Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 97943 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Isnaini
"Pemantauan terapi obat (PTO) merupakan kegiatan farmasi klinik yang dilakukan oleh seorang apoteker yang mencakup kegiatan untuk memastikan terapi Obat yang aman, efektif dan rasional bagi pasien. Kegiatan dalam PTO meliputi pengkajian pemilihan Obat, dosis, cara pemberian Obat, respons terapi, Reaksi Obat yang Tidak Dikehendaki (ROTD), pemberian rekomendasi penyelesaian masalah terkait Obat; dan pemantauan efektivitas dan efek samping terapi Obat pada pasien untuk menurunkan risiko terjadinya Drug Related Problem (DRP). Pemantauan terapi obat harus dilakukan pada pasien yang dirawat di RSUD Tarakan Jakarta dengan komplikasi penyakit salah satunya adalah Hypertensive Heart Disease yang disertai penyakit penyerta seperti AKI, Non-insulindependent diabetes mellitus with multiple complications, Hiponatremia serta Pneumonia unspecified. Pemantauan terapi obat dilakukan selama 10 hari. Berdasarkan pengobatan yang diterima pasien untuk mengobati penyakitnya, ditemukan adanya 4 jenis DRP yaitu terapi obat yang tidak perlu, mengalami efek samping, interaksi obat dan overdose.

Medication Therapy Monitoring (MTM) is a clinical pharmacy activity performed by a pharmacist to ensure safe, effective, and rational drug therapy for patients. MTM involves assessing drug selection, dosing, administration route, therapeutic response, Adverse Drug Reactions (ADRs), providing recommendations to resolve drug-related problems (DRPs), and monitoring the effectiveness and side effects of drug therapy to reduce the risk of DRPs. MTM needs to be conducted for patients admitted to RSUD Tarakan Jakarta with complications from various diseases, including Hypertensive Heart Disease accompanied by conditions such as Acute Kidney Injury (AKI), Non-insulin-dependent diabetes mellitus with multiple complications, Hyponatremia, and unspecified Pneumonia. The drug therapy monitoring lasts for 10 days. Based on the treatment received by the patients for their respective conditions, four types of DRPs were identified: unnecessary drug therapy, experiencing side effects, drug interactions, and overdose.
"
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2023
PR-PDF
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Azzahra Hiththah Bama Bihurinin
"Pemantauan terapi obat (PTO) adalah suatu proses yang mencakup kegiatan untuk memastikan terapi obat yang aman, efektif dan rasional bagi pasien. Pemantauan terapi obat harus dilakukan secara berkesinambungan dan dievaluasi secara teratur pada periode tertentu agar keberhasilan ataupun kegagalan terapi dapat diketahui (Dinkes RI, 2009). Pasien yang ada di Gedung Cempaka Atas RSUP Persahabatan di diagnosa KAD, DM Tipe II Dan Coronary Artery Disease on Hypertensive Heart Disease. Pasien tersebut memiliki kompleksitas penyakit dan penggunaan obat, serta respons pasien yang sangat individual dapat meningkatkan munculnya masalah terkait obat. Hal tersebut menyebabkan perlunya dilakukan PTO dalam praktek profesi untuk mengoptimalkan efek terapi dan meminimalkan efek yang tidak dikehendaki. Pengkajian yang dilakukan terhadap pasien dimulai dengan mengambil data dari rekam medis seperti catatan pemberian obat, catatan perkembangan pasien terintegrasi, dan hasil pemeriksaan laboratorium. Berdasarkan hasil kegiatan Pemantauan Terapi Obat pada pasien Ny. P dengan diagnosisi Ketoasidosis Diabetikum, DM Tipe II, dan Coronary Artery Disease on Hypertensive Heart Disease dapat disimpulkan bahwa pengobatan yang didapatkan Pasien telah tepat indikasi dan dosis. Namun terdapat pengobatan yang masih belum tepat indikasi yaitu pemberian antibiotik sefoperazon. Hal ini dapat terjadi karena adanya pertimbangan terkait perkembangan klinis pasien sehingga terdapat perbedaan antara teori yang ada dengan kejadian aktualnya.

