Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 202713 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Erni Sukmadini Asikin
"ABSTRAK
PT. Bursa Efek Jakarta (BEJ) menetapkan kebijakan baru fraksi` harga saham yang mulai diberlakukan pada tanggal 2 Januari 2007. Kebijakan tersebut merupakan penambahan fraksi harga Rp. 1,- dari sebelumnya yang berlaku empat fraksi harga yakni Rp. 5,-, Rp. 10., Rp. 2S,- dan Rp. 50,-. Sehingga terjadi penurunan fraksi harga terhadap kelompok saham dengan harga kurang dari Rp. 200.
Penelitian ini bertujuan untuk (1) menganalisa dampak penurunan fraksi harga terhadap marker efficiency coeficient (AEC) dan execution costs dan (2) mempelajari marker efficiency coeficfient (MEC) dan execution costs di Bursa Efek Jakarta Serta faktor-faktor yang mempengaruhinya.
Penelitian menggunakan data transaksi dan data harian 60 saham yang terpilih sebagai sampel. Periode yang digunakan adalah sejak 1 November 2006 hingga 28 Februari 2007. Interval pengamatan (interval waktu transaksi) yang digunakan adalah setiap 30 menit.
Hasil penelitian menunjukkan rerata market efficiency coeficient (MEC) meningkat secara signifikan setelah dibelakukannya kebijakan fraksi harga. Sedangkan rerata execution costs menurun setelah diberlakukannya kebijakan fraksi harga minimum. Meningkatnya MEC dan menurunnya execution costs akibat dampak penurunan fraksi harga mengimplikasikan bahwa terjadi peningkatan likuiditas sejak diberlakukan kebijakan baru fraksi harga di Bursa Efek Jakarta (BEJ).
Faktor-faktor yang mempengaruhi market ejiciency coeficient (MEC) secara signifikan adalah volume dan kebijakan penurunan fraksi harga. Sedangkan harga dan varians tidak berpengaruh nyata terhadap marker eficiency coeficient (MEC). MEC meningkat sebagai dampak dari penurunan fraksi harga. Faktor-faktor yang mempengaruhi execution costs secara signifikan adalah harga, volume, varians dan perubahan atau penurunan fraksi harga saham. Penurunan fraksi harga minimum memberikan dampak yang signifikan terhadap turunnya execution costs.

ABSTRACT
On January 2, 2007, the Jakarta Stock Exchange (JSX) implemented a new tick size of Rp. 1,- in addition to the extant Rp. 5, Rp. 10, Rp. 25, and Rp. 50 tick sizes. This new tick size affects shares price below Rp. 200, for these shares were previously traded with Rp. 5 tick size.
The main purpose of this research is (l) to analysis the impact of reduction in minimum tick size on market efficiency coefficient (MEC) and execution costs; (2) to observe on market efliciency coefficient (MEC) and execution costs and to find the factors that influence them.
It uses 60 stocks daily data and intraday data of 30 minutes interval. We examine the impact of a reduction in minimum tick size for November, 2006 until February 2007.
Using z-tests this study finds the new policy significantly reduces execution costs and increases market efficiency coefficient (MEC). Therefore the Jakarta Stock Exchange (JSX)?s policy succeed to increase the liquidity.
The result of estimation of market efficiency coefficient (MEC) using cross-sectional regressions are different from I-I0 for volume and tick size reduction. Meanwhile price and variance of return are not statistically significant.
The result of estimation of execution costs is all of the variable parameters: price, volume, variance of return and tick size reduction are statistically significant."
Depok: 2007
T32866
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Basharat Ahmad, Author
"ABSTRAK
PT Bursa Efek Jakarta (BEJ) mulai tanggal 3 Januari 2005 menetapkan kebijakan baru fraksi harga saham, yaitu menambah satu fraksi harga Rp 10,- dari sebelumnya yang berlaku tiga fraksi saham yakni Rp 5,-, Rp 25,- dan Rp 50,-. Tujuan kebijakan fraksi saham ini menurut Direktur Utama BEJ adalah untuk meningkatkan likuiditas bursa sekaligus menambah pendapatan BEJ. Fraksi harga Rp 10,- tersebut diberlakukan terhadap kelompok saham dengan harga Rp 500,- sampai dengan kurang dari Rp 2.000,-, sehingga terjadi penurunati fraksi harga bagi kelompok saham tersebut yaitu dari sebelumnya Rp 25,- menjadi Rp 10,-.
