Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 85284 dokumen yang sesuai dengan query
cover
"Tanaman kubis adalah sayuran yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat dan pada umumnya dalam pertumbuhannya diperlukan banyak air. Pestisida yang larut dalam air akan meresap pada daun tanaman kubis, hal ini akan menimbulkan dampak negatif apabila dikonsumsi secara langsung. Kandungan residu pestisida yang ada didalam sayuran tergantung penggunaan pestisida yang antara lain dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu : jenis pestisida yang digunakan, dosis/konsentrasi pestisida yang digunakan, frekuensi penyemprotan, rentang waktu penyemprotan terakhir sebelum dipanen dan alat yang digunakan."
600 SATEK 3:1 (2006)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Sentot Hari Wibowo
"Tomat merupakan salah satu jenis sayuran yang banyak dikonsumsi masyarakat dan banyak diperdagangkan di Pasar Swalayan dan Pasar Tradisional. Kebutuhan tomat untuk konsumsi melebihi kebutuhan akan daging atau ikan. Sejalan dengan meningkatnya kebutuhan masyarakat akan tomat maka upaya yang dilakukan petani untuk meningkatkan hasil panennya adalah dengan menekan kerusakan buah tomat dari serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) secara kimiawi. Pada umumnya petani tomat mempunyai ketergantungan pada pestisida dalam pengendalian OPT. Aplikasi pestisida oleh petani meningkatkan residu pestisida pada tanaman tomat yang dapat membahayakan konsumen. Residu pestisida tersebut dapat masuk ke dalam jaringan tanaman dan melekat atau tertinggal di permukaan buah dan daun tanaman tomat. Permasalahan yang diangkatdalam penelitian ini adalah (1) apakah kadar residu pestisida pada tomat produksi petani PHT lebih rendah daripada petani Non-PHT1 (2) apakah penanganan pascapanen dapat menurunkan kadar residu pestisida pada buah tomat sebelum dijual ke pasar, (3) apakah kadar residu pestisida pada buah tomat yang dijual di Pasar Tradisional dan Pasar Swalayan melampaui Batas maksimum residu (BMR) pestisida yang disyaratkan, (4) apakah ada hubungan antara latar belakang pendidikan dan pekerjaan konsumen dengan persepsi mereka tentang residu pestisida pada buah tomat yang dijual di Pasar Tradisional dan Pasar Swalayan.
Untuk menjawab pertanyaan itu, dikemukakan beberapa hipotesis sebagai berikut: (1) tingkat kadar residu pestisida pada buah tomat yang dihasilkan oleh petani PHT !ebih rendah daripada oleh petani Non-PHT, (2) kegiatan penanganan pascapanen dapat menurunkan kadar residu pestisida pada buah tomat, (3) kadar residu pestisida pada buah tomat yang dijual di Pasar Tradisional dan Pasar Swalayan melampaui BMR yang disyaratkan, (4) ada hubungan antara latar belakang pendidikan dan pekerjaan konsumen dengan persepsi mereka tentang residu pestisida pada buah tomat. Penelitian ini menggunakan metode survai di Kabupaten Bandung. Pengamatan dilakukan dengan teknik pengambilan sampel secara Purposive Sampling dari bulan September sampai dengan Desember 2003. Data primer diperoleh dari hasil pengujian laboratorium dan hasil wawancara dengan responden atau menggunakan kuisioner. Analisis uji statistik untuk hasil kuisioner menggunakan Koefrsien Korelasi bersyarat (coeficient of contingency) dengan terlebih dahulu mencari Khai Kuadrad.
Hasil penelitian adalah sebagai berikut
1.Tingkat residu pestisida pada buah tomat yang diambil dari hasil panen PHT lebih rendah daripada yang berasal dari petani Non-PHT. Kadar Profenofos pada sistem PHT 0,1586 mg/kg, sedang Non-PHT 0,3338 mg/kg, sedang untuk Mankozeb pada PHT 0,0320 mg/kg, sedang pada Non-PHT 0,0673 mg/kg (Lembang). Kadar Profenos pada PHT 0,4288 mg/kg, sedang Non-PHT 0,9027 mg/kg. Untuk Mankozeb pada PHT 0,0305mg/kg, sedang Non-PHT 0,0643 mg/kg (Pangalengan).
