Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 163773 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Widya Tria Kirana
"Latar Belakang: Pneumocystis jirovecii (P. jirovecii) adalah patogen jamur oportunistik yang dapat terdeteksi di saluran napas bawah. Kolonisasi P. jirovecii dapat berkembang menjadi infeksi yang disebut sebagai pneumocystis pneumonia (PCP). Infeksi PCP umumnya terdeteksi di pasien HIV. Pasien tanpa HIV juga dapat mengalami infeksi PCP terutama pada pasien keganasan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeteksi kolonisasi P. Jirovecii pada sampel bilasan bronkus dengan pemeriksaan polymerase chain reaction (PCR). Metode: Penelitian ini merupakan penelitian potong lintang dengan deskriptif analitik yang pada pasien terduga kanker paru di RSUP Persahabatan. Subjek penelitian adalah pasien terduga kanker paru yang akan menjalani bronkoskopi sesuai kriteria inklusi. Sampel bilasan bronkus dikirim ke Laboratorium Departemen Parasitologi FKUI untuk ekstraksi DNA dan laboratorium BRIN untuk pemeriksaan PCR konvensional. Penelitian ini menggunakan gen MtLSU dan mTSSU. Hasil: Pada penelitian ini terdapat 72 subjek penelitian. Subjek penelitian terdiri atas 51 laki-laki (70,8%). Rerata usia subjek penelitian adalah 56,6 (9,95) tahun. Subjek penelitian sebagian besar memiliki IMT normal (18,5-22,9 kg/m2). Subjek penelitian sebagian besar adalah perokok baik perokok aktif atau bekas perokok yaitu sebanyak 50 orang (69,4%). Sebanyak 23 orang (31,9%) diantaranya memiliki IB berat (IB >600 batang per tahun). Subjek penelitian yang memiliki riwayat pengobatan TB, baik terkonfirmasi bakteriologis maupun diagnosis klinis, sebanyak 23 orang (31,9%). Sebanyak 26 orang (36,1%) memiliki 1 komorbid sedangkan 10 orang (13,9%) memiliki lebih dari 1 komorbid. Berdasarkan pemeriksaan histopatologi atau sitologi bilasan bronkus, dari 72 subjek penelitian terdapat 50 orang (69,4%) terdiagnosis kanker paru, 15 orang (20,9%) bukan kanker paru, dan 7 orang (9,7%) belum diketahui diagnosisnya. Dari 72 sampel yang diperiksa, tidak ada yang menunjukan hasil PCR positif (0%). Kesimpulan: Proporsi P. Jirovecii yang terdeteksi melalui pemeriksaan PCR pada sampel bilasan bronkus pasien terduga kanker paru sebesar 0%. Pemeriksaan PCR untuk mendeteksi P. Jirovecii tidak disarankan untuk pasien kanker yang baru terdiagnosis dan belum dilakukan pengobatan.

Background: Pneumocystis jirovecii (P. jirovecii) is an opportunistic fungal pathogen that can be detected in the human lower respiratory tract without signs or symptoms of acute pneumonia or colonization. P. jirovecii colonization can develop into an infection known as pneumocystis pneumonia (PCP). PCP infection is commonly detected in HIV patients. However, patients without HIV can also experience PCP infection, especially in malignant patients. This study aims to detect P. Jirovecii colonization in bronchial lavage samples using polymerase chain reaction (PCR). Methods: This research is a cross-sectional study with descriptive analytics on patients suspected of lung cancer at Persahabatan Hospital. The research subjects were patients with suspected lung cancer who were selected according to the inclusion criteria. Data on clinical, radiological, laboratory and histopathological characteristics were taken from medical records. The patient will have a bronchial lavage sample taken during bronchoscopy for diagnostic purposes. The samples will be examined at the Parasitology Department Laboratory Universitas Indonesia for DNA extraction and the BRIN laboratory for PCR examination. Results: In this study there were 72 research subjects. The research subjects consisted of 51 men (70.8%). The mean age of the research subjects was 56.6 (9.95) years. Most of the research subjects had normal BMI (18.5-22.9 kg/m2). Most of the research subjects were smokers, either active smokers or former smokers, namely 50 people (69.4%). A total of 23 people (31.9%) had severe IB (IB >600 cigarettes per year). There were 23 research subjects who had a history of TB treatment, whether confirmed bacteriologically or clinically diagnosed, as many as 23 people (31.9%). A total of 26 people (36.1%) had 1 comorbid while 10 people (13.9%) had more than 1 comorbid. Based on histopathological or cytological examination of bronchial lavage, of the 72 research subjects, 50 people (69.4%) were diagnosed with lung cancer, 15 people (20.9%) had no lung cancer, and 7 people (9.7%) had no known diagnosis. Of the 72 samples examined, none showed positive PCR results (0%). Conclusion: The proportion of P. Jirovecii detected by conventional PCR examination in bronchial lavage samples from patients suspected of lung cancer was 0%. PCR examination to detect P. Jirovecii is not recommended for cancer patients who have just been diagnosed and have not received treatment."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2024
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Andre Prawira Putra
"Latar Belakang: Bronkoskopi adalah prosedur yang umum digunakan sebagai tindakan membantu penegakkan diagnosis kasus tumor paru. Hipoksemia disebut sebagai salah satu komplikasi yang sering terjadi pada bronkoskopi diagnostik oleh karena itu diperlukan data untuk mengetahui faktor yang berpengaruh dan dampak klinis yang ditimbulkan.