Karya akhir ini mempunyai tiga tujuan utama yaitu meneliti dampak penurunan fraksi harga saham tersebut terhadap (I) likuiditas, (2) strategi order dan (3) aktivitas perdagangan di BEJ. Likuiditas dalam penelitian ini adalah kemampuan untuk bertransaksi dalam jumlah besar secara cepat, dengan biaya rendah tanpa memengaruhi harga. Mengikuti penelitian-penelitian sebelumnya, ukuran likuiditas dalam penelitian ini adalah spread dan depth. Strategi order yang diteliti adalah perubahan strategi dari limit order ke market order dan perubahan order size yang diberikan pelaku pasar. Sedangkan aktivitas perdagangan diukur dengan frekuensi, volume dan nilai perdagangan.
Hasil penelitian pada karya akhir ini menunjukkan bahwa nominal spread dan relative spread menurun secara signifikan setelah penurunan fraksi harga saham. Namun demikian depth juga turun secara signifikan. Penurunan spread dapat diartikan sebagai peningkatan likuiditas karena menurunnya biaya immediacy; sedangkan penurunan depth dapat diartikan sebagai penurunan likuiditas karena menurunnya kemampuan untuk bertransaksi dalam jumlah besar tanpa memengaruhi harga.
Karena penurunan spread dan depth mempunyai arti yang saling bertentangan terhadap likuiditas, maka penelitian ini mengukur dampak terhadap likuiditas secara keseluruhan dengan mengikuti penelitian empiris sebelumnya yaitu menggunakan rasio depth-to-spread. Penelitian ini menemukan penurunan yang signifikan pada rasio depth-tospread setelah penurunan fraksi harga. Hal ini dapat diartikan bahwa penurunan depth (penurunan likuiditas) adalah lebih besar dibandingkan penurunan spread (peningkatan likuiditas). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa secara keseluruhan penurunan fraksi harga tidak meningkatkan likuiditas.
Quote Matchers mengambil kesempatan dengan semakin kecilnya fraksi harga. Mereka dapat memberikan order dengan harga yang sedikit lebih tinggi ketika ingin membeli atau sedikit lebih rendah ketika ingin menjual untuk mendahului order yang terlebih dahulu masuk. Untuk mengatasi para quote matcher, limit order traders akan menyembunyikan order mereka, memecah order atau merubah strategi limit order ke market order. Penelitian ini menemukan penurunan yang signifikan pada jumlah order (order size) yang diberikan investor setelah penurunan fraksi harga saham. Hal ini diduga sebagai strategi investor menyembunyikan order mereka dengan cara memecah order untuk mengatasi masalah quote matching yang timbul akibat fraksi harga yang semakin kecil.
Untuk mengukur apakah investor merubah strategi limit order menjadi market order penelitian ini menggunakan relative marketable limit order yaitu rasio volume marketable limit order dibagi total order yang masuk. Penelitian ini menemukan kenaikan yang signifikan pada relative marketable limit order. Hal ini berarti tetjadi peningkatan proporsi market order pada total order yang diberikan investor. Hal ini diduga sebagai perubahan strategi order investor dari limit order ke market order
Penelitian ini menemukan harga saham sebagai faktor yang membedakan dampak penurunan fraksi harga terhadap aktivitas perdagangan. Kelompok saham harga rendah mengalami kenaikan yang signifikan pada frekuensi, volume dan nilai perdagangan. Sedangkan kelompok saham harga tinggi walaupun terjadi peningkatan aktivitas perdagangan namun tidak signifikan. Penjelasan yang mungkin tepat adalah penurunan fraksi harga menyebabkan turunnya spread yang berarti menurunnya biaya transaksi. Penurunan biaya transaksi tersebut relatif cukup berarti bagi kelompok saham harga rendah sehingga meningkatkan aktivitas perdagangan. Sedangkan bagi kelompok saham harga tinggi penurunan biaya transaksi tersebut relatif tidak berarti untuk meningkatkan aktivitas
perdagangan.
