Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 234262 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Gregorius Mayar Saksono
"Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan adanya hubungan atau pengaruh variabel rasio Total Asset Turn Over, Debt Ratio, Gross Proft Margin, Return on Asset dan variabel Asset, terhadap Premi Risiko Saham perusahaan-perusahaan dalam industri properti dan real estal di BEJ pada tahun 2001 sampai dengan 2004.
Premi Risiko Saham adalah selisih antara imbal hasil saham berisiko dengan imbal hasil instrumen investasi bebas risiko, yang dalam hal ini diwakili oleh Sertifikat Bank Indonesia (SBI), kemudian dikalikan dengan Beta. Penelitian ini menggunakan data panel yang meliputi 20 perusahaan selama empat tahun,lalu dilakukan pendugaan dengan metode Ordinary Least Square. Data penelitian diambil dari laporan keuangan perusahaan dan catatan data historis saham yang diperoleh dari Bursa Efek Jakarta, serta data SBI yang dapat diperoleh dari situs Bank Indonesia.
Hasil penelitian menyebutkan bahwa pada tingkat signifikansi (a) = 5% , diantara kelima variabel tersebut diatas hanya variabel rasio Return on Asset (ROA) dan Asset yang secara signifikan berpcngaruh terhadap besarnya Premi Risiko Saham. Selain itu, dari hasil pengujian t-test dapat disimpulkan bahwa variabel rasio ROA dan Asset berpengamh secara positif terhadap premi risiko saham, yang berarli semakin besar nilai ROA dan nilai Asset, maka semakin besar pula premi risiko Sahamnya.

This study aims to prove the relationship or effect of the Total Asset Turn Over, Debt Ratio, Gross Profit Margin, Return on Asset ratio and the asset variable against the Equity Risk Premium of companies in the Property and Real Estate Sector in Jakarta Stock Exchange in the period of year 2001 to 2004.
Equity Risk Premium is the difference between risky equity return and risk free security return, which is in this study proxied by return of Indonesian Central Bank Securities, then multiplied by beta of the equity. This study used panel data comprises 20 companies and four years period, and the data was estimated by Ordinary Least Square method. The data was taken from companies? financial reports, historical prices of the equities from the Jakarta Stock Exchange and historical rates ofthe Indonesian Central Bank Securities from the Central Bank.
The result of this study states that in the significant level of 5 %, only the ratio of Return on Asset and Asset variable have significant ejfect to the equity risk premium, among five variables. Furthermore, jrorn the t-test result, it can be concluded that the ROA ratio and Asset have positive relationship to equity risk premium. It means that the bigger the ROA ratio and Asset, the bigger the equity risk premium."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2006
T17008
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Yudhi Iman Perkasa
"Penelitian yang dilakukan kali ini mempunyai tujuan untuk menguji secara empiris ada tidaknya pengaruh return on assets (ROA), price earning rasio (PER), rasio harga wajar, kondisi pasar dan reputasi penjamin emisi pada abnormal return 1hari, 15 hari dan 30 hari sesudah IPO.
Adapun sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 64 perusahaan yang melakukan penawaran umum di Bursa Efek Jakarta pada tenggang waktu 2000-2002. Analisis data menggunakan regresi berganda dengan metode stepwise untuk menguji pengaruh dari ROA, PER, rasio harga wajar, kondisi bursa dan reputasi penjamin emisi terhadap abnormal return.
Adapun hasil analisis menunjukkan bahwa hanya variabel rasio harga wajar dan variabel ROA yang berpengaruh signifikan terhadap abnormal return, sehingga hal ini mengindikasikan kemungkinan variabel rasio harga wajar dan ROA digunakan investor untuk menilai harga saham di pasar perdana. Begitu pula terhadap abnormal return 15 hari dan 30 hari, hanya variabel rasio harga wajar yang berpengannh signifikan.

The objective of this study is to examine empirically whether ROA, PER, fair price ratio, condition market (KOND) and underwriter reputation are associated with abnormal return, 15 day and 30 day abnormal return after IPO.
