Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 91383 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Samsu Herawan
"ABSTRAK
Pembacaan mammografi merupakan aktifitas yang memerlukan pengetahuan dan kemampuan yang handal. Keberhasilan pengobatan kanker payudara tergantung pada deteksi dini dan diagnosis kelainan payudara. Mamografi adalah pemeriksaan terbaik yang tersedia untuk mendeteksi tanda-tanda awal kanker payudara seperti massa, kalsifikasi, asimetri bilateral dan distorsi arsitektur. Karena keterbatasan pengamat manusia, komputer memiliki peran utama dalam mendeteksi tanda-tanda awal kanker. Metode watershed diharapkan dapat memberikan informasi berbagai fitur yang menentukan kelainan dan fakta bahwa mereka sering tidak bisa dibedakan dari jaringan sekitarnya.
computer aided diagnosis mammography diharapkan dapat membantu dalam pembacaan ketidak normalan pada payudara . Segmentasi watershed dengan pemilihan filter yang tepat dapat menghasilkan citra yang bisa membantu dalam melakukan diagnosa. Untuk proses diagnosis diperlukan nilai spesifisitas dan sensitivitas yang tinggi. Hasil evaluasi pada metode watershed dan batas ambang untuk nilai sensitivitas dan spesifisitas memiliki perbedaan 45% dan 12%. evaluasi ROC kombinasi sobel watershed memiliki nilai akurasi 83% dan kombinasi prewitt watershed memiliki nilai akurasi 85%

ABSTRACT
The reading of mammography is an activity that requires knowledge and a powerful ability. Successful treatment of breast cancer depends on early detection and diagnosis of breast abnormalities. Mammography is the best available inspection to detect early signs of breast cancer such as mass, calcification, bilateral asymmetry and architectural distortion. Due to the limitations of the human observer, the computer has a major role in detecting early signs of cancer. Watershed method is expected to provide information on various features that define the disorder and the fact that they often can not be distinguished from the surrounding tissue. mammography computer-aided diagnosis is expected to assist in the reading of abnormalities in the breast. Watershed segmentation with the selection of the right filter can produce images that could help to make diagnosis. For the diagnostic process is required specificity and high sensitivity. The results of the evaluation at watershed method and the threshold for sensitivity and specificity have a difference of 45% and 12%. ROC evaluation Sobel combination watershed has a value of 83% accuracy and combination prewitt watershed has a value of 85 % accuracy"
2016
T46686
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rahmi Seftina
"Penelitian ini mengembangkan Computer Aided Diagnosis CAD radiografi paru anak dengan menggunakan metode segmentasi Deformable Models untuk membantu mendeteksi abnormalitas. Metode Deformable Models mencari abnormalitas berdasarkan nilai piksel citra. Metode Deformable Models dikerjakan dengan dua variasi yaitu median filter Deformable Models dan wiener filter Deformable Models. Nilai piksel paru-paru abnormal dengan segmentasi wiener filter Deformable models adalah 186-255 dan median filter Deformable Models adalah 191-255. Metode wiener filter Deformable models menghasilkan nilai ROC lebih tinggi dibandingkan metode median filter dengan nilai akurasi 78,5, sensitivitas 74,5, spesifitas 80, presisi 90,0 dan overall error 21,0.

