Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 153421 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Sonny Citra Permadi
"Senyawa fenolik merupakan salah satu kontaminan utama dan berbahaya dalam limbah cair karena sifatnya yang beracun bahkan pada konsentrasi yang rendah. Untuk mengatasi masalah ini beberapa proses yang dapat mengurangi kandungan fenol telah dilakukan. Salah satunya adalah proses ozonasi. Namun rendahnya kelarutan ozon dalam air serta kurang reaktifnya ozon dengan fenol menjadi kendala utama. Kavitasi (proses terbentuk, berkembang dan hancurnya gelmbung mikro) dapat menjawab kendala tersebut. Dalam penelitian ini dilakukan menganalisis tentang signifikansi kavitasi hidrodinamik dan/atau ultrasonik pada proses penyisihan fenol berbasis ozon pada kondisi asam dan mengevaluasi pengaruh konsentrasi awal fenol pada proses penyisihan diberbagai konfigurasi proses oksidasi lanjut berbasis ozon. Dari penelitian yang dilakukan ditemukan bahwa proses gabungan ozonasi/hidrodinamik/ultrasonik menghasilkan persentase penyisihan fenol yang paling besar.

Phenolic compound is one of the main and dangerous contaminants in waste water because of its hazardous properties even at low concentration. To solve this problem some processes that could reduce phenol concentration had been done. One of these processes is ozonation. But this process has main problems which are the small solubility of ozone in water and small reactivity of ozone and phenol. This research analyzed the significance of hydrodynamic cavitation and / or ultrasound on the process of phenol-based ozone in acidic conditions and evaluate the effect of initial concentration of phenol in the process of provision in different configurations of ozone-based advanced oxidation process. The result from this research showed that the combination processes of ozonation/hydrodynamic/ultrasound gave the biggest phenol degradation percentage."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2011
S383
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Nainggolan, Sarah Irene
"Senyawa fenolik merupakan salah satu kontaminan utama dan berbahaya dalam limbah cair karena sifatnya yang beracun bahkan pada konsentrasi yang rendah. Untuk mengatasi masalah ini beberapa proses yang dapat mengurangi kandungan fenol telah dilakukan. Salah satunya adalah proses ozonasi. Namun rendahnya kelarutan ozon dalam air serta kurang reaktifnya ozon dengan fenol menjadi kendala utama. Kavitasi (proses terbentuk, berkembang dan hancurnya gelmbung mikro) dapat menjawab kendala tersebut. Dalam penelitian ini dilakukan uji kinerja penyisihan fenol melalui proses ozonasi dan kavitasi (hidrodinamik dan/atau ultrasonik) dalam kondisi asam. Dari penelitian yang dilakukan ditemukan bahwa proses gabungan ozonasi/hidrodinamik/ultrasonik menghasilkan persentase penyisihan fenol yang paling besar.

Phenolic compound is one of the main and dangerous contaminants in waste water because of its hazardous properties even at low concentration. To solve this problem some processes that could reduce phenol concentration had been done. One of these processes is ozonation. But this process has main problems which are the small solubility of ozone in water and small reactivity of ozone and phenol. This research studied the performance of ozonation and cavitation (hydrodynamik and/or ultrasound) for phenol degradation. The result from this research showed that the combination processes of ozonation/hydrodynamic/ultrasound gave the biggest phenol degradation percentage."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2010
S51898
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Humala Paulus Halim
"Teknologi Enhanced Oil Recovery, khususnya chemical flooding surfaktan metil ester sulfonat (MES), dibutuhkan untuk meningkatkan produksi minyak. Pada penelitian ini, nonyl phenol ethoxylate (tergitol) digunakan sebagai surfaktan sekunder dan konsentrasinya divariasikan untuk formulasi surfaktan. Tujuannya adalah memperoleh formula surfaktan yang memenuhi syarat chemical flooding. Parameter keberhasilan dari formulasi adalah tingkat kelarutan dalam air dan nilai Interfacial Tension (IFT) 10-3 dyne/cm. Parameter atau variabel yang diuji adalah konsentrasi optimum setelah penambahan tergitol, pengaruh penambahan alkali, dan pengaruh waktu pemanasan terhadap nilai IFT dan kelarutan. Hasil penelitian menunjukkan semua formula yang dibuat memiliki kelarutan yang baik, sedangkan nilai IFT terbaik terdapat pada formula MES (40%), tergitol (20%), dan EGBE (40%) dengan konsentrasi 0,3% terhadap brine water. Penambahan alkali dan waktu pemanasan berpengaruh terhadap perubahan nilai IFT. Peningkatan nilai IFT terjadi setelah konsentrasi alkali ditambahkan sebesar 1% dan dipanaskan selama 1 dan 7 hari.

