Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 93669 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Yuliga Setyawati
"Dalam penelitian ini, reaksi alkilasi benzena dengan asam lewis AlCl3 menggunakan diklorometana sebagai electrophilic agent dan cairan ionik sebagai katalis. Asam lewis AlCl3 didikombinasikan dengan cairan ionik membentuk katalis cairan ionik asam. Katalis cairan ionik asam dibuat dengan perbandingan mol [bmim]Cl/AlCl3 1:1,8. Katalis ini dikarakterisasi dengan FTIR.
Hasil karakterisasi menunjukan serapan =CN pada 1340,53 cm-1 dan serapan C?Cl pada 752,24 cm-1. Selain itu, katalis AlCl3 dan [bmim]Cl/AlCl3 diimpregnasi ke dalam silika gel untuk membentuk AlCl3-silika gel dan [bmim]Cl/AlCl3-silika gel. Hasil karakterisasi katalis ini dengan FTIR menunjukan serapan Si-O-Si pada 1083,99 cm-1 dan serapan Si-O-Al pada 418,12 cm-1. Reaksi Alkilasi dilakukan dengan variasi waktu dan suhu.
Produk reaksi dianalisis dengan GC dan menunjukan persen konversi benzena dengan waktu reaksi 3 jam masing-masing sebesar 27,04% pada suhu 30°C menggunakan katalis AlCl3 dan 24,64 % pada suhu 10°C menggunakan katalis cairan ionik asam. Konversi dengan AlCl3-silika gel menunjukan konversi benzena sebesar 21,42% dan 0% menggunakan katalis [bmim]Cl/AlCl3-silika gel. Identifikasi produk dilakukan dengan GC-MS dan menunjukkan terbentuknya benzil klorida sebagai produk intermediet.

In this study, the alkylation reaction of benzene with Lewis acid AlCl3 was conducted using Dichloromethane as the electrophilic agent and ionic liquid [bmim]Cl as catalyst. The Lewis acid AlCl3 was combined with [bmim]Cl to produce acidic ionic liquid, which was prepared by a fixed molar ratio of [bmim]Cl/AlCl3 1:1,8. This acid catalyst was characterized by FTIR.
The FTIR spectrum showed the absorption band of =CN at 1340,53 cm-1 and C?Cl absorption band at 752,24 cm-1. In addition, AlCl3 and [bmim]Cl/AlCl3 catalysts were impregnated into silica gel to produce AlCl3-silica gel and [bmim]Cl/AlCl3-silica gel. The FTIR spectra showed the absorption of Si-O-Si at 1083,99 cm-1 and Si-O-Al absorption at 418,12 cm-1. The alkylation reactions were carried out by varying the reaction time and the reactions temperature.
The reaction products were analyzed by GC and showed the percentage conversion of benzene in 3 hours were respectively 27,04% at 30°C using AlCl3 catalyst and 24,64 % at 10°C using [bmim]Cl/AlCl3 catalyst. Meanwhile the conversion with AlCl3-silica gel catalyst showed the benzene conversion of 21,42% and 0% using [bmim]Cl/AlCl3-silca gel catalyst. The products identification were conducted by GC-MS and showed benzyl chloride compound as the intermediate product.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2012
S1400
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Jayanti Wiwahaning Putri
"Reaksi alkilasi merupakan salah satu reaksi yang memerlukan katalis untuk mempercepat reaksi, biasanya digunakan katalis transfer fasa. Katalis transfer fasa yang digunakan seperti eter mahkota tidak ramah lingkungan sehingga diganti dengan cairan ionik. Cairan ionik bisa digunakan sebagai pelarut sekaligus katalis pada reaksi katalitik. Cairan ionik memiliki banyak keuntungan sebagai katalis, misalnya mudah diregenerasi.
Pada penelitian ini, digunakan cairan ionik [BMIM]Cl yang diimobilisasi ke dalam silika gel sebagai katalis. Katalis cairan ionik ini merupakan katalis heterogen yang mudah dipisahkan dari reaktan. Karakterisasi silika gel dan [BMIM]Cl-silika gel dilakukan menggunakan FTIR. Spektrum FTIR pada [BMIM]Cl-silika gel menunjukkan adanya puncak serapan pada 802.39 cm-1 yang merupakan puncak serapan Cl-.
