Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 53675 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Surya Mansjur
"Masalah Penelitian
Ada banyak studi antropologi meagenai kehidupan ekonomi masyarakat nelayanl) di berbagai tempat di dunia yang dengan pendekatan ekologi menghasilkan pandangan-pandangan yang memperkuat hipotesa-hipotesa yang dibangun dan dipertahankan oleh sebagian ahli antropologi ekologi tentang hubungan-hubungan yang selalu seimbang antara populasi-populasi dengan lingkungan dan sumber-sumber daya alam di sekelilingnya' (equilibria) dan 'sistem-sistem hubungan timbal balik di antara kedua komponen itu yang dapat mengatur dirinya sendiri' (self-regulating systems). Mereka yang dalam studinya memperkuat hipotesa-hipotesa seperti itu antara lain adalah Gersuny den Poggie, Epple, Smith, Suttles, dan Piddocks (dalam McCay, 1978). Di samping itu, penelitian mereka mengutamakan kelompok-kelompok atau komuniti dan sebaliknya mengabaikan individu-individu. Hipotesa-hipotesa tersebut dinilai ternyata lebih banyak tidak sesuai dengan realitas seperti yang diungkapkan oleh Vayda dan McGay (1975), bahwa manusia hidup secara bersama-sama dalam suatu ruang den menjadi subjek untuk berbagai macam situasi lingkungan dan kendala-kendala eksternal. Mereka (lihat bal. 294) menyebutkan gangguan-gangguan alam seperti banjir, pembekuan salju, angin topan, kekeringan (mengutip para ahli geografi), keadaan iklim, metereologi dan geologi yang ganas (mengutip Bruton dan Hewitt), dan yang mereka kategorikan sendiri seperti keganasan perang, perampasan atau penggerebekan, pemerasan dengan penyerahan upeti dan pajak, aksi-aksi penyiksaan yang berlatarbelakang agama, dan lain-lain. Adalah menjadi realitas juga bahwa manusia, baik sebagai individu-individu ataupun sebagai kelompok-kelompok adalah pembuat keputusan yang rasional dan penyusun strategi-strategi dalam rangka pemecahan masalah-masalah atau kendala-kendala yang dihadapinya.
Dalam kehidupan ekonomi nelayan, masalah-masalah yang ditimbulkan oleh kondisi-kondisi lingkungan merupakan fakta umum. Para ahli antropologi (antara lain yang terpenting adalah Acheson, 1981) menemukan bahwa meskipun laut menyediakan sumber ekonomi yang potensil bagi keberlangsungan hidup manusia, seperti ikan dan biotik laut lainnya yang mempunyai nilai ekonomi (dapat dikonsumsi atau dipertukarkan), namun pekerjaan untuk memperolehnya berlangsung dalam suatu lingkungan yang berbahaya dan penuh ketidakmenentuan. Bahaya dan ketidakmenentuan ini menurut mereka, bukan hanya disebabkan oleh kondisi-kondisi alam den biotik laut serta terjadinya perubahan-perubahan lingkungan fisik tersebut, tetapi juga oleh kondisi-kondiai lingkungan sosial-ekonomi di mana aktivitas penangkapan berlangsung. Masalah-masalah tersebut adalah sebagai berikut: Pertama, laut penuh risiko bahaya dan ketidakmenentuan. Acheson (cf. Smith, 1977: 2) menggambarkan laut sebagai suatu lingkungan yang sulit dimasuki orang untuk survival karena penuh dengan pukulan badai don ombak yang tak henti-hentinya. Untuk memasuki laut dan memperoleh sumber yang dikandungnya, orang hanya dapat menggunakan perlengkapan buatan seperti kapal2) dan perahu3) dan dengan alat-alat penangkapan ikan seperti net atau jaring, pancing dan lain-lain. Ternyata menurut Acheson, bahwa memasuki laut dengan perlengkapaa dan alat-alat seperti itu hanya dapat dilakukan ketika kondisi-kondisi cuaca di laut mengizinkan. Hilangnya jiwa manusia, perahu dan alat-alat perlengkapan merupakan risiko-risiko aktusl yang ditimbulkan oleh kondisi-kondisi lingkungan fisik laut tersebut. Di daerah-daerah perikanan laut dalam sekitar Massachusetts dan Gloucester (lihat Smith, hat. 8) telah tercatat beribu-ribu nelayan hilang di laut, sedang di Noordzee korban jiwa nelayan Urk (dari Belanda) saja tidak kurang dari 200 orang.4).
