 86 orang yang dipilih menggunakan proporsional random sampling dan randomnisasi untuk dijadikan dua kelompok. Pengumpulan data menggunakan kuesioner Geriatric Depression Scale (GDS) dan Older People’s Quality of Life (OPQOL) modifikasi. Analisis data untuk menilai efektifitas menggunakan uji Different in Different (DID) dan menilai efektifitas biaya menggunakan ICER.
Hasil: Terdapat pengaruh terapi tawa terhadap depresi diawal intervensi sebelum crossover secara statistik( p= 0,011), sehingga terapi tawa menurunkan depresi lebih besar dibandingkan terapi puzzle. Setelah crossover tidak terdapat perbedaan terapi tawa dan terapi puzzle sama-sama dapat menurunkan depresi (P=0,347). Pada skor OPQOL tidak terdapat perbedaan pengaruh intervensi terapi tawa dan terapi puzzle secara statistik baik sebelum crossover (p=0,581) maupun setelah crossover (p=0,140), sehingga terapi tawa dan terapi puzzle sama-sama dapat meningkatkan kualitas hidup. Pada efektifitas biaya, terapi tawa lebih efektif (65,1%) dibandingkan terapi puzzle (37,2%) dalam menurunkan tingkat/kategori depresi. Untuk peningkatan efektivitas penurunan tingkat atau kategori depresi sebesar 1% pada kelompok terapi tawa diperlukan tambahan biaya sebesar Rp 5.640,-. Nilai tersebut dianggap sepadan (Worth spent) menurut para klinisi dan memiliki efektivitas penurunan tingkat atau kategori depresi dan efektivitas biaya dibandingkan terapi puzzle dalam menurunkan depresi.
Kesimpulan: Terapi tawa dan terapi puzzle memiliki pengaruh pada penurunan tingkat/kategori depresi dan peningkatan kualitas hidup pada lansia namun pengaruh penurunan tingkat/kategori depresi pada terapi tawa lebih banyak dibandingkan dengan terapi puzzle. Biaya yang dikeluarkan sepadan (Worth spent) dengan penurunan tingkat/kategori depresi.
Saran: Melakukan advokasi kepada Kementerian Sosial, Dinas Sosial, dan Panti Werdha agar dapat menambahkan program terapi tawa dalam upaya meningkatkan kesehatan lanjut usia khususnya menurunkan depresi.

Background: Depression is a mental health problem that often occurs in people over 65 years old with a percentage of 12%-16%. Depression can decrease the functioning of daily life. The purpose of this study is to determine the effectiveness and cost of laughter therapy in reducing depression and improving the quality of life in the elderly and its economic evaluation.
Method: This study uses a crossover design and true experimental research with a time series. The location of the research was carried out at the East Jakarta Nursing Home. The elderly population was 250 with the number of 86 research subjects selected using proportional random sampling and randomization. Data were collected using modified Geriatric Depression Scale (GDS) and Older People's Quality of Life (OPQOL) questionnaires. Data analysis used the Different in Different (DID) test and the calculation of the cost-effectiveness of laughter therapy and puzzle therapy.
Results: There was a statistically significant effect of laughter therapy on depression at the beginning of the intervention before crossover (p= 0.011), so that laughter therapy reduced depression more than puzzle therapy. After crossover, there was no difference between laughter therapy and puzzle therapy, both of which could reduce depression (P=0.347). In the OPQOL score, there was no statistically different effect of laughter therapy and puzzle therapy interventions both before the crossover (p=0.581) and after the crossover (p=0.140), so that laughter therapy and puzzle therapy could both improve the quality of life. In terms of cost-effectiveness, laughter therapy more effective (65.1%) than puzzle therapy (37.2%) in lowering the level/category of depression. For an increase
in the effectiveness of reducing the level or category of depression by 1% in the laughter therapy group, an additional cost of Rp 5,640 is required, and the value is considered worth spent according to the clinicians and has the effectiveness of reducing the level or category of depression and cost-effectiveness compared to puzzle therapy in reducing depression.
