Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 188658 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Syahidul Rasyid
"Studi mengenai social well-being sudah menjadi fokus kajian Konsorsium SWB di Asia. Social well-being melihat kualitas hidup seseorang secara personal dan relasional dalam konteks karakteristik masyarakat tempat tinggalnya. Studi terdahulu menyebutkan bahwa faktor determinan sosial well-being terbagi secara struktural dan kultural. Penelitian ini berupaya melihat pengaruh tingkat modal sosial terhadap kondisi social well-being masyarakat. Kebaharuan yang ditawarkan dalam studi ini adalah melihat kondisi social well-being berdasarkan kelompok penerima manfaat program CSR (beneficiaries) dengan bukan penerima manfaat program CSR. Dengan menggunakan metode kuantitatif dan teknik stratified random sampling, studi ini menemukan bahwa modal sosial memiliki korelasi positif yang cukup kuat dengan kondisi social well-being masyarakat Pulau Kelapa. Lebih lanjut, hubungan kedua variabel tersebut menguat pada kelompok penerima program CSR perusahaan migas, disisi lain melemah pada warga yang bukan penerima manfaat program CSR. Secara teoritik, karakteristik komunitas yang homogen, kedekatan komunitas yang cenderung kuat karena adanya ikatan patrimonial, dan kemampuan pengorganisasian sosial yang baik di komunitas merupakan hal-hal yang dapat menjelaskan hasil ini.

The study of social well-being has become the focus of studies of the SWB Consortium in Asia. Social well-being looks at a person's quality of life personally and relatively in the context of the characteristics of the community in which he lives. Previous studies state that the determinants of social well-being are structurally and culturally divided. This study seeks to see the effect of the level of social capital on the condition of social well-being of society. The novelty offered in this study is looking at the condition of social well-being based on groups of beneficiaries of CSR programs with non-beneficiaries of CSR programs. By using quantitative methods and stratified random sampling techniques, this study found that social capital has a fairly strong positive correlation with the social well-being condition of the Coconut Island community. Furthermore, the relationship between the two variables strengthened in the group of oil and gas company CSR program recipients, while on the other hand, it weakened in residents who were not beneficiaries of CSR programs. Theoretically, the characteristics of a homogeneous community, the closeness of a community that tends to be strong due to patrimonial ties, and the ability of good social organizing in the community are things that can explain this result."
2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
M. Habib Alvin Aneldi
"Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan praktek digital terhadap social well-being mahasiswa di Jabodetabek. Pada penelitian sebelumnya melihat kerangka dari analisis digital well-being sebagai bentuk penggunaan perangkat digital yang mempengaruhi kondisi kesejahteraan subjektif melalui konsumsi konten yang sesuai dengan algoritma mereka yang pada akhirnya berdampak kepada perilaku dalam memenuhi kebutuhan akan social well-being. Dalam memperkaya studi sebelumnya dan menyederhanakan definisi konseptual dari analisis digital well-being, peneliti berusaha untuk menjelaskan social well-being mahasiswa melalui praktek digital yang dilakukan dengan menjelaskan hubungannya terhadap dimensi integrasi, aktualisasi, penerimaan, kontribusi dan koherensi sosial. Praktek digital mampu memberikan pengaruh yang membentuk interaksi mereka dalam menjalankan fungsi di masyarakat sebagai tolak ukur dari social well-being. Sehingga semakin tinggi praktek digital yang dilakukan maka akan semakin tinggi social well-being yang dirasakan oleh mahasiswa dan sebaliknya. Adapun penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan teknik pengumpulan data melalui penyebaran kuesioner kepada 210 mahasiswa yang berdomisili di Jabodetabek. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa di Jabodetabek memiliki tingkat social well-being yang tinggi dan tingkat praktek digital yang tinggi. Praktek digital berupa penggunaan perangkat digital untuk kebutuhan sosialisasi dan komunikasi digital, hiburan digital dan praktek kreatif serta untuk kebutuhan manajemen diri, informasi, pendidikan dan pekerjaan terbukti berhubungan dengan tingkat social well-being mahasiswa