Temuan pada penelitian ini memberikan beberapa implikasi. Bagi BEJ penurunan fraksi harga berhasil menaikan aktivitas perdagangan terutama untuk saham dengan harga rendah sehingga meningkatkan pendapatan BEJ. Bagi para investor, penurunan fraksi harga mempunyai implikasi yang beragam. Penurunan spread berarti menurunnya biaya immediacy. Namun penurunan depth menyebabkan menurunnya kemampuan untuk bertransaksi dalam jumlah besar tanpa memengaruhi harga. Dengan demikian penurunan fraksi harga menyebabkan saham-saham menjadi lebih likuid bagi investor yang bertransaksi dalam jumlah kecil namun menjadi kurang likuid bagi investor yang bertransaksi dalam jumlah besar. Penurunan fraksi harga juga menimbulkan masalah quote matching strategy. Hal ini ditanggapi oleh investor dengan cara memecah order mereka yaitu dengan jalan menurunkan order size mereka dan lebih memilih menggunakan market order dibanding limit order. Bagi para akademisi hasil penelitian ini semakin menguatkan kesimpulan bahwa penurunan fraksi harga saham akan menurunkan spread dan depth. Selain itu hasil penelitian ini memperluas studi empiris mengenai pengaruh penurunan fraksi harga saham terhadap strategi order yang dilakukan investor."
2005
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Yasmina Sofyan
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2001
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Girsang, Jan Elisa Barmen Purba
"ABSTRAK
Studi ini mempelajari perilaku order investor di dalam memasukkan order dan dalam bertransaksi di Bursa Efek Jakarta pada periode sebelum dan sesudah penurunan fraksi harga dari Rp.25 menjadi Rp.l 0. Penurunan fraksi harga yang berlaku sejak 3 Januari 2005 tersebut mempengaruhi saham-saham dengan harga antara Rp.500 sampai dengan kurang dari Rp.2.000.
Penulis tertarik mempelajari perilaku investor tersebut karena ada sebagian pelaku pasar yang menyatakan fraksi harga Rp.l 0 terlalu kecil untuk saham dengan harga diatas Rp.l 000, dan menginginkan agar saham yang harganya di atas Rp.l 000 tetap dengan fraksi harga Rp.25.
Untuk menjawab pendapat sebagian pelaku pasar tersebut, penulis membagi kelompok saham menjadi kelompok harga rendah yaitu harga saham Rp.500 sampai dengan kurang dari Rp.l 000 dan kelompok harga tinggi yaitu harga saham Rp.l 000 sampai dengan kurang dari Rp.2000. Dan masing-masing kelompok harga saham tersebut dibagi menjadi dua sisi pasar yaitu sisi beli dan sisi jual.
Tulisan ini mengupas perubahan perilaku perilaku investor dalam memasukkan order, mengubah order atau membatalkan order dan perilaku transaksi investor dalam bentuk marketable limit order maupun transaksi match yaitu order yang seluruh volumenya dieksekusi, akibat dari penurunan fraksi harga tersebut pada periode observasi tanggal 1 Nopember 2004 sampai dengan 30 Desember 2004 atau selama 38 hari bursa (periode sebelum fraksi harga diubah) dan periode observasi tanggal 3 Januari 2005 sampai dengan 28 Februari 2005 atau selama 38 hari bursa (periode setelah fraksi harga diturunkan).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penurunan fraksi harga tersebut mengakibatkan investor semakin sering memasukkan order, mengubah order dan aktivitas transaksi meningkat. Namun di lain pihak, penurunan fraksi harga tersebut mengakibatkan volume per order mengecil dan perilaku membatalkan order meningkat, hal ini membuat penyediaan likuiditas di pasar menipis. Penurunan fraksi harga tersebut juga mengakibatkan investor semakin sering bertransaksi dengan menggunakan marketable limit order dan transaksi match lebih sering terjadi.
Studi ini juga membuktikan tidak ada perbedaan perilaku investor dalam bertransaksi dan memasukkan order pada kelompok saham Rp.500 sampai dengan kurang dari Rp.l.000 dan kelompok saham harga Rp.l 000 sampai dengan kurang dari Rp.2000, baik posisi be!i maupun posisi jual.
Studi ini menyarankan agar Bursa Efek Jakarta (BEJ) memanfatkan kesempatan perubahan perilalu investor tersebut untuk meningkatkan jumlah perusahaan yang mencatatkan sahamnya di bursa dan meningkatkan jumlah investor, tidak hanya investor yang berdomisili di Jakarta. Selain itu studi ini menyarankan agar BEJ mempelajari pengaruh penurunan fraksi harga tersebut terhadap investor korporasi yang biasa bertransaksi dalam jumlah besar karena penyediaan likuiditas temyata menipis akibat penurunan fraksi harga tersebut dan mengakibatkan investor korporasi akan semakin kesulitan dalam memecah order dan melakukan transaksi tanpa mengakibatkan terjadinya perubahan harga.
