Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 115649 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Kania Nurfitriana Tunggadewi
"Tujuan berkelanjutan dunia yang ditargetkan tercapai pada tahun 2030 menuntut seluruh organisasi untuk menerapkan manajemen berkelanjutan. Perwujudan tersebut diukur melalui implementasi Environment, Social, Governance (ESG) sebagai indikator yang mengukur realisasi praktik berkelanjutan. Namun, kinerja ESG Indonesia masih tertinggal di antara negara-negara dunia karena kekayaan alam dan sosialnya yang menjebak organisasi dalam zona nyaman. Industri telekomunikasi Indonesia berperan strategis dalam membangun konektivitas negara, sehingga kinerja ESG sangat dibutuhkan untuk mendapatkan investasi yang signifikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengenalan aktivitas ESG pada karyawan Telkom Indonesia dan XL Axiata dengan melakukan survei online dan wawancara mendalam sebagai bagian dari proses triangulasi. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa karyawan kedua perusahaan tersebut memiliki pengenalan yang tinggi terhadap praktik ESG. Hasil penelitian ini mengonfirmasi bahwa pengakuan karyawan dengan pemantauan yang efektif berperan penting sebagai penentu kualitas kinerja ESG. Perusahaan telekomunikasi di Indonesia disarankan untuk meningkatkan kinerja ESG melalui pendekatan langsung dalam meningkatkan pengenalan karyawan terhadap praktik ESG. Pemerintah Indonesia dan otoritas pasar modal diharapkan turut mendukung efektifitas penerapan ESG dengan memaksimalkan fungsi pengawasan untuk meningkatkan kepatuhan ESG di Indonesia.

The Sustainable Goals, which are targeted to be achieved by 2030, have forced all organizations to implement Environment, Social, and Governance (ESG) as the sustainability measurement. However, Indonesia's ESG performance is still lagging due to its status quo, which trapped the organization in a comfort zone. The Indonesian telecommunications industry plays a strategic role in building the nation's connectivity, which relies on ESG performance to gain significant investment. This research aims to understand the ESG activity recognition of Telkom Indonesia and XL Axiata employees by conducting an online survey and in-depth interviews as part of the triangulation process. The result indicates that employees in both companies have a high recognition of ESG practices. This study confirmed that employee recognition with effective monitoring have a significant role in ESG performance. Telecommunication companies in Indonesia are advised to increase ESG performance through a direct approach in increasing employee recognition of ESG practices. Indonesian government and capital market authorities are expected to maximize the supervisory functions to increase ESG compliance in Indonesia."
Depok: Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia, 2022
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Lumbanraja, Ramos Michael Immanuel
"Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaiaman portofolio optimal saham-saham ESG terbentuk dari indeks ESG Leaders dan selanjutnya dibandingkan portofolio optimal saham-saham indeks LQ45 menggunakan dua metode, yaitu Model Single Indeks dan Model Markowitz, di mana Single Indeks Model menggunakan satu indeks sebagai dasar pembentukan portofolio optimal, sedangkan Model Markowitz mengoptimalkan diversifikasi portofolio dengan mempertimbangkan hubungan antara saham-saham yang ada. Hasil penelitian menunjukan, untuk portofolio ESG Leaders dalam Model Single Indeks, komposisinya terdiri dari TBIG (13,41%), BBCA (79,33%), dan TOWR (7,26%), dengan return yang diharapkan sebesar 1,23% per bulan atau 15,7% per tahun, dan standar deviasi sebesar 5,21% per bulan atau 18,0% per tahun. Nilai Sharpe Ratio adalah 0,1624. Sementara itu, komposisi portofolio LQ45 mencakup ICBP (2,85%), SSMS (3,69%), ADRO (10,94%), ITMG (11,71%), PTBA (8,66%), dan BBCA (62,15%), menghasilkan return yang diharapkan sebesar 1,27% per bulan atau 16,4% per tahun, dengan standar deviasi sebesar 5,16% per bulan atau 17,9% per tahun. Nilai Sharpe Ratio adalah 0,1729. Untuk Model Markowitz, portofolio optimal ESG Leaders memiliki komposisi BBCA (74,11%), TBIG (12,34%), dan TOWR (13,55%), dengan return yang diharapkan sebesar 1,212% per bulan atau 15,56% per tahun, dan standar deviasi sebesar 4,9% per bulan atau 15,6% per tahun. Nilai Sharpe Ratio adalah 0,167. Komposisi portofolio optimal LQ45 terdiri dari ADRO (5,1%), BBCA (69,0%), ICBP (5,6%), ITMG (12,0%), KLBF (4,8%), SSMS (1,7%), dan TPIA (1,8%), dengan return yang diharapkan sebesar 1,2225% per bulan atau 15,70% per tahun, dan standar deviasi sebesar 5,1% per bulan atau 17,7% per tahun. Nilai Sharpe Ratio adalah 0,165. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa saham-saham ESG Leaders dan LQ45 memiliki komposisi portofolio yang berbeda dalam kedua model yang digunakan. Meskipun terdapat perbedaan dalam kinerja portofolio, keduanya menunjukkan potensi untuk menghasilkan kinerja yang baik. Implikasi praktis dari penelitian ini adalah adanya pilihan strategi investasi yang beragam bagi investor yang tertarik pada saham-saham ESG Leaders dan LQ45. Pemilihan model yang sesuai akan membantu investor dalam membentuk portofolio yang optimal sesuai dengan tujuan dan preferensi mereka.