Metode: Penelitian ini menggunakan desain potong lintang pada pasien tumor paru yang menjalani bronkoskopi diagnostik dan dilakukan selamaJanuari-April 2019 di Rumah Sakit Umum Pusat Rujukan Respirasi Nasional (RSUPRRN) Persahabatan Jakarta. Total 195 pasien diikutsertakan dan dilakukan pengamatan terhadap nilai saturasi oksigen pada tahap premedikasi, durante, pascatindakan. Hipoksemia adalah subjek dengan saturasi oksigen<90% dan diamati berbagai faktor yang dianggap berpengaruh dan dampak klinis yang terjadi.
Hasil:Jumlah kejadian hipoksemia pada bronkoskopi diagnostik sebanyak 40 kasus (20,5%). Waktu kejadian hipoksemia paling banyak pada tahap durante tindakan (20%) dengan median lama hipoksemia berlangsung 15 detik. Proporsi waktu muncul hipoksemia terjadi paling banyak pada 10 menit pertama tindakan (11,3%). Faktor demografi yang bermakna terhadap kejadian hipoksemia adalah jenis kelamin (p=0,04) dan riwayat merokok (p=0,005). Faktor yang dianggap berpengaruh dan memiliki hubungan bermakna dengan kejadian hipoksemia antara lain lama waktu tindakan dan timbulnya komplikasi (p<0,05). Total 5 pasien dirawat pascatindakan di ruang intensif dan tidak ada kasus kematian yang dilaporkan.
Kesimpulan: Penelitian ini mendapatkan jenis kelamin, riwayat merokok, lama waktu tindakan dan timbulnya komplikasi menjadi faktor yang berpengaruh terhadap kejadian hipoksemia pada tindakan bronkoskopi diagnostik kasus tumor paru. Hipoksemia yang muncul pada bronkoskopi diagnostik kasus tumor paru tidak menimbulkan dampak klinis yang fatal seperti kematian pada penelitian ini.

Background: Bronchoscopy is a commonly medical procedure perfomed for diagnose lung tumor cases. Hypoxemia often appear as complication related diagnostic bronchoscopy. Therefore, there is a need of research data to knowing related factors and clinical consequences may occur ahead.
Methods:Design of this study is cross sectional with suspicion lung malignancy population who undergoing diagnostic bronchoscopy from January until april 2019 at National Respiratory Center Persahabatan General Hospital Jakarta. Total 195 consecutive patients participated dan observed for oxygen saturation in premedication, during and post-bronchoscopy. Hypoxemia was defined as an desaturation <90% and reviewed several related factor and clinical consequences may appear
Results:Total hypoxemia events on diagnostic bronchoscopy was 40 cases (20,5%). The most frequent occurrence hypoxemia time is during bronchoscopy (20%) with median duration of hypoxemia is 15 seconds. The proportion of time appears hypoxemia is commonly in first 10 minutes bronchoscopy (11,3%). Demographic factors like gender and smoking history are statistically significant with hypoxemia events (p=0,04 & p=0,005). Other factors may have relation dan statiscally significant are duration of procedure and procedure with complication (p<0,05). Total 5 cases observed in intensive care unit after procedure and no death event have reported in this study
Conclusion:This study suggested gender, smoking history, duration of procedure and procedure with complication were related factors with hypoxemic events in lung tumor cases undergoing diagnostic bronchoscopy. Hypoxemia related diagnostic bronchoscopy in this study was not rise into fatal event.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2019
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Nurmila Sari
"Latar belakang : Kanker paru adalah kanker yang berasal dari epitel bronkus. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui gambaran pola kuman dari bilasan bronkus dan faktor-faktor yang memengaruhi pada pasien terduga kanker paru di RS Persahabatan pusat Respirasi Nasional. Metode : Jenis penelitian potong lintang. Jumlah sampel 226 pasien. Kriteria inkusi yaitu pasien terduga kanker paru, usia > 18 tahun, tidak menggunakan antibiotik satu minggu sebelum tindakan bronkoskopi. Hasil : Karakteristik pasien terduga kanker paru antara lain laki-laki (63,7%), rerata usia 60 ± 11,45 tahun. Keluhan respirasi batuk (78,3%) dan sesak napas (65,5%). Sebagian besar perokok berat (30,5%). Indeks massa tubuh normal (43,8%). Nilai leukosit normal (53,5%), neutrofil normal (66,4%), neutrofil limfosit rasio meningkat (67,3%). Data histopatologis terbanyak adalah adenokarsinoma (50,9%), EGFR tidak ada mutasi (34%) dan ALK negatif (29%). Foto toraks tampak lesi sentral (84,5%), > 3 mm (89,9%) dan konsolidasi (64,2%). CT scan toraks ada keterlibatan kelenjar getah bening (67,7%) dan ada metastasis (71,2%). Gambaran bronkus tampak massa infiltratif (27,9%) dan mukosa edematous (15,9%). Diagnosis terbanyak yaitu kanker paru (71,7%), T4 (85,2%), N2 (37,7%), M1a (42,6%), metastasis efusi pleura (54,9%), stage IV A (64,2%) dan PS 1 (49,4%). Bakteri terbanyak pada bilasan bronkus adalah Pseudomonas aeruginosa (13,7%) dan Klebsiella pneumoniae(11,1%). Kesimpulan : Bakteri terbanyak pada bilasan bronkus adalah Pseudomonas aeruginosadan Klebsiella pneumoniae. Batuk, nilai leukosit, letak anatomi foto toraks, letak anatomi CT scan toraks dengan kontras, ground glass opacity dan efusi pleura pada CT scan toraks dengan kontras memengaruhi ada atau tidak bakteri pada bilasan bronkus pasien terduga kanker paru.