This study developed a correlation test Computer Aided Diagnosis CAD radiographic of children pulmonary using segmentation Deformable Models method for detecting Abnormalities. Deformable models method searched abnormalities by value of the image pixel. Deformable models method used two variations, namely median filter Deformable Models and wiener filter Deformable Models. Abnormal result lung pixel values with segmentation Wiener filter Deformable models is 186 255 and median filter Deformable Models is 190 255. Wiener filter Deformable models method have ROC result relatively higher than median filter Deformable models with value of accuracy 78,5, sensitivity 74,5, specificity 80.0, precision 90,0 and overall error of 21,0.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2017
T47662
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ni Larasati Kartika Sari
"ABSTRAK
Penelitian ini mengembangkan Computer Aided Diagnosis (CAD) untuk mamografi dengan menggunakan metode segmentasi Markov Random Field (MRF) dan local threshold. Metode local threshold mencari abnormalitas dengan membandingkan segmen citra abnormal dengan normal. Sementara itu, metode MRF mencari abnormalitas berdasarkan nilai piksel dan bentuk cluster. Metode MRF dikerjakan dengan dan tanpa median filter, contrast enhancement histeq dan CLAHE. Metode segmentasi local threshold memiliki sensitivitas 77,8%, akurasi 68,4%, spesifitas 60,4%, presisi 62,5%, dan overall error 31,6%. Rendahnya keberhasilan disebabkan bentuk payudara pada data sampel tidak seragam, sehingga tiap segmen dari tiap citra belum tentu menunjukkan posisi yang sama. Segmentasi citra MRF yang dilakukan tanpa filter dan contrast enhancement, memiliki keberhasilan terendah. Hal ini membuktikan bahwa citra mamografi memiliki kontras yang rendah dan noise yang tinggi. Metode MRF dilengkapi dengan median filter memiliki akurasi tertinggi (87,0%) dan overall error terendah (12,8%), yang berarti metode ini adalah metode yang paling baik dalam melakukan deteksi sesuai dengan diagnosis dokter. Metode histeq+MRF memiliki sensitivitas yang tinggi (95,9%) dan spesifitas yang rendah (76,2%) yang menunjukkan bahwa metode ini berhasil mendeteksi citra abnormal sebagai abnormal, namun banyak mendeteksi citra normal sebagai abnormal. Metode CLAHE+MRF memiliki nilai spesifitas tertinggi (92,2%) dan sensitivitas terendah (73,1%) yang berarti metode berhasil mendeteksi citra normal sebagai normal, namun banyak mendeteksi citra abnormal sebagai normal. Dalam menentukan sifat benign dan maglina dari cluster abnormal, metode histeq+MRF merupakan metode yang paling berhasil dalam memvisualisasi citra dengan diagnosis maglina.

ABSTRACT
This research developed Computer Aided Diagnosis (CAD) for mammography using Markov Random Field (MRF) and local thereshold method. The Local thereshold methods finds abnormalities by comparing segments from abnormal image. While, MRF methods find abnormalities based on the pixel value and cluster's shape. In this research, the MRF method carried out with median fiter, histeq, and CHALCE contrast enhancement. MRF without any filter and contrast enhancement also done. The sensitivity, accuracy, specfity, presision and overall error of local thereshold method sequentially are 77.8%, 68.4%, 60.4%, 62.5%, and 31.6%. The low result caused by the diversity of the breast's from in the sample, so that each segment on each image doesn't refer to the same anatomical position. MRF segmentationwithout any filter and contrast enhancement gave the worst result. This result proved that mammography images have poor contrast and lot of noise. MRF method with median filter has the highestaccuracy (87.0%) and the lowest overall error (12.8%). This score shows that median filter + MRF method is the best method that can matches doctor's diagnosis. Histeq+MRF method has the highest sensitivity (95.9%) and the lowest specifity (76.52%). This result indicates that histeq+MRF method succesfully detect abnormal image as abnormal, but detect many the normal images as abnormal. CLAHE+MRF method has the highest specifity (92.2%) and the lowest sensitivity (73.1%). It shows that this method has a good performance in detecting normal image as normal but detect many abnormal images as normal. Histeq+MRF method shows the best performance in visualizing maglina clusters."
