Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 1834 dokumen yang sesuai dengan query
cover
"Suharja, Sutarno. 2009. Biomass, chlorophyll and nitrogen content of leaves of two chili pepper varieties (Capsicum annum) in different fertilization treatments. Nusantara Bioscience 1: 9-16. This study aims to determine the influence of various fertilization treatments on biomass, chlorophyll and nitrogen content of leaves from two varieties of chili, Sakti (large chili) and Fantastic (curly chili). The study was conducted in the village of Gatak, Karangnongko sub-district, Klaten District, Central Java in September 2006 to March 2007. The study used a complete block design with two factorial of chili varieties and fertilizer treatment. Fertilization treatments includes no fertilizer (control) (P1); manure 2 kg/plant (P2), manure (1 kg/plant) + chemical fertilizer (ZA, SP-36, KCl = 2: 1: 1) + NPK (P3); and manure (1 kg/plant) + chemical fertilizer (SP-36: KCl = 1:1) + liquid organic fertilizer (P4). Chlorophyll content was measured refers to Harborne (1987), whereas leaf nitrogen concentration was measured with Kjeldahl method. Data were analyzed using ANOVA followed by DMRT. The results showed that on the Fantastic chili fertilizer treatment affected the biomass and chlorophyll a, but gave no effect on chlorophyll b, total chlorophyll and leaf nitrogen. On the curly chili fertilizer treatment effected plant fresh weight, chlorophyll a and total chlorophyll, but gave no effect on dry weight, fresh fruit weight, chlorophyll b and leaf nitrogen. It is, therefore, recommended to use the formulation of manure + chemical fertilizer (SP-36: KCl = 1: 1) + liquid organic fertilizer in the cultivation of chili"
570 NBS 1:1 (2009)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Rio, Maria Paz Del
Santiago : Morgans, 1993,
R 918.3 Chi
Buku Referensi  Universitas Indonesia Library
cover
"Penelitian ini bertujuan untuk mencari tanaman potensial yang dapat dijadikan sebagai bionutrien. Tanaman potensial yang dipilih pada penelitian ini adalah tanaman JPR. Pada penelitian ini, terlebih dahulu dilakukan analisis awal kandungan N, P dan K yang terdapat dalam tanaman JPR. Untuk mengetahui kondisi optimum terhadap nitrogen yag terekstrak, dilakukan tahapan optimasi yaitu optimasi konsentrasi ekstraktan, optimasi waktu ekstraksi serta optimasi massa tanaman JPR. Kemudian, bionutrien JPR diaplikasikan terhadap tanaman cabai merah keriting untuk mengetahui pengaruhnya terhadap tanaman cabai merah keriting. Untuk mengetahui pengaruh yang diberikan oleh bionutrien JPR, dosis yang digunakan bervariasi. Dosis yang digunakan antara lain 15 mL/L, 25 mL/L, 50 mL/L, 75 mL/L, 100 mL/L dan 150 mL/L. Hasil yang diperoleh pada analisis awal kandungan yang terdapat pada tanaman JPR antara lain, kandungan nitrogen sebesar 117 mg/L, kandungan fosfor sebesar 11,52 mg/L, dan kandungan kalium sebesar 104,955 mg/L. Kondisi optimum pada proses ekstraksi tanaman JPR dilakukan pada konsentrasi ekstraktan 0,5 M, waktu ekstraksi selama 90 menit serta jumlah massa tanaman JPR sebesar 70 gram dengan nitrogen yang terekstrak sebesar 1053 mg/L. Dosis optimum yang diperoleh berdasarkan penelitian yang dilakukan terjadi pada dosis 150 mL/L yang memiliki kosntanta laju pertumbuhan tanaman cabai merah keriting sebesar 0,112 hari-1, sedangkan tanaman kontrol memiliki konstanta laju pertumbuhan sebesar 0,121 hari-1. Pemanenan buah cabai terbesar ditunjukkan oleh tanaman dengan dosis 100 mL/L dengan buah sebanyak 143 buah dan massa buah sebesar 638 gram, pada tanaman kontrol jumlah buah yang dipanen sebanyak 269 buah dengan massa buah sebesar 1106,3 gram."
