Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 107533 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Grace Wilmayanti
"Pemantauan Terapi Obat (PTO), yaitu kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan efektivitas terapi, meminimalkan risiko terjadinya Reaksi Obat yang Tidak Dikehendaki (ROTD), dan melindungi pasien dari penggunaan obat tidak rasional sehingga meningkatkan keselamatan pasien. Salah satu kriteria pasien yang penting dilakukan PTO adalah pasien pediatri. Massa skrotum membesar (hernia) merupakan suatu keluhan umum yang ditemukan di poliklinik urinologi. Keadaan ini dapat ditemukan pada berbagai usia mulai dari pasien pediatrik, dewasa, sampai pasien geriatri. Hospital-acquired Pneumonia (HAP) merupakan salah satu infeksi nosokomial pada jaringan parenkim paru yang berkembang minimal 48 jam saat pasien dirawat di Rumah Sakit. Kegiatan Pemantauan Terapi Obat (PTO) dilaksanakan selama Praktik Kerja Profesi Apoteker (PKPA) di Pediatric Intensive Care Unit (PICU) RSPAD Gatot Soebroto secara on-going selama 7 hari. Pasien pediatrik atas nama An. FBA sejak tanggal 12 sampai 18 Juni 2023 di PICU RSPAD Gatot Soebroto. Adapun kondisi pasien terdiagnosis HAP membaik, nyeri post op. herniotomi ec hernia scrotalis dextra strangulate minimal, kejang ec electrolyte imbalance belum membaik, dan diagnosis terbaru susp. meningitis. Ditemukan masalah pasien mengalami hipoalbuminemia sejak tanggal 9 Juni 2023 dan belum mendapatkan terapi albumin oral atau iv. Rekomendasi yang disetujui untuk diimplementasikan adalah terapi Albumin mulai tanggal 15 Juni 2023.

TDM is performed to increase the effectiveness of therapy, minimize the risk of Adverse Drug Reaction (ADR), and protecting patients from irrational medication thereby increasing patient safety. One of the patient criteria that is important to get TDM is pediatric patients. An enlarged scrotal mass (hernia) is a common complaint found in urology clinics. This condition can be found in various ages, from pediatric patients, adults, to geriatric patients. Hospital-acquired pneumonia (HAP) is a nosocomial infection of lung parenchymal tissue that develops with an incubation period of at least 48 hours when the patient is hospitalized. TDM practices are carried out during Pharmacist Professional Work Practices (PKPA) in the Pediatric Intensive Care Unit (PICU) of RSPAD Gatot Soebroto continuously for 7 days. Pediatric patient, named An. FBA, started from June 12th to 18th 2023 at PICU RSPAD Gatot Soebroto. Patients was diagnosed with improved of HAP, post-operative pain. herniotomy ec dextra strangulate scrotalis hernia is minimal, spasm ec electrolyte imbalance has not improved, and the latest diagnosis is susp. meningitis. It was discovered that the patient had experienced hypoalbuminemia since June 9th 2023 and had not received oral or IV albumin therapy. The recommendation approved for implementation is Albumin therapy starting June 15th 2023.
"
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2023
PR-PDF
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Anfa Adnia Fatma
"Congestive Heart Failure (CHF) merupakan ketidakmampuan jantung untuk memompa darah untuk memenuhi kebutuhan oksigen dan nutrisi ke jaringan tubuh. Hipertensive Heart Disease (HHD) adalah suatu penyakit yang berkaitan dengan dampak sekunder pada jantung karena hipertensi sistemik yang berkepanjangan. CHF dan HHD sering terjadi dikarenakan hipertensi dan merupakan penyebab utama kematian. Ateroskeloris dapat terjadi karena adanya peningkatan dari kadar kolesterol yang tidak normal sehingga mengakibatkan adanya akumulasi kolesterol di dalam dinding pembuluh darah. Diabetes Melitus merupakan gangguan metabolik yang ditandai dengan kadar gula darah yang melebihi batas normal. Pneumonia adalah infeksi radang paru yang disebabkan oleh mikroorganisme. Pemantauan terapi obat pada pasien dilakukan dengan mengambil data pasien dengan cara observasi dengan melakukan visite. Selanjutnya dilakukan studi literatur melalui data rekam medis pasien, e-book, peraturan pemerintah, maupun sumber lain. Diperoleh hasil bahwa pasien dengan diagnosis congestive heart failure ec hypertensive heart disease, atherosclerotic heart disease, diabetes mellitus dan pneumonia adanya ketidaksesuaian dosis penggunaan insulin berdasarkan dosis harian PERKENI. Pada pengobatan pasien adanya potensi interaksi obat pada sucralfate dan furosemide, sehingga perlu dijeda dalam pemberian obat. Interaksi obat pada humalog dan lantus, serta furosemide dan humalog yang diberikan secara bersamaan perlu dilakukan monitoring gula darah pasien. Analisis diinterpretasikan dalam bentuk SOAP sebagai komunikasi tertulis untuk menyampaikan rekomendasi kepada Dokter Penanggung Jawab Pelayanan (DPJP).
