Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 217021 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Fajar Ramadhan
"Sumber daya tanah dan air yang sangat penting untuk keberlangsungan manusia saat ini tengah menghadapi tantangan oleh erosi dan degradasi lahan yang disebabkan oleh perubahan iklim, khususnya pada skala DTA dan DAS. Untuk menghadapi masalah ini diperlukan analisis mendalam tentang tingkat kerentanan erosi pada sub-DAS dengan melihat karakteristik morfologi, tutupan lahan, dan erosivitas curah hujan untuk menentukan sub-DAS prioritas, agar dapat melakukan upaya konservasi yang tepat berdasarkan karakteristik sub-DAS tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik morfometri sub-DAS dan mengevaluasi tingkat kerentanan erosi di Daerah Tangkapan Air (DTA) Danau Kerinci. Menggunakan Analisis Morfometri Kuantitatif, penelitian ini mengintegrasikan karakteristik morfometri, tutupan lahan, dan erosivitas hujan untuk menilai tingkat kerentanan erosi 18 subDAS untuk menentukan prioritas konservasi. Empat sub-DAS ditemukan memiliki tingkat kerentanan erosi yang sangat tinggi, yaitu sub-DAS Siulak Deras, sub-DAS Aek Siulak, sub-DAS Sangkir, dan sub-DAS Aek Pulau Tengah. Berdasarkan hasil ini, penelitian ini menyusun rekomendasi strategi konservasi yang disesuaikan dengan karakteristik tiap sub-DAS untuk mengatasi erosi dan mendukung pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan.

Soil and water resources that crucial for human sustainability, are currently facing challenges from erosion and land degradation caused by climate change, especially in the Catchment and Watershed scale. To address this issue, an in-depth analysis of erosion vulnerability is required for sub-watersheds by examining morphometric characteristics, land cover, and rainfall erosivity to determine priority sub-watersheds for appropriate conservation efforts based on their characteristics. This study aims to identify the morphometric characteristics of sub-watersheds and assess the level of erosion vulnerability in the Lake Kerinci Catchment Area. Utilizing Quantitative Morphometric Analysis, this research integrates morphometric characteristics, land cover, and rainfall erosivity to evaluate the erosion vulnerability of 18 sub-watersheds and establish conservation priorities. Four sub-watersheds were found to have a very high level of erosion vulnerability, namely Siulak Deras, Aek Siulak, Sangkir, and Aek Pulau Tengah sub-watersheds. Based on these findings, the study formulates tailored conservation strategies for each sub-watershed to address erosion and support sustainable natural resource management."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Wuri Mahanani
"Meningkatnya jumlah dan kepadatan penduduk Jakarta menyebabkan meningkatnya kebutuhan hunian. Keterbatasan penyediaan perumahan dan keterbatasan kemampuan daya beli masyarakat memunculkan permukiman yang dibangun sendiri oleh masyarakat. Sebagian warga dengan kemampuan terbatas terpaksa menempati lahan sekitar sungai dan danau. Keberadaan warga di sekitar danau berpengaruh terhadap keberlanjutan danau sehingga pengukuran kapasitas masyarakat menjadi salah satu langkah penting. Penelitian ini bertujuan untuk menguji apakah variabel aksi kolektif, pemberdayaan masyarakat, dan visi bersama mempengaruhi kapasitas masyarakat dalam konservasi Danau Cavalio dan Danau Kampung Bintaro, danau yang merupakan kolam retensi yang menampung debit air sungai Pesanggrahan yang dibangun untuk mengatasi banjir yang kerap melanda lokasi serta membandingkan pengaruh variabel aksi kolektif, pemberdayaan masyarakat, dan visi bersama terhadap kapasitas masyarakat dalam konservasi danau pada lokasi dengan jarak yang berbeda dari danau.
Melalui 300 kuisioner yang disebar pada empat klaster di sekitar danau dengan tehnik Principal Component Anaysis PCA dan analisis regresi linier berganda, diperoleh hasil bahwa terdapat diferensiasi pengaruh variabel aksi kolektif, pemberdayaan masyarakat, dan visi bersama terhadap kapasitas masyarakat dalam konservasi danau, tetapi perbedaan tersebut tidak terkait dengan jarak lokasi dari danau. Variabel pemberdayaan masyarakat yang merupakan variabel yang paling berpengaruh signifikan terhadap kapasitas masyarakat dalam konservasi sumber daya air pada penelitian sebelumnya tidak terbukti. Sehingga, berdasarkan temuan pada penelitian ini, pemikiran bahwa masyarakat kota tidak dapat tinggal berdampingan dengan air tidak sepenuhnya tepat.

