Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 160033 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Aji Budi Widodo
"ABSTRAK
1000 Hari Pertama Kehidupan HPK adalah rentang periode kehidupan dari konsepsi hingga anak berusia 2 tahun. Periode ini adalah periode emas karena masalah kesehatan yang terjadi pada periode ini akan sangat berdampak pada pertumbuhan dan perkembangan anak di masa mendatang. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku ibu terhadap 1000 HPK. Desain studi penelitian ini adalah cross sectional dengan 110 responden. Sampel pada penelitian ini adalah ibu dengan bayi berusia kurang dari 2 tahun dan ibu hamil pada saat pengambilan data yang berdomisili di Kampung Lio RW19, Kota Depok. Pengambilan data menggunakan kuesioner mengenai faktor determinan perilaku. Semua data kemudian diolah dengan SPSS ver. 20, dilanjutkan dengan uji statistik yang sesuai untuk mengetahui hubungan faktor determinan dengan perilaku ibu mengenai 1000 HPK. Hasil penelitian didapatkan tingkat perilaku terdiri dari perilaku cukup 38,2 dan perilaku baik 61,8 . Penghasilan keluarga p=0,018 dan pengetahuan p le;0,001 berhubungan dengan perilaku ibu terhadapa 1000 HPK. Variabel lain seperti tingkat pendidikan, usia, bentuk keluarga, jumlah anak, pekerjaan,suku, aktivitas sosial, jarak fasilitas kesehatan, asuransi, dan sikap tidak berhubungan dengan perilaku ibu terhadap 1000 hari pertama kehidupan. Hasil penelitian akan digunakan untuk menyusun rekomendasi tindak lanjut untuk dinas kesehatan di Kampung Lio.

ABSTRACT
The First 1000 Days of Life is a life period which started from conception to 2 year olds. This period is a golden period because the health problems that occured in this period will greatly affect the growth and development of children in the future. The purpose of this study is to determine the relationship of factors and mother 39 s behavior towards first 1000 days of life. This study used cross sectional design with 110 respondents. The sample of this study is mothers with child under 2 years old and pregnant mothers who domiciled in Kampung Lio RW19, Depok City. We used questionnare to collect data of factors and mother 39 s behavior. All collected data is then processed with SPSS 20th version, then analysed statistically to determine the relationship between determinant factors and mother 39 s behavior. The results showed that behavior level consisted of fair 38,2 and good behavior 61,8 . Family income 39 s p 0.018 and level of knowledge p le 0,001 have relationship with mother 39 s behavior towards first 1000 days of life. Other factors such as education level, age, family form, number of children, occupation, ethnicity, social activity, distance of health facility, insurance, and attitudes do not have relation to mother 39 s behavior towards first 1000 days of life. The results of this research will be used to arrange recommendations action plan for the health service in Kampung Lio.
"
2017
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Muhammad Faizal Alhas
"Periode 1000 Hari Pertama Kehidupan HPK merupakan periode emas yang penting karena kekurangan gizi pada periode ini dapat memiliki dampak jangka panjang berupa gangguan kesehatan pada masa kehidupan mendatang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan sikap ibu terhadap 1000 HPK. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional dengan jumlah sampel sebanyak 110 responden. Sampel penelitian ini adalah ibu hamil dan ibu dengan anak yang berusia di bawah 2 tahun yang berdomisili di Kampung Lio RW019, Kota Depok. Pengambilan data mengenai faktor determinan dan sikap responden dilakukan dengan kuesioner. Semua data yang telah terisi lengkap kemudian diolah dengan SPSS versi 20 dan diuji secara statistik dengan uji Chi square untuk mengetahui hubungan antara faktor determinan dengan sikap ibu terhadap 1000 HPK.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebaran sikap responden terdiri dari sikap cukup 37,27 dan baik 62,73 . Tingkat pendidikan p=0,013 dan pengetahuan ibu p le;0,001 berhubungan dengan sikap ibu terhadap 1000 HPK. Variabel lain seperti usia, pekerjaan, jumlah anak, bentuk keluarga, suku, penghasilan keluarga, aktivitas sosial, jarak fasilitas kesehatan, dan kepemilikan asuransi tidak berhubungan dengan sikap ibu terhadap 1000 HPK.
Sebagai kesimpulan, mayoritas sikap ibu terhadap 1000 HPK adalah baik dan tidak terdapat sikap kurang. Faktor yang berhubungan dengan sikap ibu terhadap 1000 HPK adalah tingkat pendidikan dan pengetahuan ibu terhadap 1000 HPK. Petugas kesehatan perlu melakukan upaya peningkatan pengetahuan terhadap 1000 HPK dalam rangka meningkatkan sikap ibu terhadap 1000 HPK.

