Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 10769 dokumen yang sesuai dengan query
cover
"Latar Belakang: Pengobatan antimalaria dan anti-HIV secara bersamaan merupakan tantangan baru dalam penanganan koinfeksi malaria dan HIV. Primakuin merupakan substrat sekaligus inhibitor bagi CYP3A4, sedangkan ritonavir merupakan substrat, inhibitor, sekaligus inducer bagi CYP3A4. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengukur ekspresi mRNA CYP3A4 pada kultur sel HepG2 yang diinduksi oleh pemberian primakuin dan ritonavir secara bersamaan. Metode: Pada penelitian pendahuluan, sel HepG2 diinkubasi dengan primakuin 30, 40, 50 uM; ritonavir 2, 10, 20 uM; DMSO <0,1 % sebagai kontrol negatif; atau rifampisin 20 uM sebagai kontrol positif. Adapun pada penelitian dengan perlakuan kombinasi obat, sel HepG2 diinkubasi dengan primakuin 40 uM+ritonavir 10 uM; DMSO <0,1 %; atau rifampisin 20 uM selama 72 jam. Sel dipanen menggunakan tripsin-EDTA dan RNA total diekstraksi menggunakan reagensia isolasi tripure. Setelah jumlah RNA total dikuantifikasi menggunakan alat spektrofotometer, ekspresi mRNA CYP3A4 diukur dengan real-time reverse transcription polymerase chain reaction (RT-PCR). Hasil: Terjadi peningkatan ekspresi mRNA CYP3A4 (1,22 kali lipat terhadap kontrol) pada sel HepG2 yang diinkubasi dengan primakuin dan ritonavir secara bersamaan. Hal ini menunjukkan bahwa efek induksi oleh ritonavir lebih dominan daripada efek inhibisi oleh primakuin. Kesimpulan: Pemberian primakuin dan ritonavir secara bersamaan meningkatkan ekspresi mRNA CYP3A4 in vitro.

Abstract
Background: Concomitant treatment with antimalaria and antiretroviral drug is a new challenge in the management of malaria and HIV co-infection. Primaquine is a substrate and also an inhibitor of CYP3A4, while ritonavir is a substrate, an inhibitor, and also an inducer for CYP3A4. The objective of this study is to measure the CYP3A4 mRNA expression in HepG2 cell culture induced by primaquine and ritonavir co-treatment. Methods: For the initial study HepG2 cells were treated with 30, 40, 50 uM of primaquine; 2, 10, 20 uM ritonavir; DMSO ≤0.1 % for negative control; or 20 uM rifampicin for positive control. While for the co-treatment study the cells were treated with 40 uM primaquine+10 uM ritonavir; DMSO ≤0.1 %; or 20 uM rifampicin for 72 hours. The cells were harvested using trypsin?EDTA and total RNA was extracted using the Tripure isolation reagent. After determining the quantity of RNA spectrophotometrically, CYP3A4 mRNA expression was quantified using real-time reverse transcription polymerase chain reaction (RT-PCR). Results: The expression of CYP3A4 mRNA was up-regulated (1.22 fold over control) in HepG2 cells co-treated with primaquine and ritonavir. These data suggest that the induction effect of ritonavir was more dominant than the inhibitory effect of primaquine. Conclusion: Concomitant administration of primaquine and ritonavir result in up-regulation of CYP3A4 mRNA expression in vitro. (Med J Indones 2012;21:3-7) Keywords: CYP450 induction, CYP3A4, drug interaction, primaquine, ritonavir"
[Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia], 2012
pdf
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