2016
T45203
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Yuli Kusumawardani
"ABSTRAK
Positron Emission Tomography (PET) telah dikenal sebagai modalitas molecular imaging yang sering memberikan informasi yang mendahului hasil pencitraan anatomi dari modalitas lain seperti Computed Tomography (CT) dan Magnetic Resonance (MR). Keunggulan PET untuk mendeteksi uptake yang sangat sedikit dari FDG dapat memberikan informasi abnormalitas pada organ, salah satunya pada otak. Pencitraan modalitas PET digunakan untuk mendiagnosis apabila terdapat abnormalitas dalam organ serta untuk memantau keberhasilan perlakuan radioterapi. Pada pencitraan otak menggunakan 2-Deoxy-2-[18F] fluoroglucose (FDG) uptake yang kecil tidak mudah dikenali secara visual, sehingga perlu menggunakan metode yang dapat membantu untuk mendeteksi. Dengan adanya teknik Computer-Aided Diagnosis (CAD) berupa segmentasi dan klasifikasi menggunakan citra PET diharapkan memberikan informasi abnormalitas dengan ukuran kecil yang tidak tampak secara visual. Pada penelitian ini, dikembangkan CAD menggunakan citra otak dengan modalitas PET untuk mendeteksi abnormalitas otak dengan metode klasifikasi menggunakan ekstraksi fitur berupa Gray Level Co-Occurrance Matrix (GLCM), intensity histogram, dan Gray Level Run Length Matrix (GLRLM) sebagai dataset dari klasifikasi teknik Artificial Neural Network (ANN). Hasil klasifikasi yang dievaluasi menggunakan Receiver Operating Characteristic (ROC) dengan hasil error pelatihan terkecil 1.92 ± 0.70 % dan error pengujian terkecil 12.30 ± 3.47%. Hasilnya menunjukkan bahwa sistem CAD yang dikembangkan dapat mengenali citra otak normal dan abnormal.

ABSTRACT
Positron Emission Tomography (PET) is well known as a molecular imaging modality that provides functional organ information. This information supports the results of anatomical imaging from other modalities such as Computed Tomography (CT) and Magnetic Resonance Imaging (MRI). This superiority is due to the ability of PET to detect of small amount uptake from 2-Deoxy-2-[18F] fluoroglucose (FDG) which provide for information about abnormalities of organs, especially in the brain. Therefore, PET imaging is powerful to diagnose the presence of abnormalities, staging cancer, and evaluating radiotherapy treatment results. In brain PET imaging sometimes, small uptake is not easily visual recognized, hence an additional supporting method for its detection is needed. In this study, Computer-Aided Diagnosis (CAD) of brain abnormalities from PET images using classification methods based on a feature in the form of Gray Level Co-Occurrence Matrix (GLCM), intensity histogram, dan Gray Level Run Length Matrix (GLRLM) as a dataset of Artificial Neural Network (ANN). The result based on Receiver Operating Characteristic (ROC) illustrated that the training error was 1.92 ± 0.70 % and the test error was 12.30 ± 3.47%. These results mean that this developed CAD system can recognize normal and abnormal brain images.
"
2019
T53798
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Wini Sri Wahyuni
"Kanker liver pada citra hasil CT-Scan memiliki bentuk, lokasi serta tekstur yang berbeda – beda disetiap citra. Perbedaan contrast antara abnormalitas dan liver sehat sering kali tidak dapat terlihat jelas, sehingga menyulitkan dalam evaluasi. Abnormalitas liver antara lain pembengkakan, fibrosis, kehadiran tumor jinak atau tumor ganas. Perbedaan contrast rendah dengan ukuran lebar dalam citra mudah dikenali sebagai abnormalitas, namun untuk massa kecil dan contrast rendah sulit dievaluasi. Dalam penelitian ini telah dilakukan CAD dengan tujuan untuk membantu evaluasi abnormalitas liver utamanya abnormalitas dengan ukuran kecil. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode segmentasi berdasarkan active contour. Data yang digunakan merupakan data sekunder citra abdomen yang dihasilkan dari modalitas Computed Tomography Scanner (CT-Scan) RSUD Cibinong Bogor. Teknik pengumpulan data yang digunakan dengan melakukan observasi pada data pasien citra liver abnormal dari pasien-pasien kanker liver dan citra liver normal dari pasien-pasien penyakit lainnya sesuai dengan diagnosis dokter. Sedangkan untuk olah data digunakan proses ekstraksi fitur menggunakan analisis tekstur Gray-Level Co-occurrence Matrix (GLCM) dengan machine learning berupa Artificial Neural Network (ANN) untuk deteksi abnormalitas citra. Hasil penelitian menyatakan bahwa ANN dapat digunakan untuk mengelompokkan citra kedalam grup normal dan abnormal dengan akurasi sebesar 89% sensitivitas 86%, spesifisitas 92%, presisi 91%, error keseluruhan 10%.

