Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 118246 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Heru Mukti
"Vaksinasi merupakan upaya kesehatan preventif terhadap penularan penyakit infeksi, terutama oleh bakteri dan virus. Vaksin hepatitis B yang tersedia di pasar berbentuk suspensi cair yang sensitif terhadap panas. Penelitian dilakukan untuk menghasilkan formula vaksin hepatitis B yang dapat dikelola di luar sistem rantai dingin. Optimisasi pada alat pengering menunjukkan bahwa formula vaksin cair dapat dikeringkan dan dimonitor untuk menghasilkan serbuk vaksin yang berkualitas. Teknik pengeringan yang digunakan meliputi : spray drying, freeze drying dan vacuum drying. Formula vaksin yang disiapkan sebanyak 6 sampel dengan kode A sampai F yang merefleksikan komposisi bahan pengisi dan teknik pengeringan. Serbuk vaksin dikarakterisasi secara fisik, kimia dan potensi antigenik serta dilakukan uji stabilitas dipercepat.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknik pengeringan berpengaruh terhadap penurunan pH dan potensi antigenik vaksin. Kombinasi trehalosa dan mannitol tidak memberikan perbedaan yang signifikan terhadap pH dan potensi relatif vaksin kering. Vaksin yang dikeringkan secara freeze drying dengan komposisi trehalosa: mannitol 7:3 menunjukkan potensi relatif secara in vitro sebesar 97,78 dan in vivo 35,6 serta berpotensi untuk dikelola di luar sistem rantai dingin.

Vaccination is a preventive health measure against the transmission of infectious diseases, especially by bacteria and viruses. Hepatitis B vaccines are available in the market in the form of liquid suspensions that is heat sensitive. The study was conducted to produce the hepatitis B vaccine formula which can be managed out of the cold chain system. Optimization of the drying instrument indicates that liquid vaccine formula can be dried and monitored to produce quality vaccines powder. Drying techniques used include spray drying, freeze drying and vacuum drying. Vaccine formulas were prepared as much as 6 samples with codes A through F, which reflects the composition of fillers and drying techniques. The powder vaccine was characterized by physical, chemical and antigenic potential as well as an accelerated stability test.
The results showed that the drying technique affecting the decrease of pH and the potential of antigenic vaccine. The combination of trehalose and mannitol did not provide a significant difference to the pH and the relative potency of dried vaccine. The vaccine which was dried by freeze drying with the composition of trehalose mannitol 7 3 showed the relative potency in vitro at 97,78 and in vivo at 35,6 and has an opportunity to be managed out of the cold chain system.
"
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2017
T47878
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Cella Haruningtyastuti
"Hepatitis B merupakan salah satu penyakit menular yang dapat menyebabkan kematian. Hepatitis B adalah penyakit hati yang disebabkan oleh virus hepatitis B. Penyakit ini dapat dicegah penularannya dengan melakukan vaksinasi. Pada skripsi ini dikonstruksi model matematika SVAKR yang membahas mengenai model matematika penyebaran penyakit hepatitis B dengan intervensi vaksinasi. Kajian analitik dan simulasi numerik telah dilakukan pada model tersebut untuk mempermudah dalam memahami dinamika populasi jangka panjang. Kajian analitik yang telah dilakukan meliputi konstruksi model matematika beserta interpretasi model tersebut, titik keseimbangan beserta kestabilannya, dan Basic Reproduction Number (R0). Pada kajian analitik, didapatkan hasil bahwa titik keseimbangan bebas penyakit ada dan stabil asimtotik lokal ketika R0 < 1. Berdasarkan simulasi numerik yang telah dilakukan, diperoleh informasi bahwa intervensi vaksinasi dapat mengendalikan penyebaran penyakit hepatitis B. Lebih lanjut apabila vaksinasi diiringi dengan peningkatan laju kesembuhan infeksi akut, maka penyebaran penyakit hepatitis B dapat dikendalikan dengan lebih optimal.

