Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 134887 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Asep Suandi
"Pemberian imunisasi hepatitis B kepada bayi sedini mungkin (usia bayi 0-7 hari) atau yang lebih dikenal dengan istilah HB-1 dini, menjadi prioritas Program Imunisasi hepatitis B, karena hal ini akan memberikan perlindungan segera bagi bayi tersebut dari infeksi virus hepatitis B dan dapat mencegah infeksi yang sudah terjadi (melalui penularan perinatal) berkembang menjadi kronis.
Di Kabupaten Majalengka, HB-1 dini masih sangat sulit dilaksanakan terbukti dari hasil evaluasi yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Majalengka pada tahun 2000 dari 94 % bayi yang mendapat imunisasi hepatitis B yang pertama, hanya 6,28 % yang melaksanakannya pada usia dini. Dalam upaya meningkatkan jumlah bayi yang mendapatkan HB-1 dini, peran penolong persalinan menjadi sangat diharapkan karena penolong persalinan merupakan orang yang pertama kontak dengan bayi dan sulitnya menemukan bayi usia 0-7 hari di tempat pelayanan kesehatan seperti puskesmas, puskesmas pembantu ataupun di posyandu.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penolong persalinan terhadap kontak pertama imunisasi hepatitis B di Kecamatan Talaga Kabupaten Majalengka tahun 2001 dan faktor-faktor lain yang turut mempengaruhinya. Rancangan penelitian menggunakan kasus kontrol tanpa matching dengan jumlah sampel kasus sebanyak 193 orang (sesuai. dengan jumlah bayi yang mendapatkan HB-1 dini di Kecamatan Talaga periode Agustus-Desember tahun 2000, dan kontrol yang diambil secara acak dari bayi yang mendapatkan HB-1 tidak pada usia dini juga 193 orang, sehingga total sampel menjadi 386 orang. Pengolahan data menggunakan analisis univariat, bivariat dan unconditional logistic multiple regression dengan perangkat lunak stata versi 6.0.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penolong persalinan berpengaruh terhadap kontak pertama imunisasi hepatitis B bayi yaitu ibu yang persalinannya ditolong oleh tenaga kesehatan bayinya mempunyai peluang 3,3 kali lebih besar untuk mendapatkan HB-1nya pada usia dini dibanding bayi dan ibu yang persalinannya ditolong oleh bukan tenaga kesehatan setelah dikontrol variabel status pekerjaan ibu dan sikap ibu tentang imunisasi hepatitis B (OR: 3,32., 95% CI: 2,07 - 5,32). Dan bayi dari ibu yang persalinannya dilakukan di sarana kesehatan mempunyai peluang 1,6 kali lebih besar untuk mendapatkan HB-1nya pada usia dini dibanding bayi dari ibu yang persalinannya dilaksanakan bukan di sarana kesehatan (OR: 1,62., 95% CI: 1,05 - 2,49). Sedangkan umur, pendidikan, riwayat pemeriksaan kehamilan/ antenatal care (ANC) dan pengetahuan ibu tentang imunisasi hepatitis B pengaruhnya tidak bermakna.
Untuk meningkatkan jumlah bayi yang mendapatkan HB-1 pada usia dini perlu ditingkatkan kerjasama dengan tenaga kesehatan yang menolong persalinan (dokter ahli kebidanan, dan bidan) untuk dapat memberikan penyuluhan mengenai imunisasi hepatitis B dan pentingnya imunisasi tersebut diberikan sedini mungkin kepada ibu-ibu hamil saat memeriksakan kehamilannya dan memanfaatkan kesempatan kontak dengan bayi untuk memberikan pelayanan imunisasi hepatitis B.

The Influence of Birth Attendant to the First Contact Hepatitis B Immunization Infant in Talaga District of Majalengka Regency in 2001Hepatitis B immunization in infant early in life (age 0 - 7 days) well-known as early HB-1 becomes the priority of the hepatitis B immunization program, because it will protect the infants from hepatitis B virus infection and it can prevent the already infected (perinatal transmission).
In Majalengka Regency, early HB-1 is still very difficult to do. Evaluation result held by Departement of Health Majalengka Regency in 2000 that revealed from 94% infants who got their hepatitis B immunization of hepatitis B, only 6,28% got in early age (0-7 days). In trying to increase the number of infants to get early HB-1, the role of birth attendant becomes to be expected because the birth attendant is the first person who contact the baby and it is so hard to find the baby 0 - 7 days age in the community health centre, sub community health centre or integrated health post ("posyandu").