Conclusion: The effect of depression reduction on laughter therapy was more than puzzle therapy at the beginning of the intervention before the crossover. Laughter and puzzle therapy has an effect on improving the quality of life in the elderly. The costs incurred are commensurate with the decrease in the level/category of depression.
Suggestion: Advocate to the Ministry of Social Affairs, Social Services, and Nursing Homes so that they can add a laughter therapy program in an effort to improve the health of the elderly, especially to reduce depression.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2024
D-pdf
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Endang Wijayani
"Pembangunan sosial adalah pendekatan pembangunan yang digunakan untuk mengatasi perrnasalahan yang timbul akibat kegagalan pembangunan ekonomi. Keberhasilan pembangunan ekonomi tidak diikuti oleh pembangunan di sektor lain, akibatnya menimbulkan permasalahan kesejahteraan sosial. Salah satunya adalah meningkatnya jumlah lanjut usia terlantar.
Kondisi demikian menuntut perhatian pemerintah, masyarakat dan lembaga swadaya masyarakat dalam menyediakan pelayanan-pelayanan serta sarana dan prasarana bagi lanjut usia, khususnya bagi lanjut usia terlantar. PSTW 'Budhi Dharma' Bekasi sebagai salah satu Unit Pelaksana Teknis Departemen Sosial mempunyai tugas memberikan bimbingan dan pelayanan bagi lanjut usia terlantar agar dapat hidup secara wajar dalam kehidupan bermasyarakat.
Salah satu program PSTW ?Budhi Dharma" Bekasi adalah melaksanakan program bimbingan sosial sebagai program inti (core) yang ditujukan kepada klien agar mampu mengembangkan relasi sosial yang positif dan menjalankan peranan sosialnya dalam kehidupan berrnasyarakat. Salah satu kegiatan dalam program bimbingan sosial yang dilakukan di PSTW "Budhi Dharma? Bekasi adelah kegiatan terapi kelompok. Kegiatan terapi kelompok bertujuan untuk membantu klien meningkatkan kapaaitasnya dalam memeoahkan masalah-masalah yang dihadapinya dan meningkatkan keberfungsian sosial klien dalam rangka menciptakan hubungan sosial dan penyesuaian sosial yang serasi dan harmonis diantara sesama klien dalam satu wisma.
Peneliti tertarik untuk memilih kegiatan terapi kelompok di PSTW "Budhi Dharma" Bekasi sebagai fokus penelitian didasarkan oleh tiga hal yaitu : 1) Kegiatan ini sangat dibutuhkan oleh klien dalam menjalani masa tuanya di panti, mengingat karakteristik klien yang dilayani di PSTW berbeda dengan panti-panti sosial lainnya dimana klien akan menjadi klien panti sampai mereka meninggal dunia, 2) PSTW "Budhi Dharma" Bekasi setama ini belum pemah melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan kegiatan terapi kelompok per tahunnya secara berkala dan tertulis, sehingga sultt untuk menilai pencapaian tujuan kegiatan tersebut, 3) Evaluasi terhadap pelaksanaan kegiatan terapi kelompok ditakukan untuk memperoleh infomlasi secara rinci dan jelas bagaimana kegiatan tersebut bekerja.
Penelitian ini benujuan untuk mengetahui pelaksanaan kegiatan terapi kelompok dan faktor-faktor apa saja yang mendukung dan menghambat pelaksanaannya.
Tipe evaluasi yang digunakan dalam penelltian ini adalah evaluasi formatif (formative evaluations) dengan mengacu pada Program Outcome Model yang mencakup komponen inputs-activities-outputs dan outcomes, sedangkan impacts dilihat sebagai tujuan ideal yang ingin dicapai. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan tipe penelitian deskriptif untuk memperoleh informasi seputar pelaksanaan kegiatan terapi kelompok meliputi input, activity, output, outcome faktor pendukung dan faktor penghambat dari para pejabat struktural, penanggung jawab dan para petugas terapi kelompok. lnformasi mengenai proses pelaksanaan kegiatan tersebut juga diperoleh dari klien yang telah mengikuti kegiatan terapi kelompok, mewakili masing-masing kelompoknya dan dalam keadaan sehat jasmani dan rohani.
