Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 120351 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Aditiya Nugraha
"Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kontribusi pertukaran pion orde keempat pada hamburan K+N dalam leading term dengan menghitung penampang lintang diferensial. Penelitian ini dilakukan karena pada hamburan K+N orde kedua belum memberikan hasil yang baik sehingga perlu dilakukan hingga orde keempat. Pada penelitian ini model yang digunakan adalah model pertukaran dua hadron (2 meson pion) dimana model tersebut memiliki keadaan intermediate N atau Δ. Perhitungan hamburan yang dilakukan pada penelitian ini tidak menggunakan teknik gelombang parsial, melainkan teknik tiga dimensi (3D). Teknik 3D tidak menguraikan keadaan bebas dalam bentuk gelombang parsial, sehingga sangat bermanfaat pada hamburan energi tinggi.

The aim of this study is to analyze the contribution of pion exchange on the fourth-order KN Interaction for leading term by calculating the differential cross section. Previous study about the-second order KN interaction shows that the result need to be improved, so we continue the study to the fourth-order. In this study, the two-hadrons exchange model is described as two pions exchange (2 pion mesons) in which have N or Δ as the intermediate state. We apply 3D technique in this study as a good alternative to Partial wave technique. That technique does not expand the free state in partial wave so it is usefull in high energy scattering."
Depok: Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2023
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
M. Jauhar Kholili
"Keberadaan resonansi nukleon yang hilang dapat dicari dengan menggunakan produksi elektromagnetik dari kaon pada total energi c.m. sampai dengan 2,2 GeV. Penelitian ini didasarkan pada model isobar dan menemukan bahwa resonansi nukleon tertentu sangat diperlukan untuk menjelaskan beberapa proses hamburan. Resonan-resonan nukleon S11(1650), D13(2080), P11(1710), P13(1720), S11(2090), P11(2100), P11(1840), resonan meson K(892), dan resonan hyperon S01(1800), S01(1810) dilibatkan untuk perhitungan dalam penelitian ini.
Hasil perhitungan dengan melibatkan resonan-resonan ini menunjukkan hasil kecocokan yang dengan data. Sesuai dengan penelitian sebelumnya [17], dengan sangat kecilnya kontribusi dari resonan P11(1710), maka dapat dikatakan bahwa resonan ini tidak harus digunakan untuk mereproduksi data dengan baik. Hasil dari penelitian ini menguatkan hasil penelitian dari grup Bonn-Gatchina [10,11,12] bahwa penyertaan dari resonan P13(1900) dan P11(1840) memperbaiki nilai dari fi2 dengan cukup signifikan. Khususnya untuk resonan P13(1900) mempunyai kontribusi yang sangat penting untuk mereproduksi data polarisasi Cx dan Cz [15].

Recently, it has been realized that the constituent quark models predict much more nucleon resonance states than that found in the pion-nucleon scattering and recorded in the Particle Data Book. Those resonances missing in the Particle Data Book are later called as missing resonances. We have searched for the existence of these missing nucleon resonances by using electromagnetic production of kaon at total c.m. energies from threshold up to 2.2 GeV. Employing the diagrammatic techniques called isobar model, the scattering amplitude of p(;K+) has been derived with the coupling constants being determined phenomenologically by a least-squares t to the available experimental data.
It is found that certain nucleon resonances are strongly needed to explain the process. Born terms meson-baryon interaction are included in the model via nucleon intermediate state in the s- and u-channels and meson exchanges in the t-channel amplitude. The nucleon resonances S11(1650), D13(2080), P11(1710), P13(1720), P13(1900), S11(2090), P11(2100), P11(1840), meson resonances K(892), and hyperon resonances S01(1800), S01(1810) are taken into account explicitly in the calculation. Comparison between the extracted resonance parameters and those of the quark models shows a good agreement with experimental data. Similar with previous study [17], we do not nd any compelling requirement for including the P11(1710) state in order to reproduce the experimental p(;K+) data. Our result corroborates the claim of Bonn-Gatchina group [10,11,12] on the importance of P13(1900) and P11(1840) states in improving the 2. Especially for P13(1900), its contribution is very important to reproduce the Cx and Cz data [15].
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2012
S1648
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Hamzah Fadhlurahman
"Interaksi antar partikel dapat digambarkan sebagai pertukaran partikel virtuil. Spesifik untuk interaksi K−N , model potensial yang digagas oleh Muller adalah model pertukaran satu hadron (orde kedua) dan dua hadron (orde keempat). Pada penelitian ini, model pertukaran dua hadron dijabarkan sebagai pertukaran dua pion (2 meson π) dimana model tersebut memiliki keadaan intermediate N atau ∆. Kontribusi pertukaran 2 pion tersebut dibahas dengan cara membandingkannya dengan kontribusi pertukaran 1 hadron. Perbandingan yang dimaksud adalah dengan melihat penampang lintang diferensial dari hamburan K−N untuk interaksi orde kedua dan orde keempat yang dibatasi hanya dengan mengambil leading term amplitudo hamburan. Teknik 3D tanpa ekspansi gelombang parsial diterapkan dalam perhitungan ini, yang mengambil daerah energi sangat tinggi.