This study aims to analyze the relationship of digital practice to social well-being of students in Jabodetabek. In previous studies, we saw the framework of digital well-being analysis as a form of using digital devices that affect subjective well-being conditions through consumption of content that is in accordance with their algorithm, which in turn affects behavior in meeting the need for social well-being. Enriching the previous studies and simplifying the conceptual definition of digital well-being analysis, the researcher tries to explain the social well-being of students through digital practice by explaining their relationship to the dimensions of integration, actualization, acceptance, contribution and social coherence. Digital practice is able to provide an influence that shapes their interactions in carrying out functions in society as a benchmark for social well-being. So that the higher the digital practice carried out, the higher the social well-being felt by students and vice versa. This research uses a quantitative approach with data collection techniques through distributing questionnaires to 210 students who live in Jabodetabek. The results show that respondents have a high level of social well-being and a high level of digital practice. Digital practice in the form of using digital devices for digital socialization and communication, creative entertainment and practice, and informational managements is proven to be related to the level of social well-being of students."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2022
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Amalia Salsabila
"Banyaknya peristiwa yang terjadi menyangkut Gojek membuat para pengemudi Gojek menjadi dekat satu sama lain dan memiliki sense of community. Pro-kontra yang terjadi mengenai keberadaan Gojek mungkin mengganggu social well being para pengemudi Gojek. Dari penelitian-penelitian sebelumnya, dapat diketahui terdapat hubungan antara sense of community dan social well being.
Penelitian ini pun ingin mengetahui apakah terdapat hubungan antara sense of community dan social well being pada pengemudi Gojek di Jabodetabek. Data diambil dari 61 partisipan. Peneliti menggunakan Sense of Community Index - 2 untuk mengukur sense of community dan Social Well Being Scale untuk mengukur social well being.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara sense of community dan social well being pada pengemudi Gojek di Jabodetabek. Selain itu, ditemukan bahwa dimensi integration and fulfillment of needs dan shared emotional connection pada sense of community paling baik dalam memprediksi social well being pada pengemudi Gojek di Jabodetabek.

Many events that happened involving Gojek has brought the Gojek drivers to be closer to each other and to have a senes of community. However, the pros and cons that occured regarding the existence of Gojek might also disturb their social well being. From previous studies, it is found that there is a relationship between the sense of community and social well being.
This study aims to find out whether there is a significant relationship between the sense of community and social well being of Gojek drivers in Jabodetabek or not. The data was taken from 61 participants. The writer used the Sense of Community Index - 2 to measure the sense of community and also Social Well Being Scale to measure social well being.
The results of this study showed that there is a positively significant relationship between the sense of community and social well being of the Gojek drivers in Jabodetabek. Furthermore, it was found that the dimensions of integration and fulfillment of needs and shared emotional connection in the sense of community work best in predicting the social well being of the Gojek drivers in Jabodetabek.
"
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2016
S63285
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Zahra Ainina Cahyaningtyas
"Dukungan sosial ditemukan dapat berperan sebagai variabel penyangga ketika individu mengalami situasi stres. Peranan ini menjadi penting ketika individu mengalami kondisi stres yang dapat berdampak negatif terhadap kesejahteraan subjektifnya. Pada situasi ekonomi yang mengalami kenaikan, kelompok generasi sandwich yang berperan untuk mengurus orang tua dan anak dalam satu waktu menjadi rentan untuk mengalami stres finansial yang dapat berdampak negatif terhadap kesejahteraan subjektifnya. Terkait dengan hubungan tersebut, penelitian ini mengkaji peran dari dukungan sosial sebagai variabel moderator pada hubungan antara stres finansial dan kesejahteraan subjektif. Penelitian ini melibatkan 135 responden generasi sandwich berusia 35-60 tahun yang memberikan dukungan finansial kepada anak dan orang tua. Analisis korelasional Pearson yang dilakukan antara stres finansial dan kesejahteraan subjektif menunjukkan adanya korelasi negatif yang mengindikasikan bahwa semakin tinggi stres finansial maka akan semakin rendah kesejahteraan subjektif individu. Meskipun demikian, tidak terdapat peran moderasi yang signifikan dari dukungan sosial dalam hubungan antara stres finansial dan kesejahteraan subjektif.