Dalam penelitian ini, dilakukan uji katalisis [BMIM]Cl?silika gel pada reaksi alkilasi antara benzena dan diklorometana. Pada reaksi alkilasi ini, dipilih aseton sebagai pelarut polar aprotik. Penelitian ini dilakukan untuk menentukan waktu dan berat katalis optimum pada suhu 30°C. Hasil dikarakterisasi dengan GC-MS dan GC, diketahui produk yang terbentuk benzil klorida, didapatkan 28.93% sebagai %konversi dan 34.39% sebagai %yield terbesar pada penggunaan katalis [BMIM]Cl-silika gel.

Alkylation is the one of chemical reaction that requires a catalyst to accelerate the reaction, usually phase transfer catalyst was used. Phase transfer catalyst such as crown ethers are not environmental friendly so are replaced by ionic liquids. Ionic liquids can be used as a solvent as well as catalyst in the catalytic reaction. Ionic liquids have many advantages as catalyst, such as easily regenerated.
In this study, ionic liquids [BMIM]Cl was immobilized into silica gel and was used as catalyst. This ionic liquid catalyst [BMIM]Cl-silica gel is a heterogeneous catalyst that easily separated from the reactants. Characterization of silica gel and [BMIM]Cl-silica gel were performed using FTIR. The FTIR spectrum of [BMIM]Cl-silica gel showed peak absorptions at 802.39 cm-1 which is the peak absorption of Cl-.
In this research, catalyst [BMIM]Cl-silika gel was used for the reaction of alkylation between benzene and dichlorometane. In this reaction, acetone was chosen as aprotic polar solvents. This research was conducted to determine the optimum condition for reaction time and the weight of catalyst at the temperature of 30°C. The reaction products were characterized using GC and GC-MS showed product from reaction is benzil chloride, 28.93% as %convertion and 34.39% as %yield using catalyst [BMIM]Cl-silica gel.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2011
S1033
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Fairuz
"Senyawa-senyawa aromatik keton banyak digunakan dalam indutri farmasi, fragrance, argokimia, dll. Sintesis senyawa-senyawa aromatik keton banyak dilakukan melalui reaksi asilasi Friedel-Crafts menggunakan katalis asam Lewis seperti AlCl3, TiCl3, FeCl3, dan lain-lain. Katalis-katalis tersebut dapat menyebabkan masalah lingkungan. Untuk meminimalisir dampak negatif dari katalis tersebut, digunakan katalis cairan ionik [BMIM]PF6/AlCl3. Uji katalisis dilakukan pada katalis cairan ionik asam Lewis [BMIM]PF6/AlCl3 dan katalis heterogen [BMIM]PF6/AlCl3 ? Silika gel melalui reaksi asilasi Friedel-Crafts antara toluena dengan asetil klorida menghasilkan senyawa aromatik keton, metil asetofenon. Studi dilakukan dengan memvariasikan waktu reaksi. Hasil karakterisasi secara kualitatif menggunakan FT-IR dan LC-MS, diketahui bahwa kedua reaksi menghasilkan senyawa metil asetofenon. Dan dari hasil karakterisasi secara kuantitatif dengan GC-MS, diketahui bahwa reaksi dengan katalis [BMIM]PF6/AlCl3-Silika gel terbentuk produk metil asetofenon yang lebih besar, yaitu sebesar 11,83% dibandingkan dengan hasil yang tanpa impregnasi yang hanya menghasilkan 0,71% hasil. Variasi terhadap waktu reaksi dilakukan selama 6 jam, 12 jam, dan 24 jam pada reaksi asilasi toluena dengan katalis [BMIM]PF6/AlCl3-Silika gel. Hasil karakterisasi menggunakan GC-MS, diperoleh hasil yang optimum pada waktu reaksi 12 jam. Produk metil asetofenon yang dihasilkan dari reaksi ini sebesar 13,02%. Reaksi asilasi Friedel Crafts terhadap benzena juga berhasil dilakukan menggunakan kedua katalis tersebut, yakni [BMIM]PF6/AlCl3 dan [BMIM]PF6/AlCl3-Silika Gel. Berdasarkan karakterisasi menggunakan FT-IR dan LC-MS, terbukti bahwa terbentuk senyawa asetofenon.

