Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 61596 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Jenny Primanita Diningrum
"[ABSTRAK
Prediksi dari posisi proton dan neutron dripline dipelajari dalam model Modi ed
Relativistic Mean Field (MRMF) menggunakan tujuh buah variasi parameter set.
Posisi proton dan neutron dripline diprediksi dengan menggunakan energi separasi
dan energi partikel tunggal. Dalam model MRMF ini, dapat dilihat pengaruh
kopling isovektor-isoskalar, tensor dan electromagnetic exchange terhadap prediksi
proton dan neutron dripline. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa prediksi proton
dripline pada isoton N = 28 tidak dipengaruhi oleh ketiga faktor tersebut. Selain
itu, proton dripline pada isoton N = 28 tidak memiliki korelasi yang kuat terhadap
sifat bulk inti. Prediksi neutron dripline pada isotop Ca dan isotop Pb dipengaruhi
oleh ketiga faktor tersebut yang ditandai dengan berbedanya prediksi pada setiap
variasi parameter set. Neutron dripline pada isotop Ca memiliki korelasi yang kuat
terhadap skin. Namun, pada isotop Pb tidak terlihat korelasi yang kuat terhadap
skin. Pada daerah superheavy, isoton N = 258 memiliki hasil prediksi proton dripline
yang dipengaruhi oleh ketiga faktor, terutama tensor dan electromagnetic exchange,
serta memiliki korelasi yang kuat terhadap skin, jari-jari muatan, dan ketebalan
permukaan.

ABSTRACT
Study of prediction of proton and neutron dripline in Modi ed Relativistic Mean Field
(MRMF) model using seven variations of parameter set. The position of proton
and neutron dripline predicted use energy separation and energy single particle method.
In this MRMF model, can be seen the e ects of coupling isovector-isoscalar,
tensors, and electromagnetic exchange on prediction of proton and neutron dripline.
The result of these calculation show that prediction of proton dripline in isotone N
= 28 not in
uenced by all these factors. Moreover, proton dripline in isotone N = 28
do not have a strong correlation with nucleus bulk properties. Prediction of neutron
dripline in isotope Ca and isotope Pb in
uenced by all these factors characterized
by di erent predictions on each variations of parameter set. Neutron dripline at
isotope Ca have a strong correlation with skin. However, at isotope Pb does not
look strong correlation with skin. In the superheavy region, isotone N = 258 has
the predicted outcome of protons which is in
uenced by all these factors, notably
tensors and electromagnetic exchange and having a strong correlation with skin,
charge radius, and surface thickness., Study of prediction of proton and neutron dripline in Modi ed Relativistic Mean Field
(MRMF) model using seven variations of parameter set. The position of proton
and neutron dripline predicted use energy separation and energy single particle method.
In this MRMF model, can be seen the e ects of coupling isovector-isoscalar,
tensors, and electromagnetic exchange on prediction of proton and neutron dripline.
The result of these calculation show that prediction of proton dripline in isotone N
= 28 not in
uenced by all these factors. Moreover, proton dripline in isotone N = 28
do not have a strong correlation with nucleus bulk properties. Prediction of neutron
dripline in isotope Ca and isotope Pb in
uenced by all these factors characterized
by di erent predictions on each variations of parameter set. Neutron dripline at
isotope Ca have a strong correlation with skin. However, at isotope Pb does not
look strong correlation with skin. In the superheavy region, isotone N = 258 has
the predicted outcome of protons which is in
uenced by all these factors, notably
tensors and electromagnetic exchange and having a strong correlation with skin,
charge radius, and surface thickness.]"
2015
T43784
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nur Atikah Tadjuddin
"Studi materi pada sistem yang berkorelasi kuat adalah topik penting karena interaksi material yang kuat antar-partikel dapat menghasilkan berbagai sifat fisik dan fenomena khusus. Beberapa metode komputasi telah dikembangkan untuk menemukan sifat sistem secara akurat menggunakan model Hubbard, tetapi banyak di antaranya membutuhkan biaya komputasi yang besar untuk mendapatkan hasil yang baik. Di Dalam penelitian ini kami mengusulkan pendekatan baru dalam kerangka kerja Dynamical Mean framework Theory (DMFT) yang melibatkan algoritma yang lebih sederhana dan diharapkan menghabiskan biaya komputasi lebih sedikit dibandingkan dengan metode sebelumnya. Algoritma ini diimplementasikan dengan membangun elemen matriks energi mandiri lokal yang bergantung pada fluktuasi hunian. Kemudian diintegrasikan ke semua konfigurasi hunian yang dimungkinkan untuk mendapatkan interaksi fungsi hijau. Matriks fungsi Hijau yang diperoleh kemudian digunakan untuk menghitung kepadatan negara (DOS) dan jumlah fisik lainnya. Kasus ini meninjau kondisi pengisian kuartal. Hasil komputasi yang dilakukan menunjukkan hasil kesenjangan ketika tolakan Coulomb cukup tinggi dan menunjukkan tren pseudogap akan semakin menghilang seiring dengan meningkatnya suhu. Sistem mempertahankan karakter paramagnetik untuk semua kondisi yang dipelajari.

