Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 113954 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Shellinna Kurniawati
"Asma merupakan salah satu masalah kesehatan yang ada pada masyarakat hampir di dunia. Menurut data yang didapatkan dari World Health Organization (WHO), pada tahun 2019 terdapat 262 juta pasien di seluruh dunia yang menderita asma, terutama di negara berpenghasilan rendah dan menengah. Menurut perkiraan WHO, terdapat 455.500 orang meninggal akibat asma pada tahun 2019. Apotek merupakan salah satu sarana pelayanan kefarmasian dimana diselenggarakannya praktik kefarmasian oleh apoteker guna memberikan pelayanan kesehatan, termasuk penyediaan obat yang aman, bermutu, bermanfaat dan terjangkau. Apoteker harus dapat memahami dan menganalisa pengobatan yang diterima oleh pasien akan kemungkinan terjadinya kesalahan pengobatan, masalah terkait obat, masalah farmakoekonomi, dan memberikan edukasi kepada pasien mengenai tahapan terapi farmakologi dan non-farmakologi asma agar kualitas hidup dari pasien pengidap asma dapat meningkat dan menurunkan morbiditasnya. Metode pengkajian resep dilakukan dengan studi literatur dari ketentuan perundang- undangan dan monografi obat. Pengkajian resep dilakukan berdasarkan ketentuan perundang-undangan, meliputi telaah administrasi, kesesuaian farmasetik, dan pertimbangan klinis. Pencatatan informasi penting harus diberikan kepada pasien selama Pemberian Informasi Obat (PIO) atau konseling. Selama bulan Januari 2023, resep untuk indikasi penyakit asma masih belum memenuhi aspek pengkajian resep meliputi administrasi, kesesuaian farmasetik, dan pertimbangan klinis sesuai yang ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan terutama dalam aspek kesesuaian farmasetik dan pertimbangan klinis sehingga informasi dalam resep dinyatakan belum lengkap dan pengobatan yang diberikan belum terjamin keefektifan dan rasionalitasnya. Edukasi yang diberikan untuk pasien asma dapat diberikan berdasarkan terapi farmakologi dan terapi non-farmakologi. Selain itu, juga diperlukan kerjasama yang baik dengan pasien maupun keluarga agar pengobatan dapat tercapai dengan optimal.

Asthma is one of the health problems that exist in the world. According to data obtained from the World Health Organization (WHO), in 2019 there were 262 million patients worldwide who suffer from asthma, especially in low- and middle-income countries. According to WHO, there are apporximately 455,500 people died from asthma in 2019. Pharmacy provides pharmaceutical service facility where pharmacists provide health services, including the provision of safe, quality, useful and affordable medicines. Pharmacists must be able to understand and analyze the treatment received by patients about the possibility of medication errors, drug-related problems, pharmacoeconomic problems, and provide education to patients regarding the stages of pharmacological and non- pharmacological therapy for asthma so that the quality of life can increase and reduce morbidity. The prescription review method is carried out by literature study of statutory provisions and drug monographs. Prescription review is carried out based on statutory provisions, including administrative review, pharmaceutical suitability, and clinical considerations. A record of important information should be provided to the patient during the Drug Information Administration or counselling. During January 2023, prescriptions for asthma did not meet the aspects of prescription review including administration, pharmaceutical suitability, and clinical considerations as stipulated in laws and regulations, especially in pharmaceutical suitability and clinical considerations because the prescription was declared incomplete and treatment effectiveness and rationality have not been guaranteed. Education for asthma patients can be given based on pharmacological therapy and non-pharmacological therapy. In addition, good cooperation with patients and families is needed for an optimized treatment."
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2023
PR-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Aflaha Ashari
"Prevalensi penyakit asma yang tinggi di Indonesia menyebabkan banyaknya penggunaan obat asma di fasilitas kesehatan. Penggunaan obat di fasilitas kesehatan harus mengikuti acuan yang berlaku secara nasional, yaitu Formularium Nasional. Oleh karena itu, perlu diadakan penelitian untuk mengevaluasi pola penggunaan obat asma pada pasien asma di Puskesmas Kecamatan Sukmajaya pada tahun 2015. Desain penelitian ini adalah deskriptif analitik dengan menggunakan metode ATC/DDD dan pengambilan data secara retrospektif dari resep pasien dan buku registrasi. Sampel adalah pasien asma yang diresepkan obat asma periode Januari hingga Desember 2015. Analisis dilakukan pada 338 data pasien asma yang memenuhi kriteria inklusi.