Congestive Heart Failure (CHF) is the inability of the heart to pump blood to fulfill the oxygen and nutrients to body tissues. Hypertensive Heart Disease (HHD) is a disease associated with secondary impacts on the heart due to prolonged systemic hypertension. CHF and HHD often occur due to hypertension and are the main causes of death. Atherosclerosis can occur due to an increase in abnormal cholesterol levels, resulting in the accumulation of cholesterol in the walls of blood vessels. Diabetes Mellitus is a metabolic disorder characterized by blood sugar levels that exceed normal limits. Pneumonia is an inflammatory lung infection caused by microorganisms. Monitoring drug therapy in patients is carried out by collecting patient data by observing by conducting visits. Next, a literature study was carried out using patient medical record data, e-books, government regulations, and other sources. The results showed that patients with a diagnosis of congestive heart failure ec hypertensive heart disease, atherosclerotic heart disease, diabetes mellitus and pneumonia had a mismatch in insulin dosage based on the PERKENI daily dose. In patient treatment, there is a potential for drug interactions with sucralfate and furosemide, so it is necessary to pause the administration of the drug. Drug interactions with humalog and lantus, as well as furosemide and humalog given simultaneously require monitoring of the patient's blood sugar. The analysis is interpreted in SOAP form as written communication to convey recommendations to the Doctor in Charge of Services (DPJP)."
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2023
PR-PDF
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Noviana
"Rumah sakit ialah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat. Dimana diperlukan pelayanan kefarmasian yang berkontribusi dalam institusi pelayanan di rumah sakit. Salah satu cara untuk meningkatkan mutu pasien yaitu dengan pelaksanaan Pematauan Terapi Obat (PTO) pasien. Pemantauan Terapi Obat (PTO) adalah suatu proses yang bertujuan memastikan bahwa terapi obat yang diberikan kepada pasien adalah aman, efektif, dan sesuai dengan kebutuhan mereka. PTO berperan dalam meningkatkan efektivitas terapi dan mengurangi risiko efek samping obat yang tidak diinginkan. Kegiatan PTO mencakup evaluasi terhadap pemilihan obat, dosis yang diberikan, cara pemberian obat, respons pasien terhadap terapi yang diberikan, serta deteksi reaksi obat yang tidak diharapkan (ROTD). Hasil dari PTO dapat berupa rekomendasi perubahan dalam terapi obat yang sedang berjalan atau alternatif terapi yang lebih sesuai. Peran seorang apoteker dalam Pemantauan Terapi Obat (PTO) sangat penting karena memiliki peran memastikan bahwa pasien menerima obat sesuai dengan rekomendasi dokter, memonitor respons pasien terhadap terapi, memberikan informasi yang relevan tentang obat, dan mengidentifikasi serta mencegah potensi interaksi obat yang berbahaya. Sehingga pasien menerima manfaat maksimal dari pengobatan yang diterima. Hasil Pematauan Terapi Obat (PTO) Ny. LA, pasien menerima terapi yang sesuai dengan diagnosa dan keluhan pasien, namun terjadi beberapa Drug Related Problem seperti interaksi obat, dosis terlalu rendah, dan reaksi obat merugikan seperti efek samping obat dan obat kontraindikasi. Dilakukan Intervensi atas masalah pengobatan Ny. LA dan intervensi diterima kemudian dilakukan penyesuaian terkait terapi pasien.

