Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 80715 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Kusdiyono
"Kepadatan penduduk di Kabupaten Sawahlunto Sijunjung tidak merata. Banyak faktor yang mempengaruhi kepadatan penduduk di Kabupaten Saahlunto Sijunjung, diantaranya faktor fisik yaitu ketinggian, lereng dan curah hujan, serta faktor non fisik yaitu faktor sosial dan ekonomi serta faktor budaya. Sandy (1977) mengatakan, pada awalnya manusia memanfaatkan tanah yang terletak pada ketinggian 25 meter dari muka laut. Karena tempat tersebut mudah untuk digarap dan aman dari bahaya banjir. Setelah tempat tersebut habis digarap dan jumlah manusianya bertambah, mereka akan bergerak ke daerah yang lebih tinggi dimana tingkat penggarapannya lebih sulit. Sehingga penduduk yang terpadat akan terletak di wilayah dataran rendah, dan penduduk akan terpusat pada daerah pertanian yang tanahnya subur. Tetapi tidak demikian yang tenjadi pada Kabupaten Saah1unto Sijunjung,. penduduk yang terpadat justru terletak pada wilayah pegunungan.
Sehubungan dengan itu tujuan penulisan ini ingin mengetahui tingkat kepadatan penduduk di Kabupateñ Sawahiunto Sijunjung serta faktor yang mempengaruhinya. . dapun permasalah yang dikemukakan adalah : 1. Bagaimana fisiografi Kabupaten Sawahiunto Sijunjung ?. 2. Bagaimana kepadatan penduduk Kabupaten Sawahiunto Sijunjung ?. 3. Bagaimana kaitannya fisiografi dan non fisik terhadap kepadatan penduduk di daenah tersebut ?
Berdasarkan belakang tersebut di atas, hipotesa yang dibuat adalah faktor fisiografi kurang berpengaruh terhadap kapadatan penduduk di Kabupaten Sawahlunto Sijunjung. Yang memengaruhi kepadatan penduduk di daerah tersebut adalah faktor sosial, ekonomi dan budaya.
Dalam analisa menggunakan metode korelasi peta pada areal yang diteliti, yaitu antara kepadatan penduduk dengan ketinggian lereng, curah hujan, mata pencaharian penduduk dan aksesbilitas. Sedang untuk mengetahui faktor yang berpengaruh terhadap kepadatan penduduk dilakukan analisa statistik. "
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 1989
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Kemas Syamsudin
"ABSTRAK
Selama kurun waktu 25 tahun khususnya sepuluh tahun terakhir dari tahun 1985 sampai 1995 pembangunan di berbagai sektor di Indonesia menunjukkan pertumbuhan yang sangat pesat. Pertumbuhan sektor pembangunan yang pesat diikuti pula oleh pertumbuhan penduduk yang sangat pesat. Pertumbuhan penduduk yang pesat ini umumnya terjadi pada propinsi-propinsi tertentu saja, sehingga propinsi yang sudah padat penduduknya akan menjadi semakin padat.
Propinsi yang kepadatan penduduknya tinggi akan berkorelasi terhadap kualitas lingkungan. Yang menjadi permasalahan di sini adalah sektor pembangunan meningkat, jumlah penduduk rneningkat tetapi kualitas liugkungan khususnya kualitas udara menurun.
Sebaran penduduk yang belum merata ini diduga ada korelasinya dengan penduduk masih terpusat pada daerah-daerah tertentu. Sebaran industri maupun sebaran penduduk yang belum merata, khususnya di daerahdaerah yang sangat padat penduduknya tentu akan berdampak pada kualitas lingkungan khususnya kualitas udara.
Untuk mengetahui apakah sebaran industri manufaktur mempunyai korelasi terhadap sebaran penduduk maupun terhadap kualitas lingkungan, khususnya kualitas udara maka dilakukan studi ini.
