Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 149106 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Anas Maulana
"Proses pengemasan merupakan salah satu bagian penting dalam produksi sediaan farmasi. Proses pengemasan adalah proses dimana obat dikemas ke dalam pengemas yang kompatibel sehingga menjadi produk jadi. Proses pengemasan produk, khususnya liquid terdiri dari proses pengemasan primer, sekunder, dan tersier. Dimana proses ini diharapkan berlangsung cepat untuk mendapatkan output sesuai dengan target. Namun, adanya loss time pada proses pengemasan akan mengakibatkan output yang diperoleh akan berkurang, selain itu waktu yang diperlukan untuk tahap pengemasan juga akan menjadi lebih lama. Loss time adalah waktu yang hilang dan yang tidak dapat dipergunakan untuk memberikan nilai tambah pada suatu produk. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penyebab terjadinya Loss time serta improvement dalam mengatasi permasalahan pada pengemasaan sediaan liquid. Pelaksanaan perbandingan kesesuaian dilakukan berdasarkan studi observasi pada grey area pengemasan primer dan sekunder sediaan liquid. Hasil yang didapatkan terkait penyebab Loss time pada PT. Soho Industri Pharmasi secara garis besar ada 3, yaitu yang pertama planned stoppages berupa waktu istirahat yang lebih dari 30 menit dan pergantian shift. Kemudian yang kedua unplanned stoppages, terkait permasalahan pada flap box depan terbuka. Sedangkan kejadian yang menyebabkan loss time terakhir adalah unexplained stoppages, berupa kendala pada jembatan penghubung yang tidak rata dan lengket.

The packaging process is an important part in the production of pharmaceutical preparations. The packaging process is a process where drugs are packaged into compatible packaging so that they become finished products. The product packaging process, especially liquids, consists of primary, secondary and tertiary packaging processes. Where this process is expected to take place quickly to get output according to the target. However, the presence of loss time in the packaging process will result in the output obtained being reduced, besides that the time required for the packaging stage will also be longer. Loss time is time that is lost and cannot be used to provide added value to a product. This research aims to determine the causes of loss time and improvements in overcoming problems in the packaging of liquid preparations. The conformity comparison was carried out based on observational studies in the gray area of primary and secondary packaging of liquid preparations. The results obtained are related to the causes of loss time at PT. In general, there are 3 Soho Industrial Pharmacies, namely the first is planned stoppages in the form of rest periods of more than 30 minutes and shift changes. Then the second is unplanned stoppages, related to problems with the front flap box opening. Meanwhile, the incident that caused the latest loss time was unexplained stoppages, in the form of obstacles on the connecting bridge that were uneven and sticky.
"
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2023
PR-PDF
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Euntong Army
"Penelitian ini membahas mengenai efektivitas dan efisiensi mesin yang digunakan untuk produksi obat-obatan di PT. Soho Industri Pharmasi, penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan cara pengamatan langsung dan dengan melakukan perhitungan terhadap waktu henti pada mesin. Hasil penelitian ini menyarankan bahwa perlu adanya realisasi perubahan dari desain tranfer conveyor dan perlu adanya standarisasi dari sistem transfer conveyor tersebut agar mencapai potensi yang diinginkan. Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa yang menyebabkan terjadinya penurunan OEE adalah loss time yang disebabkan oleh planned stoppages berupa waktu istirahat yang lebih dari 30 menit dan pergantian shift. Kemudian unplanned stoppages, berupa kendala pada jembatan penghubung yang tidak rata dan lengket yang dapat menhambat supply. Perbaikan pada sistem pergantian shift dan waktu istirahat serta desain transfer conveyor diharapkan dapat menjadi solusi dari permasalahan tersebut.