Previous studies found that social support could have a moderating effect during one’s stressful situation. This role became important as the individual experienced a stressful situation that could have a negative impact towards its well-being. During the economic situation where inflation arises, the sandwich generation group whose role is to take care of parents and children at one time became vulnerable to experience financial stress which can have a negative impact on their subjective well-being. Related to this relationship, this study examined the role of social support as a moderator variable. This study involved 135 sandwich generation respondents, ranging from 35 to 60 years old, who provided financial support to their children and parents. Pearson’s correlation analysis conducted between financial stress and subjective well-being showed a significantly negative relationship, indicating that higher financial stress would lead to a lower subjective well-being. However, there is no significant moderating role of social support in the relationship between financial stress and subjective well-being."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2023
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Chatarina Vania Maharani Wicaksono
"Penelitian ini bertujuan untuk meneliti hubungan antara penggunaan media sosial dan stres sosial terhadap social well-being. Studi-studi mengenai social well-being di Asia menemukan bahwa aspek non-ekonomi seperti nilai dan norma budaya, tradisi, relasi dan agama yang beragam antar negara memiliki asosiasi terhadap social well-being sehingga aspek tersebut perlu diperhitungkan. Peneliti berargumen bahwa penggunaan media sosial dan stres sosial memiliki hubungan dengan social well-being. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat penggunaan media sosial terhadap tingkat social well-being dan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat stres sosial terhadap tingkat social well-being. Fungsi media sosial pada masa pandemi menjadi aspek vital sehingga menjadikan temuan ini berlawanan dengan temuan sebelumnya, media sosial memberikan lebih banyak manfaat secara positif sehingga meredam sisi negatif dari media sosial. Temuan penelitian menunjukkan bahwa aspek ekonomi masih menjadi faktor yang menentukan kepuasan hidup individu. Metode yang digunakan dalam penelitian kuantitatif ini adalah menggunakan data primer yang diambil melalui teknik survei yang disebarkan secara daring pada sampel dari populasi yaitu Jabodetabek yang berusia usia 19 hingga 40 tahun dengan total 419 responden. Peneliti juga menggunakan wawancara mendalam untuk mengumpulkan data pendukung

This study aims to examine the relationship between social media use and social stress on social welfare. Studies on social well-being in Asia find that non-economic aspects such as cultural values and norms, traditions, relations and religions that vary between countries have associations with social well-being, therefore these aspects need to be taken into account. Researcher argue that social media use and social stress have a relationship with social well-being. The results showed that there was a significant relationship between the level of social media use and the level of social well-being and there was no significant relationship between the level of social stress and the level of social well-being. The function of social media during the pandemic is an important aspect so that this finding is contrary to previous findings, social media provides more benefits in a positive way so that it is viewed negatively than social media. The research findings show that the economic aspect is still a factor that determines individual life satisfaction. The method used in this quantitative research is to use primary data taken through survey techniques that are boldly distributed to a sample of the population, namely Jabodetabek aged 19 to 40 years with a total of 419 respondents. Researchers also use indepth interview to collect supporting data."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik, 2021
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Awwalisa Sarfinah
"Penelitian ini dilakukan untuk melihat besaran kontribusi perceived social support terhadap subjective well-being pada remaja panti asuhan di Jakarta. Remaja panti asuhan dipilih karena mereka menghadapi kondisi kehidupan yang berbeda dengan remaja secara umum. Partisipan dalam penelitian ini adalah 130 remaja berusia 11 ndash; 21 tahun yang berasal dari 11 panti di Jakarta. Pengambilan data dilakukan dengan meminta partisipan untuk mengisi kuesioner perceived social support dan subjective well-being. Perceived social support diukur dengan menggunakan alat ukur Multidimensional Scale of Perceived Social Support yang dikembangkan oleh Gregory D. Zimet 1988 . Subjective well-being diukur dengan menggunakan dua alat ukur yang berbeda. Alat ukur Satisfaction With Life Scale yang disusun oleh Ed Diener 1985 digunakan untuk mengukur komponen kognitif kepuasan hidup. Alat ukur Positive Affect and Negative Affect Schedule PANAS yang dikembangkan oleh Watson, Clark, Tellegan 1988 digunakan untuk mengukur afeksi positif dan negatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perceieved social support berkontribusi secara signifikan terhadap komponen afeksi positif subjective well-being R2 = 0,146, p = 0,000, namun tidak berkontribusi secara signifikan terhadap komponen kognitif kepuasan hidup subjective well-being R2 = 0,019, p = 0,328 dan terhadap komponen afeksi negatif subjective well-being R2 = 0,027, p = 0,478. Hasil ini menunjukkan bahwa semakin tinggi perceived social support yang dimiliki oleh remaja panti asuhan, maka semakin tinggi juga afeksi positif subjective well-being yang dimilikinya.

