Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 195750 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Ii Sumarni
"ABSTRAK
Kejadian Luar Biasa Hepatitis A di Kabupaten Ciamis telah terjadi beberapa kali,
satu diantaranya terjadi di Pondok Pesantren X. Penelitian bertujuan untuk
menganalisis kondisi kesehatan lingkungan dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat
dengan Kejadian Hepatitis A siswa/siswi di Pondok Pesantren X Kabupaten
Ciamis. Rancangan penelitian menggunakan desain kasus kontrol dengan jumlah
kasus 40 orang dan kontrol sebanyak 80 orang total sampel 120 orang. Populasi
penelitian adalah siswa/siswi Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah Negeri
yang tinggal diasrama pondok pesantren. Data kasus merupakan data sekunder
yang diperoleh dari Tim Surveilans Kabupaten Ciamis, dengan hasil pemeriksaan
serologis positif. Sedangkan kontrol berdasarkan tidak adanya gejala klinis. Data
kondisi kesehatan lingkungan dan perilaku hidup bersih dan sehat diperoleh
langsung dengan observasi dan wawancara menggunakan kuesioner.
Hasil analisis bivariat menunjukan, umur, kebiasaan minum air masak, kebiasaan
makan bersama antar teman, tukar menukar alat makan dan kebiasaan jajan
merupakan variabel yang berhubungan dengan kejadian Hepatitis A. Hasil
analisis multivariat dengan uji regresi logistik ganda diperoleh tiga variabel yang
berhubungan dengan kejadian Hepatitis A yaitu kebiasaan makan bersama dalam
satu tempat OR (21,48), kebiasaan tukar menukar alat OR (6,15) dan status
imunisasi sebagai faktor pencegah Hepatitis A OR = (0,056). Risiko responden
apabila belum diimunisasi Hepatitis A, biasa tukar menukar alat dan makan
bersama dalam satu tempat adalah 3, 36 kali untuk terjadinya Hepatitis A.

ABSTRACT
Hepatitis A outbreaks in Ciamis District has occurred several times, one of them
has occurred in X Islamic Boarding School in 2012. This research aimed to
analyze Environment Health Condition dan personal Hygeiene with Hepatitis A
Incident of X Islamic Boarding School Students in Ciamis District. The research
design used was case control design with 40 cases and 80 control, total 120
subjects. The research population the students of Tsanawiah Madrassa and Aliyah
Public Madrassa who stayed at Islamic Boarding School. The case data was
secondary data gained from Ciamis District Surveilance Team, with the
examination result was serologically positive. Meanwhile, the control was based
on no clinical symptoms found. The data of environment health condition and
personal hygiene was gained directly from the observation and interview by
questionnaire.
The Chi-Square test analysis showed that age, drinking habit, food sharing among
friends habit, utensil exchanging and snack habit were the variables which related
to Hepatitis A incidence. The logistic regression analysis test was the gain of
three variables which related to Hepatitis A incidents, food sharing habit OR
(21,48), utensil exchanging habit OR (6,15) and immunization status as
prevention factor OR = 0,056. The risk of respondents who did not had Hepatitis
A immunization, had utensil exchanging habit and food sharing was 3,36 times
for Hepatitis A infection."
2013
T35712
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Umar Firdous
"Hepatitis akut klinis merupakan penyakit yang diakibatkan oleh adanya peradangan yang bersifat akut pada hepatosit karena adanya agen yang masuk ke dalam sel hepar tersebut. Secara klinis umumnya ditandai dengan Panas, mual/muntah, rasa penuh di perut dan ikterik.Yang tersering di antara hepatitis akut klinis ini antara lain adalah hepatitis virus A. Di tinjau dari teori HL Blum ada beberapa faktor yang berperan dalam penyebaran hepatitis virus A ini yaitu lingkungan, perilaku, genetika dan fasilitas kesehatan.
Hepatitis A seringkali menyebabkan masalah diberbagi penjuru dunia , baik dalam bentuk epidemi, wabah , kasus luar biasa ( KLB ) maupun outbreak. Akhir-akhir ini terjadi KLB hepatitis akut yang berdasarkan hasil pemeriksaan
laboratorium dari tempat pasien di rawat dideteksi sebagai hepatitis A. Berdasarkan kepustakaan penularan hepatitis virus A merupakan jenis oral fecal transmission . Sehingga penularan penyakit ini erat hubungannya dengan perilaku higiene perseorangan. Praktek cuci tangan merupakan variabel penting dalam perilaku kebersihan dini, mengingat di daerah tersebut umumnya penduduk makan pakai tangan (tanpa sendok), yang dilakukan 3-4 kali sehari dan kebanyakan dari mereka tidak cuci tangan sebelum makan. Oleh karena itu praktek cuci tangan sebelum makan penduduk di daerah KLB tersebut perlu mendapat perhatian. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara prektek cuci tangan sebelum makan yang merupakan komponen penting dari faktor perilaku dengan kejadian hepatitis akut klinis di daerah KLB hepatitis A tersebut.
Desain dari penelitian ini adalah kasus kontrol dengan menganalisa data sekunder hasil investigasi wabah yang telah dilakukan pada bulan Nopember 2001 sampai Januari 2002 . Sehingga populasi didasarkan atas data sekunder tersebut, yaitu masyarakat yang tinggal di perumahan Calincing desa Cogreg kecamatan Parung kabupaten Bogor kelompok umur 15-55 tahun. Jumlah kasus yang dianalisa adalah 60 orang dan kontrol 120 orang.
Hasil dari penelitian adalah terdapat hubungan yang bermakna ( p = 0.000 ) antara praktek cuci tangan sebelum makan dengan kejadian sakit hepatitis Akut klinis. Nilai OR = 3.442 (95% CI ; 1.638 - 7.235).
Diketemukan adanya konfounding, Sebagai konfonder adalah variabel Pendidikan, sehingga hubungan antara variabel praktek cuci tangan sebelum makan dengan kejadian sakit hepatitis akut dipengaruhi oleh variabel pendidikan.
Daftar bacaan : 51 (1973-2001)