There are 64 firms, listed in Jakarta Stock Exchange from period 2000 to 2002 as samples and selected by purposive sampling. The analysis of data 13 using multiple regression with stepwise method to examine the effect of ROA, PER, fair price ratio, condition market (KOND), and underwriter reputation on abnormal return.
The empiric result states that only proper price ratio and ROA that give the positive effect significantly to abnormal return. It is also happened to 15 day and 30 day abnormal return after IPO,the fair price ratio has also given the positive effect."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2006
T16984
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rahmi Aryanti
"Likuiditas saham merupakan indikator penting dalam menggambarkan kinerja saham di bursa efek. Secara fundamental likuiditas saham tergantung pada kinerja perusahaan, yang diukur berdasarkan; 1) ROE (Return On Equity), 2) Kebijakan dividen, 3) Pemberian saham bonus. Tingkat likuiditas saham ini diukur berdasarkan nilai frekuensi perdagangan saham yang terjadi di Bursa Efek Jakarta.
Periode penelitian ini adalah dari tahun 1994 sampai dengan 1996. Penelitian ini dilakukan atas; pertama, kelompok emiten yang memberikan sekaligus saham bonus, dividen tunai, dan mengumumkan ROE. Kedua, kelompok emiten yang hanya dilihat pada setiap variabel bebas tanpa mengabaikan ada tidaknya variabel bebas lainnya. Ketiga, kelompok emiten yang hanya dilihat pada setiap variabel dalam kondisi variabel bebas lain tidak muncul.
Dengan menggunakan pendekatan analisis regresi majemuk (sampel kelompok pertama) dan regresi individual (sampel kelompok kedua dan ketiga), penelitian ini membuktikan bahwa secara serentak (regresi majemuk) ROE, dividen tunai dan saham bonus ternyata tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap likuiditas saham di Bursa Efek Jakarta. Sedangkan secara individual (regresi dua variabel) hanya dividen tunai yang mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap likuiditas saham di Bursa Efek Jakarta, baik dalam kondisi emiten memberikan saham bonus maupun tidak. Pengaruh dividen tunai ini bersifat negatif. Rrtinya kenaikan nilai dividen tunai menyebabkan terjadinya penurunan likuiditas saham."
Depok: Universitas Indonesia, 1998
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Akhmad Sakhowi
"Krisis moneter yang melanda Indonesia sejak pertengahan tahun 1997 yang ditandai dengan anjloknya nilai tukar rupiah atas US dollar, diikuti oleh meningkatnya suku bunga dan inflasi secara tajam telah menimbulkan kepanikan luar biasa bagi para investor di pasar saham Indonesia (Bursa Efek Jakarta). Kepanikan tersebut mendorong harga harga saham turun tajam sehingga indeks pasar (IHSG ) terpangkas hingga tinggal -/+ 40 %. Fenomena turunnya harga saham secara tajam yang dikaitkan dengan perubahan nilai tukar rupiah atas US dollar, suku bunga dan inflasi merupakan permasalahan yang menarik untuk dikaji dengan menggunakan pendekatan Arbritage Pricing Theory (APT).
Studi ini mengajukan tiga permasalahan penelitian yang selanjutnya akan dijawab melalui pembuktian hipotesis. Pertama apakah ada pengaruh faktor perubahan nilai tukar rupiah atas US dollar, perubahan suku bunga dan inflasi terhadap pasar saham (BET). Kedua apakah faktor perubahan nilai tukar rupiah atas US dollar suku bunga dan inflasi memberi pengaruh yang berbeda pada perusahaan dengan debt to equity ratio berbeda. Ketiga apakah perubahan nilai tukar rupiah atas US dollar, suku bunga dan inflasi memberi pengaruh yang berbeda pada industri yang berbeda.