Berdasarkan hasil analisis, diperoleh prevalensi pasien asma terbanyak berjenis kelamin perempuan, kelompok usia di atas 45 sampai 65 tahun, dan pasien asma yang tidak mengikuti program BPJS. Obat asma yang digunakan adalah aminofilin, prednison, deksametason, dan salbutamol (5,03%). Penggunaan obat asma yang dinyatakan dalam DDD yaitu aminofilin (1562,33); prednison (809); deksametason (451,67); dan salbutamol (66,67). Nilai DDD/1000 pasien/hari yaitu aminofilin (12,37); prednison (6,56); deksametason (3,66); dan salbutamol (0,54). Obat asma yang menyusun segmen DU90% yaitu aminofilin (53,48%), prednison (28,35%), dan deksametason (15,83%). Penggunaan obat asma di Puskesmas Kecamatan Sukmajaya tahun 2015 sesuai dengan Formularium Nasional (70,97%).

The prevalence of asthma in Indonesia is high, followed by a lot of asthma drugs in healthcare facilities. The uses of drugs in health facilities must comply with applicable national reference that the national formulary. Therefore, there should be a study to evaluate usage patterns of asthma medication in asthma patients with ATC/DDD methode at Puskesmas Sukmajaya 2015. This is analytic descriptive study with ATC/DDD methode and data was collected retrospectively from patient prescriptions and registration books. Samples are asthma patients prescriptions that contain asthma drugs for period January to December 2015. 338 patients data those met the inclusion criteria were analized.
Based on the analysis, most prevalence of asthma in female, over 45 to 65 years group age, and payed without national healthy assurance system (BPJS). Asthma drugs that is used are aminophylline, prednisone, dexamethasone, and salbutamol. Quantity of drug utilization in DDD are aminophylline (1562,33); prednisone (809); dexamethasone (451,67); and salbutamol (66,67). The DDD/1000 patiens/day of asthma drugs are aminophylline (12,37); prednisone (6,56); dexamethasone (3,66); and salbutamol (0,54). Asthma drugs made up the DU90% were aminophylline (53,48%), prednisone (28,35%) and dexamethasone (15,83%). The uses of asthma drugs in Puskesmas Sukmajaya 2015 is compliance with national formulary (70,79%).;;
"
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2016
S65613
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sharon Hanandi
"Pengkajian resep adalah hal yang perlu dilakukan untuk melihat apakah pengobatan yang dilakukan bersifat rasional. Hal ini perlu diperhatikan khususnya pada pasien jantung koroner dan hipertensi karena pasien umumnya mengkonsumsi jumlah obat yang cukup banyak. Pengkajian resep dilakukan di Apotek Kimia Farma 348 Dramaga pada periode bulan Januari – Maret 2023. Telaah dilakukan dengan memperhatikan tiga aspek, yaitu telaah administratif, farmasetik, dan klinis pada 20 resep. Berdasarkan hasil telaah yang dilakukan, didapatkan hasil, yaitu pada aspek telaah administratif, terdapat beberapa syarat yang belum terpenuhi, seperti kurangnya informasi mengenai jenis kelamin, berat badan, dan usia pasien yang dapat diatasi dengan melakukan konfirmasi kembali pada rumah sakit dan dokter atau pasien yang bersangkutan; pada aspek telaah farmasetik memenuhi seluruh syarat; dan pada aspek telaah klinis terdapat beberapa syarat yang belum terpenuhi, seperti adanya polifarmasi dan kemungkinan interaksi obat. Permasalahan ini dapat diatasi dengan memberikan edukasi pada pasien untuk memberikan jeda konsumsi obat serta memberikan informasi mengenai pentingnya ketepatan waktu konsumsi obat untuk mendapatkan efek terapi yang maksimal.

