Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 55132 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Indra Septiawan
"Aluminium matrix composite (AMC) ialah sebuah kelas komposit logam dengan berbagai potensi aplikasi struktur dan termal yang sedang berkembang.AMC dapat menyediakan tambahan sifat mekanis, ketahanan termal, ketahanan aus, stabilitas dimensi, dan berat yang lebih ringan.
Dalam penelitian kali ini digunakan grafit sebagai penguat dalam matriks Al-Si dengan menggunakan proses fabrikasi pengecoran aduk. Variasi penambahan kadar dari grafit yang ditambahkan ialah 1%, 3%, dan 5% fraksi berat dimana hal ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan grafit pada sifat sifat dari AMC tersebut. Untuk meningkatkan kemampubasahan alulminium terhadap grafit, digunakan magnesium untuk mengurangi sudut kontak antara grafit dengan aluminium dengan kadar grafit yang digunakan ialah 3,3% fraksi berat.
Aluminium memiliki sifat mekanis yang bertambah baik saat dilakukan proses perlakuan panas. Hal ini karena pengaruh pengerasan dari presipitat yang terbentuk saat proses perlakuan panas. AMC pada penelitian ini akan diberikan proses perlakuan panas T6 dimana hasilnya akan dibandingkan dengan AMC pada keadaan setelah pengecoran.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan kadar grafit pada aluminium memberikan nilai kekerasan yang menurun. Tetapi di lain hal, ketahanan aus semakin meningkat seiring dengan meningkatnya penambahan grafit. Porositas dari komposit meningkat seiring dengan penambahan penguat grafit.Sementara komposit dengan perlakuan panas T6 memiliki kekerasan yang lebih tinggi dan juga ketahanan aus yang lebih baik dari keadaan setelah pengecoran.

Aluminium matrix composite (AMC) is a developing metal composite class with vast structural and thermal aplication. AMC provide a better mechanical properties, thermal resistance, dimensional stability, and lighter weight.
In this research graphite was used as a reinforce on aluminium silicon matrix and fabricated with stir casting. Graphite is variated from 1%, 3%, and 5% by weight percent in order to investigate the effect of increasing graphite percentage in the AMC. To increase the aluminium wettability to graphite, magnesium used to decrease the contact angle of graphite in aluminium and the percentage of magnesium used is 3,3% by weight percentage.
Aluminium is a heat treatable, in particular condition, and gain a better mechanical properties through heat treatment. The reason is the birth of precipitate because of heat treatment. The AMC on this research was treated in T6 and then compared with as-cast AMC.
The results show that increasing of graphite content in aluminium matrix give a decreasing hardness value. In the other hand, the wear resistances is increasing. Composite porosity increasing by increasing of graphite content. Meanwhile, T6 perlakukan panas composite have a higher hardness value and better wear resistance than the as-cast condition.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2012
S43032
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Yosia Samuel
"Proses fabrikasi komposit matriks aluminium dapat dilakukan melalui fasa cair dengan menggunakan metode stir casting untuk meminimalisir terbentuknya clustering penguatSiC. Metode ini memiliki keuntungan dalam hal distribusi penguat SiC dengan bantuan magnesium sebagai wetting agent. Dalam hal ini magnesium berfungsi meningkatkan kemampu-basahan antara matriks aluminium dan partikel penguat SiC. Pada penelitian ini dilakukan variasi penambahan penguat SiC sebesar 5% wt, 10% wt, dan 15% wt dengan kadar magnesium tetap 1,5% wt. komposit matriks aluminiumdiberi perlakuan berbeda yaitu kondisi as-cast dan T6 heat-treated dengan perbedaan sifat mekanis.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan penguat SiC meningkatkan nilai kekerasan dan menurunkan laju aus. Proses perlakuan panas T6 pada komposit matriks aluminium meningkatkan nilai sifat-sifat mekanik dibandingkan pada kondisi as-cast akibat terbentuknya presipitat sekunder pada kondisi T6 heat-treated. Penambahan fraksi berat penguat SiC pada komposit matriks aluminium juga meningkatkan persen porositas. Persen porositas ini dapat dilihat melalui penurunan nilai densitas aktual komposit matriks aluminium dibandingkan densitas teoritisnya.