This research paper is conducted to investigate the contribution of perceived social support in subjective well being among the orphanage adolescents in Jakarta. The adolescent orphanages are selected because they have different living conditions with adolescents in general. The research subjects are 130 adolescents between 11 ndash 21 years old who lived in 11 orphanage in Jakarta. The data is collected by asking participants to fill out perceived social support and subjective well being questionnaires. Perceived social support was measured by Multiple Scale of Perceived Social Support constructed by Gregory D. Zimet 1988. Subjective well being was measured using two different instruments. Cognitive component life stastisfaction of subjective well being was measured by Satisfaction With Life Scale constructed by Ed Diener 1985. Affective component positive and negative affection was measured by Positive Affect and Negative Affect Schedule PANAS constructed by Watson, Clark, Tellegan 1988 . The result of this research showed that perceived social support has significantly contributed to positive affect component of subjective well being R2 0,146, p 0,000 but perceived social support has no significant contribution to cognitive component or life satisfaction R2 0,019, p 0, 0,328 and negative affect component of subjective well being R2 0,027, p 0,478. These results indicate that the higher perceived social support they feel, the higher positive affect of subjective well being they have."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2018
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Clarissa Rhea Resqia
"Masa quarter life crisis yang terjadi pada usia 20-29 tahun menjadi tantangan bagi kesejahteraan subjektif pekerja dewasa muda. Tantangan dapat diatasi apabila individu memiliki kemampuan menyelesaikan masalah dengan baik yaitu dengan strategi koping. Strategi koping terdiri atas tiga jenis, yaitu problem focused, emotion focused, dan dysfunctional. Penelitian ini melihat pengaruh jenis strategi koping terhadap kesejahteraan subjektif pada 86 pekerja berusia 20-29 tahun di Indonesia. Data dikumpulkan melalui kuesioner dengan alat ukur the PERMA-Profiler yang mengukur kesejahteraan subjektif dan Brief COPE yang mengukur strategi koping. Hasil penelitian menggunakan analisis regresi linear berganda dengan metode stepwise menunjukkan bahwa strategi koping jenis emotion focused memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kesejahteraan subjektif sebesar 35,8% (R = 0,358; p<0,05), one-tailed. Adapun jenis strategi koping problem focused dan dysfunctional tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap kesejahteraan subjektif. Temuan ini menekankan pentingnya jenis strategi koping emotion focused, seperti dukungan emosional, penilaian positif, penerimaan, dan agama untuk meningkatkan kesejahteraan subjektif pekerja di masa quarter life crisis.