This study aims to analyze how optimal portfolios of ESG stocks are formed from the ESG Leaders index and then compare them with the optimal portfolios of stocks from the LQ45 index using two methods, namely the Single Index Model and the Markowitz Model, where the Single Index Model uses a single index as the basis for forming the optimal portfolio, while the Markowitz Model optimizes portfolio diversification by considering the relationships between the stocks. The results of the study show that for the ESG Leaders portfolio in the Single Index Model, the composition consists of TBIG (13.41%), BBCA (79.33%), and TOWR (7.26%), with an expected return of 1.23% per month or 15.7% per year, and a standard deviation of 5.21% per month or 18.0% per year. The Sharpe Ratio value is 0.1624. On the other hand, the LQ45 portfolio composition includes ICBP (2.85%), SSMS (3.69%), ADRO (10.94%), ITMG (11.71%), PTBA (8.66%), and BBCA (62.15%), resulting in an expected return of 1.27% per month or 16.4% per year, with a standard deviation of 5.16% per month or 17.9% per year. The Sharpe Ratio value is 0.1729. For the Markowitz Model, the optimal ESG Leaders portfolio consists of BBCA (74.11%), TBIG (12.34%), and TOWR (13.55%), with an expected return of 1.212% per month or 15.56% per year, and a standard deviation of 4.9% per month or 15.6% per year. The Sharpe Ratio value is 0.167. The optimal LQ45 portfolio composition includes ADRO (5.1%), BBCA (69.0%), ICBP (5.6%), ITMG (12.0%), KLBF (4.8%), SSMS (1.7%), and TPIA (1.8%), with an expected return of 1.2225% per month or 15.70% per year, and a standard deviation of 5.1% per month or 17.7% per year. The Sharpe Ratio value is 0.165. Based on the results of the study, it can be concluded that ESG Leaders stocks and LQ45 stocks have different portfolio compositions in both models used. Although there are differences in portfolio performance, both show potential for achieving good performance. The practical implication of this research is the availability of diverse investment strategy options for investors interested in ESG Leaders and LQ45 stocks. Choosing the appropriate model will assist investors in forming an optimal portfolio according to their goals and preferences."
Jakarta: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2023
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Irsyandi Destrayudha
"Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana pengaruh kegiatan Environmental, Social, Governance (ESG) terhadap performa perusahaan pelayanan kesehatan di kawasan Asia Pasifik, dengan menggunakan analisis metode regresi data panel. Penelitian ini menggunakan sampel 124 perusahaan pelayanan kesehatan di kawasan Asia Pasifik pada periode 2018 hingga 2022. Penelitian menggunakan variabel ROA dan ROE sebagai indikator performa perusahaan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh signifikan pada kegiatan ESG perusahaan terhadap performa perusahaan pelayanan kesehatan. Country level development suatu negara di kawasan Asia Pasifik juga tidak berdampak pada aktivitas ESG perusahaan secara keseluruhan pengecualian untuk pillar S*country memiliki pengaruh signifikan positif namun tidak terlalu mempengaruhi total ESG. 