The increasing number and density of Jakarta increased occupancy requirements. The limitation of the provision of housing and the limitation of the ability of the purchasing power of society gave rise to settlements that were built by the community. Most residents with limited capabilities was forced to occupy land around rivers and lakes. The presence of residents around the lake effect on sustainability of the Lake so that the measurement of the capacity of the community to be one of the important steps. This study aimed to test whether the variable is collective action, community empowerment, and shared vision affects the capacity of the community in the conservation of the Lake Lake and Kampongs Cavalio Bintaro, Lake which is retention ponds that hold discharge of river water building that was built to cope with floods that often hit the site and compare the influence of variable collective action, community empowerment, and a shared vision towards the capacity of communities in the conservation of the Lake on the location with a different distance from the Lake.
Through a detailed questionnaire distributed 300 on four cluster around the Lake with technical Principals Component Anaysis PCA and multiple linear regression analyses, obtained results that there is a differentiation of the influence of variable collective action, community empowerment, and a shared vision towards the community capacity for water reources conservation, but the difference is not related to the distance of the location of the Lake. Community empowerment of the variable which is the most influential variables significantly to community capacity in water resource conservation in the previous research was not proven. So, based on the findings in this study that the capacity of the community in the conservation of water resources are in the category of good, then the idea that society can not live side by side town with water is not entirely appropriate.
"
Depok: Program Pascasarjana Universitas Indonesia, 2018
T51365
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sibuea, Tulus T. H.
"Sumber air utama untuk wilayah Sukabumi tertumpu pada kawasan pegunungan Gunung Gede-Pangrango dan Gunung Halimun- Salak. Kawasan tersebut adalah hulu dari daerah aliran sungai Cimandiri yang mengalir ke selatan wilayah Sukabumi sampai ke Iaut di Kota Pelabuhanratu, ibukota Kabupaten Sukabumi.
Pemanfaatan air di kawasan hulu berupa air tanah dan air mata-air selain untuk kebutuhan rumah tangga juga untuk industri. Keuntungan dari pemanfaatan air tersebut oieh industri umumnya belum disertai membayar beaya pemulihan.
Penggunaan air cenderung meningkat secara eksponensial, sedangkan pasokan air cenderung melambat akibat rusaknya hutan di daerah tangkapan airnya. Internalisasi pengelolaan daerah tangkapan air untuk penyediaan air baku dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut
Tujuan penelitian adalah mendapatkan gambaran kondisi air tanah dan perkiraan nilai air tanah melalui pendekatan perhitungan nilai ekonomi manfaat lokal daerah tangkapan airnya, persepsi dan keharusan pengguna air tanah untuk membayar beaya pengelolaan daerah tangkapan airnya.
Hasii penelitian diharapkan dapat memberikan informasi untuk melestarikan sumberdaya air dan melestarikan fungsi lingkungan alam. Informasi dari penelitian ini dapat memperkaya khasanah pengetahuan untuk pertimbangan dalam perencanaan pembangunan daerah tersebut.
Penelitian dilaksanakan dan bulan Januari sampai dengan Juni 2003 di Kecamatan Cicurug, Kecamatan Cidahu, Kecamatan Parakansalak dan Kecamatan Parungkuda di kaki Gunung Salak dalam wilayah Kabupaten Sukabumi. Daerah penelitian berada pada Kompleks Gunungapi Tua di wiilayah resapan utama dan juga berada di wilayah pelepasan. Penelitian bersifat ex post facto melalui pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Data primer dan sekunder dikumpulkan dengan metode survei dan studi pustaka.
Hipotesis yang diajukan adalah tersedianya air tanah akan berlanjut jika neraca air terjaga keseimbangannya dan daerah tangkapan air terlindungi.
Hasii kajian memperlihatkan bahwa air tanah ada di 100-300 meter di bawah permukaan tanah setempat. Pelepasan air tanah berupa mataair ada yang mencapai 400 lt/dt dan penurapan melalui sumur bor dengan debit mencapai 2 It/dt hingga 5 lt/dt. Neraca keseimbangan air di daerah penelitian mengaiami defisit air tanah sebanyak 4,4 juta m3 pada tahun 2003. Kecenderungan air tanah berkurang adalah akibat perubahan kondisi tutupan lahan disertai dengan ekstraksi air tanah yang terus bertambah.
Hasil analisis ruang dan wilayah daerah penelitian memperlihatkan adanya interaksi antara daerah tangkapan air dan daerah perlepasan serta lokasi cadangan air tanah. Kegiatan ekonomi yang menggunakan air tanah tidak terpisahkan dari kawasan hutan Iindung Gunung Salak sebagai daerah tangkapan airnya. Pemanfaatan air tanah di kawasan hulu akan dapat menghilangkan peluang kegunaannya bagi kawasan hilirnya. Sepatutnya kawasan hulu menjadi kawasan tumbuh lambat yang diprogramkan untuk fungsi konservasi atau lindung karena menjadi satu kesatuan ekosistem dari hulu sampai ke hilir.