Untuk menganalisis permasalahan penelitian digunakan model multi faktor (APT) sebagaimana yang digunakan Roll dan Ross (1986) dengan memakai model regresi multi variate. Analisis mengambil lokasi di Bursa Efek Jakarta (BET) dengan mengambil waktu pengamatan dari 1993 sampai 1998. Data harga saham dan Indeks Pasar (IHSG), suku bunga dan inflasi secara berturut turut diambil dari publikasi lembaga yang berkompeten yaitu BEJ, Bank Indonesia dan Biro Pusat Statistik. Semua series data yang digunakan sebagai variabel penelitian berbentuk time series karena itu variabel dalam penelitian terlebih dahulu dilakukan uji stasionaritas untuk menghindari diperolehnya hasil yang menyesatkan. Pengujian atas koefisien regresi parsial dan simultan menggunakan uji t dan uji F. Dan untuk menguji perbedaan struktur regresi digunakan Chow test, sementara untuk menguji bentuk hubungan antara variabel bebas dan variabel tergantung digunakan Granger causality test.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan nilai tukar rupiah atas US dollar pada level, lag l dan lag 3, jumlah uang yang beredar (M2) sebagai indikator inflasi memberi pengaruh pada harga saham 1 indeks pasar (IHSG) secara signifikan pada taraf α=0.05. Dari uji Granger menunjukkan bahwa balk nilai tukar rupiah atas US dollar maupun M2 signifikan berpengaruh pads indeks pasar (IHSG). Sementara perubahan suku bunga ( nil ) tidak memberi pengaruh yang signifikan pada perubahan harga saham J indeks pasar (IHSG) baik dilihat dari uji t dari koefisien regresi maupun uji Granger.
Studi juga menemukan bahwa perubahan nilai tukar rupiah atas US dollar, suku bunga dan inflasi (M2) memberi pengaruh yang berbeda pada emiten yang memiliki struktur modal berbeda yang diukur dengan tingkat debt to equity ratio (ER). Kesimpulan ini diperoleh dari hasil uji struktur regresi dari 2 kelompok observasi yang dibedakan DER tinggi dan DER. rendah dengan menggunakan Chow test menghasilkan nilai F hitung sebesar 717.97 yang lebih besar dari F tabel = 2.51 untuk taraf Selanjutnya hasil pengamatan terhadap return 7 portfolio yang diregresikan dengan variabel nilai tukar rupiah atas US dollar, suku bunga dan inflasi (variabel prediktor) menunjukkan terdapat perbedaan sensitivitas dan pengaruh yang signifikan antara industri yang berbeda terhadap perubahan tiga variabel prediktor. Secara keseluruhan hasil analisis dengan menggunakan model APT ini memiliki kemampuan untuk melakukan estimasi sehingga model yang dihasilkan layak untuk digunakan sebagai model dalam penilaian aset."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 1999
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Anapratama Hesameilita
"Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji relevansi nilai dari informasi akuntansi (nilai buku ekuitas per lembar saham dan laba per lembar saham) dan informasi modal intelektual. Modal intelektual ini diukur dengan menggunakan pengukuran VAIC TM yang diusulkan oleh Ante Pulic.
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan Model Ohlson untuk menguji relevansi nilai dari informasi akuntansi dan informasi modal intelektual sebagai "variabel informasi lain" terhadap harga saham perusahaan.
Berdasarkan hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa nilai buku ekuitas, laba per lembar saham, efisiensi modal intelektual, dan efisiensi modal finansial dan fisik memiliki pengaruh terhadap harga saham perusahaan. Dan komponen modal intelektual yang mempunyai relevansi nilai hanya efisiensi modal sumber daya manusia, sedangkan efisiensi modal struktural tidak berpengaruh terhadap harga saham perusahaan.

The purpose of this research was to examine the value relevance of accounting (the book value of equity per share and earnings per share) and intellectual capital information. Intellectual capital is measured using VAIC TM proposed by Ante Pulic.
The research was carried out using Ohlson model to examine the value relevance of accounting and intellectual capital information as "other information variables" of the company's stock price.
Based on the results of this research indicate that the book value of equity, earnings per share, intellectual capital efficiency, and financial and physical capital efficiency has an influence on the company's stock price. And components of intellectual capital that have value relevance only human capital efficiency, while the structural capital efficiency has no significant effect on the company's stock price.