Hepatitis B is an infectious disease that can cause death. Hepatitis B is a liver disease caused by the hepatitis B virus. This disease can be prevented from being transmitted by vaccination. In this undergraduate thesis, a mathematical model SV AKR is constructed which discusses the mathematical model of the spread of hepatitis B disease with vacci- nation intervention. Analytical studies and numerical simulations have been carried out on the model to make it easier to understand long-term population dynamics. Analytical studies that have been carried out includes the construction of a mathematical model and its interpretation, the equilibrium point and its stability, and Basic Reproduction Number (R0). In the analytical study, it was found that a disease-free equilibrium point exists and locally asymptotically stable when R0 < 1. Based on numerical simulations that have been carried out, it was found that vaccination intervention was able to control the spread of hepatitis B. Furthermore, if vaccination is accompanied by an increase in recovery rate of acute infection, the spread of hepatitis B can be controlled more optimally."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Penetahuan Alam Universitas Indonesia, 2022
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nurlaili Ekawati
"Pendahuluan: Infeksi virus hepatitis B kronis adalah salah satu faktor utama sirosis yang dapat berkembang menjadi karsinoma hepatoseluler. Vaksin Hepatitis B (mengandung HBsAg) yang tersedia saat ini digunakan untuk pencegahan, diberikan dengan cara injeksi yang memiliki kelemahan: dapat menyebabkan rasa sakit, mengurangi kepatuhan pasien, membutuhkan biaya produksi yang lebih tinggi dan tidak dapat diterapkan dalam vaksinasi massal, sehingga perlu dilakukan pengembangan vaksin dengan pemberian secara oral. Tujuan: Mengkarakterisasi enkapsulasi kitosan alginat sebagai penghantar kombinasi HBcAg dan HBsAg sebagai kandidat vaksin oral hepatitis B. Metode: Formula vaksin dibuat dengan metode gelasi ionik. Ada dua formulasi yaitu mikropartikel HBcAg (MPS) dan mikropartikel kombinasi HBcAg and HBsAg (MPC). Parameter yang diuji meliputi loading efikasi, karakteristik partikel, respons imun IgA hari ke-51, dan IgG hari ke-21, 35, dan 51. Hasil: Loading efikasi MPS dan MPC sebesar 82,5±9,57 dan 75,0±11,78%. Ukuran rata-rata partikel (Zaverage), indeks polidispersitas/PdI, dan potensial zeta dari MPS dan MPC adalah 4869 ± 739 nm dan 8712 ± 2110 nm; 0,32 ± 0,032 dan 0,37 ± 0,088; -7,50 ± 1,82 mV dan; -2.10 ± 1,59 mV. Hasil kadar IgA hari ke-51 menunjukkan tidak adanya perbedaan yang signifikan antar kelompok perlakuan dengan rincian sebagai berikut: 61679, 69736, 62789, 72622, dan 70214 ng/mL berturut-turut untuk kelompok normal, HBcAg tanpa enkapsulasi, MPS, kombinasi HBcAg dan HBsAg, serta MPC. Sedangkan untuk kadar IgG tertinggi diperoleh pada sampel serum hari ke-21. Kesimpulan: Berdasarkan parameter loading efikasi, PdI, zeta potensial, dan ukuran partikel, serta FTIR dapat disimpulkan bahwa kombinasi HBcAg dan HBsAg dapat dienkapsulasi dalam MP kitosan alginat.

Introduction: Chronic hepatitis B virus infection is one of the main factors of cirrhosis that can develop into hepatocellular carcinoma. The Hepatitis B vaccine (containing HBsAg) currently available for prevention and administration given by injection which has disadvantages: it can cause pain, reduce patient compliance, requires higher production costs, and cannot be applied in mass vaccination, it is necessary to develop a vaccine by giving orally. Objective: Characterizing chitosan alginate encapsulation as a combination carrier of HBcAg and HBsAg as a candidate for oral hepatitis B vaccine. Method: The vaccine formula was prepared by the ionic gelation method. There are two formulations, namely HBcAg microparticles (MPS) and combination of HBcAg and HBsAg (MPC) microparticles. The parameters tested included loading efficacy, particle characteristics, immune response IgA on day 51, and IgG on days 21, 35, and 51. Results: Loading efficacy of MPS and MPC were 82.5 ± 9.57 and 75.0 ± 11.78%. The mean particle size (Zaverage), polydispersity index/PdI, and zeta potential of MPS and MPC were 4869 ± 739 nm and 8712 ± 2110 nm; 0.32 ± 0.032 and 0.37 ± 0.088; -7.50 ± 1.82 mV and -2.10 ± 1.59 mV. The results of IgA levels on day 51 showed no significant difference between treatment groups with the following details: 61679, 69736, 62789, 72622, and 70214 ng/mL for the normal group, HBcAg without encapsulation, MPS, combination of HBcAg and HBsAg, and MPC. Meanwhile, the highest IgG levels were obtained on the 21st day of serum sample. Conclusion: Based on parameters the loading efficacy, PdI, zeta potential, and particle size, as well as FTIR, it can be concluded that the combination of HBcAg and HBsAg can be encapsulated in MP chitosan alginate."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2021
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Evi Yuniawati
"Jika ditinjau dari segi epidemiologi, secara geografis, pada saat ini di dunia diperkirakan terdapat 350 juta pengidap Hepatitis B (carrier), dan hampir 78% di antaranya tinggal di Asia. Indonesia termasuk salah satu wilayah Asia Tenggara, dengan prevalensi Hepatitis B tingkat sedang sampai tinggi.