The aim of the study is to know the influence of the birth attendant to the first contact of hepatitis B immunization infant in Talaga District Majalengka Regency and the influenced other factors.
The research method uses unmatched case-control with the 193 babies as the number of the case sample (in accordance with the number of babies who get early HB-1 in Talaga District period August - December 2000), and a random control taken from the the baby who get the HB-1 not in early age for 193 babies also. So that the sample total is 386 persons. The data processing uses univariat, bivariat and unconditional multiple logistic regression analysis with software stata version 6.0.
The study result shows that the mother whose delivery her baby by health provider has more opportunity for 3,3 times to get early HB-1 than those are not by health provider, after being controlled by mother's occupation and its attitude on the hepatitis B immunization (OR: 3, 32, 95% CI: 2, 07-5, 32). And the mother whose are delivery her baby in a medical centre has more opportunity for 1, 6 to get early HB-1 than those whose are not held in medical centre (OR: 1, 62, 95% CI: 1, 05-2, 49). Whereas the influence of age, education, ante natal care and the mother's knowledge on the hepatitis B immunization are not significant.
To improve the number of early HB-1. It is important to increase the collaboration with the health provider (Obstetrician, midwife) to the promotion of hepatitis B immunization to the pregnant women when their ante natal care visited, and the advantage of opportunity to contact the baby to get the hepatitis B immunization."
Depok: Universitas Indonesia, 2001
T 8439
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dadi Supriadi
"Giving the earliest possible hepatitis B immunization to babies had become a first priority for the hepatitis B immunization programmed. This measure would give immediate protection to babies against infection caused by hepatitis B virus; it could also prevent babies from the development of some infection already occurring (through prenatal transmission) into a chronic hepatitis.
It was still very hard to carry out the earliest possible hepatitis B programmed at Tasikmalaya Regency. Results of an evaluation of immunization programmed by the local Health Service in the year 2001 showed that 88.32% of the first hepatitis B immunized babies, only 0.99% had the immunization at the ages of 0 - 7 days. In an effort to increase the number of hepatitis B immunized babies, the role of health officials became very important in encouraging mothers to have their newly-born babies immunized. Close contact with mother and their babies with health officials, either at home or at health centers, were useful in improving the health of the mothers as well as their babies.
The aim of the study was to see the correlation between visits to newly-born babies and the earliest possible immunization status of hepatitis B immunized babies at Tasikmalaya Regency in the year 2001, including other factors which influenced the status.
The design of the study is a case control without matching, with the number of cases (non-early hepatitis B immunized babies) are 162 persons, and the numbers of controls (early hepatitis B immunized babies) are 162 persons, so that the number of the whole samples was 162 persons. Data processing was carried out through unvariate, bivariate and unconditional logistic multiple regression, with the software Stata version 6.0.
Results of the study showed that mothers who had not had the opportunity of newly-born visits underwent a risk of 3.45 times of the status of babies with non-earliest possible hepatitis 13 immunization compared to mothers visited during the earliest possible child delivery (95% Cl: 1.95 - 6.10). Variables such as, pregnancy test, and place of deliveries, delivery assistants, knowledge of mother on hepatitis B immunization and mother's attitude about hepatitis B immunization controlled the results o f the study.
"
Depok: Universitas Indonesia, 2002
T8308
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rozalina
"Penyakit hepatitis B merupakan salah satu penyakit menular yang membahayakan dan menjadi masalah kesehatan utama diseluruh dunia. Salah satu cara untuk pemberantasan penyakit hepatits B adalah pencegahan dengan imunisasi. Cakupan imunisasi hepatitis B di Puskesmas Sukamara tahun 2011 adalah 59%, dibawah target yang ditetapkan (80%).
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan pemberian imunisasi hepatitis B 0-7 hari di wilayah kerja Puskesmas Sukamara. Penelitian ini dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Sukamara tahun 2012 terhadap 120 ibu rumah tangga yang mempunyai bayi umur 0-11 bulan. Desain penelitian menggunakan studi cross sectional. Hasil penelitian menunjukkan sebaran pemberian imunisasi hepatitis B pada bayi (0-7 hari) adalah sebesar 31,7%.
Hasil analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara pemberian imunisasi hepatitis B pada bayi (0-7 hari) dengan pendidikan ibu, pekerjaan, kepercayaan, tempat persalinan, dukungan suami dan kunjungan neonatal.

