Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 84869 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Tri Fajari
"Maple Syrup Urine Disease is a disparity of leusin decarboxilation and isoleusin of valin defect that is synthesized with complex enzyme systems. It is a rare disease and represents disparity. In some cases can generate ketosis that grows according to health change and can cause comma. Dental treatment of a child with Maple Syrup Urine Disease was not clearly mentioned, there is only a factor such as infection which is very dangerous at any age and can generate irregular metabolism. Dental treatment of a child with Maple Syrup Urine Disease accompanied by mental retardation must to be done continuously to avoid infections that can result the death of the patient."
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2003
PDF
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
"Saat ini jumlah penyandang autisme terus meningkat. Badan pusat statistik saat ini
mencatat sekitar 1,5 juta anak di Indonesia mengalami autisme (http://www.medicastore.com/cybermed/detail). Dalam perkembangannya anak
autisme akan rnengalami gangguan komunikasi dan interaksi sosial (Mudjito; dikutip
dari International Herald Tribune (10/2)). Salah satu faktor yang berpengaruh
terhadap perkembangan anak adalah faktor keluarga yang mencakup orang tua,
sibling, dan pola asuh (Mott & Spenhack, 1988). Penelitian ini dibuat untuk
mengetahui apakah ada atau tidak hubungan pola asuh terhadap kemampuan
komunikasi dan interaksi sosial pada anak autisme. Dilakukan penelitian terhadap 35
pasang responden yang terdiri dari; 35 responden orang tua dan 35 responden anak
autisme di Yayasan Pendidikan Luar Biasa Nusantara. Dari hasil penelitian diketahui
bahwa ada hubungan antara pola asuh demoratis terhadap kemampuan komunikasi
dan interaksi sosial anak autisme. Selain itu diketahui juga bahwa ada hubungan pola
asuh non demokratis terhadap kemampuan kornunikasi dan interaksi sosial anak
autisme."
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2006
TA5516
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
"The variation of teeth number can occur at initiation phase of tooth development, the etiology is unclear but it be supposed by the excessive lamina dental activity. The supernumerary teeth can be single or multiple, at one side or two side, with conical, tubercle or normal form, undergo eruption or impacted, and with parallel or contrary direction of teeth development. The supernumerary teeth in incisive region is mesiodens. In this case report, the supernumerary teeth occured at mixed tooth period which it result in the tooth arrangement is bad. The mesiodens was extracted as the position of upper jaw central incisive teeth were corrected. The second supernumerary tooth with contrary direction was removed by surgery."
Journal of Dentistry Indonesia, 2003
pdf
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Dewi Ratih Tresna Aryanti
"ABSTRAK
Salah satu ciri dari anak dengan Autisme adalah memiliki hambatan dalam perkembangan bahasa dan komunikasi. Kata-kata yang dikeluarkan oleh anak dengan Autisme seringkali tidak ditujukan untuk berkomunikasi dan mereka juga jarang menggunakan bahasa tubuh untuk berkomunikasi sehingga apa yang diinginkan oleh anak dengan Autisme terkadang tidak dapat dipahami oleh orang disekitar. Picture Exchange Communication System (PECS) merupakan sistem bergambar bagi anak yang mengalami keterbatasan sosial dan komunikasi, biasanya digunakan oleh Autisme. Dengan sistem ini, anak diajarkan untuk menyampaikan permintaan apa yang diinginkannya kepada orang lain dengan cara menukarkan kartu. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan meningkatkan keterampilan komunikasi dalam menyampaikan permintaan pada anak dengan Autisme menggunakan prinsip-prinsip PECS yang ditandai dengan penguasaan tugas-tugas pada fase 3B. Dalam penelitian ini, juga dilibatkan ibu sebagai orang yan paling dekat dengan anak. Berdasarkan hasil penelitian, anak mampu menguasai fase 3B dan terdapat peningkatan keterampilan berkomunikasi dalam menyampaikan permintaan pada anak dengan Autisme.

ABSTRACT
One of the difficulties that children with Autism have is in language development and communication. The words spoken by children with autism, often not intended to communicate and they rarely used body language to communicate, so people around them sometimes don’t understand their wants and needs. Picture Exchange Communication System (PECS) is a pictorial system was developed for children who have social and communication problems. This system is usually applied for children with autism. With this system, children with autism are taught to ask for what they want to other people by exchanging cards. The purpose of this research is to improve communication skill in requesting something to other people in children with autism using PECS which are marked by mastery of tasks in phase 3B. Child’s mother is also participated in the research, as she is the closest person to the child. The result of this research is the child mastered phase 3B and there is improvement in communication skill, especially in asking for request."
Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2013
T32639
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
"Indonesian Journal of Dentistry 2006; Edisi Khusus KPPIKG XIV: 189-192
Dental trauma in childhood and adorescence is a common accidents, with the most accident-prone time is between 9 and 10 years old. Boys affected are almost twice than girls and the maxillary central incisors are the most affected. This report describes an Ellis class II fracture in maxillary central incisors caused by trauma on a 9 years old boys. The case was treated by pulp capping and restored by composite material."
Journal of Dentistry Indonesia, 2006
pdf
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Dewanti
"ABSTRAK
Karies pada anak usia sekolah mengalami peningkatan setiap tahunnya. Salah satu faktor yang mempengaruhi adalah pengetahuan dan kesadaran pentingnya perawatan kesehatan gigi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan kesehatan gigi dengan perilaku perawatan gigi pada
anak usia sekolah. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif korelatif. Responden penelitian berjumlah 156 anak usia sekolah di SDN Pondok Cina 4 Depok. Pengambilan sampel yang digunakan adalah stratified random sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya hubungan bermakna antara tingkat pengetahuan tentang kesehatan gigi dengan perilaku perawatan gigi pada anak
usia sekolah di SDN Pondok Cina 4 Depok (p value: 0,013). Penelitian ini merekomendasikan institusi kesehatan, institusi pendidikan, dan orang tua untuk meningkatkan muatan informasi terkait kesehatan gigi dan perawatan gigi pada anak usia sekolah sehingga dapat mencegah terjadinya karies gigi

abstract
Caries in school-age children increases every year. One of the factors that affects the dental caries are knowledge and awareness of the importance dental health care. The aims of this study are to determine the relationship between the levels of dental health knowledge with the behavior of doing dental care. This study used descriptive correlative design. Sample of this study are 142 school age children in SDN Pondok Cina 4 Depok. Stratified random sampling is used as the sampling
techniques. The results of this study showed that there is a significant relationship between level of dental health knowledge with dental care behavior of school-age children in SDN Pondok Cina 4 Depok (p value: 0.013). The study recommends to health care institutions, educational institutions, and parents to enhance the information content related to dental health and dental care at school-age children to prevent the occurrence of dental caries."
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2012
S42783
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Ivan Fransiskus
"Kecemasan dental yang timbul pada masa kanak-kanak merupakan hambatan terbesar bagi dokter gigi dalam melakukan perawatan yang optimal. Usia 7 tahun merupakan fase pertengahan pada middle childhood dan usia 10 tahun merupakan fase pertengahan pada fase late childhood, kedua kelompok usia tersebut mempunyai tahap-tahap perkembangan fisik, sosio-emosional, dan koginitif yang berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan tingkat kecemasan dental pada anak usia 7 dan 10 tahun, serta perbedaan tingkat kecemasan dental berdasarkan jenis kelamin pada masing-masing usia tersebut. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara menggunakan kuesioner CFSS-DS yang telah dimodifikasi pada anak Sekolah Dasar Pelangi Kasih usia 7 dan 10 tahun dengan jumlah sampel sebanyak 100 siswa pada masing-masing kelompok usia.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan antara tingkat kecemasan antara usia 7 dan 10 tahun. Pada usia 10 tahun memiliki tingkat kecemasan dental yang lebih tinggi. Berdasarkan perhitungan chi-square ditemukan perbedaan tersebut tidak bermakna (p<0,05). Perbedaan tingkat kecemasan juga ditemukan diantara anak laki-laki dan perempuan pada usia 7 dan 10 tahun dengan anak perempuan memiliki tingkat kecemasan yang lebih tinggi pada dua kelompok usia tersebut. Berdasarkan perhitungan chi-square ditemukan bahwa perbedaan antara jenis kelamin tidak bermakna pada usia 7 tahun (p<0,05) dan usia 10 tahun (p<0,05).

Dental anxiety in children is one of the obstacle that inhibit the dentist to perform an optimum dental treatment. Age of 7 years old is a middle stage in middle childhood phase and age of 10 years old is a middle stage in late childhood phase. The purpose of this study is to know the difference of dental anxiety on 7 and 10 years old children and dental anxiety between gender on that age group. The data were collected by interview in Pelangi Kasih Primary School using CFSS-DS (Children?s Fear Survey Schedule - Dental Subscale) questionnaire.
The results show that there is a difference of dental anxiety between 7 and 10 years old which 10 years old children have a greater anxiety. Based on Chi-square analysis, the difference between those ages were not significant (p<0.05). The difference of dental anxiety were also found between boys and girl in those age groups. The result show that The girls were more anxious than boys and based on chi-square anylisis the difference between gender and dental anxiety were found not significant in 7 years old (p<0,05 ) and 10 years old (p<0,05).
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2008
S-Pdf
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
"Pada anak usia sekolah, kesehatan gigi memerlukan perhatian khusus. Karena pada usia ini gigi susu digantikan oleh gigi permanen. Menurut Depkes (2006), derajat kesehatan gigi dan mulut anak Indonesia tergolong rendah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perawatan gigi pada anak sekolah.
