Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 96721 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Universitas Indonesia, 2003
TA491
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Siti Ahmiatri Saptari
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2003
T40038
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Djarwani Soeharso Soejoko
"Sampel senyawa kalsium fosfat dibuat dari larutan ion kalsium dan ion fosfat jenuh. Eksperimen dilakukan dengan perlakuan suhu 25 °C dan 70 °C, yang dikombinasikan dengan perlakuan pH 5, 7, 9 dan 11. Hasil presipitasi larutan pada suhu 70 °C mempunyai massa relatif lebih tinggi dibanding dengan massa presipitan yang dihasilkan oleh larutan pada suhu 25 °C. Pada umumnya massa presipitan meningkat dengan kenaikan pH. Analisis sampel dilakukan dengan spektrokopi inframerah, terutama pada sampel hasil presipitasi pada suhu 70 °C. Berdasarkan derajat belah pita absorpsi fosfat 􀁮4, dapat diketahui bahwa pada umumnya semua sampel mengandung kristal apatit dan yang meningkat dengan kenaikan pH larutan. Dari pemanasan sampel hasil presipitasi larutan dengan pH 11 diperoleh pula informasi bahwa molekul air, dapat berada pada permukaan kristal maupun terperangkap dalam struktur kristal.

Infrared Spectroscopy of Precipitated Calcium Phosphate Compound. Samples of calcium phosphate compounds were produced from saturated solutions containing of calcium and phosphate ions. The experiments were carried out using solutions at temperature 25 °C and 70 °C, combined with different pH value of 5, 7, 9 and 11. Precipitation mass from solutions at 70 °C was relatively higher compare to that produced from solutions at 25 °C. It was also shown that generally the mass precipitation rose with the increasing of pH. Sample analyses were performed with the use of infrared spectroscopy, particularly for the samples produced from solutions at 70 °C. Based on the 􀁮4 phosphate absorption band, it was indicated that apatite crystals found in most samples which its amount gave rise to the increasing of pH. Infrared spectroscopy of the heated samples produced with pH 11 showed that water molecules could be present either at the surface of crystals or trapped in the crystal structure."
Depok: Lembaga Penelitian Universitas Indonesia, 2002
AJ-Pdf
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Vivi Fauzia
"Telah diteliti efek self heating yang mempengaruhi sifat konduksi listrik material BaTiO3 dengan metode spektroskopi impedansi. Efek ini teramati setelah tegangan eksekusi lebih dari 5 Vpp. Spektrum impedansi (Cole-Cole Plot) material BaTiOj terlihat mengalami penyimpangan (depresi) dari spektnan sebelum terjadinya efek self heating yaitu pada tegangan eksekusi 1 Vpp. Pemodelan rangkaian ekivalen listrik yang sesuai dengan data eksperimen berupa rangkaian seri antara rangkaian paralel RflCi yang merupakan sumbangan konduksi di dalam gram dan rangkaian paralel RJ/CPEyang merepresentasikan sumbangan konduksi dari batas grain. Efek self heating dimodelkan dengan faktor CPE yang mengakomodasi ketidakhomogenan sifat elektronis material."
2004
SAIN-9-2-2004-17
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Hardjono Sastrohamidjojo
Yogyakarta : Liberty, 1994
543.5 HAR s
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Universitas Indonesia, 1996
TA205
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
cover
Ahmad Khalil Yaqubi
"Pada penelitian ini, kami mencoba mempelajari dan menganalisis efikasi kation divalen melalui proses sintering dan metode Sol-gel dengan substitusi Fe-site pada struktur kisi dan cara menganalisis rangkaian La0.8Sr0.2Fe1-xMgxO3 ( x = 0,1, 0,2, dan 0,3) bahan perovskit. Produk dikarakterisasi dengan difraktometer sinar-X (XRD), Scanning Electron Microscope (SEM), analisis Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR), analisis Brunauer – Emmett – Teller (BET), Raman Scattering Spectra dan UV-Vis Spectroscopy. Analisis XRD menunjukkan bahwa bahan perovskit ini cocok dengan grup ruang Pbnm dan struktur ortorombik. Parameter kisi dan ukuran kristal meningkat dengan meningkatnya substitusi Mg, hal ini menunjukkan bahwa keberadaan Mg2+ dalam kisi kristal menghambat pertumbuhan ukuran kristal. Hasil analisis SEM menunjukkan bahwa partikel sampel umumnya memiliki bentuk sferis yang tidak homogen. Hasil karakterisasi EDX dan XRF menegaskan komposisi unsur semua sampel, unsur utama La, Sr, Fe, Mg, O muncul pada spektrum EDX sesuai perhitungan stoikiometri. Sedangkan uji BET menunjukkan adanya keragaman nilai luas permukaan yang terkonfirmasi karena adanya perbedaan komposisi unsur berdasarkan perhitungan stoikiometri pada sampel serbuk. Sifat optik dikarakterisasi dengan menggunakan