Drug Therapy Monitoring is a process that includes activities to ensure safe, effective, and rational drug therapy for patients. Drug therapy monitoring must be conducted continuously and regularly evaluated at certain intervals to determine the success or failure of therapy (Ministry of Health RI, 2009). Patients in Cempaka Atas Building, RSUP Persahabatan, diagnosed with DKA, Type II DM, and Coronary Artery Disease on Hypertensive Heart Disease, present a complexity of disease and medication use, and patient responses are highly individual, increasing the likelihood of drug-related problems. This necessitates Drug Therapy Monitoring in professional practice to optimize therapeutic effects and minimize undesired effects. The assessment of patients began by collecting data from medical records, such as medication administration notes, integrated patient progress notes, and laboratory test results. Based on the Drug Therapy Monitoring activities for Mrs. P, diagnosed with Diabetic Ketoacidosis, Type II DM, and Coronary Artery Disease on Hypertensive Heart Disease, it can be concluded that the patient's treatment was appropriate in terms of indication and dosage. However, there was a medication that was not indicated correctly, namely the administration of the antibiotic cefoperazone. This discrepancy may arise from considerations related to the patient's clinical development, resulting in differences between theoretical knowledge and actual events.
"
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2023
PR-PDF
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Anfa Adnia Fatma
"Congestive Heart Failure (CHF) merupakan ketidakmampuan jantung untuk memompa darah untuk memenuhi kebutuhan oksigen dan nutrisi ke jaringan tubuh. Hipertensive Heart Disease (HHD) adalah suatu penyakit yang berkaitan dengan dampak sekunder pada jantung karena hipertensi sistemik yang berkepanjangan. CHF dan HHD sering terjadi dikarenakan hipertensi dan merupakan penyebab utama kematian. Ateroskeloris dapat terjadi karena adanya peningkatan dari kadar kolesterol yang tidak normal sehingga mengakibatkan adanya akumulasi kolesterol di dalam dinding pembuluh darah. Diabetes Melitus merupakan gangguan metabolik yang ditandai dengan kadar gula darah yang melebihi batas normal. Pneumonia adalah infeksi radang paru yang disebabkan oleh mikroorganisme. Pemantauan terapi obat pada pasien dilakukan dengan mengambil data pasien dengan cara observasi dengan melakukan visite. Selanjutnya dilakukan studi literatur melalui data rekam medis pasien, e-book, peraturan pemerintah, maupun sumber lain. Diperoleh hasil bahwa pasien dengan diagnosis congestive heart failure ec hypertensive heart disease, atherosclerotic heart disease, diabetes mellitus dan pneumonia adanya ketidaksesuaian dosis penggunaan insulin berdasarkan dosis harian PERKENI. Pada pengobatan pasien adanya potensi interaksi obat pada sucralfate dan furosemide, sehingga perlu dijeda dalam pemberian obat. Interaksi obat pada humalog dan lantus, serta furosemide dan humalog yang diberikan secara bersamaan perlu dilakukan monitoring gula darah pasien. Analisis diinterpretasikan dalam bentuk SOAP sebagai komunikasi tertulis untuk menyampaikan rekomendasi kepada Dokter Penanggung Jawab Pelayanan (DPJP).
