Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 211508 dokumen yang sesuai dengan query
cover
cover
cover
Rothery, Brian
Jakarta: Pustaka Binaman Pressindo, 1996
658.562 ROT a
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Evi Yuliati Rufaida
"Perusahaan Perak HS Silver 800-925 adalah perusahaan yang berorientasi ekspor, dan merupakan salah satu Usaha Kecil Menengah (UKM) yang telah memperoleh sertifikat Sistem Manajemen Mutu Modul B Seri SNI 19-9000 versi 1994 pada tahun 1998. Dengan diberlakukannya peraturan pemerintah agar perusahaan sudah harus menyesuaikan kebijakan tersebut maka Perusahaan Perak HS Silver 800-925 melakukan perubahan Sistem Manajemen Mutu Modul B dari SNI 19-9000 versi 1994 menjadi ISO 9001:2000. Disamping alasan tersebut, manajemen perubahan juga dimaksudkan untuk menjawab kebutuhan organisasi perusahaan di dalam persaingan di pasar dan ingin meningkatkan produktifitas. Penelitian mengenai persepsi karyawan terhadap perubahan perusahaan menuju ISO 9001:2000 dapat dilakukan melalui deskripsi terhadap persepsi karyawan. Bagaimanapun juga persepsi karyawan sangatlah penting, karena tanpa adanya dukungan/komitmen karyawan dalam perubahan, maka pelaksanaan program perubahan tidak akan mengakar dalam organisasi, dan akan mengalami hambatan, akibatnya harapan-harapan pada awal pelaksanaan program perubahan akan sulit tercapai. Oleh karena itu dilakukan penelitian persepsi karyawan (pimpinan dan karyawan) terhadap adanya perubahan ini dengan menggunakan dasar Delapan Prinsip Manajemen Mutu.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran dan persepsi karyawan terhadap pembahan perusahaan dari penerapan Sistem Manajemen Mutu dari SNI 19-9000 versi 1994 menjadi ISO 9001:2000 dengan dasar Delapan Prinsip Manajemen Mutu, yang meliputi Berfokus kepada Pelanggan (Customer Focus), Kepernimpinan (Leadership), Keterlibatan Karyawan (Involvement of People), Pendekatan Proses (Process Approach), Pendekatan Sistem dalam Manajemen (System Approach to Management), Perbaikan Berkelanjutan (Continual Improvement), Pendekatan Faktual dalam Pengambilan Keputusan (Factual Approach to Decision Making), Hubungan Saling Menguntungkan dengan Pemasok (Mutually Beneficial Supplier Relationship;-. Karena pada intinya, ISO 9001:2000 sangat dipengaruhi oleh prinsip-prinsip tersebut.
Metode penelitian yang digunakan adalah metode diskriptif, dan pengumpulan data menggunakan alat kuesioner, wawancara dan pengamatan langsung. Pengambilan sampel menggunakan purposived sampling (sampel purposif) dengan prosentase untuk pejabat 100%, sedang staf diambil 25% untuk menjadi responden.
Dari hasil kuesioner tersebut didapat bahwa berdasar delapan prinsip manajemen mutu, perusahaan HS Silver 800-925 telah melakukan perubahan menuju ISO 9001:2000, yang dilihat dari jawaban positif rata-rata responden pimpinan maupun karyawan hampir sama/tidak berbeda yaitu mencapai 80%. Skor terendah dari responden pimpinan adalah 3,69 pada pernyataan: Menurut persepsi saya perubahan perusahaan menuju ISO 9001-2000 di bidang Peningkatan Berkelanjutan dalam memberikan penghargaan kepada karyawan yang melakukan peningkatan berkelanjutan dan pada pernyataan : Menurut persepsi saya perubahan perusahaan menuju ISO 9001-2000 di bidang Pendekatan Faktual dalam Pengambilan Keputusan dalam memahami penggunaan teknik statistik Pada responden karyawan, skor terendah adalah 3,25 yaitu dengan nilai mean sebesar 3,60 dan pada pertanyaan : Menurut persepsi saya parubahan perusahaan menuju ISO 9001-2000 di bidang Hubungan saling Menguntungkan dengan Pemasok dalam melibatkan pemasok dalam mengidentifikasi kebutuhan, proses pengembangan strategi perusahaan.