Prescription review needs to be done to see whether patient’s treatment is rational. This needs to be considered especially in patients with coronary heart disease and hypertension because patients generally consume a large number of drugs. A prescription review was carried out at Kimia Farma 348 Dramaga Pharmacy in the period January - March 2023. The review was carried out by paying attention to three aspects, namely administrative, pharmaceutical and clinical reviews on 20 recipes. Based on the results of the review carried out, the results were obtained, namely the aspect of administrative review, there were several conditions that had not been fulfilled, such as a lack of information regarding the patient's gender, weight, and age which could be overcome by confirming to the hospital, doctor, or patient; pharmaceutical review aspect meets all requirements; and in clinical aspect there are several requirements that have not been fulfilled, such as the existence of polypharmacy and the possibility of drug interactions. This problem can be overcome by educating patients to pause in taking drugs and providing information about the importance of taking medication on time to get the maximum therapeutic effect."
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2023
PR-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Seshariani Rahma Melati
"Penyakit asma adalah penyakit inflamasi (peradangan) kronik saluran pernapasan yang ditandai adanya mengi, batuk, dan rasa sesak di dada yang berulang dan timbul terutama pada malam atau menjelang pagi akibat penyumbatan saluran pernapasan. Pengobatan saat ini dinilai belum efektif dan memiliki efek samping berkepanjangan. Oleh karena itu, dikembangkan sistem penghantaran obat secara inhalasi sehingga obat dapat mencapai target ke paru-paru dan meminimalkan efek samping serta meningkatkan efikasinya. Sebagai salah satu obat herbal, ekstrak akar galangal terbukti mengandung senyawa bioaktif galangin dengan sifat antioksidan, antiinflamasi, dan antimikroba. Salah satu teknik yang banyak digunakan untuk menghantarkan obat adalah mikroenkapsulasi dengan menggunakan polimer kitosan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan formulasi optimum, profil rilis, sifat mukoadhesivitas dan karakteristik dari mikropartikel kitosan-alginat hirup bermuatan ekstrak akar galangal dengan metode ionotropik gelasi dan pengeringan beku. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui sifat anti-inflamasi, kandungan senyawa fenolik dan flavonoid, serta aktivitas antioksidan dari ekstrak akar galangal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak akar galanagl dengan kemurnian 87,78% memiliki kandungan total fenolik mencapai 27,09 ± 3,59 mg GAE/g ekstrak, kadungan total flavonoid mencapai 38,0 mg QE/g ekstrak, sifat antioksidan ekuivalen sebesar 314.13 ± 25,71 µmol Fe (II)/g sampel ekstrak, dan IC50 DPPH sebesar 825 ppm, dan sifat antiinflamasi yang baik dengan nilai inhibisi denaturasi protein pada matriks kitosan-galangin 87,03%. Yield hasil pengeringan beku mikropartikel berada pada nilai ≥33% dengan pemuatan galangin rata-rata 29,97%. Formula dari mikropartikel kitosan bermuatan galangin dengan metode pengeringan beku mampu mencapai 24,77% selama 24 jam dalam media rilis PBS. Ukuran partikel hasil analisis SEM pada matrik kitosan-galangin adalah 204,93 nm. Sifat mukoadhesivitas dinyatakan dalam kemampuan adsorpsi musin mikropartikel yang berada pada rentang 23,29% - 79,86%

Asthma is a chronic inflammatory disease of the respiratory tract characterized by recurrent wheezing, coughing, and chest tightness that occurs mainly at night or in the early morning due to blockage of the respiratory tract. Current treatment is considered ineffective and has prolonged side effects. Therefore, a drug delivery system was developed by inhalation so that the drug can reach the target to the lungs and minimize side effects and increase its efficacy. As one of the herbal medicines, galangal root extract is proven to contain galangal bioactive compounds with antioxidant, anti-inflammatory, and antimicrobial properties. One technique that is widely used to deliver drugs is microencapsulation using chitosan polymer. This study aims to obtain the optimum formulation, release profile, mucoadhesive properties and characteristics of inhaled chitosan-alginate microparticles loaded with galangal root extract using ionotropic gelation and freeze-drying methods. In addition, this study also aims to determine the anti-inflammatory properties, the content of phenolic and flavonoid compounds, as well as the antioxidant activity of galangal root extract. The