Congestive Heart Failure (CHF) is the inability of the heart to pump blood to fulfill the oxygen and nutrients to body tissues. Hypertensive Heart Disease (HHD) is a disease associated with secondary impacts on the heart due to prolonged systemic hypertension. CHF and HHD often occur due to hypertension and are the main causes of death. Atherosclerosis can occur due to an increase in abnormal cholesterol levels, resulting in the accumulation of cholesterol in the walls of blood vessels. Diabetes Mellitus is a metabolic disorder characterized by blood sugar levels that exceed normal limits. Pneumonia is an inflammatory lung infection caused by microorganisms. Monitoring drug therapy in patients is carried out by collecting patient data by observing by conducting visits. Next, a literature study was carried out using patient medical record data, e-books, government regulations, and other sources. The results showed that patients with a diagnosis of congestive heart failure ec hypertensive heart disease, atherosclerotic heart disease, diabetes mellitus and pneumonia had a mismatch in insulin dosage based on the PERKENI daily dose. In patient treatment, there is a potential for drug interactions with sucralfate and furosemide, so it is necessary to pause the administration of the drug. Drug interactions with humalog and lantus, as well as furosemide and humalog given simultaneously require monitoring of the patient's blood sugar. The analysis is interpreted in SOAP form as written communication to convey recommendations to the Doctor in Charge of Services (DPJP)."
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2023
PR-PDF
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Darsih Sarastri
"Kegiatan Pemantauan Terapi Obat (PTO) di Rumah Sakit dilakukan oleh Apoteker untuk mencegah, mengidentifikasi dan memberikan rekomendari penyelesaian terkait permasalahan yang terjadi. Salah satu kriteria kondisi pasien yang menjadi target kegiatan PTO yaitu komplikasi penyakit dan polifarmasi. Komplikasi dan polifarmasi sering kali ditemui pada pasien Diabetes Melitus yang tidak diobati dengan optimal. Penelitian dilakukan untuk mengevaluasi masalah terkait obat dan memberikan rekomendasi penyelesaian masalah terkait obat pada pasien Diabetes Melitus dengan komorbid di rawat inap RSUD Cengkareng. Kegiatan PTO dilakukan pada pasien dengan kriteria berupa pasien dewasa dengan diagnosis Diabetes Melitus disertai komorbid yang menerima pengobatan rawat inap selama 20 September – 3 Oktober 2023. Data pasien yang diperoleh dari catatan rekam medis pasien, catatan perkembangan pasien terpadu dan kegiatan visite selanjutnya dilakukan observasi, pemantauan perkembangan terapi, identifikasi masalah dan rekomendasi tidak lanjut. Hasil PTO pada pasien Ny.S yaitu terdapat beberapa permasalahan terkait obat yang ditemukan. Permasalahan terkait obat yang teridentifikasi yaitu terdapat obat yang tidak sesuai indikasi pasien (Ondansetron), masalah terkait lama pemberian obat (Omeprazole injeksi), dan obat yang kontraindikasi dengan kondisi pasien (Metformin). Rencana tindak lanjut terkait permasalahan obat yang telah diidentifikasi yaitu melakukan komunikasi dengan DPJP terkait masalah dan memberikan rekomendasi kepada DPJP untuk mempertimbangkan terapi dengan obat lain.

Medication Therapy Monitoring (MTM) activities in hospitals are conducted by pharmacists to prevent, identify, and provide recommendations for resolving related issues. One criterion for patient conditions targeted by MTM activities includes disease complications and polypharmacy. Complications and polypharmacy are often encountered in patients with suboptimally managed Diabetes Mellitus. Research is conducted to evaluate medication-related issues and provide recommendations for resolving them in Diabetes Mellitus patients with comorbidities admitted to RSUD Cengkareng. MTM activities are performed on adult patients diagnosed with Diabetes Mellitus accompanied by comorbidities receiving inpatient treatment from September 20 to October 3, 2023. Patient data obtained from medical records, integrated patient progress notes, and subsequent visit activities involve observation, therapy progress monitoring, problem identification, and recommendations. The MTM results for patient Ny.S reveal several identified medication-related issues. These include medications not matching patient indications (Ondansetron), issues related to the duration of drug administration (Omeprazole injection), and medications contraindicated with the patient's condition (Metformin). The follow-up plan for identified medication issues involves communicating with the attending physician regarding the problems and recommending consideration of alternative therapies.
