Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 21954 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Washington, D.C.: National Academy Press, 1981
614.593 427 NAT m
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Marcellus Simadibrata
"Insidens diare kronik di Asia berkisar antara 0,8 ? 1,0%. Lokasi penyakit dan kelainan yang menimbulkan diare kronik dapat dibagi atas 3 kelompok yaitu usus halus, usus besar dan ekstra intestinal. Penyakit-penyakit pada usus halus terdiri dari infeksi dan non-infeksi. Penyakit-penyakit infeksi antara lain yaitu infeksi bakterial, infeksi parasit dll. Penyakit-penyakit non-infeksi yang menimbulkan diare kronik a.l. penyakit Crohn, ?Celiac sprue?, enteropati OAINS, intoleransi laktose, tumor jinak, tumor karsinoid, karsinoma, komplikasi pasca bedah, obat laksatif dll. Pendekatan diagnosis terdiri dari anamnesis riwayat penyakit yang baik, pemeriksaan fisik yang teliti, laboratorium penunjang, laboratorium penunjang yang lebih spesifik termasuk foto rontgen kolon, foto rontgen ?esofagogastroduodenum follow-through?, ?enteroclysis?, pemeriksaan ileo-kolonoskopi dan endoskopi saluran cerna atas termasuk usus halus dengan biopsi untuk pemeriksaan histopatologi. Pengobatan diare kronik dibagi atas pengobatan suportif dan kausal. (Med J Indones 2002; 11: 179-89)

The incidence of chronic diarrhea in Asia is between 0.8 ? 1.0%. The diseases and abnormalities according to the location, which can cause chronic diarrhea, are divided into three locations: the small bowel, the large bowel and extraintestinal. The small bowel diseases include infectious and non-infectious diseases. The infectious diseases are bacterial infections, parasitic infections etc. The non-infectious diseases include of Crohn?s disease, Celiac sprue, NSAID enteropathy, lactose intolerance, benign tumor, carcinoid tumor, carcinoma, post surgery complications, laxative etc. The approaches to diagnosis include good anamnesis, careful physical examination, supporting laboratory tests, more specialized supporting examinations including X-ray of the colon, esophagogastroduodenum follow-through, enteroclysis, ileo-colonoscopy and endoscopy on the upper portion of the digestive tract including the small intestine with biopsy for histopathology examinations. The treatment for chronic diarrhea is divided into supportive and causal therapy. (Med J Indones 2002; 11: 179-89)"
Medical Journal of Indonesia, 2002
MJIN-11-3-JulSep2002-179
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Subardan Rochmad
"ABSTRAK
Endemisitas diare di Indonesia ditandai dengan angka kejadian penyakit dan angka kematian diare yang setiap tahun terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Berbagai upaya dilakukan untuk menekan angka kejadian dan angka kematian agar tidak terjadi kejadian luar biasa. Frekuensi kejadian diare sepanjang tahun menunjukkan fluktuasi dengan pola tetap.
Beberapa faktor diperkirakan mempengaruhi naik turunnya frekuensi kejadian penyakit diare. Faktor-faktor tersebut adalah faktor lingkungan fisik (sanitasi dan air bersih) yang berfungsi sebagai media ambient, faktor perilaku (pengetahuan tentang kesehatan), faktor pelayanan kesehatan (pengobatan penderita dan penyuluhan) yang ditujukan untuk memutus rantai penularan termasuk penyebab penyakit sebagai sumber.
Tujuan penelitian ini adalah untuk menyusun suatu model endemisitas penyakit diare yang sederhana dan dapat digunakan untuk menggambarkan hubungan antara berbagai faktor/element yang mempengaruhi rantai penularan penyakit diare sebagai landasan tindakan pencegahan dan/atau penanggulangan.
Keterkaitan antara setiap faktor yang saling berinteraksi dan saling mempengaruhi dan besarnya pengaruh tiap faktor yang berbeda, menunjukkan kompleksitas sistem penularan penyakit diare. Untuk mengetahui besarnya pengaruh setiap faktor dan bentuk hubungan antarfaktor, dipilih pendekatan dengan metode analisis sistem menggunakan program Professional Dynamo Plus, versi 2.1.