Hasil penelitian pada komponen input menunjukkan sumber-sumber yang diperlukan ada yang cukup memenuhi standar profesionalisme dan ada juga yang belum. Begitu juga dalam komponen activity, walaupun cukup memenuhi prosedur namun untuk optimatisasi pencapaian tujuan pertu dilakukan perbaikan-perbaikan Output dan outcome mengacu pada tujuan kegiatan, namun output dan outcome yang dihasilkan belum sesuai dengan yang direncanakan. Belum optimalnya outcome yang dihasilkan terkait dengan karakteristik klien yang berusia lanjut dan juga perbedaan status sosial ekonomi dan Iatar belakang klien sebelum masuk panti (karakteristik partisipan/participant characteristic) yang sekaligus juga menjadi Salah satu penghambat kegiatan ini. Aspek lainnya yang menghambat pelaksanaan kegiatan ini adalah kurangnya frekuensi pelaksanaan kegiatan ini di setiap wismanya dan terbatasnya dana yang tersedia (karakteristik keadaan/context characteristic), terbatasnya kualitas dan kuantitas sumber daya manusia, kurang maksimalnya peran pekerja sosial dan belum adanya panduan pelaksanaan yang rinci dan jelas (karakteristik program yang dilaksanakan/charactertstic of program implementation). Selain itu juga, belum tersedianya atat perekam (tape recorder), alat-alat terapi (outcome program/program outcome), serta belum pemah dilakukannya evaluasi terhadap pelaksanaan kegiatan ini menyebabkan sulit untuk mengukur tingkat pencapaian tujuan kegiatan selama ini. Hambatan-hambatan tersebut pertu segera diatasi, karena sangat mempengaruhi keefektifan petaksanaan kegiatan ini. Elemen input seperti sumber daya manusia, sarana dan prasarana menjadi daya dukung kegiatan ini. Walaupun kegiatan ini cukup memenuhi prosedur ilmiah, namun belum cukup efektif daiam mencapai tujuan yang diharapkan. Oleh karena itu masih sangat diperlukan perbaikan dan penyempurnaan komponen-komponen kegiatan tersebut.
Berdasarkan hasil penelitian maka diberikan rekomendasi sebagai perbaikan atau penyempurnaan kegiatan, terkait dengan faktor penghambat pelaksanaan kegiatan tersebut."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2006
T22293
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ade Sutrimo
"Pendahuluan: Tingginya prevalensi harga diri rendah kronik dan ketidakpatuhan terhadap pengobatan psikofarmaka pada klien dengan gangguan jiwa dapat menghambat proses penyembuhan dan kualitas hidup mereka. Terapi keperawatan jiwa spesialis diharapkan dapat memberikan pendekatan yang holistik dan efektif untuk mengatasi masalah ini melalui peningkatan kesadaran diri, penerimaan diri, dan pengembangan makna hidup. Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas penerapan terapi keperawatan jiwa spesialis, yaitu Cognitive Therapy (CT) dan Acceptance and Commitment Therapy (ACT), dalam meningkatkan harga diri dan kepatuhan psikofarmaka pada klien menggunakan pendekatan teori transendensi diri Reed.
Metode: Penelitian ini menggunakan desain eksperimental dengan pendekatan kuantitatif case series dengan desain riset operasional. Sampel penelitian dengan purposive sampling yang erdiri 20 klien dengan dibagi dalam 2 kelompok intervensi yaitu kelompok 1 yang mendapatkan CT dan ACT serta kelompok 2 yang mendapatkan CT. Data dikumpulkan melalui form keperawatan jiwa lanjut/scanning, instrumen tanda gejala dan kemampuan HDRK serta instrumen MMAS-8.