Hepatitis B is an one way that infection diseas dangerious and to become health problem entire word excellend. One way to fight against hepatitis B diseas is prevention using immunization. Immunization coverage of hepatitis B Puskesmas Sukamara in 2011 is 59%, below the target set (80%). The purpose of this study determine factors related to hepatitis B immunization in infants 0-7 days at Puskesmas Sukamara in 2012.
This research was conducted in Puskesmas Sukamara in 2012 against 120 housewife of babies aged 0-11 months. The study desaign was cross sectional. The research result obtained that immunization for hepatitis B of 31,7%.
The result of bivariate analysis showed a significant relationship between hepatitis B immunization in infant 0-7 days with the mother education, profession, belief, birth place, husband support, and the neonatal visits.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2012
S-Pdf
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Sukrisno
"Penyebaran Hepatitis B dapat dicegah dengan pemberian imunisasi Hepatitis B yang dimulai dari bayi baru lahir usia 0-7 hari (HB 0). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan akses imunisasi HB 0 di Indonesia. Studi dengan desain potong lintang ini menggunakan data Susenas 2016 dan Podes 2014. Sampel adalah bayi dari wanita yang pernah menikah berumur 15-49 tahun dan melahirkan bayi dengan berat lahir ≥ 2,5 Kg pada dua tahun sebelum survei dengan jumlah responden 18.407 individu. Hasil penelitian menunjukkan 59,63% bayi memanfaatkan imunisasi HB 0. Analisis regresi logistik (logit) menunjukkan variabel pendidikan, jarak, umur ibu, wilayah tempat tinggal, regional, tempat lahir bayi dan penolong persalinan berhubungan dengan akses imunisasi HB 0. Bayi yang dilahirkan di fasilitas kesehatan dan ditolong oleh tenaga kesehatan memiliki peluang yang lebih baik. Disarankan untuk meningkatkan upaya promosi kesehatan, kemitraan tenaga kesehatan dan mendorong ibu hamil untuk bersalin di fasilitas kesehatan dan ditolong oleh tenaga kesehatan.

One of the efforts to prevent Hepatitis B infection is to give Hepatitis B birth-dose vaccine to infants at age 0-7 day (HB 0). This research aimed to analyze factors related to the access of HB 0 vaccinations in Indonesia. This cross-sectional study was using Susenas 2016 and Podes 2014 data, sample size was 18.407 babies of married women whose age between 15-49 years and gave birth baby birth weight ≥ 2,5 Kg in the last two years before the survey was done. About 59,63% infants accesses HB 0 vaccination. Logistic regression analysis model (logit) resulted marginal effects which showed variabel of age and education of the mother, region, place of birth, distance and birth attendants had relationship with access the HB 0 vaccination. To increase the HB 0 vaccination coverage, it is recommended that the government or the policy makers should improve programs and acess through health promotions, partnerships among health personnels, as well as encourage facility-based delivery."
Depok: Universitas Indonesia, 2018
T53806
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Patricia Josephine Elzabetty
"Hepatitis B merupakan masalah kesehatan di dunia, termasuk Indonesia. Untuk mencegah dan mengeliminasi HBV, telah dilakukan pemberian imunisasi HB0. Namun, cakupan pemberian imunisasi HB0 masih belum mencapai target yang ditetapkan dan menunjukkan disparitas antar provinsi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan cakupan pemberian Imunisasi HB0 di Indonesia berdasarkan data SDKI 2017. Penelitian ini menggunakan desain studi potong lintang dengan analisis bivariat, menggunakan sampel anak yang lahir dalam 2 tahun terakhir dari ibu berusia 15-49 tahun. Hasil penelitian menemukan cakupan tidak imunisasi HB0 sebesar 15,8%. Faktor-faktor yang berhubungan dengan cakupan pemberian imunisasi HB0 adalah pendidikan ibu rendah (PR:1,599; 95% CI: 1,364-1,874), indeks kekayaan terbawah (PR: 2,890; 95% CI: 2,283-3,657) dan menengah bawah (PR:1,826; 95% CI: 1,408-2,366), urutan kelahiran ≥3 (PR: 1,453; 95% CI: 1,234-1,710), tinggal di daerah rural (PR: 1,734; 95% CI: 1,475-2,038), kunjungan ANC <4 kali (PR: 3,602; 95% CI: 3,130-4,147), bersalin di non fasilitas kesehatan (PR: 3,602; 95% CI: 3,130-4,147), persalinan dibantu dukun (PR:4,498; 95% CI: 3,831 -5,282) dan non tenaga kesehatan (PR: 4,248; 95% CI: 3,369-5,357), tidak memiliki kartu imunisasi (PR: 4,07;  95% CI: 3,558-4,657). Penting untuk terus melakukan upaya peningkatan promosi kesehatan melalui berbagai upaya sehingga mendorong pemberian imunisasi HB0 pada bayi.

