Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 169839 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Frengki Nur Fariya Pratama
"Beringin dianggap oleh masyarakat Jawa sebagai pohon yang mistis sehingga tidak boleh diperlakukan secara sembarangan. Mistifikasi pohon ini muncul dari karakteristik yang dimiliki, yaitu batangnya yang besar, tingginya yang bisa mencapai 30 meter, daunnya yang lebat, dan akarnya yang menonjol keluar dari tanah. Tapi dibalik mistifikasi pohon beringin, ternyata pohon jenis ficus ini memiliki beragam fungsi yang berkaitan dengan kelestarian ekologi. Fungsi-fungsi itu meliputi konservasi air tanah, pencegahan longsor, hingga lokasi interaksi biotik yang kompleks, dimana terjadi simbiosis mutualisme antar spesies sehingga membentuk hubungan ekologi yang harmonis yang berdampak positif bagi lingkungan. Penelitian kualitatif dengan pendekatan antropologi budaya digunakan untuk mengkaji mistifikasi masyarakat Jawa terhadap pohon beringin, sebagai upaya konservasi lingkungan"
Yogyakarta: Balai Pelestarian Nilai Budaya D.I. Yogyakarta, 2022
900 JSB 17:1 (2022)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Achmad Jibril Jamaluddin
"Keberadaan kawasan tepi pada suatu habitat hutan dapat menimbulkan efek tepi yang memengaruhi respons berbagai organisme berupa pergeseran habitat atau pola persebaran, salah satunya ialah herba terestrial. Berbagai penelitian terdahulu mengenai efek tepi terhadap herba terestrial memberikan hasil yang berbeda-beda. Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh efek tepi terhadap komunitas herba terestrial di hutan kota Universitas Indonesia telah dilakukan. Pengukuran parameter efek tepi dilakukan dengan mengetahui komposisi spesies pada tiap plot penelitian, perhitungan Indeks Nilai Kepentingan (INK), indeks keanekaragaman dan kemerataan Shannon-Wiener, dan pengukuran parameter lingkungan. Komposisi spesies menunjukkan kecenderungan respons positif terhadap efek tepi. Berdasarkan perhitungan INK diketahui spesies dominan Axonopus compressus pada kawasan tepi, Centotheca lappacea pada kawasan tengah, dan Amorphophallus variabilis pada kawasan inti. Hasil uji t pada indeks keanekaragaman Shannon-Wiener menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan pada pasangan plot tepi-inti dan tengah-inti, sementara itu tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada pasangan plot tepi-tengah. Tidak terdapat pola respons tertentu terhadap efek tepi berdasarkan indeks Shannon-Wiener. Hasil uji Kruskal-Wallis menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan pada pengukuran parameter suhu udara, kelembapan udara dan intensitas cahaya. Tidak terdapat perbedaan pada pengukuran parameter pH tanah. Uji korelasi menunjukkan terdapat korelasi positif antara parameter suhu udara dan intensitas cahaya matahari terhadap penambahan jumlah spesies. Sementara itu tidak ada korelasi antara kelembapan udara dan pH tanah terhadap jumlah spesies. Terdapat dua belas spesies yang memiliki potensi sebagai spesialis kawasan tepi, namun tidak ditemukan spesies yang memiliki potensi sebagai spesialis kawasan inti.

The existence of edges in a forest habitat can cause edge effects that affect the response of various organisms in the form of habitat or distribution pattern shifts, one of which is terrestrial herbs. Previous studies on the effects of edges on terrestrial herbs have had different results. The study aimed to determine the effect of edge effects on terrestrial herb communities in urban forests of Universitas Indonesia was conducted. Measurement of the edge effect parameters was done by investigating the composition of species in each research plot, calculating the Importance Value Index (IVI), Shannon-Wiener`s index of diversity and evenness, and measuring environmental parameters. The species composition showed a tendency towards a positive response to edge effects. Based on the calculation of IVI it was known that the dominant species at each area namely Axonopus compressus at the edge, Centotheca lappacea at the middle, and Amorphophallus variabilis at the core. The results of t test on the Shannon-Wieners diversity index show that there were significant differences between edge-core and middle-core pair plots, while there were no significant differences between edge-middle pair plot. There were no specific response patterns for edge effects based on the Shannon-Wieners index. The Kruskal-Wallis test results showed that there were significant differences in the measured air temperature, humidity, and intensity of sunlight parameters. There werent any differences in the measured soil pH parameter. Correlation test shows there were positive correlations between the parameters of air temperature and the intensity of sunlight on the addition of species number. Meanwhile there were no correlation between air humidity and soil pH on the addition of species number. There were twelve potential species categorized as edge area specialists, while there werent any species that have potential as core area specialists.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2019
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rieza Yuniaridha
"Penelitian mengenai analisis struktur komunitas fitoplankton di Perairan Selat Lembeh dan Wori, Sulawesi Utara pada Tahun 2015 telah dilakukan. Sebanyak 20 sampel diambil dari 11 stasiun perairan Selat Lembeh dan 8 stasiun perairan Wori. Hasil identifikasi dan pencacahan sampel diperoleh 26 marga fitoplankton, 20 marga diatom, 5 marga marga dinoflagellata, dan 1 marga Cyanophyceae. Kelimpahan fitoplankton perairan Selat Lembeh lebih tinggi dibandingkan kelimpahan fitoplankton perairan Wori. Kelimpahan fitoplankton di perairan Selat Lembeh mencapai 624.400 sel/m3. Marga fitoplankton mendominansi perairan Selat Lembeh adalah Trichodesmium dan Chaetoceros, sedangkan di perairan Wori adalah Trichodesmium. Marga dinoflagellata yang dominan di Perairan Selat Lembeh dan Wori adalah Prorocentrum. Keanekaragaman fitoplankton di perairan Selat Lembeh lebih tinggi dibandingkan dengan perairan Wori. Kekayaan dan kemerataan fitoplankton di kedua wilayah perairan tergolong rendah dan tidak merata. Indeks Nilai Penting INP menunjukkan Trichodesmium sebagai marga yang paling mendominansi di kedua lokasi.