Hasil: Penelitian menunjukkan bahwa intervensi CT dan ACT secara signifikan meningkatkan harga diri dan kepatuhan psikofarmaka pada klien. Peningkatan ini dikaitkan dengan elemen-elemen utama dari teori transendensi diri yang meliputi input: kerentanan psikologis yaitu klien skizofrenia dengan HDRK dan ketidakpatuhan psikofarmaka, proses: points of interventions: terapi keperawatan jiwa spesialis CT dan ACT dan faktor personal dan kontekstual dan output transendensi diri serta outcome kualitas hidup dengan ditandai penurunan tanda gejala HDRK, peningkatan kemampuan klien dalam mengatasi HDRK dan peningkatan nilai kepatuhan psikofarmaka.
Kesimpulan: Penelitian ini menyimpulkan bahwa penerapan terapi keperawatan jiwa spesialis dengan pendekatan teori transendensi diri efektif dalam mengatasi masalah harga diri rendah kronik dan ketidakpatuhan psikofarmaka pada klien dengan gangguan jiwa. Implementasi terapi ini direkomendasikan sebagai bagian dari intervensi holistik dalam praktik keperawatan jiwa untuk meningkatkan pemulihan dan kualitas hidup klien.

Introduction: The high prevalence of chronic low self-esteem and non-adherence to psychopharmacological treatment among clients with mental disorders can hinder their recovery process and quality of life. Specialist psychiatric nursing therapy is expected to provide a holistic and effective approach to addressing these issues by enhancing self awareness, self-acceptance, and the development of life. This study aims to examine the effectiveness of specialist psychiatric nursing therapies, namely Cognitive Therapy (CT) and Acceptance and Commitment Therapy (ACT), in improving self-esteem and psychopharmacological adherence in schizofrenic clients using the Reed self-transcendence theory approach.
Methods: This study employs an experimental design with a quantitative case series approach using operational research design. The sample using purposive sampling which consists of 20 clients divided into two intervention groups: Group 1, which receives both CT and ACT, and Group 2, which receives only CT. Data were collected using advanced psychiatric nursing forms/scanning, symptom and ability instruments, and the Morisky Medication Adherence Scale (MMAS-8).
Results: The study demonstrates that CT and ACT interventions significantly improve self-esteem and psychopharmacological adherence in clients. This improvement is associated with key elements of the self-transcendence theory, which include input: psychological vulnerability, specifically clients with schizophrenia who have chronic low self-esteem and non-adherence to psychopharmacology; process: points of intervention such as specialist mental health nursing therapies, CT and ACT, as well as personal and contextual factors; and output: self-transcendence with outcome: quality of life, marked by a reduction in chronic low self-esteem symptoms, an increase in the client's ability to cope with chronic low self-esteem, and improved adherence to psychopharmacology.
Conclusion: This study concludes that the application of specialist psychiatric nursing therapies with a self-transcendence theory approach is effective in addressing chronic low self-esteem and psychopharmacological non-adherence in clients with mental disorders. The implementation of these therapies is recommended as part of holistic interventions in psychiatric nursing practice to enhance clients’ recovery and quality of life.
"
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2024
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
New York: Guilford Press, 1987
616.8 COG
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Syarniah
"Depresi merupakan masalah utama pada lansia, dan prevalensi di Indonesia sebesar 30-45% (Dharmono, 2008). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi kelompok reminiscence terhadap depresi, harga diri rendah, ketidakberdayaan, keputusasaan, dan isolasi sosial pada lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Sejahtera Provinsi Kalimantan Selatan.
Hasil penelitian ini menunjukkan kondisi depresi, harga diri rendah, ketidakberdayaan, keputusasaan, dan isolasi sosial pada lansia yang mendapat terapi kelompok reminiscence menurun bermakna, sedangkan lnsia yang tidak mendapat terapi meurun tidak bermakna. Reminiscence direkomendasikan pada lansia depresi dengan diagnosa keperawatan harga diri rendah, ketidakberdayaan, keputusasaan, dan isolasi sosial.