Air adalah satu fase bentuk sumberdaya alam yang secara alamiah mengalami siklus perubahan bentuk. Sumberdaya alam ini pada fase bentuk air menjadi kebutuhan dasar semua mahluk hidup di bumi. Sebagai kebutuhan dasar, air tidak dapat menjadi komoditi (barang ekonomi) yang dapat diperdagangkan dan diberi label harga. Prinsip yang memandang air sebagai komoditi (barang ekonomis) akan menghilangkan fungsi ekologis, sosial, religius dan budaya.
Pengguna air tanah dapat dikenakan beaya masa siklus air. Beaya masa siklus air adalah beaya kerugian yang dialami oleh generasi masa depan akibat pemanfaatan sumberdaya alam masa kini. Nilai masa siklus air dihitung melalui pendekatan valuasi manfaat Iokal sumberdaya hayati dan manfaat lokal sumber air.
Beaya masa siklus air di Iokasi penelitian per hektar hutan sebesar Rp. 2.924.890,- setiap tahunnya. Persepsi dan pemahaman tentang beaya masa siklus air belum sepenuhnya disadari oleh perusahaan air minum dalam kemasan. Akibatnya adalah masih banyak perusahaan belum bersedia ikut berperanserta daiam kegiatan konservasi daerah tangkapan air.
Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan dalam tesis ini, dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Tersedianya air tanah berkurang karena terganggunya keseimbangan neraca air akibat penurapan melalui sumur bor lebih besar dan suplesi air tanah.
2. Beaya bagi tersedianya air adalah beaya kerugian yang akan ditanggung oleh generasi masa depan.
3. Pengetahuan dan pemahaman tentang beaya masa siklus air belum sepenuhnya disadari oleh pengusaha air tanah.
Saran dari penulis dalam tesis ini adalah; (1) Perlu dilakukan segera pengendalian ekstraksi air tanah melalui penataan ulang SIPA yang telah dikeluarkan, penutupan sumur bor yang tidak memiliki ijin atau melebihi debit yang diijinkan, penghentian ijin baru dan peningkatan pengawasan pemanfaatan air tanah; (2) Memperbesar suplesi air tanah meIaIui pengendalian pembangunan permukiman di daerah tangkapan air, menghutankan kembali Iahan yang bersudut Iereng lebih dari 30% dan pembangunan ?embung" atau ?waduk kecil" sebagai sumber air bersih untuk memenuhi kebutuhan penduduk; (3) Perlu disosialisasikan secara luas kepada masyarakat tentang beaya masa siklus air. (4) Perlu disosialisasikan paradigma air sebagai hak asasi manusia. Setiap orang berhak memperoleh air bersih khususnya air minum dan kewajiban negara untuk memenuhinya.

The main source of water in the Sukabumi is the reservoirs found in the Gede Pangrango and Halimun Salak highlands. These areas are the up river of the Cimandiri River which flows south through Sukabumi all the way to the Southern coastal city of Pelabuhan Ratu, the capital city of Sukabumi District. These water reservoirs, ground reservoirs and spring water, have been used in the upper regions for many years. The use of the ground water for domestic needs and industrial needs is increasing rapidly. Revenue through the use of these water resources by industry has not been charged with conservation cost of these resources.
As the use of water has increased exponentiaily, supply tends to decrease due to the destruction of the upper catchments areas that are now being developed or destroyed. Internal control in the areas with their hydrology functions are being assessed in order to over come the problem before it gets out of hand.
The aim of this study is to estimate the current ground water condition, its value through analysis of local economic value of water catchments area and the current price of water. To understand perceptions and ability of water consumers to pay reservation cost of the water catchments area.
Results would enrich information in the effort to preserve natural water resources and natural environment as a unified natural resource. Information obtained may also be useful in future planning and development of these areas.
This research has been carried out in the Counties of Cicurug, Cidahu, Parakansalak, and Parugkuda, from January to June of 2003. The focus area is located at the foot of the Salak Mountain in the area of Sukabumi district. The form of research that has been used is ex post facto through qualitative and quantitative approach. The primary and secondary data were was collected through surveys and studies of literatures.
The result of studies has shown that the area in the vicinity of Gunung Api Tua is located in the main water absorption area, which is also the area of ground water release. Ground water potential is found to be between 100-300 meters below ground surface. The release of ground water from springs is at a rate of 400 It/sec and extracted using drill-wells at a rate of 2 lt/sec up to 5 lt/sec. The balance water measured in this area shows a deficit of as much as 4,4m3 in the year 2003. Ground water deficit tends to continue declining as result of man-made change in the soil covering due to building constructions agriculture as such that disturbs the seepage of rain water into the ground, hence the replenishment, while water extraction continue to increase.