First 1000 days of life is a golden period, that is considered important since malnutrition in this period has a long term impact on individual health in later life. The objective of this study is to find factors related to mother`s attitude towards first 1000 days of life. This study is a cross sectional study with 110 samples which consisted of pregnant women and women with child under 2 years old who live in Kampung Lio RW019, Depok city. The data of related factors and attitude are collected by using questionnaire. All the completed data are processed using SPSS version 20 and analyzed by using Chi square to determine the relation between determinant factors and attitude.
The results show that mother`s attitude towards first 1000 days of life are fair 37,27 and good 62,73 . Mother`s education level p 0,013 and knowledge p le 0,001 were related to mother`s attitude towards first 1000 days of life. The other factors such as age, occupation, number of children, family structure, culture, family income, social activity, access to health services, and insurance were not related with mother`s attitude towards first 1000 days of life.
In conclusion, majority of mother`s attitude towards first 1000 days of life is good and there is not any bad attitude. Factors related to mother`s attitude towards first 1000 days of life are mother`s education level and knowledge towards first 1000 days of life. Health care provider needs to increase mother`s knowledge towards first 1000 days of life in order to improve the attitude of mother towards first 1000 days of life."
Depok: Universitas Indonesia, 2017
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Muhammad Ariq Aufa
"ABSTRAK
Masalah gizi pada anak merupakan masalah yang harus menjadi sorotan saat ini karena memiliki dampak negatif di masa depannya. Masalah gizi pada 1000 Hari Pertama Kehidupan HPK merupakan masalah yang sangat penting untuk diperhatikan karena akan memiliki dampak jangka pendek maupun panjang. Tujuan penelitian ini ialah untuk mencari tahu faktor-faktor yang berhubungan terhadap tingkat pengetahuan ibu mengenai1000 HPK. Penelitian ini menggunakan desain studi potong lintang dengan jumlah sampel sebanyak 110. Sampel tersebut terdiri dari ibu hamil dan ibu yang memiliki anak berumur di bawah 2 tahun yang tinggal di Kampung Lio RW 19, Depok. Penelitian ini menggunakan kuesioner yang divalidasi dan analisis menggunakan Kolmogorov-Smirnov dan Chi square untuk mencapai tujuan. Hasil penelitian ini 42,7 sampel memiliki pengetahuan yang cukup. Satu variabel yang berhubungan dengan pengetahuan ibu tentang 1000 HPK, yaitu tingkat pendidikan P=0,019 . Variabel lain seperti usia, pekerjaan, pengalaman, bentuk keluarga, penghasilan keluarga, aktivitas sosial, jarak fasilitas kesehatan, dan kepemilikan asuransi tidak berhubungan terhadap pengetahuan ibu tentang 1000 HPK. Ibu perlu meningkatkan pengetahuannya tentang 1000 HPK untuk memperbaiki gizi anak pada 1000 HPK.

