Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 60131 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Siregar, Zata Amalia
"

Pelumas dasar bio adalah pelumas dasar yang diperoleh dari bahan-bahan hayati seperti minyak nabati. Pelumas berbasis minyak nabati dapat memenuhi kriteria baik dari fungsi maupun lingkungan, tetapi tidak dapat digunakan secara langsung sebagai pelumas karena memiliki kinerja yang buruk pada suhu rendah serta memiliki kestabilan termal dan oksidasi yang buruk, sehingga digunakan berbagai metode untuk meningkatkan kinerja, memperbaiki sifat dan karakteristik dari minyak nabati tersebut (Annisa & Widayat, 2018). Salah satu metode yang digunakan adalah modifikasi kimia. Modifikasi kimia merupakan modifikasi yang dilakukan pada minyak nabati melalui reaksi kimia (Rudnick, 2013). Metode modifikasi kimia pada sintesis pelumas dasar bio yang difokuskan dalam literature review ini meliputi reaksi esterifikasi/transesterifikasi, pembentukan estolida, dan epoksidasi dan pembukaan cincin. Data yang digunakan merupakan data sekunder yang diperoleh dari penelitian-penelitian sebelumnya berupa data bahan baku, metode sintesis, katalis dan reaktan yang digunakan, serta suhu, tekanan, dan waktu operasi. Pada penelitian ini, 20 variasi data diolah menggunakan Analytic Hierarchy Process (AHP) dengan menentukan parameter-parameter dan urutan prioritas dari parameter tersebut sebagai pertimbangan dalam menentukan reaksi yang paling baik untuk digunakan dalam proses sintesis pelumas dasar bio, sehingga dapat dijadikan sebagai acuan dalam penelitian di laboratorium. Berdasarkan pengolahan data dengan AHP, diperoleh urutan prioritas parameter pada sintesis pelumas dasar bio adalah karakteristik produk, yield, penggunaan jenis katalis dan reaktan, suhu, tekanan, dan waktu operasi dan reaksi yang paling baik digunakan adalah transesterfikasi 1 dengan bahan baku yang digunakan adalah asam oleat dan trimetilolpropana (TMP) dengan katalis natrium metoksida (NaOCH3) pada suhu 150°C, tekanan 0,3 mbar dalam waktu 45 menit dengan perolehan yield sebesar 98%.


Bio-based lubricants are basic lubricants obtained from living materials such as vegetable oil. Bio-based lubricants can meet both functional and environmental criteria, but it cannot be used directly as lubricants because it has poor performance when used at low temperatures and have poor thermal stability and oxidation, so various methods are used to improve performance, properties and characteristics of the vegetable oil (Annisa & Widayat, 2018). One method used is chemical modification. Chemical modification is a modification made in vegetable oil through chemical reactions (Rudnick, 2013). Chemical modification methods in the synthesis of bio-base lubricants that are focused in this literature review include esterification/transesterification, estolide formation, and epoxidation and ring opening reactions. The data used are secondary data obtained from previous studies in the form of raw material data, synthesis methods, catalysts and reactants used, temperature, pressure, and time of operation. In this study, 20 variations of data were processed using Analytic Hierarchy Process (AHP) by determining parameters and priority order as a consideration in determining the best reaction to use in the process of synthesis of bio-base lubricants, so that it can be used as a reference in laboratory research. Based on data processing with AHP, the order of priority parameters obtained in the synthesis of bio base lubricants is product characteristics, yield, use of catalyst and reactant types, temperature, pressure, and operating time and the best reaction used is transesterfication with the raw material used is oleic acid and trimethylolpropane (TMP) with a sodium methoxide (NaOCH3) catalyst at temperature of 150°C, pressure of 0,3 mbar in 45 minutes with yield of 98%.