Untuk uji kaliberasi dan validasi model digunakan analisis satuan, analisis dampak silang antarfaktor, simulasi dan membandingkan model dengan grafik data 262 kasus diare (93,24% penderita yang tercatat dalam register Puskesmas) di RW.02 Kelurahan Pondok Labu Kecamatan Cilandak, Jakarta Selatan dari Januari 1990 s/d Desember 1992.
Sebagai gambaran sebab-akibat faktor tersebut diketahui dan dianalisis menggunakan asumsi model endemisitas diare. Asumsi-asumsi diambil melalui beberapa simulasi. Model endemisitas diare mendukung konsep sikius penularan penyakit diare yang dipengaruhi oleh berbagai faktor yang membentuk sistem penularan diare.
Hasil analisis menunjukkan bahwa faktor lingkungan fisik, yaitu faktor sanitasi lingkungan dan penyediaan air bersih dipengaruhi oleh musim. Adanya hujan menyebabkan perubahan suhu dan kelembapan pada udara dan tanah. Memburuknya suhu dan kelembapan menyebabkan keadaan lingkungan menjadi buruk. Kuman penyebab diare tumbuh subur di lingkungan yang lembap dan sanitasinya tidak baik, serta pada air minum yang tidak terpelihara kebersihannya. Faktor lingkungan yang meliputi air bersih dan sanitasi ini memiliki peranan sangat penting sebagal media (ambient) penularan dan dominan dalam siklus penularan penyakit diare.

ABSTRACT
Diarrchoeal endemic in Indonesia to be signed of incidence rate and case fatality rate every years in Indonesia. Some efforts conducted to maintain incidence and case fatality rates, in order to prevent occuring the out break. Diarrhea frequency fluctuated as a certain patern all year long.
Several factors have been predicted influential to diarrhea disease frequency. Those factors are environmental factor as ambient, human behavior factor, health services factor to control transmission cycle including agent of diarrhea as source.
The objective of research is to develop a simple and usuable model of diarrhea endemic to viewing interaction between factors influence to diarrhea transmission cycle as basic efforts to prevention and control.
Interrelation between interdependence and interinfluence factors and influencing magnitude between different factors, sawing the complexity of the system. To understood an influencing factors magnitude, to be measured by system analysis approach with Professional Dynamo Plus version 2.1 program.
Model calibration and validation examined with dimension analysis, cross impact analysis to the factors, symulation, and comparing model to statistical data of 262 diarrchea cases (93,24% pasient registered in Puskesmas) at Pondok Labu RW.02 Village, Cilandak Sub-District, South Jakarta, since January 1990 to December 1992.
As an illustration for those causality factors can be understood and analysed with dinamic model assumption of diarrhoeal endemic. The assumptions found by some simulations. This model supports the concept of diarrhea transmission disease, influenced by several factors which compose a transmission system.
"
Jakarta: Program Pascasarjana Universitas Indonesia, 1996
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Hari Wibowo
"Penyakit diare adalah penyakit yang sangat berbahaya dan terjadi hampir di seluruh daerah geografis di dunia dan bisa menyerang seluruh kelompok usia baik laki-laki maupun perempuan. Angka kejadian diare di rumah sakit Awal Bros Bekasi terbilang cukup tinggi. Hal ini dapat juga menegaskan bahwa, diare menyerang siapa saja tanpa kenal usia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran epidemiologi penyakit diare yang ada di Rumah Sakit Awal Bros Bekasi.
Desain yang digunakan pada penelitian ini adalah cross sectional dengan menggunakan data sekunder yang diambil dari dokumen rekam medis. Jumlah kasus yang diperoleh adalah seluruh kasus diare di lokasi penelitian. Analisis dilakukan secara univariat. Penelitian ini dilakukan pada Mei 2011.
Dari penelitian ini didapat hasil, penderita diare di Rumah Sakit Awal Bros pada tahun 2011 berjumlah 414 orang, dengan rata-rata umur penderita adalah 26,17 tahun. Jenis kelamin laki-laki mendominasi yaitu 55,6%, dan pada kelompok umur balita, dengan lokasi tempat tinggal penderita sebagian besar bertempat tinggal di Bekasi Selatan yaitu sebanyak 50,7%. Lama rawat penderita diare di Rumah Sakit Awal Bros tergolong sebentar. Bulan Rawat yang paling banyak penderita diarenya adalah bulan April yaitu 11,1%. Sebagian Besar penderita diare di Rumah Sakit Awal Bros menempati ruang kelas III. Dengan data yang didapat peneliti, diharapkan instansi terkait dalam hal ini Rumah Sakit Awal Bros Bekasi dapat lebih mengoptimalkan pelayanan terhadap penderita penyakit diare.