ABSTRACT
Nutrition problem in children is a problem that should be in the spotlight currently because it has negative impact in the future. A nutrition problem in the first 1000 days of life is the most important to be managed because first 1000 days of life is the golden period that has short and long term impacts. The purpose of this study is to find out factors that related to the mother rsquo s knowledge about first 1000 days of life. This study uses cross sectional design with 110 samples. The sample consisted of mothers who have children under 2 years old or pregnant women who live in Kampung Lio RW 19, Depok. It uses validated questionnaires which are processed by using SPSS version 20 and analyzed by using Kolmogorov Smirnov and Chi square to achieve the purpose. The result of this study indicate that 42.7 of samples have sufficient knowledge. There is only one variable related to mother rsquo s knowledge about First 1000 days of life, that is education level P 0.019 . Other variables such as age, occupation, experience, family form, socio economic, social activities, distance to health facilities, dan health insurance are not related to Mother rsquo s knowledge about First 1000 days of Life. Mother needs to improve their knowledge about First 1000 days of Life to improve her child nutrition."
2017
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Siti Zubaidah Fitri
"ABSTRAK
Skripsi ini membahas mengenai faktor-faktor pada 1000 Hari Pertama Kehidupan Berhubungan Stunting pada Anak Usia 0-2 tahun di Indonesia. Stunting adalah keadaan dimana tubuh anak lebih pendek dibandingkan dengan anak-anak lain seusianya. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2007, 2010, dan 2013 menunjukkan tidak terjadi banyak perubahan pada prevalensi balita pendek yaitu berturut-turut sebesar 36.8%, 35.6% dan 37.2%. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor pada 1000 Hari Pertama Kehidupan berhubungan dengan stunting pada anak usia 0-2 tahun di Indonesia tahun 2013. Penelitian bersifat kuantitatif, dengan desain studi cross sectional menggunakan data sekunder Riskesdas Tahun 2013. Sampel penelitian ini adalah semua individu yang berusia 0-2 tahun yang menjadi responden dalam Riskesdas. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa terdapat sembilan variabel yang secara bersama-sama signfikan memengaruhi stunting. Berat badan lahir merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap kejadian stunting (OR:1.71, 95%CI:1.39-2.09). Untuk menanggulangi stunting yang terpenting adalah intervensi pada ibu pra hamil (remaja perempuan) dan ibu hamil serta melibatkan banyak sektor untuk dapat berintegrasi menyusun kebijakan yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui perbaikan gizi.

ABSTRACT
This study is to analyze first 1000 days factors of life Relationships with Stunting incidence on 0-2 years old children in Indonesia. Stunting is condition of children whom heights are below the standard comparing to other healthy children. RISKESDAS (Basic Health Research) data in year 2007, 2010, and 2013 show that there is no significant changes on under five years old stunting children prevalence respectively 36.8%, 35.6% and 37.2%. The objective of this study is to
find the relationship of the first 1000 days of life factors with the incidence of stuntinf in 0-2 years old children in Indonesia in year of 2013.This study is a quantitative study with cross sectional design using the secondary data from Riskesdas 2013. The subject of this study is 0-2 years old children who became a respondent in RISKESDAS. This study shows that there are nine variables that
altogether significantly effects the incidence of stunting. Birthweight is the most affected factors in the incidence of stunting (OR:1.71, 95%CI:1.39-2.09). The most important things to overcome the incidens of stunting is giving intervention to pre-pregnancy women (teenage girls) and pregnant women. Furthermore, to involve many sectors that can be integrated in making policy to enhance public prosperity trough the nutritional status development."
2015
S61213
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Gerald Aldian Wijaya
"Regurgitasi merupakan gejala saluran cerna fungsional yang paling sering ditemukan pada bayi di bawah 12 bulan. Prevalensi regurgitasi paling tinggi pada bulan pertama kehidupan dan mengalami penurunan seiring bertambah usianya bayi. Diagnosis regurgitasi menggunakan kriteria Rome IV berdasarkan gejala klinis. Tata laksana utama adalah parental reassurance untuk meyakinkan orang tua bahwa regurgitasi merupakan proses fisiologis. Hingga saat ini, belum ditemukan penelitian yang mencari tahu pengetahuan dan perilaku ibu mengenai regurgitasi pada bayi dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Penelitian ini berusaha untuk mencari tahu lebih lanjut. Kuesioner pengetahuan dan perilaku ibu terhadap regurgitasi pada bayi dibagikan kepada ibu-ibu dengan bayi di bawah 12 bulan. Hasil kuesioner dianalisis dengan SPSS 20.0 untuk mencari hubungan kedua skor dengan faktor ibu, yaitu usia ibu, tingkat pendidikan, status sosioekonomi, dan jumlah anak. Prevalensi regurgitasi pada bayi berusia 0-12 bulan berdasarkan kriteria Rome IV adalah 15% dan berkurang seiring bertambahnya usia bayi. Median skor pengetahuan adalah 12 dari total 12 poin dan perilaku adalah 8 dari total 12 poin. Tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara faktor ibu yang diuji dalam penelitian ini dengan pengetahuan dan perilaku ibu mengentai regurgitasi pada bayi. Edukasi penanganan regurgitasi perlu diberikan kepada masyarakat mengingat tingkat perilaku masih memerlukan pemahaman tambahan.