Liver abnormalities in CT image commonly have different shape, location and texture. The contrast between abnormalities and healthy liver often cannot be clearly seen, making it difficult to evaluate. Liver abnormalities include swelling, fibrosis, the presence of benign tumors or malignant tumors. Low contrast differences with width measurements in images are easily recognized as abnormalities, but for small masses and low contrast it is difficult to evaluate. In this study CAD was carried out with the aim to help evaluate liver abnormalities, especially small size abnormalities. The segmentation method based on active contour is the method was employed in this research. The data which used was secondary data resulting abdomen image  from modalities of Computed Tomography Scanner (CT-Scan) of Cibinong Hospital, Bogor. The data collection techniques was used in this research were data abnormal liver image from patients liver cancer and normal liver image from patients other diseases according to the doctor's diagnosis. Meanwhile, the technique used to processing data was extraction feature process with analysis Gray-Level Co-occurrence Matrix (GLCM) texture and machine learning of Artificial Neural Network (ANN) for detection abnormality image. Results of this research stated that ANN can used for classify image to normal and abnormal group with accuracy of 89%, sensitivity of 86%, specificity of 92%, precision of 91%, and error of 10%."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2019
T53457
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ahmad Novian Rahman Hakim
"Kanker payudara adalah salah satu kanker paling umum terjadi di kalangan wanita dan tingkat kelangsungan hidupnya cenderung rendah ketika stadiumnya ditemukan sudah tinggi. Untuk meningkatkan kelangsungan hidup kanker payudara, deteksi dini sangat penting. Ada dua cara untuk mendeteksi kanker payudara: diagnosis dini dan skrining. Untuk membuat diagnosa yang akurat pada stadium awal kanker payudara, munculnya massa dan mikro-kalsifikasi pada citra mamografi merupakan dua indikator penting. Beberapa Computer-Aided Detection (CADe) telah dikembangkan untuk mendukung ahli radiologi karena pendeteksian mikro-kalsifikasi penting dalam menegakkan diagnosis dan perawatan yang direkomendasikan berikutnya. Sebagian besar sistem CADe yang ada saat ini mulai menggunakan Convolutional Neural Network (CNN) untuk mengimplementasikan deteksi mikro-kalsifikasi pada mammogram dan hasil kuantitatifnya sangat memuaskan, rata-rata tingkat akurasinya lebih dari 90%. Penelitian ini melakukan pendekatan otomatis untuk mendeteksi lokasi setiap mikro-kalsifikasi pada citra mammogram yang lengkap dan secara sederhana. Total lebih dari 350 gambar dari dataset INbreast digunakan dalam studi penelitian ini serta implementasi menggunakan data lokal Rumah Sakit (RS) sebanyak 23 citra. Proses ini dapat membantu ahli radiologi untuk melakukan diagnosis dini dan meningkatkan akurasi deteksi wilayah mikro-kalsifikasi. Performa sistem yang diusulkan diukur berdasarkan nilai error Mean Squared Logarithmic Error (MSLE) sebagai teknik untuk mengetahui perbedaan antara nilai yang diprediksi oleh model yang diusulkan dan nilai sebenarnya, didapat nilai loss terbaik yang diperoleh adalah 0,05. Hasil validasi daring mendapatkan nilai sensitivitas sebesar 88.14%, presisi 91.6% dan akurasi sebesar 90.3%. Hasil implementasi pada data lokal RS menunjukkan model CADe dapat mendeteksi mikro-kalsifikasi dengan cukup baik.