Result of space and area analysis of research area shows that an interaction exists between the water catchments areas, water releasing areas, and the areas where the ground water is naturally stored. Therefore, economic sectors benefit from the ground water supply should not be freed from their responsibility in forest conservation and protection of Salak Mountain as water catchments areas. Using ground water in water areas will eventually reduce or even eliminate the benefit for water draining areas. It should be understood that water catchments area must be considered as areas of conservation and protection, because of its ecosystem unity from water-catchments area to water-released areas.
Liquid water is one phase in the cycle of this resource, which is naturally changing in form and state. In its liquid phase, water is a basic necessity for all living organism on this earth. As a basic necessity, water cannot become a commodity to be commercialised and given a price label. Considering water as eoonomic commodity will lose its ecological, social, religious and cultural functions.
Water users could be charged with water cycling costs. Water cycle cost is atpenses to cover losses which wlll be experienced by future generations due to present resource ulilisation. The value of water cycle period is calculated by local usage valuation approach of the biological resources and the local use of water resource.
The annual per hectare expenses of water cycle at the site of investigation is calculated at Rp. 2.924.890,-. Perception and understanding in the expenses for water cycling period have not been fully realized by water packing companies. Consequently there are still a great number of companies that are not willing to participate in the effort of water catchments area.
Water is only one phase of a natural cycle that is always moving. This natural resource when it is in the water phase is essential to the life of all animals on earth. As a basic need water can not beoome a commodity that can be sold with a label and a price, it is priceless. The principle that view water as a commodity will absolutely destroy its ecological, social, and cultural function and even will threaten our religious foundations. All humans have rights to have clean water, and it is not a commodity.
Water cycle cost in research area per hectare forest is Rp. 2.924.890,- every year. Perceptions and understanding about water cycle cost is not completely realized by water-packing company. As result, there still many companies that weren?t willing to participate in conservation program of water-catchments area.
Conclusions of research result and discussion in this thesis are: 1) There is deficit of ground water in research location as result of disturbances the equilibrium of water scale. The disturbances is caused by the used of ground water through artificial pump-well that larger than infiltrate of water volume. There is company that used ground water in water-absorbent areas and water-released areas In Salak Mountain areas. Ground water that is extracted from those areas are products of conservation forest water-catchments area; 2) Water cycles should be included in production total cost by water ground user. The value of water cycles cost can be calculated through valuation approach of local benefit of natural resources and local benelit of water resources; 3) Even though the water cycles cost cannot implemented yet for ground water benefit management, the valuation approach can be easily used by people in community so that the used of the valualjon need to be socialized.
Suggestions from writer in this thesis are: a) we need to do more detail assessment about ground water storage, b) it is necessary to socialized water paradigm as human rights. Every human have rights to have clean water especially drinking water and it is obligation of the country to fulfil it; c) Some studies should be done so that water- cycle cost policy can be implemented. The study that can be done is study of scarcity rent and extraction cost; d) To minimize bias from calculating economic benefit from natural resources, we need to choose respondents accurately from areas that closed or those who lived near the forest.
"
Program Pascasarjana Universitas Indonesia, 2003
T11080
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Yupiter Abdi Toto Negoro
"

Kegiatan manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya tidak terlepas dari menggunakan sumber daya air seperti rumah tangga, industry dan pertanian, kegiatan yang mengurangi ketersediaan air tanah dan menghasilkan limbah yang membuat penurunan kualitas air sungai, penelitian ini dilakukan di daerah tangkapan air uar kampus UI yang termasuk kawasan DAS CIliwung yang bertujuan untuk meningkatkan daya dukung sumber daya air dengan melakukan pendekatan tata kelola air dengan mempertimbangkan 3 aspek yaitu Place, People dan Policy. Place atau segi teknis dilakukan pendekatan dengan konsep WSUD (Water Sensitive Urban Drainage) dimana teknologi hijau yang dipakai yaitu bioretensi dan kontruksi lahan basah dengan simulasi ArcGIS, GitBola dan SWMM untuk simulasi peningkatan kualitas air dan penurunan volume limpasan air, People atau segi pemangku kepentingan dilakukan interview mendalam kepada pemangku kepentingan dan warga yang berada di kawasan tangkapan air untuk mengetahui respon terhadap rekomendasi teknologi hijau dan tanggapan pemangku kepentingan, Policy atau segi kebijakan dilakukan rekomendasi kebijakan yang tepat yang mengatur pengelolaan limbah cair maupun padat agar tidak mencemari badan air, untuk memperbaiki kondisi daerah tangkapan air (DTA) di sekitar UI, berdasarkan segi teknis usulan teknologi hijau, respon masyarakat atau pemangku kepentingan dan juga berdasarkan kebijakan atau peraturan-peraturan yang sudah ada mulai dari tingkat pusat hingga daerah.