Background: Lung cancer is cancer that originates from the epithelium of the bronchi. This study aims to determine microbial patterns from bronchial washing and influencing factors in suspected lung cancer patients at Persahabatan Hospital National Respiratory Center. Method: Cross-sectional research. The sample was 226 patients. The inclusion criteria are patients suspected of lung cancer, aged > 18 years, not using antibiotics one week before bronchoscopy Results: The characteristics of patients suspected of lung cancer include male (63.7%), average age 60 ± 11.45 years. Respiratory complaints of cough (78.3%) and shortness of breath (65.5%). Most were heavy smokers (30.5%). Normal body mass index (43.8%). Normal leukocyte values (53.5%), normal neutrophils (66.4%) and neutrophil-lymphocyte ratio increased (67.3%). The most histopathological data were adenocarcinoma (50.9%), EGFR no mutation (34%) and negative ALK (29%). Thoracic photographs appear as central lesions (84.5%), > 3 mm (89.9%) and consolidated (64.2%). Thoracic CT scan there was involvement of lymph nodes (67.7%) and there were metastases (71.2%). The bronchial appears as infiltrative masses (27.9%) and edematous mucosa (15.9%). The most diagnoses were lung cancer (71.7%), T4 (85.2%), N2 (37.7%), M1a (42.6%), metastatic pleural effusion (54.9%), stage  IV A (64.2%) and PS 1 (49.4%). The most common bacteria in bronchial washing are Pseudomonas aeruginosa (13.7%) and Klebsiella pneumoniae (11.1%). Conclusion: The most common bacteria in bronchial washing are Pseudomonas aeruginosa and Klebsiella pneumoniae. Cough, leukocyte value, anatomy location based on thoracic photo and thoracic CT Scan with contrast, ground glass opacity and pleural effusion affect the presence or absence of bacteria in a bronchial wash of suspected lung cancer patients."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2024
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Puji Raharja Santosa
"Tingkat kecemasan akan meningkat pada pasien yang diduga menderita kanker paru, apalagi saat direncanakan tindakan invasif diagnostik bronkoskopi. Salah satu intervensi keperawatan mengurangi sensasi cemas adalah terapi pijat. Tujuan penelitian adalah untuk mengidentifikasi pengaruh terapi pijat terhadap tingkat kecemasan pasien suspect kanker paru yang akan menjalani tindakan bronkoskopi.
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan bentuk quasi experiment dengan nonequivalent control group design. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik consecutive sampling (n = 28).
Hasil penelitian menunjukkan ada perbedaan tingkat kecemasan antara kelompok kontrol dan intervensi : a) post-test I, Pvalue = 0,048 pada OR = 1 ,556; b) post-test II, Pvalue = 0,021 pada OR sebesar 1,750.
Penelitian ini menyimpulkan ada pengaruh yang signifikan (p < 0,05) terapi pijat terhadap tingkat kecemasan pasien suspect kanker paru yang akan menjalani tindakan bronkoskopi.