Fabrication of aluminum matrix composite can be done through liquid phase by using stir casting method in order to minimalizing the formation of SiC clustering penguat. This method has the advantage in the distribution of SiC reinforce with the function of magnesium as wetting agent. In this case, magnesium will increase the wettability between aluminum matrix and the SiC reinforce particle. This research focus on the addition of SiC reinforce in the amount of 5% wt, 10% wt, and 15% wt with a fix amount of magnesium, 1,5% wt. The aluminum matrix composite is given by different treatment, as-cast condition and T6 heat treated with different mechanical properties.
The result shows that the addition of SiC reinforce will increase the hardness value and decrease the wear rate value of aluminum matrix composite. T6 heat treatment process in aluminum matrix composite increase the mechanical properties value greater than the as-cast condition as the formation of secondary precipitate in T6 heat-treated condition. The addition of SiC reinforce weight fraction in aluminum matrix composite also increase the porosity percentage. This porosity percentage can be observed by the decreasing value of actual density aluminum matrix composite compared by theoritical density.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2012
S43249
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Nayona Ega Wicaksana
"[ABSTRAK
Komposit nano Al A356 berpenguat partikel Al2O 3 berpotensi untuk meningkatkan kekuatan sifat mekanis tanpa mengorbankan keuletan pada matriks. Pada penelitian ini dilakukan variasi penambahan fraksi volume dari partikel nano Al2O 3 sebesar yaitu 0.1%, 0.2%, 0.5%, 1%, dan 1,2%. Untuk meningkatkan kemampubasahan dari Al2O 3 pada Al A356 ditambahakn Mg sebesar 10%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komposit Al A356/Al2O 3 dengan 0.5% Vf memiliki sifat mekanis yang lebih baik daripada yang lain. Nilai kekuatan tariknya mencapai 140,3 MPa lalu elongasinya sebesar 9,563% dan kekerasannya mencapai 46,2 HRB. Akan tetapi nilai mekanis dari kekuatan tarik masih dibawah dari Al A356 As cast maupun Al 356. Fenomena ini disebabkan karena adanya porositas dan persebaran partikel nano yang tidak merata.
ABSTRACT
Aluminium A356 nano composite reinforced with Al2O 3 particle have a potential to increase mechanical properties while maintaining good ductility. In this study, the addition %Vt variation of Al2O 3. Variation used is 0.1%, 0.2%, 0.5%, 1%, dan 1,2%. To improve wettability of Al2O 3 in Al A356 addes 10% Mg. The results showed that the composite Al A356 / SiC 0,5% Vf have better mechanical properties than others. The ultimate tensile strength reach 140.3 MPa with 9.56% elongation. Hardness value reach 46,2.1 HRB. However, the value of ultimate tensile strength is still below the mechanical Al A356 As cast and Al 356. This phenomenon is due to the porosity and bad particle dispersion.
;Aluminium A356 nano composite reinforced with Al2O 3 particle have a potential to increase mechanical properties while maintaining good ductility. In this study, the addition %Vt variation of Al2O 3. Variation used is 0.1%, 0.2%, 0.5%, 1%, dan 1,2%. To improve wettability of Al2O 3 in Al A356 addes 10% Mg. The results showed that the composite Al A356 / SiC 0,5% Vf have better mechanical properties than others. The ultimate tensile strength reach 140.3 MPa with 9.56% elongation. Hardness value reach 46,2.1 HRB. However, the value of ultimate tensile strength is still below the mechanical Al A356 As cast and Al 356. This phenomenon is due to the porosity and bad particle dispersion.