Kedua, adanya berbagai macam jenis den pola kebiasaan ikan dan biotik laut lainnya. Laut yang dengan berbagai macam keadaan air dan dasarnya mengandung banyak jenis biotik laut tetapi yang bukan hanya ada hanya secara musiman karena mempunyai pola kebiasaan migraai, tetapi juga ada populasi-populasi ikan yang meningkat atau merosot secara tiba-tiba yang sulit diramalkan oleh nelayan. Kondisi-kondisi sumber laut yang demikian menyebabkan para nelayan sulit mengontrol binatang buruanya di laut seperti halnya para pemburu di darat yang secara relatif bisa mengontrol binatang--binatang buruannya karena mereka tahu dengan pasti kebiasaan-kebiasaan dan atau ke mana bergerak binatang-binatang buruannya itu. Itulah sebabnya menurut Acheson sehingga perlengkapan dan alat-alat yang digunakan oleh para nelayan haruslah sesuai dengan kondisi-kondisi alam dan biotik laut, dan bukannya perlengkapan dan alat-alat yang begitu saja diambil dari darat seperti yang digunakan oleh para pemburu binatang darat.
Ketiga, lingkungan laut yang tampaknya homogen tetapi sebetulnya bersifat mendua. Salah satu aifat laut yang mempersulit operasi para nelayan adalah karena aeluruh bagian permukaannya tampakaya sama saja, tetapi yang sebetulnya menurut Smith (bal. 7) mempunyai si?."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 1989
T3868
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sumarsono
Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, 1995
305.482 Sum p
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
cover
Melly Latifah
"Era informasi global yang demikian pesat dewasa ini menuntut bangsa lndonesia untuk meningkatkan kemampuannya dalam menyerap informasi. Untuk memiliki kemampuan memahami informasi dengan baik secara cepat, diperlukan strategi kognitif. Hasil-hasil penelitian terdahulu menunjukkan bahwa strategi kognitif terbukti memampukan individu untuk menyelesaikan tugas-tugasnya dengan baik, di antaranya dalam pemahaman bacaan. Oleh karena itu, bagaimana perkembangan seorang non pakar (novice) menjadi pakar (expert) dalam pemahaman bacaan, khususnya bila ditinjau dari sudut strategi kognitifnya, merupakan aspek penting yang perlu diteliti.
Secara umum, penelitian ini berusaha mengkaji bagaimana strategi kognitif yang digunakan oleh kelompok Pakar (expert) dan bagaimana pula strategi kognitif yang digunakan oleh kelompok Non Pakar (novice) pada saat membaca bacaan eksposisi. Tujuan khusus penelitian ini adalah untuk mengetahui : (I) Jenis-jenis strategi kognitif apa saja yang digunakan oleh kedua kelompok tersebut. (2) Bagaimana pola penyebaran strategi kognitif dari masing-masing kelompok dan apa yang membedakan kedua kelompok tersebut. (3) Adakah strategi kognitif yang berperan sebagai pemicu dari kemunculan strategi kognitif yang lebih tinggi.
Untuk menjawab tujuan tersebut, maka dilakukan penelitian dengan melibatkan 35 siswa berprestasi akademik baik (sebagai representasi dari kelompok Pakar) dan 35 siswa berprestasi akademik kurang (sebagai representasi dari kelompok non Pakar). Penelitian ini dilakukan di SLTP Negeri Darmaga 1, Kabupaten Bogor. Strategi kognitif subyek dilihat dengan menggunakan teknik think-aloud (berpikir keras) yang dilakukan ketika membaca materi bacaan. Proses ini direkam dengan pita kaset, kemudian di-transcribe sehingga diperoleh data tertulis berupa protokol-protokol think-aloud. Selanjutnya, data dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif.