Hepatitis B remains a global health problem, including in Indonesia. Hepatitis B birth dose vaccination (HepB-BD) has been implemented to prevent and eliminate HBV. Unfortunately, HepB-BD coverage has not yet reached target and shows disparities between provinces. This study aims to identify the factors associated with HepB-BD coverage in Indonesia using 2017 IDHS data. This study uses a cross sectional study design with bivariate analysis, using a sample of children born in the las two years from mother aged 15-49 years. The study found that the coverage of HepB-BD non vaccination coverage of 15,8%. Factors that is statistically associated with HepB-BD vaccination coverage include predisposing factor such as low maternal education (PR:1,599; 95% CI: 1,364-1,874), lowest wealth index (PR: 2,890; 95% CI: 2,283-3,657) and  lower-middle wealth indeks (PR:1,826; 95% CI: 1,408-2,366), birth order ≥3 (PR: 1,453; 95% CI: 1,234-1,710), rural residence (PR: 1,734; 95% CI: 1,475-2,038), <4 ANC visits (PR: 3,602; 95% CI: 3,130-4,147), non-health facility delivery (PR: 3,602; 95% CI: 3,130-4,147), delivery assistance by traditional birth attendants (PR:4,498; 95% CI: 3,831 -5,282) and non health professionals (PR: 4,248; 95% CI: 3,369-5,357), and not having vaccination card (PR: 4,07;  95% CI: 3,558-4,657). It is important to continue enhancing health promotion trough various means, to encourage HepB-BD vaccination."
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nurmala M. Saleh
"Data cakupan imunisasi Hepatitis B 0 (0-7hari) di desa Mangeloreng mempunyai cakupan terendah pada tahun 2011 yaitu sebanyak 45,5%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran faktor pemudah,faktor pemungkin, dan faktor penguat dengan perilaku ibu dalam memberikan imunisasi Hepatitis B 0 pada bayi 0-7 hari. Desain yang digunakan adalah cross sectional. Populasi dalam penelitian adalah bayi berumur 0-12 bulan di Desa Mangeloreng yang berjumlah 52 orang. Sedangkan pemilihan sampel dalam penelitian ini adalah total populasi. Analisis data dilakukan secara univariat dan deskriptif. Dari hasil penelitian didapatkan ibu yang memberikan imunisasi Hepatitis B 0 adalah 92,3%.

Hepatitis B 0 immunization coverage data (0-7days) in the Mangeloreng village area has the lowest coverage in 2011 as many as 45.5%. This study aims to picture of the between predisposing factors, enabling factors and reinforcing factors in maternal behavior in providing the Hepatitis B 0 immunization (0-7 days) in infants 0-12 months. The design used was cross-sectional. Population in the study were infants aged 0-12 months in the Mangeloreng village numbering 52 people. While the selection of the sample in this study is the total population. Data analysis was performed by Univariate and description. From the result showed that mothers provide Hepatitis B 0 immunization was 92.3%."
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2012
S-Pdf
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Pratono
"Pendahuluan: Penyakit hepatitis B merupakan masalah kesehatan utama, baik di dunia maupun di Indonesia. Secara global, pada tahun 2015, diperkirakan 257 juta orang hidup dengan infeksi HBV kronis (WHO, 2015). Dan selanjutnya menyebabkan (720.000 kematian karena sirosis) dan kanker hati primer (470.000 kematian karena karsinoma hepatoseluler) ( WHO, 2015). Prevalensi Hepatitis B wilayah Asia Tenggara adalah 2,0%. Untuk prevalensi Hepatitis B pada ibu hamil di Indonesia tahun 2017 adalah sebesar 2,7% (Berita Subdit HISP 2017). Hal ini didapatkan dari kegiatan program deteksi dini Hepatitis B yang dilakukan sejak tahun 2016 yang baru dilaksanakan di beberapa propinsi (Berita Subdit HISP, 2017). Metode: Penelitian ini adalah analitik observasional yang menggunakan rancangan penelitian cross-sectional. Sampel untuk penelitian ini sebanyak 12.475 ibu hamil yang melakukan pemeriksaan kehamilan di puskesmas-puskesmas di wilayah Jakarta Utara. Data diperoleh dari Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, dan dianalisis menggunakan Uji Regresi Logistik. Hasil: Prevalensi Hepatitis B pada ibu hamil pada penelitian ini sebesar 2,3%, Risiko ibu hamil yang serumah dengan penderita Hepatitis B 6,46 kali (95% CI 3,68-11,35) untuk terinfeksi Hepatitis B dibandingkan dengan ibu hamil yang tidak pernah serumah dengan penderita Hepatitis B setelah dikontrol dengan status pekerjaan, umur kehamilan, riwayat transfusi, riwayat penasun. Kesimpulan: Serumah dengan penderita Hepatitis B merupakan faktor risiko terhadap penularan Hepatitis pada Ibu Hamil. Sehingga kegiatan Deteksi Dini Hepatitis Ibu Hamil tetap dilanjutkan dengan diintegrasikan dengan program vaksinasi Hepatitis B pada ibu hamil hepatitis B negatif dan program pengobatan Hepatitis B bagi yang sudah terinfeksi.