2.Kegiatan penanganan pascapanen mulai tomat dipetik sampai tiba di Pasar Tradisional dan Pasar Swalayan dapat menurunkan kadar residu pestisida pada buah tomat.
3.Kadar residu Profenofos dan Mankozeb pada buah tomat yang dijual di Pasar masih di bawah BMR yang ditetapkan oleh FAO,
4.Mayoritas responden (80%) mengetahui tentang residu pestisida . Meski demikian, hanya 23,33% responden menyatakan residu pestisida berdampak langsung pada kesehatan dan 56,67% responden mengatakan dampak buruk mengkonsumsi buah tomat yang mengandung residu pestisida bersifat jangka panjang.
Berdasarkan hasil penelitian di atas maka kesimpulan yang dapat diambil adalah (1) Kadar residu pestisida pada buah tomat produksi petani PHT lebih rendah daripada dari petani Non-PHT, 2) Kegiatan penanganan pascapanen mulai buah dipetik sampai tiba di pasar dapat menurunkan kadar residu pestisida pada buah tomat. (3) Tingkat residu pestisida pada buah tomat yang dijual di pasar masih di bawah BMR, (4). ada hubungan antara Tatar belakang pendidikan dan pekerjaan konsumen dengan persepsi mereka tentang residu pestisida pada buah tomat, tetapi tingkat pendidikan konsumen yang tinggi tidak mencerminkan mereka mengetahui residu pestisida secara mendalam. Dari kesimpulan di atas maka disarankan bahwa; {1) perlu pendidikan dan pelatihan secara berkelanjutan untuk mencetak petani tomat yang handal dalam mengaplikasikan pestisida (2) untuk menjamin keamanan pangan dan kesehatan masyarakat maka pemerintah perlu menetapkan BMR Profenofos dan Mankozeb untuk buah tomat (3) perlu adanya sosiafsasi kepada masyarakat luas bagaimana Cara mengurangi kadar residu pestisida pada buah tomat sebelum dikonsumsi (4) perlu penelitian lebih lanjut oleh instansiliembaga terkait dan Perguruan Tinggi untuk mendapatkan informasi residu pestisida yang aman untuk manusia dan lingkungan.

Tomato is one of the fruit vegetables which is consumed by many people and sold in the Supermarket and Traditional Market The human need of tomatoes for consumption is higher than meat or fish. In line with the increase of demand of tomato consumers, one of the farmers' efforts to increase yield of tomatoes is by suppressing the damage (yield loss) caused by pests and diseases through the use of chemical pesticides. Generally, tomato farmers are completely relying on the use of pesticides to control pests and diseases. The application of pesticides done by the farmers leaves residue of chemical substances on tomato fruits, which is harmful to the consumers. The pesticide residues may enter the plant cells and attach or left on the surface of tomato leaves and fruits. The problems raised in this study are: (1) whether the level of pesticide residues in tomato fruits grown by Integrated Pest Management (IPM) farmers was lower than non-IPM farmers, (2) whether fresh handling activities can reduce the pesticide residue contents in tomato fruits before to be sold to the market, (3) whether the contents of pesticide residues in tomatoes sold in traditional market and supermarket surpasses the official maximum residue limits (MRL), (4) whether the background of education and job of consumers effect their perception on the pesticide residues in tomatoes sold in traditional market and supermarket.
To get the answer of above mentioned questions, some hypothesis are drawn as follows: (1) level of pesticide residues in tomatoes harvested from IPM farmers' growing is lower than non-IPM farmers, (2) fresh handling activities can reduce the pesticide residues content in tomato fruits before to be sold to the market, (3) the pesticide residues level in tomatoes sold in traditional market and supermarket surpass the official MRL, (4) the background of education and job of consumers effect their perception on pesticide residues in tomatoes. This study was conducted using a formal survey in Bandung district from September to December 2003. Observation was made with the use of purposive sampling. The primary data were obtained from laboratory analysis and interview with the respondents or using a questionnaire. Statistical analysis for data obtained from the questionnaire was done with the use of coefficient of contingency and Chi Square.