Clinical acute hepatitis is disease because acute inflammatory in hepatocyte caused by some agents which infecting hepar cells. Clinical symptoms of hepatitis are body temperature increasing, nausea, vomiting, abdominal discomfort, icterus or yellow skin. The most cases of clinical acute hepatitis is hepatitis A virus (HAV). According to H. L Blum theory, there are some factors related to spreading of the disease (HAV) such as environment, behaviour, genetic, and health service facilities.
Hepatitis A virus often becomes serious problem in any area as epidemic or outbreak. Recently, an outbreak of hepatitis -has known as hepatitis A based on laboratory test of patients. This hepatitis A (clinical acut hepatitis) spreading from faecal-oral transmission when individuals do not wash their hand after using the toilet and then the handle the food, so this behaviour in this disease.In area of the outbreak , washing hand before handling food is very importan variable, becauese most of the people do not wash their hand before breakfast, lunch and dinner and without spoon. This study is to find out relation between washing hand before handling food with clinical acut hepatitis cases in the area of outbreak of Hepatitis A.
This study using case control design, analysing secondary data of epidemic investigation from November 2001 to January 2002. The population is community which living in Calincing housing in Cogreg County, Parung sub district of Bogor, aged from 15 to 55 years old. 60 cases and 120 controls have analysed.
Result of this study has find that is a significant relation (p-0.000) between washing hand before handling food with clinical acute hepatitis case, OR=3.442 (95% Cl : 1.638 - 7.235). Education is a confounding variable to this relation.
References : 51 (1973-2001)
"
Depok: Universitas Indonesia, 2002
T1871
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Abdur Rachim
"Hepatitis virus A dan E merupakan jenis hepatitis yang termasuk paling sering dijumpai di masyarakat. Secara Minis penyakit hepatitis virus yang akut mempunyai gejala dan tanda antara lain demam, menggigil, sakit kepala, hilang nafsu makan, mual, muntah, lemas, cepat lelah, nyeri begah pada perut, urin seperti air teh dan ikterik.
Penularan hepatitis A melalui jalur oro-faecal, erat kaitannya dengan hygiene dan sanitasi, makanan dan penggunaan air untuk keperluan sehari hari. Penyakit hepatitis A masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia karena sering menimbulkan Kejadian Luar Biasa (KLB). Pada Kejadian Luar Biasa (KLB) hepatitis A di kecamatan Seputih Raman Kabupaten Metro bulan Agustus sampai dengan September 2000, diduga sumber penularannya antara lain; air tercemar oleh virus hepatitis A dari sarana air yang tidak terlindung. Penelitian. ini bertujuan untuk mengetahui keeratan hubungan antara penggunaan sumber air sarana tidak terlindung dengan kejadian hepatitis A pada daerah Kejadian Luar Biasa hepatitis A di kecamatan Seputih Raman Kabupaten Metro tahun 2000. Desain penelitian ini adalah studi analitik dengan pendekatan rancangan kasus kontrol menggunakan data sekunder hasil investigasi KLB hepatitis A di kecamatan Seputih Raman Kabupaten Metro Agustus-September 2000 oleh tim Ditjen.PPM&PL dan Namru-2. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan air bersumber dari sarana yang tidak terlindung berhubungan bermakna (p= 0,000) dengan kejadian hepatitis A setelah dikontrol dengan variabel pendidikan, cuci tangan sebelum makan, makan lalap mentah dan makan es mambo dengan kekuatan hubungan OR = 4,945 (Cl; 2,727-8,967).
Disarankan kepada puskesmas setempat untuk meningkatkan penyuluhan kesehatan secara langsung maupun melalui media (film, Radio Pemerintah Daerah) agar masyarakat menggunakan air dari sarana yang terlindung sehingga dapat mencegah kejadian penyakit hepatitis A dimasa yang akan datang.
Daftar bacaan : 56 (1955-2000).