Material studies on strongly correlated systems are important topics because of interactions strong inter-particle constituent material can produce various physical properties and phenomena special. Several computational methods have been developed to find the nature of the system accurately using the Hubbard model, but many of them are requires large computing costs to get good results. In this research we propose a new approach within the Dynamical Mean framework Field Theory (DMFT) which involves a simpler and expected algorithm spend less computing costs compared to the method previous. This algorithm is implemented by constructing matrix elements local self-energy that depends on occupancy fluctuations. Then integrated to all occupancy configurations that are possible to get the Green function interaction. The Green function matrix obtained is then used to calculate state density (DOS) and other physical quantities. This case reviews the conditions for quarter filling. The computational results carried out show the result of a gap when the Coulomb repulsion is high enough and shows pseudogap trends will increasingly disappear along with increasing temperature. System retain paramagnetic character for all conditions studied. "
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2019
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Muhammad Gaffar As Shiddieqy Al Anshori
"ABSTRAK
Sistem terkorelasi kuat adalah sistem dimana skala energi untuk interaksi antar partikel tidak lagi dapat diabaikan. Dynamical Mean Field Theory(DMFT) menjadi salah satu metode yang banyak dikenal sebagai
metode ampuh untuk menjelaskan fisika dari sistem terkorelasi kuat. Disini kami mempelajari metode
penyelesaian impuritas yang tersedia di DMFT untuk model Hubbard, model paling sederhana dalam sistem
terkorelasi kuat. Dengan melihat berbagai keterbatasan metode penyelesaian impuritas dengan sumberdaya
numerik yang murah, kami mengembangkan metode penyelesaian impuritas dengan numerik yang murah
lainnya yang dikembangkan dari metode medan rata-rata dengan melibatkan fluktuasi okupasi sebagai kuantitas
numerik. Dengan melihat efek fluktuasi, kami membandingkan hasil tersebut dengan metode penyelesaian
impuritas lainnya, yakni medan rata-rata dan iterasi perturbasi teori yang dipelajari pada keadaan paramagnetik
dan antiferomagnetik. Kami simpulkan bahwa fluktuasi okupasi belum sepenuhnya mampu menjadi metode
penyelesaian impuritas yang baik, namun memberikan hasil yang menarik untuk digunakan sebagai koreksi dari
iterasi perturbasi teori.

ABSTRACT
Strongly correlated system is physical system where the interaction among particle cannot be neglected.
Dynamical Mean Field Theory(DMFT) becomes one of the established method to explain and calculate physical
observable of strongly correlated system. Here we study the impurity solver in DMFT for Hubbard model, the
simplest model for strongly correlated system. We realizing that exact impurity solver gives high numerical cost,
where approximate impurity solver gives relative low numerical cost. Here we develop another low numerical
cost to aim more exact result than approximate method, where we developed it from mean-field method where is the occupation fluctuation is taking into account in the semi-classical sense. We compare this method by another lower numerical impurity solver, i.e mean-field and iterated perturbation theory, where they are studied in restricted case of paramagnetic and unrestricted case of magnetic ordering. We concluded that occupation fluctuation not really giving exact result if we compared to mean-field and iterated perturbation theory, but becomes interesting if we implement occupation fluctuation as iterated perturbation theory correction.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2019
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Isa Randra
"Hamburan K+p dimodelkan sebagai pertukaran satu hadron. Hadron yang dipertukarkan berupa meson skalar σ; meson vektor ρ dan ω; hyperon Λ dan Σ; dan resonans Σ∗ (1385). Besaran yang dihitung adalah spin-averaged differential cross section yang dihitung menggunakan kinematika relativistik serta menggunakan teknik tiga dimensi sehingga tanpa ekspansi gelombang parsial. Penelitian dilakukan untuk melihat kontribusi suku rescattering pada hamburan K+p. Kontribusi suku rescattering dengan melibatkan semua pertukaran partikel dihitung pada energi 700 MeV - 3400 MeV. Kemudian, kontribusi suku rescattering untuk tiap pertukaran partikel dihitung pada energi 700 MeV - 2200 MeV dan energi 5 GeV - 10 GeV.