Results of the study are as follows:
1.Level of pesticide residues in tomato samples taken from IPM farmers at harvest time was lower than non-IPM farmers. The profenofos content in 1PM system was 0.1586 mg/kg, while in non-IPM system was 0.3338. mg/kg. In addition, the mancozeb content was 0.0320 mg/kg in IPM system, and 0.0673 mg/kg in non-IPM system (Lembang sub-district). The profenos content was 0.4288 mg/kg in IPM system, while in non-IPM system was 0.9027 mg/kg. As for mancozeb, in IPM system was 0.0305, mg/kg, while in non-IPM system was 0.0643 mg/kg (Pangalengan sub-district).
2.Fresh handling activities starting from picking tomato fruits at harvest time up to the markets can reduce the pesticide residues in tomatoes.
3.The residues of profenofos and mancozeb in tomatoes sold in
traditional market and supermarket were still below MRL values
recommended by FAO.
4.Most the respondents (80%) knew about pesticide residue. However only 23,33% out of the total respondents stated that pesticide residues in tomatoes would give direct negative side effects on human health. In addition, 56,67% out of the total respondents said that negative side effect will occur in a long term.
Based on the results of study, following are some important conclusions: (1) pesticide residue contents in tomatoes harvested from 1PM farmers were lower than from non-IPM farmers, (2) fresh handling activities of tomatoes starting from harvest time up to consumers can reduce the pesticide residues in tomatoes, (3) the level of pesticide residues in tomatoes sold in market is still below MRL, (4) higher level of education background of the consumers do not reflects their profound knowledge on pesticide residues.
Some important recommendation: (1) it is needed to train continuously the tomato farmers who can apply good agriculture practices (2) the maximum residue limit (MRL) of tomatoes should be established by the government to support the food safety and health of the consumers, (3) it is disseminated continuously so that the people know how to reduce the content of pesticide residues in tomatoes, (4) it is needed to conduct research continuously by related institutions to get information of pesticide residues which is safe for human and environment.
"
Jakarta: Program Pascasarjana Universitas Indonesia, 2005
T15071
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Eka Lusi Susanti
"[ABSTRAK
Prevalensi infeksi parasit usus di Jakarta masih tinggi, yaitu mencapai 70,47%. Ada beberapa jalur transmisinya, antara lain melalui konsumsi sayuran yang terkontaminasi. Sayuran yang mungkin terkontaminasi ialah kubis, terlebih lagi kubis dapat dimakan dalam kondisi mentah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan membandingkan kontaminasi parasit usus pada kubis di pasar tradisional dan swalayan Jakarta tahun 2012. Digunakan masing-masing 20 sampel sayuran kubis dari pasar tradisional dan swalayan Jakarta. Sampel diolah menggunakan metode sedimentasi sederhana dengan media perendaman larutan deterjen cair 10% dan air sebagai kontrol. Ditemukan 100% sampel kubis yang diteliti menggunakan media perendaman larutan deterjen cair 10% positif terkontaminasi parasit usus dengan jumlah yang bervariasi. Spesies parasit usus yang ditemukan ialah Ascaris lumbricoides (64,03%), Trichuris trichiura (18,71%), cacing tambang (7,02%), Giardia lamblia (7,90%), dan Entamoeba coli (2,34%). Terdapat perbedaan yang bermakna (p=0,000) antara jumlah parasit usus pada sayuran kubis di pasar tradisional sebanyak 2240 (64,93%) dan swalayan sebanyak 1210 (35,07%). Terdapat perbedaan yang bermakna (p=0,000) antara jumlah kontaminasi parasit usus pada sayuran kubis berdasarkan media perendaman, yaitu sebanyak 3450 (71,43%) pada larutan deterjen cair 10% dan 1380 (28, 57%) pada air.