Enhanced Oil Recovery technology, especially chemical flooding of methyl ester sulfonate (MES) surfactant is required to increase crude oil production. This research is conducted by selecting nonyl phenol ethoxylate (tergitol) as secondary surfactant and varying its concentration to surfactant formulation. The purpose is gaining formula of surfactant that fulfills the chemical flooding requirement. The success of this formulation is the solubility level in water and the interfacial tension (IFT) to 10-3 dyne/cm. The test procedure is searching the optimum concentration after tergitol addition, effect of alkali addition, and the influence of heating time duration to IFT value and solubility. All formulas have good solubility. The best IFT value is obtained from MES (40%), tergitol (20%), and EGBE (40%) with 0,3% concentration to brine water. The alkali addition and heating time affect IFT value changes. It is increasing after alkali concentration has been 1% and heating for 1 and 7 days."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2011
S381
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Ikha Novita Ma`wa Sukriya
"Dalam rangka menanggulangi turunnya produksi minyak bumi, telah dikembangkan teknologi Enhanched Oil Recovery (EOR) yaitu pengurasan tahap lanjut pada sumur minyak tua. Salah satu teknologi EOR yaitu injeksi kimia yang dapat berupa surfaktan, alkali-surfaktan, alkali-surfaktan-polimer. Penggunaan surfaktan ini dimaksudkan untuk menurunkan tegangan antar-muka (interfacial tension=IFT) antara minyak dan air sehingga mampu membawa minyak keluar dari pori-pori batuan reservoir. Surfaktan untuk EOR harus memenuhi kriteria parameter screening test yaitu compatibility test dan pengukuran IFT.
Pada penelitian ini reservoir yang dituju adalah lapangan Rantau. Surfaktan diperoleh dengan memformulasikan 25% w/w Metil Ester Sulfonat (MES), 25% w/w Surfaktan Tween dan 50% w/w berbagai pelarut (EGBE, Etanol dan EGBE-Etanol). Alkali (Na2CO3) yang ditambahkan dalam larutan surfaktan bertujuan untuk menurunkan nilai IFT. Proses formulasi dilakukan tanpa dan dengan pemanasan 40oC. Hasil formulasi surfaktan terbaik dalam penelitian ini adalah 25% MES, 25% Surfaktan Tween dan 50% EGBE yang memenuhi criteria compatibility meskipun nilai IFTnya belum tercapai. Formula surfaktan ini dilarutkan dalam brine water dengan konsentrasi 0,1%; 0,5%; 1% dan 2%. Hasil screening test terbaik adalah pada konsentrasi 0,1% yaitu nilai IFT mencapai 10-2 dyne/cm.

In order to overcome the decline of crude oil production, it has been developed Enhanched Oil Recovery (EOR) technolog, that is an recovery of depletion of old oil wells. EOR technology is one of the chemical injection which may be a surfactant, an alkaline-surfactant, alkali-surfactant-polymer. The use of surfactant is intended to reduce the interface tension (interfacial tension = IFT) between oil and water so it makes the oil out from the pores of reservoir rock. Surfactants for EOR must fulfil the criteria for a screening test parameters, there are compatibility and IFT test.
