Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 197568 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Andreas Kevin
"Pendahuluan. Radikal bebas adalah molekul yang memiliki properti tidak stabil dan sangat reaktif. Tubuh dapat terkena radikal bebas dari sumber eksternal maupun internal. Ketika level radikal bebas di tubuh melebihi kapasitas tubuh untuk
menetralisir radikal bebas, kondisi ini disebut sebagai stress oksidatif. Antioksidan adalah molekul yang bisa memberikan elektron dari atomnya dan menetralisir radikal bebas, Syzygium aromaticum merupakan salah satu sumber antioksidan. Metode. Tes fitokimia dilakukan dengan ekstrak Syzygium aromaticum fraksi ethanol, etil asetat, dan heksana untuk mengetahui senyawa apa saja yang ada dalam
ekstrak Syzygium aromaticum. Untuk mengetahui aktifitas antioksidan Syzygium aromaticum dilakukan Uji DPPH (2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl) yang merupakan senyawa radikal bebas, tes ini bersifat kuantitatif, hasil yang didapat berupa IC50 yang menunjukan konsentrasi antioksidan yang diperlukan untuk menginhibisi 50% dari radikal bebas yang ada. Untuk aktivitas antioksidan In Vivo, tes MDA
dilakukan. Dari 5 grup tikus SD dibandingkan antara sesudah dan sebelum diberikan ekstrak (5 mg/200 gr BB, 10 mg/200 gr BB, and 20 mg/200 gr BB), vitamin C (kontrol positif), dan air (kontrol negatif). Dengan membandingkan level sebelum dan sesudah perlakuan untuk grup yang berbeda, aktifitas antioksidan dapat diketahui. Hasil. Aktifitas antioksidan In Vitro ekstrak Syzygium aromaticum dapat digolongkan sebagain antioksidan kuat karena memiliki IC50 yang kecil yaitu, 7,04 "g/mL . sedangkan aktivitas In Vivo ekstrak Syzygium aromaticum menunjukan penurunan level MDA yang signifikan di dosis 20 mg dengan penurunan 0.361 nmol/mL.
Kesimpulan. Hasil dari penelitian ini membuktikan bahwa Syzygium aromaticum

Introduction. Free radicals are unstable and very reactive. The body can be exposed to free radical from exogenous or endogenous sources. If the level of free radical is higher than the body’s limit to neutralize it, the condition is called oxidative stress. Meanwhile, antioxidants are molecules that can neutralize the free radicals. Syzygium aromaticum is considered as a source of antioxidant.
Methods. Phytochemistry test is done with Syzygium aromaticum extract in ethanol, ethyl acetate, and hexane fraction. To check the radical scavenging
property, DPPH (2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl) test is done. The result of will be IC50 which is the concentration of substance needed to inhibit 50% of the free radical. For In Vivo test, MDA test is done. There will be 5 groups of SD rats which
will have the blood taken before and after given extract of Syzygium aromaticum at different doses (5 mg/200 gr BB, 10 mg/200 gr BB, and 20 mg/200 gr BB), vitamin C (positive control), and water (negative control). By comparing the levels of MDA present in blood in before and after extract supplementation, a conclusion can be drawn. Results. Antioxidant activity of Syzygium aromaticum extract In Vitro can be classified as a strong antioxidant since the IC50 is 7,04 "g/mL. while In Vivo test shows that supplementation of Syzygium aromaticum extract reduce the level of MDA significantly at 20mg dose which cause MDA level to fell by 0,361 nmol/mL.
Conclusion. The result shows that Syzygium aromaticum has antioxidant and radical scavenging activity proven by both In Vivo and In Vitro tests.