A hospital is a health care institution that organizes comprehensive individual health services that provide inpatient, outpatient, and emergency services. Where pharmaceutical services are needed that contribute to service institutions in hospitals. One way to improve patient quality is through the implementation of patient Drug Therapy Monitoring (PTO). Drug Therapy Monitoring (PTO) is a process aimed at ensuring that the drug therapy given to patients is safe, effective, and appropriate to their needs. PTO plays a role in improving the effectiveness of therapy and reducing the risk of unwanted drug side effects. PTO activities include evaluation of drug selection, dosage, mode of administration, patient response to therapy, and detection of adverse drug reactions (ROTDs). The outcome of PTO may be recommendations for changes in current drug therapy or alternative, more appropriate therapies. The role of a pharmacist in Drug Therapy Monitoring (PTO) is very important because it has the role of ensuring that patients receive drugs in accordance with the doctor's recommendations, monitoring the patient's response to therapy, providing relevant information about drugs, and identifying and preventing potential dangerous drug interactions. So that patients receive the maximum benefit from the treatment received. The results of Mrs. LA's Drug Therapy Monitoring (PTO), the patient received therapy in accordance with the diagnosis and patient complaints, but there were several Drug Related Problems such as drug interactions, too low doses, and adverse drug reactions such as drug side effects and contraindicated drugs. Intervention was carried out on Mrs. LA's treatment problems and the intervention was accepted and adjustments were made regarding the patient's therapy.
"
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2023
PR-PDF
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Avida In Amy
"ABSTRAK
Pneumonia adalah infeksi paru-paru yang disebabkan oleh mikroorganisme seperti bakteri, virus, dan jamur, mengakibatkan konsolidasi jaringan paru dan gangguan pertukaran gas. Di DKI Jakarta, prevalensinya sebesar 2,2% pada tahun 2018. Pelayanan kefarmasian di rumah sakit, termasuk RSUD Cengkareng, mencakup pengelolaan sediaan farmasi dan pelayanan farmasi klinis. Pemantauan terapi obat pada pasien pneumonia dengan komorbiditas hipertensi dan PPOK bertujuan memastikan terapi yang aman, efektif, dan rasional, serta mengidentifikasi masalah terkait obat (DRP). Penelitian menunjukkan beberapa DRP, seperti ketidaksesuaian pemberian obat antihipertensi ACEI yang memperburuk batuk dan pemberian omeprazole tanpa indikasi jelas. Identifikasi dan pemantauan DRP bertujuan meningkatkan keberhasilan terapi dan kualitas hidup pasien.

ABSTRACT
Pneumonia is a lung infection caused by microorganisms such as bacteria, viruses, and fungi, resulting in the consolidation of lung tissue and impaired gas exchange. In DKI Jakarta, the prevalence was 2.2% in 2018. Pharmaceutical services in hospitals, including Cengkareng Regional Hospital, include management of pharmaceutical preparations and clinical pharmacy services. Monitoring drug therapy in pneumonia patients with comorbid hypertension and COPD aims to ensure safe, effective, and rational therapy, as well as identify drug-related problems (DRP). Research shows several DRPs, such as inappropriate administration of ACEI antihypertensive drugs which worsen coughs, and administration of omeprazole without clear indications. Identification and monitoring of DRP aims to improve the success of therapy and the patient's quality of life."
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2023
PR-PDF
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Euntong Army
"Penelitian ini membahas mengenai pemantauan terapi obat pada pasien hipertensi dengan komorbid diruang rawat inap RSUD Cengkareng. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode non-eksperimental yang dilakukan secara observasional yang bersifat kualitatif dengan cara pengamatan dan wawancara. Hasil penelitian ini menyarankan untuk melakukan pemantauan lebih cepat pada saat pasien pertama kali dirawat agar dapat dilakukan pemantauan secara berkala dan dapat diidentifikasi masalah terkait obat serta dapat diberikan intervensi. Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa terapi yang diberikan pada pasien sudah sesuai walaupun terdapat masalah interaksi dan polifarmasi yang telah ditangani dengan pengaturan dosis dan waktu pemberian.

This study discusses the monitoring of drug therapy in hypertensive patients with comorbidities in the inpatient room of Cengkareng Hospital. The method used in this study is a non-experimental method conducted in an observational manner that is qualitative in nature by means of observations and interviews. The results of this study suggest monitoring more quickly when the patient is first admitted so that regular monitoring can be carried out and drug-related problems can be identified and interventions can be given. Based on the observations that have been made, it can be concluded that the therapy given to patients is appropriate even though there are problems of interaction and polypharmacy that have been handled by adjusting the dose and time of administration.
