Ditemukan 140129 dokumen yang sesuai dengan query
Geoffry Gifari
"Foto- dan elektro-produksi Kaon merupakan salah satu eksperimen yang dapat menelaah komposisi dari nucleon, mengeksitasi derajat kebebasan strangeness yang sampai saat ini masih merupakan ladang luas untuk penelitian. Usaha-usaha untuk memodelkan proses foto- dan elektro-produksi kaon melibatkan level energi dari spin tinggi (keadaan tereksitasi, atau disebut resonans) secara akurat terhambat oleh adanya pengaruh dari komponen tidak fisis selama perhitungan (dikenal sebagai lower spin background problem). Pada penelitian ini, dilakukan perhitungan amplitude fotoproduksi Kaon menggunakan propagator spin-3/2 dan 5/2 murni. Propagator spin-5/2 murni dikonstruksi dari bawah menggunakan metode operator proyeksi. Amplitudo hamburan efektif yang menggambarkan interaksi skala hadron akan disusun menggunakan propagator tersebut, beserta suku-suku interaksi nucleon-foton dan nucleon-hadron yang sesuai.
Kaon photo- and electro-production are a some of the experiments capable of dissecting the composition of the nucleon, exciting strangeness degree of freedom which still to this day is a ripe field for exploration. Efforts to model kaon photo- and electro-production process accurately involves high-energy and high-spin nucleon excited states (nucleon resonance), which has been slowed down by the influence of unphysical components of the theory (known in literature as the ”lower spin background problem”). In this research, Kaon photoproduction scattering amplitude is calculated with pure spin-3/2 and spin-5/2 propagators, constructed from bottom up with the method of projection operators. Effective hadronic amplitude will be assembled with the propagators along with suitable photonic and hadronic interaction terms, with the end result being an amplitude expansion in terms of gauge-invariant matrices."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2021
S-pdf
UI - Skripsi Membership Universitas Indonesia Library
Clymton, Samson
"Fotoproduksi kaon dengan resonans nukleon spin 5/2 memiliki kendala pada kekonsistenan interaksinya. Beberapa studi menyebutkan bahwa model dengan interaksi yang konsisten lebih cocok dengan data eksperimen. Dalam penelitian ini dibangun sebuah model dengan interaksi yang konsisten (model 2) dan model lama (model 1). Perhitungan amplitudo hamburan dilakukan secara analitik serta semua observabel secara numerik. Parameter yang tidak diketahui dari amplitudo hamburan didapat melalui fitting pada 7400 titik data eksperimen. Hal ini dilakukan dengan meminimalisasi nilai χ2/N . Ditemukan bahwa model 2 lebih cocok dengan data eksperimen dari model 1. Perbandingan dengan data eksperimen yang menunjukkan efek dari model 2 tersebut juga ditampilkan.
Kaon photoproduction with spin 5/2 nucleon resonances is plagued with the interaction consistency. A number of studies predicted that a model with a consistent interaction leads to a better agreement with data. In this study a model with consistent interaction (model 2) and an old model (model 1) are compared to experimental data. The unknown parameters in scattering amplitude are extracted from fitting to 7400 experimental data point. This is performed by minimizing χ2/N value. It is found that model 2 is more suitable for explaining experimental data than model 1. Some plot showing these effects are also displayed. "
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2015
S59542
UI - Skripsi Membership Universitas Indonesia Library
Clymton, Samson
"Kanal sigma pada fotoproduksi kaon pada proton memberikan informasi mengenai resonans Delta yang tidak bisa didapat pada kanal lambda. Amplitudo hamburan reaksi tersebut dibentuk dengan menggunakan model interaksi yang konsisten untuk partikel dengan spin hingga 9/2. Resonans hiperon hingga spin-3/2 ditambahkan ke dalam perhitungan amplitudo hamburan. Parameter bebas pada amplitudo hamburan dihasilkan dengan fitting terhadap data eksperimen. Model yang dihasilkan dibandingkan dengan data eksperimen dan model-model sebelumnya dalam bentuk grafik observabel tertentu. Hasil menunjukkan bahwa model ini cukup baik dalam mereproduksi data eksperimen. Selain itu, properti-properti resonans dihitung sebagai tambahan hasil untuk mengembangkan analisis mengenai model ini.
Sigma channel in kaon photoproduction off proton give information about delta resonances which cannot be obtained in lambda channel. Scattering amplitude for those are built using consistent interaction prescription for spin up to 9 2 particles. Hyperon resonances with spin up to 3 2 are included in scattering amplitude calculation. Free parameter on the amplitude are generated from fitting to experimental data. The model is compared to experimental data and the other past model in the form of some observable graph. The result show that the model reproduce the experimental data fair enough. Moreover, resonance properties are calculated as subsidiary results to improve the analysis of model."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2018
T51506
UI - Tesis Membership Universitas Indonesia Library
Jutri Taruna
"Data total penampang lintang terbaru SAPHIR p(γ, K +)A menunjukkan struktur resonan pada energi total pusat massa sekitar 1900 MeV. Kami menyelidiki keadaan ini dengan menggunakan model isobarik, dan mencoba membandingkan 3 jenis formalisme propagator spin 3/2, yaitu formalisme propagator Adelseck, Behrends-Pronsdal dan Pascalutsa. Kami menemukan bahwa struktur ini dapat dijelaskan dengan memasukkan resonan baru D13 pada 1895 MeV. Selain itu ternyata formalisme propagator spin 3/2 Pascalutsa memberikan hasil yang terbaik dibandingkan dengan formalisme yang lain.