results showed that the galanagl root extract with a purity of 87.78% had a total phenolic content of 27.09 ± 3.59 mg GAE/g extract, a total flavonoid content of 38.0 mg QE/g extract, antioxidant properties equivalent to 314.13 ± 25.71 mol Fe (II)/g extract sample, and IC50 DPPH of 825 ppm, and good anti-inflammatory properties with the value of inhibition of protein denaturation in the chitosan-galangin matrix 87.03%. The yield of freeze-drying microparticles was at a value of 33% with an average galangin loading of 29.97%. The formula of galangin-loaded chitosan microparticles using the freeze-drying method was able to reach 24.77% for 24 hours in PBS release media. The particle size of the SEM analysis on the chitosan-galangin matrix was 204.93 nm. The mucoadhesive properties were expressed in the adsorption ability of mucin microparticles in the range of 23.29% - 79.86%."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2022
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Novia
"Apotek Kimia Farma Unit 389 merupakan salah satu apotek yang melayani resep pasien BPJS di Depok. Laporan ini disusun untuk mengkaji dan menganalisis resep di Apotek Kimia Farma Unit 389 Depok sehingga dapat memberikan informasi mengenai kelengkapan resep dan kejadian 'drug related problems' (DRPs) pada resep. Sampel yang digunakan berjumlah lima resep pasien BPJS kronis poli penyakit dalam di Apotek Kimia Farma Unit 389 periode April 2023. Hasil pengkajian dan analisis resep menunjukkan bahwa semua resep tidak lengkap ditinjau dari aspek administratif, aspek farmasetik, dan aspek klinis berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 73 Tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek. Kejadian DRPs terjadi pada semua resep. DRPs yang berkaitan dengan masalah efektivitas terapi terjadi pada resep 1 dan 3, sedangkan yang berkaitan dengan masalah keamanan terapi terjadi pada resep 1, 2, 4, dan 5.

Kimia Farma Pharmacy Unit 389 is one of the pharmacies that serve prescriptions for BPJS patients in Depok. This report was prepared to assess and analyze prescriptions at the Kimia Farma Pharmacy Unit 389 Depok so that it can provide information about the completeness of prescriptions and the incidence of drug related problems (DRPs) in prescriptions. The sample used consisted of five prescriptions for chronic BPJS patients of internal medicine poly at Kimia Farma Pharmacy Unit 389 for the period of April 2023. The results of the assessment and analysis of prescriptions showed that all prescriptions were incomplete in terms of administrative aspects, pharmaceutical aspects, and clinical aspects based on the Regulation of the Minister of Health Number 73 of 2016 concerning Pharmaceutical Service Standards in Pharmacies. DRPs occurred in all prescriptions. DRPs related to therapeutic effectiveness issues occurred in prescriptions 1 and 3, while those related to therapeutic safety issues occurred in prescriptions 1, 2, 4, and 5.
"
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2023
PR-PDF
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Bunga Atqiya Qutrunnada
"Apotek termasuk salah satu sarana pelayanan kefarmasian sebagai tempat dilakukan praktik kefarmasian oleh Apoteker. Apoteker dituntut untuk meningkatkan pengetahun serta keterampilannya dalam memberikan informasi obat kepada pasien serta memberikan konseling kepada pasien yang membutuhkan. Apoteker juga harus menyadari kemungkinan terjadinya kesalahan penyerahan obat dalam proses pelayanan sehingga perlu diidentifikasi untuk mencegah terjadinya kesalahan penyerahan obat. Salah satu upaya untuk menjamin kesehatan masyarakat adalah melakukan penyerahan obat dengan tepat yaitu dilakukan pengkajian resep terlebih dahulu sebelum melakukan pelayanan resep obat. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan efektifitas dalam pemberian informasi obat kepada pasien sehingga meminimalkan kesalahan dalam pemberian obat serta dapat meningkatkan kualitas hidup pasien dengan optimal. Pengkajian resep dapat dilakukan dengan mempertimbangkan beberapa aspek yang terdiri dari aspek administratif, kesesuaian farmasetik, dan pertimbangan klinis. Dari hasil analisis, kelima resep dinyatakan tidak lengkap secara administratif karena tidak mencantumkan secara lengkap mengenai umur pasien, berat badan pasien, alamat dokter, dan nomor telepon dokter. Pada aspek farmasetik, resep 2 dan 5 telah memenuhi kesesuaian farmasetik sedangkan resep 1, 3, dan 4 tidak memenuhi syarat karena tidak lengkap mencantumkan bentuk dan kekuatan sediaan. Pada aspek kesesuaian klinis, hanya 1 resep yang tidak terjadi interaksi obat yaitu resep 4.