"
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2023
PR-PDF
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Isnaini
"Pemantauan terapi obat (PTO) merupakan kegiatan farmasi klinik yang dilakukan oleh seorang apoteker yang mencakup kegiatan untuk memastikan terapi Obat yang aman, efektif dan rasional bagi pasien. Kegiatan dalam PTO meliputi pengkajian pemilihan Obat, dosis, cara pemberian Obat, respons terapi, Reaksi Obat yang Tidak Dikehendaki (ROTD), pemberian rekomendasi penyelesaian masalah terkait Obat; dan pemantauan efektivitas dan efek samping terapi Obat pada pasien untuk menurunkan risiko terjadinya Drug Related Problem (DRP). Pemantauan terapi obat harus dilakukan pada pasien yang dirawat di RSUD Tarakan Jakarta dengan komplikasi penyakit salah satunya adalah Hypertensive Heart Disease yang disertai penyakit penyerta seperti AKI, Non-insulindependent diabetes mellitus with multiple complications, Hiponatremia serta Pneumonia unspecified. Pemantauan terapi obat dilakukan selama 10 hari. Berdasarkan pengobatan yang diterima pasien untuk mengobati penyakitnya, ditemukan adanya 4 jenis DRP yaitu terapi obat yang tidak perlu, mengalami efek samping, interaksi obat dan overdose.

Medication Therapy Monitoring (MTM) is a clinical pharmacy activity performed by a pharmacist to ensure safe, effective, and rational drug therapy for patients. MTM involves assessing drug selection, dosing, administration route, therapeutic response, Adverse Drug Reactions (ADRs), providing recommendations to resolve drug-related problems (DRPs), and monitoring the effectiveness and side effects of drug therapy to reduce the risk of DRPs. MTM needs to be conducted for patients admitted to RSUD Tarakan Jakarta with complications from various diseases, including Hypertensive Heart Disease accompanied by conditions such as Acute Kidney Injury (AKI), Non-insulin-dependent diabetes mellitus with multiple complications, Hyponatremia, and unspecified Pneumonia. The drug therapy monitoring lasts for 10 days. Based on the treatment received by the patients for their respective conditions, four types of DRPs were identified: unnecessary drug therapy, experiencing side effects, drug interactions, and overdose.
"
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2023
PR-PDF
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Nurlaila Afriliah
"Pemantauan Terapi Obat (PTO) adalah kegiatan yang memastikan pengobatan yang diberikan kepada pasien efektif, aman, dan rasional. Kondisi pasien yang memerlukan pemantauan terapi obat antara lain pasien dengan lebih dari satu penyakit dan polifarmasi, pasien dengan gangguan fungsi organ hati dan ginjal, dan pasien geriatri. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji pemantauan terapi obat salah satu pasien rawat inap di RSUD Tarakan. Pasien yang dipantau terapi obatnya adalah pasien geriatri radikulopati serviks dengan penyakit penyerta hipertensi, cedera ginjal akut, dan perdarahan saluran pencernaan atas di RSUD Tarakan. Pemantauan terapi obat dilakukan selama 16 hari dengan metode retrospektif dan wawancara. Hasil penelitian yaitu terapi pengobatan yang diberikan ke pasien sudah tepat indikasi dan tepat dosis tetapi masih terdapat masalah interaksi obat, efek samping obat, dan kegagalan menerima obat. Masalah terkait obat ini dapat diatasi dengan pemberian jeda pemakaian obat, monitoring efek samping, dan perbaikan sistem distribusi rumah sakit. Kesimpulan penelitian yaitu terapi pengobatan sudah tepat indikasi dan dosis tetapi masih terdapat beberapa masalah terkait obat yaitu interaksi, efek samping, dan kegagalan menerima obat.

