Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 136053 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Nurwijayanti Kusumaningrum
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2002
TA3285
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
cover
Muhammad Farhan Husain
Jakarta: UI Publishing, 2024
621.3 MUH k
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Yusnafiri
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 1996
TA3222
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Amien Rahardjo
Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 1997
LP-pdf
UI - Laporan Penelitian  Universitas Indonesia Library
cover
Siagian, Makden
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2000
TA3311
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Rahmadi Mulyohartono
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 1996
TA3223
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Wahyu Krisyanto
"ABSTRAK
Jaringan dengan teknologi Low Power Wide Area (LPWA) memungkinkan implementasi sistem komunikasi dari perangkat ke perangkat dengan jumlah yang sangat banyak dalam satu jaringan. Jaringan LPWA sangat efisien dalam hal penggunaan daya dan bandwidth, karena jaringan LPWA menggunakan daya rendah dan beroperasi dengan bandwidth yang sempit serta jangkauan yang luas. Jenis perangkat yang terhubung melalui jaringan LPWA sebagian besar merupakan berbagai jenis sensor, baik sensor untuk kondisi lingkungan, kesehatan, transportasi dan juga sensor untuk mengukur penggunaan energi. Dalam penelitian ini, perangkat yang terhubung ke jaringan LPWA adalah Smart Meter. Smart Meter adalah alat ukur digital yang terdiri dari sensor yang berfungsi melalukan pengukuran dan pencatatan data yang terhubung ke pusat data yang dapat diakses oleh pengguna. Jenis teknologi LPWA yang digunakan adalah LoRa dengan parameter teknis sesuai dengan regulasi yang ada di Indonesia. Tujuan dari penelitian ini adalah merancang suatu jaringan yang sesuai untuk memenuhi utilitas Smart Meter di wilayah Jakarta dan Tangerang. Implementasi Smart Meter diharapkan dapat memberikan banyak manfaat kepada pengguna dan perusahaan penyedia layanan energi, seperti meningkatkan kualitas layanan, meningkatkan efisiensi penggunaan energi, mengurangi biaya operasional, mengurangi susut energi khususnya listrik serta memberikan hasil pengukuran yang akurat untuk memperkirakan kebutuhan energi kedepan.

ABSTRACT
Network with LPWA technology (Low Power Wide Area) enables the implementation of communication systems from devices to devices with a very large number in one network. The LPWA network is very efficient in terms of power usage and bandwidth, because the LPWA network uses low power and operates with a narrow bandwidth with wide coverage. Most types of devices connected through the LPWA network are various types of sensors, such as sensors for environmental conditions, health, transportation and sensors to measure energy usage. In this research, the devices which are connected to LPWA network are Smart Meters. Smart Meters are digital measuring devices consisting of sensors with functions of measuring and recording data which connected to a data center that can be accessed by users. The type of technology LPWA used in this research is LoRa with technical parameters in accordance with regulations in Indonesia. The purpose of this research is to design and plan an appropriate network to comply Smart Meter utilities in the Jakarta and Tangerang areas. Smart Meter implementation is expected to provide many benefits to users and energy service companies, such as improving service quality, increasing energy usage efficiency, reducing operational costs, reducing energy and electricity losses also providing accurate measurement results to estimate future energy requirements."
2019
T53366
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sungkawa
"Sumber daya dan cadangan energi baru terbarukan di Indonesia cukup besar, namun saat ini pengembangannya belum optimal. Kesenjangan geografis antara lokasi pasokan energi dan permintaan serta investasi teknologinya yang tinggi merupakan tantangan tersendiri untuk mengembangkan teknologi berbasis EBT. Dukungan pemerintah dengan menetapkan regulasi yang dapat memicu penerapan teknologi EBT, dalam hal ini di sektor ketenagalistrikan ialah melalui kebijakan Feed-in Tariff (FIT), FIT di Indonesia mengunakan patokan harga tertinggi ceiling prices dengan acuan BPP setempat dan BPP nasional yang ditetapkan setiap tahunnya.
Berdasarkan hasil analisis dengan skenario harga pembelian tenaga listrik kesepakatan para pihak ditentukan sebesar 85% dan 100% dari BPP pembangkitan setempat, menunjukan bahwa harga pembelian tenaga listrik merupakan harga yang sesuai dengan keuntungan yang wajar bagi pihak swasta atau Pengembang Pembangkit Listrik (PPL) dengan selisih atau potensi keuntungan bagi pihak PPL tertinggi berada di wilayah Nusa Tenggara Timur untuk pembangkit yang bersumber dari energi air (Hydro) sebesar 1.666,65 Rp/kWh jika harga pembelian tenaga listrik dibandingkan dengan rata-rata terbobot LCOE Pembangkit EBT di dunia.
Selain itu secara finansial PLN dapat melakukan penghematan jika menerapkan harga pembelian tenaga listrik yang bersumber dari pembangkit EBT dibawah besaran BPP pembangkitan setempat, penghematan dapat dilakukan dengan mengganti/memberhentikan produksi dan sewa pembangkit yang menggunakan energi fosil terutama BBM yang memiliki biaya bahan bakar yang tinggi dan mengikuti kurs mata uang asing, potensi penghematan bagi PLN jika mengganti/memberhentikan produksi dan sewa pembangkit PLTD dan PLTG dengan skenario harga pembelian tenaga listrik kesepakatan para pihak di ditentukan sebesar 85% dan 100% dari BPP pembangkitan setempat selama tahun 2017 sebesar 24 triliun rupiah untuk pembelian tenaga listrik yang dihasilkan oleh pembangkit PLTA, PLTP, PLTSa dan 28,3 trilun rupiah untuk pembelian tenaga listrik yang dihasilkan oleh pembangkit PLTS, PLTB, PLTBg/Bm, PLTLaut.