Aromatic ketone compounds are widely used in pharmaceutical, fragrance industry, argochemical, etc. The synthetic of aromatic compounds are usualy done by Friedel-Crafts acylation with the present of Lewis acid catalysts, such as AlCl3, TiCl3,FeCl3, which can cause some environmental issues. To minimize the negative impacts to the environment, the ionic liquid catalyst, [BMIM]PF6/AlCl3, was used in this reseach. The catalytic activities between [BMIM]PF6/AlCl3 and [BMIM]PF6/AlCl3-Silika gel catalysts were studied on Friedel-Crafts acylation of toluene with acetyl chloride. The reactions products were analyzed qualitatively by FT-IR and LC-MS, which showed that methyl acetophenone was produced. Quantitative analysis was done by GC-MS, which showed that the catalytic reaction with [BMIM]PF6/AlCl3-silica gel gave a better result. In which, 11,83% of methyl acetophenone was produced. Afterward, the reaction periods were varied in 6 h, 12 h, and 24 h. Based on GC-MS results, the optimum time of this reaction was 12 hours. In which, 13,02% methyl acetophenone was produced. Furthermore, [BMIM]PF6/AlCl3 and [BMIM]PF6/AlCl3-Silica gel was used for Friedel-Crafts acylation of benzene. The characterizations with LC-MS and FT-IR showed that a ketone aromatic compound, acetophenone, was produced."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2012
S43846
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Amelia Nurul Rachma
"Senyawa keton aromatik dimanfaatkan sebagai senyawa intermediet reaktif untuk menghasilkan suatu produk kimia terutama dalam industri fragrance dan industri farmasi. Mekanisme awal asilasi Friedel-Crafts adalah membentuk senyawa elektrofil dari asil halida dengan menggunakan katalis asam Lewis (AlCl3, FeCl3). Katalis tersebut selain dapat mempercepat reaksi juga dapat menyebabkan masalah lingkungan. Untuk meminimalisir dampak negatif tersebut dicari alternatif katalis lain, yaitu katalis cairan ionik yang disebut sebagai green catalyst. Reaksi asilasi antara naftalena dan asetil klorida direaksikan menggunakan tiga jenis katalis berbeda, yaitu AlCl3, [BMIM]Cl-silika gel dan [BMIM]Cl/AlCl3–silika gel dengan masing-masing reaksi dilakukan pada dua kondisi suhu berbeda (suhu kamar dan suhu dikontrol 0ᵒ-5ᵒC).
Studi dilakukan untuk membandingkan ketiga katalis ini dalam menghasilkan produk asetil naftalena. Hasil dikarakterisasi menggunakan FTIR, LC-MS dan GC-MS. Berdasarkan hasil karakterisasi terbukti bahwa terbentuk senyawa asetil naftalena. Banyaknya produk dibandingkan atas luas area yang ditunjukkan pada hasil karakterisasi. Diketahui bahwa dari hasil GC-MS reaksi dengan [BMIM]Cl/AlCl3-silika gel pada suhu yang dikontrol pada 0ᵒ-5ᵒC sebesar 20.322% dan pada suhu kamar sebesar 11.753%. Dari hasil spektrum LC-MS dan FTIR dibandingkan atas luas area puncaknya. Didapatkan luas area dari yang paling besar dengan katalis [BMIM]Cl/AlCl3-silika gel (suhu yang dikontrol pada 0ᵒ-5ᵒC ) > katalis [BMIM]Cl/AlCl3-silika gel (suhu kamar) > AlCl3 (suhu yang dikontrol pada 0ᵒ-5ᵒC )> katalis [BMIM]Cl/-silika gel (suhu yang dikontrol pada 0ᵒ-5ᵒC ).