"
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia , 2018
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Muhammad Ikrar Hermanadi
"Latar belakang: WHO memperkirakan populasi berumur tua mencapai 1.5 miliar pada tahun 2050. Seiring dengan pertambahan usia, produksi radikal bebas meningkat dan antioksidan endogen menurun. Salah satu antioksidan endogen yang mengalami penurunan adalah SOD yang berperan penting dalam mencegah pembentukan radikal bebas. Oleh karenanya, asupan antioksidan eksogen yang meningkatkan kadar SOD penting untuk mencegah kerusakan sel. Antioksidan sintesis seperti resveratrol, Tempol, dan DPI telah terbukti menyebabkan penuaan sel secara prematur. Sehubungan dengan hal tersebut, maka penggunaan antioksidan alami dari tanaman lebih utama. Salah satu tanaman Indonesia yang mengandung banyak antioksidan adalah Centella asiatica (CA).
Tujuan: Studi ini bertujuan untuk meneliti pengaruh pemberian CA terhadap kadar SOD di hepar tikus SD tua.
Metode: Tikus dibagi menjadi empat kelompok, yaitu kontrol negatif (plasebo), kontrol positif (6IU vitamin E), perlakuan (ekstrak etanol CA 300 mg/kgBB), dan kontrol pembanding (tikus SD muda). Setelah perlakuan selama 28 hari, tikus diterminasi dan heparnya diesktraksi untuk pemeriksaan kadar SOD dengan metode spektrofotometri. Data kemudian dianalisis dengan uji Shapiro-Wilk dan one-way ANOVA.
Hasil: Hasil penelitian menunjukkan peningkatan insignifikan kadar SOD hepar (9.72 ± 3.4 U/mg pada kelompok perlakuan CA vs 8.36 ± 2.59 U/mg pada kelompok kontrol negatif) pada tikus SD tua.
Simpulan: Hasil penelitian membuktikan bahwa CA tidak dapat meningkatkan SOD, sebagai mekanisme protektif terhadap stres oksidatif, pada hepar tikus SD tua.

Introduction: WHO estimated elderly population to grow up to 1.5 billion in 2050. As people grew older, the production of free radical increases and endogenous antioxidant decreases. One of such endogenous antioxidant is superoxide dismutase (SOD) which role is to prevent free radical formation. Therefore, intake of exogenous antioxidant to increase SOD levels is important to prevent cellular damage. Synthetic antioxidant, such as resveratrol, Tempol, and DPI, has been shown to cause premature cell senescence, thus resorting to natural and traditional medicine. One of Indonesian natural medicine that contains a lot of antioxidants is Centella asiatica (CA).
Objective: The present study aimed to examine the effect of CA on SOD levels in liver of aged Sprague-Dawley (SD) rats.
Methods: Rats were divided into four groups, i.e. negative control (placebo), positive control (6IU vitamin E), treatment group (CA ethanolic extract 300 mg/kg of body weight), and comparison control (young SD rats). After treatment for 28 days, they were terminated and their liver was extracted for SOD examination using spectrophotometry. Data was then analysed using Saphiro-Wilk and one-way ANOVA.
Results: Results showed an insignificant increase in liver SOD (9.72 ± 3.4 U/mg in CA treatment group vs 8.36 ± 2.59 U/mg in negative control group) of aged SD rats.
Conclusions: These findings proved that CA is not able to increase SOD levels, as protective mechanism against oxidative stress, in liver of aged SD rats.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nurul Aisha
"Pada penelitian ini telah dilakukan sintesis polistirena melalui polimerisasi radikal terkontrol menggunakan metode Atom Transfer Radical Polymerization (ATRP) serta mempelajari pengaruh variasi waktu reaksi, variasi konsentrasi ligan, katalis, dan inisiator terhadap persen konversi, distribusi berat molekul, dan indeks polidispersitas. Variasi kondisi reaksi dilakukan untuk mendapatkan komposisi optimum sintesis polistirena dengan persen konversi tinggi, distribusi berat molekul sempit, dan indeks polidispersitas kecil (≈1). Polistirena telah berhasil disintesis dengan metode ATRP menggunakan ligan PMDETA, katalis CuBr, inisiator EBiB, dan pelarut sikloheksanon. Parameter keberhasilan dilihat dari persen konversi dan berbagai hasil karakterisasi seperti FTIR, GPC, dan DSC. Komposisi optimum sintesis polistirena yaitu pada konsentrasi ligan 4%, katalis 2%, dan inisiator 4% terhadap 100% mol stirena. Persen konversi polistirena pada komposisi optimum mencapai 91,4% dan diperoleh nilai indeks polidispersitas sebesar 1,17, rata-rata berat molekul 3.526 g/mol, dan suhu transisi gelas 72,42°C.