In this study, the target reservoir is Rantau field. Surfactant obtained by formulating 25% w/w Methyl Ester Sulfonate (MES), 25% w/w surfactant Tween 80 and 50% w/w various solvents (EGBE, EGBE-Ethanol and Ethanol). Alkaline (Na2CO3) was added to the surfactant solution aims to reduce the value of IFT. Formulation process carried out without and with heating 40oC. The best surfactant formulation results in this study is 25% MES, 25% Tween 80 and 50% EGBE that accomplish the criteria of compatibility, even though IFT value has not been reached. Formula surfactant is dissolved in the brine water with a concentration of 0.1%, 0.5%, 1% and 2%. The best results screening test at a concentration of 0.1% when the value of IFT reached 10-2 dyne / cm.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2011
S388
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Nathanael, Dante
"Pengembangan sensor BOD dilakukan dengan elektroda glassy carbon terdeposisi partikel emas dan terimobilisasi lapisan tipis khamir Candida fukuyamaensis UICCY-247. Proses modifikasi glassy carbon dengan partikel emas dilakukan dengan proses elektrodeposisi pada potensial -300mV dengan menggunakan Multi Pulse Amperometry (MPA) terhadap Ag/AgCl. Karakterisasi dengan SEM menunjukkan ukuran partikel emas yang melapisi glassy carbon adalah sekitar 66 nm. Proses imobilisasi mikroba khamir dilakukan dengan matriks Agarose/KCl 2% yang diratakan pada permukaan membran Nafion®. Deteksi nilai oksigen yang digunakan oleh mikroorganisme dilakukan dengan teknik MPA pada potensial -600mV. Hasil pengukuran kalibrasi linier pada keadaan free cell dan keadaan terimobilisasi lapisan tipis khamir menunjukan nilai daerah kelinieran yang baik dengan nilai regresi R2 = 0,93 untuk keadaan free cell dan R2 = 0,933 untuk keadaan terimobilisasi lapisan tipis khamir. Pengukuran terhadap kestabilan lapisan tipis menunjukan bahwa pada setiap hari pengukuran, terjadi penurunan arus reduksi yang terukur sebagai akibat semakin sedikitnya jumlah sel khamir yang hidup dalam sistem. Presisi pengukuran dengan elektroda GC-Au pada 15 kali pengukuran dengan cyclic voltametry memberikan nilai RSD 18,49% untuk keadaan tanpa kehadiran sel khamir dan RSD 14,65% dalam keadaan terimobilisasi lapisan tipis sel khamir. Pengaruh kehadiran logam berat pada sistem pengukuran dilakukan dengan memvariasikan konsentrasi spesi Cu. Pengukuran dengan MPA pada -600mV terhadap Ag/AgCl menunjukan kenaikan arus reduksi terhadap kenaikan konsentrasi spesi Cu karena makin sedikit jumlah oksigen yang dapat digunakan oleh mikroorganisme akibat jumlah mikroorganisme efektif dalam sistem akan semakin sedikit. Uji kesetaraan yang dilakukan antara metode sensor BOD dan BOD konvensional menghasilkan perbandingan yang cukup baik sehingga dapat disimpulkan metode sensor BOD memiliki keakuratan pengukuran yang cukup baik.

The development of BOD sensor conducted with glassy carbon gold particles deposited electrode and immobilized with a thin layer of yeast Candida fukuyamaensis UICCY-247. The process of glassy carbon modification with gold particles carried by the process of electrodeposition at a potential 300mV by using Multi-Pulse Amperometry (MPA) against Ag / AgCl. Characterization by SEM shows the size of gold particles lining the glassy carbon is about 66 nm. The process of microbial immobilization of yeast is done by using matrix agarose / KCl 2%, which flattened at the surface of Nafion ® membrane. Detection of oxygen used by microorganisms was done by using MPA on the potential-600mV. Linear calibration measurement results on the state of free cell and immobilized state of a thin layer of yeast showed good linearity local value with the value of regression R2 = 0.93 for the state of free cell and R2 = 0.933 for the immobilized state of a thin layer of yeast. Measurements showed that the stability of a thin layer on each day of measurement, there was a measurable decrease in flow reduction as a result of the small number of yeast cells that live within the system. Precision measurement with GC-Au electrode in 15 times of measurement by cyclic voltametry 18.49% RSD value for the state without the presence of yeast cells and 14.65% RSD in the immobilized state of a thin layer of yeast cells. Effect of the presence of heavy metals on the measurement system is done by varying the concentration of Cu species. Measurements with MPA at-600mV against Ag / AgCl showed increased flow reduction of Cu species concentration increases because the less amount of oxygen that can be used by microorganisms due to the number of effective microorganisms in the system will be less. Equivalence test conducted between the sensor BOD and BOD methods of conventional produce a pretty good ratio so it can be concluded, BOD sensor has a good accuracy on measurement."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2011