Diarrhea is a very dangerous disease and occurs in almost all geographic regions in the world and can strike all age groups both male or female. The incidence of diarrhea in RS. Awal Bros Bekasi is quite high. It can also affirm that, diarrhea attack anyone without a known age. The purpose of this study was to determine the epidemiological picture of diarrheal disease in RS. Awal Bros Bekasi.
The method of this research is cross sectional study by using secondary data taken from the medical record documents. The number of cases obtained are all cases of diarrhea in the study site. Univariate analysis was done.
Results obtained from this study, patients with diarrhea RS. Awal Bros in 2011 amounted to 414 people, with an average age of patients was 26.17 years. Male gender dominates is 55.6%, and the toddler age group, with the location where the patient lived mostly residing in South Bekasi as many as 50.7%. Length of stay patient with diarrhea at the RS. Awal Bros briefly considered. Months of stay most patients of the diarrhea was in April, 11.1%. Mostly people with diarrhea in RS. Awal Bros Bekasi occupies classrooms III.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2012
S-Pdf
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Ria Wulansarie
"Bakteri Escherichia coli yang banyak mengakibatkan pencemaran air minum di Indonesia didisinfeksi menggunakan teknologi ozon dan sinar UV dalam penelitian ini, khususnya untuk mengatasi masalah penyediaan air minum. Penelitian ini dilakukan dengan variasi waktu disinfeksi, ada atau tidaknya sinar UV pada penelitian, dan laju alir keluaran pompa. Semua hasilnya, yaitu yang berhubungan dengan jumlah koloni E. coli dianalisis dengan menggunakan metode TPC (Total Plate Count).
Berdasarkan hasil penelitian, jumlah bakteri setelah proses disinfeksi menunjukkan penurunan yang cukup signifikan baik menggunakan ozon saja, sinar UV saja, ataupun keduanya, terutama pada waktu disinfeksi selama 3 menit. Pada sistem sirkulasi, teknologi yang paling optimal untuk proses disinfeksi adalah sinergi antara teknologi ozon dan sinar UV terbukti dengan jumlah bakteri sama dengan 0 setelah proses disinfeksi selama 30 menit pada sampel air keran. Sedangkan untuk sistem kontinyu teknologi yang paling efektif untuk proses disinfeksi adalah sinar UV terbukti dengan jumlah bakteri sama dengan 0 setelah proses disinfeksi dengan laju alir 1,5 LPM pada sampel air minum dalam kemasan (AMDK).

Escherichia coli bacteria are a lot of lead contamination of drinking water in Indonesia disinfected using ozone technology and UV light in this experiment, particularly to address the problem of water supply. The experiment was carried out by the variation of time disinfection, presence or absence of UV light on the research, and the pump output flow rate. All the results, which are related to the number of colonies of E. coli analyzed by using the method of TPC (Total Plate Count).
Based on the results of the experiment, the number of bacteria after disinfection show a significant decline either using ozone alone, UV alone, or both, especially at the time of disinfection for 3 minutes. The circulatory system, the most optimal technology for the disinfection process is a synergy between ozone technology and UV light proven by the number of bacteria equal to 0 after the disinfection process for 30 minutes in tap water samples. As for the continuous system the most effective technology for UV disinfection is proven by the number of bacteria equal to 0 after disinfection with a flow rate of 1.5 LPM on samples of bottled water (bottled water).
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2012
S43042
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Budi Hardiyansyah
"Latar Belakang : Hingga saat ini penyakit Diare masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Angka kasus diare di Kabupaten Pandeglang termasuk yang tertinggi di provinsi Banten. Puskesmas Labuan, Pagelaran dan Cibaliliung merupakan daerah yang berulang kali terjadi KLB Diare antara lain disebabkan oleh kondisi sanitasi lingkungan yang masih kurang baik. Tujuan penelitian untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian diare akut pada balita.