The several things to fulfil human needs are water resources, like household, laundry, industry and agriculture, the activities  that reduce the availability of ground water and produce waste which makes the quality of river water decrease. This research was conducted in a catchment area outside University of Indonesia which is included in the Ciliwung watershed area which aims to increase the carrying capacity of water resources by carrying out a Water Governance approach by considering 3 aspects Place, People and Policy. The Place aspect or technical recommendations was an approach using the concept of WSUD (Water Sensitive Urban Drainage), the green infrastructure used are bioretention and constructed wetland by using ArcGIS, GitBola and SWMM for simulations of improving air quality and volume of runoff water reduction. The People aspect or stakeholders are conducted in-depth interviews or snow ball interview with stakeholders and residents in the catchment to find out responses to green technology recommendations and stakeholder responses. The policy aspect makes appropriate policy recommendations that regulate the management of liquid and solid waste so as not to pollute water bodies, to improve the condition of catchments around University of Indonesia, making policy recommendations based on the technical aspects of green technology proposals, community or stakeholder responses and also based on existing policies or regulations from the central to the regional level.

Keywords: People; Place; Policy; Water Governances; WSUD.

 

"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2020
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Lisa Larasati
"Waduk Gajah Mungkur merupakan bendungan dari sungai Bengawan Solo. telah mengalami sedimentasi yang bersumber dari daerah tangkapan waduk Gajah Mungkur. Fenomena degradasi tanah yang terjadi jika 'flax ' Jger diatasi, maka akan menimbulkan berkurangnya usia Waduk Gajah Mungkur. ual tersebut disebabkan karena daerah tangkapan air (catchmant area) waduk umumnya memiliki Wilayah yang berlereng terjal dan berbukit-bukit. Oleh karena itu perlu penanganan lebih lanjut, salah satunya dengan cara mengetahui Wilayah-Wilayah yang prioritas untuk dilakukan konservasi tanah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Wilayah prioritas konservasi tanah kiasaran dan pada tingkat kekritisan tanah menggunakan metode pembobotan dengan variabel yaitu erosi, vcetasi dan kelerengan. Nilai erosi didapat dengan menggunakanakan metode USLE (Universal Soil Loss Equation). Wilayah prioritas konservasi tanah di Daerah Tangkapan Waduk terdapat empat sekala pr writas dia taranya prioritas I hingga III dan tidal; prioritas. Prioritas I terdapat Sub WAS AI ng Unggahan, Sub DAS Keduang, Sub DAS Solo Hulu, Sub DAS Temon, Su., DAS Wiromoko, Sub DAS Wuryantoro, sedangkan pada Wilayah d ngan prioritas II terdapat pada Sub DAS Alang Unggahan, Sub DAS Solo Hulu dan Sub DAS Wiromoko. Dan prioritas III terdapat pada selurh. Wilayah penelitian, kecuali pada Sub DAS Temon dan Wuryantoro.

Gajah Mungkur reseivoir is dam of Bengawan S010 river which is gt through sedimentation from the Gajah Mungkur catchment area. In case. land degradation that occurs in Gajah Mungkur resevoir must to solved, because it will cause a reduction in age of Gajah Mungkur reservoir. This phenomuon it mused by topographic characteristics of Gajah Munglalr catchm' nt al fa. Cousequently this phenomenon needs to have further handling, one of ther. is know the priority area of soil conservation. The aim of this research is to know the priority area of soil conservation based on soil critical level by using scoring method with erosion. vegetation and slope variable. The value of fusion is obtained by using USLE's method. There are four classification of priority in Gajah Mungkur catchment area. First priority are found if Alang Unggahan Watershed, Keduang Watershed, Solo Hulu Watershed, Term waerslied. W iromoko watershed, Wuryantoro Watershed. Second piority are iound in Alang Unggahan Watershed, Solo Hulu watershed and Wironoko Wat rshed. Third priority are found in the Whole of reseach area, except in Teon watershed and Wuryantoro Watershed."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2009
S34069
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Benedictus Krisnandaru Aji
"Soil sickness atau degradasi lahan sebagai dampak perubahan iklim mampu mengancam sektor pertanian karena dapat menurunkan kuantitas dan kualitas hasil panen, yang 84% nya disebabkan oleh erosi lahan. Penurunan hasil panen dan erosi lahan menjadi kerentanan masyarakat tani hortikultura di Daerah Tangkapan Air Kerinci. Salah satu cara mengatasi kerentanan tersebut adalah dengan menerapkan strategi konservasi lahan. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi modal penghidupan masyarakat tani dan menganalisis keterkaitannya terhadap strategi konservasi lahan hortikultura. Penelitian ini menggunakan pendekatan penghidupan berkelanjutan untuk menganalisis modal penghidupan dan metode skoring untuk menilai tingkat konservasi lahan hortikultura. Hasil penelitian menunjukkan ketersediaan modal penghidupan masyarakat tani DTA Kerinci dan tingkat konservasi lahan pada tingkat sedang dengan skor 1,99 dan 0,56. Modal penghidupan yang memiliki keterkaitan signifikan terhadap konservasi lahan adalah modal sosial, finansial, dan alam. Ketiga modal tersebut diwujudkan melalui gotong royong, kepercayaan antar petani, akses informasi pertanian, kepemilikan lahan, dan kemampuan finansial untuk menciptakan strategi konservasi lahan yang berkelanjutan.