Regurgitation is the most frequently found functional gastrointestinal disorder on infants under 12 months old. It is most prevalent on the first months of life and declines as infant gets older. Diagnosis is made by using the Rome IV criteria. Main treatment for regurgitation is reassuring the parents that regurgitation is a physiological process. Until now, there is no study on the knowledge and behavior of mothers regarding infantile regurgitation and its related factors. This study attempts to find out more around this topic. Questionnaire about the knowledge and behaviour of mothers regarding infantile regurgitation is distributed to mothers with infants under 12 months old. Both scores are analyzed using SPSS 20.0 to find the relationship with maternal factors, such as age, education level, socioeconomic status, and number of children. The prevalence of infantile regurgitation according to Rome IV criteria is 15% and decreases as infant gets older. The median of the knowledge score is 12 out of 12 points and the behavios score is 8 out of 12 points. No significant relationship is found between maternal factors and both the knowledge and behavior score. Further education on treatment for regurgitation is still needed."
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia , 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Billy Pramatirta
"

Latar Belakang: Kolik infantil adalah suatu gangguan saluran cerna fungsional bayi

usia 0 – 5 bulan yang meliputi periode menangis yang lama serta sulit untuk
ditenangkan. Meskipun kolik infantil biasanya akan hilang dengan sendirinya, kolik
infantil menjadi sumber masalah bagi bayi, orang tua, dan petugas kesehatan.
Pengetahuan dan perilaku ibu terkait kolik infantil di Indonesia belum pernah
dilaporkan sehingga penelitian ini hendak mencari tingkat pengetahuan dan perilaku ibu
serta faktor-faktor yang berhubungan.
Tujuan: Mengetahui prevalensi kolik infantil serta tingkat pengetahuan dan perilaku
ibu terhadap kolik infantil.
Metode: Penelitian ini merupakan studi observasi cross-sectional analitik. Kuesioner
untuk menilai pengetahuan dan perilaku ibu terhadap kolik infantil dibagikan kepada
sampel yang dipilih secara acak. Nilai pengetahuan dan perilaku ibu kemudian
dianalisis dengan faktor demografis usia ibu, status sosioekonomi, dan jumlah anak.
Hasil: Prevalensi kolik infantil ditemukan sebesar 13,1%. Nilai median dan IQR
pengetahuan ibu terhadap kolik infantil adalah 8 (2) dari skor maksimal 12, sedangkan
nilai median dan IQR perilaku ibu terhadap kolik infantil adalah 10 (2) dari skor
maksimal 14. Nilai pengetahuan ibu ditemukan berbeda secara signifikan pada faktor
sosioekonomi. Ibu dengan status sosioekonomi atas memiliki skor pengetahuan 10 (2)
dibandingkan ibu dengan status sosioekonomi menengah dengan skor 8 (4).
Kesimpulan: Pengetahuan ibu ditemukan berbeda bermakna pada status sosioekonomi
ibu yang berbeda. Masih terdapat pengetahuan dan perilaku ibu yang belum tepat terkait
kolik infantil sehingga dapat menjadi bahan edukasi bagi tenaga kesehatan untuk
meningkatkan kesadaran ibu tentang kolik infantil.