"
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2023
PR-PDF
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Noviana
"Rumah sakit ialah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat. Dimana diperlukan pelayanan kefarmasian yang berkontribusi dalam institusi pelayanan di rumah sakit. Salah satu cara untuk meningkatkan mutu pasien yaitu dengan pelaksanaan Pematauan Terapi Obat (PTO) pasien. Pemantauan Terapi Obat (PTO) adalah suatu proses yang bertujuan memastikan bahwa terapi obat yang diberikan kepada pasien adalah aman, efektif, dan sesuai dengan kebutuhan mereka. PTO berperan dalam meningkatkan efektivitas terapi dan mengurangi risiko efek samping obat yang tidak diinginkan. Kegiatan PTO mencakup evaluasi terhadap pemilihan obat, dosis yang diberikan, cara pemberian obat, respons pasien terhadap terapi yang diberikan, serta deteksi reaksi obat yang tidak diharapkan (ROTD). Hasil dari PTO dapat berupa rekomendasi perubahan dalam terapi obat yang sedang berjalan atau alternatif terapi yang lebih sesuai. Peran seorang apoteker dalam Pemantauan Terapi Obat (PTO) sangat penting karena memiliki peran memastikan bahwa pasien menerima obat sesuai dengan rekomendasi dokter, memonitor respons pasien terhadap terapi, memberikan informasi yang relevan tentang obat, dan mengidentifikasi serta mencegah potensi interaksi obat yang berbahaya. Sehingga pasien menerima manfaat maksimal dari pengobatan yang diterima. Hasil Pematauan Terapi Obat (PTO) Ny. LA, pasien menerima terapi yang sesuai dengan diagnosa dan keluhan pasien, namun terjadi beberapa Drug Related Problem seperti interaksi obat, dosis terlalu rendah, dan reaksi obat merugikan seperti efek samping obat dan obat kontraindikasi. Dilakukan Intervensi atas masalah pengobatan Ny. LA dan intervensi diterima kemudian dilakukan penyesuaian terkait terapi pasien.

A hospital is a health care institution that organizes comprehensive individual health services that provide inpatient, outpatient, and emergency services. Where pharmaceutical services are needed that contribute to service institutions in hospitals. One way to improve patient quality is through the implementation of patient Drug Therapy Monitoring (PTO). Drug Therapy Monitoring (PTO) is a process aimed at ensuring that the drug therapy given to patients is safe, effective, and appropriate to their needs. PTO plays a role in improving the effectiveness of therapy and reducing the risk of unwanted drug side effects. PTO activities include evaluation of drug selection, dosage, mode of administration, patient response to therapy, and detection of adverse drug reactions (ROTDs). The outcome of PTO may be recommendations for changes in current drug therapy or alternative, more appropriate therapies. The role of a pharmacist in Drug Therapy Monitoring (PTO) is very important because it has the role of ensuring that patients receive drugs in accordance with the doctor's recommendations, monitoring the patient's response to therapy, providing relevant information about drugs, and identifying and preventing potential dangerous drug interactions. So that patients receive the maximum benefit from the treatment received. The results of Mrs. LA's Drug Therapy Monitoring (PTO), the patient received therapy in accordance with the diagnosis and patient complaints, but there were several Drug Related Problems such as drug interactions, too low doses, and adverse drug reactions such as drug side effects and contraindicated drugs. Intervention was carried out on Mrs. LA's treatment problems and the intervention was accepted and adjustments were made regarding the patient's therapy.