The Association between Utilization of Unprotected Water Source Facility and Type A Hepatitis Infection, during Hepatitis A Outbreak, in Sub-district of Seputih Raman, District of Metro, Lampung Province, year 2000Type A and E hepatitis are among the most prevalent viral hepatitis cases occurred in the population. Clinically, the acute viral hepatitis infection may produce several symptoms and signs, such as fever, shivering, headache, loss of appetite, nausea, vomiting, fatigue, abdominal discomfort. like tea urine color and yellowish skin or eye, etc.
Type A hepatitis is transmitted through oro-fecal route and closely related to hygiene and sanitation of daily food and water use. Hepatitis A infection is still an important public health problem due to its characteristic to frequently induce an outbreak. When type A hepatitis outbreak occurred in sub-district Seputih Raman, District of Metro, Lampung, from August to September 2000, it was suspected that the source of transmission was water contaminated with hepatitis-A virus, due to utilization of unprotected. water source facility.
This case control study was conducted using secondary data of Hepatitis-A outbreak investigation report in sub-district Seputih Raman, District of Metro, Lampung, from August to September 2000. The objective of the study was to investigate the association between utilization of unprotected water source facility and type A Hepatitis infection, during the outbreak.
The study result showed that utilization of unprotected water source facility was significantly associated with the occurrence of Hepatitis-A infection, after controlling other variables (OR=4.95; 95% Cl; 2.73 - 8.97).
It is suggested that local Community Health Center is supposed to enhance health promotion, directly or through the media, to prevent the community from utilizing potentially contaminated water from unprotected source. It is also recommended to reduce the risk of getting infected, by educating the community to avoid drinking water without boiling it or making ice cube or ice cream from unboiled water or eating raw vegetable and to wash hand before eating.
"
Depok: Universitas Indonesia, 2004
T13120
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Fathurrohman
"Perkembangan ilmu dan teknologi membawa program imunisasi ke dalam penyelenggaraan pelayanan yang bermutu dan efisien. Upaya terscbut didukung dengan kemajuan yang pesat dalam penemuan vaksin baru. Kemajuan lainnya adalah menggabungkan beberapa jenis vaksin dalam satu kemasan/vial. Salah satu vaksin tersebut adalah Vaksin DPT - Hepatitis B Combo, yang mcrupakan kombinasi antara vaksin DPT dan Hepatitis B.
Kabupaten Tangerang masih menggunakan 3 jenis vaksin dalarn imunisasi DPT dan Hepatitis B, yaitu vaksin DPT, Hepatitis B Vial dan DPT - Hepatitis B Combo. Sejauh ini belum diketahui vaksin mana yang lebih cost Mctive antara DPT dan Hepatitis B Vial dengan DPT - Hepatitis B Combo. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui vaksin manakah yang lebih cost effective dalam pelaksanaan imunisasi DPT dan Hepatitis B di Kabupaten Tangerang.
Peneilitian dilakukan di Puskesmas Cisoka yang menggunakan vaksin DPT dari Hepatitis B Vial, dan Puskesmas Jayanti yang menggunakan vaksin DPT - Hepatitis B Combo. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Operasional Research, dasar penilaian Cost effectiveness menggunakan sistem atau metode Acifivily Based Costing (ABC).
Hasil penclitian menunjukkan bahwa niiai Cost Ejjieclive Rario (CER) penggunaan vaksin DPT - Hepatitis B Vial lebih besar dibandingkan dengan vaksin DPT - Hepatitis B Combo, yaitu CER berdasarkan cakupan vaksin DPT - Hepatitis B Vial scbcsar Rp. 151.981 dan vaksin DPT - Hepatitis B Combo sebesar Rp. 85.l27. CBR Indeks pemakaian Vaksin DPT » Hepatitis B Vial scbcsar Rp. 21.788470 dan vaksin DPT - Hepatitis B Combo scbcsar Rp. 2l.2l7.8l9. CER berdasarkan dosis vaksin terbuang vaksin DPT -» Hepatitis B vial sebesar Rp. 16,510,787 dan vaksin DPT - Hepatitis B Combo sebesar Rp. 7.0~'l4.23l. Hasil ini menunjukkan bahwa vaksin DPT -» Hepatitis B Combo lebih murah dibandingkan vaksin DPT - Hepatitis B Combo.
Berdasarkan hasil peneiitian disarankan khususnya kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang agar menggunakan vaksin DPT - Hepatitis B Combo dalam pelaksanaan imunisasi DPT dan Hepatitis B.