 


Background: Infantile colic is a functional gastrointestinal disorder (FGID) of aged 0 –

5 months babies that consists of a prolonged and hard-to-soothe crying period. Although
infantile colic will naturally stop, it is a known source of problem for the baby, parents,
and health workers. Knowledge and attitude of mothers on infantile colic in Indonesia
have never been reported before, thus this study will assess mother’s knowledge and
attitude about infantile colic and related factors that may influence them.
Goal: To find out prevalence of infantile colic and knowledge and attitude of mother on
infantile colic.
Methods: This study was an observational analytical cross-sectional study.
Questionnaires to evaluate knowledge and attitude of mothers toward infantile colic
were given to randomly assigned samples. Score of mother’s knowledge and attitude
were analyzed with demographic factors, such as mother’s age, socioeconomic status,
and number of children.
Results: Infantile colic prevalence was found to be 13.1%. The median and IQR of
mother’s knowledge score was 8 (2) from maximal score of 12 while the median and
IQR of mother’s attitude score was 10 (2) from maximal score of 14. A statistically
significant difference was found on mother’s knowledge with different socioeconomic
status. Mothers with high socioeconomic status had knowledge score of 10 (2)
compared to low socioeconomic status mothers who had knowledge score of 8 (4).
Conclusion: Socioeconomic factor was found to be a significant factor affecting
mother’s knowledge on infantile colic. However, there are some points of knowledge
and attitude of mothers that were not correct. These points should be addressed by
physicians and considered in giving education for mothers to improve their knowledge
and attitude on infantile colic.

 

"
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia , 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Mega Yunita
"

Konstipasi fungsional merupakan salah satu gangguan saluran cerna fungsional yang cukup sering ditemukan pada bayi dengan prevalensi 0,7% - 29,6%. Tidak jarang ibu membawa bayinya ke dokter karena gangguan buang air besar. Indonesia juga merupakan sebuah negara multikultur dan memiliki populasi yang beragam. Pengetahuan dan perilaku ibu mengenai konstipasi fungsional juga masih belum banyak diteliti. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi konstipasi fungsional serta tingkat pengetahuan dan perilaku ibu terhadap konstipasi fungsional juga faktor-faktor yang memengaruhinya. Data pada penelitian ini didapat dari kuesioner yang disebarkan secara daring kepada seratus ibu yang telah dipilih secara acak yang melahirkan atau berkunjung ke Poliklinik Anak RS Premier Bintaro, Tangerang Selatan. Analisis yang digunakan adalah analisis bivariat antara masing-masing faktor terhadap pengetahuan atau perilaku ibu. Peneliti mendapatkan 51 dari 100 bayi (51%) mengalami gangguan buang air besar dan 24 diantaranya (24%) terdiagnosis konstipasi fungsional berdasarkan Kriteria Roma IV. Nilai median untuk pengetahuan dan perilaku ibu terhadap konstipasi fungsional secara berurutan adalah 10 dan 12 dari nilai maksimal 12 dan 14. Peneliti tidak menemukan hubungan bermakna antara faktor usia ibu, pendidikan ibu, status sosioekonomi keluarga, dan jumlah anak dengan pengetahuan dan perilaku ibu terhadap konstipasi fungsional. 


Functional constipation is one of functional gastrointestinal disorders that has high prevalence in baby with prevalence 0,7% - 29,6%. Mothers often bring their children to the practicer because of the defecation problems. In another side, Indonesia is a multicultural country that has different kinds of population. Information about mothers’ knowledge and therapeutic approach to functional constipation are still limited. Aim of this research is to discover the prevalence of functional constipation and mothers’ knowledge and theurapeutic approach to functional constipation with the related factors. The data is collected from online questionnaire that distributed to a hundred mothers that have been randomly selected from those who gave birth or visit children polyclinic. Researcher is using bivariate analysis to analyze each variable to knowledge and therapeutic approach. Researcher gets 51 from 100 baby (51%) have defecation problem and 24 among them (24%) diagnosed with functional constipation due to Rome Criteria IV. Median of mothers’ knowledge and therapeutic approach is 10 and 12 with maximum score is 12 and 14 respectively. There are no significant relationship between mothers’ and education, family sosioeconomic status, and number of children with mothers’ knowledge and therapeutic approach to functional constipation. 