Aromatic ketones as reactive intermediates are used for the production of fine chemicals, especially in the fragrance industry and pharmaceutical industry. The conventional method of preparation of these aromatic ketones is formed electrophile compound from acyl halides with Lewis acid catalyst (AlCl3, FeCl3). Catalyst beside use to accelerate the reaction in addition can also cause environmental problems. To minimize the negative impact of the catalyst, alternative catalyst have been looking for and the catalyst ionic liquid known as a green catalyst have been choice. Acylation reaction between naphthalene and acetyl chloride treated using three different types of catalysts, AlCl3, [BMIM]Cl-silica gel and [BMIM]Cl/AlCl3-silica gel with each reaction was carried out at two different temperature conditions (room temperature and the temperature controlled 0ᵒ-5ᵒC).
The study was conducted to compare the three catalysts in producing acetyl naphthalene. The results were characterized using FTIR, LC-MS and GC-MS. Based on the characterization results proved that acetyl naphthalene compounds are formed. The number of products compared to the area shown in the results of characterization. It is known that the results of GC-MS reaction with [BMIM]Cl/AlCl3-silica gel are 20,322% at 0ᵒ-5ᵒC and 11,753% at room temperature. From the results of LC-MS and FTIR spectrum compared to the peaks area. Obtained from the area of the greatest, catalysts [BMIM]Cl/AlCl3-silica gel (temperature 0ᵒ-5ᵒC) > catalyst [BMIM]Cl/AlCl3-silica gel (room temperature) > AlCl3 (temperature 0ᵒ-5ᵒC) > catalyst [BMIM]Cl-silica gel (temperature 0ᵒ-5ᵒC).
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2013
S44009
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Silmi Kaafah
"Katalis merupakan hal penting dalam perindustrian kimia, tanpanya, reaksi dapat berjalan dengan sangat lambat. Namun, katalis-katalis yang seringkali digunakan membawa dampak buruk bagi lingkungan. Seperti halnya pembuatan senyawa keton dalam industri farmasi, parfum, argokimia, dll. Senyawa tersebut disintesis melalui reaksi asilasi Friedel-Crafts menggunakan katalis asam lewis seperti AlCl3 dan FeCl3 yang dapat menyebabkan masalah lingkungan. Penelitian akhir menyatakan bahwa katalis cairan ionik memiliki efektivitas dan selektivitas yang sangat baik bagi berlangsungnya suatu reaksi kimia.
Dalam penelitian ini dilakukan uji optimasi terhadap variasi reaktan pada reaksi asilasi toluena menggunakan katalis cairan ionik [BMIM]PF6/AlCl3-Silika gel. Produk yang terbentuk adalah senyawa aromatik keton metil asetofenon. Penentuan kualitatif menggunakan FTIR dan LCMS, sedangkan penentuan secara kuantitatif menggunakan GCMS.
Dari reaksi didapatkan konsentrasi reaktan optimum berada pada perbandingan mol 5:3:1 dengan produk metil asetofenon yang didapatkan sebesar 30,51 %. Uji perbandingan reaksi asilasi toluena tanpa menggunakan katalis cairan ionik pun dilakukan untuk melihat pengaruh penggunaan katalis cairan ionik. Dan didapatkan produk metil asetofenon sebesar 0,59 % untuk perbandingan mol yang sama yaitu 5:3:1.

Catalysts are important in the chemical industry because without them, most reaction will run very slowly. Although catalysts are needed, they often bring harm to the environment. For example, to produce ketone compounds for pharmaceutical industry, perfume, agrochemicals industries, which are synthesized by Friedel-Crafts acylation reaction using Lewis acid catalysts (e.g AlCl3 and FeCl3), can cause environmental problems. Recent study states that the effectiveness of the ionic liquid catalyst has an excellent selectivity for the continuity of a chemical reaction.