This study discusses the effectiveness and efficiency of machines used for the production of drugs at PT Soho Industri Pharmasi, this research is a quantitative study by direct observation and by calculating the downtime on the machine. The results of this study suggest that there is a need for the realization of changes from the transfer conveyor design and the need for standardization of the transfer conveyor system in order to achieve the desired potential. Based on the observations that have been made, it can be concluded that what causes a decrease in OEE is loss time caused by planned stoppages in the form of breaks of more than 30 minutes and shift changes. Then unplanned stoppages, in the form of constraints on uneven and sticky connecting bridges that can hamper supply. Improvements to the shift change system and rest time and transfer conveyor design are expected to be a solution to the problem.
"
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2023
PR-PDF
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Ghea Shafa Aldora
"Dalam rangka memenuhi permintaan konsumen dan bertahan pada pasar yang kompetitif, suatu perusahaan farmasi seperti PT Takeda Indonesia seringkali menggunakan lean manufacturing yang mengurangi pemborosan dalam proses produksi sehingga dapat meningkatkan produktivitas. Salah satu alat dari lean manufacturing adalah takt time, yaitu waktu yang dibutuhkan untuk memenuhi permintaan konsumen. Oleh karena itu, dilakukan analisis perbandingan takt time dan cycle time, serta identifikasi dan pemberian solusi terhadap pemborosan yang mungkin terjadi di PT Takeda Indonesia untuk memastikan proses pengemasan produk tablet V berjalan dengan efisien. Pengambilan data waktu operasi mesin dan jumlah tablet yang diproduksi diambil dari Overall Equipment Effectiveness (OEE) mesin stripping H dan S yang sejalur dengan proses pengemasan sekunder, sedangkan data jumlah permintaan konsumen untuk produk tablet V diambil dari Purchase Order (PO). Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan terjadinya produksi berlebih yang ditandai dengan lebih kecilnya cycle time jika dibandingkan dengan takt time sehingga dapat menyebabkan berlebihnya inventaris. Hal ini disebabkan terdapatnya penurunan permintaan konsumen yang cukup signifikan dari masa COVID sebelumnya. Oleh karena itu, rekomendasi yang dapat dipertimbangkan adalah melakukan penyesuaian jadwal dengan permintaan konsumen saat ini, serta dapat melakukan perhitungan takt time untuk tiap langkah pengemasan produk V secara real time agar dapat mengidentifikasi pemborosan secara detail dan mengoptimalisasi efisiensi di tiap langkah pengemasan.

To meet consumer demand and survive in a competitive market, a pharmaceutical company such as PT Takeda Indonesia often uses lean manufacturing which reduces waste in the production process to increase productivity. One of the tools of lean manufacturing is takt time, which is the time needed to meet consumer demand. Therefore, a comparative analysis of takt time and cycle time was carried out, as well as identifying and providing solutions to waste that might occur at PT Takeda Indonesia to ensure that the packaging process for tablet V products runs efficiently. Data collection on machine operating time and the number of tablets produced were taken from the Overall Equipment Effectiveness (OEE) of H and S stripping machines which are in line with the secondary packaging process, while data on consumer requests for tablet V products were taken from Purchase Orders (PO). Based on this study, the smaller cycle time when compared to the takt time indicates the occurrence of overproduction which can lead to excess inventory. This was due to a significant decrease in consumer demand from the previous COVID period. Therefore, recommendations that can be considered are adjusting the schedule to current consumer demand, and being able to calculate takt time for each step of product V packaging in real time to identify waste in detail and optimize efficiency at each packaging step."
