Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 154005 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Eka Yulianto
"Pengolahan data magnetotelurik merupakan tahapan penting dalam pengembangan eksplorasi panas bumi. Sehingga untuk mendapatkan kualitas data yang baik diperlukan pemahaman tentang data magnetotelurik. Sebelum memahami data magnetotelurik, langkah utama yang harus dipelajari adalah memahami metode magnetotelurik. Metode MT merupakan teknik elektromagnetik pasif yang memanfaatkan sumber alam untuk menentukan kondisi bawah permukaan dengan cara mendeskripsikan sebaran resistivitas batuan. Biasanya, dalam akuisisi data magnetotelurik, data yang terdiri dari sinyal dan noise akan direkam. Sinyal adalah komponen yang terdiri dari medan listrik dan magnet yang diukur dan saling berhubungan satu sama lain melalui suatu fungsi transfer, sedangkan noise merupakan bagian dari data pengukuran MT yang dapat merusak data dan harus dikurangi. Munculnya noise akan menurunkan kualitas data MT, dan signal to noise ratio akan lebih rendah. Umumnya, noise yang terekam memiliki sifat koheren yang tidak teratur seperti noise spike. Untuk mengurangi kebisingan koheren, filter digital dapat digunakan dengan metode ekstensi entropi maksimum dan dekonvolusi jendela. Setelah melakukan filter spike noise, nilai signal to noise ratio meningkat dan kualitas data lebih baik dari sebelumnya. Nilai rms untuk kesalahan filter ekstensi entropi maksimum adalah 9,8% dan dekonvolusi jendela filter adalah 2,06%. Berdasarkan pemrosesan kurva resistivitas semu dan fase, hasil setelah pemfilteran MT terlihat lebih baik daripada sebelumnya atau saat menggunakan perangkat lunak SSMT 2000. Berdasarkan hasil inversi 1D dan 2D terlihat bahwa hasil filter MT lebih baik dari pada SSMT 2000.

Magnetotelluric data processing is an important stage in the development of geothermal exploration. So to get good data quality an understanding of magnetoteluric data is needed. Before understanding magnetoteluric data, the main step that must be studied is to understand the magnetoteluric method. The MT method is a passive electromagnetic technique that utilizes natural sources to determine subsurface conditions by describing the resistivity distribution of rocks. Usually, in magnetoteluric data acquisition, the data which consists of the signal and noise will be recorded. Signal is a component consisting of electric and magnetic fields that are measured and interconnected with each other through a transfer function, while noise is part of the MT measurement data which can damage data and must be reduced. The appearance of noise will reduce the quality of MT data, and the signal to noise ratio will be lower. Generally, recorded noise has irregular coherent properties such as spike noise. To reduce coherent noise, digital filters can be used with the maximum entropy extension method and window deconvolution. After filtering the spike noise, the signal to noise ratio value increases and the data quality is better than before. The rms value for the maximum entropy extension filter error is 9.8% and the filter window deconvolution is 2.06%. Based on the processing of pseudo resistivity curves and phase, the results after MT filtering look better than before or when using the SSMT 2000 software. Based on the results of 1D and 2D inversions, it can be seen that the results of the MT filter are better than that of SSMT 2000."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2019
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Solehudin
"Dalam beberapa dekade, akuisisi MT biasanya dilakukan dalam bentuk profil lintasan 2D. Namun pemodelan inversi 2D memiliki kekurangan terutama terkait dengan keberadaan struktur yang lebih kompleks 3D strike . Ambiguitas ini termasuk dalam pemilihan mode yang digunakan TE atau TM . Ambiguitas ini dapat menyebabkan kesalahan dalam interpretasi. Ambiguitas data seperti yang terjadi pada inversi 2D dapat diatasi dengan menggunakan program inversi 3D.Inversi MT 3D dilakukan dengan menggunakan dengan menggunakan perangkat lunak Mod3DEM dengan algoritma NLCG Non Linear Conjugate Gradient dan sudah memasukkan faktor topografi. Data input yang digunakan dalam inversi 3D adalah sebanyak 92 titik, dengan range frekuensi 320 ndash; 0.01 Hz. Pengolahan data menggunakan rotasi principal axis dan koreksi statik menggunakan data TDEM. Selain itu, data pendukung lain yang digunakan dalam penelitian ini adalah data geokimia dan data geologi.
