Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 111421 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Fitriana Bahtiar
"Biomachining sebagai salah satu jenis mikrofabrikasi memiliki banyak potensi untuk terus dikembangkan. Metode ini telah terbukti mengungguli metode-metode lain pada bidang yang sama. Selain mampu menghasilkan panas yang lebih rendah sehingga tidak memberikan pengaruh termal pada benda kerja dan ramah lingkungan, dengan ukuran bakteri sebagai cutting tool yang berkisar antara 0.5 sampai 1 μm, metode ini mampu menghilangkan sebagian kecil bagian dari benda kerja. Didorong oleh keefisienannya tersebut, penulis melakukan penelitian yaitu memfabrikasi sumpu kapiler pada pipa kalor dengan metode biomachining. Pada selembar pelat tembaga dibuat pola dengan interval 1 mm, kemudian direndam pada kultur bakteri, divariasikan selama 24 jam dan 48 jam. Pelat ini lalu digulung dan dimasukkan ke dalam pipa tembaga berukuran 3/8 inchi.
Hasil pengujian terhadap sumbu kapiler tersebut didapatkan nilai t yang berkisar antara 0.368 s sampai 0.460 s, lebih kecil dari metode slip casting yang menandakan permeabilitas yang lebih baik. Namun, nilai coefficient capillary pumping rate-nya berkisar antara 0.294 g/s sampai 0.347 g/s, masih di bawah metode slip casting dan material koral, menandakan performanya sebagai sumbu kapiler yang masih kurang dibandingkan dengan metode slip casting dan material koral. Hasil tersebut tidak mustahil untuk lebih ditingkatkan di masa yang akan datang.

Biomachining as one type microfabrication has a lot of potential to be developed. This method has been proven to outperform other methods in the same plane. Aside from being able to produce a lower heat so there?s no thermal effect on the workpiece and environmentally friendly, with the size of the bacteria as a cutting tool that ranged from 0.5 to 1 μm, this method is able to eliminate a small part of the workpiece. Motivated by its efficiency, the author conducted a study that fabricate wick for heat pipe application using biomachining method. On the piece of copper plate created a pattern with intervals of 1 mm, and then soaked it in a bacterial culture, varied during 24 hours and 48 hours. This plate is then rolled up and inserted into 3/8 inch copper pipe.
The test results of the wick obtained by that method, t values ranged from 0.368s to 0.460s, lower than slip casting method indicating better permeability. However, the value of coefficient capillary pumping rate was ranged from 0.294 g /s to 0.347 g/s, still lower than slip casting method and coral material, indicating its performance as a capillary wick is still less compared with slip casting method and coral material. It's possible that the result can be improved in the future.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2016
S63625
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Faris Ariq Naufal
"Biomachining merupakan teknologi micromachining alternatif yang memanfaatkan makhluk hidup yaitu bakteri untuk melakukan pemesinan seperti pemotongan pada benda kerja. Proses biomachining dapat diperbarui terus menerus tanpa menimbulkan dampak negative yang signifikan pada lingkungan. Ditambah lagi, biomachining memiliki biaya pengoperasian yang rendah karena bakteri dapat dikultur atau dikembangbiakkan secara terus menerus. Berdasarkan keunggulan-keunggulan tersebut, biomachining menjadi pilihan penulis untuk membuat pipa kalor, khususnya adalah pembuatan sumbu kapiler yang merupakan salah satu komponen dari pipa kalor. Pipa kalor tersebut dibuat dengan tujuan untuk menghasilkan performa capillary pumping yang lebih baik dari penelitian sebelumnya. Benda kerja yang dibuat menjadi pipa kalor adalah 4 buah foil tembaga dengan ketebalan 0,1 mm, 4 buah pipa tembaga dengan diameter ¼ inchi dan juga 4 buah pipa tembaga dengan diameter 3/8 inchi. Benda kerja yang dilakukan biomachining hanya 3 buah foil dengan variasi yaitu tanpa pola, pola lurus dan juga pola miring. Selain itu, pipa tembaga yang berukuran ¼ inchi juga dilakukan biomachining pada permukaan luarnya. Setelah semua proses selesai, benda kerja tersebut digulung menjadi 3 lapisan yaitu lapisan terdalam adalah pipa ¼ inchi, lapisan tengah foil tembaga dan lapisan terluar adalah pipa 3/8 inchi. Pipa kalor lalu diuji untuk mencari koefisien capillary pump-nya. Hasil terbaik yang didapatkan adalah sampel dengan foil tanpa pola yang dilakukan biomachining dan pipa tembaga yang juga dilakukan biomachining dengan nilai koefisien 0,828 g/s. Nilai koefisien tersebut lebih baik dibandingkan penelitian oleh Fitriana, namun masih kurang baik apabila dibandingkan dengan nilai koefisien oleh penelitian Ariantara.

