Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 75482 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Avida In Amy
"ABSTRAK
Pneumonia adalah infeksi paru-paru yang disebabkan oleh mikroorganisme seperti bakteri, virus, dan jamur, mengakibatkan konsolidasi jaringan paru dan gangguan pertukaran gas. Di DKI Jakarta, prevalensinya sebesar 2,2% pada tahun 2018. Pelayanan kefarmasian di rumah sakit, termasuk RSUD Cengkareng, mencakup pengelolaan sediaan farmasi dan pelayanan farmasi klinis. Pemantauan terapi obat pada pasien pneumonia dengan komorbiditas hipertensi dan PPOK bertujuan memastikan terapi yang aman, efektif, dan rasional, serta mengidentifikasi masalah terkait obat (DRP). Penelitian menunjukkan beberapa DRP, seperti ketidaksesuaian pemberian obat antihipertensi ACEI yang memperburuk batuk dan pemberian omeprazole tanpa indikasi jelas. Identifikasi dan pemantauan DRP bertujuan meningkatkan keberhasilan terapi dan kualitas hidup pasien.

ABSTRACT
Pneumonia is a lung infection caused by microorganisms such as bacteria, viruses, and fungi, resulting in the consolidation of lung tissue and impaired gas exchange. In DKI Jakarta, the prevalence was 2.2% in 2018. Pharmaceutical services in hospitals, including Cengkareng Regional Hospital, include management of pharmaceutical preparations and clinical pharmacy services. Monitoring drug therapy in pneumonia patients with comorbid hypertension and COPD aims to ensure safe, effective, and rational therapy, as well as identify drug-related problems (DRP). Research shows several DRPs, such as inappropriate administration of ACEI antihypertensive drugs which worsen coughs, and administration of omeprazole without clear indications. Identification and monitoring of DRP aims to improve the success of therapy and the patient's quality of life."
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2023
PR-PDF
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Nurlaila Afriliah
"Pemantauan Terapi Obat (PTO) adalah kegiatan yang memastikan pengobatan yang diberikan kepada pasien efektif, aman, dan rasional. Kondisi pasien yang memerlukan pemantauan terapi obat antara lain pasien dengan lebih dari satu penyakit dan polifarmasi, pasien dengan gangguan fungsi organ hati dan ginjal, dan pasien geriatri. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji pemantauan terapi obat salah satu pasien rawat inap di RSUD Tarakan. Pasien yang dipantau terapi obatnya adalah pasien geriatri radikulopati serviks dengan penyakit penyerta hipertensi, cedera ginjal akut, dan perdarahan saluran pencernaan atas di RSUD Tarakan. Pemantauan terapi obat dilakukan selama 16 hari dengan metode retrospektif dan wawancara. Hasil penelitian yaitu terapi pengobatan yang diberikan ke pasien sudah tepat indikasi dan tepat dosis tetapi masih terdapat masalah interaksi obat, efek samping obat, dan kegagalan menerima obat. Masalah terkait obat ini dapat diatasi dengan pemberian jeda pemakaian obat, monitoring efek samping, dan perbaikan sistem distribusi rumah sakit. Kesimpulan penelitian yaitu terapi pengobatan sudah tepat indikasi dan dosis tetapi masih terdapat beberapa masalah terkait obat yaitu interaksi, efek samping, dan kegagalan menerima obat.

Therapeutic Drug Monitoring (TDM) is an activity that ensures that the treatment given to patients is effective, safe, and rational. Patient conditions that require monitoring of drug therapy include patients with more than one disease and polypharmacy, patients with impaired liver and kidney function, and geriatric patients. This study aims to examine the monitoring of drug therapy in one of the inpatients at Tarakan Regional Hospital. Patients whose drug therapy was monitored were geriatric cervical radiculopathy patients with comorbidities such as hypertension, acute kidney injury, and upper gastrointestinal bleeding at Tarakan Regional Hospital. Drug therapy monitoring was carried out for 16 days using retrospective methods and interviews. The results of the study are that the treatment therapy given to patients had the right indications and the right dosage, but there were still problems with drug interactions, drug side effects, and failure to receive the drug. Problems related to this drug can be overcome by giving breaks in drug use, monitoring side effects, and improving the hospital distribution system. This study concludes that medical therapy had the correct indications and dosage but there were still several problems related to the drug, namely interactions, side effects, and failure to receive the drug.