Breast cancer is one of the most common cancer among women and the survival rate tends to be low when its stage found high when treated. To improve breast cancer survival, early detection is critical. There are two ways of detection for breast cancer: early diagnosis and screening. To make an accurate diagnosis in the early stage of breast cancer, the appearance of masses and micro-calcifications on the mammography image are two important indicators. Several Computer-Aided Detection (CADe) have been developed to support radiologists because the automatic detection of micro-calcification is important for diagnosis and the next recommended treatment. Most of the current CADe systems at this time started using Convolutional Neural Network (CNN) to implement the micro-calcification detection in mammograms and their quantitative results are very satisfying, the average level of accuracy is more than 90%. This research conducts an automated approach to detect the location of any micro-calcification in the mammogram images with the complete image and in a simple way. A total more than 350 images from INbreast dataset were used in this research study and for implementation used 23 images from local hospital data. This process can help as an assistant to the radiologist for early diagnosis and increase the detection accuracy of the microcalcification regions. The proposed system performance is measured according to the error values of Mean Squared Logarithmic Error (MSLE) as the technique to find out the difference between the values predicted by the proposed model and the actual values, the best loss value obtained by the training model was achieved in 0.05. The results for data online validation for sensitivity is 88.14%, precision is 91.6% and accuracy is 90.3%. The CADe model can detect micro-calcification quite well using local hospital data."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2020
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
M. Leo Eriyanto Yuliansyah
"Penelitian ini mengembangkan Computer Aided Diagnosis CAD radiografi paru anak dengan menggunakan metode segmentasi Particle Swarm Optimization PSO untuk membantu dokter mendeteksi paru yang abnormal. Metode PSO mencari abnormalitas berdasarkan nilai piksel. Metode PSO dikerjakan dengan dua variasi metode yaitu FCM Wienerfilter PSO dan FCM Adaphisteq PSO. Evaluasi dilakukan dengan menghitung ROC Receiver Operating Characteristics citra segmentasi tiap metode terhadap citra acuan evaluasi dokter. Metode FCM Wienerfilter PSO memiliki nilaiROC paling baik. Overall error metode ini yaitu 11.43 1.6 dibanding dengan metode FCM Adapthisteq PSO yaitu 28.57 1,6. Hal ini menggambarkan bahwa banyak kesalahan deteksi yang dilakukan pada metode FCM Adapthisteq PSO.
Metode FCM Wienerfilter PSO ini memiliki nilai akurasi 88,57, sensitifitas 90,00, spesifitas 85,00, dan presisi 93,75 lebih tinggi dibanding dengan semua parameter ROC metode FCM Adaphisteq PSO yaitu akurasi 71,43, Sensitivitas 80,00, Spesifitas 50,00, dan Presisi 80.00. Hal ini membuktikan bahwa hasil deteksi metode FCM Wienerfilter PSO lebih banyak memiliki tingkat keberhasilan yang sesuai dengan evaluasi dokter dan lebih baik dalam mendeteksi citra abnormal. Pada citra abnormal nilai piksel metodeFCM wienerfilter PSO memiliki rentang 209-255, dan nilai piksel metodeAdapthisteq PSO memiliki rentang 206-255.

The study developed Computer Aided Diagnosis CAD children pulmonary radiography using Particle Swarm Optimization PSO segmentation method to help doctors detect abnormal lung. The PSO method searched abnormalities by value of the image pixel. PSO method used two variations method, namely FCM Wienerfilter PSO and FCM Adaphisteq PSO. The evaluation was done by calculating the ROC Receiver Operating Characteristics segmentation of each image against the reference image evaluation doctors. FCM Wienerfilter PSO method has better ROC value. Overall error of this method is 11.43 1.6 compared with the method of FCM Adapthisteq PSO is 28.57 1.6. This explain that many of the error detection on FCM Adapthisteq PSO method.