In this research, the optimization assay was carried out by reactant’s concentration variability in toluene acylation reactions using [BMIM] PF6/AlCl3-Silica gel ionic liquid catalyst. The product is an aromatic compound methyl acetophenone. Qualitative determination using FTIR and LCMS, while the quantitative determination using GCMS.
Optimum reactant concentrations and methyl acetophenone product were obtained with mole ratio 5:3:1 and as much as 30.51%, respectively. Comparison tests of toluene acylation reaction without the use of an ionic liquid catalyst were conducted to see the effect of the use of ionic liquid catalyst. And methyl acetophenone product obtained as much as 0.59% for the same mole ratio 5:3:1
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2013
S44348
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Kuskarya Wantini
"ABSTRAK
Gliserol merupakan senyawa alkohol yang memiliki tiga buah gugus hidroksil (-OH) sehingga dapat direaksikan dengan suatu asam karboksilat membentuk ester. Salah satu senyawa yang termasuk ke dalam karboksilat adalah asam p-hidroksi benzoat yang juga merupakan senyawa fenolik. Cairan ionik dikenal sebagai pelarut dan katalis yang ramah lingkungan dalam penggunaannya untuk berbegai senyawa. Pada penelitian ini dilakukan reaksi esterifikasi asam p-hidroksi benzoat dengan gliserol menggunakan dua jenis katalis yaitu cairan ionik, 1-Butil-3-Metil Imidazolium Klorida [BMIM]Cl dan silika gel / [BMIM]Cl Pelarut yang digunakan adalah aseton dengan suhu reaksi 55 - 60°C. Ester yang dihasilkan merupakan monoester berdasarkan uji KLT. Esterifikasi gliserol dengan katalis [BMIM]Cl tidak menghasilkan ester yang diharapkan. Sedang dengan 0,5 g dan 1 g katalis silika gel / [BMIM]Cl kondisi optimum tercapai pada 20 jam dengan persen hasil produk sebanyak 19,83% dan 29,62%. Karakteristik katalis heterogen menggunakan XRD, XRF, FT-IR. Karakteristik ester menggunakan KLT, FT-IR, HPLC dan GC-MS.

ABSTRACT
Glycerol is an alcohol compound having three hydroxyl groups (- OH), which can be reacted with carboxylic acid to produce ester. One compound which included into carboxylic acid is p-hydroxy benzoic acid which also is a phenolic compound. Ionic liquid is known as environmental friendly solvent and catalyst. Since phenolic compounds are known as effective antioxidants, this research studied the esterification reaction of glycerol with a phenolic acid, p-hydroxy benzoic acid using ionic liquid as catalyst. The ionic liquid, l-buthyl-3-methyl imidazolium chloride, [BMIM]Cl, Was used in the form of impregnated catalyst in silica gel and as unimpregnated catalyst. The reactants, glycerol and p-hydroxy benzoic acid in mol ratio of 4 1 l, were disolved in acetone solvent and the esterification reactions were conducted at a temperature around 55 - 60°C up to 24 hours. The reaction products were analyzed using thin layer chromatography, HPLC and FT-IR, which showed the monoester product. The reaction with unimpregnated [BMIM]Cl catalyst did not produce ester product. Where as the rections with [BMIM]Cl impregnated in SiO; produced 19.83% ester product with 0.5 g catalyst and 29.62% ester product with 1.0 g catalyst in 20 hours reaction periods."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2010
S54631
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Hadi Rachman
