Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 75236 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Universitas Indonesia, 1993
S27928
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
March, N.H.
London: Academic Press , 1984
539.754 MAR c
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
"Isu krisis energi selama beberapa dasawarsa ini telah mendorong beragam kegiatan penelitian untuk mencari terobosan baru, khususnya dalam pengembangan sumber energi alternatif dan terbarukan. Salah satu teknologi sumber energi terbarukan yang banyak menarik perhatian adalah sel bahan bakar oksida padatan, Solide Oxide Fuel Cells (SOFC). Salah satu keunggulan SOFC dibandingkan tipe fuel cell lainnya adalah hidrogen dan CO dapat digunakan sebagai bahan bakar, bahkan hidrokarbon (diesel, gas alam, gasoline, alkohol, dll) dapat juga digunakan dalam SOFC. Namun, masih tingginya temperatur operasi antara 800-1000°C menjadi salah satu faktor penghambat aplikasi dan komersialisasi teknologi ini."
MRS 1:2 (2014)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Adhin Cakrabuana
"Tingginya konsumsi ayam meningkatkan pembuangan limbah bulu ayam, yang mengandung sekitar 90% keratin, menyebabkan pencemaran lingkungan. Keratin, protein struktural utama dalam jaringan hewan, berfungsi untuk berbagai aplikasi biomedis dan memerlukan ekstraksi ramah lingkungan. Penelitian ini mengoptimasi ekstraksi keratin dari bulu ayam menggunakan cairan ionik 1-Butyl-3-Methylimidazolium Asetat ([Bmim]-Asetat) dengan bantuan ultrasonic bath. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode panas dengan waktu 120 menit menghasilkan yield keratin tertinggi sebesar 78.20% dibandingkan metode optimasi ultrasonik dan metode ultrasonik tanpa optimasi. Karakterisasi FTIR menunjukkan spektra konsisten dengan struktur keratin, dan uji Bradford menunjukkan konsentrasi protein tertinggi pada metode panas dengan 112.42 mg/mL dibandingkan metode ultrasonik 120 menit dan optimasi ultrasonik 120 menit yang menghasilkan 12.13 mg/mL dan 8.834 mg/mL masing-masing. Analisis SDS-PAGE memastikan keberadaan protein keratin pada sampel hasil ekstraksi dengan berat molekul yang terlihat sebesar 10 kDa. Kombinasi gelombang ultrasonik dan suhu 90 oC dapat meningkatkan efisiensi ekstraksi dan pemulihan keratin dari limbah bulu ayam, menjadikannya metode yang lebih efisien dan ramah lingkungan.

The high consumption of chicken increases the disposal of chicken feather waste, which contains about 90% keratin, leading to environmental pollution. Keratin, the main structural protein in animal tissues, serves various biomedical applications and requires environmentally friendly extraction methods. This study optimizes the extraction of keratin from chicken feathers using the ionic liquid 1-Butyl-3-Methylimidazolium Acetate ([Bmim]-Acetate) with the assistance of an ultrasonic bath. The results show that the heat method with a duration of 120 minutes produced the highest keratin yield of 78.20%, compared to the optimized ultrasonic method and the non-optimized ultrasonic method. FTIR characterization indicated spectra consistent with the structure of keratin, and the Bradford assay revealed the highest protein concentration in the heat method at 112.42 mg/mL, compared to 12.13 mg/mL and 8.834 mg/mL in the 120-minute ultrasonic and optimized ultrasonic methods, respectively. SDS-PAGE analysis confirmed the presence of keratin protein in the extracted samples with a visible molecular weight of 10 kDa. The combination of ultrasonic waves and a temperature of 90°C can enhance the efficiency of keratin extraction and recovery from chicken feather waste, making it a more efficient and environmentally friendly method."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 1993
S41064