ROC FCM Wienerfilter PSO results show the value of accuracy 88,57, sensitivity 90,00, specificity 85,00, and precision 93,75 is relatively higher than all parameter of ROC FCM Adaphisteq PSO method that isaccuracy 71,43, sensitivity 80,00, specificity 50,00, and precision 80.00. This proves that the results of the detection method of FCM Wienerfilter PSO has more success rates in accordance with doctor rsquo s evaluation and better at detecting abnormal image. Abnormal lung pixel values by the method of FCM wienerfilter PSO is 209 255, andAbnormal lung pixel values by the FCM Adapthisteq PSO methodis 206 255.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2017
T48492
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dita Aprilia Hariyani
"Kanker kandung kemih pada citra Computed Tomography Scanner (CT-Scan) memiliki bentuk, lokasi dan tekstur yang berbeda untuk setiap citra. Kandung kemih setiap orang memiliki ukuran yang berbeda saat pengambilan gambar. Gambar kontras dan non-kontras yang diambil pada CT scan kandung kemih dapat digunakan untuk menentukan struktur dan bentuk kandung kemih. Namun, perbedaan gambar kontras antara kelainan dan kandung kemih yang sehat seringkali tidak terlihat secara visual, sehingga sulit untuk mengevaluasi. Walaupun sudah banyak penelitian tentang deteksi kanker kandung kemih berdasarkan citra CT yang telah dilakukan, namun dilaporkan bahwa tingkat keberhasilan pendeteksian kanker kandung kemih masih tergolong rendah. Dalam penelitian ini, Computer-Aided Diagnosis (CAD) digunakan untuk membantu mengevaluasi kelainan kandung kemih menggunakan metode segmentasi berdasarkan algoritma Active Contour. Fitur citra berbasis Gray Level Co-Occurrence Matrix (GLCM) digunakan sebagai masukan dari Artificial Neural Network (ANN) untuk mengklasifikasikan citra normal dan citra abnormal. Penelitian CAD ini menggunakan MATLAB. Sampel yang digunakan berjumlah 320 citra dengan ketentuan 200 citra abnormal (25 pasien) dan 120 citra normal (8 pasien) digunakan sebagai data latih dan pengujian. Hasil pengujian berdasarkan Receiver Operating Characteristic (ROC) didapatkan akurasi pelatihan sebesar 90.2 ± 2.68% dan akurasi pengujian sebesar 89.2 ± 2.95%. Hasil ini berarti bahwa sistem CAD yang dikembangkan ini dapat mengenali citra kandung kemih yang normal dan abnormal.

Bladder cancer on a Computed Tomography Scanner (CT-Scan) image has a different shape, location and texture for each image. Each person's bladder is different in size when the image is taken. Contrast and non-contrast image captured on a CT scan of the bladder can be used to determine the structure and shape of the bladder. However, the difference in contrast images between an abnormality and a healthy bladder is often not visually obvious, making the evaluation is difficult. In this study, Computer-Aided Diagnosis (CAD) is used to help evaluating bladder abnormalities using the segmentation method based on an active contour algorithm. The Gray Level Co-Occurrence Matrix (GLCM)-based features of the images are used as the inputs of the Artificial Neural Network (ANN) to classify the normal and abnormal images. The research CAD in this study using MATLAB. A total number of samples were 320 images with 200 abnormal (25 patient) and 120 normal (8 patient) images were used as training and testing data. The result based on Receiver Operating Characteristic (ROC) illustrated that the training accuracy was 90,2 ± 2.68% and the test accuracy was 89,2 ± 2,95%. These results mean that this developed CAD system can recognize normal and abnormal bladder images"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2021
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ralind Remarla
"Dalam penelitian Computer Aided Diagnose (CAD) Radiografi Paru pasien dewasa dengan metode Fuzzy C Means (FCM), telah dilakukan dalam keadaan tahap awal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah metode clustering FCM dapat digunakan untuk membuat perangkat penolong untuk melihat abnormalitas pada paru-paru dari 200 data citra Radiografi sinar-X. Pembuatan perangkat dilakukan dengan menggunakan GUI pada Matlab.
Perancangan di bagi menjadi dua metode menggunakan metode FCM otomatis dan manual kemudian untuk mengetahui perbedaan nilai piksel digunakan metode ambang rata-rata. Kedua metode ini berdasarkan intensitas derajat keabuan 0-256. Metode FCM digunakan untuk melihat visualisasi abnormalitas secara cepat dan mengetahui garis besar posisi yang abnormal. Kemudian diteruskan dengan segmen kotak dari metode ambang rata-rata untuk mengetahui perbedaan nilai pixel citra abnormalitas dan yang normal.