Metodologi : Desain penelitian kasus kontrol dan dilaksanakan pada bulan Mei 2013. Populasi seluruh balita yang berusia 9 bulan sampai 59 bulan serta tinggal di 3 wilayah Puskesmas (Labuan, Pagelaran dan Cibaliung) Kabupaten Pandeglang tahun 2013 dengan balita menjadi unit analisisnya dan ibu sebagai respondennya. Total sampel 180 sampel, dengan perincian 90 sampel kasus dan 90 sampel kontrol. Variabel dalam penelitian ini adalah Faktor Lingkungan (sarana air bersih, pengelolaan tinja, pengelolaan sampah, saluran pembuangan air limbah, dan e.coli pada air minum) dan Faktor Ibu (Umur, tingkat pengetahuan, pendidikan, pekerjaan, penghasilan keluarga, perilaku mencuci tangan, perilaku BAB, perilaku mencuci peralatan makan/minum) dan Faktor Balita (Umur, Jenis Kelamin, status gizi, tatus imunisasi campak, pemberian asi eksklusif). Dilakukan analisis univariat, bivariat dengan uji chi-square dan multivariate dengan unconditional logistic regression.
Hasil : Dari hasil analisis bivariat berdasarkan faktor balita diketahui status gizi mempunyai hubungan bermakna secara statistik dengan kejadian diare dengan OR 2,20 (95% CI: 1,01 – 4,96). Berdasarkan Faktor Ibu didapatkan bahwa Pengetahuan Ibu OR 2,60 (95% CI: 1,36- 4,98), Perilaku BAB OR 0,53 kali (95% CI: 0,28 - 1.00) dan perilaku cuci tangan OR 2,16 kali (95% CI: 1.14 - 4.12) mempunyai hubungan yang bermakna dengan kejadian diare akut pada balita. Dari hasil analisis multivariat diketahui bahwa faktor risiko yang paling berisiko terhadap kejadian diare akut pada balita adalah variabel pengetahuan ibu dengan OR 2,66 pada rentang (95% CI: 1,44 - 4,90) nilai p 0,002.
Kesimpulan : Ibu dengan pengetahuan rendah mempunyai risiko 2,66 kali untuk menderita diare pada balita (95%CI: 1,44 - 4,90) jika dibandingkan dengan ibu yang memiliki tingkat pengetahuan baik.

Background: Until now diarrhea disease is one of community health problems in Indonesia. Figure of diarrhea case in Pandenglang Regency is categorized as the highest in Banten province. Community Health Centers Labuan, Pagelaran and Cibaliliung represent the regions which many times affected by Diarrhea Extraordinary Occurrence among them caused by bad environmental sanitation conditions. The objective of this research is to identify the factors related to the acute diarrhea occurrence in babies.
Methodology: Design of the research is control case and conducted in May 2013. Population is all babies aged 9 to 59 months and reside in 3 regions of Community Health Centers (Labuan, Pagelaran and Cibaliung) of Pandeglang Regency in 2013 with babies become its analysis unit and mothers as its respondent. Total sample are 180 samples, with details 90 case samples and 90 control samples. Variable in this research is environmental factors (clean water facility, septage management, waste management, drainage, and e.coli in drinking water) and factor of mother (age, knowledge level, education, occupation, family income, behaviors in hand washing, defecating, behavior of in washing meal/drink utensils) and factor of baby (age, sex, nutrition status, measles immunization status, exclusive breast milking). It is subjected to univariate, bivariate analysis with chi-square and multivariate tests with unconditional logistic regression.
Results: Of the results of bivariate analysis based on baby factor it is found that the nutrition status has a significant relation statistically with diarrhea occasion with OR 2,20 (95% CI: 1,01 - 4,96). Based on factor of mother it is found that the mother's knowledge OR 2,60 (95% CI: 2,36-4.98), defecating behavior OR 0,53 time (95% CI:0,28 - 1.00) and hand washing behavior OR 2,16 times (95% CI:1.14-4.12) have a significant relation with acute diarrhea occurrence in babies. Of the results of multivariate analysis it is found that the riskiest factor which to the acute diarrhea occurrence in babies is variable of mother’s knowledge with OR 2,66 in value range of (95% CI:1,44-4,90) p 0,002.