The research on community structure of phytoplankton in the waters of Lembeh Strait and Wori was conducted on 2015. Twenty sample was taken from 11 stations at Lembeh Strait and 8 stations at Wori. There were found 26 phytoplankton genera consist of 20 Diatoms genera, 5 Dinoflagellates genera, and 1 Cyanophyceae genera. The abundance of Lembeh Strait were higher than Wori. The phytoplankton abundance of Lembeh Strait reached 624.400 cells m3. Phytoplankton genera that dominate at Lembeh Strait were Trichodesmium and Chaetoceros, meanwhile at Wori was Trichodesmium. Dinoflagellate genera that dominate on both location was Prorocentrum. The diversity index at Lembeh Strait were higher than Wori. The richness and evenness index on both location were categorized as low and not even. The important score index shows that Trichodesmium was the most dominate genera on both location.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2017
S69549
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Utari Budihardjo
"Hasil penelitian tentang di Madura yang dilakukan pada bulan Juli 1995 sampai dengan bulan Juli 1996 telah diketemukan empat species Baru di perairan Indonesia, yaitu Solen abbreviatus, Solen comeus, Solen malaccensis dan Solen timorensis. Solen merupakan makanan tambahan untuk lauk pauk, cemilan dan sebagai penyedap (petis). Solen regularis, Solen malaccensis dan Solen leanus mempunyai kandungan protein masing-masing 10,73%;12,34%; 11,29%. Kandungan karbohidrat 4,1%, 5,39% dan 6,66%. Sedangkan kandungan lemak 1,22% dan 1,29 % dan kandungan air sebesar 79,33%, 79,46% dan 75,68%."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 1996
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
cover
cover
Tuti Haslinda
"ABSTRAK
Sampah merupakan barang-barang sisa, barang yang sudah rusak atau barang yang tidak dipakai dan harus dibuang. Dalam jumlah yang besar, sampah memerlukan perhatian dalam penanganannya, dan hal ini pada umumnya muncul pada wilayah perkotaan atau wilayah industri. Berdasarkan Laporan Pengelolaan Kebersihan pada tahun 1995, volume sampah di DKI Jakarta mencapai 7.360 ton/hari.
Komposisi sampah terdiri dari 73,90% sampah organik dan 26,10% sampah anorganik. Dari 26,14% sampah anorganik terdapat sampah kulit sebesar 1,75%, plastik 7,86%, logam 2,04% dan batu baterai 0,29%.
Sampah ini dibuang secara sanitary landfill di TPA Bantar Gebang Bekasi.
Di sekitar TPA sampah Bantar Gebang, banyak terdapat pemukiman penduduk, baik penduduk setempat maupun pendatang yang menggunakan air sumur gali mereka untuk keperluan air bersih dan air minum. Dengan demikian maka dimungkinkan terjadi pencemaran bahan polutan dari lindi TPA pada air sumur gali mereka.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan lokasi pembuangan sampah Kota Jakarta dan Bekasi dengan sistem Sanitary Landfill di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah Bantar Gebang terhadap kualitas air tanah, serta mempelajari pola kecenderungannya melalui pendekatan kualitas air tanah. Di samping itu untuk mengetahui kemungkinan penyebaran berbagai jenis pencemar yang membahayakan kesehatan manusia, serta pengaruhnya terhadap keadaan sosial ekonomi masyarakat di sekitarnya.
Pengamatan dilakukan terhadap air sumur gali penduduk di tiga desa yaitu Desa Ciketing Udik, Sumur Batu dan Cikiwul dengan 4 level jarak yaitu pada jarak lebih kurang 200 m, 400 m, 600 m dan 800 m dari pinggir TPA. Untuk mengetahui pengaruh TPA terhadap masyarakat di sekitarnya dilakukan, wawancara terencana terhadap 104 responden dari tiga desa dan pengelola TPA sampah Bantar Gebang, sedangkan untuk mengetahui kualitas air dibandingkan dengan Baku Mutu Air Bersih yaitu Permenkes RI Nomor 4161MENKES/PER/IX/1990 dan Kep-51/MENLHI/110/1995 untuk air limbah.