Biomachining is an alternative micromachining technology that utilizes living things, namely bacteria to perform machining processes such as cutting on the workpiece. With the use of living things, the biomachining process can be renewed continuously without causing significant negative impacts on the environment. In addition, biomachining has low operating costs because bacteria can be cultured or bred continuously. Based on these advantages, biomachining is the author's choice to make a workpiece, namely a heat pipe, specifically the manufacture of a capillary wick which is one of the components of the heat pipe. The heat pipe was made with the aim of producing better capillary pumping performance than previous research. The workpieces that were made into a heat pipe were 4 pieces of copper foil with a thickness of 0.1 mm, 4 pieces of copper pipe with a diameter of ¼ inch and 4 pieces of copper pipe with a diameter of 3/8 inch. The workpieces that were biomachined are only 3 pieces of foil with variations such as without pattern, straight pattern, and oblique pattern. In addition, the ¼ inch copper pipe was also biomachined on its outer surface. After all the processes are completed, the workpiece was rolled into 3 layers, namely the innermost layer is ¼ inch pipe, the middle layer is copper foil, and the outermost layer is 3/8-inch pipe. The heat pipe is then tested to find the capillary pump coefficient. The best result obtained was the sample with foil without pattern that was biomachined and copper pipe that was also biomachined with a coefficient value of 0.828 g/s. The coefficient value is better than the research by Fitriana, but still less good when compared to the coefficient value by Ariantara's research."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2023
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Maulana Rasis
"Teknologi penghantar panas terus mengalami perkembangan karena kebutuhan yang terus meningkat. Salah satunya adalah teknologi pipa kalor yang terus dikembangkan dari segi kemampuan sumbu kapilernya dalam memompa fluida kerja. Sebuah pengembangan berupa Lotus-Type Porous Material yang diterapkan pada sumbu kapiler di pipa kalor diprediksikan akan meningkatkan kemampuan dari pipa kalor tersebut. Metode fabrikasi yang dilakukan pada penelitian ini adalah Centrifugal casting dengan bahan dasar berupa serbuk tembaga. Komposisi serbuk tembaga dan juga kecepatan rotasi yang dihasilkan dari mesin Centrifugal casting turut memberikan pengaruh pada porositas yang terbentuk pada sumbu kapiler yang tentunya juga akan mempengaruhi performa dari sumbu kapiler tersebut.

Heat transfer technology continues to development because of the increasing demands. One of which is heat pipe technology are continuously being developed in terms of wick ability to pumping the working fluid. Lotus-Type Porous Material is one of fabrication development which applied to the wick is predicted will increase it's ability. Fabrication method in this research to make heat pipe's wick is use Centrifugal casting method that use copper powder as base material. The composition of copper powder and rotational velocity of the centrifugal casting machine can influence the performance of heat pipe and also the thickness of the wick that will be formed."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2016
S65654
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ichsan Indhiarto
"[ABSTRAK
Kebutuhan terhadap teknologi baru dalam pipa kalor terus meningkat terutama dalam kemampuan sumbu kapiler mengalirkan fluida. Sebuah biomaterial telah dibuktikan memiliki performa yang baik untuk menjadi bahan dasar sumbu kapiler. Namun, penggunaannya membawa permasalahan tersendiri bagi lingkungan. Oleh karena itu diperlukan material yang dapat meniru atau bahkan melebihi performa dari koral. Lotus-Type Porous Material (LTP) diproyeksikan mampu mengalahkan performa koral. Pada penelitian ini dikembangkan fabrikasi LTP dengan metode slip-casting berbahan dasar serbuk tembaga dan memberikan hasil yang baik. Disamping itu parameter proses untuk menghasilkan LTP yang optimum juga didapatkan.
ABSTRACT
Demands on state of the art technology in heat pipe field rising especially in capillary pumping performance. Prior research concluded biomaterial has superior performance as basic material for capillary wick. However, it was followed by consequences of harnessing the ecosystem. A new material that mimick and exceed the performance of coral will be necessity. Lotus-Type Porous Material (LTP) projected can pass over performance of coral and it is proofed to be true through this research. Besides that, process parameter for fabricating optimum capillary wick with LTP configuration also being concluded.