Therapeutic Drug Monitoring (TDM) is an activity that ensures that the treatment given to patients is effective, safe, and rational. Patient conditions that require monitoring of drug therapy include patients with more than one disease and polypharmacy, patients with impaired liver and kidney function, and geriatric patients. This study aims to examine the monitoring of drug therapy in one of the inpatients at Tarakan Regional Hospital. Patients whose drug therapy was monitored were geriatric cervical radiculopathy patients with comorbidities such as hypertension, acute kidney injury, and upper gastrointestinal bleeding at Tarakan Regional Hospital. Drug therapy monitoring was carried out for 16 days using retrospective methods and interviews. The results of the study are that the treatment therapy given to patients had the right indications and the right dosage, but there were still problems with drug interactions, drug side effects, and failure to receive the drug. Problems related to this drug can be overcome by giving breaks in drug use, monitoring side effects, and improving the hospital distribution system. This study concludes that medical therapy had the correct indications and dosage but there were still several problems related to the drug, namely interactions, side effects, and failure to receive the drug.
"
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2023
PR-PDF
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Andini Nadya Putri
"Penyakit gagal ginjal kronik (CKD) adalah kondisi yang terjadi karena kerusakan pada ginjal dan/atau penurunan laju filtrasi glomerulus (GFR) di bawah 60 mL/menit/1,73 m2 selama lebih dari tiga bulan. Prevalensi CKD meningkat secara global, termasuk di Indonesia, dengan hipertensi dan nefropati diabetik sebagai penyakit penyerta utama. Terapi untuk pasien CKD dengan komplikasi hipertensi dan diabetes melitus sering kali melibatkan terapi polifarmasi, meningkatkan risiko masalah terkait obat atau drug-related problems (DRPs). Pemantauan terapi obat (PTO) merupakan proses penting untuk memastikan keamanan, efektivitas, dan rasionalitas pengobatan yang diterima pasien. PTO dilakukan pada pasien dengan diagnosis CKD yang menjalani hemodialisis dengan penyakit penyerta hipertensi dan diabetes melitus tipe 2. PTO dilakukan melalui pengumpulan data primer dari wawancara pasien dan keluarganya, serta data sekunder dari rekam medis dan catatan medis lainnya. Metode Hepler dan Strand digunakan dalam menganalisis DRPs. Hasil PTO menunjukkan tiga kategori DRP teridentifikasi, di antaranya dosis obat terlalu tinggi, indikasi tanpa obat, dan pemilihan obat yang kurang tepat. Semua DRP yang ditemukan telah diatasi dengan rekomendasi terapi alternatif yang sesuai dengan persetujuan dokter penanggung jawab.

Chronic kidney disease (CKD) is a condition that occurs due to damage to the kidneys and/or a decrease in the glomerular filtration rate (GFR) below 60 mL/min/1.73 m2 for more than three months. The prevalence of CKD is increasing globally, including in Indonesia, with hypertension and diabetic nephropathy as the main comorbidities. Therapy for CKD patients with complications of hypertension and diabetes mellitus often involves polypharmacy, increasing the risk of drug-related problems (DRPs). Drug therapy monitoring (DTM) is an essential process to ensure the safety, efficacy, and rationality of the treatment received by patients. DTM was conducted on patients with a diagnosis of CKD undergoing hemodialysis with comorbidities of hypertension and type 2 diabetes mellitus. DTM was conducted by collecting primary data from interviews with patients and their families, as well as secondary data from medical records and other medical documents. The Hepler and Strand method was used to analyze DRPs. The results of DTM showed three categories of DRPs identified, including excessive drug dosage, indication without medication, and inappropriate drug selection. All DRPs found have been addressed with recommendations for alternative therapies in accordance with the approval of the responsible physician.
"
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2023
PR-PDF
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Darsih Sarastri
"Kegiatan Pemantauan Terapi Obat (PTO) di Rumah Sakit dilakukan oleh Apoteker untuk mencegah, mengidentifikasi dan memberikan rekomendari penyelesaian terkait permasalahan yang terjadi. Salah satu kriteria kondisi pasien yang menjadi target kegiatan PTO yaitu komplikasi penyakit dan polifarmasi. Komplikasi dan polifarmasi sering kali ditemui pada pasien Diabetes Melitus yang tidak diobati dengan optimal. Penelitian dilakukan untuk mengevaluasi masalah terkait obat dan memberikan rekomendasi penyelesaian masalah terkait obat pada pasien Diabetes Melitus dengan komorbid di rawat inap RSUD Cengkareng. Kegiatan PTO dilakukan pada pasien dengan kriteria berupa pasien dewasa dengan diagnosis Diabetes Melitus disertai komorbid yang menerima pengobatan rawat inap selama 20 September – 3 Oktober 2023. Data pasien yang diperoleh dari catatan rekam medis pasien, catatan perkembangan pasien terpadu dan kegiatan visite selanjutnya dilakukan observasi, pemantauan perkembangan terapi, identifikasi masalah dan rekomendasi tidak lanjut. Hasil PTO pada pasien Ny.S yaitu terdapat beberapa permasalahan terkait obat yang ditemukan. Permasalahan terkait obat yang teridentifikasi yaitu terdapat obat yang tidak sesuai indikasi pasien (Ondansetron), masalah terkait lama pemberian obat (Omeprazole injeksi), dan obat yang kontraindikasi dengan kondisi pasien (Metformin). Rencana tindak lanjut terkait permasalahan obat yang telah diidentifikasi yaitu melakukan komunikasi dengan DPJP terkait masalah dan memberikan rekomendasi kepada DPJP untuk mempertimbangkan terapi dengan obat lain.