Interaction between particles can be described as virtual particles exchange. Specifically for K−N interaction, the potential models initiated by Muller are one-hadron exchange (second order) and two-hadrons exchange (fourth order). In this research, the tow-hadrons exchange model is described as two pions exchange (2 π mesons) in which have N or ∆ as the intermediate state. The two pions exchange contribution discussed by comparing it to the one-hadron exchange. The comparison mentioned are by looking at the differential cross sections of the K−N interaction for the second and fourth order bounded by the leading term of the scattering amplitude only. 3D technique — without the partial wave expansion — is used in this calculation in the high energy region."
Depok: Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2023
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Zulhaji
"Fotoproduksi pion pada nukleon dengan model isobar telah dipelajari dan dikembangkan pada tiga tingkatan level energi. Reaksi yang ditinjau adalah γ + ρ ➙ π0 + ρ. Selanjutnya Amplitudo transisi akan dihitung pada kerangka pusat massa untuk setiap kanal. Perhitungan dimulai dari suku born, suku vektor meson hingga suku resonan P33, P11, dan S11. Pada penelitian ini akan dihitung penampang lintang total dengan energi foton sampai 1 GeV diatas energi ambang. Nilai dari parameter-parameter akan ditentukan melalui proses fitting dan akan dicocokkan dengan data eksperimen.

The pion photoproduction on the nucleon have been studied and developed by using the isobaric model at the tree level. The considered reaction is γ + ρ ➙ π0 + ρ. The transition amplitudes are formulated in the center of mass system and consist of s , t , and u channel as the Born term, vector mesons term, and the resonances term P33, P11, and S11. As observables, we calculate the total and differential cross section at photon energies from threshold up to 1 GeV. The value of the parameters are determined by fitting the calculated observables to the experimental data."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2017
S67001
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
R. Suharyo Sumowidagdo
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 1999
S28497
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
London: Sage, 1997
302 DIS
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
cover
"Latar Belakang: Pengobatan antimalaria dan anti-HIV secara bersamaan merupakan tantangan baru dalam penanganan koinfeksi malaria dan HIV. Primakuin merupakan substrat sekaligus inhibitor bagi CYP3A4, sedangkan ritonavir merupakan substrat, inhibitor, sekaligus inducer bagi CYP3A4. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengukur ekspresi mRNA CYP3A4 pada kultur sel HepG2 yang diinduksi oleh pemberian primakuin dan ritonavir secara bersamaan. Metode: Pada penelitian pendahuluan, sel HepG2 diinkubasi dengan primakuin 30, 40, 50 uM; ritonavir 2, 10, 20 uM; DMSO <0,1 % sebagai kontrol negatif; atau rifampisin 20 uM sebagai kontrol positif. Adapun pada penelitian dengan perlakuan kombinasi obat, sel HepG2 diinkubasi dengan primakuin 40 uM+ritonavir 10 uM; DMSO <0,1 %; atau rifampisin 20 uM selama 72 jam. Sel dipanen menggunakan tripsin-EDTA dan RNA total diekstraksi menggunakan reagensia isolasi tripure. Setelah jumlah RNA total dikuantifikasi menggunakan alat spektrofotometer, ekspresi mRNA CYP3A4 diukur dengan real-time reverse transcription polymerase chain reaction (RT-PCR). Hasil: Terjadi peningkatan ekspresi mRNA CYP3A4 (1,22 kali lipat terhadap kontrol) pada sel HepG2 yang diinkubasi dengan primakuin dan ritonavir secara bersamaan. Hal ini menunjukkan bahwa efek induksi oleh ritonavir lebih dominan daripada efek inhibisi oleh primakuin. Kesimpulan: Pemberian primakuin dan ritonavir secara bersamaan meningkatkan ekspresi mRNA CYP3A4 in vitro.