Development of science and technology brought immunization program into qualitative and efficiently services management. lt supported by vast progress in finding new vaccine. Other development is gathering various vaccines in one vial. One of the vaccines is DPT Vaccine - Hepatitis B Combo, that representing combination between DPT vaccine and Hepatitis B.
Tangerang Regency still utilized three types of vaccine in immunization DPT and Hepatitis B, there are DPT vaccine, Hepatitis B Vial and DPT - Hepatitis B Combo. Meanwhile, didn?t know yet whether vaccine is most effective costly between DPT and Hepatitis B Vial with DPT - Hepatitis B Combo.
This research conducted to recognize which vaccine is more cost effective in conducting DPT immunization and Hepatitis B at Tangerang Regency. This research conducted in Cisoka Puskesrnas that use DPT vaccine and Hepatitis B Vial, and Jayanti Puskesmas that use DPT vaccine - Hepatitis B Combo. Research designed utilized operational research. Bases on Cost Effectiveness asses? system or method activity based costing (ABC).
Research result shows that Cost EiTective Ratio (CER) using DPT vaccine - Hepatitis B Vial value is higher that DPT vaccine - Hepatitis B Combo, which is CER based on coverage of DPT vaccine - Hepatitis B Vial as much as Rp. 151.981 and DPT vaccine - Hepatitis B Combo as much as Rp. 85.l27. CER Index of using DPT vaccine - Hepatitis B Vial as much as Rp. 2l.788.4'70 and DPT vaccine - Hepatitis B Combo as much as Rp. 21.2l7.819. CER based on wasted vaccine dose of DPT vaccine - Hepatitis B Vial as much as Rp. 16.5lO.787 and DPT vaccine - Hepatitis B Combo as much as Rp. 7.044.23l. This result shows that DPT vaccine - Hepatitis B Combo is more lower at cost.
Based on research result, suggested to, especially, Health Agency Tangerang Regency use DPT vaccine - Hepatitis B Combo as altemative vaccine in conducting DPT immunization and Hepatitis B."
Jakarta: Universitas Indonesia, 2007
T34449
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ali Sulaiman
"

Hadirin yang saya muliakan,

Pada kesempatan yang baik ini saya memilih topik "Hepatitis dan Permasalahannya Menjelang Tahun 2000" untuk disampaikan kepada para hadirin. Hal ini didasari oleh pertimbangan akan pentingnya penyakit tersebut. Saat ini hepatitis virus masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang amat besar di Indonesia, bahkan juga di sebagian besar penduduk dunia.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menyadari betapa pentingnya masalah hepatitis. Berbagai pertemuan secara berkala selalu diadakan untuk membahas masalah ini, dalam rangka mencari cara yang tepat bagi usaha-usaha pencegahan.