"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Bambang Heru Susanto
"Penelitian pelumas dasar bio yang telah dilaksanakan di Departemen Teknik Kimia FTUI (DTK FTUI) menggunakan 3 tahapan proses pada rangkaian reaktor batch berpengaduk, memiliki kendala dalam pemurnian produk, pemisahan katalis dan panjangnya tahapan proses. Sedangkan proses esterifikasi menggunakan katalis asam dimana yang banyak digunakan adalah katalis homogen asam donor proton dalam pelarut organik, seperti H2SO4, HF, H3PO4 dan RSO3H, PTSA. Hanya saja, kataliskatalis homogen ini bersifat korosif, beracun dan sulit untuk dipisahkan dari produk. Disisi lain asam heteropoli (HPW) memiliki potensi tingkat keasaman yang tinggi, namun memiliki kelemahan dilihat dari rendahnya luas permukaan, dan kelarutan yang tinggi dalam sistem reaksi polar, sehingga untuk mengatasi hal tersebut HPW harus dijadikan katalis padat dengan cara menyisipkannya pada penyangga yang memiliki luas permukaan lebih besar, seperti zeolit. Untuk itu pada penelitian ini dilakukan proses esterifikasi asam oleat dengan oktanol menggunakan katalis asam padat, yaitu asam heteropoli yang disanggakan pada zeolit alam Lampung. Reaksi esterifikasi dilakukakan pada reaktor tumpak berpengaduk 100 mL yang dilengkapi dengan kondesor. Variasi kondisi reaksi yang dilakukan adalah pada suhu, putaran pengaduk, rasio mol asam oleat/alkohol dan berat katalis.
Hasil karakterisasi memperlihatkan bahwa HPW terdispersi dengan baik pada zeolit tanpa merubah struktur zeolit. Kemudian dari hasil uji reaksi memperlihatkan bahwa penggunaan katalis HPW20/Z memiliki pengaruh terbesar pada konversi asam oleat (80.73%). Sedangkan konversi asam oleat dipengaruhi oleh jumlah katalis dan rasio mol asam oleat/oktanol. Sedangkan besarnya putaran pengadukkan dan perubahan suhu reaksi tidak meberikan perubahan signifikan terhadap konversi asam oleat. Produk ester yang didapat memiliki viskositas yang lebih encer dari peneliti sebelumnya di DTK-FTUI, sehingga dapat diaplikasikan pada kondisi tribologi yangberkecepatan tinggi dan rentang beban rendah seperti untuk pendingin dan pelumas pada mesin pembuatan logam dan rantai. Dari studi kinetika reaksi mengindikasikan bahwa reaksi esterifikasi yang dilakukan adalah berorde 2.

Ester from vegetable oil as bio-based biolubricants have not yet attracted interest of researchers and industries. Whereas, up to now the utilisation of lubricants for automotives and industrial applications have reached 2.4 billion gallon per year, but bio-lubricants take only smallest portion, i.e. 0.1%. At Depatment of Chemical Engineering (DTK FTUI), synthesis of bio-based lubricants was carried out by 3 steps processes in batch reactor. The problems arised due to difficulties to separate products and catalysts and the step of processes was too long. On the other hand esterification is manufactured by using liquid mineral acid catalysts donor of proton, e.g H2SO4, HF, H3PO4 and RSO3H, PTSA. These conventional acid catalysts are not environmentally friendly, corrosive and induce disposal problems. The heteropoly acid (HPW) having strong Bronsted acid sites and high acidity could be used to replace conventional homogeneous catalysts, but HPW usually shows low catalytic activity due to low surface area, high solubility of HPW in water and polar solvent, thus HPW should be disperse on support with higher area, such as zeolit In this work, the esterification oleic acid with octanol was catalysed by acid solid catalysts, i.e HPW was supported on natural Lampung zeolit. Esterification was carried out in 100mL batch reactor equipped with condenser. Variation of reaction was performed on temperature, agitation, mol ratio of reactans and weight of catalysts.
The result of characterization of catalysts shown that HPW was succesfully loaded on zeolite without change the structure of zeolit. Reaction results shown that HPW20/Z has the biggest influence to oleic acied convertion (80.73%). Whereas oleic acid convertion was influenced by weight of catalysts and mol ratio of reactants. But effect of agitation and change of temperature did not really give influence on convertion. The viscosity of ester in this work was less than the viscosity of biolubricants from the previous research at DTK-FTUI, thus it can be applied at high speed and low load regime of the tribological circumstances, such as a cooling lubricants compound for metalworking processes and chain lubrication. Study of kinetics shown the esterification reaction was second-order reaction."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2008
T24648
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Yan Irawan
"Telah dilakukan kegiatan penelitian sistesis bio-polimer dari turunan minyak sawit dalam hal ini adalah asam oleat. Metoda proses polimerisasi pembuatan bio polimer oleat yaitu polimerisasi kationik melalui beberapa 2 tahap. Tahap 1 (kesatu) yaitu pembuatan metil ester melalui reaksi esterifikasi asam oleat dengan metanol. Kondisi optimum reaksi esterifikasi dilakukan pada temperatur 70-80oC, waktu proses selama 4 jam, penambahan katalis asam sulfat (H2SO4) sebanyak 1% dari berat total reaktan dan perbandingan ratio antara asam oleat dan methanol sebesar 1 : 3.