S360
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Dwi Widyajayantie
"ABSTRAK
Keberhasilan suatu transformasi dalam kloning molekular untuk mengetahui apakah suatu gen telah tersisipi atau terekspresi dalam populasi sel atau organisme dapat diketahui melalui gen pelapor. Salah satu gen pelapor adalah sgfpS65T yang menyandi kemampuan menghasilkan warna/perpendaran cahaya lebih baik dengan bantuan sinar biru di antara varian gfp lainnya dan efisien karena tidak membutuhkan substrat untuk mengetahui ekspresinya, sehingga tidak bersifat toksik dan mempercepat proses seleksi transforman. Vektor kloning yang akan digunakan untuk membawa gen sgfpS65T ini adalah vektor binary pCAMBIA1305.1 yaitu vektor pembawa gen gusPlus sebagai gen pelapornya dan vektor yang umum digunakan untuk transformasi ke tanaman. Karena untuk mengetahui ekspresi dari gen gusPlus membutuhkan substrat yang dapat bersifat toksik terhadap sel transforman, maka dilakukan substitusi gen pelapor gusPlus pada pCAMBIA1305.1 dengan sgfpS65T dari pNU400 melalui konstruksi plasmid. Dari hasil penelitian ini diperoleh konstruksi plasmid pCAMBIA1305.1 pembawa fragmen sgfpS65T (pDWJ3) dengan panjang 720 bp, namun pada fragmen tersebut terdapat mutasi (substitusi basa) pada posisi 294 bp dan 710 bp. Pada posisi 294 bp menyandi asam amino yang sama dengan sequence acuan yaitu threonine dan pada posisi 710 bp menyandi asam amino yang berbeda yaitu phenylalanin, yang seharusnya menyandi asam amino leusin. Jadi, kemungkinan pDWJ3 tidak dapat mengekspresikan gen sgfpS65T dan diperlukan analisis lebih lanjut dan memastikan kembali mutasi yang terjadi pada fragmen tersebut.

ABSTRACT
The success of a clone transformation can be identified by reporter gene. This gene can detect whether a particular gene has been inserted and expressed in cells or organisms, one of which is sgfpS65T that encode the ability to produce color better than other gfp variants and efficient because it does not require a substrate to determine the expression, non toxic and accelerate the selection process transformant. pCAMBIA1305.1 is cloning vectors that will be used to carry sgfpS65T. pCAMBIA1305.1 binary vector carrying reporter gene gusPlus and commonly used for plant transformation. Due to determine the expression of gusPlus requires a substrate that can be toxic to the cell transformant, then performed reporter gene substitution gusPlus contained in pCAMBIA1305.1 with sgfpS65T from pNU400 through the construction of plasmid. This study has obtained pCAMBIA1305.1 containing 720 bp sgfpS65T (pDWJ3), but these fragments contained mutation (base substitution) at position 294 bp and 710 bp. At position 294 bp encode the same amino acid sequence of reference threonine, at position 710 bp encode a different amino acid that is phenylalanin, which should encode the amino acid leucine. Thus, the possibility can not express sgfpS65T (pDWJ3) and required further analysis and ensure that mutations occur in these fragments."
Depok: Universitas Indonesia, 2011
S909
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Richo Candra Riski Bastama
"Dalam penelitian ini telah dilakukan pencampuran dimethyl ether (DME) dan liquefied petroleum gas (LPG) sebagai bahan bakar, kemudian menguji emisi gas buang serta nyala api dari hasil pembakaran bahan bakar tersebut pada kompor. DME yang ditambahkan pada LPG sebesar 10%, 20%, 30%, 35%, 40% dan 50% (v/v). Gas emisi yang di analisa adalah gas oksida-oksida sulfur (SOx), oksida-oksida nitrogen (NOx), dan karbon monoksida (CO). Pengambilan sampel gas emisi SOx dan NOx menggunakan alat Stack gas sampler (SGS), sedangkan gas CO menggunakan alat gas analyzer. Gas SOx dianalisa menggunakan spektrofotometer dengan metode turbidimetri sedangkan gas NOx dianalisa dengan metode phenol disulfonic acid . Efek penambahan DME pada LPG menurunkan emisi gas buang SOx, NOx dan CO. Pada LPG 100%, emisi gas SOx yang dihasilkan sebesar 5,85 mg/m3, sedangkan pada campuran LPG 90%:DME 10%, LPG 80%:DME 20%, LPG 65%:DME 35%, dan LPG 50%:DME 50%, emisi SOx yang dihasilkan masing-masing sebesar 5,187; 4,565; 4,190; dan 4,083 mg/m3. Emisi gas NOx yang dihasilkan pada pembakaran LPG 100% sebesar 18 ppm, sedangkan pada campuran LPG 90%:DME 10%, LPG 80%:DME 20%, LPG 65%:DME 35%, dan LPG 50%:DME 50%, emisi yang dihasilkan masing-masing sebesar 10,425; 6,681; 6,870; dan 5,079 ppm. Emisi gas CO yang dihasilkan pada LPG 100% sebesar 9 ppm, sedangkan pada campuran LPG 90%:DME 10%, LPG 80%:DME 20%, LPG 70%:DME 30%, dan LPG 60%:DME 60%, emisi CO yang dihasilkan sebesar 7; 4; 3; dan 3 ppm. Masing-masing nyala yang dihasilkan pada campuran gas LPG-DME lebih biru dibandingkan gas LPG.