, Demands on state of the art technology in heat pipe field rising especially in capillary pumping performance. Prior research concluded biomaterial has superior performance as basic material for capillary wick. However, it was followed by consequences of harnessing the ecosystem. A new material that mimick and exceed the performance of coral will be necessity. Lotus-Type Porous Material (LTP) projected can pass over performance of coral and it is proofed to be true through this research. Besides that, process parameter for fabricating optimum capillary wick with LTP configuration also being concluded.
]"
Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2016
S61700
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Farid Rachman Azhari
"Penelitian ini bertujuan untuk membuat sebuah pipa kalor lurus yang menggunakan sumbu kapiler tembaga sinter melalui metode centrifugal casting serta melakukan pengujian meliputi tahanan termal dan temperatur steady state. Penelitian ini berfokus pada pencarian performa terbaik antara pipa kalor dengan tebal sumbu kapiler 1 mm dan 2 mm. Hasil yang didapat pada penelitian ini adalah bahwa pipa kalor dengan tebal sumbu kapiler 2 mm lebih unggul dari pipa kalor dengan tebal sumbu kapiler 1 mm, dikarenakan pipa kalor dengan tebal sumbu kapiler 1 mm mengalami fenomena dry out. Hal ini terlihat dari tahanan termal terkecil dari kedua pipa kalor yang bernilai 6,55 ºC/W untuk pipa kalor dengan sumbu kapiler 1 mm dan 1,54 ºC/W untuk pipa kalor dengan sumbu kapiler 2 mm. Dari segi temperatur evaporator pada kondisi steady state, pipa kalor dengan tebal sumbu kapiler 2 mm unggul dengan temperatur evaporator maksimum yaitu 80 ºC mengungguli pipa kalor dengan sumbu kapiler 1 mm dengan temperatur evaporator maksimum yang mencapai 220 ºC.

This research aims is to create a straight heat pipe using centrifugal casting as wick fabrication and investigate its performance such as thermal resistance and steady state temperature. The wick is made from sintered copper. This research also looking for the best performance of heat pipe using 1 mm and 2 mm of wick thickness. The result is heat pipe with 2 mm wick thickness is better than 1 mm wick thickness in terms of thermal resistance and steady state temperature because the 1 mm wick heat pipe is run into dry out phenomenons. The smallest thermal resistance is 6.55 ºC/W for heat pipe using 1 mm wick and 1.54 ºC/W for heat pipe using 2 mm wick. The highest steady state temperature is 220 ºC for heat pipe using 1 mm wick and 80 ºC for heat pipe using 2 mm wick."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2016
S63228
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Putri Fadhillah Nugraha
"Pemanfaatan pipa kalor bersumbu sebagai penghantar kalor dua fase saat ini sudah tidak bisa diragukan lagi mengingat cukup banyaknya kelebihan yang dimilikinya. Sumbu kapiler berperan penting untuk meningkatkan kinerja pipa kalor. Sumbu tersebut dapat terbuat dari berbagai macam bahan, salah satunya adalah biomaterial dalam bentuk terumbu karang (corallia encrusting). Sebelum diaplikasikan, biasanya beberapa parameter sumbu kapiler harus diuji terlebih dahulu melalui serangkaian proses pengukuran konvensional untuk menentukan kinerja pipa kalor.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menemukan metode baru pengukuran sumbu kapiler berdasarkan teknologi micro-CT scan dan pengolahan gambar digital (digital image processing), sehingga diharapkan metode tersebut dapat menghemat waktu dan tenaga.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sampel sumbu kapiler biomaterial memiliki nilai permeabilitas dan nilai porositas yang tidak jauh berbeda hasilnya antara pengukuran konvensional dan pengukuran dengan teknologi micro­-CT scan, yaitu hanya memiliki perbedaan pada range ±5%. Sementara itu untuk sampel pipa kalor, masing-masing bagian bawah, tengah, dan atas pipa kalor memiliki nilai porositas sebesar 20,98%, 25,73%, dan 24,18%, serta nilai permeabilitas sebesar 3,86 × 10-6 m2, 6,37 × 10-6 m2, dan 5,89 × 10-6 m2. Hasil tersebut menunjukkan korelasi yang sebanding antara nilai porositas dengan nilai permeabilitas suatu media berpori.

The use of heat pipe with wick as a two-phase heat transfer device nowadays is in great era since there are a lot of advantages it has. The wick itself has the important role for improving the heat pipe performance. It can be made from a variety of materials, such as biomaterial in the form of coral (corallia encrusting). Before being applied, the several parameters of heat pipe wick must be tested first through a series of conventional measurement methods to determine the heat pipe performance.
The purpose of this study is to find a new method for measuring capillary wick based on micro-CT scan technology and digital image processing, so that the method is expected to save time and effort.