The quarter life crisis period that occurs at the age of 20-29 years is a challenge for the subjective well-being of young adult workers. Challenges can be overcome if individuals have the ability to solve problems well, namely with coping strategies. Coping strategies consist of three types, namely problem focused, emotion focused, and dysfunctional. This research looked at the influence of types of coping strategies on subjective well-being in 86 workers aged 20-29 years in Indonesia. Data was collected through a questionnaire with the PERMA-Profiler measuring tool which measures subjective well-being and Brief COPE which measures coping strategies. The results of research using multiple linear regression analysis with the stepwise method show that emotion focused coping strategies have a positive and significant influence on subjective well-being by 35.8% (R = 0.358; p<0.05), one-tailed. The types of problem focused and dysfunctional coping strategies do not have a significant influence on subjective well-being. These findings emphasize the importance of emotion focused coping strategies, such as emotional support, positive appraisal, acceptance, and religion to improve workers' subjective well-being during the quarter life crisis."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nadia Tsabita Husna
"Riset evaluasi ini bertujuan untuk menganalisis dampak program Pendidikan Kesetaraan dalam mewujudkan social well-being peserta didik. Literatur terkait topik ini masih belum mengangkat sisi perubahan social well-being peserta didik, padahal aspek ini dapat menjadi perhatian utama yang digunakan untuk melihat bagaimana pengaruh program bagi penerima manfaat. Evaluasi ini dilakukan menggunakan metode kualitatif dengan teknik wawancara mendalam dan observasi. Kerangka analisis CIPP (Context, Input, Process, Product) digunakan untuk menilai implementasi dan dampak program, analisis SWOT untuk melihat aspek tata kelola program, serta analisis dampak dengan fokus pada parameter social well-being (Personal, Relational, Societal). Hasil evaluasi menunjukkan bahwa implementasi program berdampak cukup baik pada social well-being peserta, terutama pada aspek personal. Program mampu meningkatkan kepuasan hidup peserta, meningkatkan kapabilitas interaksi, serta meningkatkan kepercayaan mereka terhadap institusi yang ada di masyarakat. Lebih lanjut, hasil evaluasi CIPP memperlihatkan bahwa dimensi context dan process lebih menonjol dibandingkan dua dimensi lainnya. Dari sisi tata kelola, keterbatasan dana dan kurangnya SDM tutor masih menjadi kelemahan utama. Hal ini kemudian berpengaruh terhadap implementasi program yang diselenggarakan. Program Pendidikan Kesetaraan terlihat masih fokus pada target output dan kurang memperhatikan outcome atau dampaknya. Sehingga, evaluasi program serupa perlu menaruh perhatian pada dua dimensi tersebut.

This evaluation research aims to analyze the impact of the Education Equivalency Program in creating the student's social well-being. The literature related to this topic still has not addressed the transformation in the student's social well-being, even though this aspect can be the primary concern that is used to see how the program affects the beneficiaries. This evaluation was conducted using qualitative methods with in-depth interviews and observation techniques. The CIPP (Context, Input, Process, Product) framework analysis is used to assess program implementation and impact, SWOT analysis to see the program's governance aspects, and impact analysis focuses on social well-being parameters (Personal, Relational, Societal). The evaluation results showed that the program's implementation had a reasonably good impact on the participants' social well-being, especially on the personal aspect. The program can increase participants' life satisfaction, interaction capabilities, and trust in institutions in the community. Furthermore, the results of the CIPP evaluation show that the context and process dimensions are more prominent than the other two dimensions. In terms of governance, limited funds and lack of human resources for tutors are still the main weaknesses that affect the program's implementation. The Education Equivalency Program still focuses on output targets and less on outcomes or impacts. Thus, evaluating a similar program needs to consider these two dimensions."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2022
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Fadhilah Putri Khairunnisa
"Pada beberapa waktu terakhir, perhatian terhadap subjective well-being mengalami peningkatan, khususnya yang terjadi pada kalangan usia dewasa muda. Salah satu faktor yang mungkin berkaitan dengan fenomena tersebut adalah maraknya penggunaan media sosial, mengingat jumlah dewasa muda di Indonesia yang menggunakan media sosial tergolong besar. Oleh sebab itu, penelitian ini ditujukan untuk melihat peran dari empat dimensi penggunaan media sosial yang terdiri image-based SMU, comparison-based SMU, belief-based SMU, dan consumption-based SMU dalam subjective well-being dewasa muda di Indonesia. Terdapat 125 responden dewasa muda pengguna media sosial yang direkrut dengan metode convenience sampling. Variabel subjective well-being diukur dengan The PERMA-Profiler dan penggunaan media sosial diukur dengan Social Media Use Scale (SMUS) yang sudah diadaptasi ke Bahasa Indonesia. Hasil analisis linear berganda menunjukkan bahwa empat dimensi penggunaan media sosial secara simultan berkontribusi dalam subjective well-being. Ditemukan hanya image-based, comparison-based, dan consumption-based SMU yang memiliki peran signifikan dalam subjective well-being, sedangkan peran dari belief-based SMU tidak signifikan. Temuan ini dapat diartikan bahwa penggunaan media sosial dewasa muda memiliki peran dalam kondisi subjective well-being mereka. Limitasi penelitian diulas lebih lanjut, dan disarankan agar penelitian di masa depan dapat mencoba melakukan kontrol terhadap durasi penggunaan media sosial, serta mempertimbangkan frekuensi dan tujuan penggunaan pada platform media sosial yang berbeda.