Konversi reaksi pembentukan metil ester oleat sebesar 97%. Tahap 2 (kedua) yaitu proses polimerisasi metil ester oleat. Proses optimum polimerisasi metil ester dilakukan pada suhu 140 oC selama 15 jam dengan katalis BF3.2H2O sebanyak 3% dari berat total reaktan, konversi reaksi yang terbentuk sebesar 66%. Produk bio-polimer yang dihasilkan dianalisa menggunakan FTIR dan H-NMR. Berat molekul dari polimer ester oleat sebesar 7588,4 gr/mol dengan menggunakan metoda viskometrik.

Has been done research activities sistesis bio-polimer of the derivatives palm oil in this case is oleic acid.The process of making method polymerization bio polymer the cationic oleic polymerization through 2 stages. The 1 (one) that is making methyl ester by a reaction esterification oleic acid with methanol.The steady reaction esterification done at the temperature 70-80oC, when the process during, 4 hours adding a catalyst sulphuric acid ( H2SO4 ) as many as 1 % of the total weight ratio a reactant and the difference between oleic acid and methanol of 1:3.
Conversion reaction methyl ester oleic formation of 97 %. Phase 2 (two) the process of polymerization methyl ester oleic.The optimum polymerization methyl ester done on the temperature 140oC for 15 hours with a catalyst BF3.2H2O as much as 3 % of the total weight of a reactant, conversion reaction formed by 66%. The product bio-polimer produced analysis using FTIR and H-NMR. Molecular weight of polymers ester oleic of 7588 using viscometric method.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2016
T46964
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Michaelle Flavin Carli
"Saat ini, sumber bahan bakar utama masih berasal dari bahan bakar fosil, salah satunya adalah avtur, yang ketersediannya masih terbatas dan meningkatkan emisi gas rumah kaca. Kondisi ini mendorong penggantian avtur menjadi bioavtur, yang merupakan salah satu energi berkelanjutan yang ramah lingkungan. Pada penelitian ini, bioavtur disintesis melalui reaksi hidrodeoksigenasi dan perengkahan katalitik dari senyawa model asam oleat menggunakan katalis NiMo/Zeolit. Hidrodeoksigenasi dilakukan pada kondisi operasi yang seragam yaitu pada suhu 375°C, pada tekanan hidrogen 15 bar selama 2,5 jam. Rantai hidrokarbon pada hasil hidrodeoksigenasi yang dianggap masih panjang direngkah kembali melalui reaksi perengkahan katalitik selama 1,5 jam. Reaksi ini dilakukan pada tiga variasi suhu, yaitu 360, 375, dan 390°C. Karakteristik produk cair dibagi menjadi dua macam, yaitu karakteristik kimia, berupa bilangan asam, FTIR, dan GC-MS dan karakteristik fisik, berupa uji densitas dan viskositas. Bioavtur yang telah tersintesis melalui perengkahan katalitik ini telah memenuhi spesifikasi avtur komersial, kecuali bilangan asam dengan suhu optimum pada 375°C. Pada kondisi ini, NiMo/Zeolit mampu melakukan sintesis bioavtur dengan yield 34,77, selektivitas 36,43 dan konversi 84,30. Nilai persentase yield dan selektivitas yang terbilang masih rendah disebabkan oleh kinerja katalis yang belum optimal. Sedangkan konversi yang tinggi, disebabkan oleh cukup tingginya suhu perengkahan katalitik.

