Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 51079 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Suharyo Sumowidagdo
"Sebuah model fenomenologis sederhana untuk reaksi fotoproduksi kaon yang bekerja dari energi ambang hingga energi tinggi dipelajari dan dikembangkan dalam penelitian ini. Model ini merupakan kombinasi antara model isobarik; yang bekerja pada energi menengah, dan model Regge; yang bekerja pada energi tinggi. Kombinasi dicapai dengan menggunakan formalisme Regge pada amplitudo kanal resonansi t dengan partikel pertukaran K* dan K1. Pada daerah energi menengah, diperoleh efek redaman amplitudo yang lebih baik dibandingkan penggunaan faktor bentuk hadronik. Pada daerah energi tinggi, diperoleh deskripsi yang baik untuk sudut hamburan kecil namun belum diperoleh hasil yang baik untuk sudut sangat kecil, 0.9 ≤ Cos θ ≤ 1.0. Penggunaan model ini untuk integrasi GDH sum rule memberikan kontribusi yang konvergen pada kanal reaksi fotoproduksi kaon.

Kaon Photo production in the High-Energy RegionA simple phenomenological model for kaon photo production which works from thresh-old up to the high energy region is studied and developed in this work. The model is a combination of isobaric model; which works in the intermediate energy region, and Regge model; which works in the high energy model. The combination is achieved by using Regge formalism for the t-channel resonance amplitude with exchange particles K* and K1. In the intermediate energy region, we obtain better cut-off effect compared to the use of hadronic form factors. In he high energy region, we obtain good results for small scattering angle, but the model still unable to describe the experimental data at very forward angles, 0.9 ≤ Cos θ ≤ 1.0. Integration of the GDH sum rule with this model gives a convergent result for the contributions of kaon photo production to the GDH sum rule."
Depok: Universitas Indonesia, 2001
T8137
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Universitas Indonesia, 2002
S28696
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Universitas Indonesia, 2004
S28803
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Happy Komikesari
"[ABSTRAK
Semakin baik dan banyaknya hasil eksperimen di bidang nuklir, menjadi faktor pendorong
bagi fisikawan nuklir untuk melakukan penelitian lebih lanjut mengenai interaksi
dan struktur nuklir. Alhasil, banyak reaksi yang bertujuan untuk menjelaskan,
membandingkan bahkan memperkirakan hal ini, salah satunya adalah fotoproduksi
kaon netral pada deuteron. Telah dipelajari sebuah model sederhana untuk reaksi
fotoproduksi kaon netral pada deuteron yaitu model isobar dengan menggunakan
pendekatan impuls. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari penampang lintang
eksklusif dan inklusif dari fotoproduksi kaon netral pada deuteron dengan beberapa
keadaan kinematik, dan dibandingkan dengan eksperimen [6]. Hasil yang didapatkan
menunjukkan penampang lintang inklusif lebih besar daripada penampang lintang
eksklusif karena pada penampang lintang inklusif hanya mendeteksi kaon saja, dan
untuk penampang lintang eksklusif mendeteksi kaon dan hiperon secara simultan,
makin banyak partikel yang dideteksi makin kecil penampang lintangnya. Penampang
lintang eksklusif dengan momentum proton = 0 lebih besar dibandingkan dengan
momentum proton tidak nol, hal ini dikarenakan peluang terjadinya reaksi
lebih besar ketika neutron dalam deuteron diam. Untuk penampang lintang eksklusif
dengan variasi momentum proton, paling besar penampangnya berada pada arah
sumbu Z, yaitu searah dengan masuknya proyektil foton riil saat terjadinya reaksi.
Kaon paling banyak mengalami hamburan pada sudut kecil, sementara pada sudut
yang besar penampang lintangnya kecil. Amplitudo transisi deuteron berperan penting
dalam reaksi eksklusif maupun inklusif yaitu dalam menentukan puncak-puncak
kurva penampang lintang tersebut.