Soil sickness as a result of climate change can threaten the agricultural sector because it can reduce the quantity and quality of harvests, 84% of which is caused by land erosion. Decreasing crop yields and land erosion are vulnerabilities of horticultural farming communities in the Kerinci Catchment Area. One way to overcome this vulnerability is to implement land conservation strategies. This research aims to identify the livelihood capital of farming communities and analyze its relationship to horticultural land conservation strategies. This research uses sustainable livelihood approach to analyze livelihood capital and scoring method to assess the level of horticultural land conservation. The research results show that the availability of livelihood capital for the Kerinci DTA farming community and the level of land conservation are at a moderate level with scores of 1.99 and 0.56. Livelihood capital that has a significant relationship to land conservation is social, financial and natural capital. These three capitals are realized through mutual cooperation, trust between farmers, access to agricultural information, land ownership, and financial capacity to create sustainable land conservation strategies."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Wido Cepaka Warih
"Daerah Tangkapan Air Rawapening dengan luas 27.434,393 ha merupakan bagian dari DAS Tuntang dengan luas 130.036,886 ha (Sriyana, 2011) dengan hulu di Gunung Merbabu, Gunung Telomoyo dan Gunung Ungaran. Perubahan penggunaan tanah mengakibatkan terjadinya run off (limpasan), sehingga mempercepat terjadinya erosi. Penelitian ini bertujuan untuk memprediksi potensi erosi di DTA Rawapening menggunakan model SWAT. SWAT (Soil and Water Assessment Tool) merupakan model hidrologi yang dapat digunakan untuk memprediksi pengaruh penggunaan lahan terhadap aliran air, sedimen, erosi dan zat kimia lainnya yang masuk ke sungai atau badan air pada suatu DAS. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa Hydrologic Response Unit (HRU) yang terbentuk di DTA Rawapening didominasi oleh unit lahan berupa kebun/tegalan dengan tekstur tanah loam/lempung (L) dan lereng 15-25% (AGRR/L/15-25). Potensi erosi rata-rata tahunan yang terjadi di DTA Rawapening sebesar 167,201 ton/ha. Kontribusi erosi paling tinggi berasal dari SubDTA Galeh sebesar 2.820,9099 ton/ha/tahun karena kondisi unit lahan didominasi oleh kebun/tegalan pada lereng yang antara 15-40 % disertai dengan curah hujan tahunan yang cukup tinggi yaitu 2750-3250 mm/tahun dan kontribusi paling rendah terjadi pada SubDTA Kedungsringin sebesar 1,3762 ton/ha/tahun. Hasil kalibrasi antara debit model dengan debit observasi yaitu R= 0,8018 menunjukkan bahwa model dapat diterima dan layak diaplikasikan di DTA Rawapening.