Di Indonesia imunisasi Hepatitis B mulai diintegrasikan ke da1am Program Pengembangan Imunisasi (PPI) sejak tahun 1997. Pelayanan imunisasi Hepatitis B ini bisa didapatkan di RS Pemerintah / RS ABR1, Puskesmas, Pustu, Posyandu yang telah ditunjuk (Depkes, 1997). Cakupan imunisasi Hepatitis B pada bayi usia 0-7 hari di Jawa Timur masih rendah, yaitu 59,30 persen (2005), di Jawa Barat balita yang pemah mendapat irnunisasi Hepatitis B adalah 75,60 persen (2006). Hal ini masih jauh dari target yang diharapkan untuk imunisasi Hepatitis B pada bayi berusia 0-7 hari adalah 90 persen.
Pemberian imunisasi Hepatitis B sangat erat kaitannya dengan penolong persalinan, karena untuk mendapatkan imunisasi Hepatitis B sedini mungkin, diperoleh dari tenaga kesehatan. Di Indonesia masih banyak ditemukan persalinan yang bukan ditolong oleh tenaga kesehatan. Persalinan terakhir yang terjadi pada keluarga-keluarga di Jawa Barat yang dilakukan oleh tenaga kesehatan pada tahun 2005 sebesar 61,27 persen turun menjadi 56,64 persen pada tahun 2006. Pada tahun 2005, persentase persalinan yang ditolong oleh &Awn mengalami peningkatan sebesar 5,19 persen, sementara yang ditolong oleh tenaga kesehatan turun sebesar 4,63 persen (BPS Jabal., 2006). Sedangkan di Jawa Timur dalam cakupan program kesehatan tahun 2003-2005 pertolongan persalinan oleh bidan atau tenaga kesehatan mengalami peningkatan, yaitu sebesar 82,73% pada tahun 2003, 84,06% pada tahun 2004, dan sebesar 86,10% pada tahun 2005.
Tujuan penelitian ini adalah diketahuinya hubungan antara penoIong persalinan dengan pemberian imunisasi Hepatitis B pada bayi berusia 0-7 hari setelah dipadankan (matching) oleh variabel umur ibu, pendidikan ibu, pekerjaan ibu, tempat persalinan, dan kabupaten daerah tempat tinggal yang berperan sebagai variabel confounder Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan data sekunder dari survey data dasar ASUH. Desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional. Pernilihan sampel pada penelitian ini mengikuti metode 30-cluster WHO. Dalam studi ini cluster adalah desa dengan kriteria perabagian cluster berdasarkan jumlah penduduk (probability proportionate to size). Dengan menggunakan c-survey didapatkan sejumlah desa di tingkat kabupaten di pilih secara acak 15 ibu per cluster sehingga memenuhi jumlah sample 450 untuk satu kabupaten. Responden adalah ibu yang memiliki bayi kandung di bawah satu tahun di wilayah studi terpilih. Jumlah sampel yang berhasil dikumpulkan adalah 2687 responden_ Berdasarkan basil perhitungan di atas dengan jumlah 2687 responden, rnaka didapatkan kekuatan ujinya sebesar 99% pada a---- 5 %, design effect --- 2 dan Pl- P2 = 20%.