"
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2023
PR-PDF
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Aisyah Octaviani Putri
"Tuberkulosis (TB) dan Human Immunodeficiency Virus (HIV) menjadi beban utama penyakit menular terutama di negara-negara berpenghasilan rendah. Pada pasien penderita Tuberkulosis dengan adanya infeksi penyerta seperti koinfeksi HIV, diestimasikan akan meningkatkan risiko terjadinya drug-induced liver injury (DILI) akibat OAT sebanyak 4 kali lipat. Dilakukan pemantauan terapi obat ini untuk menganalisis masalah terkait obat (MTO)/ Drug’s Related Problem (DRP) yang terjadi pada pengobatan pasien dan memberikan rekomendasi tindak lanjut menggunakan metode SOAP. Diperoleh hasil bahwa pasien memiliki diagnosis ikterus obstruktif, anemia normositik normokrom, hiponatremia hipoosmolar euvolemik, Dili et causa OAT, HIV on ARV, TB on OAT dan terdapat interaksi obat kategori antara sukralfat dengan dolutegravir yang menyebabkan Sukralfat menurunkan efek dari dolutegravir dengan pengikatan kation dlm saluran GI. Hasil analisis DRP disajikan dalam SOAP sebagai komunikasi tertulis untuk menyampaikan rekomendasi kepada dokter penanggung jawab (DPJP).

Tuberculosis (TB) and Human Immunodeficiency Virus (HIV) are the main burden of infectious diseases, especially in low-income countries. In patients suffering from Tuberculosis with accompanying infections such as HIV co-infection, it is estimated that the risk of drug-induced liver injury (DILI) due to OAT will increase by 4 times. This drug therapy monitoring is carried out to analyze drug-related problems (MTO)/Drug-Related Problems (DRP) that occur during patient treatment and provide follow-up recommendations using the SOAP method. The results showed that the patient had a diagnosis of obstructive jaundice, normochromic normocytic anemia, euvolemic hypoosmolar hyponatremia, Dili et causa OAT, HIV on ARV, TB on OAT and there was a major category of drug interaction between sucralfate and dolutegravir which caused Sucralfate to reduce the effect of dolutegravir by binding cations in GI tract. The results of the DRP analysis are presented in SOAP as written communication to convey recommendations to the doctor in charge (DPJP).
"
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2023
PR-PDF
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Novia
"Infeksi laten tuberkulosis merupakan keadaan tubuh yang tidak menunjukkan gejala saat terserang bakteri Mycobacterium tuberculosis. Infeksi laten dapat berkembang menjadi tuberculosis aktif sehingga perlu diberikan terapi pencegahan tuberkulosis. Salah satu tenaga kesehatan yang berperan dalam penanganan infeksi laten tuberkulosis di rumah sakit adalah apoteker. Informasi mengenai terapi pencegahan tuberkulosis dapat diberikan kepada sesama tenaga kesehatan, pasien, keluarga pasien atau pihak lain di luar rumah sakit. Pelayanan informasi obat dapat dilakukan melalui penerbitan media informasi seperti buklet. Laporan ini bertujuan untuk menyusun buklet terapi pencegahan tuberkulosis. Penyusunan buklet dilakukan dengan metode studi literatur pada peraturan tata laksana terapi pencegahan tuberkulosis yang berlaku di Indonesia. Desain buklet dilakukan dengan menggunakan aplikasi Canva pada kertas ukuran B5. Buklet terdiri dari 16 halaman yang terbagi menjadi cover, isi, daftar pustaka, dan kontak Rumah Sakit Universitas Indonesia.
Latent tuberculosis infection is a state of the body that has no symptoms when attacked by Mycobacterium tuberculosis bacteria. Latent infection can develop into active tuberculosis so it is necessary to provide preventive therapy for tuberculosis. One of the medical personnel who plays a role in managing latent tuberculosis infection in hospitals is the pharmacist. Information on tuberculosis preventive therapy can be provided to fellow health workers, patients, patients' families, or other parties outside the hospital. Drug information services can be carried out through the publication of information media such as booklets. This report aims to develop a booklet on tuberculosis prevention therapy. The preparation of the booklet was carried out using a literature study method on the regulations on the management of tuberculosis preventive therapy applicable in Indonesia. The booklet design was done using the Canva application on B5-size paper. The booklet consisted of 16 pages divided into cover, content, bibliography, and University of Indonesia Hospital contact."