Berdasarkan hasil inversi 3D MT, Karakteristik sistem geothermal lapangan ldquo;INARA rdquo; terlihat dengan batuan penudung memiliki resestivitas rendah 80 ohm-m. Top of reservoir berada di ketinggian 500 meter dari MSL dengan heat source berada di bawah puncak gunung WL. Dari hasil perhitungan geothermometer silika dan diagram entalphy-Cloride mixing, diperoleh temperatur reservoir daerah prospek panas bumi ldquo;INARA rdquo; adalah 200 oC. Sedangkan berdasarkan geothermometer CO2, temperatur reservoir daerah prospek panas bumi ldquo;INARA rdquo; adalah 260 oC dan masuk dalam kategori high temperature >225 oC.

Within a few decades, MT acquisition is used to be done in a 2D track profile. However 2D inversion modeling has its drawbacks mainly related to the existence of the existence of complex structures 3D strike . This will bring ambiguity that can lead to errors in interpretation. Data ambiguity as occurs in 2D inversion can be overcome by using 3D inversion program.The software used in MT 3D Inversion is Mod3DEM with NLCG Non Linear Conjugate Gradient algorithm and has included topography factor. The input data used in 3D inversion is 92 points, with frequency range 320 0.01 Hz. The data processing used principal axis rotation and static corrected by TDEM data. The other supporting data used in this study are geochemical data and geological data.
Based on the 3D MT inversion results, the characteristics of the INARA geothermal field system are seen with low residence rocks 80 ohm m. Top of the reservoir is at an altitude of 500 meters from MSL with the heat source is under the peak of WL mountain. From the calculation of silica geothermometer and entalphy cloride mixing diagram, it is known the reservoir temperature of geothermal prospect region INARA is 200 oC. While based on CO2 geothermometer, the reservoir temperature of geothermal prospect region INARA is 260 oC and included in high temperature 225 oC.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2017
T48702
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Iskandar
"Lapangan geotermal X berada di area gunung A yangmana berdasarkan data geologi ditemukan adanya manifestasi berupa hot spring dan fumarole. Pengukuran MT dilakukan untuk mengetahui persebaran resistivity batuan di bawah permukaan. Pengolahan data MT dilakukan dari analisis time series dan filtering noise kemudian dilakukan Transformasi Fourier dan Robust Processing. Setelah itu baru dilakukan crosspower untuk menyeleksi data sehingga output dari proses ini berupa kurva MT. Setelah didapatkan kurva MT dilakukan koreksi statik dikarenakan kurva TE dan TM terjadi shifting. Untuk proses akhirnya baru dilakukan inversi 2D dan inversi 3D. setelah itu dilakukan perbandingan antara 2D dan 3D. Wilayah interest lapangan X berada di lintasan AA dan lintasan AB. Berdasarkan analisis 3D diidentifikasi bahwa zona alterasi menipis di wilayah upflow dan menebal ke arah outflow yangmana sesuai dengan teori. Wilayah upflow dapat diketahui dengan melihat manifestasi berupa fumarole.