K+p scattering is modeled as one-hadron exchange. The hadrons being exchanged are scalar meson σ; vector meson ρ and ω; hyperon Λ and Σ; and resonance Σ∗ (1385). Spin-averaged differential cross section is calculated using relativistic kinematics and three-dimensional technique thus without partial wave expansion. The research was conducted to see the contributions of rescattering terms on K+p scattering. Rescattering terms contributions involving all exchanged particles are calculated for energies 700 MeV - 3400 MeV. Furthermore, rescattering terms contributions for each exchanged particles are calculated for energies 700 MeV - 2200 MeV and energies 5 GeV - 10 GeV."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2022
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Muhammad Khabib Junaini
"Tesis ini merupakan studi teoretik-komputasi tentang sifat-sifat magnetoresistif dan magnetokalorik bahan oksida mangan. Studi dimulai dengan memformulasikan model dalam Hamiltonian yang terdiri atas suku kinetik elektron yang diturunkan dari pendekatan tight binding, suku interaksi magnetik Double Exchange (DE) antara spin-spin elektron konduksi dengan momen-momen magnetik lokal ion-ion Mn, suku kinetik dan potensial fonon, serta suku interaksi elektron-fonon (EP) yang diformulasikan dengan pendekatan Holstein. Model ini diselesaikan dengan metode Dynamical Mean Field Theory (DMFT). Secara khusus hasil-hasil studi ini dibandingkan dengan data-data eksperimental bahan kristal tunggal La1-xCaxMnO3 (dengan x=0,3). Hasil-hasil perhitungan density of states (DOS), resistivitas, dan magnetisasi dengan variasi temperatur menunjukkan bahwa interaksi DE membentuk fase ferromagnetik-metal pada temperatur rendah, sedangkan interaksi EP bertendensi merusak keteraturan magnetik, yang mengakibatkan turunnya temperatur transisi magnetik, sekaligus melokalisasi elektron sehingga membetuk fase paramagnetik-insulator pada temperatur tinggi. Lebih lanjut, perbandingan perilaku resistivitas sebagai fungsi temperatur untuk berbagai nilai medan magnet luar antara hasil perhitungan teoretik dan data eksperimental menunjukkan bahwa efek magnetoresistansi kolosal bahan oksida mangan merupakan hasil dari keterkaitan peran (interplay) antara interaksi-interaksi DE dan EP. Investigasi terhadap magnetisasi dan perubahan entropi sebagai fungsi temperatur untuk berbagai nilai medan magnet luar menegaskan bahwa efek magnetokalorik timbul karena adanya transisi fase paramagnetik-ferromagnetik yang muncul sebagai akibat dari adanya interaksi DE. Interaksi EP tidak banyak mempengaruhi nilai perubahan entropi akibat pemberian medan magnet luar, tetapi menyebabkan turunnya temperatur transisi magnetik secara signifikan, sehingga menggeser daerah kerja aplikasinya untuk mesin pendingin magnetik ke arah temperatur yang lebih rendah. Untuk lebih memahami peran interaksi EP terhadap efek magnetokalorik, penelitian teoretik lebih lanjut masih perlu dilakukan mengingat masih adanya aspek-aspek magnetikalorik lainnya, seperti kapasitas panas (cv) sebagai fungsi temperatur, yang belum dieksplorasi secara teoretik untuk dibandingkan dengan data-data eksperimental yang sudah tersedia."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2012
T29859
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Cobi Henerli
"Efek magnetokalorik pada material oksida mangan kristal tunggal diketahui bernilai lebih besar dibandingkan dengan yang terjadi pada material oksida mangan polikristal. Di samping itu, transisi fase kemagnetan pada oksida mangan kristal tunggal dengan doping tertentu ditemukan berkarakter orde ke-1, yang berbeda dari yang umumnya terjadi yaitu orde ke-2. Kenyataan umum menunjukkan pula bahwa sifat-sifat anisotropik yang terdapat pada material kristal tunggal menjadi tidak tampak ketika material tersebut berada dalam bentuk polikristal. Fakta-fakta tersebut di atas mendorong sebuah hipotesis yang mendasari penelitian ini, yaitu bahwa fase ferromagnetik pada oksida mangan kristal tunggal dikontrol oleh interaksi pertukaran magnetik yang bersifat anisotropik. Untuk menguji hipotesis ini, pada studi ini dilakukan pemodelan sistem oksida mangan dengan Hamiltonian yang terdiri atas suku kinetik elektron yang diturunkan dari pendekatan tight-binding dan suku interaksi magnetik Double-Exchange antara spin-spin elektron dengan momen-momen magnetik lokal Mn. Pemilihan model dengan melibatkan derajat kebebasan elektron adalah untuk mengantisipasi penggunaan lebih lanjut hasil-hasil studi ini untuk prediksi sifat-sifat transpor dari sistem. Model diselesaikan dengan metode Dynamical Mean Field Theory (DMFT) dengan melibatkan koreksi interaksi pertukaran Heisenberg anisotropik. Hasil perhitungan kami menunjukkan bahwa transisi magnetik orde ke-1 dapat terjadi karena adanya pengaruh interaksi pertukaran anisotropik, dengan kopling ferromagnetik pada arah planar, atau dengan kopling antiferromagnetik pada arah axial. Walaupun magnitud dari koreksi anisotropik ini sangat kecil, namun efeknya sangat signifikan dalam mereduksi temperatur Curie sistem dan mengubah karekter transisi magnetik dari orde ke-2 menjadi orde ke-1"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2012
T29860
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Putu Adi Kusuma Yudha
"Hamburan K+n dihitung dalam basis ruang momentum tiga dimensi (3D). Sebagai input digunakan interaksi yang dijabarkan sebagai pertukaran meson dan hiperon antar kaon dan nukleon. Dua tipe perhitungan dikerjakan, tipe satu menggunakan kinematika nonrelativistik dan tipe dua memakai kinematika relativistik. Perhitungan tipe dua dibandingkan terhadap perhitungan tipe satu untuk melihat efek relativistik pada energi yang bervariasi.