Studi ini dilakukan dengan mengolah data sekunder, terutama dan Sensus Ekonomi 1985, Sensus Ekonomi 1995, Supas 1985, Supas 1995 dan Neraca Kependudukan Lingkungan Hidup Daerah 1995.
Manfaat studi ini adalah untuk memberikan masukan pada .suatu pengambilan keputusan dalam perencanaan tata ruang.
Pada studi ini diajukan empat hipotesis yaitu: (i) Penyebaran industri manufaktur mempunyai korelasi yang kuat terhadap penyebaran penduduk di tiap-tiap propinsi di Indonesia, (ii) Sektor usaha jasa (perdagangan besar, eceran, rumah makan, restoran, serta hotel; angkutan, penggudangan, komunikasi; jasa keuangan, asuransi, usaha persewaan, bangunan tanah, jasa prusahaan; jasa kemasyarakatan dan sosial hiburan dan peroraugan) mempunyai korelasi yang lebih kuat dibandingkan dengan sektor industri (pertambangan dan penggalian; manufakur; lisirik, gas, dan air, bangunan dan konstruksi) terhadap penyebaran penduduk di tiap-tiap propinsi di Indonesia, (iii) Sektor industri manufaktur secara umum mempunyai korelasi yang kuat terhadap pertumbuhan sektor-sektor usaha jasa industri lain terutama sektor usaha jasa, (iv) Sebaran industri manufaktur maupun sebaran penduduk mempunyai korelasi yang kuat terhadap kualitas udara.
Dari hasil analisis data dengan menggunakan persarnaan regresi dan korelasi melalui Program Statistika 5 maka dapat disimpulkan bnhwa hipotesis 1, 2, 3, dan 4 dapat diterima. Dalam hal korelasi antara penyebaran industri, penyebaran penduduk dan kualitas lingkungan, khususnya kualitas udara dapat dikatakan bahwa :
Semakin padat industri manufaktur di suatu daerah maka semakin padat penduduknya, demikian juga pencemaran udaranya akan semakin meningkat. Bahan pencemar udara yang berkorelasi dengan meningkatnya kepadatan industri manufaktur adalah debu, NOx, HC, CO, dan CO2, sedangkan bahan pencemar udara yang berkorelasi laugsung dengan uktivitas kepadatan penduduk adalah debu, CO, dan CO2 ini menunjukkan bahwa sebaran industri manufaktur dan sebaran penduduk mempunyai korelasi yang kuat terhadap kualitas lingkungan khususnya kualitas udara. Semakin padat industri manufaktur di suatu propinsi, maka semakin padat penduduknya sedangkan kualitas udaranya menjadi semakin rendah.

ABSTRACT
During the last quarter of a century, especially the last decade, from 1985 to 1995, development in every sector in Indonesia has shown a rapid ,growth_ The rapid growth was followed by an increase in population too. The growth of this population, generally, occurs in certain provinces. Hence, these provinces that are already crowded became even more crowded. Provinces which have a huge population will correlate with environmental quality. The problem here is that development. and population increased but environmental quality, especially air quality, decreased.
Unbalanced population distribution pattern may be due to the distribution are of manufacturing firms. The distribution of both manufacturing firms and population focussed in a certain region. Both these unbalanced distributions will certainly influence environmental quality.
To find out whether or not the distribution of manufacturing firms correlate closely with population distribution, and environmental quality, especially air quality, therefore this research was undertaken.
This research was conducted by processing secondary data, mostly from the economic census 1985, economic census 1995, Supas 1985, Supas 1995 and NKLU 1995.
This research is useful inproviding input for making decisions for site plan. This research proposed four hypotheses as follows:
1. The distribution of manufacturing firms have strong correlations with population distribution in each province in Indonesia
2. Services sectors (big trade, retail, restaurants and hotels, transport, finance services, insurance. rentals, real estates, services company, community social and personal services) have stronger correlations compared to industry sectors (mining and quarrying, manufacturing, electricity, gas and water supply, construction) towards population distribution in every province in Indonesia
3. Manufacturing, generally, has strong correlations towards the growth of service establishment or other industry, especially service establishment.