This research has been conducted synthesis of polystyrene through controlled radical polymerization by using Atom Transfer Radical Polymerization (ATRP) method and also studied about the influence of variation of time reactions, variation of ligand, catalyst, and initiator concentrations toward conversion percentage, molecular weight distribution, and polydispersity index. The condition of variation reactions has been done to obtain the optimum composition of reaction thus it got polystyrene with higher conversion percentage, a narrow range of molecular weight distribution, and small index of polydispersity (≈1). Polystyrene has been successfully synthesized by ATRP method using PMDETA as ligand, CuBr as catalyst, EBiB as initiator, and cyclohexanone as solvent. The parameter of successful can be seen from the percentage of conversion and various results of characterization such as FTIR, GPC, and DSC. The optimum composition to synthesis of polystyrene where the concentration of ligand is 4%, catalyst is 2%, and initiator is 4% against 100% mol of styrene. The conversion percentage of polystyrene at the optimum composition reached 91.4% and obtained the result of polydispersity index by 1.17, the average molecular weight is 3.526 g/mol, and the glass transition temperature is 72.42°C.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2015
S59148
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
"Dalam reaksi polimerisasi radikal bebas biasanya dikenal 3 tahap, yaitu inisiasi, propagasi, dan terminasi. Namun sebenarnya ada mekanisme lain yang terjadi, tetapi sering diabaikan karena kuantitas kejadiannya yang sangat rendah. Mekanisme ini yang dinamakan dengan reaksi chain transfer atau reaksi alih rantai. Walaupun demikian, untuk monomer tertentu reaksi alih rantai ini menjadi sangat dominan. Oleh para ahli sintesa polimer, mekanisme ini dimanipulasi untuk mengkontrol berat molekul, distribusi berat molekul bahkan sampai gugus fungsi dari polimer yang akan disintesa. Beberapa aspek dari mekanisme reaksi alih rantai ini akan dibahas pada tulisan ini."
MPI 2:1 (1999)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Nabilla Arethafiry Putri
"Introduction. Indonesia is a tropical country which has around 260 million population in 2017. However, non-communicable diseases are still very popular in Indonesia, which is strongly associated with the most common causes of death. These diseases are very associated with Reactive Oxygen Species (ROS) and oxidative stress. Proven herbs be a source of antioxidants, and Peppermint leaf is one of them. Method. Phytochemical analysis was carried out after the extraction and maceration process, by mixing it with three different extracts; hexane, ethyl acetate, and ethanol. To To study antioxidant activity, these experiments were carried out in vitro and in vivo. in vitro The assay was carried out using the DPPH radical to look for IC50, and the in-vivo test was performed on mice. The concentration of extract used was 5 mg, 10 mg, and 20 mg. Results. Phytochemical analysis showed that peppermint leaves contain saponins, flavonoids, alkaloids, triterfenoids/steroids, essential oils, and tannins. In the tube In the test, the IC50 value of Peppermint leaf extract was 128.60 g/mL. As for invivo test, plasma MDA levels decreased most significantly in the 5 mg concentration.
Conclusion. Mentha piperita (L.) is proven to be an effective exogenous herb antioxidants to overcome oxidative stress conditions, as evidenced by the elimination of DPPH radical in vitro with an IC50 value of 128.60 g/mL, and a decrease in MDA levels in vivo, with the most effective dose of 5 mg.