"
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2012
S-Pdf
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Zainal Arifin H. Masri
"Laba perusahaan adalah pendapatan usaha yang diperoleh dalam satu tahun buku dikurangi dengan biaya, penyusutan dan kewajiban lain dalam tahun buku yang bersangkutan. Harga pasar (market price) merupakan harga pada pasar riil. Harga pasar merupakan harga yang paling mudah ditentukan karena merupakan harga dari suatu saham pada pasar yang sedang berlangsung atau, jika pasar sudah tutup, maka harga pasar adalah harga penutup (closing price) dari suatu saham. Pergerakan Harga saham dapat diamati pada indeks harga saham. Indeks harga saham merupakan indikator yang menggambarkan kondisi pasar saham. Dengan adanya indeks harga saham investor dapat mengetahui trend pergerakan harga saham saat ini, apakah sedang aktif atau sedang lesu. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh laba perusahaan terhadap pergerakan harga saham perusahaan yang bersangkutan. Penelitian ini dibatasi hanya pada perusahaan- perusahaan yang masuk dalam indeks harga saham LQ 45. Data yang dibutuhkan adalah laba perusahaan yang masuk dalam indek harga saham LQ 45 dan indeks harga saham LQ 45. Metode analisis data yang digunakan adalah analisis kuantitatif, antara lain : analisis korelasi, analisis determinasi, analisis regresi linear sederhana dan t-test.Hasil analisis menunjukkan bahwa laba perusahaan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap harga saham indeks LQ 45, hal ini ditunjukkan nilai t hitung< t tabel (0,4164 <1,671)."
Jakarta: Pusat Kajian Ilmu Ekonomi (Puskanomi) Universitas Indraprasta PGRI, 2017
330 JABE 3:3 (2017)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Adi Wibowo
"ABSTRAK
Pasar modal merupakan alternatif tempat investasi yang menguntungkan disamping pasar uang, obligasi, emas, tanah dan lain-lain. Pasar modal menarik untuk dianalisis karena instrumen pasar modal yaitu harga saham sering berfluktuasl sehingga merupakan sarana yang tepat bagi investor untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya.
Salah satu kunci sukses dari investasi dalam saham di pasar modal adalah pengetahuan tentang pasar saham, trend dan tindakan yang tepat untuk memanfaatkan momentum pasar saham. Untuk mencapai tujuan tersebut, investor memerlukan sistem atau metode. yang cocok untuk menganalisis harga saham secara menyeluruh. Dalam analisis saham terdapat dua pendekatan, yaitu analisis fundamental dan analisis teknikal. Masing-masing pendekatan mempunyai cara yang berbeda dan kelebihan yang dapat digunakan dalam seleksi saham. Analisis fundamental menggunakan top down analysis, yaitu analisis makroekonomi, industri dan keadaan keuangan perusahaan. Dasar analisisnya adalah keadaan keuangan perusahaan tahun-tahun yang lampau dan proyeksinya yang meliputi forecast earnings, deviden dan sales growth. Analisis teknikal sebaliknya, hanya memperhatikan trend harga dengan memprediksikan harga saham yang akan datang dalam bentuk charting dan indikator saham yang terjadi. Analisis teknikal, selain digunakan dalam analisis saham, dapat juga dipakai pada analisis obligasi, pasar komoditi, pasar uang dan pasar derivatif.
Dalam karya akhir ini dibahas metode analisis teknikal. Model analisis yang dipakai adalah model simple moving average, relative strength index dan candlestick. Ketiga model ini dipakai karena dapat mewakili analisis teknikal secara umum yang meliputi charting, indikator dan oscillator. Masalahnya adalah manakah dari ketiga model tersebut atau kombinasi dari model-model tersebut yang paling efektif digunakan investor sebagai model pemilihan saham untuk investasinya.
Dengan menggu nakan analisis teknikal dari ketiga model inl, investor dapat memprediksi trend pasar baik bullish atau bearish, menghitung relatif return yang didapat tiap model, dan membandtngkan dengan kondisi ideal perdagangan yaitu model maximum profit untuk mendapatkan tingkat efisiensi tiap modeL Kondisi ideal perdagangan adalah keuntungan maksimum yang dldapat dengan membeli saham pada harga terendah dan menjual kembali saham pada harga tertinggi untuk setiap siklus transaksinya.