4. Manufacturing industry distribution as well as population distribution has strong correlations towards air quality.
Results of data analyses by using regression equation and correlation through Statistic Program 5, it could be concluded that hypothesis 1, 2, 3, and 4 can be accepted. Correlations between industry distribution, population distribution and air quality it could be stated that:
The more crowded the manufacturing industries in one region, the more dense population will be; the same is true with air pollution.
The air pollutant that have correlations with increasing manufacturing industries were dust, NOx, HC, CO, and C02. Whilst air pollutants that have correlations with population were dust, CO, and C02. These indicate that the Beater the population in one region, the lower the environmental quality will be, especially air quality.
"
Jakarta: Program Pascasarjana Universitas Indonesia, 1998
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Elliya
Jakarta: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 1986
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rismayanti
"Penyakit kusta merupakan penyakit menular yang masih banyak menimbulkan masalah kompleks. Masalah tersebut bukan hanya dari segi medis tetapi meluas sampai ke masalah sosial, ekonomi dan budaya (W1-L0,2000). Kabupaten Jeneponto merupakan salah satu kabupaten endemis kusta di provinsi Sulawesi Selatan yang memiliki Case Detection Rate tertinggi ( 50,9/100.000) di tahun 2006 dan prevalensi rate 4/10.000. Jumlah kasus baru yang ditemukan di tahun 2006 sebesar/69 kasus. Sebagian besar kecamatan yang ada di wilayah kabupaten Jeneponto dinyatakan endemis dan derajat endemisitasnya, cukup tinggi sehingga risiko tertularnya penduduk menjadi sangat besar. Masih tingginya case detection rate di kabupaten Jeneponto disertai kepadatan hunian yang cukup tinggi memungkinkan penularan kusta melaitri droplet maupun sentuhan langsung. Untuk itu perlu di ketahui hubungan kepadatan human terhadap risiko kejadian kusta.
Tujuan penelitian ini tuttuk rnengetahui hubungan faktor hunian dengan kejadian kusta di Ka.bupaten Jeneponto setelah dikontrol oleh faktor konfounding yaitu umur, jenis kelamin, vaksinasi BCG, pengeluaran, riwayat kontak serurnah, pendidikan dart pekerjaan. Penelitian ini menggunakan disain study kasus kontrol yang dipadankan( pair wise matching). Sampel penelitian adalah seluruh penderita kusta baru yang ditemukan periode Juli 2006 sampai September 2007. Jumlah kasus sebanyak 115 orang dan jumlah kontrol sebanyak 115 orang. Analisis data diIakukan meialui tiga tahapan, yaitu Univariat (distribusi frekuensi), Bivariat (uji McNemar) dan rnultivariat (Conditional Multiple Logistic Regression).
Hasil penelitian menunjukan bahwa kepadatan hunian berhubungan dengan kejadian kusta dengan nilai OR 10,65 (95% Cl: 4,11— 27,62) dart nilai p 0,000 setelah dikontrol variabel pengeluaran, pekerjaan dan riwayat kontak serurnah. Dari hasil penelitian ini disarankan perlu dilaksanakan pemeriksaan kontak serumah yang lebih intensif pada wilayah puskesmas yang tingkat kepadatan hunian tinggi, screening terhadap rumah yang ada penderita kusta terutarna pada rumah-rumah dengan tingkat kepadatan hunian tinggi.