Hasil analisis terhadap 70 protokol think-aloud menunjukkan bahwa subyek (siswa SLTP) menggunakan strategi kognitif dalam proses memahami materi bacaan. Penggunaan strategi kognitif oleh subyek menunjukkan adanya kesadaran metakognitif pada remaja, khususnya siswa SLTP, yaitu kemampuan berpikir tentang proses berpikimya sendiri. Jumlah strategi kognitif yang berhasil ditemukan sebanyak enam belas jenis, yaitu : Sadar Tahu, Evaluasi Teks, Pengartian, Baca Ulang, Pengulangan., Tanya Apa, Tanya lnformasi, Evaluasi Pengetahuan, Senjang Masalah, Tanya Hipotesa, Parafrase, Pengetahuan Barn, Verifikasi, Penyimpulan., Elaborasi, dan Antisipasi. Selain enam belas jenis strategi kognitif utama, dari penelitian ini juga ditemukan sub strategi kognitif pada hampir semua jenis strategi kognitit: kecuali pada Strategi Sadar Tahu, Tanya lnformasi dan Antisipasi. Jumlah selumh sub strategi yang berhasil diidentifikasi sebanyak lima puluh tiga jenis. Dari lima puluh tiga sub strategi tersebut, sepuluh di antaranya memiliki sub-sub strategi dengan jumlah selumhnya sebanyak dua puluh sub-sub strategi.
Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan dalam strategi kognitif antara kelompok Pakar dan Non Pakar. Kelompok Pakar memiliki lebih banyak jenis strategi kognitit~ serta menggunakannya secara lebih produktif dan lebih berkualitas daripada kelompok Non Pakar.
Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa dalam memahami materi bacaan, subyek menggunakan strategi kognitif dalam berbagai pola. Secara umum, pola tersebut dapat dikelompokkan menjadi dua jenis, yaitu strategi kognitif tunggal dan strategi kognitif ganda. Strategi kognitif ganda adalah respon subyek terhadap materi bacaan yang terdiri dari dua atau lebih strategi kognitif tunggal. Secara keseluruhan ditemukan enam pola strategi kognitif yang digunakan oleh subyek penelitian, yaitu :Pola A, Pola A - B, Pola A - B - C, Pola A - B - A, Pola A - B - C - D, dan Pola A - B - A - C. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penggunanan strategi kognitif tunggal relatif tidak berbeda antara kelompok Pakar dan Non Pakar. Sementara dalam penggunaan strategi kognitif ganda, kelompok Pakar lebih banyak menggunakannya daripada kelompok Non Pakar.
Hasil penelitian ini yang juga penting adalah fakta bahwa hampir semua strategi kognitif yang teridentifikasi berpotensi untuk menjadi pemicu kemunculan strategi kognitif lain, kecuali Strategi Sadar Tahu. Dari kelima belas strategi kognitif pemicu, Baca Ulang, Tanya Apa, dan Parafrase merupakan strategi kognitif yang paling produktif menjadi pemicu kemunculan strategi-strategi kognitif lain. Selain itu, ketiga jenis strategi kognitif ini juga dapat berfungsi menjadi pemicu kemunculan strategi kognitif yang lebih tinggi tingkatannya. Dengan demikian, strategi ini berpotensi untuk dilatihkan kepada anak - khususnya remaja - untuk mengakselerasi perkembangan strategi kognitifnya.
Temuan lain dari penelitian ini adalah fakta bahwa kelompok Pakar mengalami masalah keterampilan membaca lebih sedikit dan menggunakan strategi kognitif salah lebih sedikit. Selain itu, kelompok Pakar juga memiliki pengetahuan terdahulu dan pemahaman (gain score) yang lebih tinggi dari kelompok Non Pakar."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2002
T38018
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
"The story of Joko Tole for people in Sumenep was convinced that it was true story. Joko Tole was convinced as forefather heroic figure of people in Sumenep, even they acknowledge he held the supreme power in kadipaten Sumenep in 1415 1465 M...."