Hasil penelitian nenujukkan bahwa, Kinerja Metode FCM Akurasi 57,7%, sensitifitas 50,0%, spesifikasi 89,5% , Overal Error 42,3% dan Presisi 95,1%. Sedangkan metode Segmen per kotak Akurasi 56,7%, sensitifitas 51,7%, spesifikasi 88,5% , Overal Error 43,3% dan Presisi 96,7%. berdasarkan penelitian dapat disimpulkan bahwa Metode FCM dalam paru hanya bisa menunjukkan visual secara cepat dan garis besar namun tidak memberikan akurasi yang cukup memuaskan, hal ini di karenakan data input yang random tidak dapat dijadikan patokan untuk ukuran keberhasilan.

In the study Computer Aided Diagnose (CAD) Lung Radiography adult patients with Fuzzy C Means (FCM), has been carried out in a state of infancy. This study aims to determine whether the FCM clustering method can be used to make the device helper to see abnormalities in the lungs of 200 image data of X-ray radiography. Making the device is done by using the GUI in Matlab.
The design is divided into two methods using automated and manual methods FCM then to determine differences in pixel value threshold method is used on average. Both methods are based on the intensity of gray 0-256 degrees. FCM method is used for visualizing abnormalities quickly see and know the outline of an abnormal position. Then forwarded to the segment boxes of the average threshold method to determine differences in pixel values abnormalities and normal image.
That research results, performance FCM method Accuracy 57.7%, 50.0% sensitivity, 89.5% specification, Overal Error 42.3% and 95.1% precision. While the method of segment per box Accuracy 56.7%, 51.7% sensitivity, 88.5% specification, Overal Error 43.3% and 96.7% precision. based study concluded that the method of FCM in the lungs can only show rapid visual and outline but does not give a satisfactory accuracy, it is in because random input data can not be used as a benchmark to measure success.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2015
T43858
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Erlinda Ratnasari Putri
"ABSTRAK
Tesis ini membahas kemampuan program segmentasi dan klasifikasi untuk melokalisasi daerah terduga kanker serviks dan mengelompokkan antara citra normal dan abnormal berdasarkan fitur-fitur yang terdapat dalam suatu citra. Citra yang digunakan terdiri dari dua macam, yaitu citra serviks abnormal dari pasien-pasien kanker serviks dan citra serviks normal dari pasien-pasien penyakit lainnya. Beberapa parameter dasar digunakan untuk mengklasifikasikan data citra ke dalam kelompok Abnormal dan Normal, yaitu panjang serviks, distribusi nilai piksel, jumlah piksel dan volume serviks pada citra CT-Scan. Namun, parameter-parameter tersebut memberikan hasil klasifikasi yang kurang akurat. Solusi yang ditawarkan adalah mensegmentasi daerah serviks dan mendapatkan fitur-fitur tekstur daerah tersebut pada data citra CT-Scan. Algoritma segmentasi yang digunakan adalah edge detection dan region-based snake model. Proses ekstraksi fitur menggunakan analisis tekstur Gray-Level Co-occurrence Matrix GLCM dengan machine learning berupa Support Vector Machine SVM . Hasil penelitian menyatakan bahwa SVM dapat digunakan untuk mengelompokkan citra ke kelompok normal dan abnormal dengan sensitivitas 95,2 , spesifisitas 90,5 , akurasi 92,9 , presisi 90,9 dan error keseluruhan 7,1.

ABSTRACT
The focus of this study is discussing the ability of segmentation and classification programs to localize areas of cervical cancer and to classify image data to normal and abnormal group based on features contained in images. Image data consists of two kinds, abnormal cervical images of cervical cancer patients and normal cervical images from patients of other diseases. Some basic parameters are used to classify image data into Abnormal and Normal groups, ie. cervical length, pixel value distribution, number of pixels and cervical volume on CT Scan images. However, these parameters give inaccurate classification results. The offered solution is to segment the cervical area and get the texture features of the area on the CT Scan image data. Segmentation algorithms we used are edge detection and region based snake model. The feature extraction process is in form of Gray Level Co occurrence Matrix GLCM texture analysis with machine learning in the form of Support Vector Machine SVM . The results suggest that SVM can be used to classify images to normal and abnormal groups with a sensitivity of 95,2 , a specificity of 90,5 , an accuracy of 92,9 , a precision of 90,9 and an overall error of 7,1 .
"
2018
T50766
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>