Pharmacy is one of the pharmaceutical service facilities as a place for pharmacists to practice pharmacy. Pharmacists are required to improve their knowledge and skills in providing drug information to patients and providing counseling to patients in need. Pharmacists must also be aware of the possibility of drug administration errors in the service process so that they need to be identified in advance. One of the efforts to ensure public health is to deliver drugs appropriately, namely by assessing the prescription first before carrying out prescription drug services. This is done to increase the effectiveness of providing drug information to patients so as to minimize errors in drug administration and can improve the quality of life of patients optimally. Prescription review can be done by considering several aspects consisting of administrative aspects, pharmaceutical suitability, and clinical considerations. From the analysis, the five prescriptions were declared administratively incomplete because they did not include the patient's age, weight, doctor's address, and doctor's telephone number. In the pharmaceutical aspect, prescriptions 2 and 5 have met the pharmaceutical suitability while prescriptions 1, 3, and 4 did not meet the requirements because they did not include the dosage form and strength. In terms of clinical suitability, only 1 prescription did not have drug interactions, namely prescription 4.
"
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2023
PR-PDF
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Fadil Moch Al-Ridha
"Penyakit Paru Obstruksi Kronik (PPOK) merupakan penyakit yang ditandai dengan kelainan pada alveolar yang disebabkan oleh paparan signifikan terhadap partikel atau gas berbahaya sehingga mengakibatkan penyumbatan pada paru-paru dan keterbatasan aliran udara. Dalam upaya pencegahan dan pengobatan PPOK, apoteker berperan peting dalam pelayanan farmasi klinik yang berkaitan dengan sediaan farmasi untuk meningkatkan kualitas hidup pasien. Pengkajian resep merupakan salah satu pelayanan farmasi klinik yang dapat dilakukan oleh apoteker untuk menganalisa masalah terkait obat serta mencegah terjadinya kesalahan pemberian obat. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji aspek administrasi, kesesuaian farmasetik, dan pertimbangan klinis, serta kerasionalan 5 resep pasien paru di Apotek Kimia Farma Raya Bogor periode April 2023. Penelitian ini dilakukan dengan pengumpulan dan pengkajian resep pasien paru pada bulan april 2023. Hasil penelitian menunjukkan kelima resep pasien paru di Apotek Kimia Farma Raya Bogor telah memenuhi aspek administratif, aspek kesesuaian farmasetik, aspek pertimbangan klinis, dan resep rasional.

Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD) is a disease characterized by alveolar abnormalities caused by significant exposure to harmful particles or gases, resulting in blockage of the lungs and limited air flow. In efforts to prevent and treat COPD, pharmacists play an important role in clinical pharmacy services related to pharmaceutical preparations to improve the quality of life of patients. Prescription review is one of the clinical pharmacy services that can be carried out by pharmacists to analyze drug-related problems and prevent medication administration errors. This research aims to examine administrative aspects, pharmaceutical suitability and clinical considerations, as well as the rationale for 5 prescriptions for pulmonary patients at Kimia Farma Raya Bogor for the period April 2023. This research was conducted by collecting and reviewing pulmonary patient prescriptions in April 2023. The research results showed that the five prescriptions for pulmonary patients at Kimia Farma Raya Bogor Pharmacy had fulfilled administrative aspects, pharmaceutical suitability aspects, clinical consideration aspects, and rational prescriptions.
"
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2023
PR-PDF
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Ricky Midi Candra
"Apotek merupakan sarana kefarmasian dan merupakan tempat dilakukan praktek kefarmasian oleh apoteker.Pekerjaan apoteker di apotek yaitu pengelolaan sediaan farmasi , alat kesehatan dan bahan medis habis pakai, dan pelayanan farmasi klinik. Pengkajian resep merupakan salah satu bentuk pelayanan kefarmasian dalam aspek klinis di apotek. Pengkajian resep dilakukan untuk mencegah terjadinya kesalahan pemberian obat, meningkatkan hasil terapi dan meminimalkan risiko terjadinya efek samping karena obat. Bentuk permasalahan terkait obat yang sering terjadi adalah interaksi obat. Polifarmasi saat ini sering digunakan untuk pasien lansia dan/atau pasien dengan penyakit komplikasi. Penting bagi apoteker di apotek untuk melakukan kajian aspek klinis khususnya pada interaksi obat pada saat pelayanan resep untuk menjamin keamanan dan keefektifan obat yang diterima pasien. Pada praktik kerja ini dilaksanakan tugas khusus melakukan analisis interaksi obat pada pasien polifarmasi dan penyakit kronis di apotek kimia farma 202.