PATRA 10 (3-4) 2009
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 1995
S7562
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Masngudin HMS
"Kebudayaan kemiskinan pada rumah tangga nelayan memberikan derajat yang seimbang antara suami dan istri. Namun kebudayaan yang telah mantap pada masyarakat membedakan derajat atau posisi suami dan istri, walaupun istri telah berusaha dengan segala kemampuan untuk kehidupan rumah tangganya. Asumsi inilah yang menjadi dasar dalam studi tentang Kehidupan Istri Nelayan Miskin di Desa Samudera Jaya, Kecamatan Taruma Jaya, Kabupaten Bekasi. Kemiskinan yang terjadi secara turun temurun, masih dirasakan oleh tiap rumah tangga yang menjadi kasus dalam studi ini. Dalam sosialisasi orang tuannya kepada anak-anaknya juga masih dijalankan seraca turun temurun. Sosialisasi dalam hal pekerjaan, masih terlihat Bapaknya mengarahkan anak laki-lakinya untuk tetap menjadi nelayan, dan lbunya mengarahkan anak perempuannya mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan bekerja sebagai buruh tani. Kesemua ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya. Upaya ini dilakukan dengan cara mengerahkan sumber daya tenaga kerja yang ada dalam rumah tangga melalui kegiatan sosial ekonomi. Dad pengerahan tenaga kerja anggota rumah tangga dalam menanggulangi kebutuhan ini, terlihat adanya keseimbangan derajat atau posisi suami dan istri atau laki-laki dan wanita dalam rumah tangga nelayan miskin.
Dalam kebudayaan yang telah mengakar pada masyarakat, antara lain di dalam rumah tangga ada pembagian tugas yang jelas. Pekerjaan mencari nafkah adalah pekerjaan suami, sedangkan pekerjaan istri adalah pekerjaan rumah tangga. Akibat dari pengaruh kebudayaan tersebut, maka pola hubungan antara suami dan istri, berbeda tapi sama nilainya. Dalam pandangan ini ada pemisahan peranan istri dalam pekerjaan rumah tangga dan ada peluang untuk bekerja mencari nafkah diluar rumah tangga. Melalui solidaritas sosial dalam bentuk tolong menolong, saling memberi, atau saling menanggung beban secara bersama adalah merupakan upaya di antara rumah tangga nelayan dalam meningkatkan kesejahteraan mereka, yang dikenal dengan konsep sama rata sama rasa. Keadaan ini memeperlihatkan kehidupan sosial diantara sesama rumah tangga miskin di lokasi penelitian yang berorientasi pada kebutuhan ekonomi. Di lain pihak dalam kehidupan ekonomi istri bekerja mencari nafkah di berbagai lapangan kerja sesuai dengan kemampuan yang dimiliki akibat pengaruh kemiskinannya.
Walaupun istri nelayan miskin dengan segala kemampuannya telah berusaha tanpa mengenal lelah, namun pengaruh kebudayaan yang telah mantap dalam masyarakat tetap membedakan derajat atau posisi antara suami dan istri. Dengan perbedaan ini pada dasarnya istri kurang menerimanya, yang diinginkannya adalah bukan secara kaku memegang kebudayaan tersebut, tetapi seharusnya lebih berorientasi pada pemenuhan kebutuhan rumah tangganya. Dengan orientasi ini, maka akan terdapat kerjasama yang baik antara suami dan istri dalam kehidupan rumah tangga dengan pola hubungan seimbang. Pola hubungan tersebut merupakan potensi yang sangat berarti dalam pengentasan kemiskinan yang di sandangnya."
Jakarta: Program Pascasarjana Universitas Indonesia, 1997
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Annisa
"Penelitian ini membahas tentang kehidupan ekonomi rumah tangga orang Madura di Pontianak. Dengan mengambil studi kasus komunitas Madura di Kelurahan Mariana. Dalam penelitian ini ditunjukkan aktivitas ekonomi rumah tangga orang Madura yang mencerminkan. fungsi dari sistem ekonomi, yakni meliputi kegiatan produksi, distribusi dan konsumsi, dalam upaya memenuhi kebutuhan dasar (basic need).
Penelitian ini dibangun dalam perspektif antropologis, dengan menggunakan satuan penelitian keluarga atau rumah tangga. Sedangkan pendekatan yang digunakan, yakni metode kualitatif. Melalui pengamatan terlibat dan wawancara mendalam, sebagai teknik pengumpulan datanya. Penelitian ini menggali informasi mengenai keadaan obyektif kehidupan orang Madura dan aktivitas rumah tangga yang di dalamnya terdapat aktivitas ekonomi, hingga implikasinya terhadap aktivitas di luar rumah tangga itu sendiri.