Perubahan perusahaan yang berdasar Change management yang dilakukan oleh perusahaan HS Silver 800-925 telah dilaksanakan sampai pada tahap stabilizing change plan. Dilihat dari change triangle, perusahaan HS Silver 800-925 telah semua tahapan dilaksanakan baik organizational context, group interaction, maupun individual behavior."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2003
T12297
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Iwa Wahyudi Firdaus
"Latar Belakang: Berdasarkan hasil survei akreditasi, dari 17 RSUD Kelas D di provinsi DKI Jakarta, 16 RSUD terakreditasi Paripurna dan satu RSUD terakreditasi Utama. Walapun telah trakreditasi, masih ditemukan banyak rekomendasi yang harus ditindaklanjuti. 
Tujuan penelitian: Penelitian ini bertujuan untuk memahami lima elemen penilaian yang menjadi isu pasca survei akreditasi, persiapan, kendala, dan strategi penyelesaian yang dilakukan oleh RSUD. 
Metode penelitian: Penelitian kualitatif dengan desain studi kasus dengan telaah dokumen akreditasi untuk lima elemen penilaian yang menjadi isu dan lebih lanjut akan dilakukan wawancara terhadap pihak RSUD, Dinas Kesehatan, dan Surveior. 
Hasil dan Pembahasan: Lima elemen penilaian yang menjadi isu tersebut adalah MFK 5d, KPS 9b , PPI 6b, PMKP 4e dan AKP 5.2e. Untuk memenuhi elemen penilaian tersebut, RSUD telah menyiapkan dokumen, SDM, dan sarana dan prasarana. Kendala yang dihadapi yaitu pemahaman RSUD, perbedaan pemahaman antar surveior, kurangnya pemenuhan fasilitas yang dipersyaratkan, pola pikir pegawai yang kurang tepat, dan kurang efektifnya penyelenggaraan pelatiahan. Strategi yang dilakukan adalah meningkatkan pemahaman, melakukan pelatihan yang efektif, dan menyediakan sarana dan prasarana berdasaikan standar akreditasi. 
Kesimpulan: RSUD Kelas D telah menyiapkan diri untuk memenuhi standar akreditasi, namun belum sepenuhnya optimal, perlu adanya identifikasi masalah yang menghambat dan  strategi penyelesaian masalah yang tepat.

Background: Based on the results of the accreditation survey, of the 17 Class D general hospital in DKI Jakarta province, 16 hospitals have Plenary Accreditation and one RSUD has Main Accreditation. Even though it has been accredited, there are still many recommendations that must be followed up. 
Objectives: This research aims to understand the five elements of assessment that are issues after the accreditation survey, preparation, obstacles and resolution strategies carried out by hospitals.
Method: Qualitative research with a case study design by reviewing accreditation documents for the five assessment elements that are issues and further interviews will be conducted with the Regional Hospital, Health Service and Surveyors. 
Results and Discussion: The five assessment elements that are the issue are MFK 5d, KPS 9b, PPI 6b, PMKP 4e and AKP 5.2e. To fulfill these assessment elements, RSUD has prepared documents, human resources, and facilities and infrastructure. The obstacles faced were the understanding of hospitals, differences in understanding between surveyors, lack of fulfillment of required facilities, inappropriate mindset of employees, and lack of effectiveness in organizing training. The strategy undertaken is to increase understanding, conduct effective training, and provide facilities and infrastructure based on accreditation standards. 