Introduction: Hepatitis B is a major health problem, both in the world and in Indonesia. Globally, in 2015, an estimated 257 million people live with chronic HBV infection (WHO, 2015). And subsequently caused (720,000 deaths due to cirrhosis) and primary liver cancer (470,000 deaths due to hepatocellular carcinoma) (WHO, 2015). The prevalence of Hepatitis B in the Southeast Asia region is 2.0%. The prevalence of Hepatitis B in pregnant women in Indonesia in 2017 is 2.7% (News Sub-Directorate of HISP 2017). This was obtained from the activities of the Hepatitis B early detection program carried out since 2016 which was only implemented in several provinces (News Subdit HISP, 2017). Method: This study was an observational analytic study using a cross-sectional study design. The sample for this study was 12,475 pregnant women who carried out antenatal care at health centers in the North Jakarta area. Data was obtained from the DKI Jakarta Provincial Health Office, and analyzed using the Logistic Regression Test. Results: Prevalence of Hepatitis B in pregnant women in this study was 2.3%, the risk of pregnant women at home with Hepatitis B sufferers was 6.46 times (95% CI 3.68- 11.35) to be infected with Hepatitis B compared to pregnant women who have never been at home with Hepatitis B patients after being controlled by work status, gestational age, transfusion history, IDU history. Conclusion: Houses with Hepatitis B patients are risk factors for transmission of Hepatitis in Pregnant Women. So that the activities of Early Detection of Hepatitis B Pregnant women continue to be integrated with the Hepatitis B vaccination program in negative hepatitis B pregnant women and Hepatitis B treatment programs for those who have been infected."
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2019
T-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Jessica Purwanti Wonohutomo
"Pemeriksaan hepatitis B surface antigen (HBsAg) merupakan pemeriksaan penyaring dan diagnostik hepatitis B. Pemeriksaan HBsAg konfirmasi merupakan salah satu cara membedakan hasil HBsAg reaktif lemah dengan positif palsu. Salah satu metode pemeriksaan HBsAg ialah chemiluminescence microparticle immunoassay (CMIA), namun belum terdapat panduan batas sample/cut-off (S/CO) HBsAg yang perlu dilanjutkan pemeriksaan konfirmasi. Penelitian ini bertujuan mengetahui S/CO HBsAg yang perlu dilanjutkan dengan pemeriksaan konfirmasi pada metode CMIA, proporsi diskrepansi hasil HBsAg dengan HBsAg konfirmasi, serta profil klinis pasien dengan diskrepansi hasil. Penelitian dilakukan dengan desain potong lintang. Total sampel HBsAg ialah 19.645 sampel yang dilakukan pemeriksaan HBsAg Qualitative II® pada Abbott Architect i2000. Sampel dengan S/CO 0,90 – 100,00 sesudah sentrifugasi kecepatan tinggi yang dilanjutkan pemeriksaan HBsAg Qualitative II Confirmatory® ialah 132 sampel, dengan persentase diskrepansi hasil 22,7%. Sampel terdiri dari 102 sampel konfirmasi reaktif dan 30 sampel tidak terkonfirmasi. Nilai S/CO yang perlu dilanjutkan pemeriksaan konfirmasi ialah 0,98 (sensitivitas 100%, spesifisitas 3,3%) hingga 9,32 (sensitivitas 47,1%; spesifisitas 100%). Kurva ROC S/CO pemeriksaan HBsAg setelah sentrifugasi kecepatan tinggi memiliki luas area under the curve 83,3%. Profil klinis terbanyak pada pasien dengan diskrepansi hasil ialah hipertensi, diabetes melitus, penyakit ginjal kronik, dan pneumonia. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui kaitan diskrepansi hasil HBsAg dengan komorbiditas yang telah disebutkan.