UV-Vis menunjukkan celah energi ikatan yang lebih kecil dengan meningkatnya doping Mg. Nilai celah pita meningkat dengan meningkatnya konstanta doping. Sifat kelistrikan diuji menggunakan metode spektroskopi impedansi dengan variasi frekuensi (1 kHz – 2 MHz) dan temperatur (30° – 175 °C). Data impedansi disajikan dalam bentuk plot Nyquist dan plot Bode, digunakan untuk mengidentifikasi parameter rangkaian ekivalen. Ketika suhu meningkat plot Nyquist, menunjukkan pengurangan diameter setengah lingkaran. Data impedansi menunjukkan penurunan Z', dengan meningkatnya suhu. Dalam Z” puncaknya asimetris dan meluas dengan meningkatnya suhu, dan puncak relaksasi menurun bergeser ke frekuensi yang lebih tinggi menunjukkan bahwa relaksasi tergantung pada aktivasi termal pembawa muatan. Menurut studi dielektrik, dengan meningkatnya suhu, konstanta dielektrik meningkat. Dalam konstanta dielektrik imajiner pada frekuensi rendah, sampel memiliki konstanta dielektrik tertinggi di semua rentang suhu. Konduktivitas di wilayah frekuensi tinggi (>104 Hz) meningkat dengan meningkatnya frekuensi, karena melompat antara ion di situs B konduktivitas meningkat dengan meningkatnya suhu.

In this work, we tried to study and analyze the efficacy of divalent cation by sintering process and using Sol-gel method with substitution the Fe-site on the lattice structure and how-to analysis a series of La0.8Sr0.2Fe1-xMgxO3 (x = 0.1, 0.2, and 0.3) perovskite material. The products were characterized with X-ray diffractometer (XRD), Scanning Electron Microscope (SEM), Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR) analysis, Brunauer – Emmett – Teller (BET), Raman Scattering Spectra and UV-Vis Spectroscopy. The XRD analysis indicated that these perovskite materials are well fitted with the space group and an orthorhombic structure. The lattice parameters and crystallite size increase with the increase of Mg substitutions, indicating that the presence of Mg2+ in the crystal lattice inhibits the growth of the crystallite size. The results of the SEM analysis showed that the sample particles generally have an inhomogeneous spherical shape. The results of EDX and XRF characterization confirmed the elemental composition of all samples, the main elements La, Sr, Fe, Mg, O appeared in the EDX spectrum according to the stoichiometric calculations. While the BET test showed the diversity of surface area values ​​which are confirmed due to differences in element composition based on stoichiometric calculations in powder samples. The optical properties were characterized by using UV-Vis showing a smaller bond energy gap with the increase in Mg doping. The bandgap value increased with increasing doping constant. Electrical properties were tested by using impedance spectroscopy method with variations in frequency (1 kHz – 2 MHz) and temperature (30 ° – 175 °C). Impedance data presented in the form of a Nyquist plot and a Bode plot, used for identify the equivalent circuit parameters. When the temperature increased the Nyquist plot, showed the reduction of semicircular diameter. Impedance data indicated the decrease of Z', by increasing temperature. In Z” the peaks are asymmetrical and expanded with increasing temperature, and relaxation peaks decreases shifting to a higher frequency indicated that relaxation is dependent on the thermal activation of the charge carrier. According to dielectric studies, with increasing temperature, the dielectric constant increases. In imaginary dielectric constant at low frequency, samples have the highest dielectric constant in all temperature ranges. The conductivity in the high frequency region (>104 Hz) increases with increasing frequency, due to hopping between ions at site B the conductivity increases with increasing temperature.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2021
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
M Akib Khu
"Analisis spektrokimia pada sampel besar seperti plat logam telah dilakukan dengan menggunakan sebuah ruang oakum kecil yang terhubung secara langsung dengan permukaan sampel melalui cincin berbentuk O. Teknik ini menghasilkan plasma yang dapat digunakan untuk analisis in-situ, sehingga prosedur penyiapan sampel yang relatif kurang praktis dapat diatasi. Di samping itu, dengan adanya cincin O yang menempel pada sampel, secara effektif menghalangi emisi kontinu yang tidak diinginkan dari plasma primer, sehingga meningkatkan sensitifitas deteksi dari teknik ini. Selanjutnya dalam eksperimen ini spektrum yang didapatkan dengan menggunakan sistem OMA tanpa fungsi gating masih menunjukkan sinyal latar belakang yang lebih rendah daripada yang didapatkan dengan metode LIBS (Laser induced Breakdown Spectroscopy).