A pharmacy is a pharmaceutical facility and is a place where pharmaceutical practice is carried out by pharmacists. The work of pharmacists in pharmacies is the management of pharmaceutical preparations, medical devices and consumable medical materials, and clinical pharmacy services. Reviewing prescriptions is one form of pharmaceutical service in the clinical aspect in pharmacies. Prescription reviews are carried out to prevent medication administration errors, improve therapeutic results and minimize the risk of side effects due to medication. A form of drug-related problem that often occurs is drug interactions. Polypharmacy is currently often used for elderly patients and/or patients with complicated diseases. It is important for pharmacists to carry out studies of clinical aspects, especially drug interactions, during prescription services to ensure the safety and effectiveness of the drugs received by patients. In this internship, a specific task was carried out to analyze drug interactions in polypharmacy and chronic disease patients at Kimia Farma 202 Pharmacy.
"
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2023
PR-PDF
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Shanifa Dianmurdedi
"PRB (Program Rujuk Balik) merupakan salah satu program pelayanan kesehatan yang diberikan kepada peserta JKN (Jaminan Kesehatan Nasional) yang menderita penyakit kronis dengan kondisi stabil dan masih memerlukan pengobatan atau asuhan keperawatan jangka panjang yang dilaksanakan di fasilitas kesehatan tingkat pertama atas rujukan atau rekomendasi dari dokter spesialis. Pasien PRB adalah pasien dengan penyakit kronis seperti diabetes mellitus, hipertensi, jantung, asma, PPOK dan sebagainya yang umumnya mendapatkan lebih dari satu obat dalam satu resep yang disebut dengan polifarmasi. Pasien dengan resep polifarmasi memiliki risiko untuk mengalami interaksi obat lebih tinggi dibanding pasien yang menggunakan satu jenis obat. Potensi interaksi obat meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah obat yang diresepkan dalam satu resep. Pasien yang menerima resep polifarmasi berpotensi mengalami interaksi antar obat sebanyak 40% sehingga dibutuhkan pemantauan terapi obat dan interaksi obat dalam upaya untuk meningkatkan efektivitas terapi dan menghindari terjadinya efek samping obat yang tidak diinginkan. Tugas khusus praktik kerja di Apotek Kimia Farma 562 Sunter periode Oktober 2023 ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi interaksi obat yang dapat terjadi pada resep polifarmasi pasien PRB di Apotek Kimia Farma 562 Sunter periode Oktober 2023. Pengidentifikasian potensi interaksi obat dilakukan dengan mengumpulkan resep pasien PRB yang ditebus di apotek sejumlah 446 resep. Resep diseleksi berdasarkan jumlah obat di dalam resep dan didapatkan 82 resep polifarmasi. Potensi interaksi obat pada masing-masing resep diidentifikasi melalui situs www.drugs.com dan didapatkan 82 resep memiliki potensi interaksi dan 2 resep tidak memiliki potensi interaksi, didapatkan total 542 interaksi obat yang dikelompokkan menjadi 58 interaksi mayor, 403 interaksi moderat, dan 81 interaksi minor. Pengumpulan data interaksi obat diperlukan oleh apoteker sebagai bentuk pemantauan terapi obat sehingga tujuan pengobatan tetap dapat tercapai secara maksimal dan meminimalisir kemungkinan terjadinya interaksi obat yang tidak diinginkan.