Pengantar. Indonesia adalah negara tropis yang memiliki sekitar 260 juta
penduduk tahun 2017. Namun, penyakit tidak menular masih sangat populer di Indonesia yang sangat terkait dengan penyebab kematian terbanyak. Penyakit-penyakit ini sangat terkait dengan Reactive Oxygen Species (ROS) dan stres oksidatif. Herbal terbukti menjadi sumber antioksidan, dan daun Peppermint adalah salah satunya. Metode. Analisis fitokimia dilakukan setelah proses ekstraksi dan maserasi,
dengan mencampurnya dengan tiga ekstrak yang berbeda; heksana, etil asetat, dan etanol. Ke mempelajari aktivitas antioksidan, percobaan ini dilakukan secara in-vitro dan in-vivo. invitro uji dilakukan menggunakan radikal DPPH untuk mencari IC50, dan uji in-vivo adalah dilakukan pada tikus. Konsentrasi ekstrak yang digunakan adalah 5 mg, 10 mg, dan 20 mg.
Hasil. Analisis fitokimia menunjukkan bahwa daun peppermint mengandung saponin, flavonoid, alkaloid, triterfenoid/steroid, minyak atsiri, dan tanin. Di dalam tabung uji, nilai IC50 ekstrak daun Peppermint adalah 128,60 g/mL. Sedangkan untuk invivo uji, tingkat MDA plasma menurun paling signifikan dalam konsentrasi 5 mg.
Kesimpulan. Mentha piperita (L.) terbukti sebagai herbal eksogen yang efektif antioksidan untuk mengatasi kondisi stres oksidatif, dibuktikan dengan eliminasi radikal DPPH in-vitro dengan nilai IC50 128,60 g/mL, dan penurunan tingkat MDA in-vivo, dengan dosis paling efektif 5 mg."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2018
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Harahap, Mei Lestari
"Tindakan bedah perlu dilakukan pada semua penderita Tetralogi Fallot (TF) untuk melakukan koreksi kelainan anatomi. mengatasi simptom serta memperbaiki status hemodinamik. Keberhasilan bedah total koreksi tidak hanya terlihat pada berkurangnya tekanan pada ventrikel kanan, tidak adanya defek residual, tapi juga preservasi miokardium yang merupakan hal penting untuk morbiditas dan mortalitas. Timbulnya radikal bebas pada saat iniuri reperfusi adalah salah satu penyebab menurunnya fungsi ventrikel yang terjadi sewaktu pembedahan pada penderita TF. Pada percobaan binatang terdapat hubungan antara diet asam lemak tak jenuh dengan produksi radikal bebas. Timbul pemikiran apakah ada hubungan antara komposisi asam lemak tak jenuh atau rasio asam arakidonat (AA) dan asam ekosapentanoat(EPA) plasma dengan produksi radikal bebas dan fungsi ventrikel pascabedah jantung TF Dilakukan penelitian cross sectional terhadap 26 penderita TF yang menjalani bedah koreksi di RS Jantung Harapan Kita periode Mei s/d November 1997, dari jumlah ini 6 orang dikeluarkan dari penelitian oleh karena telah menjalani bedah pirai sebelumnya dan saturasi oksigen> 85%. Terdapat 20 penderita terdiri 10 laki-laki dan 10 wanita dengan usia 74,20±56,20 bulan. Analisa stasistik dilakukan dengan cara Wilcoxon dan Spearman rank Correlation. Hasil penelitian didapatkan kadar AA 17,34±11,15 µg. kadar EPA 1,25±0,9 pg dan rasio AA/EPA 16,62±9,42. Terdapat peningkatan yang bermakna dari lipid peroksida selama tindakan operasi ( 0,29±1,03 vs 0,61±0,28 µM, p= 0,0001) Tidak terdapat hubungan antara rasio AA/EPA dengan peningkatan radikal bebas Terdapat hubungan antara peningkatan radikal bebas darah dengan fraksi ejeksi ventrikel kiri (r-0,45 dan t= 2,4) Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan bermakna antara rasio AA/EPA plasma dengan peningkatan radikal bebas, dan terdapat hubungan antara peningkatan radikal bebas darah dengan penurunan fraksi ejeksi ventrikel kiri."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 1998
T57314
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Putu Ayu Widyastuti
"Pendahuluan. Tubuh manusia menghasilkan radikal bebas secara fisiologis. Ketidakseimbangan antara radikal bebas dan antioksidan endogen dapat menginduksi keadaan stres oksidatif, sehingga dapat menyebabkan berbagai penyakit degeneratif. Oleh karena itu, antioksidan eksogen dibutuhkan dan Origanum vulgare (L.) merupakan salah satu tanaman obat yang dapat menunjukkan aktivitas antioksidan yang diperlukan.