"
2005
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Tengku Maya Sarah
"Penelitian ini menganalisis rasio Market Efficiency Coefficient (MEC) dan biaya eksekusi. Analisis mencakup perhitungan besarnya rasio MEC dan biaya eksekusi, pemeringkatan berdasarkan sektor industri dan saham, dan regresi untuk mengetahui hubungan antara variabel harga saham, volume transaksi, dan varians return saham terhadap MEC dan biaya eksekusi. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah tiga puluh saham yang termasuk dalam enam sektor industri di Bursa Efek Jakarta (BEJ), yaitu sektor industri pertanian, barang konsumsi, pertambangan, transportasi dan infrastruktur, properti dan real estate, serta keuangan. Data harga saham dan volume transaksi diperoleh untuk periode Januari dan Febuari 2007, selama 30 hari perdagangan di BEJ, kecuali hari Jumat.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sektor industri pertanian merupakan sektor industri yang paling efisien sedangkan sektor properti dan real estate memiliki tingkat efisiensi terendah. Berdasarkan perhitungan biaya eksekusi, sektor industri pertanian memiliki biaya eksekusi terendah sedangkan sektor industri barang konsumsi memiliki biaya eksekusi tertinggi. Hasil regresi menunjukkan variabel varians return saham dan volume yang berpengaruh secara signifikan dan positif dengan MEC dan hanya variabel varians return saham yang berpengaruh secara signifikan dan positif dengan biaya eksekusi."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2007
S5728
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Antonius Budi Atmoko
"Mekanisme perdagangan yang digunakan pada setiap pasar modal akan mempengaruhi proses pembentukan harga. Kebijakan fraksi harga merupakan salah satu bentuk pengaturan mekanisme perdagangan yang akan mengubah perilaku pembentukan harga. Fraksi harga merupakan satuan perubahan minimum yang ditetapkan dalam suatu pasar reguler. Bursa Efek Jakarta merupakan suatu bursa yang menganut bentuk pasar yang quote driven, BEJ mengeluarkan kebijakan perubahan fraksi harga pada tanggal 3 Juli 2000 dari Rp.25,- menjadi Rp.5,- untuk seluruh jenis saham yang diperdagangkan. Tujuan kebijakan ini adalah meningkatkan likuiditas dan menurunkan volatilitas perdagangan.
Kebijakan ini dilakukan pada saat bursa mengalami penurunan volume transaksi yang sangat drastis. Polemik merebak diantara pelaku pasar yang mendukung maupun meminta peninjauan kebijakan ini. Sebagian pelaku pasar beranggapan kebijakan ini menyebabkan pasar menjadi semakin tidak bergairah dan tidak menarik lagi.
Likuiditas pasar merupakan suatu istilah yang sulit untuk didefinisikan dan diukur. Secara umum, likuiditas pasar merupakan suatu sifat yang menunjukkan kemudahan dan kecepatan untuk mengubah bentuk suatu instrumen keuangan ke dalam bentuk lainnya dalam biaya yang normal. Penelitian ini menggunakan market spread, market depth dan volume transaksi sebagai indikator likuiditas pasar.
Hasil penelitian menunjukkan adanya ketidaktepatan kebijakan dengan menyamaratakan fraksi harga untuk seluruh jenis saham. Pada saham dengan harga tinggi rnenghasilkan penurunan likuiditas untuk ketiga indikator. Keiompok saham dengan harga diantara Rp.500,~ - Rp.5.000,- memiliki potensi peningkatan harga dengan kebijakan ini namun rendahnya fraksi menyebabkan kondisi yang diharapkan tidak terjadi. Pada keiompok harga terendah, terjadi peningkatan likuiditas walaupun kondisi ini lebih disebabkan oleh faktor lain di luar fraksi harga."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2001
T274
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
"The aim of this research are to analyze the impact of declining tick size toward stock liquidity and changes of order strategy. Relative bid ask spread and bid ask depth were used for analyzing stock liquidity. Whether Marketable Limit Order to Total Order was maintained to analyze the changes of order strategy. The result implies that relative spread decrease after tick size declining policy and stock more liquid. But, declining of depth can not raise tock liquidity. Comparation between depth and relative spread was maintained for solving opposite results of soread. The finding is there is no significant of liquidity. deterioration of relative spread result in cheaper cost of transaction and stock execution faster than before. Therefore traders are able to change strategy from limit order to market order."