Currently, fossil fuels are still the primary source of fuel. As has been known, fossil fuel especially aviation fuel is limited resources and can increase greenhouse gas emissions. This condition encourages avture replacement efforts into bioavtures fuel. In this research, bioavture is synthesized through hydrodeoxygenation and catalytic cracking from oleic acid as model compound using NiMo Zeolite catalyst. Hydrodeoxygenation carried out under operating conditions at temperature of 375°C, under 15 bar pressure and for 2.5 hours. The chain of hydrocarbons from the result of hydrodeoxygenation has been cracked by catalytic cracking reaction for 1.5 hours. Variation operating condition used are 360, 375, and 390°C. The liquid product is tested its chemical characteristic, ie acid number, FTIR and GC MS and its physical characteristics, ie density test and viscosity. Bioavtur that synthesized by catalytic cracking have met the specifications of bioavtur, except the acid number with optimum temperature at 375oC. These conditions with NiMo Zeolite activated led to dominant yield of 34.77 , selectivity of 36.43, and conversion of 84.30. Percentage of yield and selectivity of bioavtur are still low caused by performance of catalyst that is still can not optimum. Whereas, high percentage conversion caused by high temperature used for catalytic cracking."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2018
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dika Shofi Roofida Kusriyandra
"Pada penelitian ini dilakukan sintesis ester asam oleat-BHA dan asam oleat-BHT dengan menggunakan reaksi esterifikasi Steglich. Produk yang terbentuk dilakukan pemurnian dengan menggunakan kromatografi kolom. Hasil karakterisasi FTIR asam oleat-BHA menunjukkan serapan dengan munculnya puncak serapan baru yang khas pada ester yaitu C=O pada bilangan gelombang 1738,9 cm-1 dan serapan gugus aromatis pada bilangan gelombang 1442 dan 1457 cm-1. Terbentuknya asam oleat-BHT dibuktikan dengan adanya puncak serapan C=O ester pada bilangan gelombang 1742,2 cm-1 dan puncak serapan gugus aromatis pada bilangan gelombang 1435 dan 1458,9 cm-1. Hasil karakterisasi UV menunjukkan adanya pergeseran hipsokromik produk terhadap BHA dan BHT dan batokromik terhadap asam oleat. Hasil uji toksisitas asam oleat-BHA dan asam oleat-BHT terhadap larva Artemia salina L menunjukkan bahwa ester hasil sintesis tidak toksik yaitu dengan nilai LC50 yaitu 3370,91 (asam oleat-BHA) dan 1209,18 ppm (asam oleat-BHT). Nilai IC50 asam oleat-BHA yaitu 22,61 ppm menunjukkan aktivitas antioksidan yang tinggi dan asam oleat-BHT sebesar 136,42 ppm menunjukkan aktivitas antioksidan yang sedang. Uji antibakteri yang dilakukan menunjukkan bahwa asam oleat-BHA memiliki aktivitas yang lemah terhadap bakteri Escherichia coli dan tidak memiliki aktivitas terhadap Staphyloccocus aureus, sedangkan asam oleat-BHT tidak memilki aktivitas terhadap kedua bakteri tersebut.

In this study, the synthesis of oleic acid-BHA and oleic acid-BHT esters was carried out using the Steglich esterification reaction. The product formed was purified using column chromatography. The results of the FTIR characterization of oleic acid-BHA showed absorption with the appearance of a new absorption peak that was unique to the ester, C=O at a wave number of 1738.9 cm-1 and an absorption peak of an aromatic group at a wave number of 1442 and 1457 cm-1. The formation of oleic acid-BHT was evidenced by the absorption peak of C=O ester at a wave number of 1742.2 cm-1 and an absorption peak of aromatic groups at wave numbers of 1435 and 1458.9 cm-1. The results of UV characterization showed a hypochromic shift of the product towards BHA and BHT and bathochromic to oleic acid. The results of the toxicity test of oleic acid-BHA and oleic acid-BHT on Artemia salina L larvae showed that the ester was non-toxic with LC50 values of 3370.91 ppm (oleic acid-BHA) and 1209.18 ppm (oleic acid-BHT). The IC50 value of oleic acid-BHA which is 22.61 ppm indicated high antioxidant activity and oleic acid-BHT of 136.42 ppm indicated moderate antioxidant activity. The antibacterial test performed showed that oleic acid-BHA had weak activity against Escherichia coli bacteria and no activity against Staphylococcus aureus. While oleic acid-BHT did not have activity against these two bacteria."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2021
