Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 175475 dokumen yang sesuai dengan query
cover
cover
cover
Bambang Supriyono
"Local Govemment Institution Development has continuously been performed in line with the changes of decentralization policy. A basic question interesting to study is ?Can institution development which has continuously been performed created tl1e ability of local government institution to carry out government autonomy regions? This question is relevant to propose knowing that there have still been complex problems for an institution ability to cany out local government.
Realizing that the complex problems, his research is aimed to describe and analyze the ability of local govemment institution in carrying out the provision of urban infrastructures based on three dimensions of institutional development. Firstly, the effectiveness of local government institution in carrying out the functions of planning and performing. Secondly, the direction changes of local government institution in response to decentralization policy. Thirdly, institutionalizations process in local government institution. The other aim of this research is constructing models of the systems of local government institution to solve the three problems mentioned above.
Based on the above aims, approaches of qualitative and system thinking are used to carry out this research. The usage of qualitative approach was needed to examine the capability of local government institution in implementing the function of providing urban infrastructures through understanding of understanding process, while the system approach was used to analyze the relationship among the phenomenon systemically and as an effort to solve the institution development problems which was also faced systemically. The system approach used is Sof? System Methodology (SSM). The working principles of this methodology are examining phenomenon in the real world based on understanding of understanding to the phenomenon and then building a system model of solving problems through learning process based on the Same of system thinking.
Referring to the analysis results and their relevance to the research aims, some conclusions could be drawn. Firstly, the development of the structure and function of local government institution in Malang Regency in implementing the function of providing urban infrastructures shows that there are local institutions having double Emotion and post. It is indicated by the existance of conflict configuration in implementing those two functions. Secondly, based on some standardization indicators of either planning process or working implementation, local govemment institution in implementing the limction of providing urban infrastructures proves ineffective.
Thirdly, in giving response to decentralization policy local government tends to choose dynamic conservatism strategy and the model of local government performed by Malang Regency is traditional bureaucratic authority model. Fourthly, institutionalization within local government institution either in the institutional level or in the perspectives of inter-actor relationship in implementing the function of providing urban infrastructures is not yet optimal. Fiithly, based on using soft system analyses, it can be constructed four models of development systems of local government institution oriented on solving problems. The four models are: the effectivity system models of local government institution in performing the function of planning and of implementing, the direction system model of local government changes, and the institutionalization system model within local govemment institution.
This research gives tive recommendations. Firstly, the development of local government institution to increase the quality of urban infrastructure provision should be based on definite standardization conforming to the authority and function implemented by local institutions. The usage of the standardization should be directed to the efforts of overcoming the conflict happens in the unit of local government institution in carrying out its function. Secondly, local government institution should, in implementing the function of urban structure provision, involve private and commtmity participation. The institution involvement refers to the implementation of local government using either community enabling authority or marker enabling authority model, its implementation should be conformed with the social structure of local community. Thirdly, government institution needs to increase its institutionalization process in carrying out the function of urban infrastructure provision by building shared value in terms of bringing the balance between high and low formalization, independence and interdependence, and also the transformation balance between top-down and bottom-up actor behavior. Fourthly, local government institution needs to construct local government institution model system to implement the function of urban infrastructure provision along with monitor and control subsystem whose function is to control the function. The monitor and control subsystem should be formulated by stakeholders using clear performance measurement and its implementation is performed by an institution having an authority in its field."
Depok: Universitas Indonesia, 2007
D804
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nyoman rema I Nyoman sunarya
"ABSTRAK
Budidaya tanaman padi dibali telah dikenal sejak sebelum masehi dan berlanjut bingga kini, masih menjadi panganan andalan bagi masyarakat Bali. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui pembudidayaan tanaman padi yang berbasis kearifan lokal Bali. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang datanya, dikumpulkan melalui studi pustaka, kemudian dioalah, diinterpresentasikan, dan disimpulkan, sertadisajikan berupa narasi. Hasil penelitian ini berupa data-data mengenai proses perkembangan budidaya tanaman padi yang termuat pada prasasti Bali Kuno dan naskah-naskah lontar dari menanam padi sampai menikmati hasilnya. Aktivitas pertanian ini dikelola sesuai kearifn lokal masyarakat Bali, yakni selalu memperlakukan tanah dan tanaman secara hormat karena dipercaya sebagai perwujudan Dewi Ibu Pertiwi dan Dewi Sri sebagai berkah dari tuhan yang akan membawa kesejahteraan kepada umat manusia. "
Bali: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Balai Pelestarian Nilai Budaya Bali, NTB dan NTT , 2017
902 JNANA 22:2 (2017)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Heri Purwanto
"ABSTRAK
Reinterpretasi dan reposisi kebudayaan Bali dapat dilakukan dengan memanfaatkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sebab kebudayaan Bali terutama yang terkait dengan media komunikasi berupa bale kulkul sudah tidak representatif lagi mengingat mobilitas horizontal yang begitu tinggi dalam masyarakat Bali sehingga jangkaunnya sangat terbatas. Oleh karena itu perlu dailakukan reposisi dan reinterpretasi bale kulkul dengan menggunakan media baru yaitu mailing list dengan meminjam konsep nawa sanga. Media itu tidak hanya bisa diterapkan di Bali saja, tetapi juga pada tingkat nasional."