Pemilihan sa ham PT. Telkom didasarkan pada pertimbangan bahwa saham tersebut aktif diperdagangkan di Bursa Efek Jakarta" Perolehan data didapat dari harga penutupan saham PT Te!kom. Periode data yang ditentukan adalah dari tanggal 14 November 1995 sampai dengan tanggal 3 Mel 1999. HasH analisis dengan menggunakan data tersebut sebagai masukan adalah untuk model simple moving average, candlestick dan relative strength index rnempero!eh return berturut-turut sebesar 52.62%, 40,58%, dan i 3,07"/o per tahun.
Kesimpulan yang didapat dari hasH analisis ini adalah model simple moving average dan candlestick dapat memprerliksi harga saham dengan baik, karena menunjukkan return yang tinggL Return kedua modet ini masih lebib tinggi jika dibandingkan dengan retum ratarata deposito pada kondisi ekonomi normal. Sedartgkan untuk model relative strength index menunjukkan return yang rendah, sehingga mode! rt:/ative strenglh index akan lebih baik digunakan jika digabungkan dengan model analisis lafn sebagai intOrmasi tambahan.
Masing-masing model analisis mempunyai beberapa kelebihan jika dibandingkan antara satu model dengan model lainnya. Kelebihan model simple moving average adaiah model ini relatif sederhana dan basil analisisnya cukup baik. Kelebihan model candlestick ada!ah dapat digunakan untuk mengidentifikasikan pola yang terjadi sebagai support dan resistance daJam memprediksi barga saham, Sedangkan kelebihan model relative strength index adalab dapat digunakan untuk menentukan supply dan demand pada sabam tersebut.
Disamping kelebihan tersebut terdapat juga beberapa ke!emahan dari masing-masing modeL Kelemahan simple moving average adalah tidak di!akukan pembobotan pada data yang terbaru sedangkan data terbaru mempunyai .nilai informasi yang iebih baik dari data lama. Kelemahan candlestick adalah sulitnya dalam ·pengelompoklcan pola. Pola yang terbentuk di model candlestick sangat bervariasi sebagai akibat jenis variasi candlestick yang banyak Sedangkan kelemahan relative strength index adaiah pada umumnya basil re111rnnya rendah. Kesimpulan umum dari basil analisis dengan rnempergunakan metode analisis teknikat adalah pasar saham akan tetap sempurna meskipun semua investor menggunakan metode analisis teknikal dalam melak:ukan analisis pasar. Distorsi harga dalam pasar saham dapat terjadi sebagai akibat prediksi harga saham yang hanya berdasarkan pada sinyal bullish dan sinyal bearish.
Dengan basil analisis di atas. rekomendasi yang diberikan dari penggunaan metode analisis teknikal untuk memprediksi harga pasar adalah sebaiknya investor memakai model simple moving average. Keputusan investasi yang dilakukan investor dengan menggunakan model simple moving average akan menghasilkan return yang tinggi~ apalagi jika penggunaannya digabungkan dengan model candlestick dan model relative strength index."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 1999
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Fidi Dewi Safitri
"ABSTRAK
Penawaran Saham Perdana (IPO) adalah menjual saham perusahaan ke publik melalui
Bursa Efek. Tujuannya untuk mendapatkan dana bagi pembiayaan aktivitas perusahaan,
ekspansi maupun kegiatan investasi lainnya. Hal penting dalam aktivitas IPO adalah harga
saham perdana. Agar menarik investor untuk membeli saham IPO, harga saham perdana
terkadang ditetapkan lebih rendah dari nilai wajarnya. Dengan demikian terjadi abnormal
return yang positif, ketika hari pertama saham diperdagangkan. Fenomena ini dikenal dengan nama underpricing.
Penelitian ini memiliki tiga tujuan yaitu pertama, untuk mengetahui besaran
underpricing dalam penawaran saham perdana pada industri keuangan. Kedua, mengetahui perilaku saham selama 60 hari setelah penawaran snham perdana pada industri keuangan. Dan ketiga adalah untuk mengetahui dampak kondisi pasar (bullish dan bearish), umur perusahaan dan nilai emisi saham terhadap tingkat underpricing pada industri keuangan.