"CO2 merupakan gas yang inert, tidak beracun, tidak mudah terbakar, dan menjadi gas penyumbang terbesar dalam efek rumah kaca yang menyebabkan suhu permukaan bumi naik. Di sisi lain, kelimpahannya yang tinggi di alam menjadikan CO2 sebagai sumber karbon yang potensial dalam sintesis fine chemicals. Dalam penelitian ini dilakukan studi reaksi karboksilasi fenilasetilena dengan CO2 menggunakan katalis logam Ni terimpregnasi pada support karbon mesopori. Karbon mesopori telah berhasil disintesis dengan metode soft template menggunakan Pluronik F127 sebagai pembentuk pori, formaldehida dan phloroglucinol sebagai sumber karbon, dan HCl sebagai katalis asam. Material ini dikarakterisasi dengan FTIR, XRD, SEM, dan BET. Spektra FTIR dari karbon mesopori sebelum karbonisasi memiliki puncak serapan 3500 2800 cm-1 yang menunjukkan adanya stretching C-H dan stretcing O-H dari phloroglucinol dan formaldehida. Sedangkan setelah karbon mesopori dikarbonisasi, puncak serapan pada bilangan gelombang tersebut hilang. Karakterisasi dengan XRD menunjukkan adanya dua puncak pada 2 yakni 24,26o dan 42,76o yang menandakan puncak khas dari karbon mesopori. Analisis luas permukaan dengan BET menghasilkan isoterm adsorpsi N2 pada karbon mesopori yang menunjukkan adanya hystersis loop pada rentang P/Po sekitar 0,4-0,9 yang merupakan karakter dari karbon mesopori. Karbon mesopori hasil sintesis memiliki distribusi ukuran pori sebesar 7.2 nm yang termasuk dalam rentang material mesopori 2-50 nm . Karakterisasi dengan SEM menunjukkan bentuk yang datar dengan ukuran kristal beragam. Modifikasi support dilakukan dengan cara impregnasi logam Ni ke dalam karbon mesopori Ni@MC . Katalis Ni@MC digunakan sebagai katalis dalam reaksi karboksilasi fenilasetilena dengan CO2. Reaksi dilakukan dalam reaktor batch dengan kondisi reaksi yang bervariasi, yakni suhu 25oC, 50oC, 85oC dan waktu 8 jam, 12 jam, dan 16 jam. Hasil analisis campuran produk dengan HPLC menunjukkan terbentuknya asam sinamat sebesar 1,52 pada sampel 85oC 8jam, 2,83 pada sampel 85oC 12jam, dan 0,62 pada sampel 85oC 16jam.

CO2 is an inert, non toxic, non flammable, and the largest contributor gas to greenhouse gases causing the earth 39 s surface temperature to rise. Its high abundance in nature makes CO2 a potential carbon source in fine chemical synthesis. In this research, carboxylation reaction of phenylacetylene with CO2 has been studied using an impregnated nickel catalyst on mesoporous carbon support. Mesoporous carbon has been successfully synthesized by soft template method using Pluronic F127 as pore forming, formaldehyde and phloroglucinol as carbon source, and HCl as acid catalyst. This material was characterized by FTIR, XRD, SEM, and BET analysis. The FTIR spectra of the mesoporous carbon before carbonization had an absorption peak of 3500 2800 cm 1 indicating the presence of stretching C H and stretching O H of phloroglucinol and formaldehyde. Meanwhile after carbonization, those peaks disappear. Characterization with XRD shows the presence of two peaks at 2 24.26 and 42.76 which denotes the typical peak of mesoporous carbon. BET Surface Area Analysis gave N2 adsorption isotherm on mesoporous carbon indicating a hysterysis loop in the P Po range 0.4 0.9 which is a character of mesoporous carbon. Synthesized mesoporous carbon had pore size distribution of 7.2 nm which is included in the mesoporous material range 2 50 nm . Characterization with SEM shows a flat shape with varying crystal sizes. Modification of support has been conducted by impregnation of Ni metal into mesoporous carbon Ni MC . The Ni MC catalyst was used as a catalyst in the carboxylation reaction of phenylacetylene with CO2. The reactions were carried out in a batch reactor under various reaction conditions at reaction temperature of 25oC, 50oC, and 85oC and for over 8, 12, and 16 hours. HPLC analysis of the product mixtures shows that cinnamic acid was formed with 1,52 yield in 85oC 8h sample, 2,83 yield in 85oC 12h sample, and 0,62 yield in 85oC 16h sample.