Bali: Balai Pelestarian Nilai Budaya, 2017
902 JNANA 22:1 (2017)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Kadek Dwikayana
"ABSTRAK
Bentuk Kearifan lokal memenjor merupakan kegiatan memasang bambu sekitar 6-10 meter yang ujungnya melengkung, serta dihiasi pernak pernik dekorasi yang terbuat dari janur atau daun enau yang masih muda dan dalam perekembangannya dapat juga menggunakan daun lontar. Selain mengandung nilai religius, kearifan lokal memenjor juga memilki estetika, nilai kebersamaan, dan nilai ekonomi serta yang terpenting adalahmengandung nilai identitas masyarakat Hindu di Bali."
Bali: Balai Pelestarian Nilai Budaya, 2017
902 JNANA 22:1 (2017)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Rismawidiwati
"Sejak dilantikan sebagai presiden republik Indonesia periode 2014-2019, Joko Widodo telah membangun sebuah visi pembangunan "Indonesia sebagai poros maritim dunia". Visi ini telah jelas uapaya mengembalikan kejayaan bangsa Indonesia sebagai bangsa maritim, yang kemudian diimplementasikan ke dalam berbagai progam pemerintah dalam bidang pembangunan sumber daya maritim. Gayung bersambut dengan visi tersebut, studi-studi tentang maritim bermunculan dai berbagai perspektif yang berusahan menonjolkan kekuatan sumber daya maritim yang berbagai perspektif yang berusaha menonjolkan kekuatan sumber daya maritim yang beraneka ragam. Namum ditengah dorongan pemerintah dan dukungan studi pengembangan sumber daya maritim tersebut, meninggalkan aktivitas bidang kemaritiman. Karena itu, studi ini mencoba menyajikan mengurai faktor-faktor penyebab sehingga mereka beralih. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan yang digunakan dalam penelitian deskriptif, dan untuk memperoleh data yang akurat penulis melakukan wawancara mendalam terhadap 3 (tiga) pelaku disertai dengan metode jiwa melaut yaitu 1) beratnya kehidupan laut, 2) faktor keamanan, 3) faktor modal dan teknologi, dan 4) terdapat lahan pekerjaan lain yang lebih menjanjikan."
Bali: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Balai Pelestarian Nilai Budaya Bali, NTB dan NTT , 2017
902 JNANA 22:2 (2017)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Kaisiri, Elisabeth Yohana Tiene
"Tesis ini membahas tentang perempuan pedagang dan budaya lokal menghadapi persaingan pasar. Penelitian ini akan menjelaskan situasi pasar dan kondisi perempuan pedagang lokal yang merefleksikan himpitan kapitalisme dan budaya lokal. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan pola berdagang dan strategi perjuangan perempuan pedagang lokal menghadapi himpitan kapitalisme dan budaya lokal. Penelitian ini adalah penelitian berprespektif perempuan dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian menggunakan metode wawancara mendalam dan observasi.
Hasil penelitian menemukan bahwa persaingan pasar mempengaruhi keberadaan perempuan pedagang lokal serta peran LSM dan pemerintah dalam melindungi kepentingan kelompok perempuan telah dilakukan namun hanya sebatas pelaksanaan program. Kesimpulan dari penelitian ini adalah mama-mama pedagang lokal menghadapi persaingan pasar melalui pola berdagang dan strategi perjuangan secara sederhana atau tradisional.
Perempuan pedagang lokal juga mengalami ketidakadilan gender yakni marjinilisasi, subordinasi, stereotipe dan beban ganda yang terlihat pada situasi pasar, pekerjaan perempuan pedagang lokal di pasar maupun pekerjaan domestik. Oleh karena itu penelitian ini merekomendasikan untuk mendukung perempuan pedagang lokal melalui advokasi kebijakan yang diatur dalam peraturan daerah (PERDA) terkait proteksi terhadap barang komoditi lokal serta fungsi pemasaran dan juga memastikan perempuan terlindungi dalam implementasi kebijakan UU Otonomi khusus (OTSUS) di Papua. Sehingga perempuan pedagang lokal mampu bersaing dengan pedagang pendatang.

This thesis discusses of Local Trader-women in facing the crush of capitalism and local culture. This study will clarify the picture and the situation of the market and how the influence of capitalism and local culture affected the condition of Local Trader-women. The purpose of this study is to describe the factual data on the form and the strategies of Local Trader-women's struggle in facing the pressure of capitalism and local culture. This research is a female perspective that uses qualitative approaches. The study uses in-depth interviews and participant observation.