Analisis data terdiri dari analisis univariat, analisis bivariat dan multivariat. Analisis bivariat rnengunakan uji chi square untuk melihat hubungan variabel independen dengan variabel dependen, sedangkan analisis multivariat dengan menggunakan Propensity Score Matching untuk melihat hubungan variabel independent dengan variabel dependent secara bersarna-sarna setelah dikontrol oleh confounding.
Hasil penelkian menunjukkan adanya hubungan yang bernaakna antara penolong persalinan dengan pemberian imunisasi Hepatitis B pada bayi usia 0-7 had setelah dipadankan oleh variabel confounding dengan analisis PSM bila menggunakan alogaritma pemadanan Caliper dengan nilai RR 1,86 dengan nilai p < 0,05.
Berdasarkan penelitian ini disarankan untuk penyusun kebijakan diharapkan dapat meningkatkan cakupan imunisasi Hepatitis B pada bayi 0-7 hari dengan cara meningkatkan cakupan penolong persalinan oleh tenaga kesehatan, juga untuk mengunakan alogaritma pemadanan yang lain pada penelitian selanjutnya dan diharapkan adanya penelitian lebih lanjut oleh peneliti lain karena masih sangat jarang penelitian yang mencari hubungan antara penolong persalinan dengan pemberian imunisasi Hepatitis 13 pada bayi usia 0-7 hari dengan variabel yang lain dan juga penelitian dengan menggunakan analisis Propensity Score Matching dengan alogaritma pernadanan yang lain.

In EpidemioIogic view, as geographic, at this time in the world there is 350 million people carrier of Hepatitis B, and almost 78% lived in Asia_ Indonesia is one of the South East Asia Region., with Hepatitis B prevalence mild to severe. In Indonesia, Hepatitis B immunization has begun to be integrated into Immunization Developing Program (PP1) since the year 1997. Hepatitis B immunization services can be obtained from government hospitals / military hospitals, public health centers, pustu, posyandu, which have been appointed. Hepatitis B immunization coverage for infants aged 0-7 days in East Java is still low, 59.30% whilst in West Java, children under 5 years of age who have been immunized Hepatitis B before is 75.60%. This is far from the expected target for Hepatitis B immunization in infants aged 0-7 days, which is 90%.
Administration of Hepatitis B immunization is closely related to delivery care attendants, because to obtain Hepatitis B immunization early, it's through health care professionals. In Indonesia, there are still many deliveries not done by health care professionals. The latest deliveries of families in West Java which were performed by health care professionals happened in 2005 as many as 61,27% had decreased to 56.64% in 2006. In 2005, delivery percentage done by "dukun" had experienced an increase of 5,19% whilst delivery percentage done by health care professional had decreased by 4,63% (BPS Jabar, 2006). Whereas in East Java, health program coverage for the year 2003-2005 showed that delvery care done by midwives or health care professionals had experience an increase as many as: 82,73% in 2003, 84,06% in 2004, and 86,10% in 2005.
The objective of this research is to determine the association between delivery care attendants and administration of Hepatitis B immunization to infants aged 0-7 days after being matched by the following variables: mothers'age, mothereeducation, mothers' occupation, places of delivery / labour, and regional district of residency, which act as confounding variables.
This research is done using secondary data from basic survey data ASUH. The study design used is cross sectional. Sample selection in this research follow the 30- cluster method of WHO. In this study, the cluster is a village whose criteria of cluster division id based on the number of people (probability proportionate to size). survey is obtained a certain number of villages. In the village stage, 15 mothers per cluster are randomly selected, so that it will satisfy the required number of samples of 450 for I district. Respondents are biological mothers of infants under 1 year of age in the chosen study area. Number of samples managed to be collected are 2687 respondents. Based on the calculation above with 2687 respondents, thus is obtained a strength of study as high as 99% with a = 5%, design effect =2, and Pl-P2 = 20%.
Data analysis consist of univariate analysis, bivariate analysis, and multivariate analysis. Bivariate analysis uses chi-square to observe the association between independent variables and the dependent variable, whereas multivariate analysis uses Propensity Score Matching to observe the association between independent variables and the dependent variable at the same time after being controlled for confounding.
Findings from the research show that there is significant association between delivery care attendants and administration of Hepatitis B immunization to infants aged 0-7 days after being matched confoundings variables with Propensity Score Matching analysis if using caliper matched alogarithin with RR 1,86 and p value <0.05.