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Axel Pangloli
"Astaxanthin merupakan karotenoid xantofil yang ditemukan pada banyak mikroorganisme dan hewan laut yang praktis tidak larut dalam air. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk memformulasikan dan mengkarakterisasi nanopartikel astaxanthin dari oleoresin astxanthin dengan menggunakan kitosan taut silang kasein metode gelasi ionik sehingga astaxanthin dapat lebih terdispersi di dalam air. Seluruh formula nanopartikel astaxanthin dievaluasi secara organoleptis, ukuran partikel, zeta potensial, FT-IR, efisiensi penjerapan, mikrograf TEM, dan uji aktivitas antioksidan menggunakan ABTS. Semua formula menunjukkan astaxanthin lebih terdispersi setelah dibuat menjadi nanopartikel. Enkapsulasi nanopartikel telah berhasil dibuktikan dengan hasil TEM yang menunjukkan enkapsulasi telah terjadi. Ukuran partikel nanopartikel astaxanthin di luar batas yang diinginkan dengan hasil F1(356,10±259,02), F2(687±123,23), F3(663,60±121,77), dan F4(317±30,55). Astaxanthin berhasil dijerap dengan hasil evaluasi efisiensi penjerapan adalah F1 (36,21%), F2(31,95%), F3(47,44%), dan F4(36,21%). Nilai %Inhibisi tiap formula adalah F1(37,69±12,09), F2(35,48±9,53), F3(29,80±8,21), dan F4(32,95±4,04) yang menunjukkan astaxanthin tetap memiliki kemampuan aktivitas antioksidan setelah dienkapsulasi.

Astaxanthin is a xanthophyll carotenoid found in many microorganisms and marine animals that is practically insoluble in water. The purpose of this study was to formulate and characterize astaxanthin nanoparticles from astaxanthin oleoresin using cross-linked chitosan-casein by ionic gelation method, thereby improving its dispersibility in water. The entire formulation of astaxanthin nanoparticles was evaluated organoleptically, for particle size, zeta potential, FT-IR, encapsulation efficiency, TEM micrographs, and antioxidant activity using ABTS. All formulations showed improved dispersibility of astaxanthin after conversion into nanoparticles. Encapsulation of nanoparticles was confirmed with TEM results showing successful encapsulation. The particle size of astaxanthin nanoparticles exceeded the desired limits with results as follows: F1 (356,10±259,02 nm), F2 (687±123,23 nm), F3 (663,60±121,77 nm), and F4 (317±30,55 nm). Astaxanthin has successfully entrapped with evaluation of encapsulation efficiency yielded: F1(36,21%), F2(31,95%), F3 (47,44%), and F4 (36,21%). The %Inhibition values for each formula were: F1 (37,69±12,09), F2(35,48±9,53), F3(29,80±8,21), and F4(32,95±4,04), indicating that astaxanthin retained its antioxidant activity after encapsulation."
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Orton, John Wilfred
London: Iliffe Books, 1968
538.3 ORT e
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Wulan Purnamasari
"Ekstraksi daging buah mahkota dewa Phaleria macrocarpa menggunakan pelarut cairan ionik ionic liquid belum pernah dilakukan. Akhir-akhir ini, cairan ionik populer sebagai pelarut ekstrasi tanaman karena terbukti menghasilkan hasil ekstraksi yang memuaskan dibandingkan dengan metode konvensional. Disebutkan pada penelitian sebelumnya bahwa salah satu metode ekstraksi yang sesuai untuk mengekstraksi buah mahkota dewa adalah dengan menggunakan Microwave Assisted Extraction MAE. Diharapkan ekstraksi daging buah P. macrocarpa yang menggunakan cairan ionik dan MAE juga dapat memberikan hasil yang memuaskan dengan dilakukannya optimasi pada kondisi-kondisi ekstraksi serta membandingkan hasilnya dengan ekstraksi konvensional. Pelarut cairan ionik yang diuji ada 3 yaitu [BMIM] Br, [BMIM] Cl, dan [BMIM] BF4. Hasil pemilihan pelarut yang dipilih adalah [BMIM] BF4 yang akan digunakan dalam optimasi dan diuji kadar total fenoliknya dengan metode Folin Ciocalteu. Setelah didapat