;Aluminium A356 nano composite reinforced with Al2O 3 particle have a potential to increase mechanical properties while maintaining good ductility. In this study, the addition %Vt variation of Al2O 3. Variation used is 0.1%, 0.2%, 0.5%, 1%, dan 1,2%. To improve wettability of Al2O 3 in Al A356 addes 10% Mg. The results showed that the composite Al A356 / SiC 0,5% Vf have better mechanical properties than others. The ultimate tensile strength reach 140.3 MPa with 9.56% elongation. Hardness value reach 46,2.1 HRB. However, the value of ultimate tensile strength is still below the mechanical Al A356 As cast and Al 356. This phenomenon is due to the porosity and bad particle dispersion.
, Aluminium A356 nano composite reinforced with Al2O 3 particle have a potential to increase mechanical properties while maintaining good ductility. In this study, the addition %Vt variation of Al2O 3. Variation used is 0.1%, 0.2%, 0.5%, 1%, dan 1,2%. To improve wettability of Al2O 3 in Al A356 addes 10% Mg. The results showed that the composite Al A356 / SiC 0,5% Vf have better mechanical properties than others. The ultimate tensile strength reach 140.3 MPa with 9.56% elongation. Hardness value reach 46,2.1 HRB. However, the value of ultimate tensile strength is still below the mechanical Al A356 As cast and Al 356. This phenomenon is due to the porosity and bad particle dispersion.
]"
Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2016
S62253
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Eric Tanoto
"Komposit paduan aluminium 6061 berpenguat alumina memiliki potensi untuk memiliki sifat mekanik yang baik dengan massa yang rendah. Pada penelitian ini, persentase volume fraksi alumina yaitu 5%, 10%, 15%, dan 20% dilakukan untuk mengetahui titik optimum dari keempat variasi tersebut. Selain itu, magnesium dengan volume fraksi 8% ditambahkan sebagai agen pembasahan antara matriks aluminium dengan penguat alumina. Proses pengecoran aduk digunakan pada pembuatan komposit ini karena memiliki keuntungan secara ekonomis dibandingkan metode lainnya.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan kekuatan tarik dengan titik optimum pada volume fraksi 10% hingga mencapai 190 MPa. Selain itu, sifat kekerasan meningkat seiring dengan penambahan penguat alumina yang juga menyebabkan turunnya laju keausan. Porositas juga meningkat seiring dengan penambahan penguat alumina. Peningkatan sifat mekanis terjadi pada komposit paduan aluminium berpenguat alumina dibandingkan dengan paduan aluminium tanpa penguat.

Aluminium alloy 6061 composite strengthened by alumina has the potential to have good mechanical properties with low mass. In this study, the percentage of alumina volume fraction 5%, 10%, 15%, and 20% performed to determine the optimum point of the fourth variation. In addition, the volume fraction of magnesium with 8% added as a wetting agent between aluminium with reinforcing alumina. Stir casting process used in the manufacture of composite because it has economic advantages over other methods.
The results showed that the increase in tensile strength with the optimum point on the volume fraction of 10% to reach 190 MPa. In addition, the nature of hardness increased with the addition of alumina which also cause a decrease in the wear rate. Porosity also increases with the addition of alumina. Improved mechanical properties of aluminium alloys occurs in aluminium alloy 6061 composite strengthened by alumina compared with aluminium alloy without reinforcement.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2013
S44350
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Santoso
"Modifikasi Hidroksiapatit menggunakan kitosan telah banyak dilakukan namun belum banyak yang mengembangkan penggunaannya sebagai adsorben logam berat. Pada penelitian ini dilakukan proses adsorpsi ion logam Cr6+, Zn2+, dan Cd2+ menggunakan komposit HAp/Kitosan pada suatu larutan simulasi limbah. Komposit HAp/Kitosan disintesis dengan proses pengendapan dengan bahan pembentuk HAp berupa asam fosfat dan kalsium hidroksida. Komposit kemudian dikarakterisasi menggunakan Fourier transform infrared (FT-IR) spectroscopy, X-ray diffraction, dan scanning electron microscopy. Pada penelitian ini dilakukan variasi waktu kontak untuk mengetahui waktu kontak optimum untuk mencapai kesetimbangan. Proses adsorpsi ini mengikuti persamaan kinetik orde dua semu dan difusi intrapartikel dengan urutan selektivitas sebagai berikut Cr6+>Cd2+>Zn2+.