Penelitian ini menggunakan sampel 18 emiten yang melakukan penawaran saham
perdana di industri keuangan pada Bursa Efek Jakarta selama tahun 2002 sampai dengan
2005. Hasil penelitian ini adalah Saham perdana mengalami underpricing ketika
diperdagangkan pertama kali di pasar sekunder. Besaran average abnormal normal pada hari pertama perdagangan adalah 25,25% dan signifikan pada oc = 5%. Perilaku Saham perdana dapat dilihat pula dari pola cumulative average abnormal return (CAAR). Pola CAAR 2002-2005 menunjukkan bahwa besaran underpricing yang terbesar terjadi pada hari pertama. Pada hari kedua, saham mengalami koreksi yang signifikan.
Fenomena underpricing tersebut sesuai dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan
di dalam luar negeri yaitu oleh Ritter (1991) yang menghasilkan initial return adalah sebesar 14,8%. Sedangkan penelitian Reilly dan Hatfield (1969), memperoleh return sebesar 9,5%. Penelitian di Indonesia dilakukan oleh Hermawan (2000), Kusumaningtyas (2001), Hudiyanto (2002) dan Herika (2004) yang hasil penelitiannya abnormal return berurutan sebagai berikut 8,S2%, 34,49%, 21,96% dan 1,01%.
Sedangkan hasil pengujian variabel-variabel yaitu kondisi pasar, umur perusahaan
dan nilai emisi saham yang diduga berpengaruh terhadap besaran underpricing mendapatkan hasil bahwa varabel-variabel tersebut secara bersama-sama tidak berpengaruh terhadap underpricing."
2007
T21244
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Imelda Angeline
"Sebelum melakukan investasi di bursa saham, individu atau organisasi harus memastikan bahwa saham yang dipilih akan mendatangkan return positif di waktu yang akan datang dengan tingkat risiko tertentu. Dalam mempertimbangkan saham yang dipilih, investor perlu mengetahui faktor-faktor apa saja yang dapat yang mempengaruhi return saham tersebut Faktor-faktor tersebut diantaranya adalah likuiditas saham, tingkat leverage dan risiko sistematik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah likuiditas saham dan risiko sistematik memiliki pengaruh yang positif terhadap return saham serta untuk mengetahui apakah ada pengaruh antara tingkat leverage dengan return saham. Industri consumer goods dipilih sebagai obyek penelitian karena saat ini industri consumer goods merupakan salah satu sektor yang masuk kategori berisiko paling kecil karena perusahaan - perusahaan sektor tersebut memiliki kinerja yang cukup bagus.
Penelitian ini dilakukan dengan mengambil seluruh populasi pada perusahaan consumer goods yang listing di Bursa Efek Jakarta Metade regresi akan digunakan untuk mengetahui hubungan antara dependen variabel return saham dengan independen variabel likuiditas saham yang diukur dengan menggunakan bid ask spread , leverage (debt to equity ratio) dan risiko sistematik. Regresi menggunakan cross-section dengan menggunakan program SPSS pada level of significance 5% (a = 0,05). Setelah model diperoleh, maka model ini harus diuji dengan apakah sudah memenuhi kriteria BLUE (Best Linear Unbiased Estimator) atau belum.
Hasil penelitian dengan menggunakan analisa regresi ini menunjukkan bahwa terdapat korelasi yang positif serta pengaruh yang signifikan antara likuiditas saham, tingkat leverage (debt to equity ratio) dan risiko sistematik dengan return saham secara parsial. Sedangkan secara bersama-sa-na likuiditas saham, tingkat leverage dan risiko sistematik mempunyai pengaruh terhadap return saham.
Investor yang akan melakukan investasi pada saham di industri consumer goods, hendaknya mempertimbangkan secara matang mengenai beberapa hal yang sangat penting dalarn pengambilan keputusan investasi yang dilakukannya, yaitu berapa tingkat pengembalian yang diharapkannya, berapa besar risiko yang hams ditanggungnya dan berapa ke-liquid-an investasi tersebut.