Metode. Analisis fitokimia dilakukan untuk mengidentifikasi keberadaan metabolit sekunder dalam beberapa ekstrak, seperti ekstrak etanol, etil asetat, dan heksana. Metode In Vitro dilakukan dengan menggunakan uji DPPH yang menghasilkan nilai IC50 . Di sisi lain, tikus Sprague Dawley digunakan selama evaluasi In Vivo dengan mengukur tingkat MDA pada tikus sebelum dan sesudah diobati dengan berbagai dosis ekstrak.
Hasil. Analisis fitokimia kuantitatif menunjukkan adanya glikosida, saponin, flavonoid, alkaloid, triterpenoid/ steroid, minyak atsiri dan tanin. Aktivitas antioksidan dari ekstrak Origanum vulgare (L.) secara In Vitro menunjukkan sifat antioksidan moderat (IC50 = 133,47 !g / mL). Sementara, pemeriksaan secara In Vivo menunjukkan perbedaan kadar MDA yang signifikan antara sebelum dan sesudah pemberian ekstrak Origanum vulgare (L.) secara statistik (p = 0,000; p <0,05). Selain itu, dosis 10 mg dan 20 mg merupakan dosis yang tepat untuk menghasilkan aktivitas antioksidan paling efektif di antara kelompok eksperimental lainnya.
Kesimpulan. Dari penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa ekstrak Origanum vulgare (L.) efektif dalam mengatasi radikal bebas dan berpotensi menjadi antioksidan eksogen.

Introduction. Human body produce free radical physiologically. The imbalance between free radicals and endogenous antioxidant may induce oxidative stress state, leading to various degenerative diseases. Therefore, exogenous antioxidants are needed and Origanum vulgare (L.) is one of the medicinal plants that may exhibit the required antioxidant activity.
Methods. Phytochemical analysis was conducted to identify the presence of secondary metabolites in several extracts, such as ethanol, ethyl acetate, and hexane extract. In Vitro method was performed using DPPH assay which results in IC 50 value. Meanwhile, Sprague Dawley rats were used during In Vivo evaluation by measuring the MDA level of the rats before and after treated with different doses of extracts.
Results. Quantitative phytochemical analysis exhibit the presence of glycosides, saponin, flavonoid, alkaloid, triterpenoid/ steroid, essential oil and tannine. Antioxidant activity of Origanum vulgare (L.) extracts In Vitro demonstrate moderate antioxidant properties (IC 50 = 133,47 !g/mL). While, In Vivo examination shows significant MDA levels differences before and after the administration of Origanum vulgare (L.) extracts statistically (p=0.000; p<0.05).
Conclusion. From this study, it can be concluded that Origanum vulgare (L.) extracts is effective in scavenging free radicals and has the potential to be an exogenous antioxidant.