Conclusion: Mothers with low education have a risk 2,66 times to have diarrhea in babies (CI 95%: 1,44-4,90) if compared to mothers which have better education level.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2013
T36765
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Asti Nuraeni
"Upaya deteksi dan pencegahan dini di keluarga menjadi salah peran perawat spesialis komunitas untuk mengatasi permasalahan diare balita. Karya Ilmiah Akhir ini bertujuan untuk menggambarkan kegiatan Kelompok Pendukung Sanitasi Anak Keluarga dan Area (SAKA) dalam pencegahan diare balita. SAKA merupakan integrasi dari program pencegahan diare yang sudah ada yaitu LINTAS diare dan Sanitation and Family Education (SAFE). Hasil p value 0.000 menunjukkan ada hubungan antara perilaku keluarga dalam penerapan SAKA terhadap penurunan angka kejadian diare balita di Kelurahan Cisalak Pasar. Kegiatan Kelompok Pendukung SAKA disarankan dilaksanakan sebagai upaya pemberantasan penyakit menular oleh Puskesmas dan Dinas Kesehatan karena efektif mengendalikan diare.

Early detection and prevention efforts in the family became one of the role of specialist community nurses to overcome the problems of toddlers diarrhea. This final scientific paper aims to describe support group activities of Children-Family-Neighborhood-Sanitation (CFNS) in the prevention of diarrhea in toddlers. CFNS is an integration of diarrhea prevention program uses existing LINTAS diarrhea and Sanitation and Family Education (SAFE). The result shows there is no relationship between family behavior in SFNS implementation to the decrease of diarrhea incidence among under five children at Cisalak Pasar (p value= 0.000). CFNS support group is suggested activities to be implemented.
"
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2013
TA5974
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Adhika Dwita Dibyareswati
"Reducing food intake declines the opportunity of infant and young child to obtain
sufficient, both quantity and quality food during and after diarrhea. This study will
provides clearer information to caregiver’s practice on dietary management of
child during diarrhea.The respondents of this study were children with the
diarrhea disease (n= 7) and during recovery period (n = 7). The study was
conducted using observation, in-depth interview, and dietary assessment. Result
of this study suggested that caregivers need to increase their awareness of infant’s
appetite, actively maintain their child’s hydration and give sufficient feeding
during diarrhea.

Perilaku pengasuh dalam mengurangi asupan makanan anak tidak hanya
menurunkan kecukupan konsumsi asupan anak, tetapi juga kualitas makanannya
selama dan setelah diare. Penelitian ini memberikan informasi lebih jelas tentang
cara pengasuh memberikan makanan pada anak saat diare. Responden penelitian
ini adalah anak yang menderita diare (n= 7), atau sudah memasuki tahap
penyembuhan (n= 7). Penelitian ini menggunakan tiga metode yaitu observasi,
wawancara mendalam tentang asupan dan pola makan. Hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa pengasuh perlu meningkatan kesadaran akan adanya
perubahan nafsu makan anak dan aktif menjaga kecukupan cairan dan nutrisi saat
diare.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2013
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Marcel Agusta Farras
"Diare merupakan penyebab kematian terbesar ke-5 (lima) pada kelompok umur 0-5 tahun di Asia Tenggara (WHO, 2016). Di Indonesia sendiri, diare merupakan penyebab kematian terbesar ke-8 dengan 68.636 kematian di tahun 2017 (OurWorldinData, 2019) dengan prevalensi sebesar 14% (SDKI, 2017). DKI Jakarta, kota dengan kelengkapan infrastruktur dibandingkan kota lain di Indonesia memiliki prevalensi diare sebesar 12,7%, bahkan lebih tinggi dibandingkan Papua (9,7%) dan Papua Barat (11,2%). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian diare pada baduta di DKI Jakarta. Penelitian menggunakan data SDKI 2017 dengan desain studi cross-sectional dengan sampel sebesar 300 responden untuk anak berumur 0-2 tahun. Hasil uji bivariat menunjukkan faktor yang berhubungan dengan kejadian diare adalah pada anak berumur 1 tahun dengan p-value sebesar 0,02 (OR 2,505; CI 95% 1,156-5,428). Kesimpulan penelitian ini adalah prevalensi diare pada baduta sebesar 16,7% dengan faktor yang berhubungan adalah anak pada umur 1 tahun.