"Latar belakang: Penelitian ini dilakukan untuk meneliti pengaruh pemberian ritonavir dan primakuin bersamaan, yang diberikan dalam dosis tunggal atau dosis berulang pada konsentrasi plasma ritonavir pada tikus. Metode: Pada studi dengan pemberian dosis tunggal, 30 tikus Sprague Dawley jantan secara acak diberikan ritonavir 20 mg/kgBB atau ritonavir 20 mg/kgBB + primakuin 1,2 mg/kgBB atau ritonavir 20 mg/kgBB + ketokonazol 10 mg/kgBB. Ketokonazol digunakan sebagai kontrol positif penghambat metabolisme ritonavir. Pada studi dengan pemberian dosis berulang, 30 tikus Spraque Dawley secara acak diberikan ritonavir 20 mg/kgBB/hari atau ritonavir 20 mg/kgBB/hari + primaquine 1,2 mg/kgBB/hari atau ritonavir 20 mg/kgBB/hari + rifampisin 100 mg/kgBB/day. Rifampisin digunakan sebagai kontrol positif penginduksi metabolisme ritonavir. Hasil: Pada pemberian dosis tunggal, ketokonazol meningkatkan area dibawah kurva kadar plasma (AUC) ritonavir (↑114,8%, p< 0.05), sedangkan primakuin cenderung menurunkan AUC ritonavir (↓32,6%, p> 0.05). Pemberian dosis berulang menunjukkan bahwa rifampisin menurunkan AUC ritonavir (↓42,8%, p< 0.001), dan primakuin menurunkan AUC ritonavir (↓ 46,6%, p< 0.001). Kesimpulan: Pemberian primakuin dan ritonavir bersamaan dapat menurunkan AUC ritonavir. Hal ini dapat menyebabkan konsentrasi ritonavir sebagai anti-HIV tidak mencukupi, sehingga dapat menyebabkan kegagalan terapi dengan ritonavir.

Abstract
Background: The present study was aimed to explore the effects of ritonavir and primaquine combination given as a singledose or repeated-dose compared to ritonavir alone on ritonavir plasma concentration in the rats. Methods: In single-dose study, 30 male Spraque Dawley rats were randomly allocated to receive ritonavir 20 mg/kg BW or ritonavir 20 mg/kg BW + primaquine 1.2 mg/kg BW or ritonavir 20 mg/kg BW + ketokonazole 10 mg/kg BW. Ketokonazole was used as positive control of ritonavir metabolism inhibitor. In the repeated-dose study, thirty Spraque Dawley male rats were randomly allocated to receive ritonavir 20 mg/kg BW/day or ritonavir 20 mg/kg BW/day + primaquine 1.2 mg/kg BW/day or ritonavir 20 mg/kg BW/day + rifampicin 100 mg/kg BW/day. Rifampicin was used as a positive control of ritonavir metabolism inducer. Results: In the single-dose study, ketokonazole increased the area under the plasma concentration (AUC) of ritonavir (↑114.8%, p< 0.05), while primaquine tended to decrease the AUC of ritonavir (↓ 32.6%, p> 0.05). Repeated-dose study showed that rifampicin decreases the AUC of ritonavir (↓ 42.8%, p< 0.001), and primaquine decreased the AUC of ritonavir plasma concentration (↓ 46.6%, p< 0.001). Conclusion: Concomitant administration of primaquine and ritonavir decreases the AUC of ritonavir. This effect may result in the insuffi cient concentration of ritonavir as anti-HIV, which may lead to treatment failure with ritonavir. "
[Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia], 2011
pdf
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Triasti Khusfiani
"Pendahuluan: PGK merupakan penyakit yang sering memiliki beberapa komorbid sehingga perlu menggunakan berbagai terapi kombinasi obat. Oleh sebab itu, polifarmasi sering dilakukan dan salah satu konsekuensinya adalah terjadinya potensi interaksi obat (PIO). PIO dianggap sebagai masalah pengobatan yang dapat dicegah, namun dalam praktik klinis dapat mengakibatkan efek samping obat (ESO) atau reaksi obat yang merugikan. Hal tersebut tentu akan mempengaruhi klinis dan keberhasilan pengobatan serta keamanan penggunaan obat pada pasien PGK. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola peresepan pasien PGK dan pengaruhnya terhadap potensi interaksi dan efek samping obat yang dicurigai akibat interaksi obat.
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimental dan pengambilan data dilakukan secara potong lintang pada pasien PGK rawat jalan stadium 3-5 pre-dialisis di rumah sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) dalam periode Januari 2019 sampai dengan Desember 2020. Data diambil dari electronic health record dan pusat rekam medis RSCM. Rujukan potensi interaksi obat menggunakan software Micromedex.