"
Depok: Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2018
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Tyani Gita Cahyani
"Senyawa 1,7,7-trimetilbisiklo[2.2.1]-2-heptanon atau camphor merupakan salah satu senyawa yang terkandung dalam pohon kapur barus (Cinnamomum camphora). Derivat senyawa camphor memiliki potensi aktivitas biologis yang baik seperti sifat antivirus, antimikroba, antitusif, agen analgesik, dll. Pada penelitian ini telah dilakukan sintesis derivat senyawa camphor hidrazon menggunakan senyawa camphor, hidrazin hidrat, dan variasi aldehid aromatik sebagai prekursornya. Sintesis derivat senyawa camphor hidrazon dapat ditingkatkan efisiensi waktu pembentukan produknya dengan penambahan katalis cairan ionik trietilamonium hidrogen sulfat atau [Et3NH][HSO4]. Berdasarkan hasil optimasi reaksi diperoleh kondisi optimum dengan jumlah katalis sebesar 10% mol. Besar yield yang dihasilkan dari derivat senyawa 1 sebesar 84,1%, derivat senyawa 2 sebesar 86,7%, dan derivat senyawa 3 sebesar 45,7%. Keberhasilan pembentukan derivat senyawa camphor hidrazon dikarakterisasi dengan menggunakan, kromatografi lapis tipis (KLT), FTIR, UV-Visible, uji titik leleh dan GC-MS. Penelitian ini juga menguji potensi bioaktivitas derivat senyawa camphor hidrazon sebagai antioksidan menggunakan metode DPPH. Kekuatan aktivitas antioksidan yang diekspresikan sebagai nilai IC50 telah dievaluasi. Nilai IC50 dari derivat senyawa 1 sebesar 96,181 ppm, derivat senyawa 2 sebesar 102,247 ppm, dan derivat senyawa 3 sebesar 306,476 ppm.

1,7,7-trimethylbicyclo[2.2.1]-heptan-2-one or camphor compound is one of the compounds contained in the camphor tree (Cinnamomum camphora). Camphor compound derivatives have the potential for good biological activity such as antiviral, antimicrobial, antitussive, analgesic agents, etc. In this research, the derivative of camphor hydrazone has been synthesized using camphor, hydrazine hydrate, and variations of aromatic aldehydes as precursors. The synthesis of camphor hydrazone compound derivatives can be increased the efficiency of its product formation time by adding a triethylammonium hydrogen sulfate or [Et3NH][HSO4] ionic liquid catalyst. Based on the results of reaction optimization, the optimum conditions were obtained with the amount of catalyst 10% mol. The yield obtained from derivative compound 1 was 84,1%, derivative compound 2 was 86,7%, and derivative compound 3 was 45,7%. The success of the formation of camphor hydrazone derivatives were characterized using thin-layer chromatography (TLC), FTIR, UV-Visible, melting point test, and GC-MS. This study also tested the potential bioactivity of the camphor hydrazone derivatives as antioxidants using the DPPH method. The strength of antioxidant activity expressed as IC50 values were evaluated. The IC50 values of derivative of compound 1 was 96,181 ppm, the derivative of compound 2 was 102,247 ppm, and the derivative of compound 3 was 306,476 ppm."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2021
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Tiara Meidha Ratu
"Polistirena, polimer yang terdiri dari stirena monomer, banyak digunakan sebagai bahan baku utama dalam produksi wadah makanan. Namun sejumlah kecil fenilasetilena dalam stirena dapat meracuni katalis yang digunakan dalam proses polimerisasi stirena. Karena itu, diperlukan cara untuk menghilangkannya. Salah satunya dengan mengubahnya menjadi stirena menggunakan metode hidrogenasi selektif. Karbon mesopori (MC) telah berhasil disintesis melalui metode soft template menggunakan phloroglucinol dan formaldehida sebagai prekursor karbon dan pluronic F127 sebagai template mesopori. Karbon mesopori kemudian dimodifikasi menjadi katalis bimetalik Ni-Co (NiCo/MC), dilanjutkan reduksi selama 4 jam pada suhu 400°C di bawah aliran gas H2. Katalis dikarakterisasi menggunakan FTIR, XRD, SEM-EDX, SAA dan TEM. Karbon mesopori dan bimetalik NiCo/MC kemudian digunakan sebagai katalis dalam hidrogenasi selektif fenilasetilena pada suhu 303 K dan 323 K selama 5 jam dengan gas H2 sebagai reduktor. Karbon mesopori yang dimodifikasi menjadu monometalik Ni (Ni/MC) juga diuji sebagai pembanding. Produk reaksi diukur menggunakan GC-FID. Hasil penelitian menunjukkan bahwa katalis NiCo/MC memberikan %yield sebesar 1,42% dan 1,33% untuk reaksi masing-masing pada 303 dan 323 K. Sedangkan katalis Ni/MC memberikan hasil yang lebih tinggi 4% untuk reaksi pada suhu 323 K.