Hydroxyapatite modification using chitosan has been done a lot but there are still few researches about using it as heavy metal adsorbent. This research investigated adsorption process of Cr6+, Zn2+, and Cd2+ metal ions used HAp/Chitosan composite in wastewater simulation. The composites were characterized by Fourier transform infrared (FT-IR) spectroscopy, X-ray diffraction, and scanning electron microscopy. The adsorption used batch process with contact time variation to determine optimum contact time in achieving equilibrium condition. The adsorption process follows kinetics equation of pseudo-second order and intraparticle diffusion with selectivity in the order Cr6+>Cd2+>Zn2+."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2012
S42638
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Adi Sulaiman
"Selama beberapa dekade terakhir, beberapa sistem struktur komposit baja dan beton telah banyak digunakan pada konstruksi bangunan tinggi. Sistem ini memadukan rigiditas dan fonnabilitas dari struktur beton dengan kecepatan pengerjaan dari struktur baja yang menghasilkan suatu produk struktur yang ekonomis. Satu bagian struktur komposit yang terus mengalami perkembangan adalah dengan memadukan struktur baja penampang persegi kosong dengan isi beton didalamnya. Sifat dari material beton yang getas dan baja yang daktail membuat penelitian tentang komposit beton-baja berlanjut hingga mengeksplorasi kekuatan komposit hingga mencapai bagian plastisnya.
Studi eksperimen dilakukan dilaboratorium terhadap 8 specimen uji balok komposit beton-baja dengan tiga titik pembebanan menggunakan variasi mutu beton, dimana terdiri dari 6 specimen struktur komposit baja-beton dan 2 specimen struktur baja non komposit. Prosedur pengujian berupa pengamatan dari besarnya beban yang diberikan terhadap specimen uji pada tengah bentang, nilai vertical displacement pada 5 titik acuan pada balok dan tipe kehancuran dari struktur tersebut.
Hasil eksperimen menunjukkan adanya perubahan sifat-sifat material pada specimen-specimen yang diberi tambahan material beton yang membentuk struktur balok komposit. Perubahan-perubahan tersebut dapat diamati baik dari bentuk kurva hubungan beban - lendutan maupun dari perubahan bentuk penampang balok, dimana terlihat adanya peningkatan dibandingkan dengan sifat-sifat dari material non kompositnya, yaitu baja seperti strength, ductility, rigidity, stabilty dan kemampuan dalam mengurangi kehancuran penampang. Selain itu pada eksperimen ini diketahui bahwa nilai beban ultimate yang didapat dari hasil eksperimen, jauh lebih besar dari perhitungan teoritis penampang plastisnya."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2000
S34934
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Frendy Lumban Batu
"Berbagai penelitian mengenai ekstraksi alumina/aluminium dari bauksit dengan menggunakan proses Bayer sudah banyak dilakukan. Akan tetapi dengan jumlah bauksit kadar tinggi yang dapat digunakan sebagai bahan baku proses Bayer terbatas jumlahnya di alam. Oleh karena itu dibutuhkan penelitian lebih lanjut tentang sumber bahan baku selain bauksit seperti nepheline.
Pada penelitian ini dilakukan beberapa eksperimen meliputi karakterisasi awal bijih nepheline, klasifikasi float-sink, dan pelindian menggunakan natrium hidroksida. Karakterisasi bijih nepheline dilakukan dengan menggunakan EDX dan AAS. Bijih nepheline kemudian diklasifikasi dengan proses float-sink untuk mendapatkan mineral dengan kadar alumina yang tertinggi dari proses tersebut Proses pelindian pada penelitian ini menggunakan larutan natrium hidroksida pada variasi konsentrasi yaitu 0,1M; 0,2M; 0,5M; dan 1,0M. Jumlah alumina yang larut ke dalam larutan dianalisis menggunakan Atomic Absorbance Spectroscpy (AAS).