Diarrhea is the 5th (fifth) leading cause of death in the 0-5 year age group in Southeast Asia (WHO, 2016). In Indonesia, diarrhea is the 8th (eight) leading cause of death with 68,636 deaths in 2017 (OurWorldinData, 2019) with 14% of prevalence (IDHS, 2017). DKI Jakarta, capital city with complete infrastructures compared to other cities in Indonesia, has a diarrhea prevalence of 12.7%, higher than Papua (9,7%) and West Papua (11,2%). The purpose of this study was to determine the risk factors associated with the incidence of diarrhea in two-year old baby in DKI Jakarta. This research using 2017 IDHS data with cross-sectional as study design with 300 respondents for 0-2 years old baby. The results of the bivariate test showed that the factors associated with the incidence of diarrhea were children aged 1 year with p-value of 0,02 (OR 2,505; CI 95% 1,156-5,428). The conclusion of this study is the prevalence of diarrhea in two-years old baby was 16.7% with the factor related to diarrhea is children at the age of 1 year."
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2021
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Yudi Iskandar
"Penyakit infeksi seperti diare dapat menyebar melalui transmisi oral fecal. Menurut WHO, lebih dari 1,4 juta anak di bawah usia lima tahun di seluruh dunia meninggal akibat penyakit diare dapat dicegah dan diperkirakan bahwa 88% dari kasus-kasus ini terkait dengan air yang tidak aman atau sanitasi yang buruk. Di wilayah Asia Tenggara, hampir 48% atau diperkirakan 3.070.000 kematian setiap tahun yang dikaitkan dengan infeksi saluran pernapasan akut dan penyakit diare dengan beban tertinggi penyakit diare di lima negara: Bangladesh, India, Indonesia, Myanmar, dan Nepal di mana penyakit ini menyebabkan 60.000 kematian setiap tahunnya. Tujuan dalam penelitian ini untuk menganalisis pengaruh faktor-faktor sanitasi total berbasis masyarakat (STBM) terhadap kejadian diare pada balita di Kabupaten Tebo Provinsi Jambi Indonesia tahun 2017. Dalam penelitian ini menggunakan analisis cross sectional. Data variabel mengenai sarana pembuangan tinja, jarak sumber air dengan tangki septik, kebiasaan membuang tinja balita, cuci tangan pakai sabun, sumber air minum, pengelolaan air minum, penyimpanan air minum, pengelolaan sampah rumah tangga, pengelolaan limbah cair rumah tangga dan pendidikan ibu di kumpulkan dengan wawancara dan observasi serta dikategorikan dan disaring dengan chi square. Hasil dalam penelitian ini didapat enam variabel dengan nilai p < 0,25 yang masuk kedalam analisis regresi logistik yang menghasilkan 2 variabel yang signifikan dengan nilai p < 0,05 (kebiasaan ibu membuang tinja anak balitanya dan cuci tangan pakai sabun). Uji regresi logistik di dapatkan kebiasaan membuang tinja anak (OR) 1,59 dan cuci tangan pakai sabun (OR) 1,48. Studi ini memyimpulkan bahwa kebiasaan ibu membuang tinja anak balitanya secara sembarangan dan aktivitas cuci tangan pakai sabun yang tidak memenuhi syarat mempunyai pengaruh terhadap terjadinya diare.

Infectious diseases such as diarrhea can spread through fecal oral transmission. According to WHO, more than 1.4 million children under the age of five worldwide die from diarrheal diseases can be prevented and it is estimated that 88% of these cases are related to unsafe water or poor sanitation. In the Southeast Asian region, almost 48% or an estimated 3.070,000 deaths each year are associated with acute respiratory infections and diarrheal diseases with the highest burden of diarrheal disease in five countries: Bangladesh, India, Indonesia, Myanmar and Nepal where the disease causes 60,000 deaths every year. The purpose of this study was to analyze the effect of total community-based sanitation factors (STBM) on the incidence of diarrhea in infants in Tebo Regency, Jambi Province, Indonesia in 2017. In this study using cross sectional analysis. Variable data regarding facilities for disposal of feces, distance of water sources with septic tanks, habits of removing toddler stools, hand washing with soap, drinking water sources, management of drinking water, storage of drinking water, household waste management, household wastewater management and maternal education in collect by interview and observation and categorized and filtered by chi square. The results in this study obtained six variables with a value of p <0.25 which entered the logistic regression analysis which produced 2 significant variables with a value of p <0.05 (the habit of the mother throwing away the feces of her toddler and washing hands with soap). The logistic regression test was given the habit of disposing of stool (OR) 1.59 and hand washing with soap (OR) 1.48. This study concluded that the habit of the mother throwing her toddler`s stool at random and handwashing with soap that did not meet the requirements had an influence on the occurrence of diarrhea."
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2019
T53955
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>