Medication Therapy Monitoring (MTM) activities in hospitals are conducted by pharmacists to prevent, identify, and provide recommendations for resolving related issues. One criterion for patient conditions targeted by MTM activities includes disease complications and polypharmacy. Complications and polypharmacy are often encountered in patients with suboptimally managed Diabetes Mellitus. Research is conducted to evaluate medication-related issues and provide recommendations for resolving them in Diabetes Mellitus patients with comorbidities admitted to RSUD Cengkareng. MTM activities are performed on adult patients diagnosed with Diabetes Mellitus accompanied by comorbidities receiving inpatient treatment from September 20 to October 3, 2023. Patient data obtained from medical records, integrated patient progress notes, and subsequent visit activities involve observation, therapy progress monitoring, problem identification, and recommendations. The MTM results for patient Ny.S reveal several identified medication-related issues. These include medications not matching patient indications (Ondansetron), issues related to the duration of drug administration (Omeprazole injection), and medications contraindicated with the patient's condition (Metformin). The follow-up plan for identified medication issues involves communicating with the attending physician regarding the problems and recommending consideration of alternative therapies.
"
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2023
PR-PDF
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Aisyah Octaviani Putri
"Tuberkulosis (TB) dan Human Immunodeficiency Virus (HIV) menjadi beban utama penyakit menular terutama di negara-negara berpenghasilan rendah. Pada pasien penderita Tuberkulosis dengan adanya infeksi penyerta seperti koinfeksi HIV, diestimasikan akan meningkatkan risiko terjadinya drug-induced liver injury (DILI) akibat OAT sebanyak 4 kali lipat. Dilakukan pemantauan terapi obat ini untuk menganalisis masalah terkait obat (MTO)/ Drug’s Related Problem (DRP) yang terjadi pada pengobatan pasien dan memberikan rekomendasi tindak lanjut menggunakan metode SOAP. Diperoleh hasil bahwa pasien memiliki diagnosis ikterus obstruktif, anemia normositik normokrom, hiponatremia hipoosmolar euvolemik, Dili et causa OAT, HIV on ARV, TB on OAT dan terdapat interaksi obat kategori antara sukralfat dengan dolutegravir yang menyebabkan Sukralfat menurunkan efek dari dolutegravir dengan pengikatan kation dlm saluran GI. Hasil analisis DRP disajikan dalam SOAP sebagai komunikasi tertulis untuk menyampaikan rekomendasi kepada dokter penanggung jawab (DPJP).

Tuberculosis (TB) and Human Immunodeficiency Virus (HIV) are the main burden of infectious diseases, especially in low-income countries. In patients suffering from Tuberculosis with accompanying infections such as HIV co-infection, it is estimated that the risk of drug-induced liver injury (DILI) due to OAT will increase by 4 times. This drug therapy monitoring is carried out to analyze drug-related problems (MTO)/Drug-Related Problems (DRP) that occur during patient treatment and provide follow-up recommendations using the SOAP method. The results showed that the patient had a diagnosis of obstructive jaundice, normochromic normocytic anemia, euvolemic hypoosmolar hyponatremia, Dili et causa OAT, HIV on ARV, TB on OAT and there was a major category of drug interaction between sucralfate and dolutegravir which caused Sucralfate to reduce the effect of dolutegravir by binding cations in GI tract. The results of the DRP analysis are presented in SOAP as written communication to convey recommendations to the doctor in charge (DPJP).
"
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2023
PR-PDF
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>