541 JSTK 2:2 (2011)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Sitompul, Gandafajar
"Cabai paprika hijau merupakan salah satu jenis cabai yang memiliki kandungan antioksidan tertinggi. Hingga saat ini masih banyak masyarakat di Indonesia yang belum mengetahui manfaat dan kandungan dari cabai paprika hijau (capsicum annuum Linnaeus) serta lebih memilih menggunakan suplemen vitamin untuk mendapatkan antioksidan. Penelitian eksperimental ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan aktivitas antioksidan ekstrak cabai paprika hijau terhadap vitamin C. Penetapan aktivitas antioksidan dilakukan melalui metode DPPH.
Hasil penelitian menunjukkan ekstrak etanol cabai paprika hijau (Capsicum annuum Linnaeus) memiliki aktivitas antioksidan sedang dengan nilai IC50 155,688 ± 5,334 sedangkan vitamin C memiliki aktivitas antioksidan sangat kuat dengan nilai IC50 6,951 ± 0,050. Berdasarkan data tersebut dapat dibuktikan bahwa Ekstrak cabai paprika hijau (Capsicum annuum Linnaeus) memiliki aktivitas antioksidan yang lebih besar dibandingkan dengan vitamin C.

Green peppers (Capsicum annuum Linnaeus) is one kind of chili which has high antioxidant level. However, until now many people in Indonesia didn?t know the benefits and contents of green chili peppers (Capsicum annuum Linnaeus) and prefer to use vitamin supplements to get the antioxidants. The objective of this experimental study is to know the comparison between the extract of green pepper and vitamin C antioxidant activity. Antioxidant activity is measured by DPPH method.
The study shows that the extract of green pepper (Capsicum annuum Linnaeus) has weak antioxidant activity, with the IC50 value of 155.688 ± 5.334. Meanwhile vitamin C has strong antioxidant activity, with the IC50 value of 6.951 ± 0.050. Based on these data, the extract of green pepper (Capsicum annuum Linnaeus) have lower antioxidant activity compared to vitamin C."
Depok: Universitas Indonesia, 2015
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Oksa Angger Dumas
"Apabila kita melihat kondisi lingkungan kampus Universitas Indonesia Depok, sampah daun merupakan suatu hal mudah ditemui karena kondisi lingkungan kampus memiliki banyak sekali pepohonan. Untuk memanfaatkan potensi biomassa yang sangat besar tersebut maka dilakukan penelitian untuk menemukan teknologi yang tepat untuk digunakan di lingkungan kampus UI. Fluidized Bed Combustion (FBC) merupakan salah satu teknologi pembakaran yang sangat tepat untuk digunakan di lingkungan kampus UI karena memanfaatkan prinsip fluidisasi dan turbulensi benda padat. Saat proses pembakaran, dengan adanya fenomena fluidisasi ini akan meningkatkan kemampuan perpindahan panas dan massa yang cukup signifikan. Dengan begitu proses pembakaran pun akan menjadi lebih baik. Teknologi ini pun telah bertahun-tahun dikembangkan oleh Universitas Indonesia. dimana pengembangan terus dilakukan tiap tahunnya dengan tujuan untuk meningkatkan performa dari FBC UI. Sehingga, nantinya FBC UI ini dapat dipergunakan dengan lebih baik selain sebagai sarana penelitian. Beberapa tahun terakhir, terdeteksi adanya performa kerja sistem yang masih kurang baik yaitu tidak meratanya fenomena fluidisasi yang mana fenomena tersebut merupakan