Based on this research, it's advice for policy maker to hopefully be able to increase the coverage for Hepatitis B immunization in infants 0-7 days by way of increasing the coverage of delivery care attendants done by health professionals, to use other matching algorithm for the next research and hopefially further researches are done by other researches because there is still hardly any research conducted to determine the association between delivery care and administration of Hepatitis B immunization in infants aged 0-7 days with other variables as well as other reseaches using Propensity Score Matching analysis with different kinds of matching algorithm.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat, 2007
T33899
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
"Genotipe virus hepatitis B (VHB) mempunyai hubungan yang erat dengan prognosis dan terapinya serta diperlukan untuk studi epidemiologi. Pemeriksaan ini hanya bisa dikerjakan di kota-kota besar saja karena kesulitan pengiriman sampel akibat masalah geografis maupun fasilitas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah genotipe VHB dapat ditentukan dari serum kering pada kertas saring dan membandingkan hasil tersebut dengan serum yang diambil langsung dari pasien hepatitis B kronik (HBK) dan hepatoma. Dua puluh tiga sampel dapat diambil dari pasien HBK dan konsentrasi DNA VHB di tentukan dengan Cobas Amplicor HBM (Roche Diagnostics GmBH, Germany) kemudian diteteskan pada kertas saring (3 x 1 cm). Setelah dikeringkan dalam kantong plastik, diletakkan dalam amplop tertutup dan disimpan selama 1 minggu dalam suhu kamar (27 – 33 oC). Ekstraksi DNA dilakukan dari kertas saring tersebut setelah diinkubasi dan penentuan genotipe VHB dilakukan dengan PCR menggunakan primer-primer spesifik. Untuk perbandingan, telah didapatkan 20 sampel pasien HBK-HBe (+) dan 29 sampel pasien hepatoma yang tidak dikeringkan. Genotipe VHB dapat dideteksi pada 18/23 (78,2%) serum kering pada kertas saring sedangkan pada serum yang tidak dikeringkan, dari pasien HBK-HBe(+) 20/20 (100%) sampel terdeteksi dan dari pasien hepatoma 24/29 (82,7%) sampel. Proporsi genotipe yang terdeteksi sesuai dengan proporsi genotipe yang pernah dilaporkan di Indonesia. Kesimpulan penelitian ini adalah genotipe VHB dapat dideteksi dari serum kering pada kertas saring yang disimpan selama 1 minggu. (Med J Indones 2005; 14: 215-9)

HBV genotype has a close association with prognosis and therapy as well as for epidemiology study. However, this examination can be done only in large cities that are not practical to send serum sample due to geographical burden and facilities. The aim of this study is to know whether HBV genotype can be determined from dried and stored serum on filter paper and compare the result with sera drawn directly from chronic hepatitis B (CHB) and hepatoma patients. Twenty-three serum samples were obtained from CHB patients. HBV DNA were quantitatively determined with Cobas Amplicor HBM (Roche Diagnostics GmBH, Germany) and dropped on to 3 x 1 cm filter papers. After allowed to dry in a plastic clip, it were put in a closed envelope then stored for 1 week in room condition (27 – 33 oC). DNA extraction were done from the filter papers after a short incubation period and HBV genotypes were determined with PCR and specific primers. For comparison, 20 CHB-Hbe(+) samples and 29 hepatoma samples were drawn directly and not dried. HBV genotype were detected in 18/23 (78.2%) from dried serum samples on filter paper while in sera that were not stored, from CHB-HBe(+) samples, 20/20 (100%) could be determined while from hepatoma patients, 24/29 (82.7%) samples. The proportion of genotype were in line with other reported HBV genotype examination for Indonesia. It is concluded that detection of HBV genotype can be done from dried serum in filter paper and stored for 1 week. (Med J Indones 2005; 14: 215-9)"
