Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 193102 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Basharat Ahmad, Author
"ABSTRAK
PT Bursa Efek Jakarta (BEJ) mulai tanggal 3 Januari 2005 menetapkan kebijakan baru fraksi harga saham, yaitu menambah satu fraksi harga Rp 10,- dari sebelumnya yang berlaku tiga fraksi saham yakni Rp 5,-, Rp 25,- dan Rp 50,-. Tujuan kebijakan fraksi saham ini menurut Direktur Utama BEJ adalah untuk meningkatkan likuiditas bursa sekaligus menambah pendapatan BEJ. Fraksi harga Rp 10,- tersebut diberlakukan terhadap kelompok saham dengan harga Rp 500,- sampai dengan kurang dari Rp 2.000,-, sehingga terjadi penurunati fraksi harga bagi kelompok saham tersebut yaitu dari sebelumnya Rp 25,- menjadi Rp 10,-.
Karya akhir ini mempunyai tiga tujuan utama yaitu meneliti dampak penurunan fraksi harga saham tersebut terhadap (I) likuiditas, (2) strategi order dan (3) aktivitas perdagangan di BEJ. Likuiditas dalam penelitian ini adalah kemampuan untuk bertransaksi dalam jumlah besar secara cepat, dengan biaya rendah tanpa memengaruhi harga. Mengikuti penelitian-penelitian sebelumnya, ukuran likuiditas dalam penelitian ini adalah spread dan depth. Strategi order yang diteliti adalah perubahan strategi dari limit order ke market order dan perubahan order size yang diberikan pelaku pasar. Sedangkan aktivitas perdagangan diukur dengan frekuensi, volume dan nilai perdagangan.
Hasil penelitian pada karya akhir ini menunjukkan bahwa nominal spread dan relative spread menurun secara signifikan setelah penurunan fraksi harga saham. Namun demikian depth juga turun secara signifikan. Penurunan spread dapat diartikan sebagai peningkatan likuiditas karena menurunnya biaya immediacy; sedangkan penurunan depth dapat diartikan sebagai penurunan likuiditas karena menurunnya kemampuan untuk bertransaksi dalam jumlah besar tanpa memengaruhi harga.
Karena penurunan spread dan depth mempunyai arti yang saling bertentangan terhadap likuiditas, maka penelitian ini mengukur dampak terhadap likuiditas secara keseluruhan dengan mengikuti penelitian empiris sebelumnya yaitu menggunakan rasio depth-to-spread. Penelitian ini menemukan penurunan yang signifikan pada rasio depth-tospread setelah penurunan fraksi harga. Hal ini dapat diartikan bahwa penurunan depth (penurunan likuiditas) adalah lebih besar dibandingkan penurunan spread (peningkatan likuiditas). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa secara keseluruhan penurunan fraksi harga tidak meningkatkan likuiditas.
Quote Matchers mengambil kesempatan dengan semakin kecilnya fraksi harga. Mereka dapat memberikan order dengan harga yang sedikit lebih tinggi ketika ingin membeli atau sedikit lebih rendah ketika ingin menjual untuk mendahului order yang terlebih dahulu masuk. Untuk mengatasi para quote matcher, limit order traders akan menyembunyikan order mereka, memecah order atau merubah strategi limit order ke market order. Penelitian ini menemukan penurunan yang signifikan pada jumlah order (order size) yang diberikan investor setelah penurunan fraksi harga saham. Hal ini diduga sebagai strategi investor menyembunyikan order mereka dengan cara memecah order untuk mengatasi masalah quote matching yang timbul akibat fraksi harga yang semakin kecil.
Untuk mengukur apakah investor merubah strategi limit order menjadi market order penelitian ini menggunakan relative marketable limit order yaitu rasio volume marketable limit order dibagi total order yang masuk. Penelitian ini menemukan kenaikan yang signifikan pada relative marketable limit order. Hal ini berarti tetjadi peningkatan proporsi market order pada total order yang diberikan investor. Hal ini diduga sebagai perubahan strategi order investor dari limit order ke market order
Penelitian ini menemukan harga saham sebagai faktor yang membedakan dampak penurunan fraksi harga terhadap aktivitas perdagangan. Kelompok saham harga rendah mengalami kenaikan yang signifikan pada frekuensi, volume dan nilai perdagangan. Sedangkan kelompok saham harga tinggi walaupun terjadi peningkatan aktivitas perdagangan namun tidak signifikan. Penjelasan yang mungkin tepat adalah penurunan fraksi harga menyebabkan turunnya spread yang berarti menurunnya biaya transaksi. Penurunan biaya transaksi tersebut relatif cukup berarti bagi kelompok saham harga rendah sehingga meningkatkan aktivitas perdagangan. Sedangkan bagi kelompok saham harga tinggi penurunan biaya transaksi tersebut relatif tidak berarti untuk meningkatkan aktivitas
perdagangan.