Penelitian ini merekomendasikan, terapi pijat dijadikan sebagai prosedur tetap tindakan mandiri keperawatan dalam menurunkan respon kecemasan pasien sebelum dilakukan tindakan bronkoskopi."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2014
T41768
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ririen Razika Ramdhani
"ABSTRAK
Latar Belakang: Kanker paru dan tuberkulosis TB adalah dua masalah kesehatan di seluruh dunia dengan angka kesakitan dan kematian yang tinggi. Meningkatnya kasus TB aktif dan reaktivasi TB laten pada pasien kanker paru serta dampak buruknya terhadap prognosis pasien memerlukan upaya untuk melakukan deteksi TB laten pada pasien kanker paru. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui berapa besar proporsi TB laten pada pasien kanker paru, karakteristiknya dan hubungan antar keduanya.Metode: Penelitian ini menggunakan desain potong lintang dan sampel dikumpulkan secara consecutivesampling terhadap 86 pasien kanker paru baru terdiagnosis di Rumah Sakit Umum Pusat Persahabatan Jakarta tahun 2015 hingga 2016. Pemeriksaan sputum Xpert MTB/RIF dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan TB aktif. Penentuan TB laten dilakukan dengan pemeriksaan Interferon Gamma Release Assay IGRA menggunakan alat QuantiFERON-TB Gold-in-Tube QFT-GIT .Hasil: Pemeriksaan TB laten mendapatkan hasil IGRA 11 pasien 12,8 , IGRA - 59 pasien 68,6 dan IGRA indeterminate I 16 pasien 18,6 . Karakteristik sosiodemografi pasien kanker paru dengan TB laten adalah 63,6 laki-laki, rerata usia 56 tahun, 36,4 diimunisasi BCG, 9 dengan kontak erat TB, 72,7 dengan riwayat merokok. Karakteristik klinis pasien tersebut 90 memiliki status gizi normal lebih dengan nilai tengah indeks massa tubuh IMT 19,12 18,24-29,26 kg/m2, nilai tengah hitung limfosit total 1856 1197-4210 sel/ul, 9 dengan komorbid diabetes mellitus, 81,8 tumor paru mengenai lokasi khas predileksi TB paru. Jenis kanker terbanyak adalah adenokarsinoma 81,8 dengan stage lanjut 81,8 dan status tampilan umum 2-3 63,6 . Karakteristik yang menunjukkan hubungan bermakna dengan hasil IGRA adalah lokasi tumor yang mengenai daerah lesi khas TB secara radiologis. Hitung limfosit total yang rendah berhubungan dengan hasil IGRA I dengan nilai tengah 999,88 277-1492,60 sel/ul.Kesimpulan: Proporsi TB laten pada pasien kanker paru di RSUP Persahabatan adalah 12,8 . Karekteristik pasien kanker paru yang berhubungan dengan TB laten adalah lokasi tumor yang mengenai daerah lesi khas TB walaupun belum dapat disimpulkan hubungannya secara biologis. Hasil IGRA I pada pasien kanker paru dengan hitung limfosit total yang rendah menunjukkan keterbatasan sensitivitas IGRA dalam mendeteksi infeksi TB laten pada pasien imunokompromais.Kata Kunci : infeksi TB laten, kanker paru, IGRA, hitung limfosit total

ABSTRACT
Background Lung cancer and pulmonary tuberculosis TB are two major public health problems associated with significant morbidities and mortalities. The increased prevalence of active TB and latent TB reactivation in lung cancer patients and the negative effect of pulmonary TB in lung cancer prognosis underline the need for a through screening of lung cancer patients for latent TB infection LTBI . The aims of this study are to determine the proportion of LTBI in lung cancer patients, their characteristics and the relationship between them.Methods This study used a cross sectional design and sample was collected using consecutive sampling of the 86 newly diagnosed treatment naive lung cancer patients from a referral respiratory hospital, Rumah Sakit Umum Pusat Persahabatan Jakarta in 2015 to 2016. The presence of LTBI was determined by Quantiferon TB Gold In Tube QFT GIT after having Mycobacterium TB not detected result from Xpert MTB RIF sputum test. Demographic characteristics and cancer related factors associated with LTBI were investigated.Results There are 11 patients 12,8 with IGRA result and 16 patients 18,6 with IGRA indeterminate I result. Sociodemographic characteristics of lung cancer patients with latent TB are 63,6 male, mean of age 56 years, 36,4 with BCG immunization, 9 had TB close contacts history, 72,7 with a history of smoking. The clinical characteristics of these patients are 90 had a normal nutritional status with the median body mass index BMI 19,12 18,24 29,26 kg m2, the median of total lymphocyte count is 1856 1197 4210 cells ul, 9 with diabetes mellitus as comorbid, 81,8 of lung tumour located in the typical predilection for pulmonary tuberculosis. Most types of lung cancer are adenocarcinomas 81.8 with advanced stage 81,8 and the WHO performance status of 2 3 63,6 . Characteristics having significant relationship with IGRA results is the tumour located in the typical TB area radiologically. Low total lymphocyte count is associated with indeterminate IGRA results with median 999,88 277 1492,6 cells ul.Conclusion The proportion of latent TB in lung cancer patients is 12,8 . Characteristics of patients with lung cancer associated with latent TB is the location of the tumor lesions typical of the area although it can not be concluded biologically. Having indeterminate IGRA results in lung cancer patients with a low total lymphocyte count showed the limitations of QFT GIT in detecting latent TB infection in immunocompromised patients.Key words latent TB infection, lung cancer, IGRA, total lymphocyte count "
2016
T55572
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dini Rizkie Wijayanti
"ABSTRAK
Latar Belakang:Penelitian ini merupakan studi awal untuk menetapkan proporsi pneumonitis radiasi pada pasien kanker paru yang mendapat radiasi di RSUP Persahabatan.
Metode: Penelitian ini menggunakan desain retrospektif pada pasien kanker paru yang mendapat radiasi di RSUP Persahabatan antara Juni 2013-Juli 2015. Pengambilan data melalui rekam medik dan dilakukan evaluasi ulang foto toraks 1 bulan pasca radiasi.
Hasil: Terdapat 33 pasien kanker paru yang memenuhi kriteria inklusi. Karakteristik subyek meliputi usia ≥51 tahun (63,6%), laki-laki (66,7%), riwayat merokok (75,8%), IB sedang (60%), dosis radiasi 300-4000 (60,6%), fraksi radiasi 10-19 (60,6%), tidak mempunyai riwayat kemoterapi (54,5%), kanker paru jenis adenokarsinoma (66,7%) dan stage IV (84,84%). Proporsi pneumonitis radiasi berdasarkan foto toraks sebesar 39,4% yang terdiri dari gambaran hazy ground glass opacities, hazy ground glass opacities dan fibrosis serta fibrosis. Ditemukan perbedaan bermakna antara usia, dosis radiasi dan riwayat kemoterapi dengan kejadian pneumonitis radiasi (p<0,05).