Over the past few years, attention to subjective well-being has increased, especially among young adults. One factor that may be related to this phenomenon is the widespread use of social media, given the large number of young adults in Indonesia who use social media. Therefore, this study aimed to look at the role of the four dimensions of social media use consisting of image-based SMU, comparison-based SMU, belief-based SMU, and consumption-based SMU in the subjective well-being of young adults in Indonesia. A total of 125 young adult social media users were recruited using convenience sampling method. Subjective well-being was measured with The PERMA-Profiler and social media use was measured with the Social Media Use Scale (SMUS), which has been adapted to Indonesian. The results of multiple linear analysis showed that four dimensions of social media use simultaneously contributed to subjective well-being. It was found that only image-based, comparison-based, and consumption-based SMU had a significant role in subjective well-being, while the role of belief-based SMU was not significant. This finding can be interpreted that young adults' social media use has a role in their subjective well-being. The limitations of the study were further reviewed, and it was suggested that future research could try to control for the duration of social media use, while also considering the frequency and purpose of use on different social media platforms."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Bulan Kartika Maharani
"Skripsi ini membahas pengaruh hubungan sosial anak dengan keluarga, teman, dan lingkungan sekitar terhadap kesejahteraan subjektif anak di Indonesia, menggunakan dua skala, yaitu CW-SWBS dan CW-DBSWBS. Penelitian ini bersifat kuantitatif dengan data sekunder dari ISCWeB 3rd wave. Sampel penelitian ini merupakan anak-anak kelompok usia 10 dan 12 tahun (N=11.406). Hasil penelitian menunjukkan bahwa hubungan sosial memiliki pengaruh signifikan terhadap kesejahteraan subjektif anak. Hubungan sosial dengan keluarga dan teman memiliki pengaruh lebih besar terhadap kesejahteraan subjektif anak di Indonesia pada skala CW-DBSWBS, sedangkan hubungan dengan lingkungan ditemukan lebih berpengaruh pada skala CW-SWBS. Lokasi tempat tinggal anak, baik di kota maupun desa, tidak memiliki pengaruh signifikan secara keseluruhan pada kesejahteraan subjektif anak. Namun, hubungan sosial anak dengan keluarga dan teman, pada kedua skala, memiliki pengaruh yang lebih besar terhadap kesejahteraan anak di perkotaan dibandingkan di pedesaan. Terakhir, hubungan anak dengan lingkungan sekitar berpengaruh lebih besar di kota dalam skala CW-SWBS, tetapi berpengaruh lebih besar di desa dalam skala CW-DBSWBS. Dengan demikian, konteks lokasi tempat tinggal, baik perkotaan maupun pedesaan, memainkan peran penting dalam menentukan faktor-faktor yang mempengaruhi kesejahteraan subjektif anak, menunjukkan pentingnya dukungan sosial positif dalam keluarga dan lingkungan sekitar untuk kesejahteraan anak-anak Indonesia.

This thesis discusses the influence of children's social relationships with family, friends, and the neighborhood on their subjective well-being in Indonesia using two scales, CW-SWBS and CW-DBSWBS. This research is quantitative and based on secondary data from the ISCWeB 3rd wave. The sample consisted of children aged 10 and 12 years (N=11,406). The results showed that social relationships have a significant impact on children's subjective well-being. Social relationships with family and friends had a greater influence on children's subjective well-being in Indonesia on the CW- DBSWBS scale, while relationships with the neighborhood had a greater influence on the CW-SWBS scale. Where children live, whether urban or rural, did not have a significant overall impact on children's subjective well-being. However, children's social relationships with family and friends had a greater influence on their well-being in urban areas than in rural areas on both scales. Lastly, children's relationships with the neighborhood had a greater effect in urban areas on the CW-SWBS scale but a greater effect in rural areas on the CW-DBSWBS scale. Thus, the context of residential location, both urban and rural, plays an important role in determining factors influencing children's subjective well-being, highlighting the importance of positive social support within the family and neighborhood for the well-being of Indonesian children."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>