Depok: Fakultas Farmasi Universitas ndonesia, 2022
PR-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Christye Aulia
"Praktek Kerja Profesi Apoteker PT. Glaxo Wellcome Indonesia bertujuan untuk mengetahui serta mempelajari penerapan CPOB dan peran apoteker di dalam industri farmasi. Melalui praktek kerja profesi apoteker ini dapat diketahui bahwa peran apoteker dalam struktur organisasi PT. Glaxo Wellcome Indonesia tidak hanya terletak pada tiga personil kunci. Apoteker juga memiliki peran pada divisi lainnya, yaitu Technical, Compliance, dan Logistik. Tugas khusus mengenai standar kerja repacking di PT. Glaxo Wellcome Indonesia dilakukan untuk mengetahui tujuan pengembangan standar kerja repacking dan mengidentifikasi pemborosan yang terjadi terkait standar kerja berdasarkan hasil observasi pada proses repacking vaksin. Pemborosan yang teridentifikasi pada kegiatan repacking meliputi defect, waiting, motion dan processing yang menghasilkan variasi proses dan waktu sehingga menyebabkan inkonsistensi proses pada setiap siklus repacking yang dilakukan membantu dalam memastikan konsistensi proses kerja melalui standar kerja yang telah dikembangkan.

Practice Pharmacist Profession PT. Glaxo Wellcome Indonesia aims to determine and study the implementation of the GMP and the role of pharmacists in the pharmaceutical industry. Through the practice of a pharmacist's professional work can be seen that the role of the pharmacist in the organizational structure of PT. Glaxo Wellcome Indonesia not only lies in three key personnel. Pharmacists also have a role in other divisions, namely Technical, Compliance, and Logistics. Specific tasks concerning labor standards repacking in PT. Glaxo Wellcome Indonesia was conducted to determine the purpose of developing standards and identify waste repacking work taking place in the working standard is based on the observation on repacking the vaccine. Waste identified in repacking activities include defect, waiting, motion and processing that produces a variety of processes and time, causing inconsistencies in each cycle repacking process conducted assist in ensuring the consistency of the process of working through labor standards that have been developed"
Depok: Fakultas Farmasi Universitas ndonesia, 2015
PR-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Kadek Devi Arum Savitri
"Tenaga Kefarmasian melaksanakan Pekerjaan Kefarmasian di industri farmasi obat, apotek, rumah sakit, ataupun pada pemerintahan seperti di Badan Pengawasan Obat dan Makanan. Penelitian ini memiliki beberapa tujuan, yaitu untuk mengetahui proses pengujian sampel QC serta mengetahui kebutuhan biaya analisa sampel di laboratorium Departemen Quality Control pada PT. Soho Industri Pharmasi selama periode Juli – Agustus 2021; diharapkan dapat menambah pengetahuan dan pengalaman para calon Apoteker sehingga dapat memahami pengawasan Obat dan Makanan yang dilakukan oleh BPOM, serta berkontribusi sebagai seorang apoteker di lingkungan masyarakat; untuk mengetahui kesesuain resep pasien baik kajian administratif, farmasetik, dan klinis, serta untuk melaksanakann praktik kefarmasian berupa konseling obat terhadap pasien di Apotek Roxy Poltangan, Jakarta Selatan periode 01 – 30 November 2021. Pengambilan data diperoleh dari dokumen prosedur tetap setiap produk finished goods dan raw material and packaging; diperoleh dari seluruh UPT di Indonesia yang diakses melalui SIPT (Sistem Informasi Pengawasan Terpadu); resep diperoleh dari pengunjung yang melakukan penebusan resep di Apotek Roxy Poltangan. Hasil penelitian diperoleh yakni kegiatan kefarmasian di PT. Soho Industri Pharmasi khususnya pada quality control telah sesuai dengan penerapan CPOB dan GMP untuk memastikan hasil produk yang konsisten sesuai persyaratan kualitas, keamanan, dan kemanjuran; Badan POM bertugas untuk melakukan pengawasan Obat dan Makanan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan, dengan berkoordinasi dengan Menteri Kesehatan dan bertanggung jawab kepada Presiden; Apotek Roxy Poltangan melakukan pekerjaan kefarmasian yang telah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, melalui pelaksanaan penyiapan dan pelayanan resep yang diawali dengan skrining resep secara administratif, farmasetik dan klinis, kemudian dilanjutkan dengan dispensing obat.