This study aims to analyze the impact of Environmental, Social, Governance (ESG) activities on the performance of health service companies in the Asia Pacific, using panel data regression method analysis. This study used a sample of 124 healthcare companies in the Asia Pacific region in the period 2018 to 2022. The study uses ROA and ROE variables as indicators of company performance. The results of this study show that there is no significant effect on the company's ESG activities on the performance of health care companies. Country level development of a country in the Asia Pacific region also has no impact on the company's overall ESG activities, the exception for the S*country pillar has a significant positive influence but does not significant effect on total ESG. "
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2023
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Halomoan, Jonatan
"Penelitian ini menganalisis metode pengukuran ESG rating yang dikeluarkan oleh 4 lembaga pemeringkat ESG yaitu S&P , MSCI, Sustainalytics, dan Refinitiv dengan metode AHP dan Delphi dimana hasilnya akan menentukan metode mana yang paling cocok digunakan untuk menganalisa risiko ESG di  PT. PLN (PERSERO). Dari hasil pengolahan data ditemukan bahwa metode pengukuran ESG rating dari Sustainalytic memiliki nilai prioritas yang paling tinggi yaitu 43,3% hal itu tidak berbeda jauh dengan metode dari S&P dengan nilai 34,1%. Sementara itu metode dari 2 lembaga pemeringkat ESG lainnya memiliki bobot yang lebih rendah yaitu MSCI dengan 12,1% dan Refinitiv dengan 10,5%. Untuk pengelolaan risiko ESG yang efektif, PLN disarankan untuk membentuk sub-divisi risiko ESG di bawah divisi risiko strategis yang bertanggung jawab penuh terhadap risiko ESG. Dimana mitigasi untuk Risiko lingkungan adalah membuat laporan risiko iklim fisik dan kekurangan air, menetapkan tanggung jawab manajerial untuk mengurangi intensitas karbon energi, melindungi keanekaragaman hayati, rehabilitasi lingkungan. Dari risiko sosial mitigasinya adalah berkomitmen pada program tanggap darurat yang efektif dengan penetapan tanggung jawab manajerial yang jelas, komunikasi yang efektif, dan penyediaan akses layanan bagi kelompok kurang mampu, serta menciptakan lingkungan kerja yang inklusif. Dari risiko tata kelola mitigasinya adalah memperkuat program whistleblower dan menetapkan tanggung jawab manajerial terhadap penilaian risiko etis.

This study examines the ESG rating measurement methods issued by four ESG rating agencies: S&P, MSCI, Sustainalytics, and Refinitiv, using the Analytic Hierarchy Process (AHP) and delphi. The results determine which method is most appropriate for analyzing ESG risks at PT. PLN (Persero). Data analysis reveals that the ESG rating measurement method from Sustainalytics has the highest priority value at 43.3%, which is closely followed by the S&P method at 34.1%. The methods from the other two ESG rating agencies have lower weights, with MSCI at 12.1% and Refinitiv at 10.5%. For effective ESG risk management, PLN is advised to establish an ESG risk sub-division under the strategic risk division, which will be fully responsible for ESG risks. Environmental risk mitigation includes preparing reports on physical climate risks and water shortages, assigning managerial responsibilities to reduce energy carbon intensity, protecting biodiversity, and environmental rehabilitation. Social risk mitigation involves committing to effective emergency response programs with clear managerial responsibilities, effective communication, and providing access to services for underprivileged groups, as well as creating an inclusive work environment. Governance risk mitigation includes strengthening the whistleblower program and assigning managerial responsibilities for ethical risk assessments."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2024
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Suwito Haryatno
"ESG investing adalah pilihan tema investasi masa kini dan masa depan di tengah gejolak pasar dan perubahan arah ekonomi dunia. Perkembangan teknologi informasi dan digital mendukung tersediannya produk investasi yang bermuatan faktor ESG dan kemudahan akses serta layanan bagi investor."