Medical Journal Of Indonesia, 14 (4) October December 2005: 215-219, 2005
MJIN-14-4-OctDec2005-215
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Prasna Pramita
"Chronic hepatitis B is still a major health problem in Indonesia. Unfortunately, to date, treatment of chronic HBV (Hepatitis B virus) infection had not shown satisfactory result. Monotherapy with alpha interferon or lamivudine have been widely used as treatment of chronic HBV. However, treatment response to Alpha interferon in Asian people was not satisfactory (15% - 20%), while monotherapy with lamivudine was not sufficient to eradicate HBV in chronically infected patients and commonly induce drug resistance. The occurrence of chronic hepatitis B resistant to lamivudine had encouraged development of newer agents such as adefovir, entecavir, emtricitabine and nucleoside analog. New therapeutic strategy using combination therapy should be considered if there is no sufficient response to monotherapy"
2005
IJGH-6-1-April2005-9
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Erick Sidarta
"ABSTRAK
Infeksi oleh virus hepatitis B (VHB) dapat menjadi infeksi akut yang berakhir dengan resolusi infeksi ataupun berlanjut menjadi infeksi kronis. Resolusi infeksi dalam infeksi VHB ditandai dengan hilangnya hepatitis B surface antigen (HBsAg) dan keberadaan antibodi terhadap HBsAg (anti-HBs). Kemampuan sel B dalam mensintesis anti-HBs dipengaruhi oleh sel T helper 1 (Th1) ataupun T helper 2 (Th2). Sekresi sitokin yang terkoordinasi dari Th1 ataupun Th2 sangat dibutuhkan mengingat sitokin yang dihasilkan oleh kedua sel T helper (Th) tersebut memiliki peranan yang berbeda dan dapat bekerja secara antagonis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan pasien hepatitis B kronis dalam mensintesis anti-HBs dan membandingkan pola sintesis sitokin IL-10, IFN-gamma dan IL-2 dari pasien hepatitis B kronis dengan pasien yang mengalami resolusi infeksi. Pada penelitian ini sel mononuklear darah tepi manusia (SMDT) diambil dari 10 subjek pasien hepatitis B kronis, 10 subjek pasien yang mengalami resolusi infeksi dari hepatitis B dan 10 subjek individu sehat yang berhasil divaksinasi. SMDT dikultur dengan stimulan HBsAg rekombinan (rHBsAg) atau fitohemaglutinin (PHA) untuk sintesis sitokin dan pokeweed mitogen (PWM) untuk sintesis anti-HBs secara in vitro. Hasil dari penelitian ini ditemukan produksi anti-HBs secara in vitro dari 70% individu sehat yang berhasil divaksinasi dan 40% pasien hepatitis B yang mengalami resolusi infeksi, sementara pada pasien hepatitis B kronis tidak ditemukan hal tersebut. Pola sitokin IL-10, IFN-gamma dan IL-2 antara pasien hepatitis B yang mengalami resolusi infeksi dan pasien hepatitis B kronis tidak memiliki perbedaan yang bermakna. Akan tetapi, respons IFN-gamma terhadap rHBsAg pada pasien hepatitis B yang mengalami resolusi infeksi cenderung lebih kuat. Korelasi antara sitokin IL-10, IFN-gamma dan IL-2 dengan produksi anti-HBs secara in vitro tidak ditemukan pada kedua kelompok tersebut, sementara korelasi IL-2 dengan sintesis anti-HBs in vitro ditemukan pada individu yang divaksinasi. Penelitian ini menunjukkan SMDT dari pasien hepatitis B kronis tidak dapat mensintesis anti-HBs secara in vitro dan pada pasien tersebut tidak memiliki perbedaan pola sintesis sitokin IL-10, IFN-gamma dan IL-2 jika dibandingkan dengan pasien hepatitis B yang mengalami resolusi infeksi.