Depression is a major problem in the elderly, and prevelance in Indonesia is around 30-45% (Dharmono, 2008). This study aims to determine effect of reminiscence group therapy for depression, low self esteem, powerlessness, hoplessness and social isolation of elderly in social hostels Tresna Werdha Budi Sejahtera od south Kalimantan province.
The result showed the condition of depression, low self esteem, powerlessness, hoplessness and social isolation of elderly any significant difference in decline in among the elderly people who receive the reminiscence group therapy but not significantly decreased, who receive and do not get a reminiscence group therapy. Reminiscence recommended in elderly nursing diagnosis of depression self esteem, powerlessness, hoplessness and social isolation of elderly."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2010
T28401
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Burns, David D.
Jakarta: Erlangga , 1980
616.85 BUR f t
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
"Kondisi lansia yang dirawat di panti wredha secara teoritis dapat mengalami
gangguan psikologis yang akan berakibat terhadap perubahan status kesehatan jiwa lansia.
Keadaan ini akan menjadi lebih buruk apabila keluarga kurang memberikan dukungan
selama di panti wredha. Malta sebenarnya dibutuhkan kerjasama antara keluarga dan pihak
panti wredha untuk bisa mempertahankan kesehatan jiwa Iansia. Beberapa tindakan yang
sebaiknya dilakukan keluarga adalah (JKI, 1999 ): ( bisa dilakukan di panti wreda melalui
kunjungan yang rutin dan oleh petugas panti wredha ), dapat dikelompokan berdasarkan
jenis gangguan yaitu tindakan dalam rnengatasi dan mencegah gangguan proses pikir lansia,
tindakan dalam mengatasi dan mencegah gangguan perasaan lansia, tindakan dalam
mengatasi dan mencegah gangguan fisik/somatik lansia, dan tindakan dalam mengatasi dan
mencegah gangguan prilaku pada lansia.
Pada penelitian ini pertanyaan penelitian yang ada berdasarkan konsep terkait
adalah peran dan tindakan keluarga dalam meningkatkan kesehatan jiwa lansia di panti
sosial tresna wredha. Penelitian dilakukan kepada keluarga yang memilki lansia di Panti
Sosial Tresna Wredha Karya Bakti Riya Pembangunan, Jakarta Timur selama bulan Maret
dan April 2002. Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif sederhana,
dimana jumlah responden 20 orang dengan kriteria yang ditetapkan. Pada penelitian ini
digunakan instrumen alat pengumpul data berupa lembar kuesioner yang dibuat Oleh
peneliti. Analisa data dilakukan dengan membuat tabulasi dari data kuesioner yang
dikumpulkan, kemudian dihitung dalam bentuk presentase untuk setiap kategori,
selanjutnya dilakukan perhitungan statistik berupa distribusi prekuensi dari masing-masing
kriteria variabel dan mepgambil kesimpulan dari hasil perhitungan tersebut.
Hasil yang diperoleh ternyata 66 % keluarga telah melakukan peran dan tindakan
dalam mencegah dan mengatasi gangguan proses pilcir lansia. Terdapat 80 % keluarga
telah melakukan peran dan tindakan dalam mencegah dan mengatasi gangguan perasaan
Iansia. Didapatkan data juga sekitar 77,5 % keluarga telah berperan dalam mencegah dan
mengatasi gangguan fisik dan somatik lansia. Kemudian keluarga juga hampir 65 % telah
berperan dan bertindak dalam mencegah dan mengatasi gangguan prilaku lansia yang
berada di Panti Sosial Tresna Wredha Karya Bakti Riya Pembangunan"
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2002
TA5240
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Kartika Sari
"ABSTRAK
Depresi adalah penyakit yang seringkali tidak terdeteksi namun secara nyata menurunkan kualitas hidup lansia. Tujuan penelitian ini adalah menggambarkan tingkat depresi pada lansia di Panti Sosial Tresna Wredha Budi Mulia 01 dan 03 Jakarta Timur. Desain penelitian ini adalah deskriptif sederhana dengan menggunakan teknik random sampling pada 143 responden lansia. Instrumen penelitian yang digunakan adalah Geriatric Depression Scale (GDS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa 40,6 % lansia menderita depresi, terdiri dari lansia dengan depresi ringan 25,9% dan yang depresi berat ada 14,7%. Hasil penelitian menyarankan agar pihak panti memberikan bekal ilmu dan pelatihan kepada para petugas di panti untuk menangani lansia depresi.