657 JATI 7:2 (2008)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Sianturi, Johnny Ferry Hamonangan
"Pasar modal di Indonesia telah berkembang sangat cepat melebihi dari apa yang dibayangkan sebelumnya. Melalui beberapa kebijakan pemerintah yang mengenai pasar modal, antara lain seperti Pakto dan Pakdes 88, dalam waktu yang cukup singkat telah terjadi peningkatan aktivitas pasar modal yang sangat tajam. Hargsa saham dan pasar saham pun mulai bergejolak. Banyak faktor yang mempengaru.hi pergerakan harga saham ini. Fluktuasi ini disebabkan oleh pengaruh yang sangat kompleks dan sulit diprediksi.
Pengetahuan mengenai .pergerakan harga saham memegang peranan penting dalam keputusan-keputusan investasi. Karya Akhir ini akan meneliti perilaku pasar saham dan gerakan harga saham individu perusahaan. Hasil yang diharapkan adcilah sebuah model peramalan fiarga saham. Model peramalan harga saham yang akan dibuat ada dua yaitu model peramalan yang dapat meramalkan pasar saham (Indeks Harga Saham Gabungan) dan model peramalan harga saham individu perusahaan.
Model peramalan dibentuk dengan beberapa metode. Dua metode peramalan yang digunakan adalah metode Statistik melalui analisis regresi, analisis korelasi, dekomposisi deret waktu (times series decompositian), stepwise regressian, dan model ARIMA (Autoregressive Integrated Moving Average) atau yang dikenal sebagai metodologi Box-Jenkins serta metode peramalan dengan menggunakan Artifidal Neural Network/ANN (Jaringan Saraf Tiruan) yang merupakan salah satu bidang dan Artificial Intelligence.
Setiap metode peramalan tersebut mempunyai karakteristik dan hasil peramalan tertentu. Analisis regresi akan digunakan untuk membentuk model persamaan peramalan pasar saham atau harga saham mdividu perusahaan. Stepwise regression memberikan hasil model persamaan peramalan pasar saham yang terdiri dari variabel-variabel mdependen terpilih yaitu variabel-variabel ekonomi makro seperti harga emas, cadangan devisa, indeks harga konsumen, jumlah uang beredar (Ml), jumlah kredit, suku bunga (deposito), kurs mata uang asing terhadap Rupiah, ekpor dan impor, serta harga minyak per barel yang mempunyai pengaruh terhadap pasar saham yaitu Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Dekomposisi deret waktu yang dilakukan terhadap IHSG bertujuan untuk mengetahui variabel musiman dan pasar saham sehingga dapat memberikan gambaran kepada para investor kapan harus membeli atau menjual saham dan pada bulan atau han apa sebaiknya dilakukan. Analisis korelasi dilakukan untuk mengetahui korelasi antara factor-faktor fundamental perusahaan yang diwakili oleh kondisi keuangan perusahaan (seperti assets, liabilities, equities, profit, dan beberapa rasio-rasio keuangan seperti DER, profit margin, EPS dan lain-lain) dengan harga saham individu perusahaan. Analisis mi memberi hasil bahwa harga saham individu tidak mempunyai korelasi kuat atau tidak dengan faktor fundamental tersebut.
Jika model peramalan harga saham individu tidak dapat dibuat berdasarkan faktor-faktor fundamental perusahaan tersebut maka analisis deret waktu Box-Jenkins akan digunakan untuk membentuk model peramalan haga saham individu. Yang menjadi variabel independen dalam metode Box-Jenkins ini adalah variabel independennya sendiri. Model permalan yang dihasilkan dari metode Box-Jenkins ml hanya bisa digunakan untuk meramalkan harga saham untuk jangka pendek saja (sampai tiga periode berikutnya).
Model peramalan juga dibentuk dengan metode Jaringan Saraf Tiruan (Artificial Neural Network/ANN). Metode ANN im digunakan juga untuk membentuk model peramalan pasar saham maupun harga saham individu seperti yang telah dibentuk melaliii metode peramalan konvesnional (seperti model regresi dan metode Box-Jenkins). Hasil peramalan dengan model ANN ml dibandingkan dengan hasil peramalan dengan beberapa metode lainnya. Walaupun model peramalan ANN tidak dapat menjelaskan hubungan antara vaniabel independen (input) dengan variabel dependennya (output) namun model ml memiliki hasil yang relatif lebih akurat dibandingkan dengan hasil peramalan dengan model konvensional seperti model regresi dan metode Box-Jenkins.