PRB (Program Rujuk Balik) is one of the health service programs provided to JKN (Jaminan Kesehatan Nasional) participants who suffer from chronic diseases but currently in a stable condition and still require treatment or long-term nursing care which is carried out at first level health facilities based on referrals or recommendations from medical specialist. PRB patients are patients with chronic diseases such as diabetes mellitus, hypertension, heart disease, asthma, COPD and so on who generally receive more than one drug in one prescription, which is called polypharmacy. Patients with polypharmacy prescriptions have a higher risk of experiencing drug interactions than patients who use one type of drug. The potential for drug interactions increases as the number of drugs prescribed in one prescription increases. Patients who receive polypharmacy prescriptions have the potential to experience interactions between drugs as much as 40%, so monitoring of drug therapy and drug interactions is needed as an effort to increase the effectiveness of therapy and avoid the occurrence of unwanted side effects. This internship assignment at Kimia Farma 562 Sunter Pharmacy for the October 2023 period aims to identify potential drug interactions that could occur in polypharmacy prescriptions for PRB patients at Kimia Farma 562 Sunter Pharmacy for the October 2023 period. Identifying potential drug interactions is carried out by collecting PRB patient prescriptions that are redeemed in pharmacy with a total of 446 prescriptions. Prescriptions were selected based on the number of drugs in the prescription and 82 polypharmacy prescriptions were obtained. Potential drug interactions in each prescription were identified using www.drugs.com and it was found that 82 prescriptions had potential interactions and 2 prescriptions did not have potential interactions. A total of 542 drug interactions were obtained which were grouped into 58 major interactions, 403 moderate interactions, and 81 minor interactions. Pharmacists need to collect drug interaction data as a form of monitoring drug therapy so that treatment goals can still be achieved optimally and minimize the possibility of unwanted drug interactions occurring.
"
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2023
PR-PDF
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Darsih Sarastri
"Pengkajian dan pelayanan resep penting dilakukan untuk menganalisis adanya masalah terkait obat, sebagai upaya pencegahan kesalahan pemberian obat (medication error). Pengkajian resep dilakukan pada beberapa aspek yaitu aspek administratif, farmasetik dan klinis dengan beberapa komponen pada setiap aspeknya. Masalah terkait obat salah satunya dikarenakan adanya polifarmasi dalam peresepan obat. Beberapa jenis penyakit kronis dapat menyebabkan terjadinya komplikasi penyakit, sehingga memungkinkan terjadinya polifarmasi. Tujuan dilakukan penelitian untuk mengetahui kelengkapan dan kesesuaian aspek administratif, farmasetik dan klinis dari resep pasien BPJS dengan penyakit kronis di Apotek Kimia Farma 389 Depok periode resep bulan Juli 2023. Resep yang dikaji sebanyak 5 resep dengan kriteria berupa resep pasien BPJS dengan penyakit kronis, terdiri dari minimal 5 obat, dan resep periode Juli 2023. Resep yang memenuhi kriteria kemudian dilakukan dikaji pada aspek administratif, farmasetik dan klinis. Hasil yang diperoleh yaitu kelima resep yang dikaji belum lengkap secara administrasi dan diperlukan konfirmasi lebih lanjut kepada dokter penulis resep. Aspek farmasetik resep 1, 4 dan 5 telah lengkap memuat keterangan nama, bentuk dan kekuatan sediaan. Sedangkan aspek farmasetik resep 2 dan 3 belum lengkap karena tidak terdapat keterangan bentuk dan kekuatan sediaan. Aspek klinis dari kelima resep menunjukan adanya polifarmasi dan interaksi obat yang memerlukan pemantauan kondisi pasien
lebih lanjut.

Assessment and prescription services are crucial for analyzing medication-related issues, as part of efforts to prevent medication errors. Prescription assessment covers several aspects: administrative, pharmaceutical, and clinical, each with specific components. One of the medication-related issues is due to polypharmacy in prescribing. Various chronic diseases can lead to disease complications, thereby potentially causing polypharmacy. The research aims to determine the completeness and appropriateness of the administrative, pharmaceutical, and clinical aspects of prescriptions for BPJS patients with chronic diseases at Apotek Kimia Farma 389 Depok, during the prescription period of July 2023. Five prescriptions were reviewed, each meeting the criteria of being for BPJS patients with chronic diseases, consisting of at least 5 medications, and being from the July 2023 period. These prescriptions were assessed for administrative, pharmaceutical, and clinical aspects. The results revealed that all five prescriptions reviewed were incomplete administratively, necessitating further confirmation from the prescribing doctor. Pharmaceutically, prescriptions 1, 4, and 5 were complete with information regarding drug name, form, and strength, while prescriptions 2 and 3 lacked information on form and strength of the drugs. Clinically, all five prescriptions showed polypharmacy and drug interactions requiring further patient condition monitoring.
"
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2023
PR-PDF
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>