Hasil: Terdapat 106 pasien yang memenuhi persyaratan dan diambil menjadi subjek penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada pasien PGK rawat jalan stadium 3- 5 pre-dialisis di RSCM tahun 2019-2020, terdapat 111 jenis obat yang diresepkan dan obat yang paling sering diresepkan adalah bisoprolol (36,5%). Proporsi pasien yang mendapatkan pengobatan dengan potensi interaksi obat adalah 76% (81 pasien), sedangkan proporsi pasien yang mengalami ESO yang dicurigai akibat interaksi obat adalah 28% (23 pasien) dari 81 pasien dengan PIO. ESO tersebut berupa hiperglikemi (17 pasien), hipertensi (1 pasien), hiperkalemi (1 pasien) dan hipotensi (1 pasien). Terdapat hubungan yang bermakna secara statistik antara variabel perancu yaitu, jumlah obat > 10, komorbid jantung dan DM dengan ESO yang dicurigai akibat interaksi obat (p<0.05). Hasil multivariat mendapatkan hanya komorbid jantung (gagal jantung dan penyakit jantung koroner) yang memiliki hubungan yang bermakna secara statistik dengan ESO yang dicurigai akibat interaksi obat (p = 0,03).
Kesimpulan: Pada penelitian ini, sebanyak 76% pasien mendapatkan pengobatan dengan PIO. Sedangkan 28% pasien dari 81 pasien dengan PIO mengalami ESO yang dicurigai akibat interaksi obat. ESO yang paling banyak dialami adalah hiperglikemi. Komorbid jantung merupakan faktor risiko terjadinya ESO yang dicurigai akibat interaksi obat.

Introduction: CKD often has several comorbidities so it is necessary to use various drug combination therapies. Therefore, it can lead to polypharmacy and one of its consequences is the occurrence of potential drug-drug interactions (DDI). DDI is considered a problem that can be prevented, but in clinical practice it can result in adverse drug reactions (ADR). This will certainly affect the clinical and treatment success as well as the safety of the drug use in CKD patients. This study was aimed to determine the prescribing pattern and its effect on potential DDI and ADR that are suspected due to DDI.
Methods: This was a non-experimental cross-sectional study, conducted on CKD outpatients stage 3-5 pre-dialysis at Cipto Mangunkusumo Hospital in the period January 2019 to December 2020. Data were taken from electronic health records and the hospital’s medical record. The Micromedex software was used as a reference for potential drug interactions.
Results: There were 106 patients who met the requirements and were taken as research subjects. The results showed that in CKD out-patients stage 3-5 pre-dialysis at RSCM in 2019-2020, there were 111 types of drugs prescribed and the most frequently prescribed drug was bisoprolol (36.5%). The proportion of patients who received treatment with a potential DDI was 76% (81 patients), while the proportion of patients who experienced ADR suspected due to DDI was 28% (23 patients) from 81 patients with suspected DDI. The ADRs were hyperglycemia (17 patients), hypertension (1 patient), hyperkalemia (1 patient) and hypotension (1 patient). There was a statistically significant association between the confounding variables, namely, number of drugs, cardiovascular disease and DM with ADR suspected due to DDI (p<0.05). Multivariate analysis found that only cardiovascular disease (congestive heart failure and coronary artery disease) had a statistically significant relationship with ADR suspected due to DDI (p = 0.03).