Temuan pada penelitian ini memberikan beberapa implikasi. Bagi BEJ penurunan fraksi harga berhasil menaikan aktivitas perdagangan terutama untuk saham dengan harga rendah sehingga meningkatkan pendapatan BEJ. Bagi para investor, penurunan fraksi harga mempunyai implikasi yang beragam. Penurunan spread berarti menurunnya biaya immediacy. Namun penurunan depth menyebabkan menurunnya kemampuan untuk bertransaksi dalam jumlah besar tanpa memengaruhi harga. Dengan demikian penurunan fraksi harga menyebabkan saham-saham menjadi lebih likuid bagi investor yang bertransaksi dalam jumlah kecil namun menjadi kurang likuid bagi investor yang bertransaksi dalam jumlah besar. Penurunan fraksi harga juga menimbulkan masalah quote matching strategy. Hal ini ditanggapi oleh investor dengan cara memecah order mereka yaitu dengan jalan menurunkan order size mereka dan lebih memilih menggunakan market order dibanding limit order. Bagi para akademisi hasil penelitian ini semakin menguatkan kesimpulan bahwa penurunan fraksi harga saham akan menurunkan spread dan depth. Selain itu hasil penelitian ini memperluas studi empiris mengenai pengaruh penurunan fraksi harga saham terhadap strategi order yang dilakukan investor."
2005
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
"The aim of this research are to analyze the impact of declining tick size toward stock liquidity and changes of order strategy. Relative bid ask spread and bid ask depth were used for analyzing stock liquidity. Whether Marketable Limit Order to Total Order was maintained to analyze the changes of order strategy. The result implies that relative spread decrease after tick size declining policy and stock more liquid. But, declining of depth can not raise tock liquidity. Comparation between depth and relative spread was maintained for solving opposite results of soread. The finding is there is no significant of liquidity. deterioration of relative spread result in cheaper cost of transaction and stock execution faster than before. Therefore traders are able to change strategy from limit order to market order."
657 JATI 7:2 (2008)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Yasmina Sofyan
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2001
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Erni Sukmadini Asikin
"ABSTRAK
PT. Bursa Efek Jakarta (BEJ) menetapkan kebijakan baru fraksi` harga saham yang mulai diberlakukan pada tanggal 2 Januari 2007. Kebijakan tersebut merupakan penambahan fraksi harga Rp. 1,- dari sebelumnya yang berlaku empat fraksi harga yakni Rp. 5,-, Rp. 10., Rp. 2S,- dan Rp. 50,-. Sehingga terjadi penurunan fraksi harga terhadap kelompok saham dengan harga kurang dari Rp. 200.
Penelitian ini bertujuan untuk (1) menganalisa dampak penurunan fraksi harga terhadap marker efficiency coeficient (AEC) dan execution costs dan (2) mempelajari marker efficiency coeficfient (MEC) dan execution costs di Bursa Efek Jakarta Serta faktor-faktor yang mempengaruhinya.
Penelitian menggunakan data transaksi dan data harian 60 saham yang terpilih sebagai sampel. Periode yang digunakan adalah sejak 1 November 2006 hingga 28 Februari 2007. Interval pengamatan (interval waktu transaksi) yang digunakan adalah setiap 30 menit.
Hasil penelitian menunjukkan rerata market efficiency coeficient (MEC) meningkat secara signifikan setelah dibelakukannya kebijakan fraksi harga. Sedangkan rerata execution costs menurun setelah diberlakukannya kebijakan fraksi harga minimum. Meningkatnya MEC dan menurunnya execution costs akibat dampak penurunan fraksi harga mengimplikasikan bahwa terjadi peningkatan likuiditas sejak diberlakukan kebijakan baru fraksi harga di Bursa Efek Jakarta (BEJ).