Conclusion: Class D Regional Hospital has prepared itself to meet accreditation standards, but is not yet fully optimal, it is necessary to identify problems that are hampering it and appropriate problem solving strategies.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2024
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Butarbutar, Tionggung
"Dalam menghadapi perkembangan dan persaingan bebas khususnya dibidang perumahsakitan, rumah sakit pemerintah menghadapi kendala dibidang program menjaga mutu. Karena itu rumah sakit perlu mengetahui sampai sejauh mana pelayanan yang diberikan dianggap memenulu standar yang telah ditetapkan.
Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh infomasi tentang bagaimana hubungan pelaksanaan akreditasi rumah sakit dengan kinerja perawat.
Penelitian ini menggunakan rancangan studi kasus dengan analisis data kuantitatif di 4 rawat inap RSUD Koja Jakarta. Hasil penelitian didapatkan dengan studi kasus terhadap SOP dan SAK yang tersedia di rawat inap, rekam medik pasien, serta menggunakan kuesioner kepada pasien dan wawancara mendalam kepada perawat dan mulai kepala seksi, kepala instalasi rawat inap, kepala ruangan dan pelaksana perawatan rawat inap.
Penelitian ini menghasilkan ada perubahan yang bermakna penerapan standar asuhan keperawatan antara sebelum dan sesudah akreditasi. Tetapi tidak disertai perubahan yang bermakna pada persepsi pasien terhadap mutu asuhan keperawatan.

To face the growth and free competition particularly in hospital, state hospital is challenged by the quality assurance obstacle such as nursing quality assurance.
Hence hospital need to understand, the quality of services its which have been achieve compared with standards.
The study aimed finding information about the relationship between hospital accreditation with nursing performance.
The research method employed case study with quantitative approach in the 4 wards. The data completeness of each case was cheeked based of fulfillment of Standards Operational Procedure, Nursing Care Standards and Patient Medical Records. Questionnaire were administered to patient as well as in-depth interview with several level nurses.
The result of this study showed that there were significant differences in implementation of nursing care standards before and after accreditation. However patient perception towards nursing .care quality did not show significant improvement.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 1998
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ferdiza Barthelemy
"Skripsi ini membahas mengenai usaha meningkatkan akreditasi sekolah sebagai bentuk kekerasan struktural melalui kerangka, pranata, dan kurikulum. Penelitian ini menggunakan teori Kekerasan Struktural dari Johan Galtung, dimana kerangka, pranata, dan kurikulum di Sekolah menyalurkan kekerasan struktural terhadap siswa/siswi nya untuk meningkatkan akreditasi sekolah. Penelitian ini adalah penelitian dengan metode campuran dengan desain deskriptif. Hasil penelitian ini adalah terbuktinya fenomena bahwa sekolah memiliki sistem kerangka, pranata, dan kurikulum yang memberatkan siswa, yang dapat diketahui sebagai bentuk kekerasan struktural.

This paper discusses the effort to improve school accreditation as a form of structural violence through School framework, institutions, and curriculum. This study uses the theory of Structural Violence from Johan Galtung, which is School frameworks, institutions, and curriculum in the School channeling structural violence against students to improve school accreditation. This research is mixed method with descriptive design. Results of this research is the evidence of the phenomenon that School has a framework, institutions, and curriculum systems that burden student, which can be seen as a form of structural violence."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2015
S60344
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ferti Dwi Ekasari
"ABSTRAK
Pelaksanaan akreditasi rumah sakit merupakan upaya pemerintah dalam meningkatkan
mutu pelayanan dan keselamatan pasien di rumah sakit serta persyaratan yang harus
dipenuhi oleh setiap rumah sakit yang melayani Program Jaminan Kesehatan Nasional
(JKN). Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien (PMKP) merupakan salah satu standar
akreditasi yang sangat penting di rumah sakit dan merupakan program yang baru berjalan
di RSUD Cempaka Putih. Peneliti merasa perlu untuk mengetahui bagaimana kesiapan
RSUD Cempaka Putih terhadap standar PMKP sesuai SNARS Edisi 1 sehingga tercipta
budaya mutu dan keselamatan pasien. Jenis penelitian ini merupakan penelitian desktiptif
dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Pengumpulan dan analisis data kuantitatif
dengan menggunakan kuesioner kemudian dilanjutkan dengan pengumpulan dan analisis
data kualitatif dengan wawancara mendalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
kesiapan RSUD Cempaka Putih dalam pelaksanaan implementasi program PMKP baru
sekitar 50%, masih diperlukan upaya perbaikan secara bertahap. Rencana aksi yang dapat
dilakukan dalam meningkatkan efiesiensi pelaksanaan program PMKP di RSUD
Cempaka Putih antara lain dengan perbaikan sarana dan prasarana, peningkatan
kompetensi dan wawasan terhadap program PMKP, peningkatan kesadaran dan disiplin
staf rumah sakit, resosialisasi komunikasi dan koordinasi program PMKP serta
pemenuhan manajemen data yang terintegrasi.