Conclusion: In this study, 76% of patients received treatment with potential DDI. Meanwhile, 23% from 81 patients patients with DDI experienced ADR suspected due to drug interactions. The most often occuring ADR is hyperglycemia. It was found that cardivascular comorbidity is a risk factor for having an ADR suspected cause by DDI.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2021
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Putriyanny Ratnasari
"Pasien diabetes melitus dengan komorbid hipertensi tergolong dalam pasien penyakit kronis yang mengalami complex/multiple chronic conditions. Pasien ini menjalani pengobatan seumur hidup dan sukar menghindari interaksi obat-obat karena banyaknya obat yang dikonsumsi. Demi meningkatkan pemahaman pasien mengenai interaksi obat membahayakan yang dapat terjadi, apoteker sebagai care-giver dan communicator berusaha menginfokan interaksi tersebut melalui Poster Kesehatan. Mayoritas pasien Apotek Kimia Farma Kranggan (KFA Kranggan) adalah pasien Program Rujuk Balik (PRB) yang berusia lanjut dan memiliki pengobatan berpola sehingga penulis menganalisis apa saja interaksi obat yang dapat terjadi pada pengobatan pasien PRB dengan diagnosis DM berkomorbid hipertensi. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan keamanan pengobatan. Penelitian dilakukan dengan pendataan obat antidiabetes dan antihipertensi untuk Pasien Rujuk Balik yang tersedia di KFA kranggan pada April 2023, dilanjutkan studi literatur menggunakan pustaka drug interaction checker yaitu Stockley’s Drug Interaction 9th Edition dan Lexicomp.com. Hasilnya terdapat tiga interaksi utama yang berkategori C, antara lain: antidiabetes dan antihipertensi golongan beta blocker yang beresiko manimbulkan hipoglikemia yang tidak terdeteksi; antidiabetes dengan antihipertensi agen hiperglikemik, yaitu furosemid yang dapat mengurangi efek terapeutik agen antidiabetes; serta antidiabetes dengan antihipertensi golongan diuretik thiaziddiuretik yang bekerja seperti thiazid, yaitu dapat merusak sensitivitas insulin, meningkatkan resistensi insulin, meningkatkan konsentrasi insulin basal, dan meningkatkan konsentrasi glukosa plasma. Informasi tersebut dikemas dalam “Poster Kesehatan” berukuran A3 dan ditempel pada dinding area tunggu apotek. Informasi penting dalam poster seperti jenis obat yang berinteraksi, efek interaksi yang ditimbulkan, kategori interaksi dan penanganannya diharapkan dapat mengedukasi pasien.
Diabetes mellitus patients with comorbid hypertension are classified as chronic disease patients who experience complex/multiple chronic conditions. These patients undergo lifelong treatment and difficult to avoid drug-drug interactions because of polypharmacy. In order to increase patient understanding regarding dangerous drug interactions that can occur, pharmacists as care-givers and communicators try to provide information about these interactions through Health Posters. The majority of Kimia Farma Kranggan Pharmacy (KFA Kranggan) patients are from Referral Back Program (PRB) program who are elderly and have patterned treatment. The author analyzes drug interactions possibly occur in the treatment of PRB patients with a diagnosis of DM with hypertension comorbidity which is expected to increase the treatment’s safety. The research was carried out by collecting data on antidiabetic and antihypertensive drugs for PRB patients available at KFA Kranggan in April 2023, followed by a literature study using the drug interaction checker library (Stockley's Drug Interaction 9th Edition and Lexicomp.com). The results showed that there were three main interactions in category C, including: antidiabetic and antihypertensive beta blockers (causing undetected hypoglycemia); antidiabetic with antihypertensive hyperglycemic agents ( furosemide can reduce the therapeutic effect of antidiabetic agents); and antidiabetics with antihypertensives in the thiazide diuretic group-thiazides like diuretics, (damaging insulin sensitivity, increasing insulin resistance, basal insulin concentrations, and plasma glucose concentrations). This information is packaged in an A3 sized "Health Poster" and put on the pharmacy waiting area. It is hoped that important information in the poster, such as the type of drug that interacts, the interaction effects, the interaction category and treatment, can educate patients."
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2023
PR-PDF
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Uci Ramadhani Uci Ramadhani
"Obat golongan proton pump inhibitor (PPI) digunakan secara luas dalam berbagai gangguan pada saluran gastrointestinal terkait asam lambung dan sering digunakan bersama dengan obat lain sehingga meningkatkan risiko terjadinya interaksi obat. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk menganalisis potensi interaksi obat golongan PPI pada pasien rawat jalan di RSPAD Gatot Soebroto periode Juli-Desember 2015. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitik-retrospektif pada data resep dan rekam medis pasien rawat jalan periode Juli-Desember 2015 yang menerima obat golongan PPI dan satu atau lebih item obat lain yang dipilih dengan metode pursposive sampling. Analisis dilakukan terhadap 400 lembar resep yang berasal dari 192 pasien.
Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terapi obat golongan PPI pada pasien rawat jalan di RSPAD Gatot Soebroto periode Juli-Desember 2015 memiliki potensi interaksi obat pada 324 lembar resep (81,00%) dengan total kasus sebanyak 475 kasus yang terdiri dari 42 kasus interaksi mayor, 138 kasus interaksi moderat dan 295 kasus interaksi minor. Terdapat 14 obat yang memiliki potensi interaksi dengan obat golongan PPI antara lain mikofenolat mofetil, klopidogrel, kilostazol, warfarin, besi, levotiroksin, propranolol, siklosporin, simvastatin, atorvastatin, sianokobalamin, sukralfat, teofilin dan antasida.

Proton pump inhibitor (PPI) drugs are widely used for the treatment of gastrointestinal tract with gastric-acid disorder and usually used concomitant with other drugs so that increase the risk of drug interaction. This study aimed to analyse the potential of PPI drug interaction in outpatients at Gatot Soebroto Army Centre Hospital period of July-December 2015. This study use analytical descriptive-retrospective method on prescriptions and medical records of outpatients who get PPI drugs with one or more other drugs in the period of July-December 2015, which were selected by purposive sampling method. This analysis study was conducted on 400 prescriptions from 192 patients.
This study concluded that PPI therapy in outpatients at RSPAD Gatot Soebroto period of July-December 2015 had potential drug interaction on 324 prescriptions (81,00%) with total of 475 cases, which are consisted of 42 cases of major interactions, 138 cases of moderate interactions, and 295 cases of minor interactions. There are 14 drugs that can potentially interact with PPI drugs, such as: mycophenolate mofetil, clopidogrel, cilostazol, warfarin, iron, levothyroxine, propranolol, cyclosporine, simvastatin, atorvastatin, cyanocobalamin, sucralfate, theophylline and antacid.
"
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2016
S64795
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ginting, Eninta Kartagena
"Pasien yang diberikan terapi antipsikosis dapat mengalami efek samping sehingga diperlukan kombinasi obat. Kombinasi obat dapat menimbulkan risiko terjadinya interaksi obat. Interaksi obat dapat menimbulkan efek yang tidak diinginkan ataupun merugikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran peresepan dan masalah interaksi pada peresepan golongan antipsikotik di Apotek X, Jakarta Timur. Penelitian ini bersifat deskriptif analitis dengan metode potong lintang. Analisis menggunakan aplikasi Micromedex dan uji Kai Kuadrat. Data diambil dari 436 lembar resep antipsikosis selama bulan Januari sampai dengan Februari 2017. Sebanyak 340 lembar resep 77,98 antipsikosis memiliki interaksi. Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara jumlah obat dalam satu resep dengan banyaknya interaksi yang terjadi. Haloperidol merupakan obat golongan antipsikosis yang paling banyak diresepkan dengan 156 lembar resep 30,29.

Patient who are given antipsychotic therapy may have side effects so that combination therapy may be required. Combination of drugs may cause the risk of drug interaction. Drug interaction may occur undesirable or harm effect. This study aim to determine the description of drug prescribing and drug interaction problem in the antipsychotic prescribing at Apotek X, East Jakarta. This study is descriptive analytical research based on the cross sectional method. Analysis using Micromedex application and Chi Square test. Data were taken from 436 antipsychotic prescription during the January February 2017. A total of 340 prescriptions 77,98 proofed to have drug interaction. This study concluded there is significant relationship between the total of drug prescribed with total of interaction. Haloperidol is the most widely prescribed antipsychotic drug with 156 30,29 prescription."