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dika Shofi Roofida Kusriyandra
"Pada penelitian ini dilakukan sintesis ester asam oleat-BHA dan asam oleat-BHT dengan menggunakan reaksi esterifikasi Steglich. Produk yang terbentuk dilakukan pemurnian dengan menggunakan kromatografi kolom. Hasil karakterisasi FTIR asam oleat-BHA menunjukkan serapan dengan munculnya puncak serapan baru yang khas pada ester yaitu C=O pada bilangan gelombang 1738,9 cm-1 dan serapan gugus aromatis pada bilangan gelombang 1442 dan 1457 cm-1. Terbentuknya asam oleat-BHT dibuktikan dengan adanya puncak serapan C=O ester pada bilangan gelombang 1742,2 cm-1 dan puncak serapan gugus aromatis pada bilangan gelombang 1435 dan 1458,9 cm-1. Hasil karakterisasi UV menunjukkan adanya pergeseran hipsokromik produk terhadap BHA dan BHT dan batokromik terhadap asam oleat. Hasil uji toksisitas asam oleat-BHA dan asam oleat-BHT terhadap larva Artemia salina L menunjukkan bahwa ester hasil sintesis tidak toksik yaitu dengan nilai LC50 yaitu 3370,91 (asam oleat-BHA) dan 1209,18 ppm (asam oleat-BHT). Nilai IC50 asam oleat-BHA yaitu 22,61 ppm menunjukkan aktivitas antioksidan yang tinggi dan asam oleat-BHT sebesar 136,42 ppm menunjukkan aktivitas antioksidan yang sedang. Uji antibakteri yang dilakukan menunjukkan bahwa asam oleat-BHA memiliki aktivitas yang lemah terhadap bakteri Escherichia coli dan tidak memiliki aktivitas terhadap Staphyloccocus aureus, sedangkan asam oleat-BHT tidak memilki aktivitas terhadap kedua bakteri tersebut.

In this study, the synthesis of oleic acid-BHA and oleic acid-BHT esters was carried out using the Steglich esterification reaction. The product formed was purified using column chromatography. The results of the FTIR characterization of oleic acid-BHA showed absorption with the appearance of a new absorption peak that was unique to the ester, C=O at a wave number of 1738.9 cm-1 and an absorption peak of an aromatic group at a wave number of 1442 and 1457 cm-1. The formation of oleic acid-BHT was evidenced by the absorption peak of C=O ester at a wave number of 1742.2 cm-1 and an absorption peak of aromatic groups at wave numbers of 1435 and 1458.9 cm-1. The results of UV characterization showed a hypochromic shift of the product towards BHA and BHT and bathochromic to oleic acid. The results of the toxicity test of oleic acid-BHA and oleic acid-BHT on Artemia salina L larvae showed that the ester was non-toxic with LC50 values of 3370.91 ppm (oleic acid-BHA) and 1209.18 ppm (oleic acid-BHT). The IC50 value of oleic acid-BHA which is 22.61 ppm indicated high antioxidant activity and oleic acid-BHT of 136.42 ppm indicated moderate antioxidant activity. The antibacterial test performed showed that oleic acid-BHA had weak activity against Escherichia coli bacteria and no activity against Staphylococcus aureus. While oleic acid-BHT did not have activity against these two bacteria."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2021
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Yulianti Sampora
"Teknik Enhanced Oil Recovery EOR menggunakan injeksi kimia dengan surfaktan anionik berperan dalam meningkatkan perolehan residu minyak, khususnya di daerah reservoar yang memiliki karakteristik tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan produk surfaktan anionik dari asam oleat dan polietilen glikol 400, sesuai dengan karakteristik yang diperlukan pada teknik EOR. Surfaktan anionik dihasilkan melalui esterifikasi asam oleat dan polietilen glikol 400 pada berbagai suhu 120 C; 140 C; dan 150 C . Setelah esterifikasi, proses dilanjutkan dengan reaksi sulfonasi pada perbandingan mol 1 : 1; 1 : 1,05; dan 1 : 1,5 dan waktu pencampuran 2 jam; 4 jam; dan 6 jam . Karakterisasi kimia dan fisik dilakukan dengan metode titrasi dan melalui pengukuran : Fourier Transform Infra Red FTIR ; Nuclear Magnetic Resonance NMR ; Particle Size Analyzer PSA ; dan Spinning Drop Interfacial Tensiometer TX 500.