ABSTRACT
The implementation of hospital accreditation is a government effort to improve the
quality of service and safety of patients in hospitals and the requirements that must be
met by each hospital serving the National Health Insurance Program (JKN). Quality and
Patient Safety Improvement (PMKP) is one of the most important accreditation standards
in hospitals and is a new program that runs in Cempaka Putih Hospital. The researcher
felt that it was necessary to find out how prepared the Cempaka Putih Hospital was
towards the PMKP standard in accordance with SNARS Issue 1 so as to create a quality
and patient safety culture. This type of research is desktiptif research with quantitative
and qualitative approaches. Collection and analysis of quantitative data using a
questionnaire then continued with the collection and analysis of qualitative data with indepth
interviews. The results showed that the readiness of Cempaka Putih Hospital in the
implementation of the PMKP program was only around 50%, it still needed gradual
improvement efforts. Action plans that can be taken to improve the efficiency of the
PMKP program implementation at Cempaka Putih Hospital include improvements in
facilities and infrastructure, increased competency and insight into PMKP programs,
increased hospital staf awareness and discipline, communication and coordination of
PMKP programs and fulfillment of an integrated data management."
2019
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
R. Haryo Yudo Prabowo
"Standar Akreditasi Rumah Sakit merupakan penilaian sejauh mana rumah sakit sudah melaksanakan program keselamatan pasien sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1691 Tahun 2011. Rumah Sakit X belum sepenuhnya melaksanakan pelayanan berbasis keselamatan pasien.
Penelitian deskriptif dengan metode kuantitatif dilanjutkan metode kualitatif bertujuan melihat persiapan Rumah Sakit X dalam menghadapai Akreditasi Bidang Keselamatan Pasien tahun 2016.
Pada penelitian ini dihasilkan kuesioner keselamatan pasien berdasarkan Standar Akreditasi Rumah Sakit 2012. Uji Reliabilitas menghasilkan 65 pernyataan kuesioner menjadi 47 pernyataan kuesioner. Hasil penelitian didapatkan 17 komponen penilaian dari Standar Akreditasi Rumah Sakit 2012 masih harus ditingkatkan pelaksanaannya di Rumah Sakit X.

Hospital Accreditation Standards is an assessment for hospitals to implement patient safety programs in accordance with the Regulation of the Minister of Health No. 1691 of 2011. Hospital X wasnot yet fully implementing patient safety based on the Hospital Accreditation 2012.
Descriptive research with quantitative method continued by qualitative method was implemented to study the preparation of Hospital X which will undergo Accreditation in 2016.