"
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia , 2018
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Naura Syafira
"Latar belakang: Kanker payudara sebagai kanker nomor satu pada wanita merupakan sebuah ancaman. Kanker payudara merupakan kanker dengan sebab non-infeksius. Secara umum, kanker merupakan penyakit multifaktorial. Faktor genetik, lingkungan, dan gaya hidup memiliki peran dalam perkembangan kanker. Manusia secara konstan selalu terpapar radikal bebas baik dari internal maupun eksternal. Ketidakseimbangan antara radikal bebas dan antioksidan dapat menyebabkan radikal bebas yang tidak terkontrol dan berlebihan. Hal ini dapat mengakibatkan kerusakan sel dan berakhir dengan pertumbuhan sel yang tidak terkontrol. Jamur shiitake (Lentinula edodes) merupakan salah satu jamur yang telah dipelajari secara ekstensif tentang manfaatnya. Telah diketahui bahwa L. edodes memiliki efek antioksidan dan sitotoksik terhadap sel kanker. Studi ini bertujuan untuk mengetahui konstituen fitokimia, aktivitas antioksidan, dan aktivitas sitotoksik dari L. edodes terhadap sel kanker payudara T47D.
Metode: L. edodes yang sudah berupa serbuk kering dimaserasi dengan n-heksan, etil asetat, dan etanol secara berurutan, menghasilkan ekstrak n-heksana, ekstrak etil asetat dan ekstrak etanol L. edodes. Setiap ekstrak kemudian dievaluasi kandungan konstituen fitokimia, aktivitas antioksidan, dan aktivitas sitotoksiknya melalui uji fitokimia, analisis kromatografi lapis tipis (KLT), uji DPPH, dan uji MTT terhadap sel kanker T47D.
Hasil: Skrining uji fitokimia dari ekstrak L. edodes menunjukkan adanya alkaloid, glikosida, flavonoid, dan triterpenoid. Analisis KLT menunjukan bahwa L. edodes mengandung lima belas komponen senyawa kimia. Uji DPPH memperlihatkan bahwa ekstrak etanol L. edodes memiliki aktivitas antioksidan yang sangat kuat terhadap radikal bebas DPPH. Berdasarkan uji MTT, ketiga jenis ekstrak L. edodes menunjukkan aktivitas sitotoksik yang sangat kuat terhadap sel kanker payudara T47D.
Kesimpulan: Senyawa kimia yang terkandung pada L. edodes menunjukan aktivitas antioxidant dan sitotoksi terhadap sel kanker payudara T47D melalui Analisa DPPH dan MTT.

Background: Breast cancer is a major threat as it is the number one cancer affecting women. It is a non-communicable disease with non-infectious etiology. In general, cancer is a multifactorial disease. Factors such as genetics, environment, and lifestyle play a role. Humans are constantly exposed to free radicals from internal or external sources. An imbalance between free radicals and antioxidants will cause uncontrollable and excessive free radicals. This can cause cell damage which leads to uncontrollable cell growth. Shiitake mushroom (Lentinula edodes) is one of fungi that has been studied extensively on its health benefits. It is known to contain substances that can exert antioxidant and cytotoxicity towards cancer cells. The study aims to investigate phytochemical constituent, antioxidant activity, and cytotoxic activity of Lentinula edodes towards T47D breast cancer cells.
Method: Dry powder L. edodes was macerated in multi-level manner with n-hexane, ethyl acetate, and ethanol as solvent sequentially producing n-hexane extract, ethyl acetate extract, and ethanol extract of L. edodes. Each extract is evaluated for its phytochemical constituents composition, antioxidant activity, and cytotoxic activity using phytochemical test, thin layer chromatography, DPPH assay, and MTT assay towards T47D breast cancer cell line.
Results: Preliminary phytochemical screening of L. edodes extract showed that it contains alkaloid, glycoside, flavonoid, and triterpenoid. TLC resulted in fifteen chemical compounds. DPPH assay resulted in very active antioxidant activity of L. edodes ethanol extract towards DPPH free radicals. Based on MTT assay, the three L. edodes extracts resulted in very active cytotoxic activity towards the T47D breast cancer cell line.