kondisi optimum, aktivitas antioksidan diuji dengan metode DPPH menggunakan microplate reader. Hasil dari optimasi adalah dengan konsentrasi tertinggi, rasio pelarut-sampel tertinggi dan waktu ekstraksi yang tidak berpengaruh pada hasil ekstraksi, didapat kadar total fenolik maksimum sebesar 191,72 mg GAE/g serbuk. Hasil ini terbukti lebih tinggi dibanding metode ekstraksi konvensional. Hasil ekstraksi dalam kondisi ini dimaksimalkan kembali hasilnya dengan dilakukan pretreatment menggunakan urea agar senyawa fenolik yang diekstraksi mendapatkan hasil yang lebih banyak. Percobaan setelah optimasi selesai, dilakukan dengan membandingkan suatu kondisi ekstraksi dengan pretreatment menggunakan urea. Hasil yang didapat adalah ekstraksi yang telah terlebih dahulu diberikan pretreatment menghasilkan kadar total fenolik yang lebih besar dibandingkan dengan tanpa pretreatment.

The use of ionic liquids as solvent to extract flesh of fruit of mahkota dewa Phaleria macrocarpa has not been studied yet. In the last decades, ionic liquids was popular as solvent for extracting plant material because of its higher extraction yield compared to conventional methods. It is said in one previous research, that one of many suitable extraction methods to extract flesh of fruit of mahkota dewa is Microwave Assisted Extraction MAE. We hypothesized that plant extraction using ionic liquids in MAE method would give satisfying results by optimizing extraction conditions and comparing the result with conventional extraction method. Three different kinds of ionic liquids, BMIM Br, BMIM Cl, and BMIM BF4 were investigated. The ionic liquids, BMIM BF4 were elected and further used in optimization and tested for its total phenolic content TPC with Folin Ciocalteu method. Afterwards, antioxidant activity were tested by DPPH method in optimum condition. Both tests used microplate reader. Maximum total phenolic content were obtained with higher solvent concentration, higher solvent sample ratio, and an insignificant extraction time with 191,717 mg GAE g plant powder. This result proves that it is higher than the conventional extraction method. The extraction yield were maximized by applying pretreatment with urea to obtain higher total phenolic content after extraction. After optimization experiment were done by comparing the extract from optimum condition without urea, with after urea pretreatment extract. The result shows that pre treated sample with urea pretreatment gives higher total phenolic content compared with non pretreated sample.
"
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2018
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Waviyatul Ahdi
"Latar Belakang: Polymer Induced Liquid Precursor (PILP) merupakan remineralisasi biomimetik dengan menggunakan bahan polimer anionik sintetik yang dapat menggantikan peran protein non kolagen dalam remineralisasi intrafibrillar. Asam poliaspartik merupakan salah satu material analog protein non kolagen yang penting dalam proses PILP. Nanodroplet yang terbentuk dalam proses PILP mampu berdifusi ke dalam intrafibrillar kolagen ataupun gap zone yang memiliki ukuran 40 nanometer dan mengalami kristalisasi.
Tujuan: Menganalisis remineralisasi intrafibrillar dan ukuran kristal hidroksiapatit yang terbentuk.
Metode: Evaluasi efek asam poliaspartik dalam proses PILP pada remineralisasi intrafibrillar selama 3, 7 dan 14 hari melalui TEM dan ukuran kristal hidroksiapatit yang terbentuk melalui XRD.
Hasil: Ada perbedaan signifikan secara evaluasi deskriptif antar kelompok remineralisasi 3, 7 dan 14 hari terhadap kelompok demineralized dentin pada remineraliasi intrafibrillar. Tidak terdapat perbedaan bermakna antar kelompok remineralisasi maupun kelompok demineralized dentin terhadap ukuran kristal hidroksiapatit.