Semua metode peramalan tersebut mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing sehlngga satu metode permalan tersebut tidak bisa digunakan untuk menggantikan metode lainnya, sebaliknya, semua metode tersebut digunakan untuk saling melengkapi sehingga model peramalan harga saham yang dibentuk lebth sempurna."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 1996
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Eko Budi Lasmana
"Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada pola pembalikan dalam jangka panjang ketika harga saham-saham perusahaan besar mengalami penurunan sedikitnya 20 person, lantas apakah penyebab terjadinya penumnan harga tersebut, dan apakah benar semakin besar penurunan harga awal maka akan semakin besar pembalikan harga pada periode berikutnya (overreaction hypothesis), serta terakhir apakah industri memiliki peranan yang berbeda dalam pembalikan harga. Penelitian ini menggunakan sampel saham-saham yang terdaftar pada LQ.45 dari periode Januari 1998 hingga Desember 2001.
Untuk menguji pembalikan harga akan digunakan uji-t dan uji tanda, untuk menguji penyebab penurunan harga akan digunakan uji Durbin-Watson terhadap model time series. Sedangkan untuk menguji over-reaction hypothesis dan peranan industri terhadap pembalikan harga akan di gunakan regresi cross-section.
Dari hasil penelitian diperoleh bahwa dalam jangka pendek (interval [1,6] bulan) tidak ditemukan bukti adanya pembalikan harga. Hasil serupa juga diperoleh untuk jangka panjang (interval [1,36] bulan) dimana tidak ditemukan bukti adanya pembalikan harga.
Tidak ditemukannya pembalikan harga diperkuat dengan hasil uji Durbin-Watson pada model kedua yang membuktikan adanya kehadiran otokorelasi positif Ini berarti setelah terjadinya penurunan harga, pada periode selanjutnya harga terus menurun dan tidak membalik. Kehadiran otokorelasi positif juga rnengindikasikan bahwa penurunan harga disebabkan oleh investor yang underreact terhadap informasi baru.
Hasil penelitian mengindikasikan tidak terjadinya pembalikan harga pada persamaan dengan CAR yang dihitung selama satu dan dua tahun. Analisis pembalikan antar industri memperlihatkan hasil yang bervariasi. Industri jasa keuangan memperlihatkan pola pembalikan pada semua interval, industri manufaktur memperlihatkan pembalikan harga pada interval [1,6] dan [1,12] bulan, sedangkan pada industri lainnya tidak ditemukan adanya pembalikan pada semua interval.

The objective of this research is to find out if there is a long-run reversal pattern when the stock price in LQ.45 declines at least 20 percent, then what factors make the declines. Respectively, to find out whether the greater the initial price declines, the greater the price reversal in the following period (overreaction hypothesis). This research is also done to find out whether LQ.45 has a particular role in price reversal. The sample used in this research is taken from stocks price listed in LQ.45 during January 1998 until December 2001 period.
T-test and sign test is used in examining the price reversal. Durbin-Watson test is also used in examining the cause of price declines toward time series model. Meanwhile, cross section regression is applied in examining the overreaction hypothesis and the role of industry toward the price reversal as well.
From the research, it is obtained that in short-run (interval [1 ,6] month) there is no evidence of price reversal. The similar result is also revealed that there is, also, no evidence of price reversal in long-run (interval [1,36] month ).
No price reversal is strengthening through the second model of Durbin-Watson test result which proves the existence of positive correlation. lt means that after the price reversal, in the following period tends to decline and does not reverse. The existence of positive correlation indicates that the price declines caused by investor underreaction toward new information.
The research result indicates no price reversal in CAR equation which counts along one and two year. The result of the reversal analysis among industries shows the variation result. Financial service industry shows the reversal pattern in variation result, whereas manufacture industry shows the price reversal in interval [1,6] and [1,12] month. Meanwhile, in other industries, it is not found the reversal in all the interval."
Depok: Universitas Indonesia, 2005
T15794
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Girindra Pradana Sutoyo
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2009
S9756
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>