New SAPHIR p(γ, K+)A total cross section data show a resonance structure at a total c.m. energy around 1900 MeV. We investigate this feature with an isobar model, and try to compare 3 models of spin 3/2 propagator of Adelseck, Behrends-Fronsdal, and Pascalutsa. We find that the structure can be well explained by including a new D13 resonance at 1895 MeV. We also find that the spin 3/2 propagator of Pascalutsa shows the best result."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2000
T9319
UI - Tesis Membership Universitas Indonesia Library
Jason Kristiano
"
ABSTRACTPenelitian ini mengajukan model penggunaan representasi spin-3/2 murni pada fisika partikel. Untuk memformulasikan representasi spin-3/2 murni secara kovarian digunakan representasi antisimetrik tensor spinor dan penelitian ini menggunakan hamburan dengan resonans delta sebagai contoh. Penelitian ini menemukan bahwa penggunaan Lagrangian interaksi yang konvensional menimbulkan masalah amplitudo transisi tidak dapat menjelaskan fenomena resonansi. Untuk menyelesaikan masalah tersebut, Lagrangian interaksi dimodifikasi dengan menambahkan ketergantungan pada momentum. Seperti halnya interaksi pada model Rarita-Schwinger, penelitian ini menemukan bahwa fenomena resonans nukleon dapat diperoleh dari formulasi spin-3/2 murni hanya jika faktor bentuk hadronik diperhitungkan pada interaksinya.
ABSTRACTThis thesis proposes the use of pure spin 3/2 representation in particle physics. To formulate the representation in a covariant form one uses the antisymmetric tensor spinor representation and one considers the delta resonance contribution to the elastic scattering as an example. One finds that the use of conventional gauge invariant interaction Lagrangian leads to a problem the obtained scattering amplitude does not exhibit a resonance behavior. To overcome this problem one may modify the interaction by adding a momentum dependence. As in the case of Rarita Schwinger one finds that a perfect resonance description could be obtained in the pure spin 3/2 formulation only if the hadronic form factors were considered in the interactions."
2018
S-Pdf
UI - Skripsi Membership Universitas Indonesia Library
Nofirwan
"Kami menggunakan suatu formalisme, berdasarkan pendekatan isobarik menggunakan diagram Feynman untuk menyelidiki elektroproduksi kaon yang melibatkan resonan nukleonik (spin 3/2 dan 5/2). Dengan memakai lagrangian medan bebas Rarita-Schwinger, bisa diekstrak suatu propagator yang digunakan pada model Pascalutsa. Kemudian kami menyusun amplitudo-amplitudo invarian Ai dan menganalisa penampang lintang total untuk proses °p ! K+¤.
We use a formalism, based on an isobaric approach using Feynman diagrammatic techniques, which includes the nucleonic (spin 3/2 and 5/2) resonances to investigate kaon electroproduction. By using the lagrangian of the free Rarita-Schwinger field, we can extract the propagator which useful in Pascalutsa model. We then construct the invariant amplitudes Ai and analyse the total cross section for the process °p ! K+¤."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2008
T21366
UI - Tesis Open Universitas Indonesia Library
Ahmad Ja`far Arifi
"Penelitian ini membandingkan dua formulasi propagator dan verteks yang berbeda untuk nukleon resonans spin 3/2 dengan menggunakan model isobar untuk fotoproduksi kaon pada proton γp → K+Λ. Semua resonans nukleon yang memiliki spin sampai 3/2 dan tercatat pada Particle Data Group dimasukkan ke dalam model ini. Kedua formulasi tersebut kemudian dibandingan dengan data eksperimen yang meliputi data penampang lintang dan polarisasi melalui minimisasi χ2. Penelitian ini menunjukkan bahwa formulasi dari Pascalutsa untuk spin 3/2 dapat mereproduksi data eksperimen lebih baik.
This research is aimed to compare two different formulations of propagator and vertex factor of spin 3/2 nucleon resonances by using isobar models for kaon photoproduction on the proton γp → K+Λ. All nucleon resonances with spin up to 3/2 listed by the Particle Data Group are included in the model. Both formulations are then compared with experimental data including cross section and polarization observable via χ2 minimization. It’s found that the Pascalutsa formulation of the spin 3/2 vertex factors and propagator leads to a better agreement with experimental data."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2015
S59522
UI - Skripsi Membership Universitas Indonesia Library
Adnan Isnain Nurussalam
"Penelitian ini ingin melihat seberapa jauh kontribusi resonansi hyperon dengan spin 5/2 pada energi tinggi dengan menggunakan model isobar untuk fotoproduksi kaon pada proton, γp → K+Λ. Resonansi hyperon yang dimasukkan adalah resonansi dengan spin 1/2 yang merupakan resonansi latar ditambah dengan resonansi berspin 5/2 yang tercatat pada Particle Data Group. Beberapa studi menyatakan bahwa resonansi hyperon ini berguna pada perhitungan sudut mundur pada fotoproduksi kaon. Perhitungan ini menggunakan nilai amplitudo hamburan yang diturunkan secara analitik dan dimasukkan ke dalam perhitungan numerik. Dalam mencari sejauh mana kontribusi hyperon dengan spin 5/2 ini, penelitian dilakukan dengan cara meminimalisasi nilai χ2/N serta melihat sejauh mana keselarasan model yang digunakan dengan data eksperimen, terutama pada penampang lintang dan observabel polarisasi.