ABSTRACT
Prevalence of intestinal parasites infection in Jakarta is still high, about 70,47%. There are several ways of its transmission. One of them is by consuming contaminated vegetables. Vegetables which are possible to be contaminated is cabbage, more over it can be consumed in raw condition. This study aims to determine and compare contamination of intestinal parasites on cabbage from traditional and modern markets Jakarta 2012. This study used 20 samples of cabbages from each traditional and modern markets in Jakarta. Samples were processed using a simple sedimentation method with 10% liquid detergent solution as submersion media and water as control. From all samples, 100% samples of cabbage that were soaked in 10% liquid detergent solution were positive contaminated by intestinal parasites in varying amounts. Species of intestinal parasites that was found were Ascaris lumbricoides (64,03%), Trichuris trichiura (18,71%), Hookworm (7,02%), Giardia lamblia (7,90%), and Entamoeba coli (2,34%). There was a significant difference (p=0,000) between the number of intestinal parasite on cabbage from traditional markets as much as 2240 (64,93%) and modern markets as much as 1210 (35,07%). There was a significant difference (p=0,000) between the number of intestinal parasites contamination on cabbage based on submersion media, 3450 (71.43%) was found by using 10% liquid detergent solution and 1380 (28, 57%) was found by using water., Prevalence of intestinal parasites infection in Jakarta is still high, about 70,47%. There are several ways of its transmission. One of them is by consuming contaminated vegetables. Vegetables which are possible to be contaminated is cabbage, more over it can be consumed in raw condition. This study aims to determine and compare contamination of intestinal parasites on cabbage from traditional and modern markets Jakarta 2012. This study used 20 samples of cabbages from each traditional and modern markets in Jakarta. Samples were processed using a simple sedimentation method with 10% liquid detergent
solution as submersion media and water as control. From all samples, 100% samples of cabbage that were soaked in 10% liquid detergent solution were positive contaminated by intestinal parasites in varying amounts. Species of intestinal parasites that was found were Ascaris lumbricoides (64,03%), Trichuris trichiura (18,71%), Hookworm (7,02%), Giardia lamblia (7,90%), and Entamoeba coli (2,34%). There was a significant difference (p=0,000) between the number of intestinal parasite on cabbage from traditional markets as much as 2240 (64,93%) and modern markets as much as 1210 (35,07%). There was a significant difference (p=0,000) between the number of intestinal parasites
contamination on cabbage based on submersion media, 3450 (71.43%) was found by using 10% liquid detergent solution and 1380 (28, 57%) was found by using water.]"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2014
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 1992
S41112
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
cover
Ginting, Adil Minita
"Pada penelitian ini akan dilakukan dengan pembuatan lapisan woka 3202 pada substrat sehingga memiliki kekerasan maksimal dan porositas yang kecil dengan menggunakan High Velocity Oxi-Fuel (HVOF) Thermal spraying dan di lakukan tempering dengan suhu tetap dan waktu temper dibuat yang bervariasi. Data hasil dari lapisan ini diuji kekerasannya dengan menggunakan uji kekerasan mikro vickers dan ukuran diameter butir grain pada lapisan woka 3202, dianalisa secara mikrostruktur bagaimana perubahan stuktur butiran sebelum dan sesudah dilakukan temper yang waktunya bervariasi dengan menggunakan, mikroskop optik, XRD dan SEM sehingga akan diperoleh hasil yang diharapkan oleh dunia industri."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Indonesia , 2007
T21211
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Suroso
"ABSTRAK
Telah dilakukan penelitian tentang Pembuatan dan Karakterisasi lapisan JK7112
yang dibuat dengan proses HVOF Thermal spray Coating. Sampel diteliti ukuran
butir,struktur kristal,pertumbuhan butir dan perubahan struktur yang akan
menentukan sifat mekanik seperti kekerasan.Pengujian dilakukan dengan Scaning
Electron Microscop(SEM),Vickers Hardness tester dan X-Ray
Difraction(XRD).Hasil yang diperoleh bahwa setelah sample dipanaskan sampai
suhu 600oC ,maka kekerasan lapisan bertambah dan terjadi perubahan phase
kristal."
2007
T21242
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Indro Baskoro
"Kebutuhan akan inhibitor korosi ramah lingkungan semakin berkembang, sehingga penelitian untuk mencari alternatif ekstrak tumbuhan sebagai inhibitor korosi semakin meningkat. Kayu secang dipercaya memiliki kandungan antioksidan yang dapat berperan dalam menghambat laju korosi yang pada material. Penelitian ini dilakukan untuk melihat efek penambahan ekstrak Kayu Secang (KS) terhadap laju korosi dari Baja API 5L X52 dalam Larutan 3,5% NaCl dan juga melihat sifat sinergis inhibitor saat ekstrak KS dikombinasikan dengan ekstrak Kubis Merah (KM) yang sebelumnya telah dilaporkan efektif sebagai inhibitor korosi.