hal yang sangat krusial dalam kinerja FBC itu sendiri. Fluidisasi merupakan metoda pengontakan butiran-butiran padat berupa pasir dengan fluida gas yang menyebabkan pergolakan pada pasir sampai pasir seakan memiliki sifat-sifat seperti fluida. Banyak faktor yang memengaruhi fenomena fluidisasi, antara lain diameter partikel atau pasir, densitas partikel, porositas hamparan, serta distibutor. Sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Agra dan Sabrizal pada Tugas Akhirnya mereka membuat pemodelan distributor untuk meningkatkan kemampuan fluidisasi FBC UI. Pada penelitian ini, akan dibahas mengenai perbandingan kinerja dasar distributor modifikasi yang diproduksi mengikuti pemodelan distributor yang diciptakan oleh Agra dan Sabrizal dengan distributor yang terdahulu."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2014
S56186
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Futty Dewi Nuzulia Famini
"Daun waru merupakan tanaman yang memiliki aktivitas pertumbuhan rambut. Pada penelitian ini, sediaan mikroemulsi yang dibuat mengandung 7,5% ekstrak daun waru dengan klorofil dan tanpa klorofil. Penghilangan klorofil pada daun waru diharapkan dapat meningkatkan estetika sediaan, akan tetapi dalam penelitian ini sediaan mikroemulsi ekstrak daun waru dengan klorofil maupun tanpa klorofil memiliki warna sediaan yang sama. Uji stabilitas fisik kedua formula dilakukan dengan metode cycling test, uji sentrifugasi, dan penyimpanan pada tiga suhu yang berbeda: suhu rendah (4±2oC), suhu kamar (28±2oC), dan suhu tinggi (40±2oC). Uji aktivitas pertumbuhan rambut dilakukan pada kelinci jantan putih dengan pengukuran panjang rambut pada hari ke-7, 14, dan 21, dan penimbangan bobot rambut pada hari ke-21. Uji keamanan dilakukan pada lengan dalam bagian atas sukarelawan. Uji stabilitas fisik menghasilkan kedua formula stabil. Sediaan mikroemulsi ekstrak daun waru dengan klorofil konsentrasi 7,5% memiliki aktivitas pertumbuhan rambut paling besar. Semua formula mikroemulsi tidak menimbulkan efek iritasi.

Hibiscus tiliaceus, Linn. leaves are a plant having affect on hair growth. In this research, the microemulsion preparations are made containing 7.5% extracts Hibiscus tiliaceus, L. leaves with chlorophyll and without chlorophyll. The removal of chlorophyll in the Hibiscus tiliaceus, L. leaves is expected to improve the aesthetics of the preparation, but in this research the microemulsion contains extracts Hibiscus tiliaceus, L. leaves with and without chlorophyll has the same color preparations. Physical stability test are performed using methods cycling test, centrifugation test, and keeping in three different temperatures: low temperature (4 ± 2°C), room temperature (28 ± 2°C) and high temperature (40 ± 2°C). The hair growth activity is executed on some white male rabbits were by hair length measurements on day 7, 14, and 21, and total weights of hair on day 21. Irritation test is done on the upper hands volunteers. Physical stability test has resulted both of formulas was stable. The microemulsion contains extracts Hibiscus tiliaceus, L. leaves with chlorophyll in concentration of 7.5% has the greatest hair growth activity. All of the microemulsion formulas do not cause irritation.