Kesimpulan: Asam poliaspartik dalam proses PILP memiliki potensi dalam remineralisasi intrafibrillar.

Background: Polymer Induced Liquid Precursor (PILP) is a biomimetic remineralization using synthetic anionic polymer material that can replace the role of non-collagen proteins in intrafibrillar remineralization. Polyaspartic acid is one of the non collagen protein analog materials that is important in the PILP process. Nanodroplet formed in the PILP process is able to diffuse into intrafibrillar collagen or gap zones that have a size of 40 nanometers and crystallize. Purpose: To analyze the intrafibrillar remineralization and the size of hydroxyapatite crystal formed.
Methods: Evaluation of the effect of polyaspartic acid in PILP process on intrafibrillar remineralization for 3, 7 and 14 days through TEM and the size of hydroxyapatite crystal formed through XRD.
Result: There was a significant difference in descriptive evaluation between remineralization groups of 3, 7 and 14 days against the demineralized dentin group in intrafibrillar remineralization. There were no significant differences between the remineralization group and the demineralized dentin group to the size of hydroxyapatite crystals.
Conclusion: Polyaspartic acid within PILP process has potential ability in intrafibrillar remineralization.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2018
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Raden Dewi Yupita Ratna Wangsih
"Pemberian doping La pada CaMnO3 akan membentuk sampel LaxCa1-xMnO3. Sampel ini dibuat dengan metode zat padat dari bahan dasar La2O3, CaCO3 dan MnO2 berdasarkan perhitungan stoikiometri untuk nilai x = 0,1 ; x = 0,5 dan x = 0,9. Preparasi sampel dimulai dengan uji XRD terhadap bahan-bahan dasar, kemudian mencampur semua bahan dasar dengan menggunakan ball mill selama 10 jam. Proses dilanjutkan dengan pemanasan menggunakan furnace dengan suhu 1350o C selama 12 jam, kemudian sampel dikompaksi untuk uji XRD. Sampel diball mill kembali selama 5 jam, kemudian di panaskan pada suhu 11000 C selama 24 jam, sebagian dikompaksi untuk uji XRD dan sebagian lagi tetap dalam bentuk serbuk untuk uji PSA.
Hasil karakterisasi sampel dengan XRD direfinement menggunakan program Fullprof. Berdasarkan analisis tersebut diperoleh imformasi mengenai hal-hal sebagi berikut ; untuk x = 0,1 ; x = 0,5 dan x = 0,9 pada sampel LaxCa1xMnO3. memiliki struktur kristal orthorombic.mmm; space group P n m a ( No. 62 ), dan peningkatan komposisi La tidak menyebabkan perubahan space group dan struktur kristal. Adanya meningkatnya komposisi La menyebabkan penyusutan ukuran butir kristal , penurunan nilai parameter kisi , volume unit sel dan kerapatan unit sel.

A Gift Doping La on CaMnO3 will form LaxCa1-xMnO3 sampel. The Sampels are made with solid state method from elementary materials of La2O3, CaCO3 and MnO2 based on calculation of stoichiometri for the value of x=0,1 ;x=0,5 ,x=0,9. XRD characterizatim is started for all of raw matrials. All elementary materials is mixed by using ball mill for 10 hours, The process is continued by using furnace with temperature 13500 C for 12 hours. The sample are compacted for the charactsization XRD. The sampel is milled again for 5 hours, then reheated again temperature 11000 C for 24 hours. A past of samples is compacted for the characterization of XRD and the remaining sample is still in form of powder for the characterization of PSA.
The XRD Result is refined by using Fullprof program. Based on the analysis we observe the following ; The crystal structure of LaxCa1xMnO3 x = 0,1 ; x = 0,5 and x = 0,9 is orthorombic with space group P n m a ( No. 62 ), the in creasing of doping is not changed the crystal structure and space group of the samples, but lowering crystal size, lattice parameter, volume and dencity of unit cell.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2007
T21312
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>