Jakarta: The Ary Suta Center, 2020
330 ASCSM 49 (2020)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Hendra Rifki Yuadma
"Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan kinerja Environment, Social dan Governance (ESG) yang diproksikan melalui skor ESG dengan tingkat utang perusahaan di ASEAN. Penelitian-penelitian sebelumnya lebih banyak berfokus pada pengaruh kinerja ESG terhadap performa keuangan dan belum banyak yang menguji pengaruh kinerja EGS terhadap tingkat utang perusahaan. Penelitian ini juga menggunakan kendala keuangan, keterlibatan pemangku kepentingan, Covid-19 dan lingkungan kelembagaan sebagai moderasi dalah hubungan antara ESG dengan tingkat utang perusahaan. Skor ESG yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari Eikon Refinitiv. Sampel penelitian ini terdiri dari 944 tahun perusahaan yang berasal dari 325 perusahaan yang terdaftar di pasar modal 7 negara ASEAN selama tahun 2017-2021. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kinerja ESG berpengaruh positif dan signifikan terhadap tingkat utang perusahaan. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan dengan kinerja ESG yang lebih baik mampu mendapatkan utang yang lebih banyak. Hasil lainnya dari penemuan ini adalah kendala keuangan, keterlibatan pemangku kepentingan, Covid-19 dan lingkungan kelembagaan tidak berpengaruh terhadap hubungan antara kinerja ESG dengan tingkat utang perusahaan. Penelitian ini diharapkan mampu mengisi kesenjangan dari penelitian-penelitian yang telah ada terkait pengaruh kinerja ESG terhadap tingkat utang perusahaan dengan turut mempertimbangkan faktor kendala keuangan, pemangku kepentingan, Covid-19 serta lingkungan kelembagaan. Keterbatasan penelitian ini adalah sedikitnya perusahaan di ASEAN yang memiliki skor ESG. Hal ini akan membuat adanya kemungkinan perbedaan hasil jika penelitian serupa dilakukan dengan data dari negara diluar kawasan ASEAN.

This study aims to analyze the effect of Environment, Social and Governance (ESG) performance measured through ESG scores on corporate debt levels in ASEAN. Previous studies have focused more on the effect of ESG performance on financial performance and not many have examined the effect of EGS performance on corporate debt levels. This study also uses financial constraints, stakeholder engagement, Covid-19 and institutional environment as moderation in the relationship between ESG and corporate debt levels. The ESG score used in this study was obtained from eikon refinitiv. The sample of this study consists of 944 company years from 325 companies listed on the capital market of 7 ASEAN countries during 2017-2021. The results of this study indicate that ESG performance has a positive and significant effect on the level of corporate debt. This suggests that companies with better ESG performance are able to obtain more debt. Other results of this finding are financial constraints, stakeholder engagement, Covid-19 and institutional environment have no effect on the relationship between ESG performance and corporate debt levels. This study is expected to fill the gap of existing studies related to the influence of ESG performance on corporate debt levels by taking into account the factors of financial constraints, stakeholders, Covid-19, and institutional environment. The limitation of this research is that there are few companies in ASEAN that have ESG scores. This will create the possibility of differences in results if similar research is conducted with data from countries outside the ASEAN region."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Chrusty Nuril Fitriana
"Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kinerja keberlanjutan yang diproksikan melalui skor ESG terhadap kebijakan dividen perusahaan di Indonesia. Penelitian-penelitian sebelumnya lebih banyak berfokus pada pengaruh ESG terhadap performa keuangan. Pada penelitian ini juga digunakan status kepemilikan keluarga sebagai faktor moderasi ESG. Status kepemilikan adalah dasar penting untuk menilai perilaku akuntansi perusahaan, terutama terkait pembagian dividen. Kinerja ESG diproksikan dengan skor ESG Performance Refinitiv dari Eikon. Kebijakan pembagian dividen diukur menggunakan Dividend Payout Ratio. Sampel dari penelitian ini terdiri dari 42 perusahaan non finansial yang terdaftar di BEI tahun 2015-2020. Hasil penelitian menunjukkan skor ESG memiliki pengaruh positif pada kebijakan dividen, namun signifikansinya lemah. Selain itu didapatkan informasi bahwa ESG yang dimoderasi dengan kepemilikan keluarga memiliki korelasi negatif yang signifikansinya lemah pada kebijakan pembagian dividen. Temuan ini menunjukkan perusahaan yang memiliki ESG lebih baik, membagikan dividen yang lebih tinggi. Selain itu, perusahaan yang dimiliki oleh keluarga mengurangi pengaruh positif kinerja ESG sehingga membayarkan dividen yang lebih sedikit. Penelitian ini diharapkan dapat mengisi kesenjangan dari studi sebelumnya yang belum mempertimbangkan pengaruh keberlanjutan pada kebijakan pembagian dividen, dan menambahkan informasi terkait manfaat penerapan keberlanjutan di dunia bisnis sehingga dapat digunakan sebagai rujukan oleh pelaku bisnis serta investor ketika mengambil keputusan terkait dividen.