Hasil optimum esterifikasi Polietilen glikol dioleat PDO adalah pada suhu 150 C dan waktu 6 jam, dengan hasil bilangan asam, ester, penyabunan, dan iod, masing-masing 61,78 mgKOH/g sampel; 56,28 mg HCl/g sampel; 105,73 mgKOH/g sampel; dan 63,21 gr I2/100 g sampel. Sedangkan optimasi sulfonasi PDOS diperoleh dari perbandingan mol 1:1 dan waktu pencampuran 4 jam, dengan hasil analisa bilangan asam, ester, penyabunan, iod masing-masing sebesar 23,95 mgKOH/g sampel; 144,42 mgHCl/g sampel; 89,19 mgHCl/g sampel; dan 33,80 g I2/100 g sampel. Spektrum FTIR dan hasil analisa H-NMR menunjukkan bahwa senyawa ester dan sulfonasi telah terbentuk. Karakterisasi partikel PDOS menghasilkan ukuran partikel 4,723 ?m, potensial zeta -78,8 mV, dan tegangan antar muka IFT sebesar 0,0031 mN/m.

Enhanced Oil Recovery EOR technique through chemical injection using an anionic surfactant improves the recovery of oil residues, particularly in a reservoir area that has certain characteristics. The present study aimed to develop an aninoic surfactant producted by oleic acid and polyethylene glycol 400, which corresponds to the characteristics required in the EOR technique. The anionic surfactant was synthesized by esterification of oleic acid and polyethylene glycol 400 at various temperatures 120 C 140 C and 150 C . After esterification, the process was then continued by sulfonation at various mole ratios 1 0,5 1 1 and 1 1,5 and mixing times 2 hours 4 hours and 6 hours . Chemical and physical characterization were performed by titration method and a number of measurements Fourier Transform Infra Red FTIR Nuclear Magnetic Resonance NMR Particle Size Analyzer PSA and Interfacial Tensiometer TX 500.
The optimum results of the esterification of Polyethylene glycol dioleate PDO were achieved at the temperature of 150 C and time of 6 hours, with acid number, ester, saponification, and iod yields 61,78mgKOH g sample 56,28 mgHCl g sample 105,73 mgKOH g sample 63,21 g I2 100 g sample respectively. While sulfonation optimization PDOS was obtained at 1 1 mole ratio and 4 hours mixing time, with the results of acid number, ester, saponification, and iod yields 23,95 mgKOH g sample 144,42 mgHCl g sample and 89,19 mgKOH g sample and 33,80 gr I2 100 g sample respectively. FTIR spectra and H NMR analysis showed that ester and sulfonation compounds were formed. Characterization of PDOS particles showed that the particle size was 4,723 m, zeta potential was 78,8 mV, and interfacial tension IFT was 0,0031 mN m.Key words EOR, polymer injection, anionic surfactant, oleic acid, polyethylene glycol 400, esterification, sulfonation.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2018
T49340
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Mitsal Shafiq Sulasno
"Penelitian ini bertujuan untuk merancang dan membuat sistem rotasi Faraday sebagai alat karakterisasi sifat Magneto-Optik minyak nabati. Besaran yang diukur adalah intensitas cahaya, besar medan magnet, dan perubahan sudut bidang getar polarisasi. Pengukuran intensitas cahaya dilakukan menggunakan BH1750, pengukuran medan magnet dilakukan menggunakan Gaussmeter. Perubahan sudut bidang getar polarisasi dilakukan oleh stepper motor yang menggerakkan lensa analisator yang sudah dipasang gear. Sumber cahaya yang digunakan adalah laser RGB dengan daya 300 mW. Pengambilan data dilakukan dengan kondisi awal sudut antara lensa Polarisator dan lensa Analisator sebesar 45º. Konstanta Verdet untuk minyak jagung dengan sumber cahaya merah adalah 0,37 mT/m. Konstanta Verdet untuk minyak jagung dengan sumber cahaya hijau adalah 0,55 mT/m. Untuk sumber cahaya biru, nilai konstanta Verdet yang didapatkan adalah 0,73 mT/m.