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2017
S69395
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rachel Gabriella
"Interaksi obat menjadi salah satu permasalahan yang dapat mempengaruhi hasil terapi pasien. Beberapa potensi kejadian interaksi obat yang signifikan pada resep yang diterima di apotek diantaranya kejadian interaksi major, moderate,dan minor. Polifarmasi atau penggunaan obat dengan jumlah dan jenis yang banyak menjadi salah satu penyebab utama meningkatnya interaksi obat. Pelayanan resep di apotek, termasuk pengkajian resep dan pemberian informasi obat bertujuan untuk menganalisis masalah terkait obat dan meminimalkan risiko klinis. Interaksi obat dapat terjadi melalui mekanisme farmakokinetik dan farmakodinamik dengan tingkat keparahan major, moderate, dan minor. Polifarmasi meningkatkan risiko interaksi obat terutama pada pasien lanjut usia dengan kondisi penyakit kronis. Analisi interaksi obat dilakukan pada lima puluh resep menunjukkan bahwa interaksi moderate paling sering terjadi terutama pada pasien dengan penyakit hipertensi. Pemahaman mengenai interaksi obat dan manajemennya sangat penting dalam memberikan terapi yang efektif dan aman bagi pasien. Manajemen interaksi obat melibatkan penyesuaian dosis obat, monitoring gejala klinis, dan kolaborasi antara dokter dan apoteker yang dapat meningkatkan kualitas pelayanan kefarmasian dan hasil terapi pasien.
Drug interaction is one of the issues that can affect patient therapy outcomes. Some potential significant occurrences of drug interactions in prescriptions received at pharmacies include major, moderate, and minor interactions. Polypharmacy, or the use of multiple drugs in large quantities and varieties, is one of the main causes of increased drug interactions. Prescription services at pharmacies, including prescription assessment and drug information provision, aim to analyze drug-related issues and minimize clinical risks. Drug interactions can occur through pharmacokinetic and pharmacodynamic mechanisms with major, moderate, and minor severity levels. Polypharmacy increases the risk of drug interactions, especially in elderly patients with chronic conditions. Analysis of drug interactions conducted on fifty prescriptions shows that moderate interactions are most common, especially in patients with hypertension. Understanding drug interactions and their management is crucial in providing effective and safe therapy for patients. Drug interaction management involves adjusting drug doses, monitoring clinical symptoms, and collaborating between doctors and pharmacists, which can enhance the quality of pharmaceutical services and patient therapy outcomes."
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2023
PR-PDF
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Kartika Dwi Sukmawati
"Dislipidemia merupakan faktor risiko terjadinya penyakit kardiovaskular dengan statin sebagai lini pertama pengobatannya. Keadaan dislipidemia biasanya diikuti oleh penyakit lain sehingga untuk terapinya diperlukan kombinasi obat. Penggunaan kombinasi obat akan meningkatkan risiko dari interaksi obat. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis interaksi obat golongan statin pada resep pasien rawat inap di RSPAD Gatot Soebroto periode Februari-April 2017. Penelitian ini bersifat deskriptif analitik dengan pengambilan data secara prospektif. Penapisan interaksi menggunakan Micromedex dan Medscape Drug Interaction Checker. Hasil analisis didapatkan 558 kasus interaksi dari 490 jumlah resep yang memenuhi kriteria inklusi. Interaksi obat terbanyak memiliki tingkat keparahan moderat 88 diikuti dengan tingkat keparahan mayor 11 , dan minor 1 . Kombinasi statin dan klopidogrel merupakan kombinasi obat yang paling banyak mengalami interaksi. Mekanisme interaksi yang paling banyak terjadi pada penelitian ini adalah interaksi farmakokinetik. Hasil analisis bivariat menggunakan SPSS dengan uji Chi square menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara jumlah obat tiap resep dan interaksi p= 0,000.

Dyslipidemia is a risk factor for cardiovascular disease with statins as the first line treatment. Dyslipidemia is usually followed by other diseases that lead to the need of drugs combination therapy. Drugs combination will increase the risk of drug interactions. The purpose of this study was to analyze statin drug interactions in prescription of hospitalized patients at Gatot Soebroto Army Center Hospital in period of February April 2017. This study was analytical descriptive with prospective data collection. Drug interaction screening used Micromedex and Medscape Drug Interaction Checker. The analysis results obtained 558 cases of interactions of 490 prescriptions that complied the inclusion criteria. The most common drug interaction contained moderate severity of 88 followed by major severity of 11 , and minor 1 . Statin and clopidogrel were the most frequent combination that lead to interactions. The most frequent interaction mechanism in this study was pharmacokinetic interactions. The result of bivariate analysis which used SPSS with Chi square test showed that there was a significant correlation between the number of drug each prescription and the interaction p 0,000."