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2023
PR-PDF
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Hasyatillah
"Praktik kerja profesi apoteker di RSUP Persahabatan bertujuan untuk mengevaluasi masalah terkait obat/drug related problem (DRP) pada pasien NSTEMI, CHF karena CAD di ruang rawat inap RSUP Persahabatan dengan menggunakan metode Cipolle. Serta memberikan rekomendasi terkait DRP yang ditemukan pada pasien dan monitoring hasil rekomendasi DRP tersebut. Metode pelaksanaan yang digunakan dalam laporan ini adalah studi prospektif melalui lembar instruksi harian pasien (buku list terapi pasien), catatan rekam medik pasien, terapi farmakologi dan catatan SOAP pasien pada sistem rumah sakit (SIMRS PRIMA). Drug Related Problem (DRP) yang ditemukan pada pemantauan terapi obat ini adalah interaksi obat yang terjadi (bisoprolol dan ISDN) dan interaksi obat yang tidak terjadi (fondaparinux dan miniaspi) juga ada indikasi tanpa obat (pasien hipotermia belum mendapatkan terapi). Rekomendasi yang dilakukan pada DRP interaksi obat yang terjadi adalah penghentian penggunaan salah satu atau kedua obat. Sedangkan pada interaksi obat yang tidak terjadi hanya dilakukan monitoring gejala klinis, kadar natrium dan tekanan darah pasien. Pada DRP ada indikasi tanpa obat disarankan penambahan terapi NaCl kapsul dan monitoring kadar natrium.

The professional pharmacist practice at Persahabatan Hospital aims to evaluate drug-related problems (DRPs) in NSTEMI and CHF patients due to CAD in the inpatient ward using the Cipolle method. It also involves providing recommendations regarding identified DRPs in patients and monitoring the outcomes of these recommendations. The implementation method used in this report is prospective study through patient daily instruction sheets (patient therapy list book), patient medical records, pharmacological therapy, and SOAP notes in the hospital's information system (SIMRS PRIMA). Drug-related problems identified during drug therapy monitoring include drug interactions (bisoprolol and ISDN), potential drug interactions (fondaparinux and aspirin), and indication without medication (hypothermia patient without therapy). Recommendations made for the drug interaction that occurred involve discontinuation of one or both drugs. For the potential drug interaction, clinical symptom monitoring, sodium levels, and blood pressure of the patient were recommended. Regarding the indication without medication DRP, the recommendation includes adding NaCl capsules therapy and monitoring sodium levels.
"
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2023
PR-PDF
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Grace Wilmayanti
"Pemantauan Terapi Obat (PTO), yaitu kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan efektivitas terapi, meminimalkan risiko terjadinya Reaksi Obat yang Tidak Dikehendaki (ROTD), dan melindungi pasien dari penggunaan obat tidak rasional sehingga meningkatkan keselamatan pasien. Salah satu kriteria pasien yang penting dilakukan PTO adalah pasien pediatri. Massa skrotum membesar (hernia) merupakan suatu keluhan umum yang ditemukan di poliklinik urinologi. Keadaan ini dapat ditemukan pada berbagai usia mulai dari pasien pediatrik, dewasa, sampai pasien geriatri. Hospital-acquired Pneumonia (HAP) merupakan salah satu infeksi nosokomial pada jaringan parenkim paru yang berkembang minimal 48 jam saat pasien dirawat di Rumah Sakit. Kegiatan Pemantauan Terapi Obat (PTO) dilaksanakan selama Praktik Kerja Profesi Apoteker (PKPA) di Pediatric Intensive Care Unit (PICU) RSPAD Gatot Soebroto secara on-going selama 7 hari. Pasien pediatrik atas nama An. FBA sejak tanggal 12 sampai 18 Juni 2023 di PICU RSPAD Gatot Soebroto. Adapun kondisi pasien terdiagnosis HAP membaik, nyeri post op. herniotomi ec hernia scrotalis dextra strangulate minimal, kejang ec electrolyte imbalance belum membaik, dan diagnosis terbaru susp. meningitis. Ditemukan masalah pasien mengalami hipoalbuminemia sejak tanggal 9 Juni 2023 dan belum mendapatkan terapi albumin oral atau iv. Rekomendasi yang disetujui untuk diimplementasikan adalah terapi Albumin mulai tanggal 15 Juni 2023.