"
2000
T3684
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Lusitra Munisa
"Lapisan tipis amorf silikon karbon terhidrogenasi telah dibuat dengan metode depasisi DCRMS (dc magnetron sputtering). Spektrum inframerah lapisan tipis amorf silikon karbon yang dihasilkan pada penelitian ini memiliki tiga daerah absorpsi yang terletak di sekitar 600-900 cm2, 1900-2200 cm2 dan 2800-3000 cm2. Mode-mode vibrasi struktur ikatan yang terdapat pada lapisan tipis meliputi mode vibrasi wagging Si-H di sekitar 640 cm-1; doublet mode vibrasi bending Si-H2 di sekitar 850 dan 890 cm-1; doublet mode vibrasi stretching Si-H di sekitar 2000 dan 2100 cm'1; mode vibrasi stretching Si-C di sekitar 720 dan 780 cm-1; mode vibrasi stretching C-H di sekitar 2800 cm-1. Peningkatan flowrate gas metan menggeser posisi mode-mode vibrasi ke bilangan gelombang yang lebih tinggi dan meningkatkan integral absorpsi dari mode-mode vibrasi tersebut. Pengaruh peningkatan flowrate gas metan terhadap mode vibrasi di sekitar 2000 dan 2100 cm./ menyebabkan terjadinya transisi dari 2000 ke 2100 cm-1 yang disebabkan oleh peningkatan hidrogen bukan karena peningkatan konsentrasi karbon.
Hasil evolusi dan implantasi hidrogen menunjukkan kehadiran void di dalam lapisan tipis. Kuat absorpsi mode vibrasi stretching dan wagging Si-H tidak bergantung pada flowrate gas metan. Harga kuat absorpsi mode vibrasi stretching Si-H di sekitar 2000 dan 2100 cm.' tidak jauh berbeda. Mode vibrasi di sekitar 720 dan 780 cm'1 diperkirakan merupakan hasil kopling mode vibrasi wagging Si-H dan mode vibrasi stretching Si-C. Mode vibrasi di sekitar 720 cm-1 merupakan mode vibrasi stretching Si-C yang melibatkan hidrogen sedangkan mode vibrasi di sekitar 780 cm"' tanpa hidrogen. Kedua mode vibrasi ini mewakili mode vibrasi stretching Si-C bukan hanya salah satu dari keduanya. Struktur ikatan silikon dengan karbon dominan berada dalam gugus H-Si-C pada flowrate gas metan rendah. Atom hidrogen pada lapisan tipis hanya berikatan dengan satu atom karbon saja. Atom hidrogen cenderung berikatan dengan atom silikon dibandingkan dengan atom karbon. Selain peningkatan konsentrasi karbon, peningkatan hidrogen juga berpengaruh terhadap berkurangnya indeks bias rill dan peningkatan gap optis. Struktur ikatan hidrogen yang berpengaruh terhadap berkurangnya indeks bias dan bertambahnya gap optis adalah struktur ikatan hidrogen di void.

Infrared Spectroscopy and Optical Properties of Amorphous Silicon Carbon Films (a-Six_x C1:H) Produced by DC Magnetron Sputtering MethodsHydrogenated Amorphous Silicon Carbon films were prepared by dc reactive magnetron sputtering (DCRMS) methods. The infrared spectra have three absorption regions at 600-900 cm 1, 1900-2200 cm-1 and 2800-3000 cm-1. These three features shift to higher wavenumber for the methane flowrate increased. The absorption band near 640 cm-1 is assigned to the wagging band of Si-H SiH2 bonds have a bending outlet at 850 and 890 cm-1, the stretching doublet modes of Si-H are around 2000 and 2100 cm-1, the stretching modes of Si-C are near 720 and 780 cm -l and the absorption around 2800 cm-1 is attributed to the C-H stretching mode. The integrated absorption of these modes increases with the methane flowrate. The transition from 2000 to 2100 cm 1 is due to an increasing hydrogen content not carbon concentration.
The hydrogen evolution and implantation support the void formation on films. The absorption strength of Si-H stretching and wagging absorption is found to be independent of the methane flowrate. The two Si-H stretching modes around 2000 and 2100 cm'1 have almost the same absorption strength values. The vibrational modes near 720 and 780 cm -1 are presumably as the result of coupling of the Si-C stretching mode with the Si-H wagging mode. The 720 and 780 cm'1 absorption presumably related to H-Si-C groups and unhydrogenated Si-C, respectively. Both 720 and 780 cm-1 absorptions is related to Si-C vibrations. Al low methane flowrate, silicon-carbon bonding structure predominantly in H-Si-C groups. Hydrogen atom is predominantly bound to silicon not to carbon. Roughly one hydrogen atom is incorporated for one carbon atom. The decreasing of the real refractive index and the increasing of the optical gap are not due to carbon concentration alone but also hydrogen concentration. The Si-H bonds covering the inner surfaces of voids have a contribution to decreasing the real refractive index and increasing the optical gap."
Depok: Universitas Indonesia, 1999
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>