"
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2023
PR-PDF
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Aisyah Octaviani Putri
"Tuberkulosis (TB) dan Human Immunodeficiency Virus (HIV) menjadi beban utama penyakit menular terutama di negara-negara berpenghasilan rendah. Pada pasien penderita Tuberkulosis dengan adanya infeksi penyerta seperti koinfeksi HIV, diestimasikan akan meningkatkan risiko terjadinya drug-induced liver injury (DILI) akibat OAT sebanyak 4 kali lipat. Dilakukan pemantauan terapi obat ini untuk menganalisis masalah terkait obat (MTO)/ Drug’s Related Problem (DRP) yang terjadi pada pengobatan pasien dan memberikan rekomendasi tindak lanjut menggunakan metode SOAP. Diperoleh hasil bahwa pasien memiliki diagnosis ikterus obstruktif, anemia normositik normokrom, hiponatremia hipoosmolar euvolemik, Dili et causa OAT, HIV on ARV, TB on OAT dan terdapat interaksi obat kategori antara sukralfat dengan dolutegravir yang menyebabkan Sukralfat menurunkan efek dari dolutegravir dengan pengikatan kation dlm saluran GI. Hasil analisis DRP disajikan dalam SOAP sebagai komunikasi tertulis untuk menyampaikan rekomendasi kepada dokter penanggung jawab (DPJP).

Tuberculosis (TB) and Human Immunodeficiency Virus (HIV) are the main burden of infectious diseases, especially in low-income countries. In patients suffering from Tuberculosis with accompanying infections such as HIV co-infection, it is estimated that the risk of drug-induced liver injury (DILI) due to OAT will increase by 4 times. This drug therapy monitoring is carried out to analyze drug-related problems (MTO)/Drug-Related Problems (DRP) that occur during patient treatment and provide follow-up recommendations using the SOAP method. The results showed that the patient had a diagnosis of obstructive jaundice, normochromic normocytic anemia, euvolemic hypoosmolar hyponatremia, Dili et causa OAT, HIV on ARV, TB on OAT and there was a major category of drug interaction between sucralfate and dolutegravir which caused Sucralfate to reduce the effect of dolutegravir by binding cations in GI tract. The results of the DRP analysis are presented in SOAP as written communication to convey recommendations to the doctor in charge (DPJP).
"
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2023
PR-PDF
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Andini Nadya Putri
"Penyakit gagal ginjal kronik (CKD) adalah kondisi yang terjadi karena kerusakan pada ginjal dan/atau penurunan laju filtrasi glomerulus (GFR) di bawah 60 mL/menit/1,73 m2 selama lebih dari tiga bulan. Prevalensi CKD meningkat secara global, termasuk di Indonesia, dengan hipertensi dan nefropati diabetik sebagai penyakit penyerta utama. Terapi untuk pasien CKD dengan komplikasi hipertensi dan diabetes melitus sering kali melibatkan terapi polifarmasi, meningkatkan risiko masalah terkait obat atau drug-related problems (DRPs). Pemantauan terapi obat (PTO) merupakan proses penting untuk memastikan keamanan, efektivitas, dan rasionalitas pengobatan yang diterima pasien. PTO dilakukan pada pasien dengan diagnosis CKD yang menjalani hemodialisis dengan penyakit penyerta hipertensi dan diabetes melitus tipe 2. PTO dilakukan melalui pengumpulan data primer dari wawancara pasien dan keluarganya, serta data sekunder dari rekam medis dan catatan medis lainnya. Metode Hepler dan Strand digunakan dalam menganalisis DRPs. Hasil PTO menunjukkan tiga kategori DRP teridentifikasi, di antaranya dosis obat terlalu tinggi, indikasi tanpa obat, dan pemilihan obat yang kurang tepat. Semua DRP yang ditemukan telah diatasi dengan rekomendasi terapi alternatif yang sesuai dengan persetujuan dokter penanggung jawab.