"
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2014
S55024
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Hadiwijaya Lesmana Salim
"ABSTRAK
Klorofil-a sangat berperan dalam proses fotosintesis. Di suatu perairan, klorofil-a dapat mempengaruhi penyerapan CO2 oleh perairan tersebut, sehingga dapat diketahui apakah berperan sebagai pelepas atau penyerap CO2. Untuk mengetahui distribusi dan pengaruh konsentrasi klorofil-a terhadap dinamika fluks CO2 antara laut dan atmosfer diperlukan pengukuran sistem CO2 secara jangka panjang minimal 1 tahun. Tesis ini menampilkan hasil analisis citra satelit dan pengukuran sistem CO2 di Teluk Banten pada bulan Juni 2010 hingga Juni 2011. Wilayah penelitian meliputi wilayah pesisir hingga lepas pantai ke arah Laut Jawa. Tujuan utama dari penelitian ini adalah mengkaji variabilitas klorofil-a di Teluk Banten dan pengaruhnya terhadap dinamika fluks CO2. Metode yang meliputi pengukuran lapang melalui aktivitas sampling dan analisis penginderaan jauh citra satelit AQUA-MODIS. Fluks CO2 dihitung menggunakan formula Akiyama yang terdiri dari parameter kecepatan transfer gas, solubilitas dan perbedaan tekanan parsial CO2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa baik pada musim hujan maupun musim kemarau, di perairan pesisir atau dekat daratan cenderung mempunyai konsentrasi klorofil-a yang lebih tinggi dibanding lokasi lainnya di lepas pantai. Pada musim hujan pola distribusi fluks CO2 serupa dengan pola distribusi klorofil-a, sedangkan pada musim kemarau berfluktuasi. Pada musim kemarau konsentrasi klorofil-a lebih tinggi dan tersebar lebih luas dibandingkan pada musim hujan. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa terdapat korelasi yang cukup kuat antara fluks CO2 dengan konsentrasi klorofil-a pada musim hujan, sedangkan pada musim kemarau korelasinya lemah. Hasil uji regresi menunjukkan bahwa konsentrasi klorofil-a lebih berpengaruh terhadap fluks CO2 di musim hujan dibandingkan di musim kemarau. Baik pada musim hujan ataupun musim kemarau di Teluk Banten terjadi aliran CO2 dari laut menuju atmosfer. Sepanjang tahun perairan Teluk Banten merupakan sumber (source) CO2, dengan nilai emisi karbon rata-rata sebesar 12,15 kiloton atau sekitar 0,01% dari total emisi karbon perairan di Indonesia.

ABSTRACT
Chlorophyll-a has an important role in the process of photosynthesis. Chlorophyll-a can affect the absorption of CO2 in a territorial water, so that it can be determined whether as a sink or a source of CO2. To find out the distribution and impact of chlorophyll - a concentration on the dynamics of the CO2 fluxes between ocean and atmosphere are needed CO2 system measurement at least 1 year period. This thesis presents the results of satellite image analysis and measurements of the CO2 system in Banten Bay from June 2010 to June 2011. The research region covered from the coastal area to offshore toward the Java Sea. The main purpose of this study is to examine the variability of chlorophyll-a in Banten Bay and its impact on the dynamics of CO2 fluxes. The research method used were analyzing data through remote sensing satellite imagery AQUA-MODIS and sampling activity. CO2 fluxes were calculated using the Akiyama formula that consisted of gas transfer velocity parameters, solubility and CO2 partial pressure difference. The result showed that both in the wet or dry season, the coastal area and near the mainland tended to have chlorophyll-a concentration which was higher than other locations off the coast. In the wet season, distribution patterns of CO2 fluxes were similar to the distribution patterns of chlorophyll-a, but they fluctuated in the dry season. Chlorophyll-a concentration in the dry season was higher and wider than in the wet season. Statistical analysis in the wet season resulted a strong correlation between CO2 fluxes and chlorohyll-a concentration, but they had a weak correlation in the dry season. The result of the regression test showed that the concentration of chlorophyll-a had more influence on CO2fluxes in the wet season than in the dry season. Both wet or dry season, CO2 flow occurs from the ocean to the atmosphere in Banten Bay. Throughout the year, Banten Bay has a role as CO2 source, with the value of carbon emissions by an average of 12.15 kilotons, or about 0.01% of total carbon emissions in Indonesia waters."
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2012
T32751
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
"Distribution of chlorophyll-A and its relation with eotrophication in Jakarta bay . Eutrophication has been recognized as a serious problem in estuarine systems for many years....."