The geothermal field X is located in the area of Mount A which based on geological data found the presence of hot spring and fumarole manifestations. MT measurements were carried out to determine the distribution of rock resistivity in the subsurface. MT data processing is starts from time series analysis and noise filtering then Fourier Transform and Robust Processing are performed. After that, crosspower is done to select data so that the output of this process is an MT curve. After got the MT curve then a static correction is done because the TE and TM curves are shifting. For the final process are 2D inversion and 3D inversion. After that make a comparison between 2D and 3D. The area of interest in field X is on the line AA and line AB. Based on the 3D analysis, it was identified that alteration zones thinned in the upflow region and thickened towards the outflow which is make sense with the theory."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2019
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dwiandaru Darmawan
"Fase eksplorasi geotermal masih memiliki resiko yang tinggi dan rintangan yang besar bagi industri geotermal. Tujuan utama dari eksplorasi adalah penentuan lokasi pemboran. Kriteria kesuksesan target pemboran adalah area yang memiliki temperatur dan permeabilitas yang tinggi. Temperatur berasosiasi dengan keberadaan sumber panas (heat source) menjadi target dalam penelitian ini dan jumlah energi termal yang tersimpan, sedangkan permeabilitas berhubungan dengan keberadaan struktur geologi baik patahan maupun kekar yang terisi fluida yang dapat menjadi media perpindahan energi panas. Pada penelitian sebelumnya gambaran dari boundary bawah permukaan masih belum tergambar dengan jelas dikarenakan keterbatasan data MT, dan belum dilakukannya analisis data gravity. Untuk mendapatkan informasi tersebut, penelitian ini dilakukan dengan analisis First Horizontal Derivative (FHD) dan Second Vertical Derivative (SVD) serta hasil inversi 3-Dimensi Magnetotelluric (MT) diaplikasikan pada penelitian ini untuk memetakan struktur resistivitas bawah permukaan, juga diketahui daerah reservoir dari Base of Conductor (elevasi BOC di 2000m). Selanjutnya diintegrasikan hasil dari Fault Fracture Density (FFD) untuk melihat sejauh mana pengaruh manifestasi terhadap struktur di permukaan serta gravity untuk mengindentifikasi zona permeabel, agar dapat membantu dalam pembangunan model konseptual serta deliniasi prospek area. Dari hasil analisis terpadu kemudian dapat ditentukan rekomendasi target pemboran. Terdapat 2 titik sumur rekomendasi dibagian utara dan barat Gunung W. Hasil akhir penelitian akan memberikan informasi atas upaya mengurangi risiko pada fase eksplorasi dan meningkatan rasio kesuksesan dalam pemboran. 

The geothermal exploration phase still has a high risk and a large obstacle for the geothermal industry. The main objective of exploration is to determine the location of the drilling. Success criteria for drilling targets are areas that have a high temperature and permeability. The temperature associated with the presence of heat sources is the target in this study and the amount of thermal energy stored, while permeability is related to the presence of geological structures, both fractures and burly filled with fluid which can be a medium of heat energy transfer. In previous studies, the picture of the subsurface boundary was not clearly drawn due to the limitation of MT data, and gravity data analysis had not been carried out. To obtain this information, this study was conducted with First Horizontal Derivative (FHD) and Second Vertical Derivative (SVD) analysis and the results of 3-Dimensional Magnetotelluric (MT) inversion were applied in this study to map the subsurface resistivity structure, also known the reservoir area of the base. of Conductor (BOC elevation at 2000m). Furthermore, the results of the Fault Fracture Density (FFD) are integrated to see the extent of the influence of manifestations on the structure on the surface and gravity to identify the permeable zone, in order to assist in the construction of a conceptual model and delineation of prospect areas. From the results of the integrated analysis can then be determined by drilling target targets. There are 2 recommended well points in the north and west of Mount W. The results of the study will provide information on efforts to reduce risk in the exploration phase and increase the success ratio in drilling. "
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2020
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Fahrian Elfinurfadri
"Eksplorasi pada daerah prospek geothermal bertujuan untuk mencari zona reservoir, kriteria zona reservoir yang baik yaitu memiliki temperatur, tekanan dan permeabilitas yang tinggi. Penentuan zona reservoir perlu dilakukan kegiatan survei terpadu 3G meliputi survei geologi, geokimia dan geofisika. Pada lapangan geothermal daerah "F" menggunakan metode remote sensing untuk memetakan struktur dan alterasi di permukaaan. Analisis geokimia digunakan untuk mengetahui karakteristik sistem geothermal dan analisis geofisika digunakan untuk memetakan kondisi sistem geothermal di bawah permukaan. Berdasarkan analisis remote sensing dengan menggunakan teknik band combination secara pengamatan manual diketahui bahwa arah utama dari kelurusan daerah penelitian "F" adalah Barat Laut ndash; Tenggara. Kelurusan ini berkorelasi dengan kemunculan manifestasi permukaan.