Polystyrene, a polymer composed of styrene monomer, is widely used as the main raw material in food container production. However trace quantities of phenylacetylene in styrene can poison the catalyst used in the styrene polymerization process. Therefore, it is necessary remove it, for instant by catalytically converting it to styrene using selective hydrogenation method. Mesoporous carbon (MC) has been successfully synthesized via soft template method using phloroglucinol and formaldehyde as carbon precursors, and pluronic F127 as mesopore template. The as-synthesized MC then impregnated with bimetallic Ni-Co(NiCo/MC), followed by reduction for 4 hour at 400 °C under a flow of H2. The catalysts were characterized using FTIR, XRD, SEM-EDX, SAA and TEM. Both MC and bimetallic NiCo/MC then were used as catalysts in phenylacetylene selective hydrogenation at 303 K and 323 K for 5 h with H2 as the reducing agent. The as-synthesized MC modified monometallic Ni (Ni/MC) was also tested as comparison. The reaction product was measured using gas chromatography with flame ionization detector. The results show that the NiCo/MC catalyst gives a yield of 1.42% and 1.33% for the reaction at 303 and 323 K, respectively. Whereas Ni/MC catalyst gives a higher yield of 4% for the reaction at 323 K."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Gema Fitriyano
"ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan gliserol yang jumlahnya berlimpah akibat produksi tidak sebanding dengan konsumsinya. Pemanfaatan gliserol melalui reaksi karbonilasi antara gliserol dan urea untuk mendapatkan produk yang diinginkan yaitu gliserol karbonat. Pada reaksi karbonilasi dilakukan beberapa variasi diantaranya variasi penggunaan katalis CaO pada suhu 130oC dan 160oC dan penggunaan katalis ZnO pada suhu 160oC . Namun hasil pengujian pada produk memperlihatkan 1,3-dioxol-2-one yang terdeteksi sebagai produk dengan jumlah terbesar. Reaksi karbonilasi yang menggunakan katalis CaO 1% mol dengan suhu 160oC dan pengadukan konstan selama 3 jam dapat menghasilkan konversi sebesar 92,86% dan yield 1,3-dioxol-2-one sebesar 64,80%. Reaksi karbonilasi yang menggunakan katalis ZnO 1% mol pada suhu 160oC dan pengadukan konstan selama 3 jam dapat menghasilkan konversi sebesar 94,88% dan yield 1,3-dioxol-2-one sebesar 30,06%.

ABSTRACT
This study aims to utilize the abundant amount of glycerol due to the production is not proportional with consumption. Utilization of glycerol through carbonylation reaction between glycerol and urea to obtain the desired product is glycerol carbonate. On carbonylation reactions performed several variations including variation in the use of CaO catalyst at temperatures 130oC and 160oC and the use of ZnO catalyst at temperatures 160oC. Carbonylation reaction using 1% mol CaO catalyst at a temperature of 160oC and constant stirring for 3 hours to give a conversion of 92.86% and the yield of 1,3-dioxol-2-one by 64.80%. Carbonylation reaction using 1% mol ZnO catalyst at a temperature of 160oC and constant stirring for 3 hours to produce a conversion by 94.88% and the yield of 1,3-dioxol-2-one by 30.06%."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2014
T38748
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>