This study aims to analyze the effect of sustainability performance proxied through ESG scores on company’s dividend payout policy in Indonesia. Previous studies have focused more on the effect of ESG on financial performance. This study also used family ownership status as a moderating factor for ESG. Ownership status is an important basis for company's accounting behavior, especially regarding dividend distribution. ESG performance is proxied by the ESG Performance Refinitiv score from Eikon. The dividend distribution policy is measured using the following year's Dividend Payout Ratio. This study sample consisted of 42 non-financial companies listed on the IDX for the period 2015-2020. The results show that ESG score has a positive effect on dividend policy, but the significance is weak. The ESG which was moderated by family ownership had negative correlation with dividend payout policy, but the significance is weak. This shows that companies with better sustainability performance pay higher dividends and companies owned by families reduce the influence of sustainability performance owned by companies, hence pay less dividends. This research is expected to fill the gap from previous studies which have not considered the effect of sustainability on dividend payout policy and add information regarding the benefits of implementing sustainability in the business so management and investors can use it as a reference for making dividend related decision"
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2022
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Indahna Sulfa
"Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi penerapan institutional logics dan implicit leadership dalam mengevaluasi motivasi Yayasan Kehati pada proses perumusan indeks ESG yang berbeda dibandingkan dengan lembaga pemeringkat ESG lainnya dan memberikan kontribusi dalam bidang akademik guna penyempurnaan penelitian selanjutnya yang masih terbatas. Studi kasus digunakan sebagai strategi penelitian dengan pendekatan penelitian kualitatif dan single unit of analysis. Motivasi Yayasan Kehati dalam merumuskan indeks ESG yang berbeda dilatarbelakangi oleh (1) praktek “coupling” dan “decoupling” dalam proses perhitungan skor dan perumusan indeks(2) multiple logics selama proses penilaian dan pengindeksan (professional, market, self-regulatory, dan sustainability logics); (3) competing logics (aktor, SOP ESG Index Scoring, dan rutinitas); (4) dominant logic sebagai kontribusi professional logics dalam proses ESG index scoring oleh para aktor. Selain itu, persepsi, interpretasi, dan tindakan para aktor yang mengelola Indeks ESG di Yayasan Kehati dimotivasi oleh perilaku kepemimpinan implisit berdasarkan 4 (empat) faktor kepemimpinan: dukungan, fasilitas kerja, fasilitas interaksi, dan penekanan tujuan. Dengan mengetahui motivasi Yayasan Kehati dalam menghasilkan pemeringkatan ESG yang berbeda dibandingkan dengan lembaga pemeringkat ESG lainnya, hal ini bertujuan untuk mendorong investasi yang berkelanjutan, memperoleh kepercayaan investor yang diharapkan akan mendapatkan keyakinan yang memadai dalam mengambil keputusan.

This study aims to explore the application of institutional logics and implicit leadership in evaluating the Kehati Foundation’s motivation on the ESG Index formulation process which is different compared to other ESG rating agencies and contributes in the academic field for the improvement of further research which is still limited. The research strategy used case studies with qualitative research approach and a single unit of analysis. The motivation of the Kehati Foundation in formulating a different ESG index compared to other rating agencies was motivated by (1) “coupling” and “decoupling” in the process of formulating the scoring and indexing process; (2) multiple logics indicated during the scoring and indexing process (professional, self-regulatory, sustainable, and market logics); (3) competing logics founded during the process; (4) dominant logic contributed by professional logics. The actors' perceptions, interpretations, and actions who manage the ESG Index are motivated by implicit leadership behavior based on 4 (four) leadership factors: support, work facilities, interaction facilities, and goal emphasis. Knowing the motivation of the Kehati Foundation in producing a different ESG rating compared to the other ESG rating agencies, this is aimed at promoting sustainable investment and gaining investors’ assurance in making investment decisions."
Jakarta: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2023
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Syakir Ari Utomo
"Corporate Financialization merupakan fenomena di mana peran industri keuangan dalam perekonomian semakin meningkat, menggeser peran perdagangan dan produksi komoditas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penerapan Environment , Social, and Governance (ESG) terhadap corporate financialization pada perusahaan non-keuangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama periode 2015-2019. Corporate financialization diukur dengan rasio aset keuangan per total aset. Penelitian ini melibatkan 33 perusahaan sektor non-keuangan yang telah terdaftar di BEI. Hasil temuan penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan ESG secara keseluruhan, maupun pada dimensi environment, social, dan governance, memiliki pengaruh negatif namun tidak signifikan terhadap corporate financialization pada perusahaan non-keuangan di BEI selama periode 2015-2019. Hal ini menunjukkan bahwa aspek-aspek ESG yang dinilai dalam penelitian ini tidak secara signifikan mempengaruhi tingkat corporate financialization perusahaan non-keuangan di Indonesia.