Kesimpulan: Proporsi pneumonitis radiasi berdasarkan foto toraks sebesar 39,4%. Terdapat perbedaan bermakna antara usia, dosis radiasi dan riwayat kemoterapi dengan kejadian pneumonitis radiasi.

ABSTRACT
Introduction: This is a preliminary study to determine proportion radiation pneumonitis in lung cancer patients who got radiaton in Persahabatan Hospital.
Method: This was a retrospective study in lung cancer patients who got radiation in Persahabatan Hospital between June 2013 ? July 2015. Interpretation data were from medical record and did reevaluation chest x ray 1 month after radiation.
Result: There were 33 lung cancer patients were filled inclusion criteria. Subjects characteristic were age ≥51 years (63,6%), male (66,7%), history of smoking (75,8%), moderate IB (60%), radiation doses 3000-4000 (60,6%), radiation fractions 10-19 (60,6%), had no history of chemotheraphy (54,5%), adenocarcinoma (66,7%) and stage IV (84,84%). Proportion radiation pneumonitis based on chest x ray were 39,4% that include hazy ground glass opacities, hazy ground glass opacitiesand fibrosis and only fibrosis. There were significant differences between age, radiation doses and history of chemotheraphy with proportion radiation pneumonitis (p<0,05).
Conclusion: Proportion radiation pneumonitis based on chest x ray are 39,4%. There are significant differences between age, radiation doses and history of chemotheraphy with proportion radiation pneumonitis (p<0,05)."
2016
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Steven Jonathan
"Latar Belakang: Kanker paru dapat memiliki gejala dan tanda yang salah satunya disebabkan sindrom paraneoplastik. Salah satu sindrom paraneoplastik melibatkan sistem hematologi yang terdiri dari anemia, leukositosis, netrofilia, hipereosinofilia, trombositosis dan hiperkoagulabilitas. Belum ada data/penelitian di Indonesia mengenai sindrom paraneoplastik hematologi pada kanker paru.
Metode: Penelitian ini adalah studi potong lintang analitik yang dilakukan di poliklinik onkologi toraks RSRRN Persahabatan dalam periode September 2018 hingga Februari 2019 terhadap semua pasien kanker paru kasus baru yang sudah tegak diagnosis serta memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi yang diambil secara total sampling.
Hasil: Subjek memiliki rerata usia 56,7+11,4 tahun. Sebagian besar laki-laki, berstatus gizi normal (42,6%), memiliki riwayat merokok (75%) dan IB sedang (52%). Jenis histologi tersering KSS (39,7%) dengan stage lanjut (83,8%) dan PS <2 (94,1%). Proporsi anemia paraneoplastik adalah 40,4% yang berhubungan dengan status gizi kurang dan tersering berjenis normositik normokromik. Proporsi leukositosis paraneoplastik adalah 39% yang berhubungan dengan jenis kelamin laki-laki dan riwayat merokok. Proporsi netrofilia paraneoplastik 51,5% yang berhubungan dengan jenis kelamin laki-laki, riwayat merokok dan jenis histologi KSS. Proporsi hipereosinofilia dan trombositosis paraneoplastik masing-masing adalah 2,9% dan 18,4%. Proporsi hiperkoagulabilitas paraneoplastik adalah 91,2% yang didominasi peningkatan kadar D-dimer.
Kesimpulan: Sindrom paraneoplastik hematologi yang paling sering ditemukan pada pasien kanker paru adalah hiperkoagulabilitas, netrofilia dan anemia. Diperlukan penelitian lanjutan untuk menilai hubungan sindrom paraneoplastik hematologi dengan prognosis pasien.

Background: Lung cancer could have signs and symptoms which was caused by paraneoplastic syndromes. One of those paraneoplastic syndromes involves hematologic system consisting of anemia, leukocytosis, neutrophilia, hypereosinophilia, thrombocytosis and hypercoagulability. There has been no data/research in Indonesia regarding hematologic paraneoplastic syndrome in lung cancer.
Methods: This study was a cross-sectional analytic study conducted at the thoracic oncology clinic in Persahabatan Hospital during September 2018 to February 2019 for all patients with new case of lung cancer whose diagnosis established and fulfilled the inclusion and exclusion criteria taken in total sampling.
Results: Subjects had a mean age of 56.7+11.4 years. Most of them were male, had normal nutritional status (42.6%), had a smoking history (75%) and moderate IB (52%). The most common type of histology was SCC/squamous cell carcinoma (39.7%) with advanced stage (83.8%) and PS <2 (94.1%). The proportion of paraneoplastic anemia was 40.4% which was associated with poor nutritional status and commonly normocytic normochromic. The proportion of paraneoplastic leukocytosis was 39%, associated with male sex and smoking history. The proportion of paraneoplastic neutrophilia was 51.5%, related to male sex, smoking history and SCC histology type. The proportions of paraneoplastic hypereosinophilia and thrombocytosis were 2.9% and 18.4%, respectively. The proportion of paraneoplastic hypercoagulability was 91.2% and dominated by the increase of D-dimer level.