The experiment results showed that the biomaterial capillary wick sample had permeability and porosity values that were not much different between the result of conventional measurement and the result of micro-CT scan measurement, which only differed in the range of ±5%. Meanwhile for heat pipe sample, each of bottom, middle, and top part of heat pipe had porosities of 20.98%, 25.73%, and 24.18%, as well as permeabilities of 3.86 × 10-6 m2, 6.37 × 10-6 m2, and 5.89 × 10-6 m2, respectively. These results showed the comparable correlation between porosity and permeability values of porous medium.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2019
T54080
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Andrew Yohanes Suhada Chin
"Heat exchanger is used to transfer heat from one place to another in order to stabilize the temperature at one point and to make sure the system can be operated in optimum performance. The problem nowadays is the methods of manufacturing heat pipe are still in lack of efficiency. Heat pipe manufacturing processes used in this research are sintering process, end cap sealing system, vacuum filling system, grinding, and finishing. While the main manufacturing process for fin is punching system (for outer dimension and knitting system). The results of this research using FLIR Thermal Imagine has clearly show that heat pipe which researcher manufactured has temperature difference equal to 18.1֯ C and thermal conductivity in amount of 2997.58 W/m-K. Aluminum fin has been manufactured and has capability of heat transfer rate up to 279.75 Joule per second."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2016
S65138
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Atrialdipa Duanovsah Hasani
"Perkembangan teknologi elektronik dibatasi oleh panas yang dihasilkan oleh komponen elektronik. Pipa kalor merupakan alat penghantar panas yang sangat baik, biasanya digunakan untuk kebutuhan pendinginan elektronik. Pipa kalor melingkar merupakan perangkat pemindah panas yang memiliki nilai kapabilitas penghantar panas yang tinggi. Dari beberapa penelitian yang telah dilakukan pencapaian pipa kalor melingkar yang dituju adalah hambatan termal yang rendah.
Penggunaan variasi bentuk dan metode pembuatan sumbu merupakan salah satu cara menaikan kinerja pipa kalor melingkar. Namun masalah mucul ketika temperatur kondenser yang dihasilkan pipa kalor melingkar cukup tinggi. Hal ini dapat menyebabkan naiknya temperatur lingkungan yang dapat menyebabkan terganggunya kinerja perangkat elektronik. Untuk itu dibutuhkan sebuah sistem yang dapat mengurangi temperatur kondenser.
Hasil menunjukan penggunaan sumbu biomaterial mampu mereduksi panas pada evaporator dibandingkan penggunaan sumbu Sintered Cu dan Screen Mesh. Penggunaan sistem pendinginan bertingkat yang diaplikasikan pada pipa kalor melingkar bertingkat ini dapat membuat temperatur condenser menjadi cukup rendah.

The development of electronic technology is limited by the heat generated by electronic components. Heat pipes, known as their excellent heat transfer are typically used for electronic cooling. Loop heat pipes is a heat transfer device which has a high thermal conductive capability. Recently, development of heat pipes are conducted due achieving higher thermal performance such as lower thermal resistance.
Several experiment are tested with different wick structure aims to improve circulation of working fluids. But problems appear when the condenser produced high temperature. Since electronic cooling are widely use force convection for release the heat, this can cause high ambient temperature that may cause disturbance of electronic devices performance. In consequence, a system that can reduce the temperature of the condenser is needed.
The experimental results show that biomaterials wicks is able to reduce heat in evaporator better than Sintered-Cu wicks and Screen Mesh wicks. Moveover, using cascade cooling system is fairly useful to reducing the condenser temperature.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2013
S45203
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Savira Ekaputri Dermawan
"ABSTRAK
Heat Pipe adalah media pasif yang sangat efektif dalam mentransmisikan panas. Satu dari komponen utamanya adalah sumbu, fasilitator untuk mengangkut fluida kerja kondensor ke sisi evaporator dari pipa panas. Banyak struktur sumbu telah dipelajari, misalnya, screen mesh, logam sintered, dan saluran beralur pada permukaan bagian dalam pipa panas. Dalam studi ini, kami mengadaptasi struktur sumbu konvensional - saluran beralur, dengan foil tembaga yang dimodifikasi menggunakan metode bio-machining untuk membuat saluran alur pada tembaga permukaan foil. Bio-machining adalah teknik pembuatan mikro yang ramah lingkungan untuk material pengolahan. Alat pemotong yang digunakan adalah Acidithiobacillus ferooxidans, bakteri yang mampu melakukannya ekstrak logam dengan reduksi - reaksi oksidasi sebagai bagian dari siklus hidupnya.