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2017
S67509
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Kezhia Rondang Angelita
"Coronary Artery Disease CAD merupakan kondisi ketidakseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen miokardial yang disebabkan oleh berbagai faktor sehingga terapi yang diberikan berupa kombinasi obat. Penggunaan kombinasi obat meningkatkan terjadinya interaksi obat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi interaksi obat kombinasi golongan nitrat dan calcium channel blocker CCB dengan obat lain pada pasien CAD rawat jalan di RSUD Pasar Minggu tahun 2017. Desain penelitian ini adalah cross-sectional dengan pengambilan data retrospektif. Sampel yang memenuhi kriteria inklusi sebanyak 167 resep. Kejadian interaksi obat diperiksa menggunakan Micromedex. Hasil menunjukkan bahwa terdapat 142 resep yang memiliki potensi interaksi. Potensi interaksi terbanyak terjadi dengan tingkat keparahan mayor 62,2, diikuti keparahan moderat 33,8. Obat yang paling banyak menimbulkan interaksi adalah kombinasi amlodipin dengan simvastatin. Kesimpulan dari penelitian ini adalah penggunaan kombinasi nitrat dan CCB dengan obat lain pada pasien CAD berpotensi menyebabkan interaksi, sehingga perlu disarankan melakukan pemeriksaan laboratorium secara berkala atau penyesuaian rejimen dosis untuk meminimalisasi terjadinya interaksi.

Coronary Artery Disease CAD is imbalances of supply and demand of myocardial oxygens which is caused by multiple factors, thus requires drug combinations as therapy. The use of such drug combinations may increase the incidence of drug interactions. This study aim is analyze the potentials of drug combinations between nitrate and CCB category with other drugs on outpatients with CAD at Pasar Minggu General Hospital in 2017. Design of this study is cross sectional with retrospective data collection. Samples which corresponds to inclusion criteria are 167 prescriptions. The occurrence of drug interactions are checked using Micromedex . Result showed that there were 142 prescriptions with potentials of interactions. The largest potential in drug interactions occur in major severity 62,23 followed by moderate severity 33,77. The drug that causes drug interactions the most is combination of amlodipin and simvastatin. This study concluded that the use of nitrate and CCB drug combinations with other drugs has the potential to cause interactions, therefore periodic laboratory checkups needs or adjustment of dosage regimen to be recommended to minimize the incidence of drug interactions.
"
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2018
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ifani Pinto Nada
"Pasien hipertensi yang menggunakan terapi obat kombinasi dalam pengobatannya dapat menimbulkan interaksi obat. Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk menganalisis interaksi obat antihipertensi pada pasien hipertensi. Desain penelitian adalah cross sectional dan bersifat deskriptif. Data yang digunakan adalah data sekunder dari resep pasien hipertensi rawat jalan di RSUD Pasar Minggu dengan metode retrospektif pada periode Juli - Desember 2016. Pengambilan sampel dilakukan secara proportionate stratified systematic random sampling.
Terdapat 240 lembar resep 49,1 dari 489 lembar resep yang mengalami interaksi obat. Jenis interaksi obat yang paling banyak terjadi adalah antihipertensi dengan antidiabetik, yaitu sebanyak 67 kasus 26,8. Terdapat 140 kasus 56 dengan tingkat keparahan interaksi obat moderat dan 110 kasus 44 dengan tingkat keparahan interaksi obat mayor. Prevalensi kejadian interaksi obat antihipertensi di RSUD Pasar Minggu yang terjadi sebesar 49,1.

Hypertensive patients who use drugs combination therapy in their treatment can cause drug interactions. The purpose of this study was to analyze the potential of antihypertensive drug interaction in hypertensive patients. The study design was cross sectional and descriptive. The data used was secondary data from hypertensive outpatient prescription at Pasar Minggu regional public hospital with a retrospective method in the period July December 2016. Sampling technique using proportionate stratified systematic random sampling.
The result of analysis, 240 49,1 out of 489 prescriptions experience drug interactions. The most common type of drug interactions was antihypertensive with antidiabetic, which was 67 cases 26,8. There were 140 cases 56 with moderate drug interaction severity and 110 cases 44 with major drug interaction severity. The prevalence of antihypertensive drug interaction occurrence at Pasar Minggu Hospital was 49.1.
"
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2017
S68513
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>