Conclusion: The most common hematologic paraneoplastic syndrome found in lung cancer patients were hypercoagulability, netrophilia and anemia. Further research is needed to assess the correlation of hematologic paraneoplastic syndrome and the prognosis of the patients.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2019
T55540
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Asri Liqditta Bies
"Latar belakang: Kasus baru kanker paru semakin bertambah dan mulai banyak dialami usia muda. Pendekatan skrining dalam upaya deteksi dini dilanjutkan tindakan diagnostik yang cepat dan akurat memberikan penderita memeroleh kualitas hidup yang lebih baik dalam perjalanan penyakitnya. Biopsi paru transtorakal menggunakan jarum halus dan core menghasilkan akurasi berkisar 85%-90% dengan keunggulan tindakan minimal invasif. Variasi akurasi diagnostik dan belum terdapat data proporsi hasil biopsi transtorakal di RS Persahabatan, membuat kami melakukan penelitian ini. Metode: Kami melakukan pencatatan data sampel periode Januari 2021-September 2023 pada bulan Januari-Februari 2024. Data yang dicatat yaitu karakteristik pasien keganasan rongga toraks belum tegak jenis yang dilakukan tindakan biopsi jarum halus dan core transtorakal dengan panduan CT scan. Sebanyak 765 pasien dalam periode tindakan didapatkan 563 pasien yang sesuai kriteria inklusi dan eksklusi. Data kemudian dianalisis untuk menilai kepositifan biopsi jarum halus dan core transtorakal serta faktor yang memengaruhinya. Hasil: Sejumlah 563 subjek terdiri atas laki-laki 67,9% dan perempuan 32,1%. Usia paling muda 18 tahun dan paling tua 88 tahun dengan median usia 56 tahun. Subjek dengan keluhan respirasi 83,7% dan nonrespirasi 16,3%. Perokok merupakan mayoritas subjek sebesar 58,4%. Lokasi target biopsi paling banyak di paru 75,3% sedangkan mediastinum 24,7%. Nilai HU kami kelompokkan menjadi ≥ 30 sebanyak 91,3% dan < 30 sebanyak 8,7%. Panjang minimal kedalaman tusuk 0,7 cm dan maksimal 11,21 cm dengan median 4,2 cm. Posisi saat tindakan biopsi yaitu terlentang 67,5%, tengkurap 24,5% dan lateral dekubitus 8%. Proporsi kepositifan biopsi jarum halus 80,8% sementara biopsi core 77,6%. Selanjutnya karakteristik tersebut kami lakukan analisis bivariat didapatkan nilai HU memengaruhi kepositifan biopsi jarum halus (p < 0,05). Kesimpulan: Proporsi biopsi jarum halus dan core transtorakal di RS Persahabatan sangat baik. Nilai HU memengaruhi kepositifan biopsi TTNA namun, tidak pada biopsi core. Kedalaman tusuk dan posisi bukan faktor yang memengaruhi kepositifan biopsi TTNA dan core.

Background: New cases of lung cancer are increasing and are starting to occur at a young age. A screening approach in an effort for early detection followed by rapid and accurate diagnosis provides patients with a better quality of life throughout their disease. Transthoracic lung biopsy using a fine needle and core produces an accuracy of around 85%-90% with the advantage of being minimally invasive. Variations in diagnostic accuracy and no database availability yet on the proportion of transthoracic biopsy results at Persahabatan Hospital prompted us to conduct this research. Methods: We recorded data from January 2021-September 2023 in January-February 2024. The data recorded were the characteristics of patients with unconfirmed type thoracic cavity malignancies who underwent fine needle and transthoracic core biopsies CT scan guided. A total of 765 patients during the action period 563 patients met the inclusion and exclusion criteria. The data is then processed to assess the positivity of transthoracic fine needle and core biopsies and the factors that influence it. Result: A total of 563 subjects consisted of 67.9% men and 32.1% women. The youngest age is 18 years and the oldest is 88 years with a median age of 56 years. Subjects with respiratory complaints were 83.7% and non-respiratory 16.3%. Smokers constituted the majority of our subjects at 58.4%. The most common biopsy target locations were the lungs, 75.3%, while the mediastinum was 24.7%. Hounsfield units are divided into ≥ 30 as many as 91.3% and < 30 as many as 8.7%. The minimum length of the puncture depth is 0.7 cm and the maximum is 11.21 cm with 4.2 cm as the median. The position during the biopsy was supination 67.5%, prone 24.5%, and lateral decubitus 8%. The positive proportion of fine needle biopsy was 80.8% while core biopsy was 77.6%. We conducted a bivariate analysis of these characteristics and found that the HU value influenced the positivity of fine needle biopsy (p < 0.05). Conclusion: The proportion of fine needle and core transthoracic lung biopsies at Persahabatan Hospital is decent. The HU value influences the positivity of TTNA biopsy but not core biopsy. Puncture depth and position were not a factor influencing the positivity of TTNA and core biopsies."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2024
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Tika Indriati