This research aims to design and create Faraday’s rotation system as a tool to characterize the Magneto-Optic properties of vegetable oils. The measured magnitude is the intensity of light, the magnitude of the magnetic field, and the change in the rotation angle of polarization. Measurement of light intensity was carried out using BH1750, magnetic field measurement was carried out using Gaussmeter. Changes in the rotation angle of polarization are made by the stepper motor which drives the lens of the analyzer which has been geared. The light source used is an RGB laser with a power of 300 mW. Data is collected by the initial condition of the angle between polarizer lens and analyzer lens at 45º. The Verdet constant for corn oil with a red light source is 0.37 mT/m. The Verdet constant for corn oil with green light source is 0.55 mT/m. For blue light source, the Verdet constant value that obtained is 0.73 mT/m
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2019
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Naufal Giffari Rachmat
"Biodiesel adalah bahan bakar alternatif sebagai solusi dari krisis solar konvensional. Namun pabrik biodiesel di Indonesia saat ini masih menggunakan teknologi proses produksi dengan efisiensi yang rendah. Ketidakefisienan ini mengakibatkan pemborosan dari segi energi, bahan baku, air, dan emisi karbondioksida yang besar. Sehingga pada waktu yang akan datang akan mengganggu kelestarian lingkungan hidup. Proses produksi yang tidak efisien ini juga mengakibatkan biaya produksi yang mahal dan kurang menguntungkan dari segi ekonomi. Untuk mengatasi kekurangan dari pabrik biodiesel ini, maka perlu diterapkan konsep industri hijau. Penerapan konsep industri hijau dilakukan menggunakan bantuan program simulator dimana akan dibandingkan dan dianalisa antara skema proses produksi konvensional dan skema proses produksi termodifikasi.

Biodiesel is an alternative fuel as a solution to the risis of conventional diesel. However, biodiesel plants in Indonesia are still using production process technology with low efficiency. This inefficiency results in wastage in terms of energy, raw materials, water, and high level of carbon dioxide emission. So that in the future would interfere with environmental sustainability. Inefficient production processes also resulted in expensive production costs and a less favorable economic terms. Waste and emissions from the plant has not been handled properly due to lack of attention from the management company. To overcome the shortcomings of this biodiesel plant, it is necessary to apply the concept of green industry. The implementation of green industry concept will be done by using simulator program then will be compared and analysed between conventional production process scheme and modificated production process scheme."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2017
S67866
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Eliani
"Sintesis senyawa ester gliserol asam lemak hasil hidrolisis minyak sawit maupun palmitat dapat dilakukan secara enzimatik menggunakan lipase Candida rugosa dalam pelarut n-heksana. Reaksi esterifikasi dilakukan dengan menggunakan variasi perbandingan mmol antara asam lemak dengan gliserol 1:1; 1:2; 1:3; dan 1:4 mmol agar produk yang terbentuk mono-digliserida. Hasil FTIR ester gliserol asam lemak menunjukkan adanya puncak serapan gugus C=O ester pada bilangan gelombang 1741 cm-1 pada ester gliserol asam lemak hasil hidrolisis minyak sawit dan 1736 cm-1 ester gliserol palmitat. Ester yang dihasilkan diuji kemampuannya sebagai emulsifier menggunakan campuran minyak dan air.
Hasil pengujian menunjukkan bahwa ester gliserol asam lemak hasil hidrolisis minyak sawit maupun palmitat dapat berperan sebagai emulsifier tipe minyak dalam air. Emulsi yang terbentuk stabil hingga 24 jam. Pada ester yang terbentuk juga dilakukan uji antimikroba menggunakan bakteri Propionibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ester gliserol asam lemak hasil hidrolisis maupun ester gliserol palmitat tidak memiliki aktivitas antibakteri tehadap Propionibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis.

Synthesis of glycerol ester hydrolized palm oil fatty acid and palmitic acid was conducted enzymatically using Candida rugosa in n hexane solvent. Esterification reaction using mmol ratio between fatty acids and glycerol were varied on 1 1 1 2 1 3 and 1 4 in order for the product to be formed mono diglyceride. glycerol ester hydrolized palm oil fatty acid and palmitic acid were characterized using FT IR. The results of FT IR analysis showed absorp tion peak that were related to the stretching of C O ester group at 1741 cm 1 for glycerol ester hydrolized palm oil fatty acid and at 1736 cm 1 for glycerol ester of palmitic acid. Esters were tested for their ability as emulsifiers using a mixture of oil and water.
The test results show that glycerol ester hydrolyzed palm oil and glycerol ester of palmitic acid can act as emulsifier type oil in water. The emulsion is stable for up to 24 hours. In the esters also performed an antimicrobial test using bacteria Propionibacterium acnes and Staphylococcus epidermidis. The results showed that glycerol ester hydrolyzed palm oil and glycerol ester of palmitic acid showed no antibacterial activity against Propionibacterium acnes and Staphylococcus epidermidis.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2017
S69864
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>