The results of the research found that capitalism and local culture affect the existence of Local Trader-women and the role of NGOs and local government in protecting the interests of women's groups have been carried out yet it was just the implementation of certain program. The conclusion of this research is Local Trader Moms ( Mama-Mama Pedagang Lokal) at Temporary Market of Mama ? Mama Papua are facing capitalism and local culture by using simple struggle strategy or traditionally.
Local Trader-women are also experiencing gender inequity which is marginalization, subordination, stereotyping and double burden that is seen in the situation of the market, the work of Local Trader-women at the market as well as domestic work. Therefore, this study recommends to support Local Trader-women through advocacy of policy in Local Legislation (PERDA) related to the protection of local commodity goods as well as the marketing function and to ensure that women are protected in the in the implementation of the Law on Special Autonomy policy (OTSUS) in Papua. So that Local Trader-women are able to compete with immigrant traders.
"
Jakarta: Program Pascasarjana Universitas Indonesia, 2014
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
I Gede Rudia Adiputra
"ABSTRAK
Setiap penganut agama mengklaim bahwa agamnya hanya mengajarkan segala hal yang baik-baik saja dan tidak mengajarkan hal-hal kejahatan, kebencian atau kedengkian. Oleh sebab itu, ketika melihat seorang atau kelompok orang penganut suatu agama berbuat kejahatan, maka para penganut agama akan berdalih bahwa bukan agamanya yang jahat, tetapi orangnya yang jahat. Argumentasi tersebut sangat logis, tetapi mana kala semakin banyak orang beragama tidak mampu membedakan antara baik dan buruk, maka itu pertanda bahwa agama tidak fungsional dalam membentuk moral masyarakat. Dewasa ini, ketika manusia telah memasuki era global yang sesungguhnya manusia harus semakin merasa adanya kesatuan dengan kesatuan dengan seluruh umat manusia di seluruh dunia, namun nyatanya kejahatan umat manusia semakin meningkat. Bahkan manusia tampak lebih suka rusuh dan berpecah belah. KEsatuan bangsa yang diupayakan dengan susah payah oleh para pendiri bangsa, namun dengan mudah diprovokasi oleh orang-orang yang tidak meilki integritas bangsa. Umat Hindu sebagai integral bangsa Indonesia harus turut aktif mengambil bagian dalam upaya membangun dan memperkokoh kesatuan bangsa. Ada banyak sekali ajaran Hindu yang tertuang dalam sruti, smriti, itihasa, purana dan lainnya mengajarkan tentang membangun kesatuan umat manusia bahkan kesatuan semesta dengan seluruh makhluk hidup. "
Bali: Balai Pelestarian Nilai Budaya, 2017
902 JNANA 22: 1 (2017)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
I Wayan Rupa
"ABSTRAK
Kabupaten Gianyar merupakan kabupaten dengan latar belakang berkembangnya seni budaya Bali dengan berbagai sentra-sentra kerajinan yang bernuansa seni budaya khas. Satu di antaranya adalah kain tenun tradisional. Kain tenun yang dimaksud adalah kain tenun karya putra putri Gianyar sebagai kain khas Gianyar. Sementara ini kain tenun cipataan putra putri Gianyar sulit membedakan yang mana sesungguhnya sebagai corak khas. Dari hasil pengamatan di lakukan ke sentra-sentra perajin, bahwa identitas dan karakter, endek Gianyar jika disandingkan dengan cipta kabupaten-kabupaten lainnya di Bali, yaitu dicirikan dengan teknik pewarnaan tidak mencolok, kalem atau dengan teknik pewarnaan dengan warna dop yaitu sebuah teknik pewarnaan yang mulat sarira artinya tidak berani menonjol, kalem, dan lembut, dengan menunjuk cipta karsa Cap Togog, Cili, Putri Bali dan Bakti. Tenun Putri Ayu Blahbatuh Gianyar, mengembangkan teknik tenun air bras. USaha tenun Wisnu Murti dari banjar Palak, desa Keramas dapat dicirikan sebagai tenunan khas Gianyar dilihat dari teknik dan motif pewarnaan yaitu dengan warna yang lebih tajam daripada warna endek lainnya, dengan motif lubeng, gegalaran, kladi manis, pucuk (khas Gianyar) dan bunbunan. Lestarinya kain songket di banjar pengembungan Pejeng Kangin mutlak disebabkan oleh adanya proses pembelajaran antar generasi, namun perajin songket kini sudah tidak berkembang lagi karena pemasaran, bahan baku dan ongkos murah."
Bali: Balai Pelestarian Nilai Budaya, 2017
902 JNANA 22:1 (2017)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>