"Latar belakang : Bronkoskopi merupakan tindakan penting dalam bidang pulmonologi. Bronkoskopi memiliki peran diagnostik dan terapetik pada pasien perawatan intensif yang tidak dapat ditransport ke tempat pemeriksaan pencitraan. Pasien dalam perawatan intensif dapat terintubasi ataupun tidak. Pasien terintubasi dengan ventilasi mekanis dapat mengalami pneumonia akibat virus, bakteri maupun jamur. Retensi sekresi bronkus dapat menyumbat saluran napas dan meningkatkan risiko infeksi. Metode: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil tindakan bronkoskopi pada pasien di Instalasi perawatan intensif (IPI) Rumah Sakit rujukan Respirasi Nasional Persahabatan. Desain penelitian ini yaitu deskriptif dan bersidat retrospektif berdasarkan data pada rekam medik pasien. Penelitian ini dilakukan di IPI RS Persahabatan pada bulan November 2023 sampai Februari 2024 dengan subjek penelitian yaitu pasien di IPI yang menjalani tindakan bronkoskopi pada periode 1 Januari 2022 sampai 31 Juli 2023 yang memenuhi kriteria inklusi. Besar sanpel pada penelitian ini yaitu 113 pasien. Analisis dilakukan pada 70 pasien yang menjalani tindakan bronkoskopi di IPI. Data yang diiperoleh diolah dan dianalisis univariat dengan perangkat lunak SPSS. Hasil : Median umur pasien yang menjalani tindakan bronkoskopi didapatkan 51,5 tahun, jenis kelamin laki-laki dominan (61,95%), dengan perangkat oksigenasi sebelum tindakan bronkoskopi yaitu ventilasi mekanis (90%). Pneumonia merupakan diagnosis penyakit paru terbanyak (50%). Komorbid gangguan sistem kardiovaskular terjadi pada 47,14% pasien. Indikasi tindakan bronkoskopi terbanyak yaitu retensi sputum dan atelektasis (31,43% dan 30%). Modalitas tindakan berupa bronchial toilet pada 98,57% pasien. Analgetik digunakan pada 98,52% pasien. Kombinasi analgetik, sedasi, pelumpuh otot dan ketamin serta kombinasi analgetik dan sedasi paling banyak digunakan. Parameter tanda vital paling banyak ditemukan berupa peningkatan tekanan darah dan nadi sebelum dan sesudah tindakan bronkoskopi. Temuan bronkoskopi berupa stenosis kompresi, mukosa hiperemis dan sekret mukopurulen paling banyak ditemukan. Perbaikan gambaran foto toraks setelah tindakan bronkoskopi pada 35,71% pasien. Belum tercantum dengan jelas data komplikasi dua jam pasca tindakan pada pasien di IPI, namun dan tidak didapatkan perburukan dari parameter tanda vital. Median lama perawatan di IPI pada pasien yang menjalani tindakan bronkoskopi yaitu 12 hari. Angka kesintasan pasien yang menjalani tindakan bronkoskopi di IPI yaitu 52,85%.

Background : Bronchoscopy is an important procedure in the filed of pulmonology. Bronchoscopy has diagnostic and therapeutic role for intensive care patients who cannot be transported to imaging centre. Patients in intensive care may be intubated or not. Intubated patients with mechanical ventilation can experience pneumonia caused by vruses, bacteria or fungi. Retention of bronchial secretions can obstruct the airways and increase the risk of infection. This study aims to determine the profile of bronchoscopy procedures of patient at intensive care installation at hte Persahabatan National Respiratory Center. Method : The design of thins research is descriptive and retrospektive based on data in the patient’s medical record. This research was conducted at intensive care installation Persahabatan Hospital from November 2023 to February 2024. Subject if this study are patients who underwent bronchoscopy procedures from January 1st 2023 until July 31st 2024 whi met the inclusion criteria. The sample size in this study was 113 patients. Analysis was carried out on 70 patients who underwent bronchoscopy at IPI. The data obtained were processed and analyzed univariately using SPSS software. Result : The median age of patients undergo bronchoscopy was 51.5 years, male gender was dominant (61.95%), with oxygenation devices before bronchoscopy, namely mechanical ventilation (90%). Pneumonia is the most common lung disease diagnosis (50%). Comorbid cardiovascular system disorders occurred in 47,14% of patients. The most frequent indication for bronchoscopy were sputum retention and atelectasis (31,43% and 30%). The modality of bronchoscopy was bronchial toilet in 98.52% of patients. Analgesics were used in 98.52% of patients. Combination of analgetics, sedatiopm, muscle relaxant and ketamine as well as combiantion of analgetics and sedation are most widely used. The most common vital sign parameters found were an increase in blood pressure and pulse before and after bronchoscopy. Bronchoscopy findings in the form of compression stenosis, hyperemic mucosa and mucopurulent discharge were most commonly found in patients undergoing bronchoscopy at IPI. Chest radiograph improvement after bronchoscopy in 35.71% of patients. There were no clear data on two-hours complications after the procedure, however there was no deterioration in vital sign parameters. The median length of stay at IPI for patients undergoing bronchoscopy is 12 days. The survival rate for patients who undergo bronchoscopy at IPI is 52.85%."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2024
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Tasyaa Fillahihasanah
"Latar belakang: Kanker paru menjadi penyebab kematian terbanyak di dunia.