Resources of renewable energy in Indonesia are quite large, but currently the development is not optimal. The geographical gap between the location of energy supply, demand and investment in technology is a challenge for developing renewable-based technology. Government support by establishing regulations that can trigger the application of renewable technology, in this case for electricity sector is through the Feed-in Tariff (FIT) policy, FIT in Indonesia uses ceiling prices with reference to the Cost Of Electricity (COE) in each region and national COE which is set annually.
Based on the results of the analysis with the scenario that the purchase price of electricity for the parties is determined at 85% and 100% of the local COE generation, indicating that the purchase price of electricity is a price that matches the reasonable profit for the private sector or the Power Plant Developer with a difference or the highest potential profit for the PPL in the East Nusa Tenggara region for Hydro generation of 1,666.65 IDR / kWh if the purchase price of electricity is compared to the LCOE weighted average RE in the world.
In addition, financially PLN can make savings if it applies the purchase price of electricity sourced from the RE plant under the amount of COE local generation, saving can be done by replacing / stopping the production and rental of plants that use fossil energy, especially fuel which has high fuel costs and following foreign exchange rates, potential savings for PLN if it replaces / stops the production and rental of PLTD and PLTG plants with the scenario of purchasing prices of electricity agreements between parties is determined at 85% and 100% from local COE generation during 2017 amounting 24 to 28.3 trillion rupiahs.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2018
T51825
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Edwin Juanda
"Teknologi fotovoltaik merupakan teknologi yang terbilang cukup baru yang dapat mengkonversi energi cahaya menjadi energi listrik. Di dalam sistem fotovoltaik (PV), ada beberapa material yang digunakan untuk modul panel surya seperti monocrystalline, polycrystalline, dan thin film. Simulasi ini menggunakan 2 jenis sofware yaitu Meteonorm dan System Advisor Model (SAM) untuk mendapatkan dan memproses serta mendapatkan hasil yang diinginkan.
Kita dapat menganalisis bahwa terjadi perbedaan performa antara 2 material yang kita uji yaitu thin film dan monocrystalline. Perbedaan jumlah energi keluaran tahunan bervariasi antara 50,000~65,000 kWh yang diuji di 4 lokasi berbeda, yaitu Manado, Banjarmasin, Surabaya, dan Mataram, dengan ukuran array yang diinginkan sebesar 50 kWdc.
Lebih jauh lagi, dari segi LCOE, kita dapat menyimpulkan bahwa nilai LCOE dari kedua sistem PV yang diuji juga menunjukkan hasil berbeda. Hasil menunjukkan bahwa diantara keempat kota, nilai LCOE terkecil dicapai oleh kota Manado menggunakan sistem PV thin film menghasilkan nilai nominal LCOE sebesar 44.77 ¢/kWh. Sementara itu, periode terpendek yang dibutuhkan untuk mengembalikan uang modal dimiliki oleh kota Manado dengan waktu 8.53 tahun dan yang ternyata juga dapat menghasilkan keuntungan sebesar 82.40% selama 20 tahun.

Photovoltaic technology is sort of novel technology which can change light to be electricity in direct conversion. In photovoltaic system (PV), there are some materials that can be used to build modules such as mono-crystalline,poly-crystalline, and thinfilm. The simulation uses 2 type of softwares which are Meteonorm and System Advisor Model (SAM) to extract and results in output we want to have.
It could be analyzed from the simulation that there is a so-called differences regarding the performance between two materials. The different amount of annual energy between those systems varies around 50,000~65,000 kWh measured in 4 locations, which are Manado, Banjarmasin, Surabaya, and Mataram, with 50 kWdc desired array size.
Furthermore, from the side of LCOE, we can also conclude that those systems also differ from each other. The result shows that between 4 simulated cities, the least value of LCOE is reached by Manado City using thin film PV system earning the nominal LCOE of 44.77 ¢/kWh. Meanwhile, the payback period in Manado using the same PV system also shows the shortest payback period around 8.53 years and unsurprisingly earns the biggest profit percentage which is around 82.40% in 20 years period of time.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2016
S61970
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>