Analisis data geokimia menunjukkan bahwa pemetaan zona upflow di tunjukkan oleh kemunculan manifestasi Kaipohan dan hot spring tipe sulfat SO4 , sedangkan zona outflow di tinjukkan dengan kemunculan manifestasi hot spring dengan tipe fluida bikarbonat HCO3 . Data geofisika menggunakan 46 data titik ukur magnetotellurik yang selanjutnya di analisis melalui pola kurva splitting, arah elongasi polar diagram serta melakuian inversi 3D. Berdasarkan analisis tersebut maka diketahui struktur lapisan bawah permukaan dari clay cap dengan nilai resistivitas rendah, reservoir dan heat source. Hasil akhir dari penelitian ini juga akan memberikan implikasi terhadap upaya peningkatan Drilling Success Ratio DSR dalam pemboran dan mengurangi risiko pada tahapan eksplorasi.

Exploration in the geothermal prospect area aims to find the reservoir zone, a good reservoir zone criterion are has high temperature, pressure, and permeability. Determination of reservoir zones needs to be carried out by a 3G integrated survey activity covering geological, geochemical and geophysical surveys. In the geothermal field 39 F 39 , survey is conducted using a remote sensing method to map the structure and alteration on the surface. Geochemical analysis is used to determine the characteristics of geothermal systems and geophysical analysis used to map the condition of geothermal systems beneath the surface. Based on remote sensing analysis by using band combination technique by manual observation, it is known that the main direction of research area ldquo F rdquo straightness is Northwest Southeast. This straightness correlates with the appearance of surface manifestations.
Analysis of geochemical data showed that upflow zone mapping was demonstrated by the emergence of kaipohan and hot spring type sulfate manifestations SO4 , while the outflow zone was presented by the appearance of hot spring manifestation with bicarbonate fluid type HCO3 . Geophysical data uses 46 data of magnetotellurik measuring point which then analyzed by splitting curve pattern, direction of polar diagram elongation, and 3D inversion. Based on these analyzes, it is known that the subsurface structure of clay cap has low resistivity value, reservoir, and heat source. The final results of this study will also provide implications for improving Drilling Success Ratio DSR in drilling and reducing risks at the exploration stage.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2017
T47880
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Laily Nur Fitriyani
"Daerah prospek Geotermal Gunung ST merupakan tipe gunungapi strato yang berada pada lingkungan vulkanik kuarter dan memiliki manifestasi berupa fumarol dan mata air panas sebagai indikasi sistem geotermal. Pengolahan data MT dilakukan untuk mengetahui distribusi resistivitas batuan di bawah permukaan dalam menentukan komponen sistem geotermal. Proses akhir dari pengolahan data adalah dilakukan pemodelan MT inversi 3D. Daerah interest untuk pembuatan model konseptual berada pada lintasan 1. Berdasarkan analisis integrasi dengan berbagai data diidentifikasi bahwa zona konduktif menipis di wilayah upflow yaitu di puncak Gunung ST dan menebal menuju outflow yaitu di bagian relatif utara dan selatan dari Gunung ST. Struktur geologi yang mengontrol sistem geotermal di Gunung ST adalah sesar St berarah barat daya – timur laut yang letaknya memotong daerah prospek. Karakteristik sistem geotermal daerah penelitian dapat teridentifikasi, yang meliputi: clay cap sebagai lapisan penudung terletak pada kedalaman 400 m dengan ketebalan bervariasi mencapai 3000 m, reservoir di kedalaman 1000 m dengan ketebalan 1000 – 1600 m, dan heat source pada kedalaman lebih dari 4000 m dari permukaan tanah.