Dalam penelitian ini ditemukan bahwa dalam penyelenggaraan aktivitas rumah tangga, ada keterkaitan antara rumah tangga yang satu dengan rumah tangga lainnya baik internal maupun eksternal. Lalu akibatnya terbentuk jaringan sosial yang bersifat cair, antara sesama etnis Madura dan dengan etnis lainnya_ Dengan sesama etnis Madura jaringan sosial ini terbentuk karena adanya unsur emosi (sentiment network) sebagai anggota kerabat yang sebagian besar tinggal dalam satu rumah, maupun karena teman sesama etnis Madura yang bernasib sama, disamping kepentingan ekonomi juga ada, dengan perhitungan ekonomi seperti meminta uang jaminan atau `uang tanggung? bagi yang hendak menjadi sopir oplet, tetap mereka lakukan. Sedangkan dengan etnis lainnya, jaringan ini terbentuk karena faktor kepentingan ekonomi (interest network).
Selain itu, jaringan sosial tersebut semakin kuat karena hubungan antara etnis Madura dengan etnis lainnya yang ada di Pontianak, terutama dengan etnis Melayu semakin memburuk dan telah menjadi konflik sosial yang berkepanjangan. Bahkan hal ini berpengaruh terhadap aktivitas ekonomi mereka, yang mengakibatkan kehidupan rumah tangga mereka mengalami gangguan. Dengan adanya tekanan sosial maupun politik dan ekonomi maka orang Madura lebih memperkuat jaringan sosial diantara sesama orang Madura.
Implikasi dari terbentuknya jaringan sosial tersebut diantaranya telah terjadi penguasaan terhadap sumber daya. Mereka menguasai sektor ekonomi informal. Sebagian besar orang Madura menjadi pedagang kaki lima, seperi pedagang rokok, pedagang sayur-mayur, warung nasi, tukang cuci atau pembantu rumah tangga, tukang becak, sopir oplet, tukang sampah, tukang batu, tukang perahu dan pekerjaan kasar lainnya."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2001
T689
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ika Damayanti Kartosudjono
"ABSTRAK
Gencarnya film-film impor (film-film Hollywood) yang masuk ke Indonesia mesmbuat para dihadapkan pada keadaan yang sulit untuk mana yang akan ditontonnya. Para penonton itu perlu calon penonton memilih film mencari informasi dan masukan yang benar-benar akurat agar tidak salah memilih film. Sumber informasi di masa kini pun begitu beragam, mulai dari surat kabar, majalah, radio hingga televisi. Namun juga ada sumber informasi potensial lainnya yang hadir dalam kehidupan kita sehari-harinya, yaitu saluran interpersonal. Mencari informasi merupakan tindakan alamiah setiap individu. Maka dalam skripsi ini penulis melihat bagaimana pencarian informasi oleh calon penonton film yang akan memilih satu dari dua sumber informasi yang ada, yaitu media massa dan sumber interpersonal. Untuk itu penulis mengambil sampel responden sebanyak 5 orang dengan teknik penarikan sampel purposif dalam sebuah penelitian kualitatif. Karakteristik responden yang penulis tetapkan adalah sarjana yang telah menikah minimal 2 tahun perkawinan, belum memiliki anak, dan mempunyai hobi menonton film ke bioskop. Temuan yang didapat dari penelitian ini adalah bahwa fungsi menonton bioskop bagi pasangan muda yang telah menikah adalah mencari hiburan. Sebelum menikah yang maupun sesudah menikah, responden lebih percaya pada sumber interpersonal daripada media massa untuk menentukan pilihan film. Terbukti pula adanya peran individu yang berpengaruh (significant other) bagi responden besar dalam mempengaruhi keputusan yang dibuat responden. Dalam hal ini walaupun responden mendapatkan informasi dari media massa (cetak dan televisi), mereka tetap mencari orang lain (significant other) untuk kebutuhan konfirmasi dan diskusi atas informasi yang telah didapatkan dari media tersebut. Berdasarkan komunikasi dengan significant other inilah keputusan menonton film diperoleh."
1995
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>