"
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia , 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Prihatini Dini Novitasari
"Salah satu prioritas Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024 yakni menurunkan prevalensi stunting pada baduta menjadi 14% di tahun 2024. Namun, hingga kini prevalensi stunting di Indonesia masih jauh dari target dan upaya yang dilakukan khususnya skrining stunting belum melibatkan deteksi faktor risiko stunting. Di sisi lain, fase seribu hari pertama kehidupan sangat esensial bagi kehidupan anak kedepannya, termasuk status kesehatan dan gizinya. Untuk itu, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan antara status kesehatan dan gizi selama seribu hari pertama kehidupan dan stunting pada anak usia 0-23 bulan. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional untuk menganalisis data sekunder Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 pada 6554 anak usia 0-23 bulan dan ibunya yang terbagi menjadi 3 kelompok, yakni usia 0-5 bulan, 6-11 bulan, dan 12-23 bulan dan dianalisis menggunakan analisis regresi logistik ganda. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa BBLR dan riwayat IMD berhubungan signifikan dengan stunting pada anak usia 0-5 bulan, sedangkan usia gestasi dan waktu pertama MP-ASI berhubungan signifikan stunting pada anak usia 6-11 bulan (p-value <0,05). Di sisi lain, faktor yang berhubungan signifikan dengan stunting pada anak usia 12-23 bulan yakni BBLR dan panjang lahir (p-value <0,05). Selanjutnya, faktor yang paling dominan mempengaruhi stunting pada anak usia 0-5 bulan, 6-11 bulan, dan 12-23 bulan secara berturut-turut yakni BBLR (OR 2,557; 95%CI: 1,126 – 5,806), usia gestasi ketika lahir (OR 1,485; 95%CI: 1,048 – 2,104), dan panjang lahir (OR 1,692; 95%CI: 1,323 – 2,165). Jadi, BBLR, prematur, dan lahir pendek menjadi faktor yang paling berpengaruh terhadap kejadian stunting pada anak usia 0-23 bulan dan sebaiknya skrining/deteksi stunting dilakukan secara berkala dengan melibatkan berbagai faktor risiko tersebut.

One of the priorities of the 2020-2024 National Medium-Term Development Plan (RPJMN) is to reduce the prevalence of stunting in under-fives to 14% in 2024. However, until now the prevalence of stunting in Indonesia is still far from the target and the efforts being made specifically for stunting screening have not involved risk factor of stunting. On the other hand, the phase of the first thousand days of life is essential for children's future life, including their health and nutritional status. For this reason, this study aims to identify the relationship between health and nutritional status during the first thousand days of life and stunting in children aged 0-23 months. This study used a cross-sectional design to analyze secondary data from the Basic Health Research (Riskesdas) 2018 on 6554 children aged 0-23 months and their mothers divided into 3 groups of age, such as 0-5 months, 6-11 months, and 12-23 months and analyzed using multiple logistic regression analysis. The results of this study indicate that LBW and history of early initiation of breastfeeding are significantly related to stunting in children aged 0-5 months, while gestational age and the time of first complementary breastfeeding are significantly related to stunting in children aged 6-11 months (p-value <0.05). On the other hand, factors that are significantly related to stunting in children aged 12-23 months are LBW and birth length (p-value <0.05). Furthermore, the most dominant factors influencing stunting in children aged 0-5 months, 6-11 months, and 12-23 months respectively are LBW (OR 2,557; 95% CI: 1,126 – 5,806), gestational age at birth (OR 1,485; 95% CI: 1,048 – 2,104), and birth length (OR 1,692; 95% CI: 1,323 – 2,165). So, LBW, premature and short birth length are the factors that most influence the incidence of stunting in children aged 0-23 months and the screening of stunting should be carried out regularly by involving these various risk factors."
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2022
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nurulhuda Arfiyani
"Pemberian ASI yang tidak optimal memberi andil terhadap terjadinya 45% kematian akibat infeksi neonatal, 30% kematian akibat diare dan 18% akibat infeksi saluran napas pada balita. Di negara berkembang, sekitar seperempat sampai setengah dari kematian di tahun pertama kehidupan terjadi dalam minggu pertama kelahiran. Banyak intervensi yang dapat meningkatkan kesehatan dan kelangsungan hidup bayi baru lahir dengan biaya yang relatif rendah dan layak untuk diimplementasikan, salah satunya adalah pelaksanaan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dan ASI Eksklusif pada minggu pertama kelahiran.
Tujuan penelitian ini ingin mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan Pemberian ASI Eksklusif pada tujuh hari pertama kelahiran di wilayah Puskesmas Kecamatan Tanjung Priuk Jakarta Utara. Desain penelitian adalah cross sectional dengan sampel penelitian 79 responden. Populasi pada penelitian ini adalah ibu yang memiliki bayi usia tujuh hari di wilayah Puskesmas Kecamatan Tanjung Priuk.
Hasil penelitian menunjukkan tidak ada satu pun hubungan yang bermakna antara pemberian ASI Eksklusif pada tujuh hari pertama kelahiran dengan umur, pendidikan, pekerjaan, paritas, pengetahuan, IMD, dukungan suami dan dukungan petugas kesehatan.