ABSTRACT
The abundance experimental results in the nuclear eld, becomes a driving factor for
nuclear physicists to conduct further research on interactions and nuclear structure.
As a result, many reactions aims to explain, compare and even estimate it, one of
which is the neutral kaon photoproduction on deuteron. It has been studied a simple
model for the reaction of the neutral kaon photoproduction on deuteron with isobars
model using impulse approximation. This research aims to learn the exclusive
and inclusive cross section of neutral kaon photoproduction on deuteron with some
kinematic state, and compared with experiments [6]. The results obtained indicate
the inclusive cross section larger than the exclusive cross section because for the
inclusive cross section only detect kaon, and exclusive cross section detect kaon and
hyperon simultaneously, more particles are detected the smaller cross section will be.
Exclusive cross section with proton momentum = 0 is larger than when proton momentum
is not zero, because of the possibilty for greater reaction is when a neutron
in the deuteron is not moving. For the exclusive cross section with variation proton
momentum, the largest cross section is in the axis-Z, that have the same direction
with the entry of projectile photon real. Kaon experiences the most scattering at
small angles, while at large angles have a small cross section. Transition amplitude
on deuteron plays an important role in the reaction that exclusive or inclusive in
determining the peaks of the cross section of the curve, The abundance experimental results in the nuclear eld, becomes a driving factor for
nuclear physicists to conduct further research on interactions and nuclear structure.
As a result, many reactions aims to explain, compare and even estimate it, one of
which is the neutral kaon photoproduction on deuteron. It has been studied a simple
model for the reaction of the neutral kaon photoproduction on deuteron with isobars
model using impulse approximation. This research aims to learn the exclusive
and inclusive cross section of neutral kaon photoproduction on deuteron with some
kinematic state, and compared with experiments [6]. The results obtained indicate
the inclusive cross section larger than the exclusive cross section because for the
inclusive cross section only detect kaon, and exclusive cross section detect kaon and
hyperon simultaneously, more particles are detected the smaller cross section will be.
Exclusive cross section with proton momentum = 0 is larger than when proton momentum
is not zero, because of the possibilty for greater reaction is when a neutron
in the deuteron is not moving. For the exclusive cross section with variation proton
momentum, the largest cross section is in the axis-Z, that have the same direction
with the entry of projectile photon real. Kaon experiences the most scattering at
small angles, while at large angles have a small cross section. Transition amplitude
on deuteron plays an important role in the reaction that exclusive or inclusive in
determining the peaks of the cross section of the curve]"
2015
T43719
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Jutri Taruna
"Data total penampang lintang terbaru SAPHIR p(γ, K +)A menunjukkan struktur resonan pada energi total pusat massa sekitar 1900 MeV. Kami menyelidiki keadaan ini dengan menggunakan model isobarik, dan mencoba membandingkan 3 jenis formalisme propagator spin 3/2, yaitu formalisme propagator Adelseck, Behrends-Pronsdal dan Pascalutsa. Kami menemukan bahwa struktur ini dapat dijelaskan dengan memasukkan resonan baru D13 pada 1895 MeV. Selain itu ternyata formalisme propagator spin 3/2 Pascalutsa memberikan hasil yang terbaik dibandingkan dengan formalisme yang lain.

New SAPHIR p(γ, K+)A total cross section data show a resonance structure at a total c.m. energy around 1900 MeV. We investigate this feature with an isobar model, and try to compare 3 models of spin 3/2 propagator of Adelseck, Behrends-Fronsdal, and Pascalutsa. We find that the structure can be well explained by including a new D13 resonance at 1895 MeV. We also find that the spin 3/2 propagator of Pascalutsa shows the best result.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2000
T9319
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
M. Jauhar Kholili
"Keberadaan resonansi nukleon yang hilang dapat dicari dengan menggunakan produksi elektromagnetik dari kaon pada total energi c.m. sampai dengan 2,2 GeV. Penelitian ini didasarkan pada model isobar dan menemukan bahwa resonansi nukleon tertentu sangat diperlukan untuk menjelaskan beberapa proses hamburan. Resonan-resonan nukleon S11(1650), D13(2080), P11(1710), P13(1720), S11(2090), P11(2100), P11(1840), resonan meson K(892), dan resonan hyperon S01(1800), S01(1810) dilibatkan untuk perhitungan dalam penelitian ini.
Hasil perhitungan dengan melibatkan resonan-resonan ini menunjukkan hasil kecocokan yang dengan data. Sesuai dengan penelitian sebelumnya [17], dengan sangat kecilnya kontribusi dari resonan P11(1710), maka dapat dikatakan bahwa resonan ini tidak harus digunakan untuk mereproduksi data dengan baik. Hasil dari penelitian ini menguatkan hasil penelitian dari grup Bonn-Gatchina [10,11,12] bahwa penyertaan dari resonan P13(1900) dan P11(1840) memperbaiki nilai dari fi2 dengan cukup signifikan. Khususnya untuk resonan P13(1900) mempunyai kontribusi yang sangat penting untuk mereproduksi data polarisasi Cx dan Cz [15].