The geothermal prospect area of Mount ST is a stratovolcanic type located in a quarter volcanic environment and has manifestations in the form of fumaroles and hot springs as an indication of the geothermal system. MT data processing is carried out to determine the distribution of rock resistivity below the surface in determining the components of the geothermal system. The final process of data processing is 3D inversion MT modelling. The area of interest for conceptual modelling is on track 1. Based on the integration analysis with various data, it is identified that the conductive zone is thinning in the upflow area, namely at the top of Mount ST and thickens towards outflow, namely in the relatively north and south of Mount ST. The geological structure that controls the geothermal system on Mount ST is the southwest-northeast trending St fault which intersects the prospect area. The characteristics of the geothermal system in the study area can be identified, which include: clay cap as a covering layer located at a depth of 400 m with a thickness varying up to 3000 m, a reservoir at a depth of 1000 m with a thickness of 1000 – 1600 m, and a heat source at a depth of more than 4000 m from ground level."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2022
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nauval Ivanditho
"Daerah “NI” yang terletak di Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara memiliki sistem geotermal yang berpotensi untuk dieksploitasi. Hal ini ditandai dengan keberadaan manifestasi panas berupa chloride hot springs. Dari manifestasi tersebut dibuat perkiraan temperatur reservoir sebesar 149oC (moderate temperature geothermal system). Berdasarkan data geologi, terdapat patahan besar yang membentang dari Barat Daya hingga Timur Laut lapangan penelitian yang diperkirakan menjadi tempat keluar masuknya fluida. Investigasi lebih lanjut mengenai kenampakan bawah tanah dari sistem geotermal daerah “NI” dilakukan dengan melalakukan pengolahan data Magnetotellurik (MT) yang kemudian dilanjutkan dengan inversi 2-dimensi. Hasil inversi 2-dimensi menunjukkan zona reservoir pada kedalaman 500-1000 m dengan resistivitas 20-80 ohm.m. Hasil inversi diintegrasikan dengan data gravitasi, data geologi, dan data geokimia untuk mendapatkan model konseptual dan perkiraan luas area prospek dari sistem geotermal daerah “NI”. Berdasarkan data tersebut, sistem geotermal daerah “NI” diperkirakan memiliki potensi sekitar 11,6 MWe dan titik pemboran yang direkomendasikan adalah di dekat zona patahan dan zona manifestasi karena daerah tersebut merupakan zona upflow reservoir serta memiliki permeabilitas dan suhu yang tinggi.

The “NI” area which is located in South Konawe Regency, Southeast Sulawesi has a geothermal system that has the potential to be exploited. It is characterized by the presence of heat manifestations in the form of chloride hot springs. From these manifestations, an estimate of the reservoir temperature is 149oC (moderate temperature geothermal system). Based on geological data, there is a large fault stretching from the Southwest to the Northeast of the research field which is estimated to be the entry and exit point for fluids. Further investigation of the underground features of the “NI” regional geothermal system was carried out by processing Magnetotelluric (MT) data followed by 2-dimensional inversion. The 2-dimensional inversion results show the reservoir zone at a depth of 500-1000 m with a resistivity of 20-80 ohm.m. The inversion results are integrated with gravity data, geological data, and geochemical data to obtain a conceptual model and an estimate of the prospect area of the “NI” regional geothermal system. Based on these data, the geothermal system in the “NI” area is estimated to have a potential of about 11.6 MWe and the recommended drilling point is near the fault zone and manifestation zone because this area is an upflow reservoir zone and has high permeability and temperature"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2021
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Friska Agustina