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Alsuhendra
"Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari daya terima minuman fungsional kaya antioksidan dari ekstrak klorofil rumput pahit dan antosianin ubi jalar ungu. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni-Agustus 2016 di Laboratorium Rekayasa dan Analisis Boga, Fakultas Teknik UNJ. Ekstraksi klorofil dari rumput pahit dilakukan dengan menggunakan larutan NaHCO3 pada konsentrasi 0.1% (b/v). Ekstrak klorofil tersebut selanjutnya ditambah dengan ion Cu2+ dalam bentuk CuSO4 sebanyak 100 mg Cu2+/L ekstrak klorofil rumput pahit untuk mendapatkan ekstrak klorofil yang lebih stabil. Sementara itu, ekstraksi antosianin dari ubi jalar ungu dilakukan dengan menggunakan pelarut air dan asam asetat 25% pada perbandingan 30:0.5. Ekstrak klorofil dan antosianin kemudian dicampur dengan perbandingan 1:1, 1:2, dan 1:3 untuk mendapatkan tiga minuman fungsional. Agar dapat diterima panelis, ke dalam campuran tersebut ditambahkan pemanis madu serta flavor pisang dan menthol. Minuman yang dihasilkan selanjutnya dinilai oleh 28 orang panelis agak terlatih dengan menggunakan uji organoleptik (uji hedonik). Hasil uji organoleotik memperlihatkan bahwa ketiga jenis minuman fungsional memiliki tingkat penerimaan agak suka hingga suka (skor 3.4-3.8) untuk aspek warna, rasa, dan aroma. Tidak ada perbedaan nyata tingkat penerimaan panelis terhadap warna, rasa, dan aroma untuk ketiga jenis minuman tersebut. Dengan demikian, dapat dinyatakan bahwa rumput pahit dan ubi jalar ungu dapat digunakan sebagai bahan baku dalam pembuatan minuman fungsional.

A functional beverage made of chlorophyll extract from bitter grass and anthocyanin from purple sweet potato was formulated and evaluated. Chlorophyll was extracted using of NaHCO3solution with a concentrations of 0.1% (w / v) and then was stabilized with Cu2+ ions through the addition of CuSO4 as much as 100 mg Cu2+/L chlorophyll extract. Meanwhile, anthocyanin was extracted using a mixture of water and 25% acetic acid at a ratio of 30:0.5. Functional beverage was prepared by blending different ratios of chlorophyll and anthocyanin extracts(1: 1, 1: 2 and 1: 3). To increase the acceptance of the panelists, honey, banana flavor and menthol flavorwas added into the beverages. Sensory characteristic was evaluated by 28 panelists using hedonic test. Hedonic test found that the three types of functional beverages has a acceptance score between 3.4-3.8 or in the range rather like to like, both for the aspect of color, flavor, and aroma (p > 0.05). It can be concluded that the bitter grass and purple sweet potato can be used as raw material in making of functional beverages."
Jakarta: Universitas Negeri Jakarta. Fakultas Teknik, 2016
502 JMSTUT 17:2 (2016)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
"Skipjack tuna is an important species targeting by pole and line fishery in Bone Bay. The distribution and abundance of this species tended to aggregate to the preferred bio-physical environments. To describe the short term relationship between skipjack tuna and oceanographic conditions and to visualize the predicted high catch areas, remotely sensed satellite based-oceanographic sea surface temperature (SST) and chlorophyll-a together fisheries data were used. Results indicated that the highest skipjack CPUEs were mainly found in coastal areas of Palopo and Kolaka both in 2007 and in 2009 during the period of study. The high tuna concentrations corresponded well with chlorophyll-a of 0.15-0.40 mg mg-3 and SST of 29.0-31.5 °C. The preferred ranges provide a good indicator for initially detecting potential skipjack fishing grounds. This study suggested that thermal and chlorophyll fronts as well as upwelling may important mechanisms in explaining the temporal and spatial dynamics of skipjack tuna distribution and abundance in Bone Bay."
620 JITK 3:1 (2011)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>