Mengapa penyakit hepatitis demikian penting? Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain:

(1) Penyakit hepatitis virus telah menyerang lebih dari 2 miliar manusia.

(2) Penyakit ini menyebabkan morbiditas (kesakitan) dan mortalitas (kematian) pada penduduk yang diakibatkan oleh keadaan akut, maupun keadaan kronik (menahun) penyakit ini.
(3) Hasil pengobatan bentuk kronik penyakit ini belum memuaskan.
(4) Bentuk kronik penyakit ini dapat berkembang menjadi penyakit kanker hati.
(5) Usaha pencegahan dapat dilakukan melalui vaksinasi dan penyuluhan yang terus-menerus.

Hadirin yang terhormat,

Penyakit hepatitis sebenarnya sudah lama ditemukan. Hippocrates telah mengemukakan gambaran klinik ikterus epidemik ("epidemic jaundice”) yang manifestasinya masih tetap sama, sampai saat ini. Deskripsinya mengenai hepatitis fulminan (ganas) ternyata dramatik, namun akurat. Ia bahkan memberikan petunjuk diet khusus ditambah campuran air dan madu, yang merupakan nasihat yang masih bisa diterima sampai saat ini. Sangat menarik bahwa Hippocrates juga telah memikirkan konsep imunisasi.

Penelitian eksperimental pada manusia yang amat penting dalam riwayat hepatitis dikerjakan oleh Krugman pada tahun 1950 (5). Melalui penelitian ini diperlihatkan adanya dua macam hepatitis virus. Yang pertama adalah hepatitis yang ditularkan melalui oral (mulut) dengan masa inkubasi yang pendek, yang dikenal sebagai hepatitis infeksiosa atau hepatitis A. Yang kedua adalah hepatitis yang ditularkan melalui parenteral (suntikan) dan dengan masa inkubasi yang panjang, yang disebut hepatitis serum atau hepatitis B.

Hadirin yang terhormat,

Sejak penemuan antigen Australia atau yang kemudian lebih dikenal dengan nama "hepatitis B surface antigen" (HBsAg) oleh Blumberg dkk. pada permulaan tahun enam puluhan perkembangan pengetahuan mengenai hepatitis B telah berlangsung dengan sangat cepat (6). Dalam waktu yang relatif amat singkat, bermula dari satu antigen yang tidak diketahui asal serta arti pentingnya, ternyata telah menguak tabir virus hepatitis B mulai dari struktur, mekanisme pembentukan, cara penyebaran sampai kepada cara pembuatan vaksinnya.

Atas dasar penemuan yang sangat bersejarah tersebut dr.Blumberg mendapat hadiah Nobel pada tahun 1976. Sejak itu, publikasi mengenai hepatitis meningkat dengan pesat. Berbagai penemuan yang merupakan peristiwa penting dan menjadi tonggak sejarah dalam perkembangan hepatitis, bermunculan.

"
Jakarta: UI-Press, 1992
PGB 0116
UI - Pidato  Universitas Indonesia Library
cover
Japaries, Willie
Jakarta: Arcan, 1996
616.362 3 JAP h
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Helmiati
"ABSTRAK
Hepatitis B merupakan penyakit infeksi yang disebabkan virus hepatitis B (VHB),
lebih dari 350 juta orang mengidap virus hepatitis B yang menyebar di seluruh
dunia, 78% diantaranya menetap di Asia Tenggara. Salah satu cara untuk
pemberantasan penyakit hepatits B adalah pencegahan dengan imunisasi. Cakupan
imunisasi hepatitis B Puskesmas Pasar Kuok tahun 2010 adalah 35,2%, di bawah
target yang telah ditetapkan (95%). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui
faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian imunisasi hepatitis B-0 pada
bayi (0-11 bulan) di Puskesmas Pasar Kuok tahun 2011. Penelitian ini dilakukan di
Puskesmas Pasar Kuok tahun 2010 terhadap 124 ibu rumah tangga yang
mempunyai bayi umur 0-11 bulan. Disain penelitian adalah metode cross sectional
dan bersifat deskriptif analitik. Hasil penelitian menunjukkan sebaran pemberian
imunisasi hepatitis B-0 pada bayi (0-11 bulan) adalah sebesar 39,5%. Hasil analisis
bivariat menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara pemberian
imunisasi hepatitis B-0 pada bayi (0-11 bulan) dengan pengetahuan ibu, penolong
persalinan, kunjungan neonatal dan pemanfaatan keberadaan bidan di desa. Dinas
Kesehatan dapat membuat perencanaan kebutuhan dan distribusi vaksin hepatitis B-
0 ke sarana kesehatan, Rumah Sakit, Rumah Bersalin dan petugas yang menolong
persalinan. Serta Bidan Membuat pencatatan dan pelaporan imunisasi dengan baik
dan sejalan dengan laporan kunjungan neonatal.