An Unoptimized ways of breastfeeding have played the role in 45% baby mortality of neonatal infection, 30% mortality of diarrhea and 18% mortality of respiratory tract infection. In developing countries, more than 25% mortality within one year lifespan occur in the first week of birth. There are so many ways of intervention that could increase the health and surviving chance of the newbornn with relatively inexpexsive method, which are also very much worth to be implemented. Early Initiation of Breastfeeding and Exclusive breastfeed within first week of birth are those methods mentioned above.
The objective of this research is understanding the factors of giving exclusive breastfeed within first seven days of birth in North Jakarta Kecamatan Tanjung Priok Public Health Center area. Design of this research is cross sectional with 79 respondents research sample. The population is mothers with seven days old baby within the said hospital area.
The result of the research conclude that there are not even one significant relation between giving exclusive breastfeed within first seven days of birth with age, education, occupation, parity, knowledge, Early Initiate Of Breastfeeding, spouse's support and medical attendant’s support.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2014
S53846
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rahmi Winandari
"Dalam merencanakan suatu pelayanan kesehatan yang dikehendaki dan dapat dijangkau sesuai kemampuan masyarakat perlu dipertimbangkan demand masyarakat terhadap pelayanan kesehatan. Demand terhadap pelayanan kesehatan berfungsi untuk mengetahui pola pemanfaatan pelayanan kesehatan dan faktor-faktor apa yang mempengaruhi pemanfaatan pelayanan kesehatan oleh pemakainya.
Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi tentang demand ibu hamil terhadap pertolongan persalinan di Kabupaten Bogor serta ingin mengetahui faktor predisposisi dan faktor kemampuan yang berhubungan dengan demand tersebut. Dipilihnya Kabupaten Bogor sebagai lokasi penelitian adalah untuk meningkatkan pelayanan pertolongan persaiinan dalam rangka menurunkan Angka Kematian Ibu {AKI). Penelitian ini menggunakan rancangan survey cepat dan memakai kuesioner untuk wawancara dalam pengumpulan data terhadap 218 ibu hamil yang telah dipilih. Dilakukan pengambilan sampel dua tahap yaitu kluster yang dipilih dengan cara "probability proportional size" dan metode EPI untuk pemilihan rumah tangga dengan responden yang memenuhi kriteria. Tehnik analisis yang digunakan adalah uji chi-square dan uji anova.
Dari penelitian ini diperoleh hasil bahwa demand yang tertinggi dari ibu hamil terhadap pertolongan persalinan adalah persalinan oleh tenaga non kesehatan yaitu sebesar 46,33 % (95 % CI 39 % - 53 %). Demand terendah adalah persalinan ditolong tenaga kesehatan di pelayanan kesehatan pemerintah yaitu 8.72 % (95 % Cl 6% - 12 %) . Faktor predisposisi yang berhubungan dengan demand tersebut adalah pendidikan dan pekerjaan ibu dan kepala keluarga serta sikap terhadap pertolongan persalinan. Semakin rendah tingkat pendidikan, semakin tidak bekerja ibu dan semakin tidak tetap pekerjaan kepala keluarga serta semakin rendah nilai sikap terhadap pertolongan persalinan maka demand pertolongan persalinannya lebih mengarah kepada tenaga non kesehatan. Sedangkan faktor kemampuan yang berhubungan dengan demand pertolongan persalinan adalah pengeluaran rumah tangga per bulan, sumber biaya, jarak, dan biaya pelayanan. Semakin pengeluaran keluarga rendah, sumber pembiayaan pertolongan persalinannya "old of pocket", dan biaya pelayanan untuk pertolongan persalinan rendah maka demand pertolongan persalinannya cenderung kepada tenaga non kesehatan. Untuk mereka yang tidak memilih pertolongan persalinan di rumah maka jarak menentukan demand pertolongan persalinannya. Pelayanan kesehatan swasta lebih dipilih responden karena jarak yang lebih dekat dan waktu yang lebih sedikit dibandingkan ke pelayanan kesehatan pemerintah.
Beberapa upaya yang dapat dilakukan dalam rangka peningkatan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yaitu perlunya keterlibatan Pemerintah Daerah termasuk peran serta masyarakat dalam upaya peningkatan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yaitu dengan program Gerakan Sayang Ibu. Meningkatkan penyuluhan dengan pendekatan pada Kelompok Peminat Kesehatan Ibu dan Anak (KPKIA), mengupayakan adanya jaminan pemeliharaan kesehatan dalam pertolongan persalinan, meningkatkan kemitraan antara tenaga non kesehatan dan tenaga kesehatan dalam pertolongan persalinan serta meningkatkan kinerja bidan di desa dalam pertolongan persalinan di rumah.