Disease of Leprosy represent contagion which still many generating the problem of complex. The problem not merely from medical facet but extending to problem of social, cultural and economic ( WHO,2000). Sub-Province of Jeneponto represent one of the sub--province of endemic of leprosy in Province of South Sulawesi owning highest Case Detection Rate ( 50,9/100.000) in year 2006 and prevalence rate 4,1/10.000. Amount of new case found in year 2006 amount 169 cases. Mostly district of exist in region of sub-province of Jeneponto expressed by endemic and degree of high endemic enough so that its contagious risk resident become very big. Still height of case detection rate in sub-province of Jeneponto accompanied by density of dwelling which high to enough enable infection of leprosy through droplet and also direct touch. For that need in knowing relationship of density of dwelling to risk of leprosy occurrence.
Target of this research to know relation of factor of dwelling with occurrence of leprosy in Sub-Province of Ieneponto after controlled by confounder that is age, gender, vaccination BCG, expenditure, history contact house, education and work. This research use to design case control study (pair wise matching). Sample of Research is all new leper was found by period of July 2006 until September 2007. Amount of case of counted 115 people and amount of control of counted 115 people. Data analyzing conducted to through three steps, that is Univariate ( frequency distribution), Bivariate (McNemar test) and multivariate (Conditional Multiple Logistic Regression).
Result of research of show that density of dwelling relate to occurrence of leprosy with Odd Ratio 10,65 ( 95% CI: 4,11 - 27,62) and p value 0,000 after controlled by variable of expenditure, job and history contact house. From result of this research is suggested require to be executed by a inspection contact more intensive house at region of puskesmas (public health center) which mount density of high dwelling and screening to existing house of leper especially at house with level density of high dwelling.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2007
T34607
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Desty Pratita Mardianingsih
"Meningkatnya jumlah penduduk akan mendorong perubahan penggunaan tanah pertanian ke nonpertanian, sementara itu peningkatan produksi padi harus ditingkatkan untuk memenuhi kebutuhan pangan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perubahan distribusi penduduk dan aktivitas pertanian padi tahun 1989-2009 menurut wilayah ketinggian di Pulau Jawa, dengan variabel jumlah dan pertumbuhan penduduk, jumlah dan perubahan produksi padi, luas dan perubahan luas panen, perubahan luas sawah, produktivitas dan perubahan produktivitas padi, serta ketinggian wilayah. Hasil analisis spasial menunjukkan bahwa perubahan distribusi penduduk dan aktivitas pertanian padi cenderung terjadi pada wilayah dataran rendah dibandingkan wilayah dataran tinggi dan berada pada Jawa bagian barat khususnya di pantai utara dan pantai selatan.

The increasing population will lead to changes in agricultural land use to non-agriculture , in the meantime the increase in the production of paddy must be increased to satisfy the requirement for food. This research was carried out to know the change in population distribution an paddy agricultural activity in 1989-2009 according to the altitude on the island of Java with a variable number and population growth, the number and rate of rice production, the area and the rate of the harvest of the area, the rate of the change in the paddy-field , productivity and rate of rice productivity and altitude regions. Results of the spatial analysis showed that changes in the distribution of population and paddy agricultural activities tend to occur in the lowlands than the highlands in western Java, especially on the north coast and south coast."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2011
S783
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Niko Laus Horianto
"ABSTRAK
Pertumbuhan penduduk mau tidak mau akan menambah kepadatan manusia di
suatu kota. Setiap manusia membutuhkan tempat untuk bernaung berupa hunian.
Jika kepadatan pada suatu kota sudah semakin besar, maka hunian yang berupa
landed house tidak bisa lagi mencukupi kebutuhan akan perumahan. Rumah susun
bisa menjadi solusi pada saat kepadatan penduduk sudah semakin besar. Di sisi
lain, kepadatan manusia yang tinggi dapat menimbulkan masalah dalam suatu
lingkungan hunian, termasuk di dalam suatu lingkungan rumah susun. Masalah ini
dapat berupa masalah fisik dan masalah non fisik. Agar masalah yang ditimbulkan
akibat kepadatan manusia yang tinggi ini dapat diatasi, diperlukan suatu intervensi
perancangan yang baik. Intervensi perancangan yang diberikan dapat berupa
bentuk fisik dari rumah susun itu sendiri, selain itu intervensi perancangan juga
dapat berupa penyediaan fasilitas dan utilitas.