TDM is performed to increase the effectiveness of therapy, minimize the risk of Adverse Drug Reaction (ADR), and protecting patients from irrational medication thereby increasing patient safety. One of the patient criteria that is important to get TDM is pediatric patients. An enlarged scrotal mass (hernia) is a common complaint found in urology clinics. This condition can be found in various ages, from pediatric patients, adults, to geriatric patients. Hospital-acquired pneumonia (HAP) is a nosocomial infection of lung parenchymal tissue that develops with an incubation period of at least 48 hours when the patient is hospitalized. TDM practices are carried out during Pharmacist Professional Work Practices (PKPA) in the Pediatric Intensive Care Unit (PICU) of RSPAD Gatot Soebroto continuously for 7 days. Pediatric patient, named An. FBA, started from June 12th to 18th 2023 at PICU RSPAD Gatot Soebroto. Patients was diagnosed with improved of HAP, post-operative pain. herniotomy ec dextra strangulate scrotalis hernia is minimal, spasm ec electrolyte imbalance has not improved, and the latest diagnosis is susp. meningitis. It was discovered that the patient had experienced hypoalbuminemia since June 9th 2023 and had not received oral or IV albumin therapy. The recommendation approved for implementation is Albumin therapy starting June 15th 2023.
"
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2023
PR-PDF
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Isnaini
"Pemantauan terapi obat (PTO) merupakan kegiatan farmasi klinik yang dilakukan oleh seorang apoteker yang mencakup kegiatan untuk memastikan terapi Obat yang aman, efektif dan rasional bagi pasien. Kegiatan dalam PTO meliputi pengkajian pemilihan Obat, dosis, cara pemberian Obat, respons terapi, Reaksi Obat yang Tidak Dikehendaki (ROTD), pemberian rekomendasi penyelesaian masalah terkait Obat; dan pemantauan efektivitas dan efek samping terapi Obat pada pasien untuk menurunkan risiko terjadinya Drug Related Problem (DRP). Pemantauan terapi obat harus dilakukan pada pasien yang dirawat di RSUD Tarakan Jakarta dengan komplikasi penyakit salah satunya adalah Hypertensive Heart Disease yang disertai penyakit penyerta seperti AKI, Non-insulindependent diabetes mellitus with multiple complications, Hiponatremia serta Pneumonia unspecified. Pemantauan terapi obat dilakukan selama 10 hari. Berdasarkan pengobatan yang diterima pasien untuk mengobati penyakitnya, ditemukan adanya 4 jenis DRP yaitu terapi obat yang tidak perlu, mengalami efek samping, interaksi obat dan overdose.

Medication Therapy Monitoring (MTM) is a clinical pharmacy activity performed by a pharmacist to ensure safe, effective, and rational drug therapy for patients. MTM involves assessing drug selection, dosing, administration route, therapeutic response, Adverse Drug Reactions (ADRs), providing recommendations to resolve drug-related problems (DRPs), and monitoring the effectiveness and side effects of drug therapy to reduce the risk of DRPs. MTM needs to be conducted for patients admitted to RSUD Tarakan Jakarta with complications from various diseases, including Hypertensive Heart Disease accompanied by conditions such as Acute Kidney Injury (AKI), Non-insulin-dependent diabetes mellitus with multiple complications, Hyponatremia, and unspecified Pneumonia. The drug therapy monitoring lasts for 10 days. Based on the treatment received by the patients for their respective conditions, four types of DRPs were identified: unnecessary drug therapy, experiencing side effects, drug interactions, and overdose.