"Sistem geotermal merupakan sistem yang dinamis, terutama ketika mulai dilakukan produksi, keadaan sistem geotermal akan mengalami ketidakseimbangan. Dengan dilakukannya produksi, tekanan pada reservoir akan menurun dan mengakibatkan boiling, sehingga fase cair berubah menjadi fase uap. Dengan permeabilitas vertikal yang baik, fase uap akan bergerak ke bagian atas reservoir dan terpisah dengan fase cair, lalu terbentuklah steam cap di zona atas dan reservoir dengan fase cair pada bagian bawah. Walaupun uap yang paling mudah digunakan dalam pemanfaatan eksplorasi geotermal, namun proses pembentukan uap lebih lambat jika dibandingkan dengan pengambilan uap dari reservoir, sehingga membuat proses eksplorasi menjadi tidak sustainable. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengelolaan reservoir yang baik dengan melakukan monitoring dan proses produksi-reinjeksi yang baik. Pada penelitian ini, digunakan metode 3-D forward modeling dengan melakukan simulasi perubahan karakteristik reservoir dengan mengasumsikan penambahan volume steam cap. Lalu dalam proses analisisnya dilakukan inversi 1-D dan 2-D juga membuat kurva resistivitas untuk setiap model sintetik yang telah dibuat. Dari hasil kurva resistivitas, telihat jika adanya kenaikan kurva atau kenaikan nilai resistivitas yang bertahap pada bagian kedalaman antara clay cap dan reservoir. Begitupun dari hasil inversi, terlihat anomali dengan resistivitas tinggi pada bagian antara clay cap dan reservoir. Perubahan nilai resistivitas itu sendiri menunjukkan bagaimana pengaruh keberadaan steam cap pada respon resistivitas.

The geothermal system is a dynamic system, especially when production starts, the state of the geothermal system will experience an imbalance. With production, the pressure in the reservoir will decrease and result in boiling, so that the liquid phase changes to the vapor phase. With good vertical permeability, the vapor phase will move to the top of the reservoir and separate from the liquid phase, then a steam cap is formed in the upper zone and a reservoir with a liquid phase at the bottom. Although steam is the easiest to use in the utilization of geothermal exploration, the process of forming steam is slower than the extraction of steam from a reservoir, thus making the exploration process unsustainable. Therefore, it is necessary to carry out a good reservoir management by monitoring and a good production-reinjection process. In this study, the 3-D forward modeling method was used by simulating reservoir changes by assuming an additional steam cap volume.Then, in the analysis process, 1-D and 2-D inversions are also carried out to create a resistivity curve for each forward model that has been made. From the results of the resistivity curve, it can be seen if there is a gradual increase in the resistivity value at the depth between the clay cap and the reservoir. Likewise, from the inversion results, anomaly with high resistivity was seen in the part between the clay cap and the reservoir. The change in the resistivity value itself shows how the presence of a steam cap affects the resistivity response.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sofwatul Fida
"Danau Toba merupakan kaldera yang terbentuk dari tiga kali letusan gunung berapi super, hal ini menjadikannya sebagai kaldera tebesar di Asia Tenggara dengan panjang 100 meter, lebar 30 meter, dan tinggi mencapai 505 meter. Danau Toba memiliki potensi geotermal, hal tersebut ditandai dengan munculnya manifestasi di permukaan berupa mata air panas, fumarol dan steaming ground di daerah Simbolon dan Pusuk Buhit. Hal tersebut mengindikasikan bahwa terdapat magmatic body sebagai sumber panas dari sistem geotermal di sekitar Danau Toba. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran bawah permukaan Danau Toba sehingga dapat menginterpretasi keberadaan magmatic body dan sistem geotermal. Metode yang digunakan adalah metode gravitasi dan magnetotellurik. Hasil penelitian menunjukkan adanya fitur berupa magma chamber dikedalaman 10-40 km dengan diameter sebesar 30x40 km memiliki nilai densitas sebesar 2.5 gr/cc dan resistivitas >100 ohm.m. Ditemukan juga terdapat lapisan toba tuff hasil erupsi kaldera Toba pada kedalaman 0-1 km dengan nilai densitas 2.21 gr/cc. Serta lapisan basement dengan anomali resistivitas rendah (6-10 ohm.m) dan densitas sebesar 2.61 gr/cc. Selain itu, ditemukan adanya clay cap yang berada di bawah titik MT004 pada kedalaman 1.5 km dengan nilai resistivitas rendah (10-20 Ohm.m). Hasil integrasi menunjukkan bahwa magmatic body di bawah Danau Toba berperan sebagai sumber utama dari sistem geotermal yang berada di sekitar Danau Toba. Terdapat aliran uap panas yang mengalir dari magmatic body menuju kedalaman dangkal hingga pada kedalaman sekitar 3 km di bawah titik MT-004 yang merupakan proyeksi dari daerah Pusuk Buhit dan Simbolon. Aliran uap panas ini mengalami penurunan suhu sehingga mendingin dan memadat membentuk plutonik body. Plutonik body inilah yang diduga berperan sebagai heat source dari sistem geotermal di daerah Pusuk Buhit dan Simbolon. Hal tersebut diperkuat dengan data penunjang geokimia berupa plot diagram trilinear SO4-HCO3-Cl yang menampilkan bahwa fluida air panas di Pusuk Buhit dan Simbolon sama-sama terletak pada sudut sulfat yaitu steam heated waters dimana tipe fluida yang terbentuk akibat pemanasan air tanah oleh uap geotermal bukan volcanic waters (pemanasan air tanah oleh magma).