ABSTRACT
The human growth inevitably increases the human density in the city. Each
human needs a space for sheltering themselves, as called housing. If the human
density is large in the city, landed housing can’t be fulfilled the needs of housing.
Rumah susun can be a solution to solve the large amount of human density. In the
other side, the high human density can cause a problem in the housing area,
include in rumah susun, such as physical and non-physical aspect. To solve this
problem, its needed intervention in good planning of design. The intervention of
design can be interpreted such as physical aspect from the housing form and
facility-utility contribution."
2014
S55515
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ninik Widiyanti
Jakarta: Bina Aksara, 1987
301.32 NIN l
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Astrid Damayanti
"Pantai Karst Kabupaten Gunungkidul yang terletak di selatan Pulau Jawa tepatnya di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (Pantai Baron, Kukup, Sepanjang, Drini, Krakal, Ngandong, dan Sundak) memiliki potensi ekonomi yang besar. Pantai-pantai tersebut memiliki persamaan dalam hal kondisi geologi (genesa, dan proses pembentukan morfologi pantai), namun untuk setiap pantainya memiliki karakteristik fisik lingkungan yang berbeda-beda. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis spasial deskriptif. Dengan mengetahui dan memahami karakteristik fisik pantai karst tersebut, selanjutnya akan dapat diketahui bagaimana pemanfaatannya yang paling sesuai.

Karsts beaches at Gunungkidul Regency (Baron, Kukup, Sepanjang, Drini, Krakal, Ngandong, and Sundak), located in south of Daerah Istimewa Yogyakarta Province, have economic potential. Even they have similarity in geological condition (genesis and morphological processes), but they have different physical characteristics. Based on result of observation environment on morphological conditions and spatial analysis method, we found the proper utilization of the beaches."
Depok: Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat Universitas Indonesia, 2008
AJ-Pdf
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Anandi Prayoga Ramadhan
"ABSTRAK
Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki penduduk terpadat
di dunia dengan permintaan terhadap sumber energinya yang sangat tinggi. Untuk
memenuhi kebutuhan tersebut maka diperlukan eksplorasi secara mendalam untuk
ditemukannya prospek baru. Pada penelitian ini dilakukan interpretasi dengan
analisis AVO dan inversi impedansi akustik untuk melakukan identifikasi zona
hidrokarbon beserta kemenerusan batuan reservoar. Secara teori respon amplitudo
terhadap sudut datang akan mengalami penguatan apabila lapisan tersebut
tersaturasi hidrokarbon. Penguatan amplitudo ini disebabkan oleh penurunan
impedansi akustik perlapisan reservoar gas dengan lapisan batuan di atas maupun
di bawahnya akibat kontras densitas dan kecepatan gelombang antara reservoar
dengan lapisan atas atau bawahnya. Inversi seismik adalah sebuah proses
perhitungan model impedansi di bawah permukaan yang konsisten terhadap data
seismik. Dengan kata lain, proses ini menggunakan data seismik untuk
menentukan kondisi geologi yang sebenarnya dan kondisi geologi inilah yang
menentukan hasil dari data seismik tersebut. Dengan kombinasi kedua metode ini
kita bisa memvalidasi keberadaan hidrokarbon dan melihat kemenerusan batuan
reservoar sehingga kita dapat mengestimasi daerah prospek baru jika memang hal
ini perlu dilakukan. Berdasarkan hasil pengeboran yang telah dilakukan pada
daerah penelitian, dalam penelitian ini digunakan empat sumur, yaitu sumur
Krewell dengan status dry hole, Hardwell, Sowell, dan Axwell dengan status oil
well. Dari hasil penelitian ditemukan zona hidrokarbon yang mengalami
penguatan amplitudo terhadap sudut datang pada zona target dengan metode AVO
yang diperkuat dengan analisis sumur dan didapatkan anomali ini berada pada
kelas anomali II. Lalu dari hasil inversi impedansi akustik yang dilakukan, dapat
dilihat kemenerusan reservoar yang ditandai dengan lingkaran berwarna kuning
sebagai indikator potensi daerah pengembangan daerah penelitian.