Faktor-faktor yang mempengaruhi market ejiciency coeficient (MEC) secara signifikan adalah volume dan kebijakan penurunan fraksi harga. Sedangkan harga dan varians tidak berpengaruh nyata terhadap marker eficiency coeficient (MEC). MEC meningkat sebagai dampak dari penurunan fraksi harga. Faktor-faktor yang mempengaruhi execution costs secara signifikan adalah harga, volume, varians dan perubahan atau penurunan fraksi harga saham. Penurunan fraksi harga minimum memberikan dampak yang signifikan terhadap turunnya execution costs.

ABSTRACT
On January 2, 2007, the Jakarta Stock Exchange (JSX) implemented a new tick size of Rp. 1,- in addition to the extant Rp. 5, Rp. 10, Rp. 25, and Rp. 50 tick sizes. This new tick size affects shares price below Rp. 200, for these shares were previously traded with Rp. 5 tick size.
The main purpose of this research is (l) to analysis the impact of reduction in minimum tick size on market efficiency coefficient (MEC) and execution costs; (2) to observe on market efliciency coefficient (MEC) and execution costs and to find the factors that influence them.
It uses 60 stocks daily data and intraday data of 30 minutes interval. We examine the impact of a reduction in minimum tick size for November, 2006 until February 2007.
Using z-tests this study finds the new policy significantly reduces execution costs and increases market efficiency coefficient (MEC). Therefore the Jakarta Stock Exchange (JSX)?s policy succeed to increase the liquidity.
The result of estimation of market efficiency coefficient (MEC) using cross-sectional regressions are different from I-I0 for volume and tick size reduction. Meanwhile price and variance of return are not statistically significant.
The result of estimation of execution costs is all of the variable parameters: price, volume, variance of return and tick size reduction are statistically significant."
Depok: 2007
T32866
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Antonius Budi Atmoko
"Mekanisme perdagangan yang digunakan pada setiap pasar modal akan mempengaruhi proses pembentukan harga. Kebijakan fraksi harga merupakan salah satu bentuk pengaturan mekanisme perdagangan yang akan mengubah perilaku pembentukan harga. Fraksi harga merupakan satuan perubahan minimum yang ditetapkan dalam suatu pasar reguler. Bursa Efek Jakarta merupakan suatu bursa yang menganut bentuk pasar yang quote driven, BEJ mengeluarkan kebijakan perubahan fraksi harga pada tanggal 3 Juli 2000 dari Rp.25,- menjadi Rp.5,- untuk seluruh jenis saham yang diperdagangkan. Tujuan kebijakan ini adalah meningkatkan likuiditas dan menurunkan volatilitas perdagangan.
Kebijakan ini dilakukan pada saat bursa mengalami penurunan volume transaksi yang sangat drastis. Polemik merebak diantara pelaku pasar yang mendukung maupun meminta peninjauan kebijakan ini. Sebagian pelaku pasar beranggapan kebijakan ini menyebabkan pasar menjadi semakin tidak bergairah dan tidak menarik lagi.
Likuiditas pasar merupakan suatu istilah yang sulit untuk didefinisikan dan diukur. Secara umum, likuiditas pasar merupakan suatu sifat yang menunjukkan kemudahan dan kecepatan untuk mengubah bentuk suatu instrumen keuangan ke dalam bentuk lainnya dalam biaya yang normal. Penelitian ini menggunakan market spread, market depth dan volume transaksi sebagai indikator likuiditas pasar.
Hasil penelitian menunjukkan adanya ketidaktepatan kebijakan dengan menyamaratakan fraksi harga untuk seluruh jenis saham. Pada saham dengan harga tinggi rnenghasilkan penurunan likuiditas untuk ketiga indikator. Keiompok saham dengan harga diantara Rp.500,~ - Rp.5.000,- memiliki potensi peningkatan harga dengan kebijakan ini namun rendahnya fraksi menyebabkan kondisi yang diharapkan tidak terjadi. Pada keiompok harga terendah, terjadi peningkatan likuiditas walaupun kondisi ini lebih disebabkan oleh faktor lain di luar fraksi harga."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2001
T274
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Irwan Adi Ekaputra
"Companies often split their stocks to adjust prices and increase liquidity. This paper investigates the impact of stock split on stock liquidity in the Jakarta Stock Exchange. Liquidity Is measured using two Interrelated proxies. First, we use relative bid-ask spread (RS) to measure two-dimension liquidity: immediacy and width. Second, we use depth to relative spread (DTPS) ratio to measure the more complete or three-dimension liquidity: immediacy, width.and depth. We deduce the impact of stock split on liquidity will depend on the tick size after the split. To examine, we divide the sample into two groups. The first group consists of stocks experiencing tick size decline, white the second group consists of stocks traded using the same tick size after the split. Our investigations confirm that stock split enhances two-dimension liquidity, only if the split reduces stock tick size. In other words, stock split does not improve two-dimension liquidity if it does not decrease the tick size. Moreover, because of market depth and relative spread trade-off, stock split does not promote three-dimension liquidity, regardless of its effect on the tick size."