Hepatitis B surface antigen (HBsAg) is a serological marker used in hepatitis B screening and diagnosis. Confirmatory HBsAg is an assay to distinguish weak reactive from false positive results. Chemiluminescence microparticle immunoassay (CMIA) is one of HBsAg assay method widely used, however at present no approved guideline for HBsAg sample/cut-off (S/CO) value which needs to be followed by confirmatory HBsAg. The aims of the study were to determine S/CO value of HBsAg assay using CMIA method which needs to be followed by confirmatory HBsAg, to know the discrepancy proportion between HBsAg and confirmatory HBsAg results, and to identify the clinical profile of patients with results discrepancies. Of total 19645 samples analyzed using HBsAg Qualitative II® in Architect i2000, 132 had S/CO between 0.90 – 100.00 after high speed centrifugation, thus followed by confirmatory HBsAg using HBsAg Qualitative II Confirmatory®. Proportion of the discrepancy was 22.7% (102 confirmed reactive samples and 30 not confirmed samples). The S/CO value of HBsAg samples needs to be followed by confirmatory HBsAg is 0.98 (100% sensitivity, 3.3% specificity) to 9.32 (47.1% sensitivity, 100% specificity). The ROC curve was made using HBsAg S/CO values after high speed centrifugation, with area under the curve of 83.3%. Most common clinical profile found in discrepancies were hypertension, diabetes mellitus, chronic kidney disease, and pneumonia. Further studies are needed to determine the association of HBsAg results discrepancy with the mentioned comorbidities."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2020
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Helmiati
"ABSTRAK
Hepatitis B merupakan penyakit infeksi yang disebabkan virus hepatitis B (VHB),
lebih dari 350 juta orang mengidap virus hepatitis B yang menyebar di seluruh
dunia, 78% diantaranya menetap di Asia Tenggara. Salah satu cara untuk
pemberantasan penyakit hepatits B adalah pencegahan dengan imunisasi. Cakupan
imunisasi hepatitis B Puskesmas Pasar Kuok tahun 2010 adalah 35,2%, di bawah
target yang telah ditetapkan (95%). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui
faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian imunisasi hepatitis B-0 pada
bayi (0-11 bulan) di Puskesmas Pasar Kuok tahun 2011. Penelitian ini dilakukan di
Puskesmas Pasar Kuok tahun 2010 terhadap 124 ibu rumah tangga yang
mempunyai bayi umur 0-11 bulan. Disain penelitian adalah metode cross sectional
dan bersifat deskriptif analitik. Hasil penelitian menunjukkan sebaran pemberian
imunisasi hepatitis B-0 pada bayi (0-11 bulan) adalah sebesar 39,5%. Hasil analisis
bivariat menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara pemberian
imunisasi hepatitis B-0 pada bayi (0-11 bulan) dengan pengetahuan ibu, penolong
persalinan, kunjungan neonatal dan pemanfaatan keberadaan bidan di desa. Dinas
Kesehatan dapat membuat perencanaan kebutuhan dan distribusi vaksin hepatitis B-
0 ke sarana kesehatan, Rumah Sakit, Rumah Bersalin dan petugas yang menolong
persalinan. Serta Bidan Membuat pencatatan dan pelaporan imunisasi dengan baik
dan sejalan dengan laporan kunjungan neonatal.

ABSTRACT
Hepatitis B is an infectious disease caused by hepatitis B virus (HBV), more than
350 million people contracted hepatitis B virus that spreads around the world, 78%
of them settled in Southeast Asia. One way to fight against hepatitis B disese is
prevention using immunization. Immunization coverage of Hepatitis B Puskesmas
Pasar Kuok in 2010 is 35.2%, below the target set (95%). The purpose of this study
determine factors related to hepatitis B-0 immunization among babies (0-11 month)
at Puskesmas Pasar Kuok in 2011. This research was conducted in Puskesmas
Pasar Kuok in 2010 against 124 housewife of babies aged 0-11 months. The study
design was cross-sectional descriptive and analytic. The research result obtained
that immunization for hepatitis B-0 of 39,5% The result of bivariate analysis
showed a significant relationship between hepatitis B immunization in babies (0-11
months) with the mother knowledge, the helper of childbirth, the neonatal visits and
utilization of midwives in the village. Department of Health needs to make the
planning and distribution of hepatitis B-0 to health facilities, hospitals, maternity
hospitals and staff who helped deliver. Midwife in the village to spread its presence
so that known by the public and makes recording and reporting of immunization
with the good and in line with the monthly report requests neonates."