ABSTRACT
Indonesia is one of the most populous country with the very high demand
of energy. In order to satisfy this certain condition, deeper explorations are needed
to find new prospects. In this research, AVO analysis and acoustic impedance
inversion are done to indentify the zone of hydrocarbon along with the continuity
of reservoir. Theoritically, the amplitude of seismic reflection increases as the
angle of incidence increases when the wave travels through the gaseous layers. It
is caused by the impedance contrast between the gaseous layer and the underlying
or overlying layer. Seismic inversion is the process of calculation of impedance
model in the subsurface consistent with the seismic data. In other words, this
process uses the seismic data to determine the real geologic condition. With the
combination of these two methods, we can validate the zone of hydrocarbon and
determine the continuity of reservoir so that we can estimate the zone of new
prospect if needed. According to the well data available, this research uses four
well data; Krewell with dry hole status, Hardwell, Sowell, and Axwell with oil
well status. The results show that there is the indication of hydrocarbon by
looking at the increase of amplitude at target zone as the angle of incidence
increases and it is also supported by well data. The results also show that the
anomaly is in the Class II anomaly. Subsequently, from the inversion results, we
can clearly see the continuity of the reservoir that is shown by the yellow circle as
the indicator of new prospects"
2015
S60180
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sri Morina
"Kabupaten Aceh Tamiang merupakan salah satu Kabupaten di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang laju pertumbuhan penduduknya terus meningkat dengan kepadatan penduduk yang kurang merata di Setiap kecamatan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi kepadatan penduduk kecamatan di Kabupaten Aceh Tamiang berdasarkan teori urbanisasi model Todaro Serta menganalisis sensitivitas jenis pekerjaan kepala rumah tangga disektor jasa, industri dan pertanian terhadap kepadatan penduduk kecamatan dalam Kabupaten Aceh Tamiang. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan model ekonometrika data panel OLS model Pooled/Common dan Fixed Eh?ect untuk melihat pengaruh antara variabel-variabel bebas (jumlah rumah tangga yang bekerja di sektor jasa, industri dan pertanian) terhadap variabel terikatnya (kepadatan penduduk secara absolut dan kepadatan penduduk secara relatif) pada 8 (delapan) kecamatan dalam Kabupaten Aceh Tamiang dari tahun 2001 sampai dengan tahun 2004. Selanjutnya dipllih model yang terbaik.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan model terbaik Fixed Effect pada taraf uji 95% jumlah kepala rumah tangga yang bekerja disektor industri berpengaruh positif terhadap kepadatan penduduk dan jumlah kepala rumah tangga yang bekerja disektor pertanian berpengaruh negatif terhadap kepadatan penduduk, Sedangkan jenis pekerjaan kepala rumah tangga disektor jasa tidak berpengaruh secara signiflkan terhadap kepadatan penduduk. Setiap peningkatan 1 persen jumlah keoala rumah tangga yang bekerja dl sektor industri, maka kepadatan penduduk akan naik sebesar 0,080 persen dibandingkan rata-rata kepadatan penduduk kecamatan lainnya dalam Kabupaten Aceh Tamiang. Setiap peningkatan 1 persen jumlah kepala rumah tangga yang bekerja disektor pertanian, maka kepadatan penduduk akan turun sebesar 0,081 persen dibandingkan rata-rata kepadatan penduduk kecamatan lainnya dalam Kabupaten Aceh Tamiang. Elastisitas jenls pekerjaan kepala rumah tangga disektor pertanian Ieblh besar daripada elastisitas jenls pekerjaan rumah tangga disektor industri."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2006
T34464
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>