2006
MUIN-XXXV-12-Des2006-20
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Girsang, Jan Elisa Barmen Purba
"ABSTRAK
Studi ini mempelajari perilaku order investor di dalam memasukkan order dan dalam bertransaksi di Bursa Efek Jakarta pada periode sebelum dan sesudah penurunan fraksi harga dari Rp.25 menjadi Rp.l 0. Penurunan fraksi harga yang berlaku sejak 3 Januari 2005 tersebut mempengaruhi saham-saham dengan harga antara Rp.500 sampai dengan kurang dari Rp.2.000.
Penulis tertarik mempelajari perilaku investor tersebut karena ada sebagian pelaku pasar yang menyatakan fraksi harga Rp.l 0 terlalu kecil untuk saham dengan harga diatas Rp.l 000, dan menginginkan agar saham yang harganya di atas Rp.l 000 tetap dengan fraksi harga Rp.25.
Untuk menjawab pendapat sebagian pelaku pasar tersebut, penulis membagi kelompok saham menjadi kelompok harga rendah yaitu harga saham Rp.500 sampai dengan kurang dari Rp.l 000 dan kelompok harga tinggi yaitu harga saham Rp.l 000 sampai dengan kurang dari Rp.2000. Dan masing-masing kelompok harga saham tersebut dibagi menjadi dua sisi pasar yaitu sisi beli dan sisi jual.
Tulisan ini mengupas perubahan perilaku perilaku investor dalam memasukkan order, mengubah order atau membatalkan order dan perilaku transaksi investor dalam bentuk marketable limit order maupun transaksi match yaitu order yang seluruh volumenya dieksekusi, akibat dari penurunan fraksi harga tersebut pada periode observasi tanggal 1 Nopember 2004 sampai dengan 30 Desember 2004 atau selama 38 hari bursa (periode sebelum fraksi harga diubah) dan periode observasi tanggal 3 Januari 2005 sampai dengan 28 Februari 2005 atau selama 38 hari bursa (periode setelah fraksi harga diturunkan).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penurunan fraksi harga tersebut mengakibatkan investor semakin sering memasukkan order, mengubah order dan aktivitas transaksi meningkat. Namun di lain pihak, penurunan fraksi harga tersebut mengakibatkan volume per order mengecil dan perilaku membatalkan order meningkat, hal ini membuat penyediaan likuiditas di pasar menipis. Penurunan fraksi harga tersebut juga mengakibatkan investor semakin sering bertransaksi dengan menggunakan marketable limit order dan transaksi match lebih sering terjadi.
Studi ini juga membuktikan tidak ada perbedaan perilaku investor dalam bertransaksi dan memasukkan order pada kelompok saham Rp.500 sampai dengan kurang dari Rp.l.000 dan kelompok saham harga Rp.l 000 sampai dengan kurang dari Rp.2000, baik posisi be!i maupun posisi jual.
Studi ini menyarankan agar Bursa Efek Jakarta (BEJ) memanfatkan kesempatan perubahan perilalu investor tersebut untuk meningkatkan jumlah perusahaan yang mencatatkan sahamnya di bursa dan meningkatkan jumlah investor, tidak hanya investor yang berdomisili di Jakarta. Selain itu studi ini menyarankan agar BEJ mempelajari pengaruh penurunan fraksi harga tersebut terhadap investor korporasi yang biasa bertransaksi dalam jumlah besar karena penyediaan likuiditas temyata menipis akibat penurunan fraksi harga tersebut dan mengakibatkan investor korporasi akan semakin kesulitan dalam memecah order dan melakukan transaksi tanpa mengakibatkan terjadinya perubahan harga.