In this research has been done mixing dimethyl ether (DME) and LPG as fuel, then test the exhaust emissions and flames from the burning fuel on the stove. DME is added to LPG by 10%, 20%, 30%, 35%, 40% and 50% (v / v). Gas emissions in the analysis is the gas sulfur oxides (SOx), nitrogen oxides (NOx) and carbon monoxide (CO). The sampling of gas emissions of SOx and NOx using a Stack gas sampler (SGS), while the CO gas using a gas analyzer. SOx gases were analyzed using a spectrophotometer by the turbidimetri method while NOx gases were analyzed by the phenol disulfonic acid method. Effect the addition of DME to LPG is to lower emissions of SOx, NOx and CO. In the LPG 100%, SOx gas emissions generated is 5.85 mg/m3, while the LPG mixture of 90%: 10% DME, LPG 80%: 20% DME, LPG 65%: 35% DME and LPG 50%: DME 50%, SOx emissions are generated respectively are 5.187; 4.565; 4.190; and 4.083 mg/m3. NOx emissions generated on combustion of LPG 100% is 18 ppm, while the LPG mixture of 90%: 10% DME, LPG 80%: 20% DME, LPG 65%: 35% DME and LPG 50%: 50% DME, emissions produced respectively are 10.425; 6.681; 6.870; and 5.079 ppm. Emissions of CO gas is produced on 100% LPG is 9 ppm, while the LPG mixture of 90%: 10% DME, LPG 80%: 20% DME, LPG 70%: 30% DME and LPG 60%: 60% DME, emissions CO produced are 7; 4; 3; dan3 ppm. Each flame generated in LPG-DME gas mixture is more blue than the LPG gas. "
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2011
S887
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Ika Sumanti
"Gas sintesis merupakan campuran gas hidrogen (H2) dan gas karbon monoksida (CO) yang dapat dikonversi menjadi campuran hidrokarbon rantai panjang melalui sintesis Fischer-Tropsch (FT). Sintesis FT memerlukan rasio molar H2/CO sekitar 1 yang berasal dari biomassa. Tujuan penelitian ini adalah membuat dan mempelajari kinerja katalis Fe-Mn untuk sintesis FT yang sudah diterapkan di industri. Sintesis FT dilakukan dalam reaktor fixed bed pada tekanan 20 bar dan suhu 250-280°C. Karakterisasi katalis Fe-Mn industri dilakukan dengan X-Ray Fluorescence (XRF), X-Ray Diffraction (XRD), dan BET.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa rasio Fe:Mn dan suhu berpengaruh terhadap aktivitas dan selektivitas katalis. Dengan rasio Fe:Mn tinggi dalam katalis (3Fe:Mn)/AG konversi CO dan selektivitas CO2 dibandingkan dengan katalis (Fe:3Mn)/AG. Peningkatan suhu reaksi juga menyebabkan meningkatnya konversi CO dan selektivitas produk. Dengan suhu 280°C pada katalis (3Fe:Mn)/AG, selektivitas produk CH4 , C2, C3, C6+, CO2 diperoleh, sedangkan pada suhu 250 °C hanya memberikan selektivitas C6+ dan CO2. Suhu optimum untuk katalis (3Fe:Mn)/AG adalah 280°C.