Lake Toba is a caldera formed from three times a super volcanic eruption, this makes it as the largest caldera in Southeast Asia with a length of 100 meters, 30 meters wide, and height reaches 505 meters. Lake Toba has geothermal potential, it is characterized by the presence of manifestations on the surface such as hot springs, fumarol and steaming ground in the Simbolon and Pusuk Buhit area. This indicates that there is a magmatic body as a heat source of a geothermal system around Lake Toba. Therefore this study aims to find out the surface of Lake Toba so that it can interpret the existence of magmatic body and geothermal systems. The method used is the gravity and magnetotellurics method. The results showed a feature in the form of magma chamber in the time of 10-40 km with a diameter of 30x40 km has a density value of 2.5 gr/cc and resistivity >100 ohm.m. There was also a Toba tuff layer the result of the Toba caldera eruption at a depth of 0-1 km with a density value of 2.21 gr/cc. And the basement layer with low resistivity anomalies (6-10 ohm.m) and a density of 2.61 gr/cc. In addition, there was a clay cap which was below the MT004 point at a depth of 1.5 km with a low resistivity value (10-20 ohm.m). Integration results show that the magmatic body under Lake Toba acts as the main source of the geothermal system around Lake Toba. There is a hot vapor flow that flows from Magmatic Body towards a shallow depth to a depth of about 3 km below the MT-004 point which is a projection of the Pusuk Buhit and Simbolon area. This hot vapor stream had temperature decrease, then it cools and covers forming a body plutonic. This Putonik body is suspected of playing a role as a heat source of the geothermal system in the Pusuk Buhit and Simbolon areas. This is reinforced by geochemical supporting data in the form of a SO4-HCO3-CL trilinear diagram plot that displays that hot water fluids in the hull of Buhit and Simbolon are equally lies in the sulfate angle, namely steam heated waters where the type of fluid is formed due to soil water heating by geothermal steam not a volcanic waters (groundwater heating by magma)."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2021
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Harahap, Luthfan Togar
"ABSTRAK
Tahap eksplorasi masih memegang tantangan terbesar dan memiliki risiko tinggi di industri panas bumi. Karena itu, membutuhkan pemahaman yang baik tentang kondisi bawah permukaan dengan mengintegrasikan data geoscientific berkualitas tinggi. Tujuan utama eksplorasi adalah penentuan target pengeboran. Target pengeboran bawah permukaan sebenarnya diarahkan ke suhu tinggi dan zona permeabilitas tinggi. Distribusi suhu bawah permukaan dapat diperkirakan berdasarkan nilai resistivitas yang diperoleh dari data MT, sedangkan zona dengan permeabilitas tinggi dikaitkan dengan struktur geologi. Pemetaan geologis hanya bisa mengetahui geologi struktur ditunjukkan di permukaan. Namun, kelanjutan dari struktur geologi ke bawah permukaan sulit dideteksi. Penelitian ini difokuskan pada identifikasi bawah permukaan struktur geologis menggunakan data Magnetotelluric (MT). Analisis pola pemisahan atau splitting curve dari kurva MT, elongasi orientasi diagram polar, serta penggambaran struktur bawah permukaan dilakukan dengan mengacu pada hasil inversi 3 dimensi yang diperoleh dari MT, yang merupakan metode yang digunakan dalam penelitian ini serta daerah reservoir diketahui dari batas Base of Conductor. Data geologis dimasukkan sebagai data pendukung untuk membuat analisis keberadaan struktur geologi bawah permukaan menjadi lebih