Dari hasil peneiitian yang dilakukan tentang hubungan tempat pembuangan akhir sampah secara sanitary landfill dengan kualitas air tanah dan kesehatan masyarakat (studi kasus di TPA sanitary landfill Bantar Gebang, Bekasi) dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Kualitas air limbah (lindi) TPA sampah sanitary landfill Bantar Gebang berdasarkan hasil analisis sifat fisik, kimia dan bakteriologi termasuk kategori buruk jika dibandingkan dengan baku mutu air limbah KEP/511MENLH/1995.
2. Berdasarkan analisis sifat fisika air, diketahui bahwa parameter warna kekeruhan dan zat padat terlarut belum melampaui baku mutu pada semua jarak pengamatan di semua desa. Untuk sifat kimia parameter yang melampaui baku mutu air bersih seperti ditetapkan dalam PERMENKES RI No.416/MENKES/PEFU/XI 1990 adalah pH, besi (Fe), Cd, Cr, Mn, Pb dan zat organik (KMnO4) untuk jarak 200 m dari TPA sampah, sedangkan untuk jarak 400 m dan 800 m parameter kimia yang melampaui baku mutu adalah zat organik pada Desa Sumur Batu dan Cikiwul. Kandungan bakteriologi disemua lokasi penelitian termasuk kategori buruk. Kualitas air sumur penduduk berdasarkan sistem STGRET termasuk buruk sebanyak 33 persen dan 67 persen termasuk sedang.
3. Hasil analisis regresi dan uji t memperlihatkan bahwa kualitas air tanah dilokasi penelitian dipengaruhi oleh jarak dari pusat TPA sampah sanitary landfill, yaitu semakin jauh jarak dari pusat TPA sampah semakin baik kualitas air.
4. Dari segi lingkungan dan kesehatan masyarakat, dengan adanya TPA sampah ini kondisi hunian semakin buruk, karena banyak lalat dan sampah yang beterbangan, demikian juga penyakit yang timbul seperti gatal-gatal, dan diare. Namun demikian masyarakat makin lama makin terbiasa dengan kondisi tersebut.

ABSTRACT
The Correlation Between Sanitary Landfill With Ground Water Quality And Community's Health (A Case Study at TPA Bantar Gebang, Bekasi)As the biggest city in Indonesia, DKI Jakarta faces serious problem regarding its waste treatment. The large number of its population and the very busy trade and industry have produced waste which could not be treated within Jakarta area.
According to "Laporan Pengelolaan Kebersihan" in 1995 the amount of waste to 7,350 ton/day. This waste is composed of 73.90% organic waste and 26.10% inorganic waste. This inorganic waste consists of 1.75% leather, 7.85% plastic, 2.04% metal and 0.29 battery. This waste is disposed in Bantar Gebang, Bekasi, using the sanitary landfill method.
Community live around this leachate use ground water for drinking and other need of clean water. It is very possible that their ground water is polluted by the waste which is treated nead their homes.
This research is conducted to explore the correlation between sanitary landfill and well water quality, and influence the health of the community living near it. We try to find any trend related to the quality of well water, such as the spreading of any disease, and socio-economic condition.
In this research, well water in three villages (Ciketing Udik, Sumur Batu and Cikiwul) are observed. This distance of each village is consecutively ± 200 m, ± 400 m, ± 800 m from the landfill. It's water quality is compared to the standard described in PERMENKES No.416/MENKES/1X11990 for clean water and Kep-511MENLH1111011995 for waste water. interviewed to 104 respondents from those three villages and asked the influence of the leachate to the community. We also interview the people, who in charge that manages the landfill.
The results of this research a summarized as follow :
1. The quality of leachate from sanitary landfill does not fulfill the standard described in KEP/511MENLH/10/1995.
2. The quality of physical ground water especially well water from all distance from landfill are fulfill the standard as described in PERMENKES RI No.416/MENKES/PER/IX/1990, but for chemical there are some indicator does not fulfill the standard, like pH, Fe, Cd, Cr, Mn, Pb and organic matter (KMnO4) for the distance 200 m from the landfill, but for 400 m and 800 m from landfill all indicator are fulfill the standard except for organic matter in Desa Batu and Desa Cikiwul. The bacteriological in well water in this study are bad for all distance and village. The category of well water in this study by STORET system of 33% is bad, and 67% is fair.
3. The regression analysis result shows that the quality of ground water especially for well water is affected by the distance from the landfill; farther location from the landfill, the better quality of water is.
4. From the environmental aesthetics and the people healthy present of view the existence of the landfill have made the house and surrounding become worse. There are many fly and waste in every places and also diseases like diarrhea and morbilli. But by the time the people become familiar with the condition.
"
Jakarta: Program Pascasarjana Universitas Indonesia, 1998
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
cover
Hazen, William E.
Philadelphia: W.B. Saunders, 1970
591.5 HAZ r
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Boughey, Arthur S.
New York: Macmillan, 1973
301.31 BOU e
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>