Prevalensi kanker paru terus meningkat seiring dengan peningkatan angka harapan
hidup dan menyebarkan faktor risiko kanker. Pasien kanker paru yang sebagian
besar berupa KPKBSK rentan untuk mengalami infeksi oportunistik yang terjadi
pada saat sistem imun tubuh rendah. Salah satu jamur oportunistik yang dapat
menginfeksi adalah Pneumosistis jirovecii yang menyebabkan Pneumosistis
Pneumonia (PCP). Deteksi dini pada populasi rentan penting dilakukan untuk
mencegah keparahan penyakit. Saat ini, insidensi dan prevalensi PCP pada pasien
kanker paru di Indonesia belum cukup jelas akibat rendahnya pemantauan dan
pelaporan kasus.
Tujuan: Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui prevalensi dan gambaran klinis
PCP pada pasien KPKBSK yang belum di kemoterapi di RSUP Persahabatan,
Jakarta.
Metode: Penelitian merupakan penelitian potong lintang dengan subjek merupakan
pasien KPKBSK yang belum di kemoterapi di RSUP Persahabatan. Pasien
dilakukan induksi sputum menggunakan NaCl 3% yang kemudian dilakukan
prosedur nested-PCR untuk deteksi PCP melalui primer pada gen mtLSU rRNA.
Data pasien didapatkan dari rekam medis pasien.
Hasil: Total subjek yang mengikuti penelitian sebesar 56 pasien 1 pasien tanpa data
histopatologi. Didapatkan prevalensi PCP pada penelitian sebesar 17,9% (10
pasien). Profil klinis pasien KPKBSK di RSUP Persahabatan yang belum
dikemoterapi terbanyak pada usia 18-65 tahun sebesar 75,0% (42 pasien), jenis
kelamin laki-laki sebesar 62,5% (35 pasien), tampilan status 1 sebesar 39,2% (22
pasien), perokok aktif sebesar 62,5% (35 pasien), Indeks Brinkman kategori ringan
sebesar 44,6% (25 pasien), histopatologi terbanyak berupa adenokarsinoma sebesar
78,2% (43 pasien), dan staging terbanyak pada stadium lanjut sebesar 76,8% (43
pasien). Tidak terdapat hubungan yang signifikan (p > 0,05) antara karakteristik
sosiodemografis, staging, dan kebiasaan merokok dengan koinfeksi PCP pada
pasien KPKBSK yang belum di kemoterapi.
Simpulan: Prevalensi PCP pada pasien KPKBSK yang belum di kemoterapi
sebesar 17,9%. Karakteristik pasien terbanyak adalah usia 18-65 tahun, laki-laki,
tampilan status 1, perokok aktif, Indeks Brinkman kategori ringan, histopatologi
adenokarsinoma, serta staging stadium lanjut. Tidak ada hubungan antara
karakteristik tersebut dengan kejadian PCP pada pasien pada penelitian.

Background: Lung cancer has become the leading cause of mortality in the world.
Lung cancer prevalence and incidence keep growing for the past years attributed by
increased in life expectance and distribution of lung cancer risk factors. Most lung
cancer patients, including NSCLC type, are prone to get opportunistic infections
when the body immune system weakens. Pneumocystis jirovecii is one of fungal
aetiologies to cause this infection in immunocompromised hosts, called
Pneumocystic Pneumonia (PCP). Early detection is crucial in susceptible patients
to prevent disease progression. PCP incidence and prevalence in NSCLC patients
Indonesia is still unknown which could be caused by inadequate case surveillance
and reports
Objectives: This study aimed to determine PCP prevalence in NSCLC patients
without chemotherapy and its clinical profile in Persahabatan Hospital, Jakarta.
Methods: This cross-sectional study included NSCLC patients who had not
undergone chemotherapy treatments (naïve). Sputum induction with 3% NaCl from
patients were tested for PCP with nested-PCR targeting mtLSU rRNA gene.
Patients’ characteristics data were obtained from medical records.
Results: Data from 56 patients with NSCLC were collected including 1 patient
without histology type identified. From this research, about 17,9% patients were
tested positive for PCP. Naïve NSCLC patients in Persahabatan Hospital
characteristics 75,0% (42 patients) were aged between 18 and 65 years, 62,5% (35
patients) were males, 39,2% (22 patients) had score 1 on performance status, 62,5%
(35 patients) were active smokers, 44,6% (25 patients) had mild Brinkman Index,
most common histopathology type were adenocarcinoma attributed for 78,2% cases
(43 patients), and most patients were on advanced stage for about 76,8% (43
patients). There were no significant association (p > 0,05) between
sociodemography, staging, and smoking behaviour and PCP co-infection in naïve
NSCLC patients.
Conclusion: PCP prevalence in naïve NSCLC patients were 17,9%. Most patients
were aged between 18 to 65 years old, male, score 1 on performance status, active
smokers, mild Brinkman Index, adenocarcinoma type, and were on advanced stage.
No significant association between those factors and PCP in patients.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>