ABSTRACT
Depression is a disease that is often not detected but significantly decreased quality of life for the elderly. The purpose of this study was describing the level of depression in the elderly in Panti Sosial Tresna Wredha Budi Mulia 01 and 03 East Jakarta. This is a descriptive research design using simple random sampling technique in 143 elderly respondents. Research instrument used was the Geriatric Depression Scale (GDS). The results showed that 40.6% elderly suffering from depression, consisting of elderly people with minor depression 25.9% and 14.7% have major depression. The results suggest that the institution provides knowledge and training provision for officials dealing with the depressed elderly in institution of elderly."
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2012
S43105
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Dimas Wirawan Wicaksono
"Gangguan depresi merupakan salah satu gangguan jiwa terbanyak yang meningkatkan angka morbiditas dan mortalitas penderitanya. Gangguan ini sebenarnya bisa diberikan tatalaksana berupa farmakologis dan non farmakologis, salah satunya adalah psikoterapi. Sayangnya, banyak pasien yang menderita gangguan ini tidak mendapatkan layanan ini secara adekuat. Pasien-pasien yang sudah mendapatkan psikoterapi pun ternyata banyak yang tidak patuh terhadap psikoterapi. Hal ini tentunya memengaruhi luaran dari psikoterapi tersebut. Fenomena ini tentunya dipengaruhi oleh berbagai macam faktor. Namun, masih sangat sedikit penelitian mengenai faktor-faktor yang memengaruhi kepatuhan psikoterapi ini, khususnya di Indonesia. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi kepatuhan psikoterapi pada pasien dengan gangguan depresi, khususnya di Poli Jiwa Dewasa (PJD) RSCM.
Penelitian dilakukan dengan desain potong lintang dari Desember 2022 hingga Desember 2023. Sampel penelitian adalah pasien dewasa dengan gangguan depresi yang mendapatkan psikoterapi di PJD RSCM. Sebanyak 82 subjek penelitian terpilih berdasarkan metode purposive sampling. Data diambil dengan menggunakan beberapa kuesioner serta data rekam medis pasien. Analisis data digunakan dengan SPSS untuk melihat karakteristik dasar subjek yang diteliti, analisis bivariat hingga multivariat dari berbagai faktor yang diteliti dengan kepatuhan psikoterapi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa proporsi kepatuhan psikoterapi sebesar 0,73 (CI95% = 0,62 – 0,82). Dari 82 orang subjek yang diteliti, mayoritas adalah perempuan (84,1%) dengan pendidikan tinggi (63,4%) dan status ekonomi menengah (72,0%). Hasil analisis bivariat menunjukkan hubungan yang signifikan secara statistik antara stigma dan konsistensi terapis (p<0,05). Lebih lanjut lagi, stigma yang rendah dan terapis yang tetap memiliki subjek yang patuh pada psikoterapi lebih banyak dibandingkan dengan stigma yang tinggi dan terapis yang tidak tetap. Dari analisis multivariat, didapatkan faktor yang paling memengaruhi kepatuhan psikoterapi adalah konsistensi terapis (p=0,045).

Depressive disorders are one of the most common mental disorders that increase the morbidity and mortality rates of its sufferers. This disorder can actually be treated by pharmacological and non-pharmacological approach, one of which is psychotherapy. Unfortunately, many patients who suffer from this disorder do not receive adequate services. It turns out that many patients who have received psychotherapy are not compliant with psychotherapy. This condition will affect the outcome of psychotherapy. This phenomenon is influenced by various factors. However, research regarding the factors that influence psychotherapy adherence is currently scarce, especially in Indonesia. Therefore, this research was conducted to determine the factors that influence psychotherapy compliance in patients with depressive disorders, especially at the Adult Psychiatric Polyclinic RSCM.