ABSTRACT
Hepatitis B virus (HBV) infection can lead to acute self-limited infection or lead to chronic hepatitis B infection. Resolution of infection is marked by seroconversion of hepatitis B surface antigen (HBsAg) to antibody to HBsAg (anti-HBs) which also give protection to HBV reinfection. Anti-HBs is produced by B cells as response to HBsAg. B cells response to HBsAg is affected by cytokines from T helper 1 (Th1) and T helper 2 (Th2) cells. Coordinated cytokines secreted by Th1 or Th2 cells is necessary due to the fact that they could work antagonistically. Th1 cytokines, such as IFN-gamma, are known to induce cellular immune responses, while Th2 cytokines, such as IL-4, -5 and -10, are known to induce humoral immune responses. This study aimed to investigate the capability of chronic hepatitis B patients (CHB) to synthesize anti-HBs in vitro and to compare IL-10, IFN-gamma and IL-2 levels between CHB patientis with resolved hepatitis B (RHB) patients. In this study, peripheral blood mononuclear cells (PBMCs) were taken from 10 CHB patients, 10 RHB patients and 10 healthy hepatitis B vaccinated individuals. PBMCs were cultured in presence of recombinant HBsAg (rHBsAg) and PHA to cytokines synthesis and pokeweed mitogen (PWM) to anti-HBs synthesis in vitro. As results, synthesis of anti-HBs in vitro were found in PBMCs from 70% of healthy hepatitis B vaccinated individuals and 40% of RHB patients, while PBMCs from CHB patients could not. No significant differences were found in IL-10, IFN-gamma and IL-2 cytokine levels between CHB patients and RHB patients, although IFN-gamma responses to rHBsAg had a tendency to be stronger in RHB patients. Correlation between IL-10, IFN-gamma and IL-2 cytokine levels and anti-HBs synthesis in vitro was not found in CHB patients and RHB patients. Meanwhile, IL-2 and anti-HBs synthesis in vitro were correlated in healthy hepatitis B vaccinated individuals. In conclusion, this study showed that PBMCs from CHB patients were not capable in synthesizing anti-HBs in vitro and had no differences in IL-10, IFN-gamma and IL-2 cytokine levels with RHB patients."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2016
T58665
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Meta Dewi Tedja
"Ruang lingkup dan Cara penelitian: Virus Hepatitis B (VHB) merupakan penyebab tersering hepatitis kronik, sirosis hepatis dan karsinoma hepatoselular di negara-negara Asia Tenggara.
VHB merupakan virus DNA berukuran 3,2 kb, mempunyai untai ganda dengan susunan genom yang kompak dan sating tumpang tindih. Materi genetik VHB tersimpan daiam 4 Open Reading Frames pada untai negatif. Transmisi VHB terjadi melalui kontak dengan darah, komponen darah atau cairan tubuh lainnya. Diagnosis infeksi VHB didasarkan adanya HBsAg dalam serum. Hilangnya HBsAg dan terbentuknya anti-HBs merupakan petanda eliminasi virus. Namun demikian mutasi yang terjadi pada gen penyandi HBsAg mengakibatkan perubahan antigenisitas HBsAg sehingga virus lolos dart pemeriksaan yang menggunakan antibodi monoklonal terhadap HBsAg. Untuk mengetahui perubahan molekuler pada gen penyandi HBsAg maka dilakukan penelitian program magister ini dengan tujuan umum untuk mengetahui dasar molekuler kegagalan deteksi serologi HBsAg pada serum donor darah di Indonesia. Untuk itu dilakukan isolasi DNA VHB, ligasi ke vektor dan transformasi ke bakteri E.coli, dilanjutkan dengan reaksi sekuensing yang hasilnya dianalisis dengan perangkat bioinformatika.
Hasil dan kesimpulan: Pada serum donor darah dengan HBsAg (-), anti-HBs (-) dan anti-HBc (+) berhasil didapat DNA VHB pada 20 (29,9%) dart 67 sampeI; pada donor darah dengan HBsAg (-), anti-HBs (+) dan anti-HBc (+) didapat DNA VHB pada 5 (7.5%) dart 67 sampel. Sehingga jumlah total DNA VHB (+) didapat pada 25 (8,I%) dari 309 sampel dengan HBsAg (-), Pada sekuensing determinan 'a' gen S DNA VHB didapat 7 (28%) dari 25 sampel menunjukkan mutasi asam amino. Terdapat 3 pola substitusi asam amino: pola pertama substitusi M I 33L sebanyak I (4%) dari 25 sampel, polar kedua T123A sebanyak I (4%) dari 25 sampel, dan pola ketigaTI43M sebanyak 5 (20%) dari 25 sampel. Semua virus; termasuk dalam subtipe adw.
Pada studi bioinformatika, substitusi ini menyebabkan terjadinya penurunan nilai indeks antigenisitas asam amino yang bersangkutan dan asam amino yang berada di sekitarnya. Substitusi asam amino pada gen S mengakibatkan terjadinya perubahan sekuens gen P daerah reverse transcriplase yang tumpang tindih dengan gen S."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2002
T8366
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Suryawati Sukmono
"Latar Belakang: Pajanan nyeri menimbulkan efek merugikan baik pada neonatus kurang bulan maupun neonatus cukup bulan. Efek analgesik sukrosa pada penyuntikan intramuskular masih kontroversial. Efektivitas sukrosa untuk mengatasi nyeris saat vaksinasi hepatitis B pada neonatus cukup bulan belum pernah diteliti di Indonesia.