Penelitian ini dilakukan di SDN Cikande Permai dengan jumlah responden 61 orang yang terdiri dari 30 anak kelas 5 dan 33 anak kelas 4. Desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif korelatif dengan menggunakan instrumen kuesioner. Analisis data yang digunakan adalah univariat dan bivariat. Hasil penelitian ini rnenyimpulkan bahwa anak yang memiliki perawatan gigi baik sebesar 54,l%. Ada hubungan bermakna antara motivasi anak dengan perawatan gigi anak (P value= 0,018; a=0,005). Tidak ada hubungan bermakna antara peran orangtua dengan perawatan gigi anak (P value= 0,225; a=0,005). Tidak ada hubungan bermakna antara cara menggosok gigi dengan perawatan gigi anak (P value= 0,693; a=0,005). Tidak ada hubungan bermakna antara frekuensi menggosok gigi dengan perawatan gigi anak (P value= 0,095; a=0,005). Tidak ada hubungan bermakna antara keterjangkauan pelayanan kesehatan dengan perawatan gigi anak (P value= 0,16; a=0,005). Dari pembahasan diketahui ada faktor lain yang mempengaruhi perawatan gigi anak, oleh karena itu sebaiknya penelitian yang mendatang meneliti faktor-faktor tersebut."
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2007
TA5584
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Heriandi Sutadi
"ABSTRAK
Kegunaan suatu tes prediksi karies terutama untuk seleksi kasus serta sebagai koreksi individu, terhadap kemungkinan terjadinya karies pada masa yang akan datang. Hal ini erat kaitannya dengan metode pencegahan karies yang akan dilakukan. Tujuan dari penelitian ini untuk melihat prediksi karies serta faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya karies, pada anak balita dengan menggunakan metode prediksi suatu tes aktifitas karies 'Cariostat'.
Penelitian dilakukan secara longitudinal satu tahun pada 615 anak usia 1 sampai 3 tahun di Daerah Depok Jawa Barat. Jumlah sampel yang dapat diikuti selama satu tahun serta memenuhi kriteria penelitian didapatkan sebanyak 339 anak.
Pemeriksaan gigi geligi dilakukan untuk melihat pengalaman karies yang ada serta pengambilan sampel tes aktifitas karies dengan menggunakan Cariostat, untuk melengkapi data dilakukan wawancara untuk pengisian kuesioner. Pemeriksaan dengan subyek yang sama di ulangi kembali setelah satu tahun kemudian.
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan terlihat bahwa secara statistik, tes aktifitas karies Cariostat menunjukkan signifikansi yang sangat baik (p<0.001), antara nilai skor Cariostat dengan def-t. Juga ditemukan adanya peningkatan karies sebesar dua setengah kali antara grup aktifitas karies rendah dan grup aktifitas karies tinggi. Disamping itu pula, dari analisa prediksi menunjukkan bahwa tes aktifitas karies 'Cariostat' mempunyai nilai prediksi yang baik dengan terjadinya karies setelah diikuti selama 1 tahun, dilihat dengan adanya kenaikan def-t sesuai dengan tingkatan kiasifikasi aktifitas karies.
Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya karies gigi anak antara lain : jenis makanan, konsistensi makanan, frekuensi makan, kebiasaan menyikat gigi, serta sikap dan perhatian orang tua terhadap keadaan gigi geligi anaknya. Faktor-faktor di atas mempunyai hubungan yang bermakna dengan meningkatnya aktifitas karies serta def-t.

ABSTRACT
Longitudinal Research Studies On Caries Activity And The Factors Influenced Of Caries, Using Caries Prediction Method On Children Under Five Years Old. The caries prediction test most effective to use especially for screening cases and as individual correction to possibility of caries in the future and its relation to caries prevention pro-gram_ The purpose of this study was to determine the suitability of the caries prediction test 'Cariostat' and possibility of caries occurrence.
The subjects of this study were 816 children of 1 to 3 years old in Depok West Java. Oral examination was carried out to asses the caries experience, and Cariostat was used to test the caries activity_ The research was continued for one year and 339 children were reexamined on the same subject.
The result showed that caries activity test the Cariostat was highly statistical significance (p<0.001) between Cariostat score and def-t index. It was also found about two times difference caries increment between low and high-risk caries active group. The prediction analysis after one year reexamined, also showed high the predictive value of Cariostat score to def-t index.
The are factors that influenced development of dental caries such as: kind of food, consistency of food, frequency of eating food, brushing teeth habit, and from the parent attention to dental health car. The result showed, there was significant correlation (p<0.O01) between caries activity and def-t."
Depok: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 1994
LP-pdf
UI - Laporan Penelitian  Universitas Indonesia Library
cover
Sri Harini Soemartono
Jakarta: UI-Press, 1998
PGB 0453
UI - Pidato  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>