komprehensif. Tahap akhir dari penelitian ini adalah untuk menyediakan peta struktural terbaru yang dikonfirmasi oleh MT. Hasil analisis geokimia digunakan untuk menentukan perkiraan temperatur reservoir, sehingga dapat membantu dalam pembuatan model konseptual dan deliniasi daerah prospekTahap eksplorasi masih memegang tantangan terbesar dan memiliki risiko tinggi di industri panas bumi. Karena itu, membutuhkan pemahaman yang baik tentang kondisi bawah permukaan dengan mengintegrasikan data geoscientific berkualitas tinggi. Tujuan utama eksplorasi adalah penentuan target pengeboran. Target pengeboran bawah permukaan sebenarnya diarahkan ke suhu tinggi dan zona permeabilitas tinggi. Distribusi suhu bawah permukaan dapat diperkirakan berdasarkan nilai resistivitas yang diperoleh dari data MT, sedangkan zona dengan permeabilitas tinggi dikaitkan dengan struktur geologi. Pemetaan geologis hanya bisa mengetahui geologi struktur ditunjukkan di permukaan. Namun, kelanjutan dari struktur geologi ke bawah permukaan sulit dideteksi. Penelitian ini difokuskan pada identifikasi bawah permukaan struktur geologis menggunakan data Magnetotelluric (MT). Analisis pola pemisahan atau splitting curve dari kurva MT, elongasi orientasi diagram polar, serta penggambaran struktur bawah permukaan dilakukan dengan mengacu pada hasil inversi 3 dimensi yang diperoleh dari MT, yang merupakan metode yang digunakan dalam penelitian ini serta daerah reservoir diketahui dari batas Base of Conductor. Data geologis dimasukkan sebagai data pendukung untuk membuat analisis keberadaan struktur geologi bawah permukaan menjadi lebih komprehensif. Tahap akhir dari penelitian ini adalah untuk menyediakan peta struktural terbaru yang dikonfirmasi oleh MT. Hasil analisis geokimia digunakan untuk menentukan perkiraan temperatur reservoir, sehingga dapat membantu dalam pembuatan model konseptual dan deliniasi daerah prospek

ABSTRACT
The exploration phase still holds the biggest challenge and has a high risk in the geotermal industry. Therefore, it requires a good understanding of subsurface conditions by integrating high-quality geoscientific data. The main objective of exploration is determining drilling targets. The subsurface drilling target is actually directed to high temperature and high permeability zones. The subsurface temperature distribution can be estimated based on resistivity values ​​obtained from MT data, while zones with high permeability are associated with geological structures. Geological mapping can only know the geology of the structure shown on the surface. However, the continuation of the geological structure below the surface is difficult to detect. This study focused on the identification of subsurface geological structures using Magnetotelluric (MT) data. Analysis of splitting curve patterns from the MT curve, elongation of polar diagram orientation, and the description of subsurface structures is done by referring to the results of 3-dimensional inversion obtained from MT, which is the method used in this study and the reservoir area is known from the Base of Conductor boundary. Geological data is included as supporting data to make an analysis of the existence of subsurface geological structures more comprehensive. The final stage of this research is to provide the latest structural maps confirmed by MT. The results of the geochemical analysis are used to determine the reservoir temperature forecast, so that it can assist in making conceptual models and delineation of prospect areas.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2019
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>