Synthesis gas is a mixture of hydrogen (H2) and carbon monoxide (CO) which can be converted into a mixture of long chain hydrocarbons through Fischer-Tropsch synthesis (FT). FT synthesis requires H2/CO molar ratio of about 1 derived from biomass. The purpose of this research is to create and study the performance of Fe-Mn catalysts for FT synthesis which has been applied in industry. FT synthesis performed in a fixed bed reactor at a pressure of 20 bar and a temperature of 250¬280°C. Characterization of Fe-Mn catalyst industry is done by X-Ray Fluorescence (XRF), X-Ray Diffraction (XRD), and BET.
The results showed that Fe:Mn ratio and temperature affect the catalyst activity and selectivity. With a Fe:Mn ratio is high in the catalyst (3Fe:Mn)/AG CO conversion and selectivity of CO2 compared with the catalyst (Fe:3Mn)/AG. The increasing reaction temperature also caused the CO conversion and product selectivity to increase. With a temperature of 280°C on the catalyst (3Fe:Mn)/AG, the product selectivity of CH4, C2, C3, C6+, CO2 were obtained, while at a temperature of 250°C only C6+ selectivity and CO2 were obtained. The optimum temperature for the catalyst (3Fe: Mn)/AG is 280°C.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2011
S379
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Muharza
"Penelitian ini telah menghasilkan wax ester dengan bahan dasar asam oleat dan stearil alkohol menggunakan biokatalis berupa enzim Candida rugosa lipase (CRL) dan Porcine pancreatic lipase (PPL) untuk menggantikan katalis asam yang tidak ramah lingkungan. Variasi yang dilakukan adalah variasi rasio molar reaktan, persentase enzim, dan waktu reaksi dengan menggunakan metode esterifikasi. Variasi yang ada ini dilakukan untuk mempelajari kinerja enzim CRL dan PPL terhadap produksi wax ester dan memperoleh kondisi optimum dari reaksi.
Dari variasi yang telah dilakukan didapatkan konversi optimum berturut-turut sebesar 58,25 % dan 20,79 % untuk enzim CRL dan PPL dengan jumlah enzim 4 % dan rasio reaktan 1:1 selama 24 jam reaksi. Kinetika reaksi juga dibuat berdasarkan persamaan Michaelis-Menten. Dengan persamaan ini, didapatkan parameter Km dan vmax masing-masing sebesar 3,785 mol/L dan 0,033 s-1 untuk enzim CRL serta 3,139 mol/L dan 0,006 s-1 untuk enzim PPL.

This research has produced wax esters synthesis using oleic acid and long chain alcohol (stearyl alcohol) as substrates and Candida rugosa lipase (CRL) and porcine pancreatic lipase (PPL) as biocatalist was carried out to replace the acid catalyst that is not environmentally friendly. The effects of various reaction parameters such as molar ratio of substrates, amount of enzyme, and reaction time were investigated by using esterification methods to obtain optimum conditions of reaction.
These variations produce optimum conversion of 58,25% and 20,79% for candida rugosa lipase and Porcine pancreatic lipase with 4% the amount of enzyme and molar ratio 1:1 for 24 hours of reaction. Reaction kinetics were also made on the basis using Michaelis-Menten kinetic model. By using this equation, the Km and vmax parameter can be solved with the value of 3,785 mol/L and 0,033 s-1 for Candida rugosa and 3,139 mol/L and 0,006 s-1 for Porcine pancreatic lipase.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2011
S913
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Ius Pratama
"Simulasi yang dilakukan pada bagian hulu produksi bioetanol generasi dua ini bertujuan untuk mengoptimisasi biaya proses produksi secara sederhana dan dapat dikembangkan selanjutnya variasi metode dalam proses sehingga selanjutnya dapat dilihat tingkat efektivitas dari proses yang dilakukan. Metode yang digunakan ialah dengan hidrolisis asam dalam pemecahan polimer gula yang kemudian difermentasi dengan yeast yang mengandung S.cereviseae. Data yang digunakan berasal dari beberapa penelitian sebelumnya yang dimasukkan sebagai data dan kemudian disimulasikan dengan SuperPro Designer. Analisa sensitivitas variabel pun dilakukan untuk mengetahui variabel yang paling mempengaruhi keekonomian proses.

This upstream bioethanol process simulation aim to optimize process
production cost and the simulation can be modified to any variation of method in the process in bioethanol production to compare the effectivity of each variation. Acid hydrolization is applied in this process design, the acid will crack the polimer of cellulose and fermented by yeast which contain S.cereviseae. The source data in the simulation are obtained from the previous researches that have relation with the process.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2012
S42625
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>