Walaupun dari hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh yang signifikan antara likuiditas saham, tingkat leverage dan risiko sistematik dengan return saham, namun pada penelitian berikutnya sebaiknya menggunakan sampel dari industri yang berbeda. Variabel yang diteliti juga perlu diperluas seperti iikuiditas saham yang bukan hanya dapat diukur dari bid-ask spread melainkan juga dari volume perdagangan saham atau komisi penjualan.

Before doing investment in stock exchange, an individual or organization must ensure that the stock will give positive return with the certain risk On considering what stock will be choose, investor must know any factors will affect that return. Hat the stock chosen will be the one that can give positive return in the future. Some of the factors are stock liquidity, leverage and systematic risk The aim of this research is to find out whether stock liquidity and systematic risk have positive correlations on the stock return and to know whether leverage has influence to the stock return. Consumer goods industry is chosen for this research object as this industry is one of the business sectors attracting which have low risk because the company in that sector have good performance.
This research has been done by taking sampling on consumer goods companies listed in Jakarta Stock Exchange. Regression method will be used to know the relationship between dependent variable stock return with the independent variable stock liquidity which measured by bid ask spread, leverage (debt to equity ratio) and systematic risk Regression analysis using cross-section with SPSS on level of significance 5% (a = 0,05). After regression model completed that must be tested whether that model has come up into BLUE criterion (Best Linear Unbiased Estimator) or not.
The result of this research using regression analysis indicates that there are positive correlations and significant influences between stock liquidity, leverage (debt to equity ratio) and systematic risk on the stock return partially. In other hand, stock liquidity, leverage and systematic risk have significant influences on the stock return simultaneously.
Investor who will doing investment in stock on consumer goods sector, must consider about some important things in making investment decision, some of that are how much expected return and risk that he want also how liquid that investment.
Although this research showing significant influences between stock liquidity, leverage and systematic risk in accordance with the stock price, but in next research, it's better to use sample from another industry. Beside that, it should utilizing different variables factors like another method to measure liquidity."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2007
T19751
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Evodius Purwoko
"Elton, Gruber dan Padberg memperkenalkan metode sederhana penentuan kombinasi aktiva yang optimum dan metode ini dikenal dengan nama Simple Ranking Device yang terdiri atas dua model yalcni model Single Indeks (Single Index Model - SLM dan model Korelasi Konstan (Constant Correlation - CC). Penelitlan ini bertujuan untuk mencari kombinasi saham yang optimum dari saham-saham likuid yang tercantum dalam indeks LQ45 Bursa Efek Jakarta dengan menggunakan metode simple ranking device.
Dengan dasar model pasar sederhana Sharpe, nilai beta masing-masing saham dihitung dengan menggunakan metode regresi linier sederhana. Data penelitian diperoleh dari data indeks harian saham individual (IHSI) dan indeks harian LQ45 Bursa Efek Jakarta. Perhitungan beta dilakukan dengan piranti lunak SPSS versi 10 sementara perhitungan nilai CutOff Rate kedua model baik Single lndeks Model maupun Constant Correlations menggunakan spreadsheet Excel yang sederhana.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perhitungan sederhana Simple Ranking Device dengan model SIM menghasilkan 12 saham yang terpilih untuk masuk dalam portfolio sedangkan model CC mendapatkan 8 saham terpilih. Evaluasi perbandingan expected return portfolio menunjukkan bahwa portfolio Model SIM menghasilkan return yang lebih baik tapi tingkat risiko yang lebrh besar dibandingkan dengan portfolio Model CC. Evaluasi kinerja dengan Treynor Measme dan Sharpe Measure menunjukan preferesi portfolio yang tidak konsistert Treynor Measure menunjukkan relum portfolio bentukan model SIM lebih baik daripada model CC, tapi Sharpe Measure menunjukan yang sebaliknya. Evaluasi kinerja portfolio dengan menggunakan data 1 dan 2 tahun berikutnya menunjukkan bahwa dengan model SIM saham-saham terpilih memberikan return yang lebih kecil daripada saham-saham tidak terpilih. Untuk model Constant Correlation, saham-saham terpilih menghasilkan return portfolio yang lebih besar dibandingkan dengan saham-saham yang tidak terpilih."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2004
T16995
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>