Dari hasil yang didapatkan, pelindian dengan konsentrasi pelarut 1,0M NaOH peningkatan konsentrasi alumina yang diperoleh yaitu sebesar 13,85%. Selain itu, diketahui juga bahwa dengan semakin tinggi konsentrasi pelarut maka peningkatan konsentrasi alumina akan semakin tinggi.

Various studies on the extraction of alumina/aluminium from bauxite using the Bayer process has been studied over past several decades. However, the amount of high grade bauxite which can be used as raw materials for Bayer process are limited. Therefore, further research is needed for other source of raw materials.
At this research, several experiments were conducted including characterization of nepheline ore, float-sink classification and leaching by natrium hydroxide. Characterization of nepheline ore was done using EDX and AAS. Nepheline was classified with float-sink process to obtain ore with highest alumina content. Leaching process at this research utilize natrium hydroxide solution at various concentration which is 0,1M, 0,2M, 0,5M and 1,0M. The number of alumina dissolution is measured using Atomic Absorbance Spectroscopy (AAS).
The results showed alumina recovery by leaching using 1,0M sodium hydroxide is 13,85% wt. Furthermore alumina recovery will increase if the concentration of sodium hydroxide increases.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2012
S42919
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Andreas Aditya Wicaksono
"Bijih nepheline mengandung unsur-unsur dominan berupa Al, Si, Na dan K. Untuk pengembangan pemanfaatan bijih ini di Indonesia lebih menguntungkan jika kandungan unsur aluminium pada bijih tersebut dapat diekstraksi secara efektif dan ekonomis. Hal ini dikarenakan pada negara berkembang, konsumsi logam aluminium meningkat secara pesat dalam satu dekade terakhir. Hal ini bertujuan agar Indonesia dapat memenuhi konsumsi akan pemakaian aluminium sendiri.
Pada penelitian ini difokuskan pada proses ekstraksi dengan menggunakan proses pelindian yaitu metode Proses Bayer dimana dalam prosesnya metode ini sederhana dan relatif murah. Dalam metode Proses Bayer ini digunakan larutan NaOH teknis 1 M sebagai larutan pelarut. Hal yang akan diamati dalam penelitian ini adalah pengaruh temperatur proses pelindian terhadap % recovery aluminium. Temperatur yang dipakai adalah 140°C, 170°C, 200°C dan 230°C. Dari hasil yang didapat, % recovery tertinggi ada pada temperatur 140°C.

Nepheline ore contains some dominant elements such as Al, Si, Na and K. Developing this ore's utilization in Indonesia are profitable if aluminium's contain can be extracted efectively and economically. Because in developing country like in Indonesia, aluminium consumption is incresing drastically in the last decade. One of this experiment's goal is to make Indonesia can fulfill aluminium consumption itself.
This experiment focus on leaching process with Bayer's Process methode. This methode used because its simple and economic. NaOH 1 M industrial liquid are used in this leaching process. The effects of temperature in leaching process to Al % recovery will be obeserved and analyst. Temperature that used in this experiment are 140°C, 170°C, 200°C and 230°C. From the experiment result, highest % recovery happened in temperature 140°C.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2012
S42896
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Suprayogi
"Deposit laterite merupakan salah satu jenis bijih nikel yang paling berlimpah di alam. Di Indonesia khususnya di Kabupaten Pomala, Sulawesi Tenggara memiliki deposit laterite yang tergolong tinggi. Salah satu mineral yang ada di dalam lapisan laterite yaitu bijih nikel saprolit yang memiliki kadar unsur nikel yang lebih tinggi dibandingkan lapisan lainnya seperti limonit.