The research was conducted with a cross-sectional design from December 2022 to December 2023. The research sample was adult patients with depressive disorders who received psychotherapy at Adult Psychiatric Polyclinic RSCM. A total of 82 research subjects were selected based on the purposive sampling method. Data was taken using several questionnaires and patient medical record. Data analysis was used with SPSS to look at the basic characteristics of the subjects studied, bivariate to multivariate analysis of various factors studied and psychotherapy compliance.
The results showed that the proportion of psychotherapy compliance was 0.73 (CI95% = 0.62 – 0.82). Of the 82 subjects studied, the majority were women (84.1%) with higher education (63.4%) and middle economic status (72.0%). The results of bivariate analysis showed a statistically significant relationship between stigma and therapist consistency (p<0.05). Furthermore, low stigma and permanent therapists had more subjects who adhered to psychotherapy compared to high stigma and non-permanent therapists. From multivariate analysis, it was found that the factor that most influenced psychotherapy compliance was therapist consistency (p=0.045).
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2024
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Fitrian Rayasari
"Infeksi HIV/AIDS akan menimbulkan infeksi berkepanjangan dan gangguan pada semua sistem tubuh serta masalah psikologis seperti depresi dan akhirnya menimbulkan fatigue. Intervensi untuk mengatasi fatigue salah satunya dengan self care practice. Tujuan penelitian adalah mengidentifikasi hubungan depresi dan self care practice dengan tingkat fatigue pada penderita HIV/AIDS. Metode penelitian menggunakan analitik korelasi dengan cross sectional, dan jumlah sempel 98 responden. Pengambilan sampel dengan tehnik purposive sampling. Hasil penelitian menunjukan rata-rata usia 33,2 tahun, berjenis kelamin laki-laki 85,7%, berpendidikan tinggi 91,8%, berpenghasilan > UMR 73,5%, Telah mengkonsumsi ARV selama 36,96 bulan, rata-rata kadar CD4 310 cell/mm3, ratarata Hb 13 gr%.
Analisis hubungan menunjukan ada hubungan yang bermakna antara depresi, self care practice dengan tingkat fatigue (p<0,05). Analisis selanjutnya menunjukan responden yang mengalami depresi dan mempunyai self care practice yang kurang beresiko terjadi fatigue berat setelah dikontrol oleh kadar haemoglobin. Diketahui bahwa depresi merupakan faktor yang dominan yang berhubungan dengan fatigue. Rekomendasi peneliti adalah peningkatan peran perawat sebagai konselor terhadap gejala depresi dan fatigue pada pasien HIV dan dikembangkan strategi self care practice.

HIV/ AIDS infection will cause prolonged infection and disturbance to all body system and also psychological such as depression and eventually fatigueness. One of the interventions to deal with fatigue is by self care practice. The research?s goal is to identify the relation between depression and self care practice on fatigue level of HIV/AIDS patient. The method of the research applied correlation analysis with cross sectional. There were 98 respondents. Sample was taken by purposive sampling technique. The research showed that 85,7 % male respondents with 33,2 years of age in average, 91,8 % highly educated, 73,5 % earns higher than Regional Minimum Wage, has consumed ARV for 36 months, CD4 rate average of 310 cell/mm3, Hb rate 13 gr% in average.
The analysis showed that there was a significant relation between depression, self care practice with fatigue level of (p0,05). Further analysis showed that respondents that underwent depression and had lower self care practice will risk heavy fatigue after controlled by hemoglobin rate. It was found that depression is the dominant factor related to fatigue. The researcher recommends that there should be an increase of nurse?s role as counselor to depression symptom and fatigue of HIV patient. There should also efforts to develop self care practice.
"
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2011
T-Pdf
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>