Recently, it has been realized that the constituent quark models predict much more nucleon resonance states than that found in the pion-nucleon scattering and recorded in the Particle Data Book. Those resonances missing in the Particle Data Book are later called as missing resonances. We have searched for the existence of these missing nucleon resonances by using electromagnetic production of kaon at total c.m. energies from threshold up to 2.2 GeV. Employing the diagrammatic techniques called isobar model, the scattering amplitude of p(;K+) has been derived with the coupling constants being determined phenomenologically by a least-squares t to the available experimental data.
It is found that certain nucleon resonances are strongly needed to explain the process. Born terms meson-baryon interaction are included in the model via nucleon intermediate state in the s- and u-channels and meson exchanges in the t-channel amplitude. The nucleon resonances S11(1650), D13(2080), P11(1710), P13(1720), P13(1900), S11(2090), P11(2100), P11(1840), meson resonances K(892), and hyperon resonances S01(1800), S01(1810) are taken into account explicitly in the calculation. Comparison between the extracted resonance parameters and those of the quark models shows a good agreement with experimental data. Similar with previous study [17], we do not nd any compelling requirement for including the P11(1710) state in order to reproduce the experimental p(;K+) data. Our result corroborates the claim of Bonn-Gatchina group [10,11,12] on the importance of P13(1900) and P11(1840) states in improving the 2. Especially for P13(1900), its contribution is very important to reproduce the Cx and Cz data [15].
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2012
S1648
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Lila Syukurilla
"ABSTRAK
Penyelidikan tentang faktor bentuk hadronik pada fotoproduksi kaon telah menghasilkan
model standar terbaik. Model standar terbaik berisi kombinasi faktor
bentuk hadronik untuk masing-masing vertex fotoproduksi kaon yang diselidiki
menggunakan model isobar. Nilai c2=N minimum yang diperoleh dari model
standar terbaik adalah 2.13. Masing-masing vertex fotoproduksi kaon memiliki
kesesuaian penggunaan faktor bentuk hadronik yang berbeda-beda, antara lain
menggunakan jenis dipole, eksponensial, generalized dipole (1), generalized
dipole (2), atau generalized dipole (3). Selain kombinasi faktor bentuk hadronik,
model standar terbaik juga menghasilkan nilai parameter cut-off untuk setiap vertexnya.
Upaya perbaikan terhadap model standar terbaik dilakukan dengan seleksi
data eksperimen berdasarkan analisis konsistensi data dan seleksi berdasarkan
simpangan R. Namun, hasil seleksi data kurang memuaskan karena tidak ada
penurunan nilai c2=N yang signifikan. Parameter cut-off dan konstanta kopling
juga diselidiki pengaruhnya terhadap model dengan cara memvariasikan nilai
keduanya. Variasi parameter cut-off untuk vertex meson K(892) dengan kenaikan
dan penurunan 10% menyebabkan adanya pergeseran hasil fit dari model standar
terbaik. Sementara itu, variasi konstanta kopling tidak menghasilkan perubahan
cukup besar pada model standar terbaik.

ABSTRACT
We have produced the best standard model of kaon photoproduction off the proton
using hadronic form factors. The best standard model, which is investigated using
isobar model, contains combination of hadronic form factors for each vertex in kaon
photoproduction. The value of c2=N achieved in this work is 2.13. Each vertexs
of kaon photoproduction perform different suitability using several hadronic form
factors, those are the dipole, exponential, generalized dipole (1), generalized dipole
(2), or else generalized dipole (3). Furthermore, the best standard model produced
the specific value of cut-off parameter for each vertex. We also try to improve the
best standard model by selecting the experimental data using consistency analysis
method and deviation method. However, both methods perform no improvement. In
the final work, we investigate the effect of cut-off parameter and coupling constant
on the best standard model by varying their values. Cut-off parameter for K(892)
meson show different result from the best standard model after varying its value in
the range of 10%. Meanwhile, variation on coupling constant perform not enough
differences to be noted."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2014
T42144
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Wowo Diergo Suciawo
"Dalam fotoproduksi kaon, banyak data eksperimen yang telah didapatkan namun masih sedikit teori yang dapat menjelaskan hasil tersebut dengan baik. Dengan meneliti peran resonans hyperon dalam fotoproduksi kaon, diharapkan dapat memahami reaksi ini dengan lebih baik. Penelitian ini menggunakan metode Lagrangian efektif dengan interaksi yang lebih konsisten untuk mencari nilai amplitudo hamburan, kemudian parameter yang tidak diketahui dalam amplitudo hamburan dicocokkan dengan data eksperimen dengan meminimalisasikan nilai χ2/N. Data eksperimen yang digunakan ialah penampang lintang dan observabel polarisasi. Hasil yang didapatkan menunjukkan nilai yang lebih sesuai dengan data eksperimen, terutama pada daerah sudut mundur.