Untuk mendapatkan recovery nikel yang efektif dan efisien, diperlukan suatu pengembangan penelitian proses ekstraksi. Pada penelitian ini akan dilakukan beberapa proses seperti separasi dengan fluida air, pirometalurgi (roasting reduction) dan hidrometalurgi (pelindian). Penelitian ini akan membahas pengaruh penambahan reduktor yang berasal dari batubara dengan kadar yang berbeda-beda yaitu 8%, 16%, 24% dan 32%. Untuk mengetahui komposisi kimia dari bijih saprolit yang murni dan yang telah dilakukan proses separasi, akan dilakukan pengujian EDX (Energy Dispersive X-Ray) terlebih dahulu.
Sebelum ketahap hidrometalurgi, sampel dengan masing-masing penambahan batubara tersebut dilakukan proses roasting reduction pada temperatur 1250oC di dalam furnace carbolyte. Selanjutnya akan dilakukan pengujian STA dan XRD dengan tujuan untuk melihat senyawa-senyawa yang terdapat pada bijih nikel saprolit tersebut. Setelah tahap ini selesai dilakukan, sampel dilindi dengan menggunakan larutan Asam Sulfat 1 Molar dalam waktu 90 menit.
Dari hasil yang diperoleh, pada proses pelindian asam sulfat dengan konsentrasi 1 Molar, persentase recovery nikel yang tertinggi berada pada bijih saprolit yang ditambahkan dengan batubara sebanyak 16% dengan perolehan Nikel nya yaitu sebesar 59.85% (persentase optimum).

Laterite deposit is one of the most abundant ore in nature. In Indonesia, especially in Pomala regency, Southeast Sulawesi, has a high laterite deposit. One of the minerals in the laterite layer is saprolite nickel ore which has a higher nickel content than the other layers, such as limonite.
To get recovery of nickel with effective and efficient, a study about development of extraction process is needed. This research will conduct several processes such as float and sink process, pyrometallurgy (roasting reduction) and hydrometallurgical (leaching). This research also will disscus the effect of addition of coal as reductor, with varied levels of coal: 8%, 16%, 24% and 32%. To determine the chemical composition of saprolite ore that have been treated by float and sink process, EDX (Energy dispersive X-Ray) test is performed.
Before hydrometallurgy process is conducted, the samples that have been added by varied levels of coal was reduction roasted at temperature 1250oC in Carbolyte furnace. Further testing will be conducted by the STA and XRD with purpose to determine the compounds presence in the saprolite nickel ore. After that stage, the sample is leached in Sulfuric Acid at 1 Molar for 90 minutes.
From the obtained results, the process of leaching with sulfuric acid at 1 Molar, the recovery percentage of nickel from 16% of coal addition is the highest with obtained value 59.85% (optimum percentage).
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2012
S43343
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Wahyono Suprapto
"ABSTRAK
Didalam penelitian ini penentuan variabel proses pelapisan "hard chrome" untuk cetakan tempa yang dimaksudkan untuk mendapatkan lapisan pelindung tahan aus, diteliti pada rapat arus (60, 80 dan 100 Amp/dm ), temperatur sel (50, 60 dan 70 °C) dan konsentrasi CrC3 dalam elektrolit (150, 200 dan 250 g/l).
Penelitian ini dilakukan secara eksperimental dalam skala industri. Hasil penelitian menunjukan adanya pengaruh ketiga parameter diatas dalam pembentukan ion metalik (Cr) dan pembentukan gas hidrogen. Gas hidrogen yang mengendap dalam katoda berakibat pada karakteristik elektro deposisi lapisan "hard chrome" (seperti; sifat fisik, sifat mekanik dan tampilan warna).
Penentuan variabel proses pelapisan elektro deposisi "hard chrome" dilakukan dengan mengevaluasi karakteristik (fisik, mekanik dan tampilan warna) setiap hasil proses pelapisan. Proses pelapisan elektro deposisi yang efektif dan effisien diberikan oleh proses dengan konsentrasi elektrolit 200 g/l CrO, temperatur 60 °C dan rapat arus 60 Amp/dm."
1994
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>