Rawapening water catchment area with 27.434,393 ha, is part of the Tuntang watershed with 130.036,886 ha (Sriyana, 2011), which has headwaters in Mount Merbabu, Telomoyo Mountain and Mount Ungaran. Changes in land use resulting in run off, thereby accelerating erosion. This study aims to predict the potential for erosion in the Rawapening water catchment area with SWAT model. SWAT (Soil and Water Assessment Tool) is a hydrological model that can be used to predict the effects of land use on water flow, sediment, erosion and other chemicals into streams or bodies of water in a watershed. The research concludes that the Hydrologic Response Unit (HRU) that form in the watershed are dominated by land unit Rawapening a garden/dry with loam (L) soil texture and 15-25% slope (AGRR/L/15- 25). Potential average annual erosion that occurred in the Rawapening water catchment area of 167,201 tons/ ha/year. The highest erosion contribution comes from the SubDTA Galeh of 2.820,9099 tons/ha/year, because condition of the land unit dominated by garden/dry on slopes between 15-40% along with annual rainfall is 2750-3250 mm and the contribution of the lowest occurred in SubDTA Kedungsringin of 1,3762 ton/ha/year. Calibration results between models debit with observation debit that R = 0,8018 indicate that SWAT model can be accepted and applied in the Rawapening Water Catchment Area.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2013
S54389
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Danio Putra Nusantara
"Lahan merupakan salah satu sumber daya yang penting untuk menopang kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. Studi ini berfokus pada kualitas air di daerah tangkapan air yang dipengaruhi oleh pertumbuhan lahan. Tujuan dari model ini diwakili oleh hubungan linear antara indeks kualitas air sebagai variabel respon dan daerah tangkapan kedap air sebagai variabel penjelas. Daerah penelitian berada di daerah tangkapan air di kampus Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat. Data daerah tutupan lahan kedap air dikumpulkan dari citra dunia digital dan didigitasi berdasarkan atap yang diidentifikasi. Data kualitas air ditentukan berdasarkan laporan sebelumnya dan dikumpulkan secara manual di danau oleh penulis. Air yang dikumpulkan dari danau akan dimasukkan untuk uji laboratorium untuk bisa mendapatkan kualitas sampel sesuai dengan parameter yang ditentukan. Indeks kualitas air yang ditargetkan ditentukan berdasarkan kesesuaian penggunaan air mengacu pada peraturan pemerintah Indonesia nomor 82/2001. Seiring berjalannya waktu, pertumbuhan lahan berubah dan memberikan efek pada kualitas air Danau UI. Sebagai alat untuk menetapkan perencanaan dalam pengembangan di masa depan pada daerah tangkapan air sistem danau di Universitas Indonesia, digunakan hubungan linear antara kedap air daerah tangkapan air dan indeks kualitas air. Setelah dilakukan analisis regresi linear antara tutupan lahan kedap air dan kualitas air, didapatkan relasi bahwa semakin meningkatnya persentase tutupan lahan kedap air maka kualitas air semakin buruk dari waktu ke waktu.

Land is one of the resources that is essential to sustain the lives of humans and other living things. This study focuses on the water quality in a catchment area that is affected by the land growth. The purpose of the model is represented by a linear relationship between the water quality index as a response variable and catchment area imperviousness as an explanatory variable. The study area is in a catchment area at the campus of Universitas Indonesia, Depok, West Java. The data of the catchment are imperviousness is collected from the digital globe imagery and digitized based of identified rooftops. The water quality data is determined based on previous reports and collected manually in the lake by the author. The water collected from the lake will be put for laboratory test to be able to get the quality of the sample according to the determined parameters. The targeted water quality index is determined based on water use suitability referring to the Indonesian government regulation number 82/2001. As time goes by, the land growth changes and gives an effect to the water quality of the UI Lake. As a tool to set a plan for future development on the catchment area of the lake system in Universitas Indonesia, it is possible to use the linear relationship between catchment area imperviousness and water quality index. After a linear regression analysis between imperviousness and water quality, a relationship was found that the increasing percentage of imperviousness affects the water quality in getting worse over time."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2019
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Satrio Rifqi Wicaksono
"Erosi sebagai salah satu dampak turunan dari perubahan iklim telah menciptakan krisis multidimensional, salah satunya keberlangsungan ekologis di daerah aliran sungai Tembesi. Tercatat sepanjang tahun 2020, setidaknya telah terjadi 83 kali kejadian bencana hidrometeorologis yang telah menimbulkan kerugian materil dan imateril. Pengelolaan daerah aliran sungai yang berkelanjutan telah menjadi salah satu fokus dalam studi ekologis. Salah satu metode yang dapat ditempuh adalah analisis karakteristik morfometri Daerah Aliran Sungai. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis morfometrik guna memprioritaskan sub-DAS yang rentan terhadap erosi di DAS Tembesi, Provinsi Jambi. Variabel utama yang digunakan meliputi karakteristik morfometri, perubahan iklim yang direpresentasikan oleh curah hujan, dan tutupan lahan yang mencakup indeks vegetasi. Metode analisis mencakup pemeringkatan fitur indikator sampai dengan weighted sum analysis (WSA). Mengenai karakteristik morfometri, hasil penelitian menunjukkan keseragaman dalam aspek areal di DAS Tembesi. Adapun, penelitian menunjukkan prioritisasi sub-DAS berada pada tingkat “Sedang“ atau sejumlah 41% dari 13.260 km2 luas keseluruhan wilayah. Hal ini menunjukkan urgensi untuk melakukan pengelolaan DAS Tembesi secara komprehensif dan berkelanjutan guna meminimalisir dampak erosi, terutama di wilayah hilir.