K+n scattering is calculated in three-dimensional (3D) momentum space basis. As input interaction described as meson and hyperon exchange between kaon and nucleon is taken. Two types of calculations are carried out, type one uses nonrelativistic kinematics and type two takes relativistic kinematics. Calculations of type two are compared to those of type one to see some relativistic effects at various energies.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2014
S55364
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Bjorken, James D.
New York: McGraw-Hill, 1964
530.12 BJO r
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Alpi Mahisha Nugraha
"[ABSTRAK
Fenomena halo neutron dalam nuklir digambarkan adanya kemunculan 'ekor' dan
adanya 'ruang kosong' antara core dan ekor pada distribusi neutron akibat energi
ikat yang lemah. Metode analisa halo yang dikembangkan oleh V. Rotival dkk [Phys.
Rev. C79, 054308 (2009)] untuk menghitung besaran-besaran halo berdasarkan mo-
del Hartree-Fock-Bogoulibov (HFB) pada isotop Cr dan isotop Sn menjadi salah sa-
tu alternatif untuk mempelajari fenomena halo. Berbeda dengan Rotival dkk, kami
menggunakan model Relativistic Mean Field (RMF) pada penelitian ini. Berbeda
dengan hasil perhitungan berdasarkan model HFB, kami fokus mengamati perilaku
spektrum single particle energy level 1g9~2 terhadap kemunculan halo pada isotop
Cr. Selain itu, pada penelitian ini kami juga memperlajari dampak dari suku cross
coupling meson ! − , suku-suku tensor dan suku pertukaran elektromagnetik pada
model RMF terhadap kemunculan halo pada isotop Cr dan isotop Sn. Hasil perhi-
tungan prediksi kemunculan halo berdasarkan model RMF lebih besar dibandingkan
dengan hasil perhitungan berdasarkan model HFB (`NhaloeRMF > `NhaloeHFB):

ABSTRACT
In neutron halo phenomenon, the neutron density displays an unusually extended
'tail' and 'empty space' between the core and the tail due to weak binding energy.
New analysis method of the halo was developed by V. Rotival, et al.[Phys. Rev. C79,
054308 (2009)] in Cr-isotopes and Sn-isotopes, its usually applied with Hartree-Fock-
Bogoliubov (HFB) model. Unlike them, we use the model of the Relativistic Mean
Field (RMF) in this research. We observed di erent behavior at the level 1g9~2 in line
with appearance of halo in Cr-isotopes. Moreover, in this research we also studied
the e ects of cross coupling meson ! − , tensor, and electromagnetic exchange in
RMF model appearance of halo in Cr-isotopes and Sn-isotopes. The prediction of
the existence of halo based on RMF model is greater than the prediction based on
HFB model (`NhaloeRMF > `NhaloeHFB):, In neutron halo phenomenon, the neutron density displays an unusually extended
'tail' and 'empty space' between the core and the tail due to weak binding energy.
New analysis method of the halo was developed by V. Rotival, et al.[Phys. Rev. C79,
054308 (2009)] in Cr-isotopes and Sn-isotopes, its usually applied with Hartree-Fock-
Bogoliubov (HFB) model. Unlike them, we use the model of the Relativistic Mean
Field (RMF) in this research. We observed di erent behavior at the level 1g9~2 in line
with appearance of halo in Cr-isotopes. Moreover, in this research we also studied
the e ects of cross coupling meson ! − , tensor, and electromagnetic exchange in
RMF model appearance of halo in Cr-isotopes and Sn-isotopes. The prediction of
the existence of halo based on RMF model is greater than the prediction based on
HFB model (`NhaloeRMF > `NhaloeHFB):]"
2015
T43785
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
de Groot, S.R. (Sybren Ruurds), 1916-
Amsterdam: North-Holland, 1980
530.136 GRO r
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>