Foil tembaga yang dimodifikasi menggunakan metode bio-machining kemudian akan digunakan sebagai sumbu. Foil tembaga tipis digulung dan dimasukkan ke dalam wadah pipa, dengan harapan menjadi struktur sumbu alternatif. Kinerja pipa panas diamati dan dibandingkan dengan pipa panas dengan tembaga foil yang tidak dimodifikasi sebagai sumbu. Pengamatan juga dibuat pada efek dari jumlah gulungan yang digunakan sebagai sumbu untuk memanaskan kinerja pipa. Dari Dari empat pipa panas yang diamati, sumbu yang paling ideal adalah foil tembaga yang dimodifikasi dua kali
menggunakan metode bio-machining berdasarkan tingkat kenaikan suhu, panas distribusi, dan tahan panas.

ABSTRACT
Heat Pipe is a passive media that is very effective in transmitting heat. One of its main components is the axis, the facilitator for transporting the condenser working fluid to the evaporator side of the heat pipe. Many axis structures have been studied, for example, screen mesh, sintered metal, and grooved lines on the inner surface of heat pipes. In this study, we adapted the conventional axis structure - grooved channel, with copper foil that was modified using bio-machining methods to create a channel channel on the copper surface of the foil. Bio-machining is an environmentally friendly micro-manufacturing technique for processing materials. The cutting tool used is Acidithiobacillus ferooxidans, a bacterium that is able to do metal extracts by reducing oxidation reactions as part of its life cycle.
Copper foil modified using the bio-machining method will then be used as an axis. Thin copper foil is rolled and put into a pipe container, hoping to become an alternative axis structure. The performance of heat pipes is observed and compared with heat pipes with copper foil which is not modified as an axis. Observations were also made on the effect of the number of coils used as the axis to heat the pipe performance. Of the four heat pipes observed, the most ideal axis is a copper foil that has been modified twice using bio-machining methods based on the degree of temperature rise, heat distribution, and heat resistance.
"
2019
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
I Putu Alit Putra
"Peningkatan kompleksitas dari prosesor yang berpengaruh terhadap peningkatan kinerja dari prosesor ternyata menimbulkan sebuah tantangan baru. Dalam beberapa tahun terakhir ini terjadi peningkatan yang signifikan dari daya disipasi mikroprosesor sebagai akibat meningkatnya kecepatan prosesor mengolah data yang berujung pada peningkatan fluks kalor yang tinggi. Penggunaan pipa kalor sebagai media pendingin mikroprocessor merupakan salah satu solusi alternatif yang dapat diterapkan.
Pada dasarnya pipa kalor adalah sebuah alat yang mempunyai konduktifitas termal yang sangat tinggi yang mampu menyalurkan panas dalam jumlah yang besar secara efisien dengan jarak yang jauh dalam berbagai macam variasi suhu tanpa memerlukan masukan berupa energi listrik. Untuk membentuk kinerja yang baik dari pipa kalor terdapat beberapa hal yang menjadi perhatian. Pemilihan jenis fluida kerja dan struktur sumbu kapiler merupakan hal penting yang dapat mempengaruhi kinerja dari pipa kalor.
Dalam penelitian ini akan dikaji pemanfaatan biomaterial jenis coral tabulate sebagai sumbu kapiler dan nanofluida Al2O3 dalam konsentrasi 0.1%, 0.3% dan 0.5% sebagai fluida kerja dari pipa kalor tipe vertikal. Dari penelitian ini didapat hasil bahwa pipa kalor dengan sumbu kapiler coral tabulate 5cm dan fluida kerja Al2O3 0.5% memilki nilai hambatan termal yang terendah yaitu 0.340C/Watt.

Increasing the complexity of the processor is affect the increasing performance of processors causes a new challenge. In recent years a significant increase of microprocessor power dissipation as a result of the increased speed of the processor to process the data that led to the increase in the high heat flux. The use of heat pipe as a cooling medium microprocessor is one of the alternative solutions that can be applied.
Basically the heat pipe is a device that has a very high thermal conductivity that are capable of delivering large amounts of heat efficiently with long distances in a variety of temperature variations without requiring the input of electrical energy. To make a good performance of heat pipes, there are several things that concern. The selection of the working fluid and the type of wick structure is important that can affect the performance of the heat pipe.
In this research has been examined the using of biomaterial coral tabulate as the wick of heat pipe and nanofluid Al2O3 - Water as working fluids with various concentration such as 0.1%, 0.3% and 0.5%. The results obtained from this study that the heat pipe with 5cm of biomaterial coral tabulate wick and 0.5% Al2O3 working fluid have the lowest thermal resistance value : 0.340C/Watt.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2013
S45457
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>