Corporate Financialization is a phenomenon in which the role of the financial industry in the economy is increasing, shifting the role of trading and commodity production. This study aims to analyze the effect of implementing Environment, Social, and Governance (ESG) on corporate financialization in non-financial companies listed on the Indonesia Stock Exchange (IDX) during the 2015-2019 period. Corporate financialization is measured by the ratio of financial assets to total assets. This research involved 33 non-financial sector companies that have been listed on the IDX. The findings of this study indicate that the application of ESG as a whole, as well as on the environmental, social, and governance dimensions, has a negative but not significant effect on corporate financialization in non-financial companies on the IDX during the 2015-2019 period. This shows that the ESG aspects assessed in this study do not significantly affect the level of corporate financialization of non-financial companies in Indonesia."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2023
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Manurung, Madeleine Ruth Rotua
"Munculnya pandemi Covid-19 membuat persaingan bisnis menjadi semakin ketat, yang mengakibatkan kestabilan dan penurunan perdagangan bursa. Stakeholder menjadi lebih berhati-hati serta selektif saat mengambil keputusan. Maka, perusahaan harus mengungkapkan laporan keuangan yang berkualitas kepada stakeholder dalam mengambil keputusan yang akurat. Salah satu informasi perusahaan yang harus diungkapkan adalah informasi non-keuangan, yaitu Environmental, Social, dan Governance. Penerapan ESG mendorong bisnis perusahaan untuk berperilaku etis, di mana hal ini juga membantu stakeholder untuk terhindar kerugian apabila perusahaan berperilaku yang dapat menimbulkan risiko. Studi ini memiliki tujuan untuk menguji kembali secara empiris pengaruh dari penerapan ESG terhadap nilai perusahaan di Indonesia, di mana sampel perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dari tahun 2012-2021. Variabel independen pada penelitian yakni Skor ESG, di mana nilai dari tiap komponen merupakan hasil dari penilaian yang dilakukan Thomas Reuters. Selain itu, penelitian ini juga menggunakan dummy variable, di mana acuannya merupakan Indeks ESG SL IDX KEHATI. Variabel independen pada penelitian ini adalah nilai perusahaan, yang diproksikan dengan Tobin’s Q. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Skor dan Indeks memiliki pengaruh positif terhadap nilai perusahaan. Adanya penerapan ESG pada perusahaan dapat meminimalisir asimetri informasi serta potensi konflik dengan para stakeholder. Selain itu, ESG Index digunakan untuk mengatasi kekhawatiran stakeholder trehadap isu-isu ESG, di mana hal ini dapat memberi sinyal yang memungkinkan stakeholder untuk lebih akurat untuk menilai perusahaan berdasarkan standar yang telah ditentukan dalam indeks

The emergence of the Covid-19 pandemic has made the business competition even tougher, which has resulted in stability and a decline in stock exchange trading. Stakeholders become more careful and selective when making decisions. Therefore, companies must disclose quality financial reports to stakeholders in making accurate decisions. One of the company information that must be disclosed is non-financial information, namely Environmental, Social, and Governance. The application of ESG encourages the company's business to behave ethically, which also helps stakeholders to avoid losses if the company behaves in a way that may pose a risk. This study aims to empirically re-examine the effect of applying ESG on company value in Indonesia, where a sample of companies are listed on the Indonesia Stock Exchange from 2012-2021. The independent variable in this study is the ESG Score, where the value of each component is the result of an assessment conducted by Thomas Reuters. In addition, this study also uses a dummy variable, where the reference is the ESG SL IDX KEHATI Index. The independent variable in this study is firm value, which is proxied by Tobin's Q. The results show that scores and indexes have a positive influence on firm value. The existence of the application of ESG in companies can minimize information asymmetry and potential conflicts with stakeholders. In addition, the ESG Index is used to address stakeholder concerns about ESG issues, which can provide a signal that allows stakeholders to more accurately assess companies based on the standards specified in the index."
Jakarta: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2022
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>