"
2005
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Okta Zuriani Eka Putri
"Stock split dilakukan oleh manajemen perusahaan dengan berbagai tujuan, antara lain untuk mempertahankan harga saham pada kisaran yang optimal, memberikan sinyal mengenai prospek saham di masa yang akan datang dan untuk meningkatkan likuiditas saham.
Tujuan penelitian yang dilakukan oleh penulis ini adalah untuk mengetahui apakah terjadi peningkatan likuiditas saham setelah stock split diberlakukan di Bursa Efek Jakarta (BEJ) dengan menggunakan parameter depth to spread.
Objek dari penelitian ini adalah saham-saham yang melakukan stock split di Bursa Efek Jakarta dari Januari 2002 sampai dengan Juli 2005. Data dalam penelilian ini dianalisis menggunakan uji beda rerata dan regresi model.
Pada penelitian ini penulis mendapatkan :
1. Terdapat penurunan likuiditas saham sampel yang berubah fraksi harga sahamnya setelah split.
2. Event stock split tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap likuiditas setelah dikontrol dengan variabel lainnya.

Stock split is done by corporate managements with the purposes are optimal price trading range, signaling future prospect and to improve the liquidity of their stocks.
The aim of his study is to prove is there an improvement of stock?s liquidity alter stock split event at Jakarta Stock Exchange, by using depth to spread as parameter.
The object of this study are shares that done stock split at Jakarta Stock Exchange from January 2002 until July 2005. The data analyzed by compare mean test and regress the models.
The result of this study are :
1. There is a decrease in liquidity of stock which has tick size changed alter split.
2. The event of stock split doesn?t have any effect to stock?s liquidity after there was controlled by another variables.
"
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2006
T17001
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sally Dwijayanti
"Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas mekanisme suspensi yang diterapkan oleh Bursa Efek Jakarta (BEJ) untuk mengurangi volatilitas return. Penelitian dilakukan terhadap saham-saham yang mengalami penghentian sementara perdagangan (suspensi) karena adanya pergerakan yang dianggap signifikan oleh BEJ sepanjang tahun 2004. Adapun periode pengamatan adalah sate hari perdagangan sebelum dan satu hari perdagangan setelah suspensi. Pengamatan akan dilakukan dengan data intrahari. Setiap satu hari perdagangan akan dibagi menjadi interval 30 menit sehingga terbentuk 10 interval.
Variabel yang diuji dalam penelitian ini meliputi volatilitas return, bid-ask spread relatif, depth to relative spread, serta nilai transaksi. Pengujian atas data-data yang dikumpulkan sepanjang periode penelitian dilakukan dengan metode statistika non parametrik maupun statistika parametrik, yaitu dengan analisis wilcoxon signed ranks test serta analisis regresi, baik regresi sederhana maupun regresi berganda.
Penelitian ini membuktikan tidak terjadi penurunan volatilitas return yang signifikan pads periode setelah suspensi. Volatilitas return terbukti dipengaruhi secara sigrnifikan oleh bid ask spread relatif dan nilai transaksi secara bersamasama. Suspensi juga tidak terbukti memengaruhi likuiditas saham secara signifikan. Variasi hid ask spread relatif dipengaruhi oleh volatilitas return dan nilai transaksi secara signifikan.

The main purpose of this study is to examine the effectiveness of trading halt (suspension) at Jakarta Stock Exchange (JSX). The stated purpose of this suspension is to allow investors an opportunity to react to the relevant information. When the relevant information has disseminated to market, it is expected to reduce return volatility. This study examines the effect of trading suspension at stocks with a significant price behavior at 2004. This paper makes a comparison at one trading day before and after suspension for some variable, by reconstruct at 30-minutes of each trading day.
The testing variable at this study are return volatility, relative bid-ask spread, depth to relative spread, and transaction values. Statistical tests are based on Wilcox on signed ranks test, simple regression and multiple regression analysis, at 5% significant level.
This study finds that trading suspension cannot reduce return volatility. Return volatility is affected by relative bid-ask spread and transactions value. Suspension also didn't impact the stocks liquidity. The change of liquidity is determined by return volatility and transaction values.
"
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2006
T18448
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Girindra Pradana Sutoyo
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2009
S9756
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>