"
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2023
PR-PDF
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Noviana
"Rumah sakit ialah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat. Dimana diperlukan pelayanan kefarmasian yang berkontribusi dalam institusi pelayanan di rumah sakit. Salah satu cara untuk meningkatkan mutu pasien yaitu dengan pelaksanaan Pematauan Terapi Obat (PTO) pasien. Pemantauan Terapi Obat (PTO) adalah suatu proses yang bertujuan memastikan bahwa terapi obat yang diberikan kepada pasien adalah aman, efektif, dan sesuai dengan kebutuhan mereka. PTO berperan dalam meningkatkan efektivitas terapi dan mengurangi risiko efek samping obat yang tidak diinginkan. Kegiatan PTO mencakup evaluasi terhadap pemilihan obat, dosis yang diberikan, cara pemberian obat, respons pasien terhadap terapi yang diberikan, serta deteksi reaksi obat yang tidak diharapkan (ROTD). Hasil dari PTO dapat berupa rekomendasi perubahan dalam terapi obat yang sedang berjalan atau alternatif terapi yang lebih sesuai. Peran seorang apoteker dalam Pemantauan Terapi Obat (PTO) sangat penting karena memiliki peran memastikan bahwa pasien menerima obat sesuai dengan rekomendasi dokter, memonitor respons pasien terhadap terapi, memberikan informasi yang relevan tentang obat, dan mengidentifikasi serta mencegah potensi interaksi obat yang berbahaya. Sehingga pasien menerima manfaat maksimal dari pengobatan yang diterima. Hasil Pematauan Terapi Obat (PTO) Ny. LA, pasien menerima terapi yang sesuai dengan diagnosa dan keluhan pasien, namun terjadi beberapa Drug Related Problem seperti interaksi obat, dosis terlalu rendah, dan reaksi obat merugikan seperti efek samping obat dan obat kontraindikasi. Dilakukan Intervensi atas masalah pengobatan Ny. LA dan intervensi diterima kemudian dilakukan penyesuaian terkait terapi pasien.

A hospital is a health care institution that organizes comprehensive individual health services that provide inpatient, outpatient, and emergency services. Where pharmaceutical services are needed that contribute to service institutions in hospitals. One way to improve patient quality is through the implementation of patient Drug Therapy Monitoring (PTO). Drug Therapy Monitoring (PTO) is a process aimed at ensuring that the drug therapy given to patients is safe, effective, and appropriate to their needs. PTO plays a role in improving the effectiveness of therapy and reducing the risk of unwanted drug side effects. PTO activities include evaluation of drug selection, dosage, mode of administration, patient response to therapy, and detection of adverse drug reactions (ROTDs). The outcome of PTO may be recommendations for changes in current drug therapy or alternative, more appropriate therapies. The role of a pharmacist in Drug Therapy Monitoring (PTO) is very important because it has the role of ensuring that patients receive drugs in accordance with the doctor's recommendations, monitoring the patient's response to therapy, providing relevant information about drugs, and identifying and preventing potential dangerous drug interactions. So that patients receive the maximum benefit from the treatment received. The results of Mrs. LA's Drug Therapy Monitoring (PTO), the patient received therapy in accordance with the diagnosis and patient complaints, but there were several Drug Related Problems such as drug interactions, too low doses, and adverse drug reactions such as drug side effects and contraindicated drugs. Intervention was carried out on Mrs. LA's treatment problems and the intervention was accepted and adjustments were made regarding the patient's therapy.
"
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2023
PR-PDF
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Andini Nadya Putri
"Penyakit gagal ginjal kronik (CKD) adalah kondisi yang terjadi karena kerusakan pada ginjal dan/atau penurunan laju filtrasi glomerulus (GFR) di bawah 60 mL/menit/1,73 m2 selama lebih dari tiga bulan. Prevalensi CKD meningkat secara global, termasuk di Indonesia, dengan hipertensi dan nefropati diabetik sebagai penyakit penyerta utama. Terapi untuk pasien CKD dengan komplikasi hipertensi dan diabetes melitus sering kali melibatkan terapi polifarmasi, meningkatkan risiko masalah terkait obat atau drug-related problems (DRPs). Pemantauan terapi obat (PTO) merupakan proses penting untuk memastikan keamanan, efektivitas, dan rasionalitas pengobatan yang diterima pasien. PTO dilakukan pada pasien dengan diagnosis CKD yang menjalani hemodialisis dengan penyakit penyerta hipertensi dan diabetes melitus tipe 2. PTO dilakukan melalui pengumpulan data primer dari wawancara pasien dan keluarganya, serta data sekunder dari rekam medis dan catatan medis lainnya. Metode Hepler dan Strand digunakan dalam menganalisis DRPs. Hasil PTO menunjukkan tiga kategori DRP teridentifikasi, di antaranya dosis obat terlalu tinggi, indikasi tanpa obat, dan pemilihan obat yang kurang tepat. Semua DRP yang ditemukan telah diatasi dengan rekomendasi terapi alternatif yang sesuai dengan persetujuan dokter penanggung jawab.