The Demand of Pregnant Mothers for the Birth Delivery Service and Factors Related, in the District of Bogor, 2002An expected and accessible health care planning needs to consider the public's demand for the health care. Demand for health care is used to assess the pattern of health service utilization and its determinant factors.
The research was aimed to obtain information of the demand of pregnant mothers for the birth delivery service in the District of Bogor, and also to assess the predisposing and enabling factors dealing with the demand itself. This study used a rapid survey design. Data collection was conducted by using questionnaire for interviewing 218 selected pregnant mothers. Two-step sampling method was used that is cluster sampling which selected base on probability proportional size (PPS) and EPI method to select the household with respondents that suitable with the criteria. In this study, the technical analysis used was a chi-square and anova test.
The results of this study showed that the highest demand of pregnant mothers for the birth delivery service conducted by traditional attendant was 46.33% (95% CI 39%--53%). Meanwhile, the lowest demand for the birth delivery service conducted by health provider at the government health facilities was 8.72 % (95% CI 6%--12%). Predisposing factors related to such demand were education, occupation of pregnant mothers and their husband, as well as their attitude towards the birth delivery service. The lower the educational level, the more the unemployed mothers, the more non-permanent husband's job, and the lower the mother's attitude to the birth delivery service, so demand for the birth delivery service the more concern to the birth traditional attendant. Hence, powerful factors related to the demand for birth delivery service were monthly household expenditure, income sources, distance, and tariff. The lower the household expenditure, income source that is out of pocket and the lower the tariff, so the demand for the birth delivery tends to the birth traditional attendant. For those who did not choose the birth delivery at home, so the distance determined their demand for the birth delivery service. Private health care was more favorable by respondents because the nearer distance used in comparison with government health care.
Some efforts could probably be conducted to improve the birth delivery service done by health provider are local government and community participation in line with Friendly Mother Movement program, to maintain the campaign (communication, information, and education) towards the Mother and Child Health Group, to make possible the availability of social security in the birth delivery service, to maintain the partnership between health provider and non-health provider (birth traditional attendant) in delivering services, and to improve the performance of village midwife in conducting birth delivery service at home.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2002
T10817
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>