2011
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Evi Yuniawati
"Jika ditinjau dari segi epidemiologi, secara geografis, pada saat ini di dunia diperkirakan terdapat 350 juta pengidap Hepatitis B (carrier), dan hampir 78% di antaranya tinggal di Asia. Indonesia termasuk salah satu wilayah Asia Tenggara, dengan prevalensi Hepatitis B tingkat sedang sampai tinggi.
Di Indonesia imunisasi Hepatitis B mulai diintegrasikan ke da1am Program Pengembangan Imunisasi (PPI) sejak tahun 1997. Pelayanan imunisasi Hepatitis B ini bisa didapatkan di RS Pemerintah / RS ABR1, Puskesmas, Pustu, Posyandu yang telah ditunjuk (Depkes, 1997). Cakupan imunisasi Hepatitis B pada bayi usia 0-7 hari di Jawa Timur masih rendah, yaitu 59,30 persen (2005), di Jawa Barat balita yang pemah mendapat irnunisasi Hepatitis B adalah 75,60 persen (2006). Hal ini masih jauh dari target yang diharapkan untuk imunisasi Hepatitis B pada bayi berusia 0-7 hari adalah 90 persen.
Pemberian imunisasi Hepatitis B sangat erat kaitannya dengan penolong persalinan, karena untuk mendapatkan imunisasi Hepatitis B sedini mungkin, diperoleh dari tenaga kesehatan. Di Indonesia masih banyak ditemukan persalinan yang bukan ditolong oleh tenaga kesehatan. Persalinan terakhir yang terjadi pada keluarga-keluarga di Jawa Barat yang dilakukan oleh tenaga kesehatan pada tahun 2005 sebesar 61,27 persen turun menjadi 56,64 persen pada tahun 2006. Pada tahun 2005, persentase persalinan yang ditolong oleh &Awn mengalami peningkatan sebesar 5,19 persen, sementara yang ditolong oleh tenaga kesehatan turun sebesar 4,63 persen (BPS Jabal., 2006). Sedangkan di Jawa Timur dalam cakupan program kesehatan tahun 2003-2005 pertolongan persalinan oleh bidan atau tenaga kesehatan mengalami peningkatan, yaitu sebesar 82,73% pada tahun 2003, 84,06% pada tahun 2004, dan sebesar 86,10% pada tahun 2005.
Tujuan penelitian ini adalah diketahuinya hubungan antara penoIong persalinan dengan pemberian imunisasi Hepatitis B pada bayi berusia 0-7 hari setelah dipadankan (matching) oleh variabel umur ibu, pendidikan ibu, pekerjaan ibu, tempat persalinan, dan kabupaten daerah tempat tinggal yang berperan sebagai variabel confounder Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan data sekunder dari survey data dasar ASUH. Desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional. Pernilihan sampel pada penelitian ini mengikuti metode 30-cluster WHO. Dalam studi ini cluster adalah desa dengan kriteria perabagian cluster berdasarkan jumlah penduduk (probability proportionate to size). Dengan menggunakan c-survey didapatkan sejumlah desa di tingkat kabupaten di pilih secara acak 15 ibu per cluster sehingga memenuhi jumlah sample 450 untuk satu kabupaten. Responden adalah ibu yang memiliki bayi kandung di bawah satu tahun di wilayah studi terpilih. Jumlah sampel yang berhasil dikumpulkan adalah 2687 responden_ Berdasarkan basil perhitungan di atas dengan jumlah 2687 responden, rnaka didapatkan kekuatan ujinya sebesar 99% pada a---- 5 %, design effect --- 2 dan Pl- P2 = 20%.
Analisis data terdiri dari analisis univariat, analisis bivariat dan multivariat. Analisis bivariat rnengunakan uji chi square untuk melihat hubungan variabel independen dengan variabel dependen, sedangkan analisis multivariat dengan menggunakan Propensity Score Matching untuk melihat hubungan variabel independent dengan variabel dependent secara bersarna-sarna setelah dikontrol oleh confounding.