Pharmaceutical fields carry out Pharmaceutical Work in the pharmaceutical industry, pharmacies, hospitals, or in government such as the Food and Drug Administration. This study has several objectives, to determine the process of testing QC and the cost of analysis in the laboratory of the Quality Control Department at PT. Soho Industri Pharmasi during the period July – August 2021; increase the knowledge and experience of prospective Pharmacists so that they can understand the supervision of Drugs and Food carried out by BPOM, as well as contribute as a pharmacist in the community; determine the suitability of patient prescriptions for administrative, pharmaceutical, and clinical studies, as well as to carry out pharmaceutical practices in the form of drug counselling to patients at the Roxy Poltangan Pharmacy, South Jakarta for the period 01 – 30 November 2021. Data were obtained from the standard procedure documents for raw materials and packaging finished goods products; obtained from all UPTs in Indonesia which are accessed through SIPT (Integrated Monitoring Information System); prescriptions are obtained from visitors who redeem prescriptions at the Roxy Poltangan Pharmacy. The results obtained are pharmaceutical activities at PT. Soho Industri Pharmasi, especially in quality control, has complied with the implementation of GMP and GMP to ensure consistent product results according to quality, safety, and efficacy requirements; BPOM Agency is in charge of supervising Drugs and Food by the provisions of the legislation, in coordination with the Minister of Health and is responsible to the President; Roxy Poltangan Pharmacy carries out pharmaceutical work that is by applicable laws and regulations, through the preparation and service of prescriptions, beginning with administrative, pharmaceutical and clinical prescription screening, followed by the drug dispensing."
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2021
PR-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Safira Rizky Fidiana
"Sesuai dengan Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor 34 Tahun 2018 tentang Pendoman Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB), proses produksi harus memperhatikan berbagai aspek termasuk area kerja, jalur produksi, mesin, peralatan, bahan, dan personelnya untuk menjamin mutu obat serta memenuhi ketentuan izin edar. Oleh karena itu, diperkenalkan salah satu tolak ukur yakni Overall Equipment Effectiveness (OEE) yang termasuk dalam Total Productivity Maintenance (TPM) yang merupakan standar ukur untuk menilai efisiensi mesin produksi. Target nilai OEE yang ditetapkan di area Solid Production PT. SOHO Industri Pharmasi pada tahun 2020 adalah 75% dan akan ditingkatkan secara bertahap untuk mencapai standar nilai OEE global yakni 85%. Pada tahun 2020, nilai OEE yang diperoleh mesin primary packaging masih berada dibawah 75%. Standar nilai OEE global yakni 85%. Kerja praktik ini bertujuan untuk menganalisis penggunaan mesin Pam Pac, Siebler HM 230, Wonder eB350, KSM 3, Duan Kwei, Volpack, dan Siebler HM 300. di area Primary packaging Solid Production pada tahun 2020 sehingga mengetahui efektifitas penggunaan mesin tersebut dan faktor-faktor yang mempengaruhi. Penyusunan laporan tugas khusus kerja praktik ini dilakukan dengan metode studi literatur, pengamatan proses produksi, dan wawancara secara langsung terhadap supervisor dan operator di Departemen Solid Production PT. SOHO Industri Pharmasi. Hasil tugas khusus kerja praktik ini menunjukkan penggunaan mesin di area solid production belum merata karena mesin Pam Pac, Siebler HM 230, dan Wonder eB350 sebagian besar memproduksi produk-produk pareto, sedangkan mesin-mesin seperti Volpack, Duan Kwei, dan Siebler HM 300 sebagian besar memproduksi produk non pareto sehingga penggunaannya masih jarang. Produksi yang tidak merata pada ketujuh mesin ini dipengaruhi oleh jadwal produksi berdasarkan forecast dari PPIC, ketersediaan mesin, dan ketersediaan operator.