Chronic kidney disease (CKD) is a condition that occurs due to damage to the kidneys and/or a decrease in the glomerular filtration rate (GFR) below 60 mL/min/1.73 m2 for more than three months. The prevalence of CKD is increasing globally, including in Indonesia, with hypertension and diabetic nephropathy as the main comorbidities. Therapy for CKD patients with complications of hypertension and diabetes mellitus often involves polypharmacy, increasing the risk of drug-related problems (DRPs). Drug therapy monitoring (DTM) is an essential process to ensure the safety, efficacy, and rationality of the treatment received by patients. DTM was conducted on patients with a diagnosis of CKD undergoing hemodialysis with comorbidities of hypertension and type 2 diabetes mellitus. DTM was conducted by collecting primary data from interviews with patients and their families, as well as secondary data from medical records and other medical documents. The Hepler and Strand method was used to analyze DRPs. The results of DTM showed three categories of DRPs identified, including excessive drug dosage, indication without medication, and inappropriate drug selection. All DRPs found have been addressed with recommendations for alternative therapies in accordance with the approval of the responsible physician.
"
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2023
PR-PDF
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Avida In Amy
"ABSTRAK
Pneumonia adalah infeksi paru-paru yang disebabkan oleh mikroorganisme seperti bakteri, virus, dan jamur, mengakibatkan konsolidasi jaringan paru dan gangguan pertukaran gas. Di DKI Jakarta, prevalensinya sebesar 2,2% pada tahun 2018. Pelayanan kefarmasian di rumah sakit, termasuk RSUD Cengkareng, mencakup pengelolaan sediaan farmasi dan pelayanan farmasi klinis. Pemantauan terapi obat pada pasien pneumonia dengan komorbiditas hipertensi dan PPOK bertujuan memastikan terapi yang aman, efektif, dan rasional, serta mengidentifikasi masalah terkait obat (DRP). Penelitian menunjukkan beberapa DRP, seperti ketidaksesuaian pemberian obat antihipertensi ACEI yang memperburuk batuk dan pemberian omeprazole tanpa indikasi jelas. Identifikasi dan pemantauan DRP bertujuan meningkatkan keberhasilan terapi dan kualitas hidup pasien.

ABSTRACT
Pneumonia is a lung infection caused by microorganisms such as bacteria, viruses, and fungi, resulting in the consolidation of lung tissue and impaired gas exchange. In DKI Jakarta, the prevalence was 2.2% in 2018. Pharmaceutical services in hospitals, including Cengkareng Regional Hospital, include management of pharmaceutical preparations and clinical pharmacy services. Monitoring drug therapy in pneumonia patients with comorbid hypertension and COPD aims to ensure safe, effective, and rational therapy, as well as identify drug-related problems (DRP). Research shows several DRPs, such as inappropriate administration of ACEI antihypertensive drugs which worsen coughs, and administration of omeprazole without clear indications. Identification and monitoring of DRP aims to improve the success of therapy and the patient's quality of life."
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2023
PR-PDF
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Juise Fennia Putri
"Pemantauan Terapi Obat (PTO) merupakan suatu proses yang mencakup kegiatan untuk memastikan terapi Obat yang aman, efektif dan rasional bagi pasien. Tujuan PTO adalah meningkatkan efektivitas terapi dan meminimalkan risiko Reaksi Obat yang Tidak Dikehendaki. Pasien yang mendapatkan terapi obat mempunyai risiko mengalami masalah terkait obat. Pasien Geriatri merupakan pasien lanjut usia dengan multi penyakit dan/atau gangguan akibat penurunan fungsi organ, psikologi, sosial, ekonomi dan lingkungan yang membutuhkan pelayanan kesehatan secara terpadu. Metode yang digunakan dalam laporan ini adalah studi prospektif melalui lembar instruksi harian pasien (buku list terapi pasien), catatan rekam medik pasien, terapi farmakologi dan catatan SOAP pasien pada sistem rumah sakit (SIMRS PRIMA). Apoteker farmasi klinis memegang penting peranan dalam pemantauan terapi obat dalam rangka memaksimalkan keselamatan dan kualitas hidup pasien.