Kaon photoproduction has been investigated and experimented but still few theories can explain it well. Investigating hyperon resonance in kaon photoproduction may provide a better explanation about this process. This study was conducted by using an effective Langrangian method with consistent interaction to calculate scattering amplitude, then the unknown parameters in scattering amplitude would be fitted with experimental data by minimizing χ2/N value. Experimental data which is used are cross-section and polarization observable. The results showed values more precise with the experimental data, especially at backward angle.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2015
S62061
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Anggun Komala Sari
"ABSTRAK
Penelitian ini menginvestigasi efek dari faktor bentuk hadronik dalam fotoproduksi kaon pada nukleon, +p ! K++. Telah ditemukan bahwa bentuk faktor bentuk hadronik tertentu dapat memperbaiki kecocokan antara perhitungan model dan data eksperimen, khususnya pada energi tinggi. Namun pengikutsertaan faktor bentuk hadronik dalam perhitungan menjadi sumber terlalu teredamnya cross section pada sudut depan kaon. Penelitian ini bertujuan untuk mencari penyebab hal tersebut sekaligus mencari bentuk faktor bentuk seperti apa yang dapat meredam divergensi pada amplitudo hamburan dan cocok dengan data eksperimen. Data eksperimen untuk differensial cross section, polarisasi tunggal, dan polarisasi ganda pada investigasi ini didapat dari kolaborasi CLAS, GRAAL, dan LEPS. suku Born dan suku resonan pada model dikonstruksi secara kovarian, yaitu dengan menggunakan teknik Feynman. Teori pseudoskalar digunakan untuk menghitung verteks hadronik dalam amplitudo. Beberapa bentuk faktor bentuk hadronik telah dianalisis dan hasil numeriknya dibandingkan dengan data dalam rangka untuk mengetahui faktor bentuk yang cocok untuk fotoproduksi kaon.

ABSTRACT
We have investigated the effect of hadronic form factors in kaon photoproduction off the nucleon, + p ! K+ + . It is found that certain forms of hadronic form factors can significantly improve the agreement between model calculation and experimental data, especially at higher energies. However, the inclusion of hadronic form factors might also become the source of oversuppression of the cross section at forward kaon angles. In this research we are interested in locating the origin of this problem as well as the types of form factor which can suppress the divergence of scattering amplitudes and simultaneously yield the best agreement with experimental data. Experimental data on differential cross section, single and double polarization from CLAS, GRAAL, and LEPS collaborations have been used in this investigation. The born and resonance terms of the model are constructed in covariant way, i.e. by using Feynman technique. We used the pseudoscalar theory to calculate the hadronic vertices in the amplitude. Several forms of hadronic form factor have been analyzed and the corresponding numerical results are compared to data in order to determine the appropriate form factor in kaon photoproduction."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2012
S43802
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Tiara Marsainy
"Dalam beberapa puluh tahun terakhir, fotoproduksi kaon telah menjadi salah satu kanal yang dikenal berpotensi untuk menemukan missing resonances yang telah diprediksi oleh Quark Model, akan tetapi belum dikonfirmasi oleh eksperimen. Namun kanal reaksi ini memiliki kesulitan-kesulitan tersendiri, yaitu cross section rendah dan energi threshold yang sangat tinggi. Energi threshold untuk fotoproduksi kaon adalah 911 MeV, sangat tinggi jika dibandingkan dengan energi threshold untuk fotoproduksi pion, yaitu 150 MeV. Penentuan background yang tepat menjadi penting untuk menentukan kontribusi resonans. Saat ini kontribusi resonans dapat ditentukan dengan menggunakan sebuah metode pengambilan keputusan dalam statistik, yang disebut dengan Metode Bayesian. Metode ini tidak hanya mengevaluasi sebuah model pada seluruh parameternya, namun juga memasukkan distribusi prior dan data eksperimen ke dalam perhitungan. Analisis menggunakan metode ini menunjukkan bahwa sekumpulan resonans menggambarkan proses fotoproduksi kaon dengan lebih baik dari pada sekumpulan resonans lainnya.

Kaon photoproduction has drawn considerable attention for decades as one of the promising processes to find the missing nucleon resonances, predicted by quark model but not listed yet by the Particle Data Group. Nevertheless, this channel has a unique difficulty, e.g., the small cross section and high threshold energy. the threshold energy for kaon photoproduction is 911 MeV, significantly high compared with that of the pion photoproduction, i.e. 150 MeV. Determining the background part of the process becomes a daunting task in order to approximate the resonance contribution. At present, the resonance contribution can be determined by using an established statistical decision making method, which is called the Bayesian Method. This method does not only evaluate the model over its entire parameter space, but also takes the prior information and experimental data into account. Analysis using this Bayesian Method showed that a set of resonances can describe kaon photoproduction better than others."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2013
T38724
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>