Chronic kidney disease (CKD) is a condition that occurs due to damage to the kidneys and/or a decrease in the glomerular filtration rate (GFR) below 60 mL/min/1.73 m2 for more than three months. The prevalence of CKD is increasing globally, including in Indonesia, with hypertension and diabetic nephropathy as the main comorbidities. Therapy for CKD patients with complications of hypertension and diabetes mellitus often involves polypharmacy, increasing the risk of drug-related problems (DRPs). Drug therapy monitoring (DTM) is an essential process to ensure the safety, efficacy, and rationality of the treatment received by patients. DTM was conducted on patients with a diagnosis of CKD undergoing hemodialysis with comorbidities of hypertension and type 2 diabetes mellitus. DTM was conducted by collecting primary data from interviews with patients and their families, as well as secondary data from medical records and other medical documents. The Hepler and Strand method was used to analyze DRPs. The results of DTM showed three categories of DRPs identified, including excessive drug dosage, indication without medication, and inappropriate drug selection. All DRPs found have been addressed with recommendations for alternative therapies in accordance with the approval of the responsible physician.
"
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2023
PR-PDF
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Anfa Adnia Fatma
"Congestive Heart Failure (CHF) merupakan ketidakmampuan jantung untuk memompa darah untuk memenuhi kebutuhan oksigen dan nutrisi ke jaringan tubuh. Hipertensive Heart Disease (HHD) adalah suatu penyakit yang berkaitan dengan dampak sekunder pada jantung karena hipertensi sistemik yang berkepanjangan. CHF dan HHD sering terjadi dikarenakan hipertensi dan merupakan penyebab utama kematian. Ateroskeloris dapat terjadi karena adanya peningkatan dari kadar kolesterol yang tidak normal sehingga mengakibatkan adanya akumulasi kolesterol di dalam dinding pembuluh darah. Diabetes Melitus merupakan gangguan metabolik yang ditandai dengan kadar gula darah yang melebihi batas normal. Pneumonia adalah infeksi radang paru yang disebabkan oleh mikroorganisme. Pemantauan terapi obat pada pasien dilakukan dengan mengambil data pasien dengan cara observasi dengan melakukan visite. Selanjutnya dilakukan studi literatur melalui data rekam medis pasien, e-book, peraturan pemerintah, maupun sumber lain. Diperoleh hasil bahwa pasien dengan diagnosis congestive heart failure ec hypertensive heart disease, atherosclerotic heart disease, diabetes mellitus dan pneumonia adanya ketidaksesuaian dosis penggunaan insulin berdasarkan dosis harian PERKENI. Pada pengobatan pasien adanya potensi interaksi obat pada sucralfate dan furosemide, sehingga perlu dijeda dalam pemberian obat. Interaksi obat pada humalog dan lantus, serta furosemide dan humalog yang diberikan secara bersamaan perlu dilakukan monitoring gula darah pasien. Analisis diinterpretasikan dalam bentuk SOAP sebagai komunikasi tertulis untuk menyampaikan rekomendasi kepada Dokter Penanggung Jawab Pelayanan (DPJP).
Congestive Heart Failure (CHF) is the inability of the heart to pump blood to fulfill the oxygen and nutrients to body tissues. Hypertensive Heart Disease (HHD) is a disease associated with secondary impacts on the heart due to prolonged systemic hypertension. CHF and HHD often occur due to hypertension and are the main causes of death. Atherosclerosis can occur due to an increase in abnormal cholesterol levels, resulting in the accumulation of cholesterol in the walls of blood vessels. Diabetes Mellitus is a metabolic disorder characterized by blood sugar levels that exceed normal limits. Pneumonia is an inflammatory lung infection caused by microorganisms. Monitoring drug therapy in patients is carried out by collecting patient data by observing by conducting visits. Next, a literature study was carried out using patient medical record data, e-books, government regulations, and other sources. The results showed that patients with a diagnosis of congestive heart failure ec hypertensive heart disease, atherosclerotic heart disease, diabetes mellitus and pneumonia had a mismatch in insulin dosage based on the PERKENI daily dose. In patient treatment, there is a potential for drug interactions with sucralfate and furosemide, so it is necessary to pause the administration of the drug. Drug interactions with humalog and lantus, as well as furosemide and humalog given simultaneously require monitoring of the patient's blood sugar. The analysis is interpreted in SOAP form as written communication to convey recommendations to the Doctor in Charge of Services (DPJP)."
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2023
PR-PDF
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>