Tujuan: untuk mengetahui efek analgesik pemberian sukrosa disertai empeng saat vaksinasi hepatitis B pada neonatus cukup bulan.
Metode: penelitian ini menggunakan metode uji klinis acak tersamar ganda. Subjek secara random dibagi menjadi kelompok intervensi yang mendapatkan 2 mL sukrosa 24% disertai empeng, serta kelompok kontrol yang mendapatkan 2 mL aquabidestilata disertai empeng. Rasa nyeri yang dirasakan subjek dievaluasi dengan skor nyeri premature infant pain profile (PIPP).
Hasil: median skor PIPP pada kelompok yang diberikan sukrosa lebih rendah dibandingkan kelompok kontrol (6 (2-15) vs 11 (2-15), p <0,0001). Lama tangis subjek pada kelompok yang mendapat sukrosa lebih singkat dibandingkan kelompok kontrol (11 (0-33) detik vs 19 (0-100) detik, p <0,0001). Pemberian empeng tidak memberikan efek sinergis dalam menurunkan skor nyeri maupun lama tangis subjek. Pada penelitian ini ditemukan satu subjek yang mengalami desaturasi hingga saturasi oksigen <88% saat pemberian sukrosa, namun efek samping ini tidak memerlukan terapi khusus.
Simpulan: sukrosa secara statistik menurunkan skor nyeri PIPP dan lama tangis saat vaksinasi hepatitis B pada neonatus cukup bulan.

Background: Pain causes adverse effect for preterm and also term newborn. Analgesic effect of sucrose during intramuscular injection is still a controversy. Sucrose effectivity in reducing pain in term newborn during hepatitis B vaccination has not been studied in Indonesia.
Objective: to examine analgesic effect of sucrose with pacifier during hepatitis B vaccination in term newborn.
Method: we used consecutive sampling to reach 70 subjects. Subject was randomised into intervension group receiving 2 mL of 24% sucrose solution with pacifier, and control group receiving 2 mL aquadest with pacifier. Pain was evaluated with the premature infant pain profile (PIPP) scoring system.
Result: median PIPP score in intervension group was significantly lower than control group (6 (2-15) vs 11 (2-15), p <0,0001). Cry duration in intervension group was significantly shorter than control group (11 (0-33) second vs 19 (0-100) second, p <0,0001). Pacifier had no synergistic effect in lowering PIPP score and cry duration. Decreased oxygen saturation below 88% was found in one subject receiving sucrose but additional therapy was not needed.
Conclusion: Sucrose was statistically significant in reducing pain score and cry duration during hepatitis B vaccination in term newborn.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2014
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dewi Purnama Astuti
"ABSTRAK
Hepatitis virus B yang telah menjadi masalah kesehatan masyarakat, dapat ditularkan secara parenteral, oral, dan kemungkinan secara seksual. Infeksi virus hepatitis B (VHB) dapat diketahui dengan adanya antigen-antigen virus serta antibodinya yang dapat dideteksi di dalam serum penderita. Hepatitis B surface antigen (HBsAg) yang merupakan salah satu petanda serologi infeksi VHB, dilaporkan terdapat pada air susu ibu, sekret vagina, air liur, dan semen. Tetapi peranannya dalam penyebaran penyakit belum jelas. Dalam penelitian ini telah dilakukan pemeriksaan HBsAg secara kualitatif dan kuantitatif (titer) dengan teknik RPHA terhadap serum dan plasma semen 20 orang pria penderita hepatitis virus B. Plasma semen yang mengandung HBsAg terdapat pada 8 orang (40%) dari 20 orang yang diteliti. Dengan uji korelasi jenjang Spearman, diperoleh kesimpulan bahwa terdapat korelasi positif antara titer HBsAg serum dengan titer HBsAg plasma semen (db=0.001). Selain itu, juga dapat disimpulkan bahwa titer HBsAg di alam plasma semen rendah ("
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 1985
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>