ABSTRACT
Hepatitis B is an infectious disease caused by hepatitis B virus (HBV), more than
350 million people contracted hepatitis B virus that spreads around the world, 78%
of them settled in Southeast Asia. One way to fight against hepatitis B disese is
prevention using immunization. Immunization coverage of Hepatitis B Puskesmas
Pasar Kuok in 2010 is 35.2%, below the target set (95%). The purpose of this study
determine factors related to hepatitis B-0 immunization among babies (0-11 month)
at Puskesmas Pasar Kuok in 2011. This research was conducted in Puskesmas
Pasar Kuok in 2010 against 124 housewife of babies aged 0-11 months. The study
design was cross-sectional descriptive and analytic. The research result obtained
that immunization for hepatitis B-0 of 39,5% The result of bivariate analysis
showed a significant relationship between hepatitis B immunization in babies (0-11
months) with the mother knowledge, the helper of childbirth, the neonatal visits and
utilization of midwives in the village. Department of Health needs to make the
planning and distribution of hepatitis B-0 to health facilities, hospitals, maternity
hospitals and staff who helped deliver. Midwife in the village to spread its presence
so that known by the public and makes recording and reporting of immunization
with the good and in line with the monthly report requests neonates."
2011
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sjaifoellah Noer
"Pada akhir Maret 1978 telah diadakan Simposium Nasional Penyakit Hati Menahun di Jakarta. Hal-hal yang per1u mendapat perhatian adalah yang berikut ini.
Dari Manado Pangallla dkk, melaporkan bahwa selama 4 tahun telah dirawat 8168 penderita di Bagian Penyakit Dalam RS. Gunung Wenang sebagai rumah sakit rujukan untuk Propinsi Sulawesi Utara dan sekitarnya. Diantaranya ditemukan 280 orang yaitu 3,4% dengan penyakit hati. Dalam perincian selanjutnya disebutkan bahwa hepatitis virus adalah 55%, sirosis hati 20%, hepatitis yang bertendensi kronis 6%, tumor hati 2,5%, hepatitis yang berkaitan dengan malaria 6,7%, hepatitis bakterial 5,7%, hepatitis amebik 3,5%.
Julius dkk melaporkan bahwa di RSUP Padang selama periode 1973- 1977 ditemukan 1139 dari 7863 penderita yang dirawat di Bagian Penyakit Dalam yaitu 14,5% penderita dengan penyakit hati dengan perincian hepatitis 46,9%, sirosis hepatitis 37%, karsinoma hati 13,2% dan abses hati 2,9%.
Saeful Muluk melaporkan bahwa di tiga RSU. di Pontianak selama periode Januari 1975 sampai dengan Desember 1977 telah dirawat 73 penderita dengan sirosis hati dan 9 orang dengan karsinoma hati yaitu masing-masing 0,8% dan 0,1% dari 9322 orang yang dirawat di Bagian Penyakit Dalam. Dalam periode yang same telah dirawat pula 486 orang yaitu 5,2% dengan hepatitis yaitu 5,9 kali lebih banyak dibandingkan dengan jumlah sirosis hati dan karsinoma hati. Menurut laporannya 42,7% mengenai Suku Cina dan 28,1% pada Suku Melayu dari penyakit hati menahun itu.
Haryono Adenan-dkk telah melaporkan selama 3 tahun dari 1975 sampai 1977 ada '400 orang..diantara 5758 orang yang dirawat di RS.Dr.Sardjito UGM yaitu 6,94% dengan penyakit hati yang terdiri dari sirosis hati 211 orang, 52,57% hepatitis 102 orang 25% dan hepatoma 57 orang, 14,2%. Jumlah penderita penyakit hati menduduki urutan kedua setelah penyakit infeksi yang dirawat. Sedangkan di rumah sakit lain didaerah Yogyakarta sirosis hati 37,4%, hepatitis virus 44,4%, hepatoma 14,0% dan Penyakit hati--lain 5,02%. Menurut keadaan sosial ekonomi ternyata yang tergolong tidak mampu ada 60,8% yang cukup 37,2% dan yang mampu 1,96%. Menurut SJabani dkk dari 102 orang penderita hepatitis dari RS.Dr.Sardjito UGM Yogyakarta itu ada 18 orang terdiri dari 12 pria dan 6 wanita adalah penderita hepatitis kronik aktif yaitu 17,6% dari kelompok hepatitis dan diagnosis ditegakkan dengan biopsi hati membuta yang diulang kembali setelah 2-3 bulan untuk evaluasi pengobatannya."
Jakarta: UI-Press, 1994
PGB 0106
UI - Pidato  Universitas Indonesia Library
cover
Wildan Alrasyid
"Hepatitis merupakan peradangan hati akibat infeksi virus. Semua virus hepatitis dapat menyebabkan hepatitis akut. Penyakit hepatitis merupakan penyakit menular yang menjadi masalah kesehatan yang besar di masyarakat karena penularannya yang relatif mudah. DKI Jakarta merupakan provinsi di Indonesia dengan kasus hepatitis akut tertinggi. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya untuk mengurangi jumlah penderita hepatitis akut khususnya di DKI Jakarta. Beberapa faktor dianggap berkaitan erat dengan tingginya kasus hepatitis akut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menemukan faktor-faktor yang secara signifikan dapat menjelaskan kasus penyakit hepatitis di DKI Jakarta agar dapat diambil tindakan untuk pencegahan munculnya kasus hepatitis akut di masyarakat. Data pada penelitian ini diperoleh dari dinas kesehatan DKI Jakarta tahun 2021. Pemodelan yang sesuai untuk jumlah penderita hepatitis akut adalah model regresi Poisson karena jumlah penderita hepatitis akut merupakan count data. Dalam mengatasi kasus overdispersi pada model regresi Poisson digunakan model regresi Generalized Poisson dan model regresi Binomial Negatif yang lebih sesuai sebagai alternatifnya. Pada penelitian ini, estimasi parameter model dilakukan dengan menggunakan metode Maximum Likelihood Estimation (MLE) yang dibantu dengan metode Newton Raphson. Berdasarkan nilai AIC dari pemodelan yang dilakukan, diperoleh bahwa model terbaiknya adalah model Generalized Poisson Regression. Hasil analisis menemukan 1 variabel yang secara signifikan menjelaskan jumlah penderita hepatitis akut di DKI Jakarta yaitu jumlah penderita diebetes.