The research also developed questionnaire on Patient Safety based on The Hospital Accreditation 2012. Reliability test was done with the result of that 47 out of 65 questionnaires were reliable. The research found 17 points of The Hospital Accreditation 2012 still need improvement in implementation at Hospital X.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2016
T46648
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Fery Fahrizal
"Akreditasi pendidikan tenaga kesehatan adalah upaya pemerintah yang dilakukan secara sistematis. berkesinambungan. terencana dan terarah guna menetapkan strata yang menggarnbarkan mutu penyelenggaraan pendidikan tenaaga kesehatan. Secara umum, tujuan dilaksanakannya akreditasi pendidikan tenaga kesehatan adalah untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan pendidikan tenaga kesehatan yang berdampak menghasilkan lulusan yang bermutu sesuai dengan kebutuhan pelayanan kesehatan (Pusdiknakes, 200 I)
Pembinaan dan pengawasanan penyelenggaraan Dari hasil analisis situasi dan analisis sistem ditemukan beberapa masalah yang ada seperti pembinaan institusi pendidikan tenaga kesehatan belum dilakukan secara kontinyu dan berdasarkan kebutuhan institusi pendidikan tenaga kesehatan, pengolahan data masih secara konvensional, keberadaan tim akreditasi provinsi yang belum jelas karena adanya KepMenkes Nomor : HK.00.06.1.03.03853 yang menyatakan Tim Akreditasi ditunjuk oleh Pusdiknakes, umpan balik yang disampaikan kepada institusi pendidikan tenaga kesehatan yang memuat aspek-aspek dari setiap komponen yang masih perlu ditingkatkan belum dijadikan bahan perencanaan pembinaan institusi pendidikan tenaga kesehatan.
Hasil dari pengembangan sistem ini, telah dibuat prototipe Sistem Informasi Akreditasi Pendiilikan 'Fenaga Kesehatan (SIAYf-K) yang diharapkan dapat dipergunakan sebagai wat evaluasi diri bagi institusi diknakes maupun untuk pembinaan kepad institusi pendidikan tenaga kesehatan oleh Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan. seca effektif dan effisien.
Rekomendasi kepada Pusdiknakes terkait dengan pengembangan Sistem Informasi Akreditasi Pendidikan enaga K:esehatan : I ) Tim pelaksana akreditasi terdiri dari unsur Pusdiknakes, Organisasi Profesi tingkat pusat, Dinas Kesehatan Provinsi ditambah dengan unsur Poltekkes masing-masing provinsi ; 2) untuk rekruitmen asesor, Pusdiknakes melakukan tahapan kegiatan ulai dari penetapan kriteria calon asesor, sosialisasi pendaftara calon asesor kepada Dinas kesehatan Provinsi Organisasi Profesi dan Poltekkes, seleksi (fit and proper test), penetapan Tim Akreditasi.

Accreditation of the health manpower education is a overnment program which is carried eut systematical y, sustainable, planned and directed in order to fasten a strata representing implementation quality of the health manpower education. In general, the goals of the accreditation of the health manpower education are to improve the implementation quality of the health manpower education producing qualified graduates in accordance with the need of the health services (Pusdiknakes, 2001).
Guidance and supervision to tlie implementation of the health manpower. From the situation and system analysis, several problems were found such as the education institution construction of the health manpower is not continually carried out and not based on the need of education institution of the health manpower. Other problems found are data processing method is still conventional, the existence of the accreditation team in the province level is not clear due to KepMenkes No. HK.00.06.1.03853 stating that the Accreditation Team is appointed by Pusdiknakes. The other problem encountered is feed back to the education institution of the health manpower containing many aspects to be improve is not considered as an input for planning the assistance to the education institution of the health manpower.
The development of this the Health Manpower Education ( Sislem informasi Pendidikan Tenaga Kesehatan, SJAPTK) which is expected to be used as a self evaluation institution, as well as for a guidance to the education institution of the health manpower by Office of Health1n Southumatera Province efficiently and effectively.
Recommendation to Pusdiknakes related to the development of SIAPTK: 1) Implementation Team consists f element from Pusdiknakes, Professional Organization in the Central level, Health Office in Province level completed by the element from Poltekkes in province level; 2J related to the assessor recruitment process, Pusdiknakes carries out the activity gradually from determining assessor candidate criteria, socialization of the assessor candidate to the HealthOffice in Province level, the Professional Organizations and Peltekkes, selection (fit and proper test)."
Depok: Universitas Indonesia, 2007
T20954
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>