Beberapa pengujian dilakukan untuk mengevaluasi KS sebagai inhibitor korosi. Metode Polarisasi dan EIS digunakan untuk melihat efektifitas ekstrak KS dan kombinasinya dengan ekstrak KM sebagai inhibitor korosi dengan variasi konsentrasi yang ditambahkan. FTIR digunakan untuk mengkarakterisasi gugus fungsi yang terkandung dalam ekstrak KS dan KM. Model adsorpsi isotherm digunakan untuk melihat mekanisme adsorpsi dari ekstrak.
Dari hasil Polarisasi menunjukan penambahan ekstrak KS akan menurunkan laju korosi dari 0,172 mm/tahun menjadi 0,04 mm/tahun hingga konsentrasi 0,75 ml dalam 200 ml 3,5% NaCl, dan pengujian EIS mendukung hasil tersebut. Pengabungan ekstrak KS dengan KM menunjukan efek anti-sinergi melihat dari nilai sinergistik parameter yang didapat <1. Peningkatan efisiensi inhibisi pada komposisi 0,1 ml dan 0,2 ml KS dalam 2,5 ml KM, diperkirakan karena ekstrak yang ditambahkan belum mencapai titik optimum.
Hasil FTIR menunjukan ekstrak KS memiliki gugus C=O yang berperan dalam proses adsorpsi dan gugus ?OH (hydroxil) yang menunjukan sifat antioksidan. Ekstrak KS dan juga campurannya teradsorpsi mengikuti model Langmuir isotherm dimana adsorpsi yang terjadi adalah monolayer dan tidak ada reaksi antar molekul. Nilai energi bebas menunjukan bahwa proses adsorpsi terjadi secara spontan dan jenis ikatan yang terjadi dalam proses adsorpsi adalah secara fisik/physicsorption dengan nilai -20,79 KJ/mol untuk ekstrak KS, dan -7,08 KJ/mol untuk Ekstrak KS+KM

The needs of green corrosion inhibitors is growing, thus searching for the alternative plants extract to be used as corrosion inbitor is increasing. Caesalpinia sappan L (KS) believed to contain antioxidant that may play role in inhibiting the corrosion rate of material. This study was conducted to understand the inhibitive properties owned by the extract of KS on the API 5L X52 Material in 3.5%NaCl and to assess the sinergistic effect when KS is combined with Red Cabbage (KM) extract which already proven as alternative corrosion inhibitor.
Several tests were conducted to evaluate KS as green corrosion inhibitor. Tafel Polarization and EIS methods were used to assess the effectiveness of KS and its combination with KM as corrosion inhibitor at various concentration in 3.5% NaCl. FTIR method was used to characterize the functional groups contained in the extract. Adsorption isotherm was used to recognize the adsorption mechanism of the extracts.
The polarization results shows the inhibitive properties of KS thus reduce the corrosion rate of material from 0.172mm/year to 0.04mm/year with addition of 0.75ml of KS in 200ml 3.5%NaCl, meanwhile EIS result supports the polarization results. Mixing of KS and KM shows anti-synergistic effect, which shown on synergistic parameter value <1 for any volume addition of KS. An increase in inhibition efficiency on 0.1ml and 0.2ml KS composition of the mixture is expected due the mixture has not reached the critical point.
While FTIR results show KS and KM both has a C = O functional groups that play a role in the adsorption process and the -OH (hydroxil) which shows antioxidant properties. From the verification plot of several isotherm models, the KS extract and its mixture follows Langmuir Isotherm, which mean the inhibitive layer adsorbed is considered monolayer and there is no reaction between the active molecules. Thus from the calculation of adsorption free energy we have -20.79KJ/mol for KS and - 7.08KJ/mol, thereof the adsorption process considered as physicsorption and the adsorption occurs due to electrostatic bond. The minus (-) sign indicates the adsorption process is spontaneous.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2016
T45863
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Mohammad Arief Widagdo
"Pestisida adalah salah satu zat agrokimia yang paling banyak digunakan dalam bidang pertanian, residu pestisida yang tertinggal dan dikonsumsi oleh manusia dapat memberikan dampak negatif bagi kesehatan. Salah satu cara untuk mengurangi residu pestisida adalah dengan menggunakan menambahkan arang atau Arang pada media tanam. Arang adalah sisa hasil pertanian yang dibakar menggunakan teknik pirolisis dan memiliki potensi untuk mengurangi residu pestisida.