Drug Therapy Monitoring (PTO) is a process that includes activities to ensure safe, effective and rational drug therapy for patients. The goal of PTO is to increase the effectiveness of therapy and minimize the risk of Adverse Drug Reactions. Patients receiving drug therapy are at risk of experiencing drug-related problems. Geriatric patients are elderly patients with multiple diseases and/or disorders due to decreased organ, psychological, social, economic and environmental function who require integrated health services. The method used in this report is a prospective study using the patient's daily instruction sheet (patient therapy list book), patient medical records, pharmacological therapy and patient SOAP notes in the hospital system (SIMRS PRIMA). Clinical pharmacy pharmacists play an important role in monitoring drug therapy in order to maximize patient safety and quality of life.
"
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2023
PR-PDF
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Valentina Novita Sari Bago
"Drug Related Problem (DRPs) adalah kesalahan pengobatan yang mempengaruhi pada outcome klinis dari pasien. Jika tidak dikelola dengan baik, mengakibatkan dampak yang lebih luas dan serius bahkan sampai terjadi kejadian sentinel. Di Puskesmas Kecamatan Kalideres terdapat poli PTM yang melayani pasien dengan penyakit kronis seperti hipertensi, diabetes melitus tipe 2, hiperglikemia dan sebagainya. Pasien poli PTM ini biasa mendapat resep yang berisikan obat polifarmasi yang berisiko terjadi Drug Related Problems (DRPs). Oleh karena itu pada penulisan tugas khusus ini dilakukan pengidentifikasian jenis DRP yang terjadi pada pasien poli PTM di Puskesmas Kecamatan Kalideres pada periode April 2023. Metode yang digunakan adalah pengklasifikasi DRP berdasarkan Hepler-Strand dan kemudian direkomendasikan penyelesaian permasalahan berdasarkan literatur. DRPs menurut Hepler-Strand diklasifikasikan sebagai berikut: 1) Pemilihan obat yang tidak tepat; 2) Dosis Subterapeutik; 3) Kegagalan menerima obat; 4) Overdosis; 5) Reaksi obat yang merugikan; 6) Interaksi obat ; 7) Penggunaan obat tanpa indikasi dan; 8) Indikasi yang tidak diobati. Berdasarkan hasil validasi yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa dari 5 resep pasien Poli PTM di Puskesmas Kecamatan Kalideres yang diindentifikasi DRPs, terdapat 1 resep yang tidak terdapat DRP dan 4 resep lainnya terdapat DRP. DRP yang didapat adalah terjadinya interaksi obat dan penggunaan obat tanpa indikasi.

Drug Related Problems (DRPs) are medication errors that affect the clinical outcomes of patients. If not managed properly, it can have a wider and more serious impact and even lead to sentinel events. At the Kalideres Sub-district Health Center, there is a NCD clinic that serves patients with chronic diseases such as hypertension, type 2 diabetes mellitus, hyperglycemia and so on. These NCD poly patients usually receive prescriptions containing polypharmacy drugs that are at risk of Drug Related Problems (DRPs). Therefore, in this special assignment writing, the types of DRPs that occurred in Poly PTM patients at the Kalideres District Health Center in the April 2023 period were identified. The method used is DRP classification based on Hepler-Strand and then recommended problem solving based on the literature. DRPs according to Hepler-Strand are classified as follows: 1) Inappropriate drug selection; 2) Subtherapeutic dose; 3) Failure to receive the drug; 4) Overdose; 5) Adverse drug reactions; 6) Drug interactions; 7) Use of drugs without indications and; 8) Untreated indications. Based on the results of the validation carried out, it can be concluded that of the 5 prescriptions of PTM Poly patients at the Kalideres Subdistrict Health Center that DRPs were identified, there was 1 prescription that did not have DRPs and 4 other prescriptions had DRPs. DRPs obtained are the occurrence of drug interactions and the use of drugs without indications.
"
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2023
PR-PDF
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>