Erosion as one of the derivative impacts of climate change has created a multidimensional crisis, one of which is ecological sustainability in the Tembesi Watershed. Recorded throughout 2020, at least 83 hydrometeorological disasters have occurred which caused material and immaterial losses. Sustainable watershed management is one of the focuses in ecological studies. One of the ways that can be taken is by analyzing the morphometric characteristics of the watershed. This study aims to conduct morphometric analysis to prioritize sub-watersheds that are vulnerable to erosion in the Tembesi watershed, Jambi Province. The main variables used include morphometric characteristics, climate change represented by rainfall, and vegetation cover which includes vegetation index. The analysis method used includes ranking of indicator features to weighted sum analysis (WSA). Regarding morphometric characteristics, the results showed uniformity in terms of area in the Tembesi watershed. Meanwhile, the results showed that the priority of sub-watersheds was at the "Moderate" level or 41% of the total area of 13,260 km2. This shows the urgency to conduct comprehensive and sustainable management of the Tembesi watershed to minimize the impact of erosion, especially in the downstream area."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Faizah Muthmainnah
"Penggunaan lahan pada suatu daerah tangkapan air (DTA) memiliki pengaruh terhadap kualitas suatu perairan. Sumber air dari suatu perairan dapat berasal dari mata air yang terdapat di dalamnya dan dari masukan air sungai atau limpasan air permukaan serta air hujan yang mengalir di lahan sekitar perairan tersebut. Daerah tangkapan air adalah suatu daerah yang mengalirkan air ke Situ Gintung. Masyarakat yang tinggal di sekitar Situ Gintung memanfaatkannya untuk perikanan, pertanian dan sarana wisata. Dalam jangka waktu 20 tahun, yaitu tahun 1999, 2004, 2009, 2014, 2019, Situ Gintung mengalami perubahan kualitas perairan secara fisik dapat diketahui melalui kandungan materi yang mengubah warna air tersebut. Perubahan tersebut salah satunya dipengaruhi oleh erosi dan sedimentasi. Untuk mengetahui besarnya laju erosi pada suatu lahan digunakan pemodelan USLE (Universal Soil Loss Equation). Hasil penelitian menunjukkan terdapat empat tingkat erosi di DTA Situ Gintung, yaitu normal, ringan, sedang, berat. Sebaran erosi yang terjadi di DTA Situ Gintung mengikuti pola lereng. Laju erosi normal terbesar sebesar 178,13 ton/ha/tahun pada tahun 2019 dan terkecil sebesar 58,43 ton/ha/tahun pada tahun 2014. Tingkat erosi ringan terbesar sebesar 1410,63 ton/ha/tahun pada tahun 2019 dan terkecil sebesar 706,13 ton/ha/tahun pada tahun 2014. Tingkat erosi sedang tertinggi adalah 2.831,84 ton/ha /tahun pada tahun 2009 dan yang terkecil sebesar 1710,71 ton/ha/tahun pada tahun 2014. Laju erosi berat terbesar adalah 4782,74 ton/ha/tahun pada tahun 2009 dan terkecil adalah 2.312,31 ton/ha/tahun pada tahun 2019.

Changes in land use in a sub-watershed have an effect on the quality of a waters. Sources of water from a waters can come from springs contained in it and from river water input or runoff surface water and rain water that flows in the land around these waters. Pesanggrahan Sub-watershed is a sub-watershed that flows water to Situ Gintung. People who live around Situ Gintung use it for fisheries, agriculture and tourist facilities. Within a period of 20 years, namely 1999, 2004, 2009, 2014, 2019, Situ Gintung experienced a change in the quality of the physical waters, namely changes in the number of suspended solids entering the waters. The amount of the TSS value in a waters is influenced by soil material which is eroded by water passing through a land area. To determine the amount of the erosion rate on a land, USLE (Universal Soil Loss Equation) modeling is used. The results showed that changes in the land cover of the Situ Gintung catchment had an effect which was directly proportional to the rate of erosion in the Situ Gintung catchment area. The distribution of erosion that occurs in the Situ Gintung catchment follows the slope pattern. The largest normal erosion rate was 178,13 ton/ha/year in 2019 and the smallest was 58,43 ton/ha/year in 2014. The largest light erosion rate was 1410,63 ton/ha/year in 2019 and the smallest was 706,13 ton/ha/year in 2014. The highest moderate erosion rate was 2.831,84 tonnes / ha / year in 2009 and the smallest was 1710,71 ton/ha/year in 2014. The highest rate of heavy erosion was 4782,74 ton/ha/year in 2009 and the smallest was 2.312,31 ton/ha/year in 2019"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2020
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>