This research is aimed to investigate the contribution of spin-5/2 hyperon resonances by using an isobar model for kaon photoproduction on the proton γp → K+Λ. Hyperon resonances with spin-1/2 and -5/2 listed by the Particle Data Group are included in the model. It is found in the literature that, the hyperon resonance contributes mostly in the backward angles of kaon photoproduction. For this purpose the amplitude is calculated analitically and the result is used in the numerically calculation. Contribution of spin-5/2 hyperon resonances is investigated by minimizing the χ2/N values and improving the consistency of the model with the experimental data, especially the crosssection and polarization observables."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2016
S63070
UI - Skripsi Membership Universitas Indonesia Library
Albert Copperfield
"Fotoproduksi pion-ganda merupakan proses dalam fisika partikel melalui interaksi antara foton dan nukleon yang menghasilkan dua pion. Proses serupa juga terjadi pada fotoproduksi kaon-ganda yang berujung pada pembentukan dua kaon. Dalam konteks ini, amplitudo invarian yang telah didapatkan akan dijadikan dasar analisis komputasi amplitudo invarian kuadrat dalam fenomena fotoproduksi pion-ganda dan kaon-ganda menggunakan FeynCalc, sebuah paket pada perangkat lunak Mathematica yang berbasis pada prinsip-prinsip teori medan kuantum dan diagram Feynman. Perhitungan ini mencakup evaluasi dari kontribusi diagram yang berbeda dan integrasi terhadap ruang fasa yang relevan. Analisis ini berperan penting dalam memperdalam pemahaman terhadap interaksi elektromagnetik dalam fisika partikel, khususnya berkaitan dengan produksi meson pion pada energi yang tinggi.
Photoproduction of double pion is a process in particle physics, where the interaction between a photon and a nucleon results in the production of two pions. A similar process occurs in photoproduction of double kaon , leading to the formation of two kaons. In this context, the obtained invariant amplitude will form the basis for computational analysis of the squared invariant amplitude in the phenomena of double-pion and double-kaon photoproduction using FeynCalc, a computational package of Mathematica based on the principles of quantum field theory and Feynman diagrams. This calculation includes the evaluation of contributions from different diagrams and integration over the relevant phase space. This analysis plays a crucial role in deepening the understanding of electromagnetic interactions in particle physics, especially in the case of meson production at high energies."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership Universitas Indonesia Library
Tiara Marsainy
"Dalam beberapa puluh tahun terakhir, fotoproduksi kaon telah menjadi salah satu kanal yang dikenal berpotensi untuk menemukan missing resonances yang telah diprediksi oleh Quark Model, akan tetapi belum dikonfirmasi oleh eksperimen. Namun kanal reaksi ini memiliki kesulitan-kesulitan tersendiri, yaitu cross section rendah dan energi threshold yang sangat tinggi. Energi threshold untuk fotoproduksi kaon adalah 911 MeV, sangat tinggi jika dibandingkan dengan energi threshold untuk fotoproduksi pion, yaitu 150 MeV. Penentuan background yang tepat menjadi penting untuk menentukan kontribusi resonans. Saat ini kontribusi resonans dapat ditentukan dengan menggunakan sebuah metode pengambilan keputusan dalam statistik, yang disebut dengan Metode Bayesian. Metode ini tidak hanya mengevaluasi sebuah model pada seluruh parameternya, namun juga memasukkan distribusi prior dan data eksperimen ke dalam perhitungan. Analisis menggunakan metode ini menunjukkan bahwa sekumpulan resonans menggambarkan proses fotoproduksi kaon dengan lebih baik dari pada sekumpulan resonans lainnya.
Kaon photoproduction has drawn considerable attention for decades as one of the promising processes to find the missing nucleon resonances, predicted by quark model but not listed yet by the Particle Data Group. Nevertheless, this channel has a unique difficulty, e.g., the small cross section and high threshold energy. the threshold energy for kaon photoproduction is 911 MeV, significantly high compared with that of the pion photoproduction, i.e. 150 MeV. Determining the background part of the process becomes a daunting task in order to approximate the resonance contribution. At present, the resonance contribution can be determined by using an established statistical decision making method, which is called the Bayesian Method. This method does not only evaluate the model over its entire parameter space, but also takes the prior information and experimental data into account. Analysis using this Bayesian Method showed that a set of resonances can describe kaon photoproduction better than others."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2013
T38724
UI - Tesis Membership Universitas Indonesia Library