Hepatitis is an inflammation of the liver due to a viral infection. All hepatitis viruses can cause acute hepatitis. Hepatitis is an infectious disease which is a major public health problem because of its relatively easy transmission. DKI Jakarta is the province in Indonesia with the highest cases of acute hepatitis. Therefore, it is necessary to make efforts to reduce the number of acute hepatitis sufferers, especially in DKI Jakarta. Several factors are considered to be closely related to the high incidence of acute hepatitis. The aim of this research is to find factors that can significantly explain cases of hepatitis in DKI Jakarta so that action can be taken to prevent the emergence of cases of acute hepatitis in the community. The data for this study were obtained from the DKI Jakarta health office in 2021. The appropriate modeling for the number of acute hepatitis sufferers is the Poisson regression model because the number of acute hepatitis sufferers is count data. In dealing with cases of overdispersion in the Poisson regression model, Generalized Poisson Regression model and Negative Binomial regression model is used which is more suitable as an alternative. In this study, model parameter estimation was carried out using the Maximum Likelihood Estimation (MLE) method assisted by the Newton Raphson method. Based on the AIC value of the modeling performed, it is found that the best model is the Generalized Poisson Regression model. The results of the analysis found 1 variable that significantly explained the number of acute hepatitis sufferers in DKI Jakarta, namely the number of diabetics."
Depok: Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2023
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Soewignjo Soemohardjo
Jakarta : EGC, 1999
616.362 3 SOE h
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>