Penelitian dilakukan menggunakan desain studi quasi-experimental. Kelompok diberi enam perlakuan yang berbeda dengan satu kelompok kontrol dan diulangi sebanyak tiga kali. Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 27 sampel. Arang yang digunakan dibakar dengan suhu 200-400oC. Sawi hijau ditumbuhkan menggunakan dua jenis Arang, Sekam Padi dan Tempurung kelapa, dengan masing-masing tiga konsentrasi yang berbeda (0.l%, 0.5%, dan 1% dari berat media tanam) dan satu kontrol. Setelah tanaman dipanen, tanaman ditimbang untuk mendapatkan berat dan dianalisis residu menggunakan alat Kromatografi Gas, teknik destruksi sampel menggunakan metode Quechers.
Hasil analisis menunjukkan bahwa tanaman dengan penambahan Arang memiliki mean residu yang berbeda signifikan dibanding dengan kelompok kontrol (P=0.049). Untuk setiap kenaikan konsentrasi Arang jenis Sekam Padi, residu pestisida berkurang sebanyak 25%, sedangkan untuk setiap kenaikan konsentrasi Arang jenis tempurung kelapa, residu pestisdia berkurang sebanyak 20.5%. Arang jenis Sekam Padi lebih efektif dalam mengadsorbsi pestisida dibandingkan Arang jenis tempurung kelapa. Dapat disimpulkan bahwa penambahan Arang mampu mengurangi residu pestisida di tanaman sawi.

Pesticide is one of the most utilized agrochemical substance during farming, although farmer benefited from the use of pesticide, pesticide residue may pose hazard towards human health. An onsite farming approach is best suited to reduce the uptake of pesticide in plant. One of the proposed method is using Biochar as a pesticide adsorbtion. Biochar is byproduct of biomass using pirolisis.
This study was conducted using Quasi Experimental study. Sample was given six different treatment with one control and replicated three times, the total sample used in this study was 27. Sample was grown using two types of Biochar, Rice Husk and Coconut with three different concentration (0.1%, 0.5%, and 1% based on the growing soil). Biochar used in this experiment was pirolisis in 200-400oC. After the plant was harvested, sample was weighted and analyze using Gas Chromatography. Sample was destructed using Quechers method.
The result shows that there are differences in residue uptake between plant without Biochar and plant with Biochar (P=0.049). For each increase in Biochar concentration, residue was reduced by 25% for rice husk while for coconut it reduce residue by 20.5% for each increase. In this study, Biochar from rice husk was more effective than Biochar from coconut. It can be concluded by this study that Biochar has the potential to reduce pesticide uptake in Caisim.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2016
S65340
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Muhammad Akbar Barrinaya
"Ekstrak kubis merah telah dievaluasi sebagai inhibitor korosi ramah lingkungan untuk baja API 5L grade X60 dilingkungan larutan NaCl 3,5% menggunakan metode Tafel polarisasi dan Electrochemical Impedance Spectroscopy. Pengujian Tafel Polarisasi menunjukkan ekstrak kubis merah bertindak sebagai inhibitor campuran sedangkan pengujian Electrochemical Impedance Spectroscopy menunjukkan terbentuknya lapisan film dari molekul inhibitor pada permukaan baja API 5L grade X60, dari kedua pengujian ini effisiensi inhibisi meningkat dengan meningkatnya jumlah konsentrasi inhibitor yang ditambahkan. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa molekul inhibitor teradsorpsi secara fisika dengan mengikuti model adsorpsi Langmuir Isoterm, senyawa Cyanidin diketahui sebagai senyawa utama yang teradsorpsi pada permukaan baja API 5L grade X60.

Red cabbage extract has been evaluated as green inhibitor corrosion for API 5L grade X60 steel on 3.5% NaCl environment using Tafel polarization and Electrochemical Impedance Spectroscopy. Tafel polarization methode shows red cabbage extract acts as an mixed inhibitor and Electrochemical Impedance Spectroscopy methode showed the formation of a layer of film of the inhibitors molecule on the surface of the API 5L grade X60 steel, from both this methode inhibition efficiency increases with increasing concentration of inhibitor. Results of the evaluation showed that the inhibitor molecules is physically adsorbed by following the Langmuir isotherms model, cyanidin compounds are known as major compounds are adsorbed on the surface of API 5L grade X60 steel."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2015
T43833
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>