Conclusion: Chemical constituents of L. edodes showed antioxidant activity and cytotoxic activity toward T47D breast cancer line through DPPH assay and MTT assay respectively.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dwi Ratna Sari Handayani
"Kulit buah manggis (Garcinia mangostana L.) telah dimanfaatkan sebagai obat
secara tradisional untuk berbagai penyakit, salah satunya adalah sebagai
antioksidan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menilai kemampuan ekstrak
etanol kulit buah manggis (EEKBM) 50% dengan konsentrasi 0,195%, menahan
stres oksidatif pada sel darah merah domba (SDMD) yang diberi tBHP secara in
vitro. Percobaan dilakukan dalam 4 kelompok, (I) kontrol, (II) SDMD + EEKBM,
(III) SDMD + t-BHP, (IV) SDMD + EEKBM + t-BHP. Efek perlindungan kulit
buah manggis ditetapkan dengan mengukur parameter aktifitas enzim-enzim
antioksidan superoksida dismutase (SOD), glutation peroksidase (GPx) dan
katalase. Hasil penelitian menunjukkan pemberian EEKBM mampu menahan
stress oksidatif pada SDMD yang diberi tBHP. Hal ini ditunjukkan dengan
penurunan aktivitas SOD, GPx dan katalase pada pemberian EEKBM . Hasil
penelitian ini menunjukkan bahwa EEKBM dapat melindungi SDMD dari stres
oksidatif yang disebabkan oleh pemberian t-BHP.

Pericarp of mangosteen (Garcinia mangostana L.) has been used traditionally as
medicine for various diseases. This study aimed to examined the effect of 50%
ethanol extract of mangosteen (EEMP) concentration of 0,195 % to prevent the
red blood cells of sheep (RBCS) from oxidative stress that induced by t-BHP in
vitro. The groups were (I) control, (II) RBCS + EEMP, (III) RBCS + EEMP + t-
BHP and (IV) RBCS + EEMP + t-BHP. The result showed that activities of
superoxide dismutase (SOD), Gluthation peroxidase (GPx) and catalase were
decreasing, so we concluded that EEMP had antioxidant capacity to protect
RBCS oxidative stress induced by t-BHP.
"
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2013
T36060
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Raditya Putra Djohan
"ABSTRAK
Penuaan menjadi masalah karena penyakit yang timbul akibat proses tersebut. Salah satu agen penyebab penuaan adalah radikal bebas yang bisa merusak komponen sel. Dibutuhkan substansi yang bisa mengurangi efek dari penuaan akibat radikal bebas, seperti antioksidan yang ada pada Acalpyha indica Linn. Penelitian eksperimental dilakukan di Laboratorium Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Balitbangkes Kemenkes RI), Departemen Histologi, dan Departemen Farmasi pada bulan Desember 2017 hingga September 2018 kepada tikus Sprague-Dawley. Terdapat 4 kelompok perlakuan, yaitu tikus muda dengan placebo, tikus tua dengan plasebo, tikus tua yang diberi Acalypha Indica Linn 250 mg/kgBB, dan tikus tua yang diberi vitamin E 6 IU dengan masing-masing 6 tikus per kelompok. Tikus diberi perlakuan selama 28 hari dan diambil hipokampus tikus pada hari ke 29 yang kemudian diwarnai dengan hematoksilin-eosin untuk melihat densitas sel neuron pada hipokampus. Acalypha indica Linn dapat meningkatkan secara bermakna jumlah sel neuron granular normal pada daerah CA3 (p = 0.000) dan girus dentatus (p = 0.018). Selain itu, Acalypha indica Linn dapat meningkatkan secara bermakna jumlah sel neuron granular abnormal pada daerah CA3 (p = 0.021), tetapi menurunkan secara bermakna jumlah sel piramid pada daerah CA3 (p = 0.000)."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>