Hasil penelkian menunjukkan adanya hubungan yang bernaakna antara penolong persalinan dengan pemberian imunisasi Hepatitis B pada bayi usia 0-7 had setelah dipadankan oleh variabel confounding dengan analisis PSM bila menggunakan alogaritma pemadanan Caliper dengan nilai RR 1,86 dengan nilai p < 0,05.
Berdasarkan penelitian ini disarankan untuk penyusun kebijakan diharapkan dapat meningkatkan cakupan imunisasi Hepatitis B pada bayi 0-7 hari dengan cara meningkatkan cakupan penolong persalinan oleh tenaga kesehatan, juga untuk mengunakan alogaritma pemadanan yang lain pada penelitian selanjutnya dan diharapkan adanya penelitian lebih lanjut oleh peneliti lain karena masih sangat jarang penelitian yang mencari hubungan antara penolong persalinan dengan pemberian imunisasi Hepatitis 13 pada bayi usia 0-7 hari dengan variabel yang lain dan juga penelitian dengan menggunakan analisis Propensity Score Matching dengan alogaritma pernadanan yang lain.

In EpidemioIogic view, as geographic, at this time in the world there is 350 million people carrier of Hepatitis B, and almost 78% lived in Asia_ Indonesia is one of the South East Asia Region., with Hepatitis B prevalence mild to severe. In Indonesia, Hepatitis B immunization has begun to be integrated into Immunization Developing Program (PP1) since the year 1997. Hepatitis B immunization services can be obtained from government hospitals / military hospitals, public health centers, pustu, posyandu, which have been appointed. Hepatitis B immunization coverage for infants aged 0-7 days in East Java is still low, 59.30% whilst in West Java, children under 5 years of age who have been immunized Hepatitis B before is 75.60%. This is far from the expected target for Hepatitis B immunization in infants aged 0-7 days, which is 90%.
Administration of Hepatitis B immunization is closely related to delivery care attendants, because to obtain Hepatitis B immunization early, it's through health care professionals. In Indonesia, there are still many deliveries not done by health care professionals. The latest deliveries of families in West Java which were performed by health care professionals happened in 2005 as many as 61,27% had decreased to 56.64% in 2006. In 2005, delivery percentage done by "dukun" had experienced an increase of 5,19% whilst delivery percentage done by health care professional had decreased by 4,63% (BPS Jabar, 2006). Whereas in East Java, health program coverage for the year 2003-2005 showed that delvery care done by midwives or health care professionals had experience an increase as many as: 82,73% in 2003, 84,06% in 2004, and 86,10% in 2005.
The objective of this research is to determine the association between delivery care attendants and administration of Hepatitis B immunization to infants aged 0-7 days after being matched by the following variables: mothers'age, mothereeducation, mothers' occupation, places of delivery / labour, and regional district of residency, which act as confounding variables.
This research is done using secondary data from basic survey data ASUH. The study design used is cross sectional. Sample selection in this research follow the 30- cluster method of WHO. In this study, the cluster is a village whose criteria of cluster division id based on the number of people (probability proportionate to size). survey is obtained a certain number of villages. In the village stage, 15 mothers per cluster are randomly selected, so that it will satisfy the required number of samples of 450 for I district. Respondents are biological mothers of infants under 1 year of age in the chosen study area. Number of samples managed to be collected are 2687 respondents. Based on the calculation above with 2687 respondents, thus is obtained a strength of study as high as 99% with a = 5%, design effect =2, and Pl-P2 = 20%.
Data analysis consist of univariate analysis, bivariate analysis, and multivariate analysis. Bivariate analysis uses chi-square to observe the association between independent variables and the dependent variable, whereas multivariate analysis uses Propensity Score Matching to observe the association between independent variables and the dependent variable at the same time after being controlled for confounding.
Findings from the research show that there is significant association between delivery care attendants and administration of Hepatitis B immunization to infants aged 0-7 days after being matched confoundings variables with Propensity Score Matching analysis if using caliper matched alogarithin with RR 1,86 and p value <0.05.
Based on this research, it's advice for policy maker to hopefully be able to increase the coverage for Hepatitis B immunization in infants 0-7 days by way of increasing the coverage of delivery care attendants done by health professionals, to use other matching algorithm for the next research and hopefially further researches are done by other researches because there is still hardly any research conducted to determine the association between delivery care and administration of Hepatitis B immunization in infants aged 0-7 days with other variables as well as other reseaches using Propensity Score Matching analysis with different kinds of matching algorithm.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat, 2007
T33899
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>