Abstract
Background: Concomitant treatment with antimalaria and antiretroviral drug is a new challenge in the management of malaria and HIV co-infection. Primaquine is a substrate and also an inhibitor of CYP3A4, while ritonavir is a substrate, an inhibitor, and also an inducer for CYP3A4. The objective of this study is to measure the CYP3A4 mRNA expression in HepG2 cell culture induced by primaquine and ritonavir co-treatment. Methods: For the initial study HepG2 cells were treated with 30, 40, 50 uM of primaquine; 2, 10, 20 uM ritonavir; DMSO ≤0.1 % for negative control; or 20 uM rifampicin for positive control. While for the co-treatment study the cells were treated with 40 uM primaquine+10 uM ritonavir; DMSO ≤0.1 %; or 20 uM rifampicin for 72 hours. The cells were harvested using trypsin?EDTA and total RNA was extracted using the Tripure isolation reagent. After determining the quantity of RNA spectrophotometrically, CYP3A4 mRNA expression was quantified using real-time reverse transcription polymerase chain reaction (RT-PCR). Results: The expression of CYP3A4 mRNA was up-regulated (1.22 fold over control) in HepG2 cells co-treated with primaquine and ritonavir. These data suggest that the induction effect of ritonavir was more dominant than the inhibitory effect of primaquine. Conclusion: Concomitant administration of primaquine and ritonavir result in up-regulation of CYP3A4 mRNA expression in vitro. (Med J Indones 2012;21:3-7) Keywords: CYP450 induction, CYP3A4, drug interaction, primaquine, ritonavir"
[Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia], 2012
pdf
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Hamzah Fadhlurahman
"Pada hamburan partikel, interaksi antar partikel dapat dimodelkan sebagai suatu model potensial tertentu. Salah satunya adalah model pertukaran satu hadron. Dalam model interaksi ini, hadron yang dipertukarkan antara lain meson skalar (), meson vektor (), baryon (), dan resonannya (). Model interaksi yang diturunkan dimaksudkan untuk diterapkan pada perhitungan proses-proses non-relativistik. Dalam penurunan model interaksi ini digunakan reduksi Blankenbecler-Sugar. Parameter-parameter yang digunakan pada model ini, ditentukan dengan melakukan fitting terhadap data eksperimen differential cross section untuk momentum 225 MeV hingga 943 MeV atau dengan energi 51,27 MeV hingga 900,64 MeV. Hamburan dihitung dengan menggunakan teknik 3D tanpa ekspansi partial wave.

In particle scattering, the interaction between particles can be modeled as a specific potential model. One of them is one hadron exchange model. In interaction model, the exchanged particles are scalar meson (), vector meson (), baryon (), and its resonance (). The derived interaction model is about to be used in calculating nonrelativistic processes. This model derived using Blankenbecler-Sugar reduction. Parameters used in this model, determined by fitting the experiment data for the differential cross section for momentum 225 MeV until 943 MeV or energy 51.27 MeV until 900.64 MeV. Scattering calculated using 3D technique without partial wave expansion.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2019
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Encu Rusmana
"Telah dilakukan perhitungan hamburan Nukleon-Nukleon dengan menggunakan interaksi separabel rank-1 dan rank-2. Parameter interaksi ditentukan melalui fitting dengan data pergeseran fase dari analisis SAID untuk gelombang parsial S, P, dan D dengan isospin 0 dan 1. Data yang digunakan berada dalam daerah energi lab 0-200 MeV.

Nucleons scattering has been calculated by using the separable interaction of rank-1 and rank-2. Interaction parameters are determined by fitting to the phase shift data from SAID's analysis for partial waves S, P, and D with isospin 0 and 1. The data used in the fitting are data with lab energy between 0-200 MeV."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2012
T30156
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>