Following the Regulation of the Food and Drug Supervisory Agency Number 34 of 2018 concerning Guidelines for Good Manufacturing Practices (GMP), the production process must pay attention to various aspects including the work area, production line, machinery, equipment, materials, and personnel to ensure drug quality and meet distribution permit conditions. Therefore, one of the benchmarks was introduced, namely, Overall Equipment Effectiveness (OEE) which is included in Total Productivity Maintenance (TPM), which is a measuring standard to assess the efficiency of production machines. The target OEE value is set in the Solid Production area of PT. The SOHO of the Pharmaceutical Industry in 2020 is 75% and will be gradually increased to reach the global OEE value standard of 85%. In 2020, the OEE value obtained by the primary packaging machine is still below 75%. The global OEE value standard is 85%. This practical workshop aims to analyze the use of Pam Pac, Siebler HM 230, Wonder eB350, KSM 3, Duan Kwei, Volpack, and Siebler HM 300 machines in the Primary packaging Solid Production area in 2020 to determine the effectiveness of using these machines and the factors which influence. The preparation of this special assignment report for practical work was carried out using the method of literature study, observation of the production process, and direct interviews with supervisors and operators in the Solid Production Department of PT. SOHO Pharmaceutical Industry. The results of this practical work specific task show that the use of machines in the solid production area has not been evenly distributed because the Pam Pac, Siebler HM 230, and Wonder eB350 machines mostly produce Pareto products, while machines such as Volpack, Duan Kwei, and Siebler HM 300 mostly produce Most of them produce non-Pareto products so their use is still rare. The uneven production of these seven machines is influenced by the production schedule based on forecasts from PPIC, machine availability, and operator availability."
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2021
PR-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Winda Permata Sari
"OEE atau yang dikenal dengan Overall Equiment Effectiveness adalah suatu pengukuran yang menandakan efektifitas dari suatu alat. Dalam proses produksi OEE merupakan salah satu Key Performance Index yang sangat diperhatikan. Pada akhirnya hal ini akan menentukan apakah suatu proses produksi sudah berjalan dengan efektif. Berdasarkan pengamatan yang sudah dilakukan sebelumnya terhadap mesin kemas blister di PT. Soho Industri Pharmasi, ditemukan bahwa stop mesin paling banyak terjadi dan mengambil durasi yang paling panjang disebabkan oleh permasalahan coding emboss. Permasalahan ini juga dapat menjadi faktor yang mempengaruhi adanya stop mesin dan menyebabkan speed loss. Oleh karena itu perlu dilakukan verifikasi kecepatan yang optimal pada proses produksi sediaan solid dengan mesin kemas blister serta tindakan improvement terhadap permasalahan utama yang menyebabkan speed loss pada mesin. Berdasarkan pengamatan kecepatan optimal pada Mesin Kemas Blister adalah 24 cycle/menit dengan output 96 blister/menit, didasari pada waktu stop mesin yang paling sedikit. Penyebab utama stop mesin adalah permasalahan pada coding emboss. Rekomendasi yang diberikan adalah pembuatan rumah coding dan rekondisi / normalisasi Heater Coding.

OEE, also known as Overall Equipment Effectiveness, is a measurement that indicates the effectiveness of a tool or equipment. In the production process, OEE is one of the Key Performance Indicators that is closely monitored. Ultimately, it determines whether a production process is running effectively. Based on previous observations of the blister packaging machine at PT. Soho Industri Pharmasi, it was found that the most frequent and longest machine stops were caused by emboss coding issues. This problem can also contribute to machine stops and result in speed loss. Therefore, it is necessary to verify the optimal speed for the solid dosage form production process using the blister packaging machine and take measures to improve the main issue causing speed loss in the machine. Based on observations, the optimal speed for the Blister Packaging Machine is 24 cycles per minute with an output of 96 blisters per minute, considering the least amount of machine stops. The main cause of machine stops is the issue with emboss coding. The recommended actions are the establishment of a coding house and the refurbishment